From Virtual to Real

From Virtual to Real
FVTR#11



Pagi telah tiba, Anang sudah bersiap dengan seragam kerjanya. Sedangkan Dea, dia tengah berkutat di dapur untuk membuatkan sarapan buat mereka berdua. Mereka berdua bangun agak kesiangan, jadi sekarang mereka berdua tengah terburu buru karena takut Anang nanti akan telat kerjanya.


"Sayangnya ikat pinggangku di mana?" teriak Anang dari dalam kamar.


"Di tempat biasa mas." jawab Dea berteriak juga.


Saat ini Dea sudah selesai dengan masakannya, sekarang dia tengah menyajikan makanan di atas meja makan.


"Sayang kalau jam tanganku di mana?" teriak Anang lagi.


"Di tempat biasa mas." jawab Dea lagi.


"Gak ada sayang." balas Anang.


"Hufft... dulu dia sebelum nikah teriak teriaknya ke siapa ya." gumam Dea dan berjalan menuju kamarnya.


Ceklek.


Dea membuka pintu kamarnya dan masuk ke dalam. Di sana dia melihat Anang tengah duduk sambil memainkan handphonenya.


"Astaga mas, kamu ini bukannya cari jam tangannya malah main handphone. Ini udah hampir siang loh." tak habis pikir Dea.


"Sudah sayang tapi tetap saja tidak ketemu." balas Anang dan meletakkan handphonenya di atas ranjang.


Dea pun tak menghiraukan Anang lagi, dia berjalan menuju tempat biasanya Anang menyimpan jam tangannya. Dan ternyata benar, di sana ada jam tangan Anang.


"Ini apa?" tanya Dea menggangkat jam tangan Anang agar Anang dapat melihatnya.


"Loh itu ada di mana yang, tadi aku cari dan temukan sana gak ada loh. Suer deh." jawab Anang sambil mengangkat kedua jari tengah dan telunjuknya membentuk huruf V.


"Halah, ini cepat pakai, udah siang ini kamu juga belum sarapan." ucap Dea memberikan jam tangan Anang.


"Sayang pakaiin." manja Anang.


"Hufft...." Dea menghela nafasnya dan tetap melanjutkan memakaikan jam tangan Anang.


"Udah ayo cepat kita sarapan." ajak Dea tapi tangannya saat akan keluar kamar di tahan oleh Anang lagi.


"Apa lagi sih mas, ini udah siang loh nanti kamu telat kerjanya." greget Dea.


"Aku belum pakai sepatu." ucap Anang sambil menatap kakinya yang masih memakai sendal rumahan.


"Astaga." tak habis pikir Dea.


"Udah ayo sepatutnya di bawa ke tempat makan, biar sekalian kamu aku suapin." Dea menarik tangan Anang setelah mengambil sepatu Anang yang berada di rak sepatu.


Sampai di tempat makan, Dea langsung menyuruh Anang duduk dan dia sibuk mengambilkan nasi untuk Anang.


"Kamu mau makan sama apa?" tanya Dea.


"Semua aku mau." jawab Anang.


"Ayo kamu sambil pakai sepatu biar aku yang suapin kamu." suruh Dea.


Anang pun melakukannya, dia mulai memakai sepatunya ke kakinya satu persatu. Sedangkan Dea sibuk menyuapi Anang sambil berdiri di samping Anang.


"Udah yang." tolak Anang saat merasa perutnya sudah kenyang.


"Tinggal satu suap lagi, habis itu selesai." paksa Dea memasukkan satu sendok nasi lagi ke mulut Anang.


Anang mau tak mau pun akhirnya menerima suapan Dea juga meskipun sekarang dia harus merasakan perutnya yang penuh dengan makanan.


"Dah yang aku berangkat dulu ya, kamu hati hati di rumah." pamit Anang pada Dea.


Dea mencium punggung tangan Anang, sedangkan Anang mencium kening Dea.


"Daa... sayang, kamu makan yang banyak ya, biar cepat gede." ucap Anang sebelum pergi keluar rumah.


"Iya mas, hati hati." balas Dea agak berteriak agar Anang yang sudah berjalan menjauh darinya dapat mendengar suaranya.


Lagi lagi Dea tak menggantarkan Anang sampai ke depan rumah, alasannya sama karena dia tidak memakai dalaman. Tadi karena dia buru buru masak jadi dia tidak sempat untuk memakai br* miliknya yang setiap malam dia lepas saat mau tidur.


Setelah mengunci pintu rumahnya, Dea pergi menuju meja makan untuk mengisi perutnya. Dea makan dengan porsi agak banyak karena dia sangat kelaparan.


Selesai makan dia membersihkan dapur dan setelah itu dia pergi membersihkan dirinya.


-


"Hai bro." sapa teman Anang saat Anang baru sampai di tempat kerjanya.


"Kalian belum masuk, ini udah hampir jam masuk loh?" tanya Anang, pasalnya biasanya di jam segini para pekerja sudah harus mengisi daftar hadir.


"Kita nungguin Lo lah." balas teman Anang yang bernama Gilang.


"Widih setia juga kalian, udah ahh ayo kita masuk nanti kita telat bisa di potong gaji kita." ajak Anang.


"Hayuk lah."


Mereka semua pun masuk ke dalam pabrik dan langsung mengisi daftar hadir.


Selama bekerja, Anang selalu mengerjakan pekerjaannya dengan baik. Dia selalu tekun dalam bekerja, dia juga salah satu karyawan yang sangat ramah. Jadi mudah bagi Anang untuk akrab dan mendapatkan banyak teman.


"Ehh nanti habis kerja nongkrong yuk, ada cafe baru buka di simpang jalan XXX, lumayan kan kalau baru buka pasti banyak diskon." ajak Gilang kepada teman temannya yang lain.


"Hayuk lah, udah lama juga kita gak makan makan bareng." setuju yang lainnya.


"Lo gimana Nang, ikut gak?" tanya Gilang pada Anang yang diam dan fokus menatap pekerjaannya.


"Kalian share lok aja tempatnya, nanti gw mau pulang dulu jemput bini." jawab Anang menoleh kearah teman temannya sebentar dan kembali fokus menatap pekerjaannya.


"Ya udah kalau gitu, nanti kita tunggu di sana." balas Gilang.


"Gw juga mau jemput cewek gw kalau gitu, biar nanti bini Anang ada temennya." sahut Sahrul salah satu teman Anang juga.


" Terserah kalian dah mau bawa siapa aja, bawa orang tua juga boleh. Tapi kalau gw mah mau sendiri aja biar bisa bebas." ucap Rizky teman Anang juga.


"Lo emang belum tahu rasanya sudah hidup bersama seseorang." balas Anang.


"Ya emang, enakan jomblo kemana mana bebas, cewek tuh ngerepotin." balas Rizky.


"Iya memang mereka ngerepotin, tapi buat gw dengan adanya istri gw hidup gw jadi lebih berwarna, gak monoton kayak dulu."


"Udah udah ngapain kalian jadi bahas cewek sih, nanti kalau bos liat bisa abis kita. Pokoknya nanti gw share alamatnya di grup, biar nanti kalau ada yang mau pulang dulu bisa langsung ke sana." sela Gilang.


Setelah Gilang mengucapkan itu, mereka semua menjadi diam dan kembali fokus bekerja.


Teman teman kerja Anang itu sebenarnya ada buanyuak. Tapi yang dekat dan sering jalan sama Anang ada enam orang. Gilang, Sahrul, Rizky, rayyan, Bima, Barok, dan tujuh Anang.


Mereka bertujuh sering jalan bersama dan kalau hari libur biasanya juga mereka akan mengadakan turing atau kemping. Kemaren waktu acara pernikahan Anang di Malang sebenarnya mereka mau datang, cuma karena tidak ada hari libur maka mereka tidak bisa datang ke sana.


Mereka sangat merasa bersalah kepada Anang, karena di saat acara penting Anang mereka malah gak bisa datang. Anang pun sebenarnya tidak mempermasalahkan itu, karena dia juga tahu kalau semua teman temannya itu butuh uang dari kerja di sana.


...***...