
"Ya sudah dukung semua keputusan kamu." balas Dea.
"Terimakasih sayang, karena kamu sudah menjadi istri yang baik buat aku." ucap Anang.
"Aku yang seharusnya bilang seperti itu, kamu itu baik banget sama aku, bahkan tadi waktu kamu kerja aja aku suruh kamu pulang kamu mau." balas Dea.
"Sebenarnya sih tadi aku bingung mau pulang apa enggak, pengennya pulang karena khawatir kamu yang menangis, tapi gak enak juga karena masih pertama kali kerja." balas Anang.
"Bang Joni baik banget ya sama kita, mbak Zakia juga baik banget mau bantu aku, mau ngajarin aku juga cara jualan agar bisa menarik pembeli." ucap Dea mengingat bagiamana baiknya keluarga Joni.
"Benarkah yang, aku aja sampai merasa gak enak waktu bang Joni nawarin tempat buat aku." setuju Anang.
"Nanti kita main ke sana yuk mas, aku pengen minta jambu airnya deh." pinta Dea.
"Lah, kemaren kan udah."
"Ya kan itu kemarin, sekarang kan belum." balas Dea.
"Ya mas, plis aku pengen loh." lanjut Dea memohon sambil mengerucutkan bibirnya.
"Iya, tapi nanti kamu harus pakai pakaian yang tebal ya biar gak masuk angin kayak kemaren."
"Siap komandan." balas Dea semangat sambil tangannya hormat kepada Anang.
Saking gemesnya melihat tingkah Dea, Anang mengacak acak rambut Dea hingga membuat rambut Dea yang tadinya rapi sekarang berubah seperti singa.
"Mas... rambut aku jadi berantakan nih." kesal Dea.
"Maap, sengaja." balas Anang sambil terkekeh.
"Tauk ah, kamu mah ngeselin." Dea bersidekap dada.
"Tapi cinta kan?" goda Anang.
"Mass...."
"Iya sayang, kenapa hmm?"
"Pengen." manja Dea.
"Ya ayo kita ke kamar." balas Anang berdiri dari duduknya.
"Mau ngapain?" tanya Dea heran.
"Kan tadi katanya kamu pengen, ya udah ayo ke kamar." jelas Anang.
"Emang kamu kira aku pengen apaan?" selidik Dea.
"Pengen main kuda kudaan kan?" tebak Anang.
"Ngawur, mesum mulu otak kamu." balas Dea.
"Lah, terus kamu pengen apa?" tanya Anang.
"Aku pengen martabak manis yang rasa keju sama coklat." jawab Dea.
"Hah, kamu gak salah. Barusan kita habis makan bakso Lo, bahkan kamu tadi habis banyak, emang masih belum kenyang juga?" heran Anang.
"Iisss aku kan pengen." manja Dea sambil mengerucutkan bibirnya lagi yang membuat Anang gemas.
"Ya udah tapi nanti ya belinya setelah pulang dari rumah bang Joni, kan tadi katanya mau ke rumah bang Joni."
"Tapi aku maunya sekarang bukan nanti." balas Dea.
"Sayang, kamu masih baru makan banyak loh, kasian perut kamu kalau kamu isi terus."
"Bilang aja kalau kamu gak mau beliin aku." kesal Dea.
Dea bangun dari duduknya dan pergi meninggalkan Anang di sana, Dea pergi ke kamar mereka dan menguncinya dari dalam.
"Sayang, buka pintunya dong, mas bukan gak mau beliin kamu, tapi mas cuma kasian aja sama perut kamu yang sudah di isi banyak memakan." bujuk Anang agar Dea mau membukakan pintu untuk dirinya.
"Gak mau, aku marah sama mas." balas Dea dari dalam.
"Hufft... ya udah ayo kita pergi cari martabak manis sekarang." final Anang menyetujui permintaan Dea.
"Bener mas?" ucap Dea yang langsung membuka pintu kamar.
"Hmm, ayo kamu siap siap kita pergi sekarang." balas Anang masuk ke dalam kamar untuk mengambil jaket dan dompet miliknya.
"Makasih sayang."
Cup.
Saking senangnya Dea sampai dia mencium pipi Anang dan berlalu berganti baju.
"Kalau ada maunya aja langsung nyosor." ucap Anang yang melihat tingkah Dea, tapi tak urung hatinya juga merasa senang.
...**...
Sebelum pergi untuk mencari martabak manis, Dea mengajak Anang untuk pergi ke rumah ibu Tutik dulu untuk mengantarkan pesanan ibu Tutik.
Memang seharusnya ibu Tutik nanti malam akan ke rumah Dea, tapi Dea takut kalau nanti waktu itu Tutik ke rumahnya ehh, malah Dea gak ada di rumah.
"Assalamualaikum, ibu Tut." salam Dea di depan pintu rumah ibu Tutik yang memang sudah terbuka.
"Waalaikum salam, ehh mbak Dea, ada apa ya mbak?" balas ibu Tutik bertanya.
"Ini bu saya mau mengantarkan pesanan ibu Tutik, soalnya takutnya nanti malam kalau ibu Tutik ke rumah Deanya malah gak ada di rumah." jawab Dea.
"Oalah iya mbak terimakasih loh sudah di antarkan ke sini, tapi mungkin saya bayarnya nanti mbak, soalnya uangnya masih di bawa suami saya." balas ibu Tutik.
"Iya bu gak apa apa kok, saya cuma mau nganterin ini aja, siapa tahukan kalau ibu Tutik udah gak sabar pengen coba."
"Mbak Dea tahu aja deh, saya memang sudah tidak sabar pengen mencobanya."
"Ya udah bu, habis ini langsung di coba, kalau gitu Dea pamit pergi dulu ya Bu Tut, soalnya suami Dea sudah menunggu di depan." pamit Dea.
"Oh iya mbak, mau jalan jalan ya."
"Iya Bu, mau pacaran." balas Dea.
"Oh iya Bu, nanti nanti kalau mau ke rumah ibu ibu wa Dea dulu ya, takutnya nanti Dea gak ada di rumah." lanjut Dea.
"Siap mbak." balas ibu Tutik.
Dea pun pergi menghampiri Anang yang sudah menunggunya di depan.
"Yuk mas." ajak Dea pada Anang.
Dea naik ke atas motor Anang, dan Anang pun langsung melajukan motornya pergi dari sana.
...**...
Saat ini Dea dan Anang sedang berada di taman, mereka sudah mendapatkan apa yang Dea inginkan, jadi sekarang Dea tinggal menikmatinya saja.
"Kamu yakin yang gak begah perutnya?" tanya Anang sambil melirik perut Dea.
"Enggak, emang kenapa?" balas Dea sambil terus memakan martabak manis rasa coklat dan keju miliknya.
"Ya gak kenapa kenapa, tapi kamu sudah makan banyak loh dari tadi, emang kamu masih belum kenyang juga?" jelas Anang bertanya.
"Sebenarnya sih kenyang, tapi mulut aku gak bisa berhenti buat ngunyah." balas Dea.
"Astaga kamu itu ada ada aja deh, udah jangan di terusin lagi makannya, nanti perut kamu bisa sakit. Nanti di lanjut lagi, di simpan aja." ucap Anang melarang Dea untuk makan martabak lagi, karena Dea sudah menghabiskan separuh porsi martabak manis itu.
"Iih aku masih pengen makan loh mas." balas Dea setengah kesal karena Anang melarangnya.
"Iya tapi nanti lagi makannya, nanti perut kamu bisa sakit karena kebanyakan makan." balas Anang.
"Iiih kamu mah gitu, perut aku gak bakal sakit kok, kan aku juga udah biasa makan banyak." kekeh Dea dan mengambil satu potong martabak lagi.
"Udah aku bilang cukup, ini gak baik buat kesehatan kamu." tegas Anang mengambil kotak martabak yang ada di pangkuan Dea.
"Mas...."
...***...