
"dia petarung nasional, memukuli anak kecil, kakakku petarung internasional, jadilah kenzo geprek" omel brenda
"iya uncle brian hebat sekali" puji nathan tapi wajahnya datar
"kau kenapa wajahmu sedatar itu sayang?" tanya tata
"dia mengurangi ketampananku" dengus nathan
semua orang terbahak bahak
"bisakah kau tak seimut itu hah?" tanya tata sambil menciumi nathan
"onty lihatlah wajahku lebam, selama ini belum ada yang berhasil membuat wajahku babak belur tau" nathan masih kesal
"papa sudah memukul wajahnya kembali, dia sudah menjadi jelek juga" jawab vin datar
"papa memukulnya demi membuatnya jelek?" tanya audi tak percaya . vin mengangguk
"aku tau nathan dan carter tak akan puas wajah mereka menjadi jelek, jadi aku menjelekkan wajah si kenzo juga" jawab vin datar, audi memijat pelipisnya
"keren tadi, uncle brian dan papa main beranteman seperti di game juga" celutuk nathalie polos.
maggie yang memijat pelipisnya sekarang. cucunya menyamakan manusia dengan game
"bisakah lain kali kalian tak bertarung didepan anak anak hah?" tanya maggie kesal "terutama kau, kau sudah menjadi ayah, tapi kau bertarung didepan anakmu" maggie menjewer vin
"Aduh.. ampun mi.. lepas mi.. please.. dia memukul putra putraku, aku memukulnya kembali demi mengembalikan kehormatan putraku" vin meringis, maggie melepaskan jewerannya
semua orang tertawa melihat interaksi keluarga itu
"kau juga sama, bisa bisanya kau mematahkan tulang orang didepan anak kecil hah" omel elda sambil menjewer telinga brian
"Sudah mah.. ampun mahh... brian sudah minta maaf loh sejak awal.. tapi dia tak mau memaafkan.. tanya saja pada dua anak tampan itu" ringis brian seperti anak kecil
"Kau minta maaf untuk mematahkan tulangnya, dasar anak nakal, kau tak takut anak anak itu shock hah?" omel elda
"Gapapa oma el.. uncle sama papa keren tadi, kami lemah makanya dikalahkan orang tadi, kata papah yang kalah itu lemah, kalau kalah harus banyak latihan lagi, nanti kami latihan sama uncle" ucap carter polos
elda langsung memijat pelipisnya pasrah , carnell memeluknya
"biarlah , namanya laki laki, dia memukul dan dipukul, itu wajar " ucap carnell
"papah juga sama saja" omel elda, carnell yang pusink sekarang
"kita layani tamu dulu ayo" ajak brice sambil memeluk istrinya , smua mengangguk
brian meminta maid mengambil kotak p3k , lalu ia mengobati lebam di wajah nathan dan carter dengan salep penghilang lebam
"Uncle ajari kami bertarung" ucap nathan
"Bertarung tak perlu jago, asal bisa mengendalikan emosi dan pandai membaca peluang , kemenangan 70% sudah berada ditangan kita" jawab brian santai sambil terus memeriksa bagian luka di tubuh dua anak itu .
setelahnya ia menyerahkan ipad pada mereka agar mereka fokus main game dan melupakan rasa sakit mereka
***
Melihat irell duduk dihalaman belakang, menikmati sepiring cake dan segelas juice, brian menghampirinya dan duduk disampingnya
"Kenapa menghindariku?" tanya brian dingin
"Aku tak menghindarimu, itu perasaanmu saja, aku masuk dulu melayani tamu" irell segera berdiri , brian mencekal tangannya dan mendudukkannya dikursi
"Apa aku melakukan kesalahan humm? kalau aku salah katakan padaku, aku akan berubah, jangan menghindari dan mendiamkan aku, hatiku sakit sekali" ucap brian
"Ko Brian.. kau jalani saja hidupmu, aku jalani hidupku.. kita akan lebih nyaman begitu" jawab irell
"Kau anggap hatiku terbuat dari apa? begitu mudahnya kau berkata seperti itu? apa kau mempertimbangkan perasaanku saat mengatakannya?" tanya brian menatap irell intens
"Lihatlah.. belum apa apa kita sudah berdebat. aku benar tak ingin menjalin hubungan dengan siapapun. biarlah aku kembali pada kehidupanku biasanya" pinta irell
"kita bukan sedang berdebat, tapi menyelesaikan masalah, bila ada masalah biasakan selesaikan masalahnya bukan hubungannya. bukalah hatimu dan percayakan hidupmu padaku, kita akan melaluinya bersama sama"
"sekarang kau bisa katakan padaku, apa masalahmu sehingga menghindariku?" tanya brian
"Alasannya"
"Ehmmm... lupakan sajalah" jawab irell
"Tidak bisa dilupakan, sebutkan alasan carter menolakku" pinta brian
"Ehkmmm.. dia.. dia.. bi-bilang.. kau lemah" ucap irell gugup. ia takut brian marah
"Hah? aku lemah? baru kali ini ada yang mengatakan aku lemah, irell sebenarnya kau atau carter yang mengatakan aku lemah humm?"
"Malam itu aku tak mau merusakmu karena aku menghormatimu, aku ingin menyerahkan keperjakaanku setelah kita menikah, tapi kalau kau merasa aku lemah, kau jangan khawatir aku bisa membuatmu bahkan sampai tak bisa berjalan.. kalau kau tak percaya.. aku.." irell menutup mulut brian dengan sangat malu, wajahnya memerah
"Bukan itu.. bukan itu" tukas irell cepat
"kalau kau tak percaya ayo kekamarku, aku akan membuktikannya sekarang juga" kesal brian
"Bukan itu.. bukan.. ish kau ini" cebik irell
"Jadi?"
"Ehmm carter berkata.. dia tak setuju karena kau lemah, tak bisa bertarung.. carter masih anak anak, pikirannya sangat pendek. dia jadikan bertarung sebagai patokan kemampuanmu menjaga ibunya dimasa depan, ia bilang saat dia dewasa dia akan pergi ketempat lain study melanjutkan hidupnya.. ia menyukaimu tapi tak jadi karena takut kau tak bisa melindungiku" ucap irell malu
"Apa?? baiklah kau tunggu sebentar" brian berdiri, irell mencegahnya "kau mau kemana?" tanya irell
"carter katakan aku lemah, aku akan mencari kenzo delavega tadi, aku akan meremukkan seluruh tulangnya agar carter tau aku mampu melindungi ibunya dan aku tak lemah" dengus brian
"ih.. kau ini.. kau tak dengar.. semalam pagi ko.. semalam pagi.." irell mencebik, brian diam berpikir sesaat
"Maksudmu semalam pagi dia keberatan, tadi setelah melihatku bertarung , jadi maslaah clear?" brian memastikan, irell mengangguk dengan wajah merona
"astaga.. untung saja Tuhan membantuku.. tak ada yang begitu kebetulan didunia ini, Tuhan mengirimkan samsak buatku membuktikan aku tak lemah di hadapan putraku" ucap brian, irell terharu mendengar kata putraku dari mulut brian "bila tidak aku bahkan tak tau apa salahku dan kau meninggalkanku begitu saja setelah semalam?"
"irell kau sudah dewasa, belajarlah terbuka, kau bisa percaya padaku.. kita akan bersama sama meraih kebahagiaan dengan putra kita .. kau mengerti?" tanya brian lembut.
ia mulai paham, irell adalah wanita yang tertutup dan sudah terluka. dia lebih peka dan harus extra kerja keras mengarahkan wanitanya ini untuk lebih membuka diri agar bisa berhasil merajut masa depan bersamanya. karena wanita pendiam ini akan pergi meninggalkannya begitu saja bila dia tak peka
"sekarang berarti tak ada masalah lagi dengan carter kan?" tanya brian, irell mengangguk.
"ayo masuk, aku mau bertarung dengannya lagi" ajak brian sambil menarik lengan irell mencari carter di ruang keluarga
"ko brian apa kau gila.. bertarung dengan.. "
"carter tadi kau kalah kan bertarung dengan uncle? berani bertarung lagi dengan uncle?" tantang brian, carter mengangguk
"ko .. kau"
"rulesnya 5 babak.. kalau uncle menang uncle akan menikahi mimi, kalau uncle kalah.. mimi akan menikahi uncle, setuju" ucap brian, irell melotot
"bukankah sama sama menikah" wajah carter berubah datar
"baik baik begini saja, kalau uncle menang, uncle akan menikahi mimi, kalau kau menang uncle membelikanmu iwatch terbaru, ingat pertarungan 5 babak" carter nengangguk semangat
Brian masuk mengambil ipadnya, mereka mulai pertarungan.
"dasar gila, kukira bertarung beneran rupanya game, hampir lepas jantungku" batin irell sambil menyimak mereka berdua
4 babak draw carter menang 2x brian menang 2x. sisa babak terakhir, suasana mulai tegang, irell duduk ditengah diantara brian dan carter sementara nathan tetap suporter carter disebelahnya dan nathalie suprter brian disebalah brian. irell tegang sekali dia bingung mau melihat kelayar mana
TRENGGG GAME OVER
brian memenangkan pertarungan
carter mencebik
brian tertawa bahagia sampai melompat
beberapa orang menatapnya dengan heran. kenapa pria dingin itu melompat lompat
"Mimi yang belikan carter iwatchnya ya" bisik irell kepada carter , ia menggeleng sedih "No"
"gara gara ko brian" bisiknya sambil mencubit pinggang brian, brian meringis kesakitan "sakit sayang" bisik brian ditelinga irell, wajah irel merona dipanggil sayang