
Braice memeluk pinggang istri kecilnya ke sebuah restaurant korea tempat pertemuan yang dibooking klien braice dari perusahaan Edelweis.
Setelah tiba di ruangan VIP, Braice memesan jus lemon buat istrinya , dan memesan jus jeruk buat dirinya sendiri
"Ekhhmm maaf mengganggu tuan, ada yang ingin saya bicarakan sebentar" interupsi Carl , braice segera keluar ruangan bersama carl
carl memerintahkan rachel dan rahel masuk menjaga tata di dalam vip. braice mengernyitkan kening, tapi dia abaikan
"ada apa?" tanya braice setelah mereka agak jauh dari restoran
"Tuan ini rekaman pengawal bayangan atas masalah yang menimpa di toko tas tadi" carl menyerahkan Ipad dan headset kepada braice.
"Edelweis Group... beraninya kalian hah???" teriak braice marah setelah menonton habis videonya
"Ia mengaku calon istri anda didepan istri anda dan kedua ibu anda tuan" carl kembali menjelaskan poin masalah yang bisa menyebabkan masalah lain buat keluarga bossnya "ayahnya meminta dia menggoda anda untuk menolong perusahaannya"
braice menyeringai, carl juga ikut menyeringai. pantas saja rachel dan rahel diminta carl menjaga istrinya karena klien berikutnya adalah edelweis group
braice masuk menemui istrinya yang duduk disebuah meja dalam ruang vip. sementara carl rahel rachel duduk di meja satunya masih dalam ruangan yang sama
TOK TOK TOK
masuklah perintah carl
pintu di buka dari luar
"Nona Edelweis ijin masuk bertemu tuan Rodriquez , tuan carl" lapor pengawal.
"ijinkan masuk" jawab carl karena braice terlihat sedang mengelus perut istrinya yang membulat besar itu.
Krekkkk
Audrey masuk ke ruangan didampingi, Tom asisten ayahnya
"Selamat sore tuan, saya Tom dan Ini nona saya.. Nona Audrey , putri CEO kami perwakilan dari Edelweis"
"Sore.. Saya Braice Dan ini istri saya dokter violetta, anda bisa memanggilnya nyonya muda rodriquez
mereka saling bersalaman. Audrey tiba tiba memucat melihat wajah datar istri Tuan Braice. tangannya sedingin es batu saat ini dan tata dapat merasakannya
pelayan masuk menghidangkan makanan yang sudah diorder Audrey sebelumnya dan braice terlihat terus menyuapi istrinya sambil sesekali mengelus perut istri kecilnya.
Tom bisa melihat jelas, Tuan Braice yang terkenal kejam dan dingin sangat mencintai istrinya, pupus sudah harapan tuannya meminta Audrey menggoda Tuan Braice.
Sementara Audrey dia sungguh terpukul, tadi dia merendahkan wanita kecil itu dan mempermalukannya, ternyata dia istri sultan. wajar dia memiliki sederet black card limited edition didompetnya.
"Miel.. aku sudah kenyang.. Aku mengantuk" tata meletakkan kepalanya di dada suaminya , sambil berusaha menahan kantuknya . Braice mengecup keningnya beberapa kali
"baiklah mari kita pulang amour" braice memeluk istrinya. tata menggeleng dan berkaca kaca. braice terkejut. "amour kenapa humm?" tanyanya lembut
"tadi miel berjanji membeli es krim , sekarang mengajakku pulang" braice menatap istrinya lembut. "kalau begitu ayo kita membeli es krim" ajak braice sambil berdiri dan mengajak istrinya
Tom baru mau mengangkat suara, tata keburu bersuara
"Tapi bagaimana meeting dengan calon istri miel ini?" tanya tata sarkas. audrey langsung pucat pasi. tom bingung
rachel rahel carl menahan tawa mereka dimeja satunya . braice menyeringai
"siapa calon istriku humm? istriku sejak dulu sampai sekarang hanya satu. hanya amour satu satunya" jawab braice , tata menunjuk audrey. audrey merasa jantungnya berhenti berdetak
"apa maksudnya nona edelweis?" tanya braice dingin, wajahnya sangat menyeramkan
"emm.. hanya salah paham tuan.. hanya salah paham.." jawab audrey ketakutan .
"jawab pertanyaan istriku" bentak braice
"bu bukan begitu tuan.. bukan.. " audrey kebingungan dan ketakutan
"Tuan duduklah dulu, mari kita bicara baik baik" pinta tom sopan, ia belum tau perbuatan nona besarnya tadi terhadap istri pemilik mall ini, braice mengajak istrinya duduk kembali
"rachel rahel" panggil braice , dua pengawal kembar segera berdiri di samping braice dengan hormat
"katakan apa yang terjadi" perintah braice
"Ehm.. tadi nyonya besar rodriquez memilihkan tas ini dan meminta nyonya muda membelinya. tapi nona edelweis merebut dan menghina nyonya muda dengan sebutan miskin dan tak mampu membeli tas ini" rachel menunjukkan belanjaan bertuliskan hermes
"petugas toko berkata nyonya muda yang berhak membelinya, nona edelweis marah dan mengancam petugas toko, dengan nama anda tuan, ia mengaku ia calon istri tuan didepan kedua nyonya besar dan nyonya muda" sambung rachel
"Beberapa kali dia menghina nyonya muda, saya dan rahel sudah memperingatkan agar dia menjaga sikapnya, tadinya saya sudah mau menghajarnya, cuma saya takut membuat ketiga nyonya tak nyaman apalagi nyonya muda sedang hamil besar, terpaksa saya mengendalikan diri, akhirnya karena tak mau ribut, nyonya muda mengalah dan membiarkan nona edelweis membeli tas itu"
"Lalu kenapa dia tidak membelinya?" tanya braice
"Saat nyonya muda sudah mengalah, nona edelweis tak mampu membeli tas tersebut sampai manager toko meminta pengawal mereka menyerahkan nona edelweis kepada pihak berwajib. tapi nyonya muda menghalangi dan menolongnya dengan membeli tas itu , nyonya juga memohon agar manager toko menyudahi masalah ini dengan tidak membawa nona edelweis ke polisi" tutup rachel
tom terkejut mendengar cerita itu, wajahnya pucat pasi, dia baru tau apa yang dilakukan nona muda nya.
braice menyeringai
"Edelweis Group.. beraninya kau menghina istriku" bentak braice dengan suara menggelegar . tata terkejut sekali. ia memegangi perutnya sambil meringis
carl rahel rachel segera berdiri
"Amour.. Amour kenapa? mana yang sakit.. kita ke rumah sakit ya" ajak braice khawatir. ia memeluk istrinya
"Daddy jangan marah.. kami ketakutan" ucap tata pelan. braice tak berdaya. ia menghela nafas berat sambil menatap tajam dua orang didepannya yang wajahnya sudah seputih kapas
"Amour pergilah bersama rahel dan rachel dulu. biar aku mengurus disini" pinta braice lembut . tangannya mengelus perut istrinya, tata menggeleng dan berkaca kaca "miel mengusir kami?" matanya berkaca kaca sambil mengelus perutnya
"Ahh tidak tidak. duduklah" jawab braice pasrah. ia benar tak berdaya pada istrinya , tata segera duduk dengan sopan kembali. mood ibu hamil benar berubah ubah
"Miel aku mau makan salad buah yang asam dan es jeruk lemon" pinta tata, braice mengangguk. "rahel pesankan apa yang diinginkan nyonya muda" perintahnya, rahel segera memesan makanan yang diinginkan.
tak lama pelayan kembali bersama rahel membawa apa yang diinginkan nyonya mudanya itu
"Teruskan meetingnya miel" pinta tata
"Apa kalian tak mendengar apa ucapan istriku?" tanya braice tajam pada dua orang didepannya
"ini adalah proposal pengajuan kerjasama edelweis group kepada BC group tuan" tom menyerahkan sebuah map, carl segers berdiri dan menerimanya. setelah membaca carl membisikkan sesuatu pada braice dan menyerahkan map itu pada braice. braice membukanya lalu mengernyitkan kening
"Miel boleh aku membacanya?" tanya tata sopan , braice menyerahkan dokumen itu pada tata , tata menerima dan mulai membaca. ia mengernyitkan keningnya
tata mengambil ipadnya dari dalam handbag, ia memeriksa beberapa hal didalam ipadnya lalu seperti menyesuaikan isi map . ia mengernyit
"Kenapa amour?" tanya braice
"Laporan keuangan dan laporan laba rugi perusahaan Edelweis di dokumen ini tidak sama dengan laporan aslinya" jawab tata tanpa menoleh ke arah braice, ia masih memeriksa ipadnya dan dokumen itu
"Maksudnya bagaimana Nyonya muda/Amour" tanya tom, carl, braice bersamaan
"Carl, miel coba lihat data disini berbeda dengan disini, kalian periksalah, ada manipulasi didalamnya" tata menyerahkan Ipadnya dan Map itu pada suaminya. wajah Tom dan Audrey sudah tak bisa lagi disebutkan warnanya
Braice dan Carl menerima ipad dan map itu, mereka segera memeriksa ucapan tata . setelahnya carl dan braice menyeringai bersamaan kearah tom audrey