Forgive And Forget

Forgive And Forget
Bab 35 - IGD



"Saw terima kasih sudah menemaniku makan siang, kau jangan mengantarku naik, kau kembalilah, aku ingin mendadak tuli mendengar suara ponsel dari kakakku yang terus nencari kakak iparku yang cantik ini hahahah" tata ikut tertawa, brenda pun segera naik


Audrey menatap tata dengan sinis, dia menganggap tata musuh yang merebut brice sehingga ia kehilangan impiannya bersanding dengan pria impian semua wanita itu


(merebut?? hahaha mungkin audrey sudah gila)


"Rachel, Rahel, aku ingin ke toilet sebentar, kalian tunggulah disini" perintah tata


"Tidak kami akan mengantarmu ke toilet" tegas rachel. mengikuti nyonya mudanya


Audrey melihat tata menuju toilet , tiba tiba mendapatkan ide jahat untuk mencelakai tata, ia menyusul tata ke toilet


Ada dua pengawal menghalanginya dipintu masuk ke toilet.


"Apa maumu nona edleweis?" tanya rahel tegas dan tajam, ia kenal wanita didepannya ini


"Ini toilet umum, ada larangan aku memasukinya?" tanya audrey memasang wajah polos. akhirnya dua pengawal itu membiarkannya masuk


Audrey memeriksa ruangan dalam toilet, ia melihat ujung sepatu tata dari bagian lubang angin bawah pintu. ia mengambil sabun cair pembersih toilet lalu menuangkan sebotol penuh tepat didepan pintu ruangan toilet yang dipergunakan tata.


Setelah menuangkan cairan sabun, audrey segera melangkah keluar toilet dengan santai. sampai luar toilet ia melewati dua pengawal cantik itu dengan wajah tak berdosa


Rahel rachel memiliki perasaan tak enak, mereka segera melangkah masuk ke toilet. bertepatan tata membuka pintu ruangan toilet


"Nona Awassss" teriak rahel


"Nona hati hati" teriak rachel


mereka berlari secepat mungkin menghalangi tata keluar toilet, tapi terlambat


BRAKKKKKKK


tata menginjak cairan sabun dan terpeleset


rachel reflex meluncurkan diri ke lantai menjadi tempat tindihan tata.


tata jatuh terduduk tepat di atas perut rachel. ia selamat .. rachel bahkan menahan punggungnya .. tapi tata masih sangat shock


rahel bertindak cepat .. dia memapah tata bangun lalu memindahkannya kesudut lain yang lantainya kering


"Nona bagaimana keadaanmu? biar aku memeriksamu" rahel berputar mengamati dan memeriksa keadaan tata.


"Aku baik baik saja" kau periksalah rachel, dia berdarah.. tata mulai menangis melihat pengawalnya . ia berusaha menahan sakit di perutnya.


"Nyonya kumohon jangan menangis karenaku.. kasihan bayimu.. aku baik baik saja. ini hanya luka goresan" rachel mencoba bangun tapi tak mampu.


"Nyonya.. jangan menangis.. dengarkan aku.. kalau nyonya bersedia berdiri diam disini, aku akan menolong rachel.. kumohon jangan bergerak" pinta rahel. tata mengangguk


"kau cepatlah tolong rachel, dia kesakitan" tata menangis . rahel mengangguk dia memeriksa rachel mencoba memapahnya bangun. Rachel berteriak keras. Rahel segera melepaskannya


Rahel tampak melepaskan blazernya dan menahan darah dikepala rachel. lalu mengambil ponselnya


"Kalian masuk semuanya, bawa tambahan orang , aku di toilet lobby BD Group bagian belakang, ada yang mau mencelakai nyonya muda, nyonya muda baik baik saja. rachel terluka" rahel memutuskan panggilan


"Tuan carl aku di toilet BD Group bagian belakang lobby. ada yang mau mencelakai nyonya muda dengan meletakkan cairan sabun di pintu toilet, sekarang nyonya muda baik baik saja. rachel terluka"


"....."


"Baiklah tuan"


rahel memutuskan sambungan


"Brenda bawa sprei ke toilet loby lantai satu sekarang.. cepatlah " tata menghubungi brenda. ia memegangi perutnya


4 pria bertubuh tinggi kekar masuk kedalam toilet wanita. 6 lainnya berjaga di depan toilet dalam keadaan siaga


"Nyonya anda baik baik saja?" tanya satu pengawal


"Aku baik baik saja, kalian tolonglah rachel" tata menangis sambik berjongkok memegangi perutnya


pengawal datang memeriksa keadaan rachel. rahel segera berlari kearah tata yang berjongkok dilantai


"Nyonya muda.. bagaimana keadaanmu? kau baik baik saja?.. nyonya.. nyonya.." panggil rahel


"aku tak apa apa" jawab tata pelan


"sawsaw ini spreinya, buat apa? ada apa?" tanya brenda menerobos masuk


"Pengawal.. Ambil spreinya dan gotong rachel ke rumah sakit.. cepatlah.." teriak tata melihat rachel sudah pingsan


empat pria memegang sprei besar dan tiga orang perlahan mengangkat tubuh rachel keatas sprei. mereka segera menggotong tubuh rachel keluar toilet menuju halaman loby


Bersamaan Ambulance sudah tiba , pengawal memindahkan tubuh rachel ke brankar ambulance . perawat mengambil alih tubuh rachel


"Nona.. bagaimana keadaanmu?" rahel ikut jongkok dan mencoba memapah tata untuk bangun


"Mana Istriku?? katakan mana istriku??" Brice berlari kearah mereka


"Tuan muda.. nyonya disini.." Pengawal membawa brice dan carl kearah tata


brenda dan rahel segera mundur


"Amour.. Amour Bagaimana keadaanmu? Tenanglah ada aku disini.. kita kerumah sakit sekarang ya" Brice berjongkok memeluk dan mencium istrinya


"Miel.. aku kesakitan" tata mengadu lemah , brice melihat ada cairan merah di kaki istrinya


"Bertahanlah.. tenanglah.. tarik nafas dan lepaskan pelan pelan.. kita segera ke Rumah sakit... Berjuanglah buat anak kita.. aku mencintaimu" Braice mengecup pipi istrinya lalu menggendongnya


"Brenda rahel ikut denganku.. Carl sediakan mobil" teriak brice sambil berlari menggendong istrinya ke lobby luar


Brice memerintahkan langsung ke RS Rodz karena tak jauh dari lokasi mereka berada


"Brenda telpon papa katakan Tata mau melahirkan sekarang, minta RS dan Dokter Fredrick bersiap menunggu kita tiba"


"Carl telepon Virellia dan Vin minta ke rs rodz sekarang" perintah brice


"rahel kau telpon pengawal yang mengurus rachel tadi , minta perawatan terbaik untuknya"


"Baik" jawab mereka bertiga, semua menjalankan perintah brice


"Miel.. aku kesakitan miel" bisik tata lemah


"Bertahanlah demi anak kita.. kau terbaik amour" brice mengeratkan pelukannya lalu mencium istrinya


Tak lama mobil tiba di RS.. perawat sudah menunggu mereka di loby RS dengan sejumlah peralatan . Braice langsung meletakkan istrinya perlahan di brankar


"Serahkan ana padaku, biarkan aku bekerja" Fredrick merangkul bahu brice dan menepuk pundaknya . Brice tersenyum dan mengangguk


ia menunggu dengan sabar di pintu IGD supaya fredrick bisa kerja dengan tenang, Brenda duduk disampingnya dengan gelisah tapi tak berani bersuara . Rahel berdiri tegak di pintu IGD


Carnell, Elda, Brian lari lari menuju IGD


"Bagaimana keadaan tata brice?" tanya carnell meski panik dia berusaha menjaga bahasanya supaya keluarganya tak kacau


"Dokter sedang memeriksanya pah. duduklah dulu" jawab brice mencoba tenang


Virellia berlari ke IGD


"Brice kenapa tata?" tanya virell panik


"Duduklah, dokter sedang memeriksanya" brice mencoba tenang .. padahal ingin sekali dia menerobos ke dalam IGD.


Vin , Maggie lari ke IGD


"Bagaimana tata brice?"


"kita tunggu dokter di dalam" jawab brice tatapannya kosong .. Vin segera memapah ibunya duduk


"Katakan apa yang terjadi dengan tata" maggie mulai menangis


"brice.. " panggil carnell menepuk bahu putranya


"kita tunggu dokter didalam" jawab brice dengan tatapan kosong


"Broo.. kau baik baik saja" vin mencoba menepuk pelan wajah brice , brice segera sadar. wajahnya pucat


"Nak dengar papa .. tenanglah .. apapun yang terjadi.. papa akan selalu menemanimu.. papa tak akan membiarkanmu sendirian.. " carnell memeluk putranya. brice langsung membalas pelukan papanya dan menangis


"Tata Dan anakmu akan baik baik saja didalam.. kau harus kuat demi anak istrimu.. ingat kami menemanimu disini"


Vin merasa iba melihat adik iparnya begitu rapuh. dia mengelus punggung brice


Elda, maggie, brenda , virell ikut menangis melihat keadaan brice


Pintu IGD di buka, Fredrick keluar.. Brice melepaskan pelukan ayahnya, berlari menemuinya.. carnel dan vin disampingnya ikut berlari


"Bagaimana istriku dan anakku dokter?" tanya brice


"Dokter violetta kehabisan banyak darah, wajib transfusi. saya akan lakukan caesar sekarang" ucap fredrick


"Pakai darah saya dokter, saya sudah pernah donor untuk dokter violetta" vin mengajukan diri.


"lakukan yang terbaik dokter" ucap brice dan carnell bersamaan . fredrick mengangguk


"Tuan ikutlah dengan kami" perawat mengajak vin ke ruangan lain