
Brian mengantarkan irell pulang ke mansion dawson .. setelah punggung irell menghilang dipintu utama, brian menjalankan mobil kembali ke mansionnya
"mah pah.. brian pulang" sapa brian pada dua orangtuanya yang duduk di ruang keluarga
"mah pah.. brian mau bicara" lapor brian serius
"ada apa nak?" tanya carnell
"Tolong lamar virellia untuk brian minggu depan pah, brian mencintai virellia" pintanya pada carnell. carnell melotot
"kapan kau menjalin hubungan dengan irell?" tanya carnell bingung
"tak pernah pah" jawab brian
"tak pernah tapi kau minta papa melamarnya, kepalamu habis terbentur kah?" tanya carnell kesal
"Brian kaya, tampan, mapan, tanggung jawab, setia... Virellia kaya, mapan, lemah lembut, tanggung jawab, dia juga dokter kelak bisa merawat papa mama seperti sawsaw.. bahkan memberi bonus seorang putra cerdas buat brian.. apa salahnya kami bersama?" tanya brian serius
"tak ada salahnya kau mencintainya.. yang salah kau mau menikahi orang yang tak mencintaimu dan tak mau kau nikahi huh" dengus carnell
"dia memang tak mencintai brian tapi waktu akan membuatnya mencintai brian, biarlah cinta datang karena terbiasa"
"kau gila, bagaimana kalau dia menolak lamaran kita, akan merusak hubungan keluarga dawson dan rodriquez" bentak carnell melihat putranya terlalu naif
"papa tak melarangmu menikahinya, tapi bagaimana kau menikahi orang yang tak mau kau nikahi " sambung carnell
"Virellia akan menerimanya, papa percayalah, brian sudah bicara baik baik padanya dan dia sudah tau kita akan melamarnya minggu depan, dia sudah siap"
"Baiklah kalau itu maumu, papa kesana minggu depan bersama mama, apa maharmu? mau papa bantu?" tanya carnell.
brian mengambil ipadnya dan menunjukkan asetnya pada orangtuanya.. carnell melotot elda menutup mulutnya kaget
"brian masih belum sehebat sawsaw tata dan koko brice, tapi brian tak kalah terlalu jauh dari mereka ... beberapa tahun lagi semoga bisa diatas dawson dan rodriquez pah" carnell mengangguk
"mahar apa yang akan kau berikan nak?" tanya elda
"mansion dikiri mansion ini, sudah papa beri pada kokomu, yang dikanan papa beri untukmu, papa tak suka kita tinggal berjauhan, itu akan dipakai sebagai hadiah mahar pernikahan kalian. sisanya apa yang mau kau berikan?" tanya carnell
"brian tak suka irell mengurus perusahaan, biar dia jadi dokter dan mengurus carter sama brian saja dirumah pah, jadi brian tak akan memberinya perusahaan, menurut papa apa yang cocok?" tanya brian
"mana ipadmu tadi?" tanya carnell , brian memberi pada papanya
"Ini ada propertymu didepan RS Dawson, kau jadikan tiga ruko ini restoran untuk irell saja seperti brice dan vier dan kau jadikan mahar" brian mengangguk
"baiklah istirahatlah, besok rumah akan sibuk mengurus acara keponakanmu, sisanya papa akan mengurus untukmu" brian mengangguk. ia segera kembali kekamarnya
***
di tempat lain
"Miel.. aku ingin tanya sesuatu" ucap tata
"Ada apa amour" tanya brice dengan mata terpejam, ia lelah setelah mendapatkan pelayanan khusus dari istrinya yang masih masa nifas
"Bolehkah aku melakukan tubektomi?" tanya tata
"Hah? buat apa?" brice langsung duduk "kau bisa melakukan KB sementara waktu kalau kau belum mau mengandung"
"Tidak, aku rasa dua anak sudah cukup miel" pinta tata
"Biarlah anak anak tumbuh dewasa, saat mereka berusia 10 tahun, aku ingin bayi lagi untuk menemani kita dihari tua, saat anak terakhir kita dewasa, kita sudah memiliki cucu" pinta brice "aku tak ingin kita kesepian, aku takut kesepian" tata mengangguk
"Baiklah kalau itu mau miel, besok temani aku memasang KB ya" brice mengangguk, ia memeluk istrinya dan mereka segera kembali ke alam mimpi
****
Sabtu pagi
Carter bermain game di ruang keluarga lantai dua, dia berbaring dipaha irell
"Sayang.. kalau mimi menikah lagi, apa kau keberatan?" tanya irell
"Tidak" jawab carter datar
"benarkah sayang?" tanya irell , carter meletakkan ipadnya
"Mimi boleh menikah dengan siapapun yang mimi mau, tapi dengan syarat"
"Mimi harus bahagia" jawab carter serius, irell mengecup kening putranya
"Mimi jangan mikirin carter, nanti carter akan sekolah jauh dan mimi sendirian, mimi akan kesepian , carter akan sedih memikirkan mimi sendirian, mimi menikah saja tapi dengan orang baik" irell terharu, putranya begitu dewasa
"boleh mimi menikah dengan uncle brian?" tanya irell hati hati
"uncle brian?" tanya carter, irell mengangguk "No mimi" jawab carter
"kenapa nak?" tanya irell lemas "uncle brian tidak baik kah?"
"Bukan mi, uncle brian baik sekali, cuma dia lemah"" jawab carter tegas
"Lemah?" tanya irell membeo ucapan putranya
"Iya dia lemah, nanti kalau ada orang jahat sama mami, uncle brian tak bisa menjaga mami, kalau carter jauh dari mami, carter akan khawatir. dia tak bisa bertarung"
irell memutar bolanya malas .. tadi dia sempat terharu pada bocah tujuh tahun ini karena terlihat dewasa dan mementingkan miminya, sekarang bocah ini tetaplah bocah, ia menjadikan pertarungan sebagai pedoman melindungi miminya
"sayang.. menjaga mimi bukan hanya dengan bertarung sayang, kalau pandai bertarung belum tentu bisa menjaga kita berdua" irell menjelaskan dengan sabar pada putranya
"Pipi saja yang jago bertarung belum bisa melindungi mimi, bagaimana uncle brian yang tak bisa bertarung" tanya carter tegas, irell memijat pelipisnya "nanti malah mimi yang jaga uncle brian"
"pokoknya kalau uncle brian lemah, dia tak boleh bersama mimi, kalau kuat, carter setuju dia menikahi mimi" tegas carter lagi dengan berapi api
"baiklah sayang, mimi hanya bertanya saja, kita bicarakan saja lain kali" ucap irell, carter kembali mengambil ipadnya dan melanjutkan game nya
***
hari minggu
kediaman rodriquez
jam 11:00
mansion ramai dihadiri oleh para keluarga dekat, kerabat, kolega dan rekan bisnis seluruh keluarga carnell
tata menyambut tamu dengan sopan, brice seperti biasa memasang wajah datar pada semua tamu.
brenda mengambilkan zavier makanan dan minuman
Brian sedang gelisah karena sejak tadi irell menghindarinya,
"apakah aku melakukan kesalahan? apakah dia marah kejadian malam itu? tapi tak mungkin. ia juga menikmati dan setuju aku melamarnya. trus kenapa jadi dingin dan menghindar ya? atau dia sudah didekati pria lain?" brian mulai tak tenang
carter, nathalie, nathan terlihat bermain game di ruang keluarga, brian menantang tiga anak itu duel di game. carter melihatnya dengan tatapan permusuhan. mereka segera bertarung di game online.
pertarungan pertama, brian memenangkan pertarungan, menang tipis hanya satu poin. nathan suporter carter, nathalie suporter brian , carter tak terima kalah, dia mengajak duel lagi. meskipun hatinya senang karena brian tak mengalah padanya, mengalah sama dengan meremehkannya
pertarungan kedua brian kalah satu poin dari carter, brian pun tak terima kalah . dia mengajak satu pertarungan lagi .
"berikan uncle ciuman, uncle akan memenangkan pertarungan ini" brian menyodorkan pipinya pada nathalie , nathalie mengecupnya
pertarungan ketiga, brian hampir kalah tapi di 30 detik terakhir, brian berhasil mengambil score dan memenangkan pertarungan, satu poin diatas carter. wajah carter berubah datar
"buat apa menang bertarung di game kalau lemah didunia nyata dan tak bisa bertarung" ketus carter dan berlalu ke halaman depan
brian mengerut heran mendengar ucapan carter "tak bisa bertarung di dunia nyata? apa maksudnya?" batin brian
nathan dan nathalie ikut menyusul carter dihalaman depan, mereka bermain disana. tiba tiba ada bola jatuh tepat di depan mereka. carter segera mengambil bola itu
"hei lemparkan bola itu kepadaku" teriak seorang anak berusia 12 tahunan kepada carter. carter segera menendang bola itu keluar halaman, niatnya mengembalikan bola itu. tapi karena terlalu keras, mengenai mata anak laki laki itu pun langsung tersungkur, ia menangis
carter nathan nathalie berlari keluar halaman dan melihat keadaan anak laki laki itu
"maafkan aku, aku tak sengaja, bagaimana keadaanmu?" ucap carter menyesal
"Kau melukaiku, aku akan melaporkan pada ayahku, ayahku akan menghajarmu, ayahku adalah petarung nasional" teriak anak itu sambil berlari pulang setelah membawa bolanya
"hei teman, maafkan aku, aku sungguh tak sengaja" pinta carter, tapi anak laki laki itu berlari ke mansion lain
brian yang masih duduk mencerna kalimat carter tadi ditambah tatapan carter yang penuh permusuhan merasa bingung dan tak menemukan jawaban. ia pun keluar mencari carter meminta penjelasan
**