
Seperti janjinya.. Sehabis makan, Braice membawa istrinya ke apartemen Rodz. begitu pintu di buka, maid kesayangannya terkejut. ia segera memeluk nyonya mudanya.
"Nyonya.. sini bibi lihat, nyonya baik baik saja? bibi khawatir sekali sama nyonya" maid itu memandangi tata dengan takjub.
"Tata baik baik saja bi. bibi sehat kan?" maid itu mengangguk
"Bibi ambilkan minuman, tunggu sebentar nyonya" maid itu masuk kedalam. lalu keluar membawa minuman dan kunci serta kartu
"Tuan Nyonya minumlah dulu.. nyonya ini kuncinya apartemen lantai atas. aku selalu membersihkannya dipagi hari" maid itu mengembalikan kuncinya. Braice menatap datar pada mereka
"Jangan marah padanya.. ia hanya menjalankan perintah" bisik tata
"Ayo kita ke apartemen baru diatas" ajak tata, braice mengikutinya ke lift dan naik ke satu lantai diatasnya
karena berada di sudut. aprtemen itu lebih luas dari apartemen braice. ruangan sangat bersih dan rapi. Braice menuju ke kamar utama. ia melihat pakaian istrinya dan barang istrinya disana.
"Kau berencana tinggal disini?" tanyanya sambil memeriksa kamar , ia membuka laci.. menemukan pmsebuah kotak kecil berisi poto poto USG anaknya. ia menatapnya lama. rasa penyesalan kembali mengisi di hatinya. tidak menemani istrinya dulu. ia juga melihat hasil testpack bergambar dua garis disana.
"Ah.. aku kemarin tinggal disini karena aku ingin bercerai denganmu dan tak ingin keluargaku khawatir. jika aku pulang dalam keadaan buruk, keluargaku akan meminta tanggung jawab pada keluargamu, masalah akan menjadi rumit, jadi aku tinggal disini untuk menenangkan diri dan menghindarkan masalah" tata menjelaskan
"Bisa aku menyimpan ini semua?" tanya braice , tata mengangguk. braice memasukkan kotak itu dalam tas kerjanya
ayo kutunjukkan ruang kerjaku dibawah, mereka segera turun. terlihat ruang makan dan dapur yang sangat bersih sekali. braice membuka kulkas mencari minuman. ada banyak jenis minuman ringan disana dan buah buahan juga bahan makanan.
"siapa yang berbelanja disini?" tanya braice
"Awal pindah.. aku belanja sendiri.. tapi sejak hamil.. aku sering mabuk.. jadi kadang hiro berbelanja, kadang maid" jawab tata
"Hiro sering kesini?" tanya braice sambil memeriksa isi lemari dapur
"Iya.. dia sering membawa dokumen untuk kutandatangani atau ikut makan malam saat membawakan pesanan....." tata langsung diam. ia sudah terlalu banyak bicara. suaminya menatapnya tajam
"kenapa kau diam ? kenapa tak melanjutkan ucapanmu?" tanya braice dengan penuh intimidasi . tata diam
"Ini ruang kerjaku.. masuklah" ucap tata mengalihkan pembicaraan dengan rasa takut.
ruangan yang sangat nyaman. ada satu buah meja panjang dengan seperangkat lengkap electronik super mahal. biasa digunakan oleh hacker atau perusahaan besar.
di sudut ruangan ada satu meja direktur berukuran besar dan mewah. satu meja kerja yang tidak terlalu besar tak jauh dari meja direktur itu
lalu ada satu set sofa simple yang elegan.
braice menyentuh sebuah pintu dibalik meja direktur dan membukanya. sebuah kamar dengan single bed dengan toilet mini didalam
"kamar siapa ini? apakah hiro sering tinggal disini?" tanya braice dengan intonasi tinggi
"Hiro tidak pernah menginap, beberapa kali aku pulang dalam keadaan payah. aku tak kuat menaiki tangga karena terlalu banyak muntah. jadi aku istirahat disini sampai aku merasa kuat untuk naik tangga" tata ketakutan melihat suaminya marah
"lain kali.. bergantung padaku.. jangan seperti ini lagi" braice memeluk dan mengecup keningnya.. ia sadar telah menakuti istrinya.
"aku takkan mengulanginya lagi" jawab tata
"duduklah.. ini aku beritau daftar perusahaan yang aku miliki dan semua saham ku beserta daftar property, sejak hamil aku kewalahan sekali" tata menghidupkan laptopnya, braice terpana melihat semua yang ditunjukkan istrinya
"Semua ini pekerjaanmu dan milikmu?" tata mengangguk
"duduklah.. " perintah braice. ia membuka laptop dan menunjukkan pada istrinya semua perusahaan, aset, saham dan daftar propertynya . tata tersenyum
"Jadi kita harus bagaimana sekarang dengan semua ini? tak mungkin aku mengerjakan semua sendirian, bisa bisa anak istriku kabur" braice memijat pelipisnya
ia kira setelah menikah.. istrinya akan membantu sedikit usahanya. ternyata malah lebih parah. istrinya melimpahkan sebanyak ini pekerjaan untuknya bahkan melebihi kerjaannya sendiri
"dua hari ini aku sudah memikirkannya miel.. aku akan membuat sebuah team management, team audit, team keuangan, team organizer" terang tata "setelah aku mendata semua milik kita. aku akan mengurusnya dari sini dengan team yang aku bentuk, sisanya berjalan dengan sistem dan management, kau hanya perlu memantau saja miel"
braice merasa ide istirinya sangat brilian, dia bisa menghemat banyak waktu dan perusahaan terbebas dari tikis liar yang menggerogoti
"disini?" tanya braice
"ya aku akan jadikan rumah ini sebagai kantor"
"aku tak mengijinkan ada pria dalam teammu"
"aku akan memukulmu kalau kau masih cemburuan" dengus tata
"Aku tak mau istriku dekat dan satu atap dengan pria lain, kau sudah paham?" tegas braice
"aku usahakan mengisi team baru dengan wanita" pasrah tata. braice mengangguk
"aku belum pernah bercinta di kamar utama, aku ingin mencobanya" bisik braice
sedari tadi cemburu, ia butuh istrinya meredam amarahnya dengan memiliki istrinya seutuhnya. braice mengangkat tubuh istrinya naik kekamar utama dan melakukan pertarungan selama dua jam disana.
setelah pertarungan mereka selesai, braice bersama tata turun kebawah dengan keadaan lebih segar, pikirannya juga lebih jernih. mereka kembali ke ruang kerja tata
"Amour.. aku akan membuat sebuah konsep untuk manage semua perusahaan kita , dalam tiga hari aku akan memberimu konsepnya, kau baca dan pertimbangkan, bisa lebih efisien buat kehidupan kita, apartemen ini biar saja dulu, tak usah diapa apakan dulu" tata mengangguk .. suaminya pemimpin keluarga.. ia memilih patuh
setelah itu braice mengajak tata kembali ke apartemen mereka, tata enggan naik ke lantai dua, baginya lantai dua adalah trauma kehidupan pernikahannya. braice bisa melihat istrinya memucat. ia tak mau memaksa istrinya . ia mengajak istrinya kembali ke mansion. ia berencana menjual apartemen yang membuat istrinya tak nyaman lagi.
ia menghubungi carl untuk menjualkan aprtemennya sekaligus membeli apartemen disamping unit mereka yang berada dilantai 23.
braice menggendong istri mungilnya masuk kedalam mansion.
Carnell dan elda sudah hafal kebiasaan menantunya itu. mereka hanya tersenyum melihat anaknya naik ke lantai dua.
Awalnya mereka khawatir dengan rumah tangga putranya yang tak punya pengalaman dengan wanita, juga sifat putranya yang selalu dingin dan kaku, tapi melihat besarnya cinta putra mereka pada menantu mereka yang juga merupakan anak baik. sekarang mereka lega. mereka berharap rumah tangga putranya selalu bahagia