Forgive And Forget

Forgive And Forget
Bab 21 - menyerahkan harta pada istri



"Miel sejak hamil , aku sering lemas dan kelelahan, kadang memeriksa dokumen malah ketiduran" tata mengadu pada suaminya dengan manja


"Katakan apa yang mau amour katakan humm" braice menciumi istrinya sambil mengelus perutnya yang membuncit


"Aku ingin miel memegang ICE Group" pinta tata manja.


"Aku akan mengurusnya untukmu" bisiknya "sekarang aku akan mengurusmu dulu, aku menginginkanmu" tata mengangguk


mereka menumpahkan semua perasaan rindu dan cinta setelah perpisahan selama 20 tahun kini mereka menjadi satu, saling meneriakkan nama masing masing berbagi peluh, sampai akhirnya braice ambruk dan merebahkan diri disamping tata.


"Terima kasih amour, aku mencintaimu" bisik braice


setelah mereka agak tenang, braice menggendong istrinya kekamar mandi untuk membersihkan kembali sisa percintaan mereka.


kini mereka kembali berada di ranjang besar itu sambil berpelukan


"amour kau tak mengantuk? aku takut anakku kelelahan" ucap braice mengelus perut istrinya


"temani aku sebentar lagi" ucap tata


braice bangkit mengambil tas istrinya, ia melihat dompet istrinya dan menyerahkan pada istrinya, lalu mengambil dompetnya sendiri dan kembali masuk ke selimut


tata menatap suaminya yang mondar mandir tanpa busana sangat indah berjalan kesana kemari, ia mencebik "tak bisakah miel memakai pakaian dulu?"


"kenapa hummm, kau tergoda lagi amour?" jawab braice tergelak. tata memukuli dadanya. braice membuka dompetnya.


menyerahkan 5 black card pada istrinya dan 2 kartu kredit tanpa batas.


"untuk apa?" tanya tata bingung


"ini adalah seluruh hartaku dan usahaku seumur hidupku, isi masing masing kartu berasal dari seluruh pendapatan masing masing perusahaanku seumur hidupku, kau istriku jadi simpanlah, paswordnya tanggal pernikahan kita" braice nenyerahkan pada istrinya kartu yang ia miliki. tata menatapnya


"dan ini dua kartu kredit tanpa batas, kau bebas membeli yang kau inginkan, juga keperluan anak kita, aku akan bekerja keras membayarnya" braice tergelak sambil menyerahkan dua kartu itu pada istrinya


"kau simpanlah sendiri, itu kerja kerasmu, aku tak mau" tolak tata


"kau tak mendengar pepatah, lebih baik kau menyimpan harta suamimu daripada dihabiskan orang lain?" goda braice


"kau berani?" tata melotot sambil merebut 7 kartu itu dari tangan suaminya lalu memasukkannya kedalam dompet kecilnya. braice terbahak bahak


"tentu saja aku tak berani, aku takut istri cantikku ini meninggalkanku, aku bisa gila" ucap braice sambil mengecup dan membuat stempel di twin super besar milik istrinya. istrinya merasa kegelian


"tunggu, kalau miel sudah memberikan semua padaku, bagaimana miel hidup?" tanya tata , braice duduk kembali dan menunjukkan sebuah kartu di dompetnya


"aku masih ada satu kartu, ini adalah penghasilanku dari saham saham di perusahaan lainnya dan propertiku selama 15 tahun ini, bunga dari kartu ini saja sudah lebih dari cukup buat menghidupi diriku sendiri dan menghidupi istriku yang pengeluarannya tak sampai 10 juta perbulannya" sindir braice, tata memukul dadanya sambil mencebik. braice kembali tergelak


"sebenarnya kau tak perlu memberiku kartu ini, aku sudah memiliki enam black card lainnya, masing masing berisi semua kerja kerasku, perusahaanku, warisan papi, usaha keluargaku yang jadi bagianku, properti dan saham diluaran berada didalam kartuku"


"kau simpanlah semua, sekarang kau sudah menjadi sultan" bisik braice


"ini kartu yang paling aku sukai" tata segera menyimpan dompet mininya kedalam tas lalu membuka dompetnya dan mengeluarkan satu kartu ATM warna silver. braice melihat dan menatap heran pada istrinya


"kau tak menyukai kartu pemberianku?" tanyanya datar


"ahh bukan begitu, wanita mana yang tidak menyukai uang? bertahun tahun aku berjuang mengumpulkan pundi pundi uangku, tanpa pernah berfoya foya, karena impianku ingin menjadi orang terkaya didunia, sekarang tiba tiba suamiku melipat gandakan kekayaanku secara langsung menjadikan aku orang terkaya di dunia tanpa perlu melakukan apapun, bagaimana aku bisa tak menyukainya?" braice kembali memberi stempel pada twin istrinya.


"Aku hanya merasa nyaman, dengan kartu atm ini, isinya adalah gaji pokokku di RS Rodz, setiap aku keluar dan berbelanja aku tidak memiliki limit minimal belanja , orang tidak menatapku dengan tatapan aneh, keselamatanku juga terjaga" terang tata


"masa beli bakso pakai black card" ujar tata sambil tertawa, braice mendengar tapi memilih sibuk dengan aksinya di dalam selimut. sesaat ia berhenti untuk mengambil nafas.


Tata mulai terpancing dengan atraksi suaminya, ia mendorong braice sampai terlentang, ia segera naik memimpin permainan. braice terpana melihat permainan istrinya, dalam hatinya ia bahagia sekali istrinya punya inisiatif membalas aksinya.


braice tipikal pria yang tidak bisa "cepat", lagi lagi mereka menyelesaikan penyatuan mereka selama dua jam dan setelah mendapatkan puncaknya. ia menggendong istrinya tanpa melepaskan penyatuan ke bath up untuk membersihkan diri.


tiba di bath up, braice kembali terpancing melihat tubuh istrinya. tapi ia tak tega karena waktu sudah menunjukkan pukul 2 pagi. braice menghentikan aksinya. ternyata istrinya tak mau melepaskannya dan terus memimpin permainan mereka.


pada pelepasan terakhir, setelah saling meneriakkan nama mereka masing masing, tata langsung tertidur di pelukan braice. braice mencoba membersihkan tubuhnya dan tubuh istrinya dengan hati hati. setelah berhasil menyelesaikan acara pembersihan, braice menggendong wanitanya ke ranjang , ia juga berbaring disamping istrinya, lalu menarik selimut menutupi tubuh kecil itu sambil memeluknya masuk ke alam mimpi


***


jam 8 pagi


sekujur tubuh tata serasa tak bertenaga, untuk duduk pun ia tak mampu. tapi perutnya serasa dikocok, susah payah ia berusaha bangkit. braice merasakan pergerakan diranjang ia segera membuka matanya.


ia menggendong istrinya ke toilet. tata mengeluarkan isi perutnya sampai keringat dingin mengisi keningnya.


braice memijat tengkuknya dan mengelus bahunya. lalu menarik tisue untuk menyeka keringat istrinya.


setelah agak tenang tata bangkit membasuh wajah dan menyikat giginya. ia mendengus melihat seluruh dadanya sampai perutnya dipenuhi stempel mahakarya suaminya. ia lebih terlihat seperti macan tutul sekarang. braice pun segera mandi dengan cepat. setelah selesai tata kembali merebahkan diri.


braice meminta maid membawa sarapan mereka kekamar.


TOK TOK TOK


maid mengetuk pintu , braice segera beranjak mau membuka pintu


"Tunggu" teriak tata lemah. braice menghentikan langkahnya lalu menatap istrinya. "pakailah celana dulu sebelum membuka pintu, dengus tata


braice tergelak melihat hanya segitiga yang menempel di tubuhnya. ia segera mengenakan celana pendek yang entah mulai kapan sudah disediakan istrinya disofa.


braice membuka pintu kamar tanpa memakai atasan. terlihat maid dengan sebuah trolly kecil di hadapannya.


"letakkan disini dan pergilah" perintah braice, maid mengangguk patuh. ternyata braice tak sadar daritadi ada mama elda di balik punggung maid


"ehmmm" di leher dan dada putranya terlihat ada beberapa stempel.elda menatapnya datar


"mah.. mama disini?" tanya braice sambil nyengir. elda masuk kekamar tanpa membalas sapaan putranya.


ia melihat menantunya terbaring lemah. mulai bahu dan dadanya seperti macan tutul bekas stempel putranya.


"sayang, mama khawatir karena kau tak turun sarapan makanya mama kesini, kau baik baik saja?" tanya elda lembut


"tata gapapa mah, hanya ingin tidur saja. tata lemas sekali habis muntah tadi" elda mengelus kepala tata


"habis muntah atau habis dimuntahin anak nakal itu semalaman?" tanya elda sambil menatap tajam pada putranya. wajah tata merona malu. braice hanya mengusap tengkuk sambil nyengir


"mama seperti tak pernah muda saja. bukannya mama juga tadi malam dimuntahin papa? tadi malam, suara mama sampai ke pintu kamar braice loh" godanya braice sambil memeluk mamanya


"lihat kismark papa dileher mama masih keliatan" ledek braice, padahal kismarknya sungguh tidak ada. elda malu sekali pada anak dan menantunya.


memang benar tadi malam suaminya mengajak bertarung sampai tiga babak. diusianya yang sudah tua, suaminya semakin tua semakin menjadi. tapi selama ini suaminya tak pernah meninggalkan stempel di tempat yang kelihatan, apakah tadi malam suaminya khilaf? ah entahlah batinnya.


ia segera keluar dari kamar braice dan masuk kekamarnya. ia menuju meja rias dan memeriksa lehernya ke arah cermin. tak ada apa apa disana. dia baru sadar anaknya tadi menggodanya.


"anak nakal, awas kau nanti, mama akan menjewermu kalau ketemu" gumamnya kesal