
Setelah kepergian mama elda, braice segera mendorong trolly makanan ke samping istrinya yang terlihat lemah. memapah istrinya duduk lalu menyuapi istrinya
"miel juga makanlah" pinta tata lirih sambil mengelus rahang suaminya. braice mulai makan dengan tenang
"miel aku ingin kembali ke apartemen" aku sudah dua hari tak kerja. semua akan kacau nantinya
"kita menginap disana tiap sabtu minggu. besok hari sabtu kita akan kesana" ucap braice lembur
"aku mau hari ini" pinta tata
"besok atau tidak sama sekali" tegas braice. tata segera diam.
"aku mandi dulu" dia bangkit menuju walk in closet dan membereskan pakaian suaminya dan pakaiannya sendiri untuk hari ini. lalu segera masuk ke kamar mandi
tak lama ia keluar dari kamar mandi lalu duduk dimeja rias untuk mengeringkan rambut. ia masuk ke walk in closet dan keluar dengan gaun terusan warna kuning muda diatas lutut berlengan sabrina, sangat contras dengan kulitnya yang seputih susu
tata memoleskan sedikit bedak dan lipstik warna merah menyala, tak lupa mengambil concelor untuk menutupi stempel buatan suaminya. dia benar cantik sekali.
braice yang bergantian menggunakan kamar mandi setelah tata keluar tadi. baru saja menyelesaikan mandinya. ia terkesima melihat kecantikan istrinya
"kau mau kemana?" tanya braice
"tak ada , aku di rumah saja hari ini" jawab tata dingin . lalu menuju keluar kamar membawa ipad dan ponselnya .
braice mengenakan pakaiannya yang sudah disediakan istrinya di sofa lalu turun kebawah. ia bertanya pada maid dimana istrinya. ternyata istrinya berada dihalaman belakang , terlihat istrinya melakukan meeting online . cukup lama ia duduk tak jauh dibelakang istrinya . sekitar 20 menit kemudian istrinya menyelesaikan panggilannya.
baru mau menyapa istrinya. ponsel istrinya berdering, ia segera menghentikan langkahnya. istrinya menerima panggilan video
"Hi hiroo.. bagaimana kontrak kerjasama dengan Rajawali Group?"
"Kau cantik sekali hari ini, sungguh pemandangan indah" Puji pria di seberang sana, braice masih bisa mendengar pembicaraan mereka dari posisinya. ia mengepalkan tangannya mendengar pria lain memuji istrinya
"ayolah.. kau jangan bercanda, katakan perkembangan Rajawali group, kau sudah memberi jawaban atas pengajuan kerjasama mereka?"
"aku sudah menyetujuinya dan senin pagi kau bisa menandatangani kontrak mereka. aahh aku tak bercanda, kau memang sangat cantik sekali, sejak dulu sampai sekarang tak berubah. eh salah.. berubah semakin cantik.. tak sabar senin bertemu denganmu hahaha"
"suamiku akan menjewermu kalau mendengar kau memujiku seperti ini hiro hahaha. baiklah senin kau siapkan dokumennya..."
dia merasakan hawa dingin di belakangnya, ia segera melihat kebelakang dan mendongakkan kepalanya, suami tampannya berdiri disana dengan wajah sangat menyeramkan.
"ah kau sudah menikah? kapan? kenapa tidak memberitauku? aku menunggumu selama enam tahun, kau mematahkan hatiku ana huuu" terdengar suara ichiro diseberang sana
tata kembali melihat kebelakang, wajah marah suaminya masih disana. ada rasa takut menyusupi hatinya. rasa takut menyusupi hatinya.
"ahh hiro senin kau siapkan dokumennya, aku akan datang ke kantor menandatanganinya ya" jawab tata gugup.
"ahh kau kenapa? kau baik baik saja CEO cantikku?" goda hiro.
braice sudah memegang bahunya dari belakang, layar ponselnya muncul wajah braice yang meletakkan dagu dibahunya
"Tuan, kau tak merasa sungkan menggoda istriku didepan suaminya?" tanya braice dengan nada yang dingin dan berat penuh intimidasi.
"Tuan Braice... Anda suami ana? Ana kau menikah dengan tuan Braice?" tanya hiro dari seberang dengan gugup saking shocknya melihat wajah CEO nomor 1 di kota B sedang bicara dengannya dan kelihatan sangat marah
sementara ana sudah sangat pucat, ia gemetar dengan sosok suaminya yang sedang murka
"ah ya hiro, Tuan braice suamiku" jawabnya dengan tak kalah gugup daripada hiro
"Mulai sekarang segala urusan VL group .. kau bisa berhubungan denganku secara langsung. Kuharap kedepannya kau tidak menggoda istriku lagi, apakah kau mengerti?" tanya braice dengan nada dingin sarat ancaman
"Ba baik tuan.. kami teman lama. aku hanya bercanda tadi. aku tak akan mengulanginya lagi" jawab hiro, ntah kenapa ada rasa takut masuk ke relung hatinya. bagaimana sahabatnya menikah dengan orang sedingin braice.
"Baguslah kalau kau mengerti, sampai jumpa senin" braice memutuskan sambungan video. lalu berjalan masuk ke mansion meninggalkan istrinya.
Tata segera menyusul suaminya yang sangat marah. tapi ia kalah cepat. ide nakal segera terpikirkan
braice langsung berhenti dan berbalik lari kearah istri mungilnya. "Amour.. amour.. kau kenapa...mana yang sakit"
"ahhh perutku sakit sekali..." tata meringis memegangi perutnya, braice segera menggendongnya ala bridal dan mendudukkannya di sofa ruang keluarga.
"Ambilkan air minum hangat cepatt.. cepatt lah" teriak braice pada maid . ada rasa bersalah dalam hati tata pada maid
"amour katakan mana yang sakit.. kita ke rumah sakit sekarang ya" braice bersiap menggendong tata. tata mencegahnya
"tidak perlu.. kau bantu aku meluruskan kakiku saja. perutku kram" ucap tata pelan sambil memegangi perutnya .
braice mengelus perut istrinya dan mengecup beberapa kali. dengan penuh khawatir dan kasih sayang
"daddy mencintaimu nak. jaga mamimu baik baik. jangan buat mami kesakitan ya" pesan braice pada anaknya..
maid menyerahkan air hangat pada tata. mereka merasa tuannya yang sedingin kulkas itu benar romantis dan membuat hati meleleh.
setelah menghabiskan air hangat, tata mengucapkan terima kasih dan mengembalikan gelas pada maid
ia menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya, sambil menghirup aroma jantan suaminya itu hatinya terasa nyaman, tangannya mengelus rahang suaminya , terasa bulu halus disana membuat suaminya terkesan macho.
"bagaimana perasaanmu sekarang?" tanya braice khawatir
"kau marah pada kami, tentu saja bayimu kontraksi" ucap tata lirih sambil mengelus perutnya
"aku tak marah pada anakku, aku marah padamu" ucap braice dingin
melihat sikap dingin suaminya yang masih marah, hormon bumilnya membuatnya jadi sensitive, tata merasa hatinya berdenyut. tapi ia tak mau menangis di depan suaminya.
perlahan ia bangkit dan naik ke tangga menuju kamarnya. ia masuk kedalam selimut dan menutupi wajahnya dengan guling. lalu menumpahkan airmatanya disana.
beberapa saat kemudian, pintu kamar terbuka, braice melihat kamarnya gelap gulita. ia menghidupkan lampu kamarnya, netranya menangkap istrinya meringkuk dalam selimut. terlihat ada guncangan halus. ia menghampiri istrinya dan menariknya dalam pelukan
"kau pergilah.. aku ingin sendirian" tata berusaha melepaskan diri dari pelukan braice. braice menghela nafas berat.
"kau memakai pakaian begitu sek si dan berdandan cantik sekali, lalu membiarkan pria lain menggodamu, apakah kau memikirkan perasaanku?" tanya braice sambil memeluk istrinya
"maafkan aku, aku tak bermaksud begitu, sejak ada malaikat kecilku ini, semua pakaian kerjaku sudah tak muat lagi , aku hanya memakai baju yang masih muat. sedari kecil aku sudah dipesan suami dan mertuaku, tak pernah ada pria lain dihidupku termasuk hiro" jawab tata sambil terisak.
braice merasa bersalah, ia memiliki segalanya tapi tidak memperhatikan kebutuhan istrinya. bahkan sampai tak memiliki busana yang layak buat bekerja.
"aku minta maaf.. aku tak seharusnya marah padamu, maafkan aku" braice memeluk istrinya erat dan mengecup kening istrinya
"kau tak marah lagi padaku miel?" tata bertanya. braice tersenyum dan menggeleng. tata segera memeluk suaminya
"aku tak suka dengan temanmu hiro. senin aku akan mengantarmu ke VL, takkan kubiarkan orang menggoda istriku yang cantik ini huh" dengus braice
"kalau miel tak mau aku di goda di VL. kau bisa mengambil jabatanku, aku mengurus laporan dan menikmati hidupku bersama bayiku di dalam rumah" potong tata
"VL sudah berjalan baik dibawah pengelolaan sistem dariku yang di jalankan melalui hiro, tapi berkas penting membutuhkan tanda tangan CEO, jadi miel takkan kerepotan"
Senin aku akan melihatnya. VL termasuk perusahaan nomor dua di kota B setelah BC. aku takut tak memiliki waktu yang cukup untukmu dan anakku bila aku masih memegangnya.
"sekarang bersiaplah" braice berdiri
"mau kemana?" tanya tata
"beli baju.. kau mau memakai gaun terbuka saat meeting online atau kekantor menandatangani berkas?" tanya braice dingin, tata tertawa melihat wajah suami kulkasnya
"ayo kita berangkat" ajak tata yang sudah rapi. braice menatapnya penuh ga irah, tata segera mengingatkan suaminya
"ayo sudah siang, sebentar aku akan lapar lagi, aku mau makan steak, jangan sampai aku kelaparan nanti akan mual lagi" braice segera menggandeng istrinya turun menuju mobil