
Tata melihat braice masih membeku, ia segera memanfaatkan kesempatan itu untuk secepatnya masuk kemobil . Tiba dimobil dia segera menjalankan mobilnya menuju RS.
Braice yang baru sadar dari pikirannya segera berlari mengejar istrinya, ia malah melihat mobil tata sudah menghilang. ia kesal sekali.
Braice segera menuju mobilnya, ia mengemudikan mobil menuju ke RS untuk menyusul istrinya .
Sampai di RS, ia segera melemparkan kunci mobil pada petugas keamanan, ia berlari ke ruangan praktek istrinya, saat membuka pintu ruangan hanya ada vitta disana , braice menatapnya tajam
"Dokter braice.. dokter vio sedang visit pasien bersama suster ellen" lapor vitta sebelum ditanya.
"Siapa dokter yang menangani kandungan Dokter violetta?" tanya braice dengan tatapan mengintimidasi
"Ahh sahabat dokter vio, dokter frederick bagian obgyn, ruangannya paling ujung, dokter" jawab vitta takut takut. braice segera keluar dari ruangan menuju ruangan fredrick
Sampai ruangan fredrick, braice langsung membuka pintu ruangan, Fredrick terkejut melihat CEO RS tersebut tiba tiba masuk ke ruangannya.
"Pagi dokter rodriquez, ada yang bisa saya bantu?" tanyanya sopan
"Berikan laporan pemeriksaan kandungan istri saya, Dokter violetta luciana rodriquez" perintah braice tegas
Fredrick segera membuka data di laptopnya dan memberikan semua info terkait violetta, toh suaminya yang bertanya pikirnya.
Setelah mendapatkan informasi tentang Tata dan bayinya, dan sedikit pertanyaan seputar kehamilan tata, Braice segera keluar dari ruangan fredrick dan kembali ke ruangan tata , ia duduk di kursi kerja tata
Sehabis visit pasien, tata masuk ke ruangannya, ia terkejut melihat suaminya yang duduk dimejanya, segera berdiri.
.
"Ikut aku" perintah braice tegas pada istrinya dengan tatapan tajam
"kalian keluarlah dulu" pinta tata pada kedua asistennya mereka pun segera keluar
"Mulai besok kau sudah tidak bisa lagi bekerja , aku akan menjemputmu sepulang kerja, aku tak terima drama penolakan" Ucap braice dingin
"Siapa kau berani memerintahku?"
"Aku masih suamimu yang sah dimata hukum dan agama, kalau kau lupa!" tatapnya tajam
"Dengar baik baik tuan braice yang terhormat, sejak kau melakukan tindak kekerasan dan menghinaku malam itu, kita sudah tak ada hubungan apapun, kau juga tak perlu merasa harus bertanggung jawab atau merasa terbebani dengan anakku, mereka bukan anakmu, kuharap kau tidak mengganggu hidupku lagi, aku akan meminta pengacara mengurus perceraian kita, dan aku tak terima drama penolakan" tata membalas dengan tegas dan dingin juga
"sampai kapanpun aku tak akan menceraikanmu" balas braice
terus terang dia agak terkejut melihat istrinya melawannya, sebab sejak awal dia mengenal istrinya, semarah apapun istrinya, ia hanya diam memasang wajah dingin
setelah melawan braice, tata merasa perutnya seperti dikocok kocok, ia berlari ke kamar mandi dengan cepat
"hei amour jangan lari, hentikan" braice mengejarnya kekamar mandi
dikamar mandi tata mengeluarkan seluruh isi perutnya dan mengeluarkan keringat dingin di keningnya.
braice tak tega melihat penderitaan gadis mungil itu, ia segera memijat tengkuk tata dan mengelus punggungnya, ia menarik sedikit tisue untuk menyeka kening tata
"nak jangan menghukum mami karena bertengkar dengan daddymu" batinnya sambil mengelus perutnya
setelah tata agak tenang , braice memapahnya keluar toilet dan mendudukkannya di kursi. braice mengambil teh yang berada dimeja tata dan memberikan pada istrinya
tata menyesap sedikit teh hangat itu, perasaannya agak lega. braice segera meletakkan kembali teh ke meja kerja tata. ia sungguh tak tega melihat istrinya . ia segera berjongkok sampai wajahnya tepat di perut tata dan mengelus perut bulat istrinya.
aneh sekali.. tata merasa sangat nyaman sekali dengan sentuhan suaminya , ia memejamkan matanya
"hari ini istirahat ya, kau tak bisa bekerja dalam keadaan seperti ini, aku akan meminta dokter lain menggantikanmu ya, kasihan anak kita" lirih braice pelan sambil mengusap perut tata
"aku hanya mual kalau tertekan, kau kembalilah, aku baik baik saja bila kau tidak menunjukkan wajahmu dan tidak menggangguku lagi" pinta tata
"kau tak bisa menjauhkan anakku dariku, aku akan menjemputmu saat pulang nanti, dengan cara apapun" jawab braice
"aku minta maaf, kumohon jangan seperti ini, ayo kita pulang dan istirahat, kasihani anak anak kita kalau kau masih memaksa diri seperri ini
"pengacaraku akan segera mengurus semuanya, jadi kembalilah ke ruanganmu dan biarkan aku bekerja, aku yakin keluargaku akan sangat marah bila tau bagaimana kau memperlakukan aku. kalau kau masih menemuiku, aku akan melaporkan perbuatanmu pada mereka.
braice bangkit dan mengecup kening istrinya, sambil melangkah keluar ruangan , ia sadar istrinya sedang hamil dan sudah cukup dihukum bayinya. ia menurunkan egonya berusaha mengalah pada istrinya
"aku tak mungkin menceraikanmu kecuali kau membunuhku, aku akan menjemputmu saat pulang kerja nanti" ucapnya lembut dan keluar dari ruangan
***
Setiba diruangannya, braice mengacak rambutnya frustasi, kepalanya mau meledak, ia ingat ayahnya.. iya segera menghubungi ayahnya
"Pah.. bisakah papa ke RS sebentar? Braice ada masalah penting mau dibicarakan" pinta braice
"sesaat lagi papa tiba" carnel memutuskan sambungan telepon
Carnell memerintahkan asistennya secepatnya menyiapkan mobil, lalu ia mengambil tas kerjanya dan turun ke lobby perusahaannya. Carnell adalah orang yang berpengalaman, dari suara putranya ia tau putranya tidak baik baik saja. Dan putranya tidak akan menghubunginya kalau keadaan tidak memaksa.
Setiba di RS Rodz carnell segera naik ke ruangan putranya. saat membuka pintu ruangan ia melihat anaknya sangat frustasi sekali.
"Braice apa yang terjadi? ada masalah apa?" tanya carnell hati hati setelah duduk disofa
"Pah.. braice sudah gagal pah.. braice sudah bersalah" braice berlutut dikaki papanya sambil menangis, carnell menepuk bahu anaknya menenangkan putranya
"tenanglah ada papa , semua akan baik baik saja" carnell mengusap punggung anaknya yang masih berlutut. "katakan ada apa, papa akan membantumu, sekarang duduklah dulu
braice menceritakan semua kejadian mulai dari pil kb sampai tadi tata akan mengajukan cerai paksa tanpa ditambah maupun dikurangi
BRUGHH
BRUGHH
BRUGHH
Bogem mentah mendarat di perut braice, carnell memegangi dadanya , nafasnya terasa sesak sekali karena rasa marah yang luar biasa pada putranya
"kenapa kau memperlakukan anak sebaik tata sampai seperti itu hah?? kau akan menyesalinya braice, kau pasti menyesal" dadanya terasa sakit sekali
"pah... papah tenanglah.. papa jangan kenapa kenapa.. braice sudah hancur. maafkan braice pah.. papa harus menolong braice" braice berlutut didepan ayahnya sambil menangis
"Dia adalah ana.. kekasih kecilmu .. kenapa kau tega menyakitinya" carnell memijat pelipisnya
bola mata braice hampir keluar dari retinanya.
"Apaaaa?? papa bercanda??"
Carnell menggeleng .. ia mulai bercerita