
Sore harinya Dafa merangkul Ken untuk bermain ke taman. Ken yang udah engak marah lagi dia ikut kakak nya main di taman di temani oleh mama Caca dan ayah Dimas . Memang kebetulan Dimas sudah pulang karena tadi dia menjenguk Tania di rumah sakit
Dimas dan Caca mengikuti langkah mereka yang berjalan terlebih dahulu. Dafa merangkul pundak Ken . Begitu juga dengan Dara dan Vania megandengan tangan
" Kenapa lama lama Dafa mirip kamu ya dim , kok aku kesel ! "
" Kok kesel . Bagus lah ca . Artinya Dafa ganteng "
Caca mendengus kesel menatapnya
" Dafa emang ganteng . Sedangkan kamu ! Hih ! Gak enak di lihatnya. Buncit ! "
" Ntar kalo gue kurus , banyak yang suka lu nangis . Cengeng lu mah " ucap Dimas
" Tapi gapapa deh buncit begini . Aura kebapakan nya keliatan"
Tiba lah mereka di taman . Banyak yang bermain juga selain mereka . Karena taman ini tempat umum siapapun bisa bermain
" Deketin sini duduknya . Jauh jauhan seperti orang berantam aja " ucap Dimas menarik tangan Caca untuk mendekat
Dimas merangkul pundak istrinya yang sibuk dengan potret anak anak
" Kamu kebayang gak kalo nanti Dafa di umur 17 tahun . Dia lebih milih jalan sama pacarnya dari pada sama keluarganya sendiri . Terus tiba tiba pacar Dara datang kerumah minta izin keluar "
Caca menatap Dimas
" Aku gak mau ngomongin ginian . Aku sedih, aku belum siap " jawab caca
" Kamu pacaran dari umur berapa ? " Tanya Dimas
" Aku ? 9 tahun ! Pas masih SD "
Ck !
" Coba nih ya kamu bayangin. Dara pacaran di umur segitu "
" Aku gak mau Dimas ! Aku gak mau . Pokonya Dafa dan Dara gak boleh pacaran pas masih sekolah ! Kalo dia udah kuliah baru aku izinin pacaran " ucap Caca kali ini tegas
" Aku takut banget ca , kalo dara itu pacaran . Terus mendapatkan laki laki yang brengsek, yang udah enak malah di tinggalin "
" Dimas ! Jaga ucapan kamu . Istighfar gak " Caca melebarkan matanya sambil menunjuk dimas
" Astaghfirullahalazim "
Caca melingkarkan tangannya di pinggang Dimas
" Aku tendang kepalanya , aku tahu isi otak otak dia " kali ini Dimas emosi banget
Hal itu membuat Caca tertawa . Ternyata Dimas lebih takut anaknya di datengin pria
" Kalo aku , aku suruh Dafa buntutin kemana adik nya pergi "
" Udah lah sayang , jadi aku yang panik mikirin anak anak nanti kalo sudah besar . Tadi niatnya aku cuma mau tau gimana pendapat kamu . Tapi malah aku yang kesel sendiri "
Dara dan Vania berlari ke arah mereka. Duduk di pangkuan Dimas dan Caca melihat Ken dan Dafa yang tengah asik bermain bola bersama teman barunya
" Harusnya tadi kakak dan mas itu pake sepatu , karena main bola . Tolong adek ambilin sendal kakak sama mas " ucap Dimas
Mereka turun dari pangkuan berlari mengambil sendal sendal mas dan kakaknya . Keduanya kembali dan duduk di pangkuan mama dan ayahnya lagi
Saat menjelang sore hari langit sudah mulai gelap . Para lelaki yang bermain bola memutuskan menyudahi . Keduanya berkeringatan dan berjalan ke arah Caca dan Dimas
" Kakak yang tampan "
" Mas ganteng " ucap Vania
Ck
Caca dan Dimas cekikikan mendengar suara mereka yang menganggumi kakak kakaknya
" Buka aja bajunya . Basah nanti masuk angin . Sini mama bukain " ucap Caca kepada Ken dan Dafa
Keduanya malu saat membuka baju karena di lihat cewek cewek yang menganggumi mereka berdua
**
Sepulang dari taman . Keempat anak anak di mandikan . Dimas mandiin dua laki laki sedangkan Caca mandikan dua perempuan di kamarnya
" Bunda sama papa belum pulang . Maa" ucap Vania
" Dikit lagi bunda sama papa pulang . Kan kerumah sakit lihat maminya . Nanti Vania sama mas Ken tidur sama kak Dafa sama dara aja . Mau ? "
Keduanya mengagguk
" Yasudah sekarang kita sholat magrib dulu di bawah . Setelah itu makan malam . Dafa setelah makan malam belajar . Begitu juga dengan mas Ken , adek adek. Masuk kamar jangan ganggu kakak nya lagi belajar . Ok ! "
Mereka mengagguk setuju . Satu persatu mengambil Air wudhu dan turun ke lantai satu untuk sholat berjamaah di halaman belakang