Dragon and Phoenix

Dragon and Phoenix
Bab 9: Tahun Kedua



Saat air bah datang lagi, kembali Cio San melakukan hal yang sama. Ia berputar lagi, hanya satu putaran saja. Lalu memukulkan lagi tangannya. Air bah mundur lagi beberapa tombak. Suara ledakan terdengar lagi. Dinding batu pecah berantakan lagi. Lalu air bah meluncur lagi lebih deras dari sebelumnya. Cio San melakukan hal yang sama lagi. Begitu terus sampai beberapa kali.


Ia tertawa senang. Ia kini menemukan hal baru lagi. Jika seseorang di’keroyok’ dari depan dan belakang, maka ia bisa menghasilkan tenaga serangan yang jauh lebih besar. Contohnya ada pada air bah itu. Ketika air bah itu dipukul Cio San, air itu bergerak mundur. Tetapi karena menerima dorongan dari arus di belakangnya, maka air bah itu maju menjadi lebih cepat. Pemahaman ini hanya muncul sekelebat di dalam kepala Cio San, dan ia sangat senang menemukan lagi hal baru.


7 hari ini.


Sungguh hebat Cio San, setiap kejadian yang terjadi padanya, bisa membuatnya menangkap intisari makna kejadian itu, dan malah menggubahnya menjadi ilmu silat.


Manusia diberkati bakat oleh Tuhan agar mampu bertahan hidup, dan berguna bagi sesamanya. Tuhan memberkati manusia dengan bermacam kejadian dan peristiwa agar manusia bisa terus belajar memperbaiki hidupnya menjadi lebih baik dari hari ke hari.


Sudah hampir dua tahun Cio San hidup di dalam goa ini. Ilmu-ilmu yang ia ciptakan pun semakin banyak. Terkadang tanpa melalui sebuah peristiwa pun, Cio San bahkan bisa menciptakan jurus-jurus. Mendengar arus air saja, ia malah bisa menciptakan jurus. Melihat batu, ia bisa menciptakan jurus.


Ini tidaklah mengherankan. Orang jika sudah tak ada lagi yang bisa dilakukannya selain hanya satu hal saja, pastilah akan mencurahkan hatinya ke satu hal itu.


Hari ini Cio San sedang membuat pedang-pedangan dari ranting kayu yang ditemukannya. Ia ingin belajar memainkan pedang. Saat ini, ilmu yang sudah ia ciptakan hanyalah pukulan dan tendangan.


Saat sedang membuat pedang, ia mendengarkan suara aneh lagi. Kali ini bukan deras air bah. Bukan juga suara ikan-ikan di dalam sungai. Sesuatu bergerak di dalam sungai. Bentuknya sangat besar. Ia bergerak dari arah air terjun menuju kemari.


Apakah ada orang yang datang? Cio San lalu berlari menuju arah suara itu. Gerakannya lincah. Ia melompat-lompat bagai terbang. Hatinya senang sekali jika ia bisa bertemu manusia lagi.


Alangkah kagetnya ketika ia sampai pada sumber suara itu. Ternyata itu adalah sebuah ular yang sangat besar! Panjangnya mungkin sepuluh tombak. Kepalanya sebesar tubuh laki-laki dewasa.


Kagum sekali Cio San. “Ular ini seperti mengerti ilmu silat,” pikirnya. Ia malah senang sekali. Akhirnya menemukan juga lawan latih-tanding. Walaupun itu sebuah ular besar yang menakutkan.


Begitu ular itu berhasil menghindar, ia malah memutur tubuhnya kebelakang, dan kini menggunakan ekornya untuk menyerang. Melihat datangnya serangan ekor itu, Cio San berpikir untuk mencoba menangkisnya. Cio San menyerang tepat pada bagian tubuh yang mengeluarkan suara derik.


Getaran suara derik itu bertubrukan dengan tenaga tangkisan yang dilakukan Cio San. Ia malah terlempar ke belakang dengan tubuh tergetar.


“Sungguh hebat sekali,” gumamnya. Ia tidak terluka dalam karena ada tenaga sakti yang melindunginya. Melihat serangan ekor derik itu, Cio San sekali lagi mendapatkan ide baru.


“Serangan yang cepat ditambah getaran yang sangat kuat bisa menimbulkan serangan yang


dahsyat.”


Berdasarkan pemikiran yang timbul di kepalanya itu, Cio San langsung menciptakan pukulan baru. Ia menyalurkan tenaga dalam ke telapak kanannya. Segera ia bergerak mencari kepala ular itu. Cio San berada di udara dan langsung berhadap-hadapan dengan ular itu.


Saat di udara memang sangat sulit bergerak, karena tidak memiliki pijakan. Tapi entah bagaimana, Cio San bisa berputar bagai gasing. Ketika ular itu menyerang, gerak gasing itu seperti bergerak ke samping karena dorongan patukan kepala ular.


Begitu posisinya sudah berhasil berada disamping, Cio San melepaskan sebuah pukulan telapak. Namun pukulan ini tidak hanya berisi tenaga dalam semata. Cio San juga menggetarkan tangannya mengikuti derik ekor ular itu. Jadi di dalam serangan telapak itu, berisi juga serangan berupa getaran yang menyerupai derik ekor ular.


Cio San sengaja tidak mengincar mata ular itu, walaupun ia bisa. Ada perasaan kasihan terhadap ular yang indah itu. Ia memukul daerah di atas mata ular itu. Hasil pukulannya sungguh hebat. Kepala itu terpukul mundur dua tombak.


Melihat jurus pukulan ‘baru’nya ini berhasil, Cio San semakin bersemangat. Ular yang kena pukul itu kini semakin marah. Kepalanya mematuk-matuk dan ekornya menyerang secara bersamaan. Cio San yang melihat ini memperhatikan dengan seksama gerakan ular itu. Ia ingin mempelajari gerakan serangan ular itu. Sambil menghindar, Cio San memperhatikan terus serangan ekor dan kepala ular itu. Sungguh dahsyat. Air berdeburan dimana-mana. Suara derik ekor ular ditambah suara deburan air terjun semakin membuat suasana di dalam terowongan itu hingar-bingar.


Cio San bergerak lincah ditengah liukan tubuh ular. Kadang ia menangkis serangan dengan pukulan barunya itu. Sang ular terpukul mundur untuk kemudian menyerang lebih ganas lagi. Cio San masih menikmati pertempuran ini. Kali ini, seluruh pukulan dan tendangannya serasa penuh dengan tenaga dalam yang dahsyat, sehingga membuat sang ular kesakitan.


Walaupun memiliki kulit yang sangat keras, ular itu tetap tidak bisa meredam tenaga dahsyat Cio San. Bahkan bebatuan saja akan hancur terhantam pukulan itu. Hanya saja, lantaran rasa kasihan terhadap sang ular, Cio San tidak mengerahkan seluruh tenaganya.


Setelah lama memperhatikan gerak serangan ular itu, kini Cio San mencoba menirunya. Ujung telapak tangannya kini membentuk seperti moncong ular. Telapak tangan kirinya berada disamping perut menghadap ke depan, sedangkan jari-jarinya menghadap ke tanah. Telapak kiri itu, walaupun terlihat diam, namun menyimpan getaran yang sama dengan derik ekor ular. Bahkan telapak kiri itu juga berdengung layaknya derik ular, karena bergetar sedemikian hebatnya.


Kini telapak tangannya bergerak-gerak menyerang dan mematuk bagai kepala ular. Dengan berani, ia menggunakan telapak tangan kanan itu menyongsong serangan kepala ular yang ganas. Begitu kepala ular itu dekat dengan tangan kanannya, secara tiba-tiba Cio San berputar sehingga kini posisinya dibawah kepala ular.


Ternyata tangan kanannya itu hanya tipuan. Begitu ular bergerak mundur menarik kepalanya, dengan secepat kilat tangan kiri Cio San mengirimkan pukulan bergetar. Daya dorongnya, ditambah lagi dengan posisi ular yang menarik mundur kepalanya, membuat hasil dari gerakan itu berlipat-lipat.


Kepala ular yang besar itu terlempar ke belakang sampai menabrak dinding goa. Bersamaan dengan itu, Cio San sudah melancarkan tendangan dahsyatnya. Kepala ular itu mengalami goncangan yang sangat berat karena empat hal. Pertama, pukulan getaran tangan kiri Cio San. Kedua, tabrakan dangan dinding goa. Ketiga, tendangan keras Cio San. Dan keempat, tabrakan lagi dengan dinding goa.


Semua itu membuat dinding goa hancur berantakan.


Herannya, ular itu seperti tidak merasakan apa-apa. Serangannya tetap ganas, walaupun sudah tidak secepat awal-awal. Mungkin ular itu sudah mulai takut dengan lawan di depannya.


Di dalam goa yang gelap itu, mungkin mata orang biasa hanya bisa melihat cahaya mata ular yang berwarna kuning. Memang ada sedikit cahaya dari api unggun yang dibuat Cio San, tapi tak akan mungkin bisa melihat gerakan-gerakan yang dihasilkan kedua makhluk yang berbeda ini. Bahkan andaikan di tengah lapangan yang disinari cahaya matahari siang bolong pun, tidak banyak orang yang bisa melihat gerakan-gerakan itu. Sungguh aneh, ketika kedua makhluk itu saling menyerang. Terlihat seperti mereka adalah ahli-ahli silat paling unggulan.


Padahal mereka hanyalah seorang anak muda belasan tahun, dan seekor ular raksasa.


Jika gerakan ular semakin perlahan dan terkesan hati-hati, sebaliknya, gerakan Cio San sangat cepat dan percaya diri. Dia telah memahami segala bentuk serangan ular itu, sehingga dapat dengan mudah membaca arahnya.


Selama ini memang serangan sang ular hanyalah berupa ‘tipuan’ yang dilakukan kepala, disusul‘serangan utama’oleh ekor. Kadang-kadang sang ular menukar-nukarnya saja, yaitu kepala menjadi ‘serangan utama’ dan ekor menjadi ‘tipuan’. Tetapi hanya dengan beberapa kali menghindar, Cio San sudah bisa membaca ‘maksud’ ular


Lama kelamaan Cio San bingung juga. Memang dia sudah bisa menguasai keadaan. Memberikan serangan-serangan dahsyat. Tapi semua itu tidak bisa melemahkan sang ular. Padahal dinding goa berupa batu karang dan batu-batuan perut bumi yang sangat keras, telah hancur di sana-sini.


Cio San tidak tega untuk memukul mata ular itu dan membutakannya. Dia telah memutuskan untuk membiarkan ular itu hidup-hidup. Entah kenapa, ada perasaan ‘kasihan’ yang timbul di hatinya melihat ular itu.


Melihat Cio San yang diam saja tidak melakukan gerakan apapun, ular itu pun diam saja. Namun kepalanya tetap dalam posisi menyerang. Lidahnya kadang terjulur keluar dari mulutnya. Cio San tahu ular ini bukan ular berbisa, karena sejak dulu ia telah diajarkan bagaimana cara membedakan ular yang beracun dengan yang tidak.


Tapi ia menjadi sedikit ragu, karena ia belum pernah membaca tentang ular jenis ini. Segala ciri-ciri ular ini menunjukkan bahwa ia tidak berbisa. Tetapi ekornya yang berderik membuatnya menjadi berbeda, karena tidak ada ular berderik yang tidak berbisa. Bahkan bisanya pun ganas sekali.


Cio San berpikir keras, mencoba mencari jalan untuk menaklukan ular itu. Akhirnya dia memutuskan untuk ‘bertaruh’ saja. “Jika nanti aku mati karena ular ini, ya sudahlah. Bisanya pasti akan mematikanku dalam beberapa detik.”


Dia sesungguhnya tidak tahu bahwa tubuhnya kini kebal segala jenis racun, karena khasiat jamur Sin Hong.


Ular itu mulai bergerak sedikit demi sedikit. Ekornya pun mulai berderik, mengeluarkan suara bising yang menakutkan. Cio San membuka kuda-kudanya. Gaya kuda-kuda Thay Kek Kun adalah menggunakan kuda-kuda agak rendah, tubuh tegak, tangan kanan mengambang kedepan, dan telapak tangan menghadap ke wajah sendiri.


Sedangkan tangan kiri mengambang agak tinggi ke belakang. Telapak tangan agak dibengkokkan ke bawah. Gaya ini melambangkan Yin dan Yang.


Tapi dengan kecerdasan Cio San, dengan cepat gaya bhesi (kuda-kuda) Thay Kek Kun itu digabungnya dengan jurus ularnya yang baru itu. Tangan kanan kini membentuk kepala ular. Sedangkan tangan kiri yang mengambang tinggi di belakang, kini mulai bergetar dan menimbulkan suara seperti derik ekor ular. Suara itu sebenarnya ditimbulkan dari getaran jari bertemu dengan jari. Namun karena dilakukan dengan cepat, gerakan itu hampir tidak terlihat.


Sang ular tidak paham apa yang dilakukan Cio San. Nalurinya berkata bahwa ia harus ‘menerkam’ Cio San. Kepalanya bersiap-siap. Cio San pun menunggu. Ia tahu dengan pasti kapan ular itu akan mematuk. Karena sebelum mematuk, ular itu akan mengambil ancang-ancang dulu ke belakang.


Sebenarnya ancang-ancang itu cepat sekali dan tidak terlihat. Namun mata dan telinga Cio San yang sudah terlatih mampu memperhatikannya.


Ular itu lalu ‘menerkam’. Cio San sudah melihat gerakan ancang-ancangnya itu. Tapi Cio San tidak bergerak. Ia malah menunggu kepala itu.


Kepala itu cepat sekali menyambar. Tak terlihat mata. Lalu ketika sudah dekat dengan tubuh Cio San, ular itu membuka mulutnya. Memperlihatkan taringnya yang panjang. Tapi Cio San tidak bergerak. Hanya kurang beberapa jengkal dari kepala ular itu, baru tubuh Cio San melesat kencang. Tidak ke samping, tidak ke belakang. Tapi langsung menuju mulut ular itu dan masuk di dalamnya.


Dengan kelincahannya, Cio San berhasil mengelak dari gigi-gigi ular itu. Ia masuk ke daerah di belakang gigi itu.


Semua itu dituliskan dengan begini runut, namun pada kenyataannya, gerakan-gerakan tadi jauh lebih cepat dari saat kita mengedipkan mata.


Ular yang kaget dan merasa Cio San menginjak bagian dalam mulutnya, dengan serta-merta mengatupkan rahangnya erat-erat untuk ******* tubuh Cio San. Tetapi itu adalah sebuah kesalahan besar yang sudah ditunggu-tunggu oleh Cio San.


Begitu ular mengatupkan rahangnya, Cio San menggunakan kedua telapak tangannya untuk menyerang dua bagian berbeda dari ular itu. Yaitu langit-langit mulut dan lidahnya. Hasilnya dahsyat sekali, karena ketika ular itu mengatupkan rahangnya, ia juga menggunakan tenaga yang besar.


Pertemuan tenaga telapak Cio San, serta kuatnya tenaga katupan rahang sang ular mengeluarkan suara yang keras sekali.


Bruuuaaaaaaaaakkkkkkkkkk......!!!!!!!!!!!!


Tulang rahang ular itu patah.


Cio San pun keluar dari dalamnya.


Tenaga hasil serangan tadi berkali-kali lipat. Selain rahangnya patah, tenaga besar yang dihasilkan itu menggetarkan pula isi dalam tengkoraknya. Ular itu langsung lunglai dan pingsan. Bagian dalam mulutnya hancur pula. Darah pun ada dimana-mana. Bahkan Cio San pun bermandikan darah sang ular. Ada perasaan bersalah di hati Cio San melihat nasib ular itu. Awalnya, dia senang bahwa serangan yang sudah direncanakannya itu berhasil. Tetapi saat melihat keadaan ular itu, ia malah menangis.


Maafkan aku, Sin Coa (Ular Sakti)....,maafkan aku....”


Cio San buru-buru memeriksa keadaan ular itu. Tulang rahangnya patah dan malahan ada yang hancur. Bagian dalam mulutnya pun berlinangan darah. Bagaimana cara menghentikan pendarahan ini? Cio San mengerti tentang pengobatan manusia seperti yang telah ia baca di dalam buku pemberian A Liang, tetapi ia sama sekali belum pernah menyembuhkan orang, kecuali menyembuhkan racun A Liang. Itu pun tidak berhasil karena beberapa saat setelah itu, A Liang meninggal.


Apalagi kini yang mengalami luka berat adalah seekor ular raksasa, yang bentuk tubuh, aliran darah, serta titik-titik pusat tenaganya berbeda dengan manusia. Di dalam kebingungannya, Cio San teringat dengan jamur yang setiap hari ia santap. Cio San ingat bahwa setiap menyantap jamur itu, tubuhnya langsung segar, bahkan luka-luka luar seperti teriris atau lecet pun sembuh dengan cepat. Segera dikumpulkannya jamur-jamur itu dari dinding goa. Di sepanjang terowongan goa, jamur itu tumbuh dengan lebat.


Setelah jamur-jamur itu terkumpul banyak sekali, dijejalkannya gumpalan kumpulan jamur itu kedalam bagian mulut ular yang terluka. Cio San pun membubuhkan jamur-jamur itu di tulang rahang ular yang patah.


Tak berapa lama darah pun berhenti mengalir, dan daerah yang patah itu sudah mulai menghangat, tanda bahwa tubuh ular itu sendiri pun membantu penyembuhannya dari dalam. Dengan berani, Cio San tetap berada di dalam mulut ular yang lunglai dan ‘pingsan’ itu. Ia menyalurkan tenaga dalamnya kepada ular itu melalui mulutnya.


Karena Cio San tahu, percuma menyalurkannya melalui tubuh, karena kulit ular itu tebal sekali, dan sepertinya mampu meredam tenaga dalam.


Cukup lama Cio San mengalirkan tenaganya. Berangsur-angsur ular itu pulih. Memang tubuh ular berbeda dengan tubuh manusia. Apalagi ini tergolong ular sakti yang langka, sehingga serangan dahsyat tadi tidak sampai membuatnya mati.


Perlahan-lahan kesadaran ular itu pulih. Dia merasakan sakit sekali pada mulut dan rahangnya. Kekuatannya


seperti terserap habis, tubuhnya lunglai. Tetapi dia juga merasakan kehangatan yang nyaman di dalam mulutnya. Lama kelamaan rasa nyaman itu berhasil mendorong pergi rasa sakitnya.


Cio San tahu bahwa ular itu sudah mulai pulih. Ia lalu memberhentikan penyaluran tenaganya, dan keluar dari mulut ular. Lalu mengelus-elus kepala ular. Sang ular sepertinya paham bahwa musuhnya baru saja menolongnya. Ia pun diam saja dan tidak berusaha melakukan apa-apa.


Cio San pun mengelus-elus ular itu dengan lembut.