
Selesai membeli obat, Cio San pun keluar. Pandangan matanya tak sengaja melihat dua orang yang berdiri mengobrol tak jauh dari pintu toko obat. “Hmmm, aku melihat dua orang ini di dermaga, dan juga kemudian di warung tadi. Mereka masuk ke warung tak berapa lama setelah aku.”
Ada perasaan curiga di hati Cio San. Pengalamannya selama ini, sejak dari kecil ia sekeluarga dikejar-kejar orang, lalu kemudian kejadian di Bu Tong-san, membuat Cio San semakin waspada
“Apakah kedua orang ini membuntuti aku?” tanyanya dalam hati. Cio San memutuskan untuk menguji saja.
Ia berjalan dengan santai. Dari perasaannya yang tajam, ia tahu, kedua orang itupun berjalan di belakangnya. Cio San mempercepat langkahnya, sambil pura-pura melihat keramaian. Kedua orang di belakangnya pun berjalan cepat. Ia belok masuk ke sebuah gang. Lalu sebelum kedua orang itu ikut membelok, ia secepat kilat menggunakan ilmu ringan tubuhnya.
“Apakah Tuan-tuan mencari cayhe (saya)?” tanya Cio San sambil tersenyum.
Mereka kaget, tapi bisa menjaga gengsi. “Benar, kami mencarimu. Kami adalah anggota Hai Liong Pang. Kami curiga kau mencuri sesuatu di dermaga. Harap ikut kami ke markas pusat untuk di geledah.”
“Baiklah,” kata Cio San sambil tersenyum.
Kedua orang itu pun tersenyum, mungkin dalam pikiran mereka, gampang sekali menaklukkan orang ini. Tanpa harus melakukan perlawanan. Tapi sebelum senyum mereka menghilang, tahu-tahu tubuh mereka telah tertotok.
“Cepat kalian mengaku! Apa maksud kalian sebenarnya? Sudah jelas kalian bukan orang Hai Liong Pang,” tegas Cio San.
“Kami benar-benar orang Hai Liong Pang. Lihat sabuk tanda anggota kami. Apa kau berani macam-macam dengan kami? Ketahuilah, perkumpulan kami menguasai seluruh kota ini. Kau tak akan sanggup macam-macam jika berurusan dengan kami!” kata salah seorang.
“Jika aku memang dituduh mencuri, kenapa kalian repot-repot menguntitku? Kalian bisa saja menangkapku saat aku sedang di warung, bukan?” tukas Cio San.
“Eh..eh.. Kami harus memastikan dulu.. Apa benar kau orang yang kami cari,” jawab salah seorang.
Cio San tersenyum, itu jelas jawaban mengada-ada. Ia bertanya lagi, “Kalian berdua ‘kan anggota perkumpulan terbesar disini, mengapa jalan saja tidak hafal? Kalian bahkan tidak tahu kalau gang ini buntu bukan?”
Kami..kami..”
Belum selesai omongan, mata mereka melotot dan tubuh mereka mengejang. Cio San kaget dan paham, bahwa seseorang telah menyerang kedua orang itu. Dengan sigap ia melompat ke arah datangnya suara. Mungkin dari atas atap di belakang kedua orang itu. Namun begitu sampai diatas atap, tidak ada siapa-siapa disitu.
“Seseorang membunuh mereka. Ia tidak mungkin berada di atas atap ini, karena aku pasti tahu. Kemungkinan besar, ia berada di seberang jalan, di atap rumah lain yang dekat dengan pasar. Ilmu melempar Am Gi (senjata rahasia) nya hebat sekali. Dari jarak sejauh itu, ia bisa melempar dengan tepat,” pikir Cio San.
Ia memeriksa tubuh kedua orang itu. Tapi ia bergidik ngeri. Ternyata mayat kedua orang itu sudah hangus menghitam. Cio San menyesal sekali tidak dapat menyelamatkan mereka.
“Aku seharusnya lebih waspada. Aku sudah dengar suara lemparan Am Gi itu, tapi tidak bereaksi cepat. Kupikir hanya sekedar suara yang berasal dari pasar. Cio San, kau harus lebih waspada dan pintar!” ia berkata pada dirinya.
“Kedua orang ini pastilah orang suruhan. Mereka dibunuh untuk menutupi jejak. Mereka pasti bukan anggota Hai Liong Pang dan hanya menyamar. Tapi bagaimana mereka bisa mengikuti jejakku? Setiap aku bergerak cepat dan menghilang, mereka pasti bisa menemukan jejakku. Apakah ada dari bagian tubuhku yang meninggalkan jejak?
Apakah bau badanku? Ataukah jejak kaki? Bau badan jelas tidak mungkin, karena di daerah seramai ini, amat sulit membedakan bau badan. Jejak kaki pun sulit, karena daerah ini pun ramai dengan jejak kaki orang….”
Ia berpikir keras. Lalu ia mencopot sepatu dan memperhatikan bagian bawah telapak sepatunya. Ternyata di situ ada dua buah kayu kecil yang timbul. Jika dipakai, kedua kayu kecil itu menandakan bekas kecil di tanah. Kecil saja, namun jelas bagi siapa yang mau memperhatikan.
“Kakek petani itu…. Dia yang memberikan sepatu kepadaku…. Dia.. Dia..” Cio San sangat kaget.
Dunia memang sungguh asing baginya.
Kejadian ini memang sungguh aneh baginya, tapi juga masuk akal. Pertama-tama, kakek petani itu pasti memberikan sepatu yang memiliki penanda jejak di kakinya. Sesudah itu, ia bisa saja mengirimkan pesan kepada orang-orangnya di dermaga. Mungkin dengan menggunakan burung merpati. Karena itu satu-satunya cara menyampaikan pesan dengan cepat dan tepat, tanpa dicurigai.
Lalu setelah menerima pesan, kedua anggota itu lalu menguntitnya. Ciri-ciriya sudah ketahuan. Tinggal mengikuti tanda jejak sepatunya saja. Tapi buat apa membuntutinya? Ia tidak memiliki harta apa-apa. Tidak memiliki pusaka apa-apa yang bisa diperebutkan. Satu-satunya kemungkinan yang paling masuk akal adalah……… kakek petani itu tahu siapa Cio San!
Tetapi darimana kakek itu tahu??? Tidak ada ciri-ciri mencurigakan pada diri Cio San. Bagaimana mungkin kakek ini tahu, bahwa dialah buronoan Bu Tong-pay yang juga menjadi incaran kaum Kang Ouw. Lalu jika kakek itu tahu, kenapa sejak awal tidak menangkapnya? Malah menyuruh orang menguntitnya.
Otak Cio San berpikir keras sekali. Tak terasa ia bergidik juga. Dunia Kang Ouw penuh intrik, misteri, dan rahasia-rahasia yang tak dimengertinya. Ia memutuskan untuk beristirahat sejenak di sebuah penginapan di dekat situ.
“Malam ini, aku mungkin tidak dapat tidur, dan harus menguras pikiranku. Mulai saat ini, hidupku mungkin akan selalu ‘ramai’. Tak ada waktu sedikitpun untuk hidup bebas lepas. Rahasia-rahasia ini harus terpecahkan. Hidupku, mulai saat ini tak akan pernah tenang. Akan ada pembunuhan rahasia, akan ada penguntitan, akan ada banyak hal. Waspada dan waspada! Hanya itu yang bisa kulakukan.”
Ia kini di pembaringan. Memutar otak dengan keras terhadap apa yang baru saja terjadi.