
Saat sore, pemandangan di Istana Ular juga tidak kalah indahnya. Cio San berada di taman belakang. Ia sedang menikmati arak dan pemandangan di sekitarnya. Ada kolam kecil yang indah. Di dalamnya terdapat berbagai macam ikan hias. Melihat mereka berenang dan bermain, sudah merupakan hiburan tersendiri bagi Cio San.
Di sekeliling kolam terdapat jalan setapak dengan batuan warna-warni yang indah. Di sekeliling jalan setapak itu pun diliputi rumput hias yang terpotong rapi. Di pojok taman, terdapat pavilliun kecil. Di sini terdapat meja kecil dan
sebuah khim (kecapi) yang besar. Cio San pernah memainkan kecapi yang besar saat di rumah Khu-hujin dulu. Kini ia duduk memainkannya.
Entah karena memang bakat musik yang menurun dari ayahnya, Cio San memainkan khim dengan sangat indah. Ang Lin Hua yang saat itu sedang berada di kamarnya, sayup-sayup mendengar suara khim dan nyanyian Cio San. Sebuah lagu yang indah namun menyedihkan.
Lagu yang menyedihkan memang seringkali terasa jauh lebih menyenangkan, daripada lagu yang menceritakan tentang kebahagiaan.
Orang yang sedang bahagia pun, kadang ikut sedih ketika mendengar lagu sedih. Sedangkan orang yang sedang bersedih, jarang ada yang ikut berbahagia saat mendengar lagu tentang kebahagiaan.
Apakah itu berarti, orang yang sedih hatinya jauh lebih banyak daripada orang yang berbahagia?
Entahlah.
Tapi seberapa banyak orang yang bahagia yang pernah kau temui? Kebanyakan orang, pasti merasa hidupnya menyedihkan dan membosankan. Walaupun ia orang paling kaya sekalipun. Karena, jika kau menganggap kebahagiaan terdapat pada harta yang banyak, maka hidupmu hanya akan habis mengejar harta. Lalu kapan kau akan menikmati hartamu?
Uang memang penting. Tapi uang bukanlah kebahagiaan.
Kebahagiaan adalah ketika engkau mampu menerima dirimu apa adanya. Menjadi dirimu sendiri. Hidup dengan caramu sendiri.
Bagaimana mungkin kau hidup dengan caramu sendiri, jika kau terus diperbudak keinginan?
Dentingan dawai khim merasuk ke jiwa. Orang yang jiwanya mabuk bukan karena minuman atau makanan, tentulah mabuknya adalah mabuk yang paling indah. Mabuk seperti ini selalu lebih menyenangkan.
Ang Lin Hua begitu mendengar musik seindah itu, justru tidak berani keluar kamarnya. Memang kata orang, sesuatu yang indah itu harus dinikmati sedikit demi sedikit. Ia lebih memilih menikmati suara yang sayup-sayup itu.
Desir angin sore hari, dentingan dawai, dan nyanyian yang merdu. Jika kau tidak bisa menikmati ketiga hal ini, mungkin sudah tidak ada hal lagi di dunia ini yang bisa membuatmu bahagia.
Daun-daun jatuh dari pucuk-pucuk dahan. Mungkin karena musim gugur telah tiba. Mungkin juga karena pepohonan pun ikut bersedih mendengarkan lagu seindah dan sesedih ini. Karena memang, perpisahan dua orang kekasih, jauh lebih menyedihkan daripada kisah tentang kematian.
Daun sekering ini, masa bisa sekering hati manusia yang kesepian?
Kolam seluas ini, masa bisa menampung air mata kekasih yang terluka?
Bebatuan sekeras ini, walaupun tuli, mungkin akan ikut menangis juga mendengar kisah-kisah sedih tentang kehidupan manusia.
Maka siapakah hatinya yang tak akan tersentuh mendengar nyanyian sesedih ini?
Tak terasa air mata Ang Lin Hua pun ikut menetes.
Jika pendengar saja menangis, bukankah yang bercerita akan jauh lebih banyak air matanya?
Cio San tahu air mata sedang menetes deras di pipinya. Tapi ia menikmatinya. Ia menikmati setiap tetesan air matanya. Baginya, setiap tetes air matanya ini, adalah tegur sapa dari kekasih yang dirindukannya.
Bagaimana kabarmu, Mey Lan?
Apakah engkau di sana merindukanku juga?
Apakah engkau di sana selalu setia menanti kepulanganku?
Apakah engkau akan selalu menatap pintu depan rumahmu, seperti aku juga menatap garis kaki langit?
Perpisahan ini baru sekejap. Tapi yang sekejap itu justru yang paling menyakitkan.
Lelaki sekuat apapun, jika berpisah dengan kekasih, pasti akan lemah juga hatinya.
Karena tegar bukan berarti tanpa air mata. Tegar berarti menghadapi apapun, walaupun kau harus tersakiti, terluka, dan bersedih karenanya.
Ang Lin Hua kini mengerti mengapa ia tidak ingin keluar dari kamarnya. Ia tahu Cio San sedang bersedih. Oleh karena itu, ia tak ingin jika kehadirannya akan mengganggu Cio San.
Karena kadang-kadang, menangis itu justru jauh lebih membahagiakan daripada tertawa.
Tak terasa lagu sudah berhenti.
Tak terasa yang tertinggal hanyalah kesunyian belaka.
Sinar merah matahari sore. Daun-daun berguguran. Angin berhembus. Desahan ranting-ranting pohon berbisik merdu.
Apa yang lebih indah daripada itu semua?
Tapi herannya, orang-orang yang mengaku bahagia, justru tidak bisa menemukan keindahannya. Justru orang-orang yang bersedih hatilah yang bisa menikmati keindahannya.
Ang Lin Hua menyalakan lilin dan obor penerang. Di dalam istana memang sudah mulai gelap. Ia lalu beranjak ke taman belakang. Pavilliun tempat Cio San berada ternyata sudah terang. Cio San duduk di sana.
Saat melihat Ang Lin Hua datang membawa obor, Cio San tersenyum. Tapi Ang Lin Hua bisa melihat bekas-bekas kesenduan di sana. Ia membalas senyum Cio San dan mengangguk pelan. Lalu ia menerangi beberapa obor yang ada di sekeliling taman pula.
Sekejap suasana taman belakang menjadi sangat indah.
“Mari duduk di sini, Siocia,” kata Cio San.
“Tunggu, hamba ambilkan arak, Kauwcu,” tukas Ang Lin Hua.
Tak berapa lama, ia kembali dengan sebuah guci arak dan dua buah cangkir.
Ia duduk di hadapan Cio San, lalu menuangkan arak ke dalam cangkir dengan lembut. Bau harumnya menebar kehangatan di pavilliun itu. Cio San langsung tahu arak apa itu.
“Arak Lin Sam? Istimewa!”
“Siocia (Nona), memang pintar memilih arak,” katanya.
Arak itu ada seninya. Bukan hanya perkara kuat meminumnya. Kau harus tahu jenis-jenisnya, ciri-cirinya, khasiatnya, bahan penyimpanan yang tepat, juga takaran dan cara meminumnya. Serta yang tak kalah pentingnya, kau pun harus dapat memilah dan memilih untuk saat yang tepat. Selalu ada arak yang berbeda untuk dinikmati di saat yang berbeda pula.
Seni seperti ini, kalau bukan seorang peminum arak, tentu tak akan paham.
Teguk demi teguk telah tertenggak. Yang ada hanya kehangatan. Mereka walau duduk saling berhadapan, tidak mengucapkan sepatah kata pun. Seperti tenggelam dalam pikiran masing-masing.
“Kita kedatangan tamu,” kata Cio San memecah kesunyian.
Dalam sekejap mata, ia sudah menghilang dari hadapan Ang Lin Hua. Si nona akhirnya menyusul juga.
Begitu sampai di pintu depan, terdengar suara dari gerbang,
“Salam kepada Kauwcu, semoga panjang umur.”
Ang Lin Hua menarik sebuah tuas yang berada di dekat pintu depan tempat ia berdiri.
Blunggg..
Terdengar suara gerbang depan terbuka. Pintu gerbang itu terbuat dari besi besar yang tinggiya beberapa kaki. Gerbang yang sangat kokoh, karena memang tempat itu dulunya adalah benteng pertahanan.
Puluhan orang lalu masuk. Pakaian dan dandanan mereka pun aneh-aneh. Sekali pandang saja, Cio San tahu jika mereka adalah anggota Ma Kauw.
Begitu tiba di hadapan Cio San, segera orang-orang itu berlutut dan kembali mengucap kalimat yang sama.
“Salam hormat kepada Kauwcu, semoga panjang umur. Juga salam kepada Seng Koh (Perawan Suci).”
“Berdirilah,” jawab Cio San. Dalam hati, dia kagum juga dengan nama panggilan Ang Lin Hua. Perawan suci! Dia ingin tersenyum.
Tapi Cio San sadar, bahwa saat ini bukan waktunya untuk Cio San yang senyumnya jenaka dan berkelakuan seenaknya.
Cio San saat ini adalah seorang Ma Kauw-kauwcu.
“Apa yang membawa Saudara-saudara sekalian ke sini?” tanyanya.
“Kami mendengar bahwa Kauwcu yang lama telah meninggal, dan Tuan telah diangkat sebagai Kauwcu yang baru,” jawab salah seorang.
“Itu benar. Aku akan bercerita. Mohon Saudara-saudara sekalian mendengarkan.”
Cio San pun bercerita. Sebuah cerita yang sama dengan yang ia ceritakan kepada Ang Lin Hua.
Puluhan orang yang mendengarkan itu tertunduk. Mereka semua meneteskan air mata. Salah satu dari mereka bertanya, “Bolehkah kami melihat kuburan Kauwcu yang lama?”
“Saat ini aku belum mencari jasad beliau dan jasad saudara-saudara yang lain. Dalam beberapa hari ini, mudah-mudahan aku bisa menemukannya.”
“Apakah ada kemungkinan jasad-jasad itu masih disimpan para pengkhianat dari rumah bordil?” tanya salah seorang.
“Mungkin saja. Tapi beri aku waktu. Aku akan menemukannya.”
“Biar saya saja, Kauwcu,” salah seorang maju dan mengajukan diri.
Orangnya sudah cukup tua dan rambutnya sudah hampir putih seluruhnya. Cio San seperti pernah bertemu dengannya. Samar-samar ia mengingat-ingat.
“Nama hamba Hing Liok Tay, hamba adalah ketua cabang daerah Sichuan. Nona Hua telah mengenal hamba.”
Cio San menoleh ke Ang Lin Hua.
“Ah, jika Hing-susiok (Paman Hing) yang menanganinya, kiranya kita semua boleh berlega hati,” sahut Ang Lin Hua.
“Saat ini, jika diperintahkan, hamba langsung berangkat sekarang juga,” kata Hing Liok Tay.
“Susiok boleh berangkat besok pagi. Sekarang ini marilah semua Saudara masuk dan menikmati arak,” kata Cio San.
Terdengar suara mereka semua bersorak.
Karena tidak ada pelayan, orang-orang ini yang melayani diri mereka sendiri. Untunglah dari rombongan ini terdapat beberapa orang wanita. Para wanita ini menyiapkan makanan, minuman, dan tentu saja arak yang keras.
Jika ramai-ramai, arak yang paling keras itu yang paling cocok!
Cio San berkisah tentang banyak hal. Ia mengakrabkan diri dengan ‘anak buah’ barunya itu. Ang Lin Hua sudah menunjukkan surat pengangkatan Cio San, oleh sebab itu orang-orang ini menjadi lebih yakin lagi.
Walaupun suasana sedang dirundung duka karena kehilangan Kauwcu yang lama, tak ayal mereka kagum juga dengan Cio San. Ang Lin Hua yang menceritakan semuanya. Bagaimana Cio San mengalahkan ilmu Menghisap Matahari dan mencoba menyembuhkannya.
Hal yang paling dihormati dalam dunia Kang Ouw memanglah ilmu silat dan ilmu ketabiban. Cio San memiliki kedua-duanya dalam tingkatannya yang sangat tinggi.
Setelah makan malam dan acara minum arak selesai, Cio San berkata,
“DENGARKALAH TITAH KAUWCU!”
“Karena banyaknya kejadian yang menghebohkan di dalam dunia Kang Ouw, sehingga kita tidak bisa membedakan mana kawan, lawan, dan pengkhianat, maka aku memerintahkan kalian untuk segera kembali ke posisi masing-masing esok hari. Hanya beberapa orang yang kuminta tinggal di sini untuk mengurus segala keperluan di Istana Ular.”
Cio San ketika tadi mengobrol dengan orang-orang ini, telah mencoba menyelami sifat mereka satu persatu. Dengan pengetahuan yang dibacanya dari kitab pemberian Khu-hujin, ia sedikit-banyak sudah bisa menyelami sifat manusia dan apa-apa yang mereka sembunyikan dalam hati.
Ia lalu menyebutkan nama-nama.
“Hing Liok Tay, Sie Peng, Hok Jin, Goan Say Tan, Yan Tian Bu, Lim Tin, dan Cua Cin Sin harap tinggal. Saudara-saudara yang lain, silahkan pulang besok. Saya akan memberikan tugas khusus kepada Saudara-saudara yang pulang besok.”
“Kami dengar dan kami laksanakan!” teriak seluruh anggota yang ada.
“Silahkan semua beristirahat. Bagi yang ingin bercengkerama dulu, silahkan saja. Bagi yang ingin tidur, silahkan pilih kamarnya masing-masing. Perintah selesai. Silahkan bubar,” kata Cio San. Terdengar gagah dan berwibawa. Seperti ia telah menjadi Kauwcu selama bertahun-tahun.
Ia sendiri tidak segera pergi tidur, melainkan kembali duduk di pavilliun taman belakang. Ia duduk sambil memperhatikan anggota-anggota yang lain. Ada yang meneruskan makan. Ada yang berbincang-bincang dengan sahabat yang sudah lama tidak bertemu. Ada yang diam saja. Ada juga yang sedang mempertontonkan silat.
Mungkin sedang memperlihatkan jurus baru kepada sahabat-sahabatnya.
“Hing Liok Tay-susiok, harap datang, ada yang ingin cayhe bicarakan” Cio San berbicara dengan santai, tapi suaranya telah memenuhi seluruh Istana Ular. Ini adalah pertunjukan Khikang yang luar biasa.
Tak berapa lama Hing Liok Tay datang menemuinya.
“Salam, Kauwcu,” katanya sambil menjura.
Cio San mengangguk dan tersenyum, “Silahkan duduk, Susiok,” katanya.
“Tidak berani.. tidak berani.. Kauwcu harap jangan memanggil hamba susiok (paman).”
“Aku memanggilmu dengan panggilan yang aku suka, Susiok,” jawab Cio San tersenyum.
“Ahhh… Kauwcu sungguh seseorang yang rendah hati,” kata Hing Liok Tay.
“Kauwcu ada petunjuk apa?” tanyanya sopan.
“Aku ingin menanyakan sesuatu.” kata Cio San.
“Pertanyaan apakah, Kauwcu?”
“Apakah beberapa tahun yang lalu susiok menyamar menjadi petani, dan bertemu pemuda bermuka pucat dan aneh?” tanya Cio San.
“Pekerjaan menyusup dan menyamar adalah pekerjaan hamba, menjadi petani juga sudah sering.”
“Kejadian ini terjadi di kaki gunung Bu Tong-san. Saat itu susiok memberikan pemuda aneh itu sepasang sepatu.” Kata Cio San.
Mata Hing Liok Tay berbinar, ia ingat sesuatu. “Ah, hamba ingat, saat itu hamba bertemu seorang pemuda aneh, ia berkelana tanpa sepatu. Hamba memberikannya sepatu” katanya.
“Dan di sepatu itu ada sejenis penanda jejak bukan? Agar susiok bisa mengintainya?” tanya Cio San.
“Benar sekali, bagaimana Kauwcu bisa tahu?” tanya Hing Liok Tay.
“Akulah pemuda aneh itu, saat itu aku sedang menyamar pula” tukas Cio San sambil tersenyum.
“Hamba saat itu mendapat perintah dari Kauwcu yang lama untuk menetap di sana. Beberapa orang anggota memang mendapat perintah untuk menetap dibeberapa daerah sekitar kaki gunung Bu Tong-san.”
“Oh.. Kalian diperintahkan Kauwcu yang lama untuk mencari tahu tentang Cio San yang menurut kabar membawa kabur kitab sakti, bukan?”
“Benar, Kauwcu! Hamba diperintahkan untuk memperhatikan siapa-siapa saja yang berada di sekitar Bu Tong-san pada saat itu. Oleh karena itu, hamba memberi penanda jejak di sepatu, agar mudah dikuntit”
“Lalu setelah aku tiba di kota Liu Ya, dua orang yang menguntitku adalah anak buahmu?” tanya Cio San.
“Benar, Kauwcu.”
“Lalu kenapa mereka mati?”
“Yang membunuh mereka adalah ketua Ma Kauw cabang Liu Ya, Kauwcu. Mereka berdua terpaksa harus dibunuh, agar jangan sampai membocorkan rahasia, bahwa Ma Kauw tertarik untuk mencari tahu rahasia anda, Kauwcu.”
“Oh, aku mengerti sekarang. Di mana ketua cabang kota Liu Ya?”
“Dia belum datang. Mungkin sedang dalam perjalanan.”
“Kalian mengerti tentang pergantian Kauwcu ini, apakah dari Cukat Tong?”
“Benar, Tuan. Ia mengirimkan surat ke beberapa cabang kita, mengatakan bahwa Tuan berada di Istana Ular.”
“Baiklah. Masih ada satu hal lagi yang ingin kutanyakan, susiok”
“Silahkan, Kauwcu?” kata Hing Liok Tay.
“Biasanya, bagaimana cara partai kita saling mengirim kabar?” tanya Cio San.
“Kita biasanya menggunakan merpati. Dalam beberapa saat saja, kabar sudah langsung sampai ke semua cabang. Tergantung jauhnya jarak antar kota,” jawab Hing Liok Tay.
“Begitu… Baiklah. Aku akan menuliskan surat kepada seluruh anggota kita. Bisakah Susiok mengirimkannya kepada beberapa cabang? Ada beberapa hal yang harus kusampaikan kepada beberapa ketua cabang.”
“Siap laksanakan, Kauwcu.”
Cio San lalu mendiktekan isi suratnya. Intinya, meminta agar setiap cabang menggunakan daya upaya untuk menyelidiki tentang para pembunuh bertopeng, berhati-hati terhadap racun baru yang sangat dahsyat, serta sebisa mungkin tidak bentrok dengan partai lain, baik yang besar maupun yang kecil.
Begitu selesai didikte, Hing Liok Tay lalu menyalinnya menjadi beberapa surat, kemudian mengirimkannya. Cio San lalu memintanya untuk istirahat, karena besok pagi-pagi sekali, Hing Liok Tay harus segera pergi melaksanakan tugas menyelediki keberadaan jenazah Kauwcu lama dan anggota-anggota yang lain.
Cio San kini sendirian lagi. Ia ingin memainkan khim, tapi merasa akan mengganggu anggota-anggota lain yang sedang beristirahat. Karena belum mengantuk, Cio San berencana untuk duduk-duduk di situ sampai larut malam sambil minum arak.
Sampai larut malam, baru ia tertidur dengan pulas di pavilliun itu. Padahal ia tahu, ada beberapa pasang mata yang sedang memperhatikannya di dalam kegelapan.
Saat bangun, hari belum begitu pagi. Bau masakan dari dapur sudah menari-nari di hidungnya. Saat bangkit, ternyata sudah ada seguci teh panas serta sepiring kue-kue.
“Enak juga jadi Kauwcu. Segala sesuatunya sudah dilayani orang lain. Pantas saja banyak orang ingin menjadi pemimpin,” pikir Cio San.
Cio San menikmati secangkir teh dan mencomot satu kue. Setelah itu, dia bangkit dan pergi ke dapur. Ternyata Sie Peng, Lim Tin, dan Cua Cin Sin sudah berada di sana. Mereka memasak banyak sekali makanan untuk puluhan anggota yang ada di sana.
“Hey, kalian sudah bangun? Sini, kubantu memasak,” kata Cio San.
“Ah Kauwcu, mana kami berani?” mereka semua mencegah Cio San jangan sampai turun tangan. Tapi apa daya, Cio San sudah menggunakan kata-kata andalannya, “Ini perintah!” Sambil tersenyum, ia lantas saja menumbuk bumbu. Ketiga anggota wanita Ma Kauw itu tak bisa berkata apa-apa lagi.
Ketika matahari sudah mulai naik dan tanah terlihat sudah terang, masakan yang disiapkan mereka berempat sudah matang. Kesemuanya makanan enak. Rupanya, semalam ada beberapa anggota yang pergi berburu ke hutan belakang dan berhasil menangkap beberapa rusa, ayam hutan, dan ular. Hasil tangkapan itu diolah Cio
San dengan sangat mantap. Sampai-sampai ketiga anggota wanita itu terheran-heran. Mereka saja tidak mampu masak seenak dan selezat itu.
Seluruh anggota lalu makan dengan lahap. Seumur hidup mereka, mungkin belum pernah makan selezat itu. Ketika tahu bahwa hidangan itu adalah hasil masakan Cio San, mereka semua bergetar tak ada yang berani bersuara.
“Ma… matipun…, mana berani kami makan?”, kata salah seorang.
“Maafkan….kami.., Kauwcu, ..kami...kami,” mereka semua salah tingkah.
Cio San hanya tersenyum, ia berkata, “Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang paling memperhatikan anak buahnya. Aku justru merasa bangga bisa menyiapkan makanan untuk Saudara semua.”
Begitu mereka mendengar hal ini, mereka lalu berlutut dan bersujud,
“Kauwcu sungguh baik dan adil! Kami rela menyerahkan nyawa bagi Kauwcu dan Ma Kauw!” teriak mereka keras.
“Sudahlah, kalian berdirilah. Kita belum lagi menikmati araknya,” kata Cio San.
Tak lama setelah mereka minum-minum, terdengar suara dari gerbang besi depan,
“Cukat Tong datang menghadap Ma Kauw-kauwcu!”
“Raja Maling sudah datang. Hmmm.., ternyata lebih cepat dari perkiraan semula,” batin Cio San. Dalam hati ia kagum juga. Langkah Cukat Tong tidak terdengar sama sekali olehnya. Padahal dalam jarak segini, ia biasanya bisa mendengar jika ada orang lain di gerbang depan.
Cio San sendiri yang menyambut Cukat Tong di pintu depan.
“Salam kepada Kauwcu. Hamba Cukat Tong membawa berita dan mengantarkan surat,” kata Cukat Tong.
“Salam, Cukat-tayhiap (Pendekar Besar Cukat),” kata Cio San sambil senyum dan menjura.
Kedua orang ini bersikap penuh adat tentunya karena banyak orang di situ. Kalau tidak, mereka mungkin sudah saling peluk dan bercanda.
“Mari ke belakang, kita berbicara di sana saja.” Cio San lalu mengajak Cukat Tong ke pavilliun belakang.
Semua mata memandang Cukat Tong. Tidak menyangka kalau si Raja Maling Tanpa Tanding ternyata penampilannya sama seperti mereka. Kotor dan awut-awutan.
Mereka berdua sampai di pavilliun belakang. “Ini, racunnya sudah kubawa.” Ia mengeluarkan sebuah botol kecil. Isinya sebuah cairan seperti air biasa. Bening dan tak berbau.
“Aku juga membawa surat dari Beng Liong untukmu. Aku bertemu dia di jalan.” Ia mengeluarkan sepucuk surat. Cio San lalu membacanya.
Salam Hormat,
Begitu mendengar kabar dari Cukat Tong bahwa San-te telah menjadi Ma Kauw-kauwcu, aku sangat bahagia. Thian (langit) memang sangat adil dan mengerti perjalanan hidup manusia. Tapi kebahagiaan ini serasa tawar
saat kubayangkan engkau akan menanggung banyak urusan.
Saat ini pun, aku terpaksa meminta bantuanmu. Pergerakan tentara Mongol di perbatasan membuat tentara kerajaan sangat terdesak di sana. Baru-baru ini, Kaisar mengumumkan permintaan bantuan kepada seluruh kaum Kang Ouw untuk turun tangan membantu kerajaan.
Hal ini, ditambah lagi dengan urusan Pembunuh Bertopeng, membuat kaum Kang Ouw juga semakin terdesak. Karena itulah, pertemuan pemilihan Bu Lim Bengcu dimajukan dari tahun depan, menjadi 3 bulan lagi. Pertemuan akan diadakan di puncak gunung Thay San.
Aku harap San-te bersama Ma Kauw yang kau pimpin bisa turut turun tangan dalam kedua urusan ini. Sekali lagi, aku mohon maaf karena harus merepotkan dirimu. Semoga kita bisa bertemu di puncak Thay San 3 bulan lagi, tanggal 15.
Saudaramu,
Beng Liong.
Cio San melipat kembali suratnya. Ia berpikir lama sekali. Cukat Tong diam saja, karena ia tahu Cio San sedang memikirkan urusan yang sangat penting.
Cio San lalu tersenyum lebar.
“Ada kau di sini, jika tidak kucekoki arak sampai mampus, jangan bilang namaku Cio San.”