Dragon and Phoenix

Dragon and Phoenix
Bab 47: Di Tepi Sebuah Telaga



Cio San telah jauh meninggalkan bukit itu. Dari tempat ia kini duduk, terlihat asap membumbung tinggi dari bukit itu. Ia yakin orang-orang di sana pasti akan dapat menyelamatkan diri. Mereka orang-orang yang perlu dikasihani. Tapi Cio San tahu, ia tidak perlu melakukan apa-apa di sana.


Kini ia duduk di sebuah pavilliun kecil di pinggir telaga. Telaga ini tidak seindah telaga tempat tadi ia mandi. Tetapi lumayan sepi dan tenang. Ia bersandar di kursinya, dan menikmati seguci arak yang tadi sempat ia beli sebelum sampai di telaga itu.


Ia menikmatinya perlahan-lahan. Pelan-pelan. Cara minum arak seperti ini ia lakukan jika sedang berpikir keras. Arak memang kadang-kadang membantu pikiran menjadi lebih jernih.


Dari jauh, Cio San mendengar derap kaki kuda berlari kencang. Orang yang mengendarainya sepertiterburu-buru. Tak berapa lama, Cio San bisa mengenal penunggang kuda itu. Dia adalah Beng Liong!


Sedang apa dia hingga terburu-buru?


“Liong-ko!” Cio San berkata pelan. Tapi suaranya telah sampai tepat di telinga Beng Liong. Ilmu mengirim suara seperti ini membutuhkan tenaga dalam yang sangat tinggi.


Beng Liong menghentikan kudanya.


“San-te! Ah, syukurlah kau selamat!” kata Beng Liong.


“Kenapa terburu-buru, Liong-ko?” tanya Cio San.


“Aku akan ke bukit sana.” Ia menunjuk bukit yang penuh asap dan api itu. “Di tengah jalan, aku bertemu Cukat Tong. Ia bilang, engkau ada di bukit itu juga. Jadi aku bergegas,” jawab Beng Liong.


Ia turun dari kudanya. Wajah tampannya penuh cahaya. Di sore hari seperti ini, wajahnya bersinar-sinar dengan cerah. Harum tubuhnya yang sangat terkenal, memang bukan cerita kosong belaka. Bahkan dari jarak bertombak-tombak pun, Cio San bisa menciumnya. Bau harum yang menyenangkan. Tidak menusuk. Lembut dan membelai-belai. Dari wanginya saja, tanpa melihat wajah pun, barangkali para wanita akan serta-merta jatuh cinta padanya.


Bajunya terlihat sangat pantas. Beng Liong memang pintar memilih pakaian. Walaupun bukan yang paling mewah, bajunya selalu tampak rapi dan bersih. Warnanya selalu pas. Model potongannya pun selalu bagus.


Rambutnya dikuncir rapi. Wajahnya bebas dari kumis dan jambang. Matanya selalu cerah dan bibirnya selalu menyungging senyum. Jika senyum Cio San kadang-kadang terasa nakal dan degil, senyum Beng Liong justru terasa hangat dan menyenangkan.


Mereka berdua berpelukan. Rasanya seperti sudah lama sekali mereka tak bertemu.


“Senang melihat engkau baik-baik saja, San-te. Apa yang terjadi di atas bukit sana? Kebakaran itu perbuatanmu, bukan?”


“Haha..” Cio San tertawa sambil memainkan ujung rambutnya.


“Engkau sendiri, ada urusan apa ke bukit itu, Liong-ko?” ia malah balik bertanya.


“Aku mengejar Bwee Hua Sian.”


“Oh, jadi namanya Bwee Hua Sian (Dewi Bunga Bwee)…..,” seloroh Cio San.


“Kau sudah bertemu dengannya, bukan? Apa yang terjadi?” tanya Beng Liong.


Cio San menceritakan semuanya.


“Kau… meninggalkan orang-orang itu di taman yang terbakar?” kata Beng Liong terperangah. Ia lalu cepat melesat ke arah bukit itu. Ia tidak menunggang kuda lagi. Kakinya jauh lebih cepat daripada kuda manapun.


Cio San terpaksa mengikutinya dari belakang. Mereka terus ‘terbang’ sampai ke bukit itu. Cio San mengirimkan pesan suara ke telinga Beng Liong, “Tutup jalan pernafasan, asapnya beracun.”


Begitu sampai di taman yang dipenuhi asap itu, mereka tidak menemukan seorang pun di sana. Cio San lega hatinya, karena sejak dari jauh, dia tidak mendengar suara seorang pun. Ia khawatir mereka semua telah mati terbakar. Untunglah, ternyata tidak ada apapun di sana.


Beng Liong juga lega.


“Kenapa kau ceroboh meninggalkan orang-orang itu tadi, San-te? Bukankah mereka bisa mati terpanggang?” tanya Beng Liong.


“Karena aku tahu mereka pasti akan selamat,” kata Cio San sambil tersenyum.


“Dari mana kau yakin?”


“Bwee Hua Sian masih membutuhkan tenaga mereka. Aku tidak tahu siapa saja mereka. Tapi tentunya mereka pasti orang penting. Tokoh-tokoh ternama.”


“Kau tahu Bwee Hua Sian akan kembali menyelamatkan mereka?”


“Pada awalnya, aku tidak peduli. Tapi saat di jalan, aku berpikir tentang nasib mereka. Saat hendak kembali lagi, aku berpikir bahwa pasti Bwee Hua Sian yang akan menyelamatkan mereka.”


“Kau sengaja tidak kembali dan tidak menempurnya di sana, karena kau tahu hal itu justru akan membahayakan nasib orang-orang itu, bukan?”


“Benar, Liong-ko. Jika aku bertempur dengannya di sana, pertempuran mungkin akan berlangsung lama, dan kami malah tidak sempat menyelamatkan orang-orang itu.”


“Lalu, kenapa tadi tidak kau ceritakan kepadaku? Tahu begitu, kita tidak pelu repot-repot kemari.”


“Tadi waktu di pinggir telaga, aku tiba-tiba berpikir, bahwa mungkin saja Bwee Hua Sian tidak mampu menyelamatkan mereka. Atau bisa saja, ia tiba-tiba berubah pikiran, dan membunuhi mereka semua.”


Mereka berdua lalu menuruni jalan indah di bukit itu.


"Liong-ko, sebenarnya, kenapa engkau mencarinya?”


“Tidak jauh berbeda denganmu. Aku telah menyelidiki sekian lama tentangnya. Aku curiga, ia adalah ‘otak’ di balik semua kejadian ini,” jelas Beng Liong.


“Hmmm, aku malah pada awalnya tidak percaya ada wanita seperti dia. Tapi setelah bertemu, aku baru yakin. Awalnya aku malah curiga kepada orang lain.”


“Siapa?” tanya Beng Liong.


“Cukat Tong,” jawab Cio San enteng.


“Kenapa?”


“Semuanya cocok. Ketika ada kejadian peracunan di markas Ma Kauw, ia ada di sana. Walaupun aku sempat menyelamatkan mereka, tapi pengobatanku sendiri hanya untuk sementara. Mungkin saja ia punya tenaga dalam yang sangat tinggi untuk membantunya melawan atau setidaknya menjinakkan racun itu. Tapi entahlah. Jika


ia selamat dari racun itu, tentu karena sebelumnya ia telah memiliki penawarnya.”


Lanjut Cio San,


“Ia juga adalah satu-satunya orang yang selamat dari kejadian pembakaran kapal di dermaga. Ia adalah Raja Maling! Dengan mudah, ia bisa mencuri rahasia-rahasia, kitab-kitab sakti, dan berbagai macam hal yang tidak bisa kita bayangkan!”


“Betul juga,” kata Beng Liong, “Lalu sekarang pikiranmu berubah?”


“Iya. Bwee Hua Sian jauh lebih berbahaya daripada Cukat Tong. Jauh lebih masuk akal, jika ia pelakunya,” kata Cio San. “Eh, Liong-ko, sebenarnya, manusia macam apa sih Bwee Hua Sian itu?”


“Dari hasil penyelidikanku, ia tinggal di ujung utara Tionggoan, dekat daerah bersalju. Selama ini, dia tidak pernah masuk kemari. Cuma, beberapa tahun ini,banyak kejadian aneh yang mencurigakan. Penyelidikanku kemudian mengarah kepadanya. Sudah dua tahun ini, aku banyak mencari dan mengumpulkan berita tentang dia. Kau tahu berapa umurnya? Ia sudah hampir 80 tahun!”


“Hah?? Sudah hampir 80 tahun? Tapi ia terlihat seperti gadis usia belasan tahun.”


“Menurut kabar, ia telah belajar sejenis ilmu yang membuatnya awet muda. Sejak kecil pun, ia sudah memakan tumbuh-tumbuhan tertentu yang membantunya tetap cantik seperti sekarang ini,” jelas Beng Liong.


“Lalu, apa maksud dia melakukan ini semua?” tanya Cio San.


“Entahlah. Yang kutahu, ia mungkin ingin menguasai dunia.”


“Memang ada sementara orang yang merasa, bahwa kekuasaan itu baginya, sudah seperti makan, minum, dan bernafas,” kata Cio San.


“Orang seperti itu, mana mungkin bahagia?” Beng Liong hanya geleng-geleng kepala.


Mereka berjalan lama dan mengobrol banyak hal. Ketika sampai di pavilliun tempat mereka bertemu tadi, ternyata kuda Beng Liong masih ada di situ.


“Liong-ko, aku kagum dan berterima kasih kepadamu,” kata Cio San.


“Engkau kesini dengan menunggang kuda. Padahal engkau lebih cepat daripada kuda manapun. Itu berarti engkau sedang menyimpan tenagamu untuk bertempur dengan ‘dia’. Selain itu, engkau melakukan itu karena percaya kepadaku,” jelas Cio San.


Beng Liong tersenyum dan berkata, “Tentu saja aku percaya kepadamu. Pada kecerdasan dan kesaktian ilmumu. Sebab itu, aku menunggang kuda. Aku yakin tak akan terlambat. Ada kau di sana,masa aku harus khawatir?”


Mereka berdua tertawa.


“Eh, habis ini, engkau kemana?” tanya Beng Liong.


“Menyusul sahabat-sahabatku di kota depan,” kata Cio San. “Kalau engkau, Liong-ko?”


“Aku akan bergabung dengan tentara pemerintah. Ada sedikit tugas yang dibebankan kepadaku oleh Lau-ciangbun. Kau kapan bergabung?”


“Segera. Setelah urusan Bu Lim Bengcu di puncak Thay San selesai,” kata Cio San sambil tersenyum.


“Baiklah. Sampai jumpa di puncak Thay San, San-te,” kata Beng Liong sambil menaiki kudanya.


“Sampai jumpa, Liong-ko. Hati-hati di jalan.”


Beng Liong membedal kencang kudanya. Cio San hanya bisa menatap punggung Beng Liong dan membatin, “Urusan besar, memang cuma Beng Liong yang sanggup melakukannya.”


Ia tersenyum dan kembali melanjutkan perjalanannya.