
Mereka mendarat dengan mulus.
Cio San menyambut mereka dengan senyum. Cukat Tong pun tersenyum. Jika para sahabat bertemu, yang ada di hati mereka cuma kegembiraan. Suma Sun walaupun diam dan pandangannya tetap kosong, raut wajahnya pun menampakkan sedikit kegembiraan.
“Salam, Tayhiap. Apakah cayhe sedang berhadapan dengan Luk-tayhiap, mantan Pangcu yang tersohor dari Kay Pang?” kata Cukat Tong menjura. Pengetahuannya sangat luas sehingga sekali pandang saja, ia tahu siapa orang di hadapannya. Tongkat hijau di tangan si kakek sudah ‘menceritakan’ banyak hal.
“Ah, orang yang menunggang burung-burung seperti ini di jamanku cuma ada satu orang, apakah engkau murid dari Tok Hong-siansing yang terhormat?”
“Benar sekali, Tayhiap. Cayhe she (marga) Cukat bernama Tong,” jawab Cukat Tong.
Tok Hong-siansing. Ah, akhirnya Cio San tahu juga siapa nama guru Cukat Tong. Pengetahuannya tentang dunia persilatan memang masih cetek ketimbang orang lain.
Suma Sun pun memberi salam.
Ang Lin Hua pun sudah muncul kembali.
Pertemuan seperti ini memang selalu menghangatkan hati. Perbedaan persahabatan dengan percintaan memang cuma satu, yaitu di dalam persahabatan, kau tak akan takut kehilangan.
Mereka duduk melingkar dan menikmati makanan. Cukat Tong selalu membawa benda-benda yang tak terduga. Siapa yang bisa menduga di tengah hutan di atas gunung, mereka bisa menikmati arak mahal dan masakan paling lezat sedunia?
“Mendengar ruwetnya masalah di Bu Lim, rasa-rasanya memang ada sebuah rencana besar dibalik semua ini,” kata Luk Ping Hoo memulai obrolan.
“Perebutan Bu Lim Bengcu kali ini memang penuh intrik dan rahasia,” kata Cukat Tong.
“Padahal apa hebatnya menjadi Bu Lim Bengcu?” tukas Ang Lin Hua.
Cio San hanya tersenyum.
“Eh, kau kenapa tersenyum? Pasti ada lagi yang muncul di otakmu?” tanya Cukat Tong.
Cio San hanya menggeleng-geleng sambil meneruskan makan.
Kata Cukat Tong, “Jadi Bu Lim Bengcu sudah pasti hebat, Ang-siocia. Selain berhak memutuskan dan mengadili segala perkara di dalam Bu Lim, ia juga berhak menguasai dan mempelajari kitab-kitab silat kuno yang dahsyat. Selain itu, menurut kabar terbaru, kaisar sendiri yang akan melantiknya jika ia sudah terpilih. Kaisar mungkin secara langsung akan meminta sang Bengcu untuk turut membantu negara dalam perlawanan terhadap gangguan Mongol di perbatasan.”
Mata Cio San bersinar, “Bertemu kaisar? Wah, asyik juga itu. Seandainya aku boleh bertemu kaisar, kira-kira apa yang akan kukatakan padanya ya?”
“Kau pasti akan minta diberikan salah satu dayangnya untuk kau kawini,” tukas Cukat Tong. Jika sudah bercanda, mereka memang lupa menggunakan sebuatan ‘cayhe’ dan lain-lain.
“Haha... Mendengar perkataanmu, aku punya dua kesimpulan,” kata Cio San.
“Apa itu?” tanya Cukat Tong.
“Karena kau tahu sekali apa yang ada dalam pikiranku, kemungkinan besar kau ini adalah cacing dalam perutku.”
“Hahahaha.. Dan yang kedua?”
“Yang kedua adalah, kau pun memiliki keinginan yang sama.”
Semua orang tertawa lepas. Tentu saja Suma Sun tidak ikut tertawa. Dibutuhkan usaha amat besar untuk membuatnya tersenyum. Apalagi tertawa.
“Menurut Tayhiap, kira-kira siapa pelakunya?” tanya Cukat Tong kepada si kakek.
Setelah berpikir lama, Luk Ping Hoo menjawab,
“Semua orang patut dicurigai, dan semua orang bisa saja punya maksud tersendiri.”
“Maksud Tayhiap?”
“Ambil contoh Cio San,” kata Luk Ping Hoo. “Orang dengan kemampuan seperti dia, bukankah jelas-jelas paling dicurigai?”
Lanjutnya,
“Ia punya ilmu silat sangat tinggi. Kecerdasannya di atas rata-rata. Kalau dipikir-pikir, dia ini yang paling pantas menjadi si ‘otak besar’. Siapapun pasti akan percaya, jika dibilang bahwa Cio San adalah otaknya.”
Semua orang mengangguk.
Lalu si kakek melanjutkan,
“Tapi justru itulah. Aku yakin si ‘otak besar’ ini, justru orang yang tidak kalian duga. Bisa jadi, ia bukan orang yang ahli silat. Hanya pemikir saja. Bisa jadi, mungkin dia adalah aku, Cukat-tayhiap, atau Suma-tayhiap,” jelasnya.
“Jadi bisa kalian bayangkan, betapa ruwetnya keadaan Bu Lim sekarang, karena semua orang patut dicurigai. Tak ada lagi kepercayaan. Semua saling memata-matai. Setiap partai saling menduga satu sama lain.”
“Untung ada cayhe,” tukas Cio San.
Ketika semua orang menatapnya dengan heran, ia meneruskan,
“Dengan adanya cayhe dituduh sebagai ‘otak besar’ seperti kejadian di rumah Khu-hujin, tentulah dunia Bu Lim sudah mulai aman dan tentram, segala kecurigaan hilang, karena setidaknya mereka memiliki musuh bersama saat ini.”
“Heh, jadi kau memang sengaja membiarkan dirimu dituduh seperti ini?” tanya Cukat Tong.
“Tentu saja tidak. Aku sudah hampir membunuh mereka semua saat itu ‘kan? Hahaha…,” jawabnya enteng. Lanjutnya, “Tapi aku bersyukur sekarang menjadi kambing hitam, setidaknya malah membuat aku kini bebas bergerak.”
“Bagaimana mungkin kau bebas bergerak, jika seluruh dunia mencarimu saat ini?” kata Cukat Tong.
“Bukankah kau juga sedang dicari? Kau ‘kan sudah dianggap sebagai kaki tanganku sejak kejadian di rumah Khu-hujin.”
“Hehe…” Cukat Tong cuma garuk-garuk kepala. Katanya, “Kira-kira, apa yang harus kita lakukan sekarang?”
“Apakah semua orang terkemuka Bu Lim sudah berangkat ke Thay San?” tanya Cio San.
“Setahuku sih, iya. Para Ciangbunjin perguruan besar seperti Bu Tong-pay, Siau Lim-pay, Go Bi-pay dan lain-lain, sudah melakukan perjalanan dengan rombongan perguruannya masing-masing,” jelas Cukat Tong.
“Berapa lama perjalanan dari sini ke Bu Tong-pay, jika menggunakan burung-burungmu?” tanya Cio San.
“Sekitar 3 hari. Memangnya, apa yang mau kau lakukan di Bu Tong-pay?” kata Cukat Tong.
Cio San hanya tersenyum saja.
“Suma-tayhiap, bisakah kau menemani Ang-siocia melanjutkan perjalanan ke Thay San?”
Suma Sun hanya mengangguk.
Cio San pun diam saja.
Di antara teman, kau memang tidak akan mengucapkan terima kasih dengan mulutmu. Kau mengucapkan terima kasih dengan hatimu dan perbuatanmu.
“Locianpwe punya rencana apakah setelah dari sini?” tanya Cio San kepada Luk Ping Hoo.
“Tidak ada. Awalnya, aku ke sini hanya untuk mencari dan membunuhmu. Tapi jika kejadiannya seperti ini, aku malah bingung harus melakukan apa?”
“Bagaimana jika Locianpwe ikut saja dengan Suma-tayhiap dan Ang-siocia ke Thay San?” usul Cio San.
Setelah berpikir sebentar, Luk Ping Hoo menjawab, “Baiklah.”
Mereka beristirahat sebentar sebelum kemudian melanjutkan perjalanan. Suma Sun, Ang Lin Hua, dan Luk Ping Hoo pergi ke Thay San. Sedangkan Cio San dan Cukat Tong pergi ke Bu Tong-pay.
Cio San baru kali ini terbang betulan. Dulu ia pernah terbang juga, ketika diselamatkan Cukat Tong dari kediaman Khu-hujin. Tapi saat itu suasana genting, dan ia tak sempat memperhatikan banyak hal. Kini saat berada di udara dan pikirannya jernih, Cio San rupanya agak ngeri juga.
“Kau tak takut jatuh?” tanya Cio San.
“Kenapa harus takut? Toh aku tak bakalan jatuh.”
“Tak pernah sekalipun kau jatuh? Atau burung-burung ini kelaparan dan kecapaian, lalu kau terjun bebas bersama mereka?”
“Tidak.”
“Baguslah.”
“Kau takut?” kini Cukat Tong balas bertanya.
“Aku bukan setan. Tentu aku punya rasa takut.”
“Haha…. Baru kali ini aku dengar ada seorang Tayhiap mengaku takut.”
Kata takut memang adalah kata yang sangat diharamkan di kalangan Kang Ouw. Tapi Cio San malah mengakuinya dengan jujur.
“Kata siapa aku seorang Tayhiap?” tukas Cio San.
“Kata banyak orang.”
“Itu ‘kan kata mereka. Jika aku tak pernah mengaku sebagai Tayhiap, kenapa aku tidak boleh mengaku takut?”
“Betul juga. Banyak orang di dunia ini mengaku sebagai pemberani. Tapi hanya sedikit manusia yang dengan berani mengaku sebagai penakut. Karena menjadi penakut, juga kadang-kadang dibutuhkan keberanian untuk mengakuinya.”
Perjalanan 3 hari ke Bu Tong-pay tentu tidak dilakukan secara terus-menerus. Ada kalanya mereka mendarat di hutan untuk memberi makan burung-burung ini dan mengistirahatkan mereka. Kedua orang ini pun juga beristirahat.
Gaya beristirahat kegemaran Cukat Tong adalah bersandar di pohon yang rindang sambil menikmati arak dan makanan.
Sambil makan, Cio San bertanya “Apa yang Khu-hujin lakukan menghadapi ini semua?”
“Kenapa kau tanya aku? Kau pikir aku cacing di dalam perutnya? Haha…”
Cio San tidak tertawa, ia malah tersenyum saja.
“Jika kau sudah tersenyum, aku selalu merasa khawatir.”
“Jika tidak khawatir, masa kau malah bahagia? Memangnya kau termasuk golongan pecinta sesama jenis?”
“Hahaha….” Cukat Tong hanya tertawa.
“Kau masih belum menjawab pertanyaanku,” kata Cio San sungguh-sungguh.
Cukat Tong hanya menatap Cio San.
Akhirnya sambil tersenyum, ia pun buka suara.
“Memang tidak ada satu hal pun yang bisa kusembunyikan darimu.”
“Beberapa hal.”
“Seperti?”
“Kau bekerja untuk Khu-hujin.”
“Haha….”
Kadang-kadang, jika rahasianya ketahuan, selain marah, orang memang cuma bisa tertawa.
“Kuakui, memang aku bekerja kepadanya. Tapi bagaimana kau bisa tahu?” tanya Cukat Tong.
“Sederhana saja. Melihat wajahmu.”
“Kau bisa melakukannya hanya dengan melihat raut wajah?”
“Aku ‘kan sudah menamatkan kitab pemberian Khu-hujin itu.”
“Ya, betul. Kitab itu ada padaku sekarang.”
Cio San hanya mengangguk lalu meneruskan,
“Setiap kupancing kau menyebut namanya, raut mukamu selalu berubah. Muncul tanda-tanda, bahwa kau mengagumi dan sangat hormat kepadanya. Raut wajah kagum sangat terpancar jelas, jika kau mau memperhatikan orang. Memang pancaran di wajahmu sedikit kau tutupi, tapi aku bisa melihat dengan jelas.”
“Jadi hanya berbekal itu saja, kau bisa mengambil kesimpulan?”
“Tentu tidak, aku juga memperhatikan banyak hal lainnya.”
“Seperti?”
“Seperti kenyataan bahwa kau pernah punya cerita dengan Bwee Hua.”
Cukat Tong hanya diam.
“Kau pernah mencintainya. Kau pun mungkin pernah hidup bersamanya dan menjadi budaknya. Tetapi akhirnya kau dapat membebaskan diri. Itulah sebabnya, kau sebenarnya enggan bertemu dengan Bwee Hua. Walaupun pernah tersakiti olehnya, kau tetap saja tak mampu membenci atau bahkan membunuhnya. Maka kau membiarkan dirimu tertangkap saja olehnya. Dengan kemampuan seperti dirimu, masakah ada orang bisa meracuni dan menculikmu?”
Lanjutnya,
“Aku pun memperhatikan raut wajahmu, saat kau kubebaskan dulu dari Lembah Seribu Kupu-Kupu. Kau tak sekejap pun memandangnya. Ada perasaan takut dan sungkan. Apakah aku benar?”
“Seluruhnya benar. Aku memang pernah menggilainya. Kuserahkan hidupku kepadanya. Hingga suatu saat aku sadar, bahwa aku telah salah mencintainya.”
“Kau tak pernah salah karena jatuh cinta. Kau hanya salah memilih orang.”
“Mungkin saja. Setelah kusadari kesalahanku, aku berusaha lepas. Namun kau tahu sendiri, pengaruh Bwee Hua terhadap para lelaki yang menyukainya, sungguh teramat besar. Belum lagi ditambah dengan bunga iblis yang dipakainya untuk meracuni otak kami semua. Jika aku melarikan diri, dalam hitungan hari, aku pasti mencarinya kembali. Itu karena bunga iblis membuat kami ketagihan dan selalu bergantung kepada Bwee Hua.”
“Hingga akhirnya, dalam pelarianku yang terakhir, aku diselamatkan oleh Khu-hujin. Ia sedang dalam perjalanan di tengah hutan. Aku disekapnya berhari-hari, sehingga ketagihanku akhirnya menghilang seluruhnya. Dengan sabar, beliau merawat dan menasehatiku. Karena sangat berhutang budi, akhirnya aku mengabdikan diri kepada beliau,” jelas Cukat Tong.
“Aku juga tahu, orang seperti kau tidak mungkin mau saja kusuruh-suruh kemana-mana. Haha... Kita tidak punya ikatan apa-apa, tapi kau sungguh patuh kepadaku. Tentulah ada orang yang memerintahkanmu untuk patuh kepadaku. Kalau bukan Khu-hujin, aku tidak tahu siapa lagi,” kata Cio San.
Lanjutnya,
“Ketika dulu aku diculik oleh Ma Kauw, aku sempat ditolong oleh serombongan orang yang menyamar menjadi tentara kerajaan. Ilmu mereka hebat dan bermacam-macam. Sejak lama, aku memikirkan siapa mereka, dan aku kemudian mengambil kesimpulan, bahwa mereka adalah orang-orangnya Khu-hujin yang bertugas mengawalku.”
“Kau tahu kenapa Khu-hujin sangat tertarik denganmu?” tanya Cukat Tong.
“Ia membutuhkan tenagaku,” jawab Cio San.
“Benar sekali! Pada awalnya, aku heran, mengapa kau begitu penting di matanya. Tapi setelah beberapa lama aku bersama denganmu, aku baru mulai melihat sebabnya. Pandangan Khu-hujin memang jarang salah.”
“Kau berada di kapal, juga karena perintahnya bukan?”
“Ya. Ia menyuruhku mengawalmu, karena pasukan yang dikirim untuk mendampingimu sudah mati semua. Tewas oleh mendiang Ang Soat. Tapi aku sama sekali tidak diperbolehkan turun tangan. Hanya mendampingi dan melaporkan saja,” kata Cukat Tong. Lalu katanya, “Menurutmu, mengapa ia begitu tertarik dengan masalah ini semua?”
“Setiap orang punya kepentingan. Dalam pandanganku, Khu-hujin hanya ingin kekuasaan. Tidak ada orang yang boleh lebih berkuasa daripadanya.”
Cukat Tong hanya tersenyum.
Cio San pun tersenyum.
“Tapi yang paling masuk akal adalah, sejak dulu ia memang sudah bersaing dengan Bwee Hua.”
“Hahahaha… Tepat!!” kata Cukat Tong.
“Sepatu yang kau pakai itu, apakah pemberian Bwee Hua?” tanya Cio San.
“Benar.”
“Kau masih mencintainya?”
“Benar.”
“Kau jatuh cinta kepada wanita terkaya dan tercantik sedunia?” tanya Cio San.
“Kenapa? Lelaki yang jatuh cinta kepada wanita demikian, bukanlah lelaki yang merendahkan dirinya sendiri,” jawab Cukat Tong.
“Lihat apa yang diperbuatnya kepadamu.”
“Walaupun ia pernah menyakitiku, toh ia juga pernah membuat hatiku bahagia. Bahkan aku sempat berpikir, apakah hidupku bisa terus berjalan tanpa dirinya. Bagi orang sepertiku, mendapat kesenangan seperti itu dari wanita tercantik dan terkaya di seluruh dunia, sudah cukup memberikan rasa syukur yang besar.”
Kadang-kadang, orang yang tersakiti hatinya, suka melupakan bahwa di dalam hidup mereka, pernah juga mendapatkan kebahagiaan dan kenangan indah dari orang yang menyakitinya. Sayangnya, manusia sebagian besar memang lebih suka mengenang kepedihan daripada mengenang keindahan.
Untunglah Cukat Tong bukan orang seperti itu.
Cukat Tong adalah bagian dari yang disebut penggetar langit. Orang-orang yang tetap melakukan yang terbaik, walaupun mereka disakiti dan dikecewakan. Yang tetap berdoa dan mengharapkan yang terbaik secara tulus dan ikhlas.
Jika kita bisa melupakan kebaikan orang, kenapa tidak juga sekalian melupakan keburukannya?
Bukankah dengan begitu, hidup menjadi tenang dan damai?
Bukankah dengan begitu, langkahmu menjadi ringan dan tatapan matamu menjadi terang?
Orang-orang yang hidupnya ringan, tentulah jauh lebih berbahagia. Karena hidup bahagia bukan hanya kau temukan dalam cinta. Kebahagiaan yang paling hakiki adalah kebahagiaan yang tak bisa hilang walaupun kau tak memiliki apapun di dalam hidupmu.
Kau tak memiliki apa-apa, tapi kau tetap bisa bahagia. Apalagi yang bisa diambil darimu?
Karena segala asal muasal kesedihan adalah berawal dari kehilangan. Jika kau tak memiliki apa-apa yang bisa hilang, memangnya kau bisa bersedih?
Ini pemahaman yang mudah, namun sayangnya tidak banyak manusia yang mau mengakui.
Tentu saja. Jika manusia mau mengakui, masakah masih ada kesedihan di muka bumi ini?
Cio San memandang kagum kepada Cukat Tong. Lelaki yang terluka oleh cinta, memang biasanya menjadi bahan tertawaan. Tetapi terhadap orang-orang seperti Cukat Tong, mau tak mau, Cio San harus kagum. Tidak mudah menjadi orang baik-baik terhadap orang yang sudah menyakitimu.
Lama mereka saling diam, lalu Cio San berkata, “Itulah sebabnya, sejak awal aku pun mencurigaimu.”
“Curiga apa?”
“Orang sepertimu tidak mungkin mau diperintah orang lain jika tidak memiliki alasan yang benar-benar kuat. Bahkan jika kaisar yang memberi perintah sekalipun, jika kau tak mau, tentu tak kau laksanakan.”
“Kau pikir aku mau melaksanakan permintaan-permintaanmu karena Khu-hujin menyuruhku untuk mematuhimu?”
Cio San mengangguk.
“Kau salah. Aku melakukan apa yang kau suruh, karena aku kagum kepadamu.”
“Aku yakin kau memiliki alasan lain.”
“Apa?” tanya Cukat Tong.
“Jika kau sudah bekerja untuk Khu-hujin, pertentangan batin dirimu tentu timbul jika kini kau harus berhadapan dengan Bwee Hua.”
“Lalu?”
“Kau berusaha sekuat tenaga agar ia tidak mati bukan?”
“Setidaknya, dengan kerja kerasku melayanimu dan melayani Khu-hujin, masa aku tak boleh meminta sedikit pengampunan untuknya?”
“Tidak usah.”
“Apakah dosanya sedemikian besar?”
“Bukan. Tapi karena persahabatan kita. Tanpa kau memberi hutang budi kepadaku pun, tanpa kau menuruti permintaan-permintaanku pun, aku tetap akan mengabulkan permintaanmu untuk mengampuni Bwee Hua.”
Cukat Tong menatap pemuda di depannya itu.“Sepanjang hayatku, baru kudengar ada manusia yang berkata ini kepadaku,” kata Cukat Tong.
“Itu karena sepanjang hayatku pula, aku belum pernah menemukan sahabat seperti kau,” tukas Cio San.
Mereka saling diam dan menenggak arak.
Kadang-kadang, arak paling nikmat jika diminum di dalam kesunyian.
Kadang-kadang, sahabat paling berarti jika ia bersamamu di dalam kesunyian.
Dua hal terbaik dalam hidup sudah ada di sana. Apalagi yang mereka risaukan?
“Untuk apa kita ke Bu Tong-pay?” tanya Cukat Tong tiba-tiba.
“Segala sumber masalah ada di sana. Dari sanalah kita mulai penyelidikan.”