
Hari ke dua puluh dalam pelarian mereka. Kedua orang ini telah sampai di Santung. Sebuah provinsi di ujung timur Tionggoan. Daerah ini adalah daerah yang unik, karena selain memiliki pantai yang indah, juga memiliki pegunungan yang menakjubkan.
Gunung Thay San pun berada di sana.
Sebuah gunung yang disucikan, memiliki banyak cerita dan kenangan sejarah.
Bahkan di dunia Kang Ouw pun, nama Thay San ini diabadikan. Orang yang dikagumi dan dianggap sebagai manusia utama, disebut Thay San Pek Tauw. Thay San berarti gunung Thay San, Pek Tauw berarti bintang utara.
Di jamannya, hanya Thio Sam Hong yang mendapat sebutan ini, karena ketinggian ilmunya, kedalaman pengetahuannya, dan kehalusan budi pekertinya. Selain beliau, belum ada seorang pun yang pantas disebut Thay San Pek Tauw di jaman ini.
Apakah ini sebabnya setiap 10 tahun sekali terjadi adu-tanding memperebutkan posisi Bu Lim Bengcu di atas puncak gunung Thay San? Agar pemenangnya pantas disebut Thay San Pek Tauw?
Cio San memandang jauh.
Puncak gunung menjulang di langit. Ada begitu banyak gunung. Apakah kau ingin menaklukkan gunung ini satu persatu?
Manusia begitu kecil jika dibandingkan dengan alam. Tetapi kenapa selalu manusialah yang begitu sombong menentukan takdir mereka sendiri?
Menumbuhkan rambut sendiri saja tidak mampu. Mengapa begitu berambisi menjadi orang paling hebat di muka bumi?
Kedua orang ini melangkah dengan ringan, walaupun jalan mendaki dan penuh bebatuan. Di depan, seseorang sudah menunggu.
Seorang kakek tua.
Heran. Kenapa akhir-akhir ini ia sering sekali bertemu dengan kakek tua sakti?
“Salam, Cianpwe.” Cio San menjura.
“Salam, Pangcu.” Kakek tua ini ternyata anggota Kay Pang. “Tidak perlu memanggil hamba Cianpwe. Hamba hanya anggota rendahan, Pangcu. Nama hamba Luk Ping Hoo.”
Cio San hanya tersenyum. Matanya belum lamur untuk bisa membedakan tingkatan seseorang. Lalu ia berkata, “Locianpwe ada petunjuk apa kepada boanpwe?”
Lama si kakek terdiam, kemudian malah balas bertanya, “Kau yang membunuh Ji Hau Leng?”
“Mendiang Ji-pangcu memang sempat bertarung dengan boanpwe. Tapi bukan boanpwe pembunuhnya,” jawab Cio San.
“Lalu siapa?” tanya kakek tua.
“Beliau bunuh diri.”
“Aku tidak percaya,” sahut si kakek.
Kalau ada orang bilang tidak percaya, maka mau kau beri alasan dan penjelasan apapun, ia tidak akan percaya. Karena kadang-kadang ‘percaya’ itu berubah menjadi masalah ‘hati’, bukan lagi masalah ‘akal’.
“Kudengar kau membunuhnya karena kedapatan mencuri kitab 18 Tapak Naga?”
Cio San hanya bisa menggeleng sambil tersenyum pahit.
Begitu hebatnya si ‘otak besar’, sampai-sampai bisa meminjam tangan tokoh-tokoh sakti seperti kakek ini untuk membunuhnya. Bahkan Pendekar Pedang Kelana pun sebelumnya hampir tertipu oleh si ‘otak besar’ ini.
“Ji Hau Leng telah kuasuh semenjak kecil. Pembunuhannya membuatku tidak bisa tidur.” Si kakek sudah bangkit berdiri. Tangannya memegang sebuah tongkat berwarna hijau.
Tongkat hijau itu adalah lambang tertinggi di Kay Pang. Tongkat Pemukul Anjing!
Mau tak mau, melihat tongkat itu, hati Cio San menjadi tergetar juga. Tongkat ini telah menjadi legenda selama ratusan tahun. Melewati ribuan pertarungan. Mengalahkan jutaan musuh. Jika ada benda yang paling berharga dalam dunia Kang Ouw, tongkat ini pasti adalah salah satunya.
“Cio San, dosamu sudah terlalu besar. Bukan hanya kematian Ji Hau Leng saja yang kudengar.”
Si kakek telah memasang bhesi (kuda-kuda).
Jurus pertama dari jurus Tongkat Pemukul Anjing.
‘Anjing Marah Menutup Jalan’
Cio San hanya berdiri memainkan rambutnya. Tangan satunya terlipat ke belakang.
“Perhatikan serangan.”
Lalu si kakek bergerak. Suara berdenging keluar dari tongkat berwarna hijau itu. Tongkat itu datangnya lebih cepat dari suara yang sampai ke telinga Cio San.
Alangkah kagetnya Cio San, ketika tahu-tahu tongkat itu telah menghunjam ke batok kepalanya. Ia tak lagi bisa menghindar! Hanya bisa menerima serangan itu menghancurkan batok kepalanya!
Serangan itu telah menemui sasarannya.
Batok kepala Cio San tidak hancur.
Ada Thay Kek Kun yang melindunginya. Ada lagi satu ilmu yang tak pernah digunakan Cio San.
Ilmu Menghisap Matahari.
Tongkat itu lengket di kepala Cio San. Si kakek tua itu terkaget-kaget ketika tidak bisa memecahkan batok kepala Cio San, dan juga tidak bisa menarik kembali tongkatnya.
“Locianpwe, jangan kerahkan lweekang (tenaga dalam). Atau nanti tenaga Locianpwe terhisap,” kata Cio San.
Si kakek menurut saja, karena ia merasa tenaga dalamnya mulai tersedot.
Biasanya, ilmu Menghisap Matahari hanya akan menyedot habis tenaga musuh, sampai musuh itu menjadi arang. Atau, jika pemilik ilmu Menghisap Matahari menghentikan serangannya. Tetapi jika musuh tetap berusaha menyalurkan tenaga untuk menyerang, maka ilmu Menghisap Matahari akan terus-menerus menyedot tenaganya.
Cio San berhasil ‘menjinakkan’ ilmu Menghisap Matahari itu dengan Thay Kek Kun. Ia berhasil menggabungkan kedua ilmu dahsyat itu. Ilmu Menghisap Matahari menjadi lebih lembut, lebih ‘manusiawi’. Tapi justru menjadi lebih mudah digunakan.
Dengan menggabungkan Thay Kek Kun dengan ilmu Menghisap Matahari, kedua ilmu itu memang berkurang kedahsyatannya. Tapi justru itu, Cio San malah senang.
Karena ia tidak suka membunuh orang.
Kedua ilmu saling mengurangi, tapi dalam sisi yang lain saling menambahi juga.
Kedahsyatannya berkurang, tetapi keefektifannya bertambah.
Sekarang malah tongkat hijau itu telah berada di tangan Cio San.
Si kakek tua terbelalak. Cio San mengambil tongkat ‘suci’ itu dari tangannya, seperti mengambil permen dari anak kecil.
“Silahkan, Locianpwe,” kata Cio San sambil berlutut, ia menyerahkan tongkat itu dengan penuh hormat.
Si kakek tetap menatapnya dengan terbelalak.
“Mengapa kau mengampuniku?” tanya si kakek.
“Karena ini semua salah paham, Locianpwe.” Cio San masih berlutut.
“Boanpwe bersumpah bukan boanpwe yang membunuh Ji Hau Leng. Ia benar-benar bunuh diri.”
“Apa sebab ia bunuh diri?” tanya si kakek.
Cio San sambil berlutut menjelaskan semuanya.
Kakek itu mendengarkan sambil meneteskan air mata. Hidup anak asuh kesayangannya bisa berakhir demikian menyedihkan.
“Kau tahu siapa si ‘otak besar’ itu?” tanya si kakek kemudian.
“Boanpwe sedang dalam perjalanan mencarinya,” jawab Cio San.
“Baik. Aku kini percaya sepenuhnya kepadamu, Pangcu.”
Jika ada orang yang bisa membunuhmu, tapi ia mengampunimu, tentu saja mau tidak mau, kau harus percaya kepada kata-katanya.
Malah kini ia berlutut juga, lalu bersoja (bersujud) di depan Cio San.
“Maafkan semua kesalahpahaman ini,” kata si kakek.
“Locianpwe, harap bangkitlah.” Cio San mengangkat tubuh si kakek itu.
Si kakek menatap Cio San, lalu menyodorkan tongkat hijaunya.
“Anda memang pantas dan berhak menjadi Ketua Kay Pang,” katanya.
Cio San tidak berani menerima tongkat itu. Tongkat hijau itu memang adalah tanda kehormatan Ketua Kay Pang. Siapa yang memegangnya, berarti ia adalah Ketua Kay Pang.
Cio San hanya berkata,
“Boanpwe tidak pantas memegangnya, Locianpwe. Harap Locianpwe simpankan sampai muncul Ketua Kay Pang yang sebenarnya, dan yang paling pantas.”
“Pangcu adalah orang yang paling pantas menjadi Ketua.”
“Boanpwe hanya seorang lelaki yang melaksanakan permintaan terakhir sahabatnya,” kata Cio San menggeleng. Lalu katanya, “Boanpwe mengerti betapa sucinya tongkat ini. Tidak mungkin pula boanpwe bawa-bawa. Harap Locianpwe saja yang menyimpannya, sampai tiba saatnya harus diserahkan kepada yang berhak.”
Lama si kakek berpikir, lalu ia akhirnya berkata, “Baiklah.”
Mereka kemudian bangkit dan berdiri.
“Apakah Pangcu benar-benar sudah menguasai 18 Tapak Naga?” tanya si kakek.
“Baru 3 jurus awal,” jawab Cio San. “Boanpwe melihat mendiang Ji-pangcu menggunakannya.”
“Sekali lihat, kau langsung bisa?” tanya si kakek.
Cio San hanya mengangguk.
Si kakek kemudian berkata,
“Cayhe (aku) sendiri pun belum pernah melihat ilmu dahsyat itu. Kitab aslinya memang tidak pernah ada, dan hanya diajarkan turun-temurun. Puluhan tahun yang lalu, Kay Pang mengalami kemunduran, sehingga ilmu 18 Tapak Naga seperti punah.”
“Salinan ilmu ini tersimpan di sebuah kain sutra, yang disimpan dalam sebuah golok. Lalu setelah mengalami berbagi kejadian, salinan itu kini dikuasai oleh Ketua Siau Lim-pay, Bu Lim Bengcu yang sekarang.”
“Sebelum Ji Hau Leng menjadi Ketua Kay Pang, aku sudah mengundurkan diri dari dunia persilatan. Beberapa bulan yang lalu, saat mendengar bahwa ia telah menguasai 18 Tapak Naga, aku sangat senang mendengarnya. Saat itu aku memutuskan untuk mencarinya. Saat sampai di markas, aku baru tahu bahwa beberapa hari sebelumnya, ia tewas di tanganmu. Dengan marah aku mengambil Tongkat Pemukul Anjing dan mencarimu sampai ke sini.”
“Jurus pertama Locianpwe, apakah itu jurus pertama dari ilmu Tongkat Pemukul Anjing yang tersohor itu?” tanya Cio San.
“Benar.”
“Hebat sekali. Boanpwe bahkan tidak sanggup menghindar.”
“Tapi dengan ilmu Pangcu, bukankah tidak perlu menghindar?”
“Haha... Boanpwe hanya beruntung.”
“Beruntung?”
“Benar, Locianpwe. Karena bingung, boanpwe secara tidak sengaja melancarkan Thay Kek Kun dan ilmu Menghisap Matahari sekaligus. Kedua ilmu ini memang dasarnya adalah ilmu bertahan, bukan ilmu menyerang. Eh tahu-tahunya, tenaga kedua ilmu saling berlawanan tapi juga saling melengkapi, hingga terjadilah hal seperti tadi.”
“Bagaimana jika Pangcu hanya melancarkan salah satunya saja?”
“Jika menggunakan Thay Kek Kun, tenaga dalam Locianpwe mungkin tidak akan terhisap, tapi akan kembali kepada diri sendiri. Jika hanya pakai ilmu Menghisap Matahari saja, tenaga Locianpwe akan terhisap seluruhnya, dan tubuh Locianpwe akan hangus terbakar.”
“Bukankah dengan menggabungkan kedua ilmu itu, seharusnya kekuatannya menjadi lebih dahsyat lagi?” tanya si kakek.
“Oh, begitu rupanya. Oh iya, ada satu hal yang lupa kukatakan padamu, Pangcu.”
“Ada petunjuk apa, Locianpwe?”
“Setiap Pangcu dari Kay Pang, harus menguasai jurus Tongkat Pemukul Anjing,” tukas si kakek.
Cio San hanya menghela nafas. Begitu banyak tanggung jawab yang harus diembannya. Sekarang ketambahan lagi, harus mempelajari jurus Tongkat Pemukul Anjing. Bukannya ia tidak senang mempelajari ilmu silat baru, hanya saja ia takut, ketambahan ilmu baru akan membuat ilmu silat yang pernah dipelajarinya menjadi membingungkan.
“Ketua baru Kay Pang, harap terima pengajaran,” seru si kakek.
Cio San berlutut.
“Nona, harap menyingkir sebentar,” kata si kakek kepada Ang Lin Hua yang sejak tadi sudah memilih duduk di atas batu besar di bawah sebuah pohon.
Ang Lin Hua mengerti, dan ia segera berlalu dari situ.
Si kakek mematahkan ranting bambu kecil, lalu berkata “Jadikan ini sebagai senjatamu. Lalu ikuti gerakanku, Pangcu.”
“Baik, Locianpwe.”
Segera si kakek bersilat. Cio San mengikuti gerakan-gerakannya dengan sebaik-baiknya. Semuanya hanya ada 10 jurus. Tapi merupakan jurus sangat dahsyat.
“Pangcu sudah hafal kesemua gerakan tadi?” tanya si kakek.
“Hampir,” jawab Cio San pendek.
“Baik. Coba tolong Pangcu lakukan semua gerakan itu.”
Cio San melakukannya. Kesepuluh jurus itu dilancarkan dengan tenaga dalam tinggi dan kecepatan yang mengagumkan.
Si kakek mengerutkan kening.
“Pangcu apakah belum hafal? Banyak gerakan-gerakan Pangcu yang salah.”
“Eh, maaf Locianpwe,” kata Cio San sambil garuk-garuk kepala.
“Harap perhatikan lagi.”
Si kakek mulai bersilat. Kekuatan dan kecepatannya sedikit lebih hebat dibandingkan yang tadi Cio San peragakan.
“Sudah hafal?” tanyanya.
“Sedikit,” jawab Cio San.
“Harap perlihatkan, Pangcu,” pinta si kakek.
Cio San melakukannya.
Kini jauh lebih salah dan keliru ketimbang saat pertama tadi.
Si kakek menggeleng-geleng kecewa.
“Pangcu, apakah sedang ada beban berat, sehingga tidak memusatkan pikiran?” tanya si kakek.
“Tidak, Locianpwe.”
“Lalu kenapa sekarang gerakannya tambah keliru seluruhnya?”
“Boanpwe hanya berpikir, Locianpwe.”
“Apa yang Pangcu pikirkan?”
“Bagaimana jika gerakan serangan musuh berbeda seluruhnya.”
“Maksud Pangcu?”
“Bagaimana jika saat kita melancarkan jurus pertama terhadap musuh, kemudian musuh menerima serangan itu dengan jurus seperti ini?”
Cio San lalu melancarkan sebuah jurus serangan. Jurus serangan yang tidak terlalu dahsyat, namun terlihat mantap dan efektif!
Si kakek terbelalak lagi.
“Eh, coba kuserang kau dengan jurus pertama, dan kautunjukkan jurusmu tadi.”
Ia menyerang Cio San dengan jurus pertama dari jurus Tongkat Pemukul Anjing. Cio San menerima serangan itu dengan sebuah jurus yang baru saja ditunjukkannya tadi.
Jurus sederhana, tidak cepat, tapi tepat. Sangat tepat.
Si kakek melongo ketika tongkat bambu Cio San telah berhenti tepat di depan hidungnya.
Hanya dengan sebuah gerak tipuan biasa, Cio San telah mampu menaklukkan jurus pertama dari ilmu Tongkat Pemukul Anjing.
“Kau.. kau.. Bagaimana bisa?”
“Itu karena boanpwe telah melihat dan mempelajari jurus Tongkat Pemukul Anjing dari Locianpwe, sehingga boanpwe bisa menciptakan jurus penangkalnya. Kalau orang baru pertama kali melihat, tentu tak akan mampu menciptakan penangkalnya,” jelas Cio San.
“Ah, jadi karena itu sudah ada di benakmu, maka kau mampu menciptakan jurus penangkalnya. Lantas, kau mengubah jurus Tongkat Pemukul Anjing menjadi berbeda?” tanya si kakek.
“Benar sekali, Locianpwe.”
“Baiklah. Coba kuserang kau dengan kesepuluh jurus Tongkat Pemukul Anjing, dan kau hadapi dengan ilmu penangkal yang sudah kau ciptakan.”
Cio San mengangguk.
Jurus kedua sudah dilancarkan si kakek. Cio San menangkalnya dengan pukulan tongkat yang sederhana.
Jurus demi jurus berlalu. Semuanya berhasil diatasi Cio San.
Si kakek hanya bisa diam membisu.
“Mengapa bisa menjadi seperti ini?” tanyanya kemudian.
“Itu mungkin, ketika pertama kali diciptakan, jurus ini hanya digunakan untuk menghadapi ilmu-ilmu kelas tinggi. Sehingga memang ditujukan untuk menghadapi ilmu-ilmu hebat. Musuh yang ketinggian ilmunya sudah mencapai tahap akhir, pasti akan melawan dengan jurus-jurus kelas tinggi dan dahsyat pula. Sehingga ia tidak melihat celah kosong yang bisa dihadapi dengan gerak sederhana,” jelas Cio San.
“Hmmm… Masuk akal juga. Atau bisa saja, ilmu itu ketika diturunkan turun-temurun kepada kami, telah kehilangan kedahsyatannya, karena pemahaman kami sendiri yang kurang mendalam terhadap jurus-jurus ini,” kata si kakek.
Cio San mengangguk-angguk. Sebuah ilmu memang dalam perjalananannya akan semakin menurun atau semakin dahsyat. Cuma, lebih sering ilmu silat itu menjadi menurun. Itu karena ilmu silat bergantung sekali terhadap pemahaman si pelaku, keadaan sekitar, pengalaman, dan lain-lain.
“Jadi saat Pangcu memainkan ilmu silat Tongkat Pemukul Anjing yang ‘ngawur’ tadi, apakah sudah sekalian menutup lubang dan kekurangannya?” tanya si kakek.
“Kurang tahu, Locianpwe. Boanpwe hanya bersilat ala kadarnya saja. Semua mengalir secara naluriah saja. Jika musuh menyerang dengan cara yang lain, mungkin jurusnya akan berubah lagi,” kata Cio San sambil garuk-garuk kepala.
“Bagaimana kalau kita coba saja?” tukas Cio San tiba-tiba.
“Locianpwe seranglah boanpwe dengan jurus apa saja yang lain. Karena kekuatan dan kecepatan Locianpwe jauh lebih tinggi dari boanpwe, seharusnya kita bisa melihat hasilnya,” kata Cio San lagi.
Si kakek lalu menyerang.
Jurus-jurus asli Kay Pang yang ia lakukan sangat cepat dan sangat bertenaga.
Cio San yang kalah cepat, sudah tidak mungkin menghindar. Oleh karena itu, sejak awal dia sudah memutuskan untuk tidak menghindar.
Ia malah bergerak maju menyerang.
Ini seperti bunuh diri. Karena pasti Cio San terhantam lebih dulu.
Tapi ada satu hal yang sudah ia pikirkan lebih dulu. Tongkat bambunya lebih panjang dari tongkat si kakek. Jangkauan tangannya lebih panjang dari jangkauan si kakek.
Oleh sebab itu serangannya sampai lebih dulu.
Menjadi lebih dahsyat, karena musuh menyerang sangat cepat dan penuh kekuatan.
Seperti saat kita bergerak berlari menabrak tembok. Jika berjalan pelan, rasa sakitnya tidak seberapa. Tapi jika kita berlari sekuat tenaga dan menabrak tembok, maka rasa sakitnya menjadi luar biasa.
Seperti itulah kejadiannya.
Jurus demi jurus dilancarkan si kakek, tapi ia seperti menghunjam tembok. Itulah kenapa di setiap jurus, ia selalu menghentikan serangannya. Karena ujung tongkat bambu Cio San selalu mencapainya terlebih dahulu sebelum serangannya sendiri sampai kepada sasaran.
“Hebat!” pujinya.
“Kau memanfaatkan situasi dan kelebihanmu sendiri untuk menutupi kekurangan,” ujar si kakek kagum.
Tapi ia lalu bertanya, “Bagaimana jika tubuhmu pendek, dan tongkatmu juga pendek? Tentunya kau tak akan bisa menggunakan serangan seperti tadi?”
“Boanpwe akan mencari cara lain,” jawab Cio San sambil tersenyum.
Si kakek mengangguk-angguk.
“Sudah setua ini, aku baru benar-benar paham, bahwa ilmu silat memang bukan sebuah bentuk jurus yang baku, melainkan mengalir mengikuti keadaan diri sendiri dan alam sekitar.”
Si kakek lalu jatuh berlutut dan menjura,
“Terima kasih atas petunjuknya, Tayhiap!”
Ia memanggil Cio San dengan sebutan Tayhiap!
Penghargaan tertinggi dalam dunia Kang Ouw.
Cio San malah berlutut dan bersujud,
“Terima kasih atas petunjuk, Suhu.”
“Ah, aku tak pantas Pangcu panggil sebagai suhu, justru seharusnya akulah yang memanggil Pangcu demikian.”
Mereka berdua berdiri. Ada perasaan saling menghormat yang dalam.
Mereka hanya saling pandang dan saling mengagumi kehebatan satu sama lain.
Anak muda yang penuh bakat, dan orang tua sakti yang rendah hati.
Saling mengakui kehebatan masing-masing.
Di dunia ini, jarang sekali ada orang yang mau mengakui kehebatan, kepandaian, dan kelebihan orang lain. Kita biasanya lebih suka mencibir. Karena sesungguhnya kita begitu iri dengan apa yang mereka miliki.
Orang jika sudah mampu mengakui orang lain, maka ia sebenarnya telah menaiki satu tahap dalam kebijaksanaan. Ia membuka diri terhadap perubahan, agar dapat memperbaiki dirinya.
Dari kejauhan terlihat titik hitam di atas langit.
Setelah semakin dekat, titik itu menjelma menjadi sekawanan burung yang terlihat ramai sekali.
Cukat Tong dan Suma Sun bergelantungan kepada burung-burung itu.
Cio San tersenyum.Selamat datang, Sahabat!