Dragon and Phoenix

Dragon and Phoenix
Bab 38: Bunga Merah yang Cantik



Cio San tidak menjawab pertanyaan Cukat Tong. Ia hanya tersenyum walaupun air mata sedikit menggenang di matanya.


Malah si nenek usai membaca surat itu lantas bersoja, bersujud di hadapan Cio San.


“Salam hormat, Kauwcu. Semoga panjang umur!”


Cio San segera bergegas menuju si nenek dan membantunya berdiri.


Katanya, ”Buat apa segala adat begini, Nona.”


“Mari ikut hamba masuk,” kata si nenek.


Mereka bertiga masuk ke dalam Istana Ular. Pemandangan di dalam lebih mengerikan dibandingkan dengan yang diluar. Puluhan mayat berserakan. Ada yang sudah menjadi arang, ada yang masih utuh. Banjir darah menggenang hampir di seluruh lantai. Cio San dan Cukat Tong hanya geleng-geleng kepala. Katanya pada Cukat Tong, “Urusan kubur-mengubur ini ternyata masih panjang.” Ditimpali oleh Cukat Tong dengan tertawa sedikit meringis.


“Kauwcu, mohon ceritakan apa yang telah terjadi?” tanya si nenek pada Cio San.


Cio San lalu bercerita sejak awal. Mulai dari saat ia ditotok Bun Tek Thian, dibawa ke markas Ma Kauw, menolong semua anggota yang keracunan, perjalanan di atas kapal, menemukan tiga mayat, lalu tentang kejadian pembunuhan di dermaga. Semua diceritakan secara lengkap dan jelas oleh Cio San. Kadang-kadang Cukat Tong


menambahkan sedikit cerita pula.


Si nenek jatuh terduduk dan menangis. Ia tidak berkata apa-apa. Pandangan matanya yang sejak tadi sendu, kini telah tertutup oleh air mata yang membasahi wajahnya.


Nasib dan umur manusia siapa yang tahu? Perjalanan hidup akankah diakhiri oleh kebahagiaan atau kesedihan? Maka itu, ketika engkau masih hidup, lakukan yang terbaik untuk orang lain. Agar saat engkau mati, orang lain yang akan menangisi engkau. Jika seumur hidup kau hanya hidup untuk dirimu, memikirkan kesenangan-kesenanganmu sendiri, bukankah saat engkau mati, tidak seorang pun yang mempedulikanmu?


Berbahagialah orang yang kematiannya ditangisi orang lain. Orang seperti ini telah meninggalkan bekas-bekas hidupnya dalam kenangan yang indah. Kenangan yang terus hidup bersama umat manusia, sepanjang dunia masih ada.


Karena orang-orang yang menangisimu, bukan bersedih karena kepergianmu. Mereka menangis karena mereka tak akan menemukan lagi orang sebaik engkau.


Cio San telah sering menangis. Terlalu banyak orang yang dicintainya pergi meninggalkannya. Maka ia bisa turut merasakan kesedihan si nenek.


“Nona, beristirahatlah dulu. Biar kami yang mengurusi kekacauan di sini,” katanya lembut.


Si nenek segera tersadar dan berkata,


“Hamba mana berani membiarkan Kauwcu membersihkan ini semua. Kauwcu beristirahatlah, biar hamba yang membersihkan.”


Ia segera berdiri dan mulai mengangkat beberapa mayat.


“Perintah Kauwcu, bukankah adalah kewajiban bagi anggota?” tanya Cio San kepadanya.


“Benar, Kauwcu,” jawab si nenek.


“Aku memerintahkanmu untuk istirahat!”


Si nenek tidak bisa berkata apa-apa lagi. Malah Cukat Tong yang tertawa. Katanya, “Kau tidak lupa kapal yang berlabuh di depan itu ‘kan?”


“Tentu tidak. Bisa tolong kau uruskan untukku? Biar aku yang mengurus mayat-mayat ini,” jawab Cio San.


“Tentu saja.” Sambil menukas begitu, tubuhnya pun sudah menghilang dari situ.


Tak lama kemudian terdengar bunyi ledakan. Tentunya Cukat Tong yang meledakkan kapal itu. Cio San tersenyum saja. Cukat Tong memang selalu memiliki barang-barang aneh yang sangat berguna.


Cio San membereskan mayat-mayat itu. Mengangkutnya ke luar pagar, tempat tadi ia menguburkan mayat-mayat yang lain. Cukat Tong datang dan membantu pula. Mereka lalu membuat lubang dan menguburkan semua mayat. Jika dihitung, ada ratusan mayat. Korban memang jatuh dari kedua belah pihak, pihak pembunuh yang datang


ke Istana Ular dan pihak anggota Ma Kauw sendiri yang berdiam di istana itu.


Setelah selesai mengubur, masih ada urusan membersihkan genangan darah pula. Cio San melakukannya dengan senang hati. Cukat Tong yang sedikit merengut. “Kau suka sekali berurusan dengan mayat,” katanya.


“Urusan dengan mayat jauh lebih gampang ketimbang urusan dengan manusia,” tukasnya sambil tersenyum.


“Betul juga.”


Begitu darah selesai dibersihkan, si nenek membantu menebarkan bunga-bungaan dan beberapa botol cairan pewangi. Ruangan dalam istana yang tadinya berbau amis darah, kini wangi dan segar. Si nenek juga sudah mengatur meja-meja dan kursi-kursi yang tadi berantakan.


Mereka semua duduk bertiga saling berhadap-hadapan. Cukat Tong mengeluarkan seguci arak. Si nenek ke belakang mengambil cangkir.


“Maafkan tadi hamba sudah berani sekali menyerang Kauwcu,” kata si nenek buka suara.


“Tidak apa-apa, Nona. Apakah seluruh anggota kita di istana ini sudah meninggal semua?” tanya Cio San.


“Iya, Kauwcu. Tadi pengkhianat-pengkhianat itu datang dengan kapal. Mereka adalah anggota-anggota Ma Kauw juga. Mungkin ada juga beberapa orang luar yang menyusup. Mereka bilang, akan mengantarkan mayat Kauwcu yang lama. Mereka juga bilang, kalau Kauwcu yang baru telah diangkat, namanya Cio San. Kauwcu baru itu


yang memerintahkan mereka untuk mengantarkan peti mati yang berada dipojok sana,” jelas si nenek sambil menunjuk peti mati yang berada di pojok.


“Ternyata setelah peti kami buka, ada beberapa orang yang keluar dari dalam dan langsung menyerang. Untunglah hamba bisa menghindar. Tapi beberapa saudara yang lain, tidak. Kami semua bertempur, dan akhirnya bisa Kauwcu saksikan sendiri.”


Cio San manggut-manggut. Ia sendiri sudah paham apa yang terjadi. Peti mati kosong yang berada di pojok ruangan sudah ‘menceritakan’ banyak hal kepadanya.


“Ah sampai lupa, hamba belum memperkenalkan diri…,” kata si nenek. “Tapi tentunya Kauwcu telah tahu siapa hamba.”


“Sesungguhnya engkau sakit apa sehingga keadaanmu menjadi demikian, Nona?” tanya Cio San.


“Tapi kalau Nona tidak leluasa bercerita, tidak apa-apa. Aku bisa mengerti,” lanjutnya.


“Hamba…hamba mencoba-coba belajar ilmu Menghisap Matahari,” jawab si nenek.


“Apakah ilmu Menghisap Matahari tidak boleh dipelajari wanita?” tanya Cio San.


“Sebenarnya boleh, Kauwcu. Tetapi wanita hanya boleh sampai tingkat ke-7. Lebih dari itu, maka..maka…” Ia tidak melanjutkan kata-katanya.


“Ah, aku mengerti,” jawab Cio San sambil manggut-manggut.


“Aku yang tidak mengerti,” tukas Cukat Tong.


Cio San tersenyum saja. Katanya kepada Cukat Tong, “Nona tidak mau cerita, masa aku yang cerita rahasianya...”


Cukat Tong berpikir sebentar. Lalu akhirnya ia tersenyum pula, “Ah, aku paham sekarang.”


“Baguslah,” kata Cio San.


“Nama cayhe Cukat Tong,” kata si Raja Maling memperkenalkan diri sambil menjura.


“Nama cayhe Ang Lin Hua.”


Ia memang cantik. Matanya, walaupun terlihat selalu sendu dan sedih, memantulkan cahaya yang indah. Wajahnya, walaupun pucat dan penuh keriput, masih menyimpan garis-garis kecantikan yang tak terkatakan.


“Apakah Nona sudah berusaha mencari obatnya?” tanya Cio San.


“Hamba sudah berusaha, tapi tabib-tabib Ma Kauw semua mengatakan hal yang sama.”


“Apa kata mereka?”


“Penyakit ini hanya bisa disembuhkan oleh satu orang. Satu orang itu pun sudah meninggal


pula.”


“Siapa?” Cio San dan Cukat Tong sama-sama bertanya.


“Thio Sam Hong.”


Mereka berdua sama-sama menghela nafas. Thio Sam Hong, sang mahaguru, memang adalah seorang yang mempunyai pengetahuan sangat luas. Selain ilmu silat, ilmu pengobatannya pun terkenal hebat. Saking hebatnya ilmu silat serta kecerdasannya, orang-orang di dunia Kang Ouw menyebut beliau sebagai ‘Thay San Pek Tau’ yang artinya adalah ‘Gunung Thay San dan Bintang Utara’. Sebutan ini berarti ‘Kiblat’ atau ‘Panutan’.


Orang yang mendapat julukan ini di dalam dunia Kang Ouw memang baru beliau satu-satunya.


Jadi, jika Ang Lin Hua berkata bahwa hanya Thio Sam Hong yang bisa mengobati sakitnya, mau tidak mau, Cio San dan Cukat Tong menghela nafas. Memangnya selain beliau, siapa lagi yang bisa?


Tapi beliau telah meninggal 50 tahun yang lalu. Orang-orang Bu Tong-pay, mulai dari ketua sampai anggotanya pun, tidak ada yang menguasai ilmu pengobatan Thio Sam Hong. Toh kalaupun ada, apa mereka mau menolong seorang anggota Ma Kauw?


Peluang bagi kesembuhan nona ini bisa dibilang telah tertutup sama sekali.


Cio San hanya bisa terdiam.


Cukat Tong hanya menenggak araknya berkali-kali.


“Tuan berdua istirahatlah. Sebentar lagi pagi. Biar hamba yang berjaga-jaga, kalau-kalau musuh datang lagi,” kata si nenek memecah kesunyian.


Cukat Tong malah menjawab, “Jangan khawatir. Mereka tidak akan berani kemari lagi!”


Tentu saja. Jika si ‘otak besar’ telah tahu betapa hebatnya ilmu Cio San, dia tak akan repot-repot mengirim orang mengantar nyawa dengan percuma.


“Nona. Kaulah yang beristirahat. Jika kau sudah bangun nanti, aku akan minta tolong kepadamu untuk mengantarkanku keliling istana ini,” kata Cio San.


Bukankah kata-kata Kauwcu adalah perintah?


Si nenek mengangguk dan menjura, “Terima kasih atas kebaikan Kauwcu.”


Ia pun menghilang di balik pintu kamarnya.


“Wanita yang hebat,” kata Cukat Tong setelah bayangan Ang Lin Hua menghilang.


Cio San hanya mengangguk-angguk. Dia sudah menenggak arak lagi.


“Sejak kapan kau tahu bahwa dia adalah putri dari Kauwcu yang lama?” tanya Cukat Tong.


“Saat aku menyentuh pergelangan nadinya. Denyutan yang kurasakan adalah denyut orang yang muda usianya. Orang yang masih muda. Walaupun bagian luarnya terlihat tua, tetap akan ketahuan dari denyut nadinya. Demikian juga sebaliknya. Orang yang sudah tua namun terlihat masih muda, tetap denyut nadinya akan mengatakan bahwa


ia sudah tua.”


“Hanya dari denyut nadi, kau bisa membedakan?” tanya Cukat Tong.


“Organ tubuh orang muda dan tua, tidaklah sama. Sesehat apapun orang tua, cara kerja organ tubuhnya sudah berbeda dengan orang muda,” jelas Cio San.


“Walaupun orang tua itu memiliki tenaga sakti dan ilmu silat tinggi sekalipun?” tanya Cukat Tong lagi.


“Benar. Meskipun susah membedakannya, tapi aku bisa,” jawab Cio San.


Cukat Tong geleng-geleng kepala lagi. Entah kenapa sejak bertemu Cio San, ia menemukan kebiasaan baru. Kebiasaan geleng-geleng kepala.


Cio San berkata,


“Ketika aku memegang denyut nadinya, aku lalu teringat surat Kauwcu yang lama, bahwa putrinya sedang sakit. Mungkin si nenek itulah putrinya. Apalagi, dia bisa menguasai jurus Menghisap Matahari. Sejauh ini, bukankah hanya ketuanya saja yang boleh menguasai ilmu ini?”


Cukat Tong manggut-manggut saja.


“Ilmu Menghisap Matahari itu sangat dahsyat, sampai-sampai jika kaum wanita mempelajarinya, si wanita itu akan menjadi tua. Rambutnya memutih dan kulitnya mengeriput. Tapi bagusnya, organ bagian dalamnya tetap berfungsi seperti biasa. Tidak ikutan tua. Ah, pengetahuan yang baru. Sangat menarik,” kata Cio San.


Lama mereka melamun sambil minum arak.


“Walau sudah seperti nenek begitu, ia masih saja cantik. Kalau dia bisa sembuh, aku akan segera mengawininya.”


Cio San tertawa lebih keras lagi.


“Kenapa tertawa? Apakah kau merasa lucu? Arak yang kau tenggak sekarang rasanya seperti cuka? Hahahahaa…” Cukat Tong tertawa.


Istilah ‘minum cuka’ bagi orang Tionggoan berarti ‘cemburu’.


“Arak dan gucinya ini, kau ‘kan yang bawa? Kalau rasanya seperti cuka, tentunya itu berasal dari engkau,” kata Cio San sambil tertawa.


“Kalau rasanya seperti cuka, kenapa juga masih kau minum?” jengek Cukat Tong sambil tertawa juga.


“Aku menghabiskan isi gelasku, karena ingin kupinjamkan kepadamu. Khawatir cangkirmu tidak mampu menampung cukamu sendiri.”


Mereka berdua tertawa keras sekali.


“Eh, tapi kau harus pegang kata-katamu,” kata Cio San.


“Kata-kata apa?”


“Bahwa kau akan menikahinya, jika ia sudah sembuh,” jelas Cio San.


“Memangnya kenapa?”


“Aku akan menyembuhkannya besok,” kata Cio San enteng.


Cukat Tong tahu Cio San tidak berbohong.