Dragon and Phoenix

Dragon and Phoenix
Bab 7: Kebenaran



Bola mata Cio San membesar tapi dia tidak berani berkata apa-apa.


“Bukan saja mengerti di mana kitab itu berada, tapi akulah pemilik yang sah dari kitab itu. Ketahuilah, bahwa nama asliku adalah Kam Ki Hiang!”


Agak lama ia terdiam, baru kemudian melanjutkan,


“Sebelum bertarung dengan Thio-thaysuhu, aku meminta syarat kepada beliau. Bahwa jika aku mampu mengalahkan beliau, maka posisi sebagai Ketua Bu Tong-pay harus diberikan kepadaku. Beliau hanya tersenyum dan menyetujuinya. Dan sebagai gantinya, aku sendiri yang memberi usul, bahwa jika aku kalah, aku rela


memusnahkan seluruh ilmu silatku dan seumur hidup mengabdi kepada Bu Tong-pay.”


“Saat mendengar aku sudah mati, banyak tokoh silat yang punya dendam terhadapku naik ke Bu Tong-san untuk menanyakan langsung kepada Thio-thaysuhu, apakah aku benar telah mati. Mereka tahu bahwa Thio-thaysuhu tak akan berbohong dan kata-katanya adalah emas.”


“Thio-thaysuhu tidak pernah berbohong sedikitpun, saat beliau berkata bahwa Kam Ki Hiang sudah mati. Memang, sebenarnya Kam Ki Hiang yang sombong dengan silatnya itu sudah mati. Yang ada kini adalah A Liang si tukang masak.”


“ mencampurkan ilmu Bu Tong-pay dengan petunjuk-petunjuk ketabiban di dalam buku itu.”


“Aku pikir hanya kebetulan belaka bahwa engkau sanggup menciptakan jurus-jurus itu. Tetapi setelah lama kupikir, aku merasa ilmu di dalam kitab yang kupelajari itu sebenarnya mempunyai sumber yang sama dengan ilmu-ilmu Bu Tong-pay, sehingga mempunyai beberapa kemiripan.”


“Kau adalah anak kecil yang sangat berbakat, Cio San....” Ucapannya tidak dilanjutkan karena A Liang kini terbatuk-batuk.


“Turunilah terus lembah ini, mudah-mudahan kita segera bisa lolos dari kejaran murid-murid Bu Tong-pay. Kau harus terus hidup, Cio San. Supaya kau bisa membersihkan nama kita dari fitnah besar ini. Aku yakin kematian orangtuamu juga ada hubungannya dengan peristiwa-peristiwa ini.”


“Iya, Lopek. Teecu akan terus berusaha.... Lopek beristirahatlah sebentar menyimpan tenaga dalam gendongan teecu...”


Walaupun tenaganya semakin terkuras karena berjalan tanpa henti sambil mengendong A Liang, Cio San yang sekarang ini tidak lagi cepat kelelahan dan kehabisan tenaga. Latihannya yang hampir 3 bulan diatas puncak Bu Tong-san, sudah bisa membuatnya disebut pendekar muda berbakat, walaupun umurnya baru belasan tahun.


Ia terus berjalan menuruni tebing hutan yang terjal itu. Pikirannya menerawang dan terus berpikir. Tentang nasib dirinya, dan Lau-ciangbunjin yang mungkin saja sudah terbunuh. Juga tentang pengorbanan besar A Liang menyelamatkan dirinya.


Tak terasa ia terus berjalan hingga hampir pagi. Ia beristirahat sebentar dan memeriksa keadaan A Liang. Ia memegang nadi tangan A Liang. Ternyata nadi itu sudah berhenti berdetak. Tak percaya, ia mencoba lagi. Kali ini memegang dada A Liang untuk memeriksa detak jantungnya. Ternyata memang tidak ada detakan di sana. A Liang sudah tewas.


Ingin rasanya Cio San berteriak melepaskan seluruh penderitaannya. Namun ia menahan diri, karena tahu teriakannya mungkin akan terdengar oleh para pengejarnya. Ia hanya bisa meneteskan airmata dengan deras, menahan kepiluan hatinya.


Ia paham bahwa A Liang telah berkorban besar baginya, dan juga untuk mempertahankan sumpah A Liang itu sendiri.


Jika seorang pendekar bersumpah untuk tidak mempergunakan ilmu silatnya lagi selamanya, maka janji itu harus dipegang walau nyawa taruhannya. Itulah sebabnya A Liang hanya bisa menghindari pukulan dan keroyokan para murid Bu Tong-pay, tanpa bisa membalas atau bahkan menangkisnya. Padahal jika ia mau, dengan ilmu yang dimilikinya, ia bisa saja mengalahkan atau bahkan membunuh mereka semua.


Teringat dia akan segala kebaikan dan ketulusan A Liang. Hanya dia dan Beng Liong yang mau bersahabat dengannya. Di dalam perguruan sebesar Bu Tong-pay yang berisi hampir seribu orang, mungkin hanya suhunya, Tan Hoat, A Liang, dan Beng Liong yang baik kepadanya. Ia juga mengingat jasa dan kebaikan Lau-ciangbunjin, sang Ketua Bu Tong-pay. Hanya orang-orang inilah yang baik terhadapnya. Kini mereka semua telah tiada. Hanya Beng Liong saja tersisa. Itupun mungkin sekarang Beng Liong memusuhinya juga karena peristiwa yang baru saja terjadi ini.


Cio San melanjutkan perjalanan dalam kesedihan. Ia tak ingin meninggalkan jasad A Liang sendirian di hutan itu. Ia bertekad membawa jasad itu ke tempat yang aman. Lalu akan ia kuburkan dengan khidmat.


Ia terus berjalan dan berjalan. Entah sudah berapa lama, entah sudah berapa jauh. Tenaganya telah habis terkuras, kesadarannya pun mulai berkurang. Langkah demi langkah ia jalani. Di dalam kegelapan seperti ini, kemana kan pergi? Ia hanya tahu bahwa ia harus terus berjalan, terus menelusuri hutan ini. Entah akan sampai di mana.


Tiba-tiba langkahnya gontai dan ia terjatuh. Di dalam gelap, di tengah kesadaran yang berkurang, serta tenaga yang hampir habis, Cio San terjatuh. Ia tidak tahu lagi ia terjatuh di mana. Cio San pun kehilangan kesadarannya.


Ketika ia tersadar, semua masih terlihat gelap. Cio San tak tahu kini berada di mana. Ia menunggu sebentar agar kesadarannya pulih sempurna. Tubuhnya terasa sakit semua. Ia berdiam diri lama sekali. Mencoba mengalirkan chi ke seluruh tubuhnya. Lama-lama tubuhnya mulai terasa segar. Perlahan-lahan kesadarannya pulih seluruhnya. Cio San kini sadar bahwa separuh tubuhnya terendam di dalam air. Kiranya dia kini berada di tepian sungai. Tapi mengapa semuanya gelap. Apakah ia kini telah menjadi buta? Ia menjadi panik, namun berusaha untuk tetap


tenang. Ia menoleh ke kiri dan ke kanan memastikan apakah ia benar-benar buta.


Tak sengaja ternyata ia melihat titik cahaya tak jauh dari tempatnya berbaring. Ia lalu menuju ke titik itu dengan cara merangkak. Seluruhnya sangat gelap sehingga ia harus berhati-hati. Apalagi pijakannya sangat licin karena berupa


batu-batuan dan air sungai.


Akhirnya ia berhasil juga mencapai sumber titik cahaya itu. Ternyata aliran sungai keluar lewat situ. Titik cahaya itu adalah terowongan tempat keluarnya aliran air sungai.


Cio San lega. Ternyata ia tidak menjadi buta.


Mata manusia secara naluriah ternyata menyesuaikan diri dengan kegelapan. Begitu juga dengan mata Cio San. Lambut laun ia akhirnya mulai bisa melihat sedikit di dalam kegelapan. Ia ternyata berada dalam sebuah goa di dalam perut bumi. Entah bagaimana ia bisa berada di dalam sana. Mungkin ia terjatuh di dalam sungai, lalu air sungai membawanya masuk ke dalam perut bumi. Ia tidak tahu pasti.


Tiba-tiba ia teringat akan jasad A Liang yang digendongnya. Apa yang terjadi dengan jasad itu? Cio San memberanikan diri untuk mencari jasad A Liang itu.


Tak berapa lama akhirnya ia menemukan jasad A Liang. Dibawanya jasad itu ke lubang terowongan air, agar bisa melihat dengan jelas menggunakan cahaya yang masuk dari situ. Ternyata jasad A Liang sudah rusak. Sebagian tubuhnya remuk.


Apa yang sebenarnya terjadi?


Ternyata ketika mereka terjatuh dari puncak tebing, jasad A Liang lah yang secara tidak sengaja menyelamatkan Cio San. Jasad itu menjadi sejenis tameng yang menjaga Cio San dari batu-batuan sungai. Jasad itu jugalah yang mungkin menjaga agar Cio San tidak tenggelam.


Sungguh beruntung. Keputusan Cio San untuk terus menggendong jasad A Liang ternyata membawa kebaikan bagi dirinya sendiri. Begitulah, jika orang melakukan sesuatu penuh ketulusan, maka yang ada hanyalah balasan yang baik.


Ia lalu teringat bahwa di kantongnya terdapat batu api yang diberikan oleh A Liang. Begitu dicarinya, ternyata batu itu masih ada, namun basah. Tiba-tiba muncul dalam pikirannya untuk memeriksa kantong baju di jasad A Liang juga. Setelah mencari, ternyata ia menemukan pisau. Pisau itu memiliki sarung yang terbuat dari kulit hewan.


“Betapa mulianya Liang-lopek,” pikir Cio San. ”Bahkan saat sudah meninggal pun, ia masih memberi pertolongan kepadaku.” Memang sebagai tukang masak, A Liang selalu membawa batu api dan pisau.


Cio San lalu meletakkan pisau dan batu api tadi di tempat yang kering. Lebar terowongan itu memang cukup besar. Dan ada terdapat beberapa bagian yang sama sekali kering dan tidak dialiri aliran sungai.


Ia lalu memutuskan untuk beristirahat sebentar. Kejadian yang baru saja dialaminya memang sangat menguras tenaga dan pikiran.


Lama ia tertidur pulas. Begitu bangun, ia terpikir untuk menguburkan jasad A Liang. Cio San mencari-cari pijakan yang agak lembek yang bisa digali menjadi kuburan A Liang. Lama ia berputar-putar namun tidak ditemukannya. Dengan berat hati ia memutuskan untuk membakar saja jasad A Liang. Tetapi setelah berpikir, ia khawatir asap yang ditimbulkan malah memenuhi goa itu dan tidak bisa keluar. Ia terus memutar akal bagaimana cara mengurusi jenazah orang yang sangat dihormatinya itu.


Karena masih bingung, untuk sementara Cio San mencoba melupakannya. Ia lalu memeriksa batu api yang tadi dikeringkannya. Nampaknya sudah mulai kering. Ia lalu mencoba membuat api. Cio San berjalan mengelilingi terowongan itu mencari kayu-kayuan yang mungkin saja hanyut terbawa aliran sungai.


Dasar beruntung, tidak lama kemudian, kayu itu ditemukannya. Malah lumayan banyak. Ada yang kering, ada yang basah. Ranting-ranting itu ia kumpulkan di suatu tempat. Dengan hati-hati Cio San mencoba membuat api.


Lama ia mencoba akhirnya batu api memercik juga. Lalu dibakarkannya ke kayu dan berhasil. Goa itu lumayan terang sekarang. Cio San lalu memandang ke sekelilingnya. Memandang dinding-dinding goa itu.Ternyata tembok itu di penuhi tanaman sejenis lumut dan jamur. Cio San mendekati tanaman itu dan memeriksa apakah lumut dan jamur itu bisa dimakan. Kesenangannya membaca buku, ternyata berbuah manis. Pengetahuannya tentang tumbuh-tumbuhan ternyata sangat berguna sekarang.


Dari buku masak A Liang, Cio San belajar bagaimana cara membedakan jamur yang beracun dengan yang tidak. Cara ini bahkan pernah ia coba ketika tinggal di puncak Bu Tong-san saat menjalani hukuman.


Ia memetik berbagai macam jamur yang tumbuh disitu. Sebagian jamur ada yang dikenalnya. Ada yang beracun dan ada yang tidak beracun. Masing-masing ia kelompokkan sendiri-sendiri. Jika ia menemukan jamur yang belum pernah dikenalnya. Ia melakukan uji coba untuk mengetahui jenis jamur itu.


Menurut kitab yang dibacanya, cara mengetahui kandungan racun dalam sebuah jamur adalah dengan merendamnya di dalam air untuk beberapa lama. Jika kemudian jamur itu berwarna keungu-unguan, maka jamur itu beracun. Jika tidak, maka jamur itu aman.


Begitulah, akhirnya Cio San menemukan makanan. Dengan menggunakan beberapa batu-batuan serta ranting-ranting kayu, Cio San akhirnya memanggang jamur-jamuran itu. Rasanya nikmat juga setelah dimakan.


Setelah kenyang, Cio San beristirahat sebentar. Ia merasa sangat segar dan seperti mendapat kekuatan baru. Ia mulai memikirkan lagi bagaimana cara menguburkan A Liang.


“Mungkin jika kutelusuri terus awal mengalirnya sungai ini, aku bisa menemukan jalan keluar.”


Ia lalu menyalakan api yang ia gunakan sebagai penerang. Lalu menyusuri sungai itu. Ia ingin mencari dimana sumber air itu. Jalan itu ternyata panjang sekali. Bahkan kira-kira sepembakaran hio (sekitar 15 menitan), ia belum menemukan sumber air itu.


“Panjang juga terowongan ini,” pikirnya.


Tapi di sepanjang perjalanan, ia menemukan bahwa ternyata pijakannya tidak hanya berupa bebatuan keras saja, namun ada juga yang berupa tanah.


“Hmmm...daerah yang diliputi tanah ini bisa dijadikan sebagai kuburan Liang-lopek. Syukurlah.”


Walaupun sudah menemukan tempat yang baik untuk kuburan A Liang, Cio San memutuskan untuk terus menyusuri jalan itu. Sampai kira-kira sepeminum teh baru akhirnya ia mendengar suara bising yang cukup keras. Cio San bergegas ke arah suara itu, ternyata suara itu berasal dari deburan air terjun.


"Ah, ternyata ada sebuah air terjun yang muncul dari dinding goa. Indah sekali.”


“Mungkin dari dalam air terjun inilah aku bisa masuk ke dalam terowongan ini.”


Cio San lalu memeriksa air terjun itu. Walaupun tidak cukup besar, air terjun itu lumayan deras. Cio San lalu memeriksa lubang tempat keluar air terjun itu. Ternyata cukup untuk dilewati orang dewasa, tapi dengan cara berbaring.


“Bagaimana mungkin aku bisa melawan kekuatan air terjun itu dengan cara berbaring? Berenang jelas tidak mungkin, karena lubang itu tidak cukup lebar saat aku merentangkan tangan. Sungguh suatu keajaiban, aku dan jasad A Liang bisa melewati lubang ini dan sampai disini.”


Jika bisa berenang pun tentulah dibutuhkan tenaga yang sangat kuat, karena dorongan air itu sungguh dahsyat. Cio San meletakan tangannya di air terjun itu, mencoba merasakan kekuatan hempasan airnya.


“Wah, sungguh dahsyat sekali air terjun ini. Kekuatannya bahkan mungkin bisa memecahkan buah kelapa jika kuletakan buah itu dibawahnya,” pikir Cio San.


Agak kecewa juga Cio San melihat kenyataan, bahwa ia tidak mungkin keluar melewati sumber air terjun itu. Ia lalu melihat ke sekeliling, mencoba untuk mencari tempat lain yang bisa ia gunakan sebagai jalan keluar.


Tetapi setelah lama mencari, ia akhirnya putus asa juga. Ada rasa takut yang hinggap dalam dirinya bahwa ia mungkin harus tinggal di dalam goa itu. “Tapi tampaknya itu lebih baik daripada hidup terus dikejar-kejar orang.”


Berpikir seperti itu, rasa takutnya perlahan-lahan menghilang.


Cio San lalu kembali ke tempat ia meletakkan jasad A Liang. Dibawanya jasad itu ke tempat dimana ia tadi menemukan daerah yang bertanah. Ia lalu menggali tanah itu dan menguburkan jasad A Liang.


“Terima kasih, Lopek. Walaupun teecu ingin sekali memanggilmu ‘Suhu’, namun engkau pasti akan marah jika teecu panggil Suhu. Persahabatanmu begitu tulus, engkau pun lelaki sejati yang memegang janji sampai mati. Semua pertolongan, kebaikan, dan segala yang engkau ajarkan kepada teecu, tidak akan pernah kulupakan.”


Setelah berdoa lama sekali, Cio San bersoja sebanyak tiga kali. Matanya basah mengingat sosok A Liang. Memang persahabatan mereka hanya sebentar saja, namun cukup memberi bekas yang amat dalam bagi Cio San.


Ia kini sendirian. Kembali duduk di tempat tadi ia memasak. Karena hanya dari situlah ada sedikit cahaya yang masuk dari luar. Namun cahaya itu perlahan-lahan meredup. Nampaknya malam telah datang. Sekali lagi Cio San


memanggang jamur-jamuran untuk makan malamnya. Setelah makan ia lalu tertidur pulas.