Dragon and Phoenix

Dragon and Phoenix
Bab 69: Pengorbanan Sang Pahlawan



Tidak ada yang berani melangkah duluan.


Mereka semua sudah mengurungnya. Tapi tak ada satu pun yang berani melangkah maju.


Beberapa orang melangkah ke depan. Tapi mereka tidak menyerang.


“Biar bagaimanapun, Cio-siansing telah menolong nyawaku saat keracunan kemarin. Aku maju untuk membelanya,” kata salah seorang.


Beberapa orang yang lain pun ikut maju dan teriak, “Benar!”


Puluhan orang yang maju ini adalah orang-orang yang beberapa hari lalu sempat ditolong Cio San saat mereka keracunan jarum beracun. Orang-orang golongan ‘bawah’. Kaum LiokLim yang selama ini dianggap rendah, tidak terhormat, dan tidak masuk hitungan dalam dunia Kang Ouw.


Mereka semua kini di pihak Cio San.


Cio San berkata kepada mereka,


“Para Enghiong semua, ini bukan urusan para Enghiong. Harap jangan menyia-nyiakan nyawa. Tidak ada hutang-piutang di antara kita.”


“Hutang nyawa bayar nyawa. Masa urusan ‘kecil’ seperti ini, In-hiap (Tuan Penolong) tidak paham?” kata mereka.


Kadang-kadang, ketulusan terbaik hanya bisa ditemukan di antara orang-orang yang dianggap hina.


“Tuan-tuan sekalian memang lebih pantas disebut Enghiong, ketimbang para terhormat dari perguruan lurus ini.” Cio San sengaja mengeraskan suaranya.


“Cuih! Orang-orang seperti kalian masa ada harga di mata kami. Mau jual kepandaian apa?” kata salah seorang. Ia adalah Ketua Hoa San-pay.


“Lalu kenapa Ciangbunjin (Ketua) tidak segera maju menghajar kami?” kata Cio San sambil tersenyum.


“Maju ya maju saja, memangnya siapa takut?”


Karena takut kehilangan muka, Ciangbunjin nya Hoa San-pay ini akhirnya melangkah ke depan.


Cio San pun melangkah ke depan.


“Hati-hati, Liong Kiam-enghiong. Orang itu banyak tipu dayanya,” kata Hong-taysu dari Siau Lim-pay memperingatkan.


“Sekalian serbu saja!” salah seorang memberi usul. Cio San tidak kenal namanya.


“Ayo maju bersama!”


“Ayo!”


“Ayo!”


Karena disemangati seperti itu, tentu saja mereka menjadi berani. Keberanian manusia akan timbul, kalau merasa jumlahnya banyak.


“Ciaaaaaaaatttttttt!!!”


Serangan mereka pun tumpah ruah.


Siapa orang di dunia yang bisa membayangkan betapa ganasnya serangan ini?


Hampir seluruh murid perguruan terkenal dari partai ‘lurus’ yang datang ke puncak Thay San, mengerahkan segala kemampuan terbaiknya untuk melancarkan satu serangan ini.


Jurus pedang terbaik Bu Tong-pay.


Jurus tongkat terbaik Siau Lim-pay.


Jurus pedang terbaik Go Bi-pay.


Dan seluruh jurus-jurus terbaik setiap partai.


Bersatu kepada satu titik.


Manusia menyebalkan bernama Cio San bersama kawan-kawannya.


Membayangkan ada serangan seperti ini saja, membuat manusia sudah bergidik ketakutan. Apalagi menyaksikan langsung.


Kilatan pedang, golok, tongkat, dan segala macam senjata, bersatu-padu dalam sebuah serangan yang teramat sangat dahsyat.


Suara menggelegar teriakan mereka bahkan sedemikian kerasnya, sehingga mencapai bagian bawah gunung Thay San.


Jangankan manusia, naga jika mendengarkan gelegar itu pasti akan mengkeret ketakutan!


Cio San melangkah ke depan.


Tangannya mengembang. Jurus pembuka Thay Kek Kun. Tangan kanannya berada di depan membentuk sebuah tinju. Tangan kirinya menggantung kebelakang mengeluarkan bunyi derik yang menakutkan.


Para sahabat barunya pun sudah menerjang ke depan mengikutinya. Ada pula yang menjaga daerah belakang. mereka semua berdiri saling memunggungi.


Mereka melesat lebih dulu.


Tapi entah bagaimana, Cio San lah yang sampai lebih dulu menerima serangan.


Duuuaaaaaaaaaaarrrrrrrrrr…………...!!!!!!!!!!!!!!


Adu tenaga yang menggetarkan jiwa. Bahkan jantung manusia pun bisa copot mendengar dentuman tenaga ini.


Tinju kanannya melontarkan jurus ketiga dari ilmu pukulan dahsyat 18 Tapak Naga.


‘Naga Bertempur di Alam Liar’


Cio San tidak tahu nama jurusnya, karena itu ia tak mampu meneriakkannya. Padahal konon, ilmu 18 Tapak Naga akan menjadi lebih dahsyat jika dilancarkan bersama teriakan.


Telapak kirinya mengeluarkan getaran dahsyat yang menangkis segala senjata yang menghunjam dirinya. Dengan sekali sapuan saja, sudah ada puluhan senjata yang tertangkap tangannya.


Para penyerang yang menerima serangan tangan kanan Cio San, terlempar beberapa tombak jauhnya. Darah segar muncrat dari mulut mereka. Walaupun mereka murid utama perguruan-perguruan utama pula, masakah mampu menahan dahsyatnya 18 Tapak Naga?


Mereka yang senjatanya berhasil direbut Cio San, hanya bisa melongo saat gerakan tangan kiri Cio San membentuk jurus Memetik Awan dari Bu Tong-pay dan menghempaskan mereka pula!


Begitu menoleh ke belakang, Cio San melihat betapa para sahabat barunya ini banyak yang berguguran. Sehebat-hebatnya mereka, toh tak bisa menahan gempuran dahsyat seperti ini.


Dengan marah, Cio San melompat mundur untuk menghadapi gempuran yang datang dari arah belakangnya. Di tangannya kini sudah ada sebuah tongkat dan juga ada sebuah pedang. Dengan fasih ia melancarkan dua ilmu sekaligus, ilmu Tongkat Pemukul Anjing dan ilmu pedang milik Pendekar Pedang Kelana. Langkah kakinya pun mengikuti jurus Melangkah Mendaki Awan-nya Bu Tong-pay.


Betapa hebat hasilnya!


Suara mendengung dari tongkatnya, bersatu dengan suara mencicit mendesing dari pedangnya. Orang-orang hanya mampu melihat kilatan bayangan tubuhnya saja. Bahkan kilatan senjata di tangannya tak ada seorang pun yang mampu melihat!


Tahu-tahu telah timbul luka di tubuh mereka!


Tahu-tahu mereka telah terhempas jauh ke belakang!


Tanpa pernah tahu, apa yang melukai mereka atau yang menyambar mereka!


Para Ciangbunjin yang berada di belakang menyaksikan ‘pembantaian’ ini, sama sekali tidak menyangka bahwa Cio San sanggup melakukan hal tersebut.


Ilmu yang sama sekali tidak mereka bayangkan sebelumnya. Bagaimana mungkin pemuda ingusan itu mampu menggabungkan ilmu-ilmu dahsyat yang secara teori dan filsafat sangat berbeda?


Bagaimana mungkin, hasil gabungan itu dapat menjadi sedemikan luwesnya, sehingga hampir-hampir mereka melihat bahwa Cio San sedang menciptakan jurus yang sama sekali asing namun sekaligus juga ‘akrab’ bagi mereka?


Awalnya mereka mengira Cio San akan mati dibantai ribuan orang murid-murid mereka. Tapi kini jelaslah di mata mereka, Cio San lah yang membantai murid-murid mereka. Sekali serang, ia bisa mengalahkan, melumpuhkan, atau bahkan membunuh 10 sampai 20 orang.


Tinggal menunggu waktu saja, sampai ribuan orang ini berhasil ia lumpuhkan semuanya!


Para Ciangbunjin dan Tetua perguruan ini heran. Mengapa tenaga pemuda ingusan ini seperti tidak ada habis-habisnya?


Pendekar manapun jika mengeluarkan tenaga sebesar itu, dalam puluhan jurus saja akan kelelahan. Tapi Cio San tidak.


Tubuhnya bergerak cepat seperti kilat. Deru debu dan percikan darah membuat malam berubah menjadi semakin kelam.


Teriakan orang yang terluka atau mati, membuat jantung terasa dibetot keluar.


Ratusan tubuh yang bergelimpangan, membuat orang bisa memuntahkan habis makanan yang ada di perutnya.


Bagaimana mungkin pemuda ingusan ini bisa melakukannya?


Seumur hidup, baru pertama kali ini mereka menyaksikan hal seperti ini!


Bagaimana Cio San melakukan hal menakjubkan seperti itu?


Mengeluarkan tenaga sebesar itu tanpa kelelahan sama sekali?


Para Ciangbunjin dan Tetua itu lupa atau mungkin tidak tahu, bahwa Cio San menguasai ilmu Menghisap Matahari. Ilmu milik Ma Kauw itu membuatnya mampu menghisap tenaga dalam orang lain.


Hebatnya Cio San adalah, ia mampu menggabungkan ilmu itu dengan ilmu lainnya. Sehingga sambil melancarkan 18 Tapak Naga yang membutuhkan tenaga amat besar itu, ia sekaligus mampu juga melancarkan ilmu Menghisap Matahari. Sehingga orang yang diserangnya selain terhempas oleh tenaga Cio San, tenaga dalam mereka pun terhisap pula!


Itulah sebabnya kenapa mereka tidak bisa bangun lagi. Seluruh tenaga dalam mereka terhisap hanya dalam satu serangan.


Dengan kemampuannya ini, Cio San tak akan pernah kehabisan tenaga, karena setiap tenaga yang ia keluarkan, selalu berhasil mendapatkan gantinya.


Dengan ilmu Tongkat Pemukul Anjing atau jurus pedang Pendekar Pedang Kelana pun, ia berhasil melakukan hal yang sama. Menggabungkannya dengan ilmu Menghisap Matahari!


Yang lebih hebat lagi, ia mampu ‘menyusupkan’ ilmu Menghisap Matahari itu ke dalam ilmu lain, sehingga tidak ada seorang pun yang sadar, bahwa mereka diserang oleh 2 ilmu sekaligus!


Tiada yang sadar, bahwa selain mereka terpukul mundur oleh tenaga Cio San, tenaga mereka sendiri pun habis diserap olehnya!


Dapat dibayangkan betapa dahsyat tenaga yang mampu ia serap. Jika ia mengeluarkan 5 bagian tenaga, ia mendapat 10 bagian tenaga sebagai gantinya. Sehingga semakin bertempur, tenaganya bukan semakin habis, malah semakin bertambah!


Puluhan pedang menyambar kepalanya, ia hindari hanya dengan sebuah gerakan ringan. Lalu dengan cepat, ia menggerakkan pedangnya. Pedangnya menempel dengan amat dahsyat, sehingga para penyerangnya ini merasa seakan-akan tangan mereka dilumuri oleh lem maha lengket!


Begitu mereka merasa tenaga dalam mereka terkuras habis, sudah tak ada waktu lagi untuk berbuat apapun, kecuali menanti serangan Cio San dengan pasrah.


Begitu serangan itu datang, mereka terlontar dengan amat jauh. Entah pingsan. Entah mati.


Tongkat dan pedang Cio San selalu bertukar posisi. Kadang di kanan, kadang di kiri. Perubahan yang aneh ini semakin menambah daya serangnya. Kadang ia malah melepas senjatanya itu di udara, melontarkan 18 Tapak Naga atau Thay Kek Kun, lalu kemudian kembali menangkap senjatanya itu.


Begitu mengagumkannya sampai-sampai para penonton yang tidak berani ikut-ikutan dalam urusan, berdecak penuh kekaguman. Masing-masing dalam hati mengakui, Cio San adalah petarung terhebat yang pernah ada dalam sejarah umat manusia!


Kao Ceng Lun yang saat itu memegang janjinya untuk terus menjaga Beng Liong hanya bisa melongo melihat betapa saktinya Cio San.


Beng Liong sendiri tak bergerak. Ia telah mematikan seluruh inderanya dan memusatkan pikiran untuk menyembuhkan luka-lukanya. Ia tidak berani berhenti. Karena ia sebenarnya bisa membaca apa yang sedang terjadi.


Oleh karena itu, ia berusaha keras untuk mematikan inderanya. Jika tidak, apabila pemusatan pikiran dan tenaganya buyar, ia akan mati sia-sia.


Jurus demi jurus telah berlalu. Korban berjatuhan.


Belasan, puluhan, ratusan, ribuan orang, telah Cio San lumpuhkan.


Tukang cerita yang paling hebat bohongnya pun, tidak akan sanggup membayangkan betapa dahsyatnya pertarungan ini.


Hampir dua jam pertempuran ini berlangsung. Korban yang berjatuhan pun sudah tak terhitung. Cio San sendiri pun tidak berhenti melawan. Ia telah berkata bahwa saat ini, ia tak akan memberi ampun kepada siapapun. Siapa yang menyerang, akan dilawannya.


Pemandangan di Thay San begitu menyeramkan. Tubuh manusia bergelimpangan dimana-mana. Entah mereka sudah mati atau masih hidup. Darah membanjir membasahi sepatu.


Mereka yang masih bertahan adalah mereka yang memiliki ilmu tinggi. Atau memang mereka yang belum berani bergerak menyerang Cio San.


Cio San diam berdiri.


Yang mengurungnya masih ada beberapa puluh orang.


5 Pedang Bu Tong-pay.


7 Pendekar Wanita Go Bi-pay.


11 Arahat Buddha Siau Lim-pay.


Puluhan orang yang benci atau memiliki dendam terhadap si ‘otak besar’.


Semua mencurahkan kepandaian dan kemampuan terbaik untuk menempurnya.


Cio San kini sendirian. Sahabat-sahabat barunya kini sudah gugur semua. Rasa kesetiakawanan mereka begitu mengagumkan, sampai-sampai Cio San meneteskan air mata.


Padahal kenal pun baru sebentar.


Tapi nyawa sudah dikorbankan.


Kadang-kadang, ketinggian budi manusia begitu mengagumkan, sampai-sampai malaikat pun terkagum-kagum.


Tapi kadang, kerendahan akhlak manusia begitu menjijikkan, sampai iblis dan setan pun bergidik ketakutan.


Keadaan di gunung Thay San ini menggambarkan kedua hal tersebut.


Cio San tak tahu lagi ia berada di pemahaman yang mana. Berada di jalur yang mana. Batas antara pendekar, pengecut, pembunuh, dan korban, sudah menjadi sedemikian kabur baginya.


Sekarang semua sunyi.


Alangkah berbeda keadaannya dengan beberapa saat yang lalu, yang bergema dan menggetarkan jiwa!


Tapi kesunyian seperti ini malah lebih menggetarkan jiwa.


Hawa kematian jauh lebih menakutkan saat dihadapi sendirian. Itulah mengapa manusia menjadi lebih berani saat jumlah mereka banyak. Dan menjadi pengecut saat ia sendirian.


Cio San melangkah maju.


Langkahnya perlahan dan hati-hati.


Entah tubuh siapa yang ia injak. Entah mayat siapa yang ia langkahi.


Puluhan orang di hadapannya masih mengurungnya.


Dari ribuan menjadi puluhan!


Bisakah kau bayangkan pertempuran seperti apa yang baru saja terjadi?


Ribuan orang yang menonton di pinggiran, sudah sejak tadi meyakinkan diri mereka, bahwa yang mereka lihat hanyalah khayalan belaka. Karena jika tidak, selain terkencing-kencing ketakutan, tentu mereka pingsan karena terlalu takut. Mereka ini, kebanyakan kaum Kang Ouw yang tidak telalu tinggi ilmunya, namun tertarik untuk melihat keramaian.


Ada juga dari mereka yang merupakan anggota Ma Kauw dan Kay Pang, yang sudah diwanti-wanti Cio San untuk tidak ikut campur. Seperti orang lain, mereka hanya bisa melongo melihat kehebatan ketua mereka.


Orang-orang ini menjadi saksi, betapa dahsyatnya pertarungan ini. Pertarungan yang mengubah sejarah hidup manusia-manusia Kang Ouw.


Pertarungan ini akan dikenang sepanjang sejarah, sebagai pertarungan yang paling menakutkan, paling menyeramkan, namun juga paling mengagumkan dan paling tak terlupakan.


Belum pernah ada pemuda sesakti ini dalam sejarah Kang Ouw.


Dan pemuda itu kini berjalan dengan perlahan menghampiri musuh-musuhnya. Tak ada seorang pun dari musuhnya yang berani menghadapinya. Kini mereka semua pun mundur teratur.


“Siapa yang tidak menyerangku, tak akan kuserang,” kata Cio San.


Ia kini berjalan semakin mendekat kepada para Ciangbunjin dan Tetua dunia persilatan.


“Sudahkah kalian lihat hasil dari kekejaman kalian sendiri?” tanyanya.


“Kau yang membunuh mereka, kenapa menyalahkan kami?” sahut Hong-taysu, Tetua Siau Lim-pay.


“Tapi kalian ‘kan yang memerintahkan mereka bertarung? Tanpa kalian perintah, apa mereka mau saja mengantar nyawa?” tanya Cio San lagi.


Memang, yang paling kejam dari sebuah perang bukanlah pertarungan, kematian, dan kehancuran. Yang paling kejam dari perang adalah manusia-manusia yang membiarkan perang itu terjadi.


“Tanpa kau membuat onar, masakah kami akan memerintahkan mereka untuk menghancurkanmu?” kali ini Lau-ciangbunjin yang bicara.


“Mana bukti bahwa aku adalah pembuat onar?”


“Pertarungan ini buktinya. Di kolong langit ini, mana ada orang punya ilmu sehebat engkau tanpa memiliki kitab sakti Tat Mo Cowsu?” kata Bi Goat-nikow.


“Memangnya ilmu silat hanya bisa dipelajari dari kitab sialan itu?” kata Cio San memaki.


“Sudahlah, tidak perlu banyak omong. Kenapa bukan kalian saja yang maju? Apa kalian takut?”


Kata takut adalah kata yang sangat diharamkan di kalangan Bu Lim. Kau boleh menyebut seseorang bodoh, *****, dungu, buruk rupa, atau pikun. Tapi kau tak boleh menyebutnya penakut.


“Siapa yang takut?!!” Serentak para Ciangbunjin dan Tetua itu menyerangnya.


Hong-taysu dari Siau Lim-pay dengan ilmu Cakar Macannya.


Lau-ciangbunjin dengan Thay Kek Kun tingkat tingginya.


Bi Goat-nikow dengan ilmu Naga Menantang Angkasa ciptaan leluhur Kwee Siang, sang pendiri Go Bi-pay.


Ketua Sung Law, Ciangbunjin terbaru dari Kun Lun-pay dengan pedangnya yang menggetarkan sukma.


Ada beberapa orang lagi yang Cio San tidak kenal namanya, namun ilmunya mengagumkan. Kini semua menyerangnya.


Cakar Hong-taysu langsung mengincar jantungnya, telapak Lau-ciangbunjin mengincar perutnya, jari sakti Bi Goat-nikow mengincar kedua matanya, pedang Sung Law mengincar lehernya. Telapak, tinju, dan tendangan sakti mereka yang lain, mengincar seluruh titik berbahaya di tubuhnya.


Cio San memutuskan untuk menyerang mereka yang tidak ternama lebih dulu. Mereka ini ilmunya lebih rendah, serangannya lebih lambat, dan tenaganya lebih kecil daripada para Ciangbunjin dan Tetua seperti Hong-taysu, Lau-ciangbunjin, atau Bi Goat-nikow.


Gerakan Cio San sungguh sukar diikuti dengan mata.


Dalam sekelebatan, 5 orang yang diincarnya telah berhasil ia lumpuhkan. Ia menghisap tenaga mereka dengan ilmu Menghisap Matahari, lalu mengendalikan tenaga-tenaga itu dengan Thay Kek Kun, kemudian menyalurkannya melalui 18 Tapak Naga. Bisa dibayangkan, bagaimana pertempuran itu berlangsung.


Pertama, Cio San bergerak ke arah salah seorang penyerangnya. Dengan menggunakan Thay Kek Kun, serangan orang itu berhasil ia ubah arahnya. Si penyerang itu sendiri kaget ketika serangannya kini berubah arah menuju salah seorang kawannya.


Kawannya, begitu melihat serangan ini datang, langsung serta-merta menerimanya dengan tangkisan. Salahnya, ia tidak tahu bahwa ilmu Menghisap Matahari Cio San akan membuat tangannya melekat dengan kuat ke tangan kawan yang tadi menyerangnya.


Begitu kedua orang ini lengket, dengan mudah Cio San mengendalikan mereka menggunakan Thay Kek Kun, sehingga kini kedua orang yang lengannya lengket itu seperti berubah menjadi tongkat raksasa.


Dengan ‘senjata’ itu, Cio San dengan mudah melumpuhkan 3 orang lain yang menyerangnya secara bersamaan. Ketiga orang itu malah ikut lengket juga.


Dalam satu gerakan sederhana, Cio San melumpuhkan 5 orang sekaligus. Menghalau serangan mereka, menyerap tenaga mereka, dan menggunakan mereka sebagai senjata.


Kejadian ini diutarakan begitu gampang, mudah, dan sederhana. Pada kenyataannya, melakukan hal demikian hampir mustahil karena ketepatan, kecepatan berpikir, dan kecepatan bergerak, harus benar-benar berada pada puncaknya.


Yang lebih menakjubkan lagi, adalah kenyataan bahwa semua kejadian yang tertulis ini, hanya berlangsung dalam sekedipan mata!


Lalu ketika kelima orang ini sudah lengket menjadi satu, kekuatan tenaga dalam mereka tersedot dengan sedemikian cepat, kini nyawa mereka terancam pula saat terlontar ke udara.


Tujuan Cio San adalah supaya tubuh mereka yang tak berdaya itu dapat ditangkap dengan selamat oleh para Tetua lain. Nyatanya, para Tetua ini tidak mempedulikan mereka, dan malah meneruskan menyerang Cio San!


Betapa licik dan jahatnya orang terhormat itu sebenarnya!


Untunglah orang-orang yang terlempar itu mampu diselamatkan oleh para penonton yang menyaksikan dari pinggiran ‘arena’.


Dengan marah, Cio San menggunakan tenaga yang tadi ia serap lalu menyalurkannya ke kedua tangan.


18 Tapak Naga jurus pertama.


“Naga Menggerung Menyesal!” teriaknya.


Cahaya putih yang keluar dari tangannya membentuk gelombak angin deras yang bergerak bagai liukan naga, menghunjam menghantam ketiga orang Tetua perguruan utama itu.


Tapi mereka bukan pendekar-pendekar kroco yang tadi dihajar Cio San. Mereka adalah ketua perguruan silat paling utama di Tionggoan. Bahkan mungkin paling utama di dunia!


Menerima serangan itu, mereka berkelit dengan mudah. Pengalaman, pemahaman, dan pengetahuan mereka tentang pertarungan, jauh lebih matang daripada Cio San.


Sedahsyat apapun 18 Tapak Naga, jika mampu menghindarinya, tentu saja tak akan melukai. Dan itulah rahasia dalam menghadapi 18 Tapak Naga.


Jangan dihadapi langsung dengan tenaga juga, tetapi harus dihindari, lalu cari celah kosong untuk menyerang!


Begitu 18 Tapak Naga dikeluarkan, ada celah sepersekian detik yang bisa dimanfaatkan. Karena orang yang mengeluarkan ilmu itu memerlukan tenaga dan kekuatan yang besar, sehingga untuk mengisi ulang tenaga itu diperlukan waktu sepersekian detik.


Sepersekian detik adalah waktu yang sangat-sangat pendek. Namun bagi ahli silat utama, waktu seperti ini sudah cukup.


Serangan mereka masuk dengan telak!


Tubuh Cio San terjengkang ke belakang!


Melihat serangan ini berhasil, dengan amat sangat cepat mereka sudah melakukan serangan berikutnya, bahkan sebelum tubuh Cio San menyentuh tanah!


Serangan berikutnya berupa tendangan sakti yang amat sangat berbahaya. Ketiga tendangan itu menghantam pinggang, perut, dan dada Cio San!


Cio San saja yang sudah mampu bergerak secepat kilat, tidak mampu menangkis serangan pertama itu. Bisa dibayangkan betapa cepat dan dahsyatnya serangan dari ketiga Tetua ini.


Sebelum menyentuh tanah, tubuh Cio San sudah terhempas lagi oleh serangan yang kedua. Ternyata ketiga Tetua ini memang telah menciptakan jurus gabungan mahasakti yang begitu dahsyat. Sekali lagi mereka bergerak!


Tubuh Cio San kini telah melayang ke arah jurang. Serangan yang kedua itu saking mengerikannya sampai-sampai menghempaskan tubuhnya jauh ke arah jurang.


Semua penonton yang menyaksikan peristiwa itu berteriak ngeri saat melihat tubuh Cio San begitu dekat dengan jurang. Ia sudah tak berdaya, karena tak ada satu pun yang bisa dipijaknya atau untuk berpegangan.


Dan serangan yang ketiga tiba!


Dengan menggabungkan kekuatannya, ketiga orang ini melancarkan jurus telapak pamungkas yang sinarnya menyilaukan mata. Sinar ini jauh lebih menyilaukan daripada sinar yang dihasilkan oleh 18 Tapak Naga jurus pertama.


Itu berarti gabungan tenaga dalam ketiga orang ini jauh lebih kuat daripada tenaga dalam Cio San. Kecepatan ketiga orang ini diatas Cio San, dan pengalaman ketiga orang ini juga diatas Cio San.


Pendekar muda itu dengan pasrah menerima jurus gabungan ketiga orang ini!


Ia hanya bisa menerima serangan itu dengan dadanya, karena tangannya masih kalah cepat dengan gabungan kecepatan ketiga Tetua tadi.


Saat mereka bergerak sendiri-sendiri, kecepatan mereka memang kalah dengan Cio San. Tapi saat mereka menggabungkan tenaga dan merapal jurus gabungan, maka Cio San tak mampu berkutik.


Dadanya menerima hunjaman ketiga telapak itu.


Kraaaaaaaaaaaaaakkkkkkkkkkk!!!!!!!!!!!!!!


Terdengar bunyi tulang patah yang jauh lebih keras daripada suara pohon besar yang tumbang.


Herannya, bukan Cio San saja yang terhempas ke jurang. Tapi ketiga penyerangnya pun ikut terhempas ke jurang juga bersamanya!


“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa………….…….,” ketiga Tetua ini sendiri tak percaya mereka ikut terhempas ke jurang!


Semua penonton segera berlari ke bibir jurang untuk melihat apa yang terjadi.


Keempat orang itu menghilang ke dalam kegelapan jurang.


Jurang yang begitu dalam, gelap, dan seperti tak berujung.


Teriakan ‘Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa…….’ itu semakin lama semakin mengecil, lalu menghilang dan tak terdengar lagi.


Suma Sun hanya bisa meneteskan airmata ‘melihat’ pengorbanan sahabatnya itu.


Kao Ceng Lun diam membisu tak sanggup berkata apa-apa. Ia tercengang takjub.


Para anggota Ma Kauw dan Kay Pang menangis sesenggukan.


Semua pendekar yang tersisa dari pertarungan maha dahsyat malam ini, tak pernah menyangka akhir dari kisah pertarungan ini.


Perang memang tak menghasilkan apa-apa selain air mata.