
Lama ia bersilat. Ia tidak sadar bahwa saat itu sudah melewati tengah hari. Bergegas ia pulang untuk makan siang. Jamur panggang adalah santapan siang harinya. Setelah menyantap jamur-jamur itu, tubuhnya menjadi semakin segar dan kuat.
“Heran, setiap aku selesai makan jamur-jamur ini, tubuhku terasa sangat enteng dan segar sekali. Mungkin jamur-jamur ini memang punya khasiat yang sangat tinggi,” pikir Cio San.
Suatu hari ketika selesai menggoreskan penanda di dinding goa, Cio San termenung. Tanda yang ia goreskan di tembok menggunakan pisau A Liang sudah berjumlah 50.Itu berarti sudah hampir 2 bulan ia berada di dalam perut bumi.
Betapa mengherankan nasibnya. Mampu bertahan hidup di tengah kegelapan dan kesepian. Namun begitulah takdir. Cio San pun tak pernah lupa bersyukur kepada Thian (langit), bahwa ia masih dinaungi keselamatan dan perlindungan.
Ia memeriksa memang benar air semakin meninggi. Ia mencari tempat yang lebih tinggi sebagai pijakannya. Tapi tak berapa lama air itu kini sudah menyentuh ujung jarinya.
Kini tak ada lagi tempat kering. Semakin lama air naik, dan kini menyentuh lututnya.
Cio San panik. Tapi ia tetap mencoba tenang. Ia telah berusaha keras mencari pemecahannya, tapi ia tetap tidak bisa juga.
Tak berapa lama air telah menyentuh dadanya. Cio San kini malah harus berenang. Ia pasrah. Jika memang harus mati tenggelam biarlah nanti ia mati tenggelam. Tapi sekarang setidaknya ada hal yang bisa ia lakukan.
Tekanan air pun semakin deras. Ia kini merasa dadanya dihempaskan air. Untuk menahan hempasan itu, ia mengerahkan tenaga dalamnya ke seluruh tubuh. Dorongan air itu sangat kuat dan ia terhempas ke dinding goa. Untunglah tenaga dalamnya mampu melindunginya sehingga ia tidak terluka sedikitpun.
Air kini telah mencapai lehernya, dan Cio San terus berenang.
“Tak lama lagi, jika air menyentuh langit-langit maka tamatlah riwayatku.”
Dan air memang akhirnya menyentuh langit-langit. Cio San akhirnya mengalirkan tenaga dalamnya ke paru-parunya. Hasilnya, ia bisa menyelam lama sekali, karena tenaga dalamnya menyediakan udara yang cukup banyak bagi paru-parunya.
Sekarang ia harus memusatkan pikiran untuk membagi jalannya tenaga dalamnya itu. Sedangkan arus yang deras itu terus menghempaskannya ke dinding goa yang terasa tajam dan sangat dingin.
Cio San mencoba untuk terus bertahan. Bermenit-menit lamanya ia berada di dalam keadaan seperti itu. Pasokan tenaga dalam ke dalam seluruh organ tubuhnya pun masih banyak. Cio San mencoba untuk tetap tenang, namun tak urung dia merasa panik juga.
Ia tidak yakin sampai berapa lama ia bisa bertahan dengan hanya menggunakan tenaga dalamnya. Akhirnya ia menemukan suatu ide. Dengan mengumpulkan segenap tenaga di ujung kepalan tangannya, ia memukul langit-langit goa itu. Cio San memukul keras-keras. Ia tidak tahu bahwa kini kekuatannya sudah sangat dahsyat. Sebuah
lubang yang sebesar kepalan tangannya muncul di langit-langit. Ia senang sekali usahanya ini berhasil. Di dalam lubang itu, ia meletakkan mulut dan hidungnya. Walaupun kecil, lubang itu membantunya untuk menarik nafas. Kepalanya sudah tidak bisa ia munculkan lagi diatas permukaan air. Hanya di lubang di langit-langit goa inilah, ia bisa meletakkan hidung dan mulutnya untuk mengambil nafas. Tangannya mencengkeram langit-langit goa agar bisa tetap meletakkan hidung dan mulutnya di dalam lubang itu.
Entah sudah berapa lama ia berada dalam posisi seperti itu. Cio San terus mencoba bertahan. Ia melihat ke arah ‘jendela air’, sekarang sudah tak ada cahaya lagi dari situ, berarti sudah malam.
Lama sekali ia berada dengan posisi seperti itu. Rasa lapar pun muncul. Untunglah jamur-jamur pun tumbuh di langir-langit sehingga Cio San bisa memakannya.
Hari berganti hari, tak terasa sudah 5 hari ia bertahan dengan kondisi seperti itu. Cio San tak menyadari bahwa ia sebenarnya mengalami latihan yang amat berat. Kekuatan dorongan air, udara yang sangat tipis, dan khasiat jamur Sin Hong membuatnya seperti mengalami tempaan 10 tahun. Dalam 5 hari saja, pernafasannya kini sangat kuat. Ini sebenarnya berguna saat ia menghimpun kekuatan tenaga dalam. Kulitnya pun kini sangat kuat karena derasnya dorongan air, tidak hanya membawa batu-batu yang menghunjam tubuhnya, tapi juga telah merendam banyak
sekali jamur Sin Hong. Air yang sudah mengandung khasiat jamur sakti itu membuat tubuh luarnya seperti mata, kulit, daging dan rambut, mulai kebal dari berbagai racun.
Baru pada hari ke 7, perlahan-lahan air mulai menurun. Cio San senang sekali, meskipun gerak surutnya air itu tidak secepat naiknya. Butuh waktu 3 hari, baru seluruh air dalam terowongan itu menyurut. Itu pun masih tersisa setinggi lutut Cio San.
Dengan lega ia menghempaskan tubuhnya. Ia merasa letih sekali. Mengerahkan tenaga dalam selama hampir sepuluh hari di tengah kuatnya dorongan air serta hunjaman batu-batuan, membuat ia letih sekali. Cio san akhirnya pingsan.
Setelah sadar dari pingsannya, ia mencoba mengerahkan tenaga ke seluruh organ tubuhnya. Ternyata cepat sekali badannya terasa segar kembali. Cio San lalu mengisi perutnya dengan jamur-jamuran yang tumbuh lebat di dinding. Untungnya, walaupun air banjir sangat deras, tidak mengikis seluruh jamur-jamuran yang ada di dalam
terowongan goa itu.
Ia mulai melihat ke sekeliling mencoba mengamati keadaan ‘rumah’nya itu. Cio San tak sadar bahwa perlahan-lahan ia sudah mulai bisa melihat di dalam kegelapan. Kehidupannya yang prihatin di dalam goa itu membuatnya harus menghemat segalanya. Mulai dari makanan, ranting-ranting untuk bahan bakar, serta penggunaan batu api. Dia malahan kadang bertelanjang untuk menghemat penggunaan bajunya. Karena bila terlalu sering dipakai akan cepat rusak. Apalagi jika dipakai untuk berlatih silat.
Peristiwa banjir tadi malah semakin merusak bajunya. Cio San mencari cara untuk mencari pengganti bajunya itu. Akhirnya ia menemukan ide untuk menggunakan kulit kayu yang dianyam sebagai pakaian. Cio San lalu bergegas mengumpulkan kayu-kayuan. Banjir membawa banyak sekali kayu-kayuan. Setelah lama sekali mengumpulkan
kayu-kayu itu, ia lalu mengulitinya satu persatu, lalu menganyam kulit-kulit itu.
Cio San bekerja dengan riang. Setelah lolos dari maut beberapa kali, ia akhirnya lebih menghargai hidup. Ia merasa harus menikmati setiap detik dalam kehidupannya, karena kematian bisa datang kapan saja. Jika kita suatu saat
pasti akan mati, mengapa hidup dalam kesedihan dan keputusasaan? Toh pada akhirnya akan mati juga. Kenapa tidak menjalani hidup dengan riang gembira? Begitu pikir Cio San.
Akhirnya selesai juga anyaman kulit kayu yang ia jadikan celana setinggi lutut. Sisanya akan ia simpan untuk membuat baju. Cio San terkagum-kagum sendiri dengan celana anyaman buatannya. Sangat tidak rapi, namun ia tetap saja bangga. Ia langsung memakainya. Rasanya agak kebesaran. Tapi dia lalu mengambil lagi satu lembar
kulit kayu yang agak panjang untuk dijadikan ikat pinggang. Pas lah sudah. Sambil tersenyum-senyum ia menggerak-gerakan pinggulnya untuk melihat apakah celana itu tidak akan melorot lagi.
Beberapa hari dilalui Cio San di dalam terowongan itu dengan tentram. Tak lupa ia memberi tambahan goresan penanda hari waktu hidupnya di dalam goa itu. Sudah 3 bulan lebih. Ia sudah merasa nyaman. Bahkan ia sudah dapat melihat dengan jelas di dalam kegelapan. Hanya sesekali ia menggunakan penerangan. Itu pun hanya di
saat memasak, ataupun mengerjakan hal-hal yang butuh ketelitian seperti membedakan jamur.
Cio San tidak lupa berlatih ilmu silatnya. Sekarang sudah 6 bulan di dalam goa, Cio San malah menemukan jurus-jurus baru lagi. Kejadiannya, seperti biasa, adalah berawal dari ketidaksengajaan. Karena hidup di dalam gelap, dan terus-menerus mendengar suara aliran air yang deras, pendengaran serta perasaan Cio San berkembang sangat pesat. Ini mungkin dikarenakan khasiat jamur Sin Hong juga.
Jika dulu ia menangkap ikan harus menggunakan penerangan, kini ia bisa menangkap ikan hanya dengan menggunakan pendengarannya saja. Awalnya, ia merasa telinganya mulai bisa membedakan suara-suara yang ada di dalam air. Lama-lama ia malah bisa mendengarkan suara-suara yang ditimbulkan ikan-ikan saat berenang. Mulanya memang hanya ikan-ikan besar saja, namun akhirnya ia bisa juga membedakan suara yang ditimbulkan ikan kecil di dalam air. Suara itu jelas memang bukan suara dari mulut ikan, melainkan kepakan sirip dan ekor ikan-ikan tersebut. Untuk membedakan suara-suara tersebut, memang dibutuhkan pemusatan pikiran yang cukup berat. Tapi karena Cio San sering melakukannya, maka tak lama kemudian ia bisa menentukan posisi ikan-ikan itu di dalam air. Cio San mengambil tombak ikannya, lalu mencoba ‘ilmu’ barunya itu. Menombak ikan dengan hanya menggunakan pendengaran. Tak lama mencoba, ia berhasil menangkap beberapa ikan besar. Hari demi hari ia lalui dengan melatih kemampuannya ini.
kini mengikuti gelombang air. Lembut, namun mengalir kuat dan pasti. Thio Sam Hong memang menciptakan Thay Kek Kun dari gerakan-gerakan alam yang selaras. Gerak air, udara, awan, dan lain-lain. Cio San secara tidak sengaja, justru menemukan inti ajaran Thio Sam Hong itu. Makna utama Thay Kek Kun memang
menyelaraskan diri dengan alam. Maka ketika Cio San berhasil mengosongkan pikirannya, lalu gerak tubuhnya mengikuti gerak air, secara tak sengaja ia sudah menguasai inti dari Thay Kek Kun itu.
Ia mulai bersilat. Tangannya membentuk sebuah gerak lingkaran di atas air di depannya. Gerak lingkaran itu mulanya perlahan-lahan dan lembut. Tapi lama-lama gerakannya semakin cepat dan kuat. Lalu semakin kuat, semakin kuat, dan semakin kuat. Kemudian dengan kecepatan tinggi, Cio San memukulkan kedua telapaknya
diatas air yang bergolak itu, dan….
Bllaaaaarrrrrr.......!!!!
Cipratan air itu sungguh dahsyat sehingga membuat dinding di samping kiri kanan, juga atasnya bergetar hebat, menimbulkan suara yang keras sekali.
Cio San malah terkaget-kaget dengan hasil perbuatannya tadi. Sungguh dahsyat tenaga yang ia hasilkan itu, padahal tidak menggunakan seperduapuluh tenaga dalamnya. Jika digunakan semua, pasti ia mampu menjebol dinding-dinding goa itu. Memikirkan ini, ia senang sekali. Tapi kemudian ia berpikir lagi, “Jika aku keluar dari sini, pasti aku akan difitnah dan dikejar-kejar lagi. Lebih baik tinggal disini selama-lamanya saja. Toh aku bisa bertahan hidup dengan apa yang ada disini. Aku pun bisa menemani A Liang.”
Teringat akan A Liang, ia lalu berkunjung ke kuburannya. Untungnya, walau banjir sangat deras, tidak begitu merusak kuburan A Liang. Sebelumnya, Cio San sudah menumpuk beberapa batuan besar diatas kuburan itu. Ternyata batu-batu itu bergesar juga, meskipun tidak jauh. Cio San lalu mengembalikan batu-batu itu ke posisi semula, lantas membersihkan kotoran berupa ranting-ranting dan tumbuh-tumbuhan yang terbawa oleh banjir. Ia lalu ‘bercerita’ kepada A Liang, bahwa ia baru saja menemukan ilmu baru yang sangat dahsyat. Setelah lama bercerita, akhirnya ia kembali ke ‘tempat tinggal’nya di dekat ‘jendela air’. Hari sudah malam rupanya.
Begitulah Cio San melewati hari-harinya dengan melatih ilmu baru itu. Jika dulu di dalam air, maka kini ia memutuskan untuk berlatih di air terjun untuk mencoba kekuatan ilmunya itu. Bergegas ia ke air terjun tempat masuknya aliran air ke dalam terowongan. Cukup lama juga perjalanannya di dalam terowongan itu.
Sampailah Cio San di sekitar air terjun. Bentuknya sungguh indah namun menyimpan kekuatan alam yang sangat dahsyat. Cio San menjadi teringat dengan ilmu Thay Kek Kun ciptaan mahagurunya. “Ternyata Thay Suhu menciptakan ilmu-ilmu hebatnya dari alam ini. Orang yang pikirannya terbuka, pasti bisa menangkap ilmu apapun dari alam.”
Memang benar. Semua ilmu manusia berasal dari alam. Alam memperolehnya dari Tuhan. Tuhan menggunakan alam sebagai media pengajaran bagi manusia. Dari alamlah manusia belajar untuk bertahan hidup dan menyesuaikan diri. Dari alamlah manusia bisa menjadi ‘manusia’. Maka manusia yang meninggalkan alam, pasti
dialah manusia bodoh yang suatu saat akan dimangsa oleh alam itu sendiri.
Cio San selain otaknya cerdas, bakat silatnya ternyata sangat besar sekali. Dengan sedikit memperhatikan, ia bisa menangkap makna-makna. Ia bahkan menciptakan ilmu silat berdasarkan pengamatan-pengamatan dan uji cobanya. Beruntunglah dia dibantu oleh segala macam kejadian dan peristiwa, yang menambah pengalaman dan
mengasah pikirannya. Peristiwa itu sambung-menyambung dari awal hingga detik ini. Mungkin kelak saat ia mati, peristiwa sambung-menyambung ini akan bersambung kepada anak cucunya. Begitu terus sampai kiamat nanti. Tuhan begitu perkasa, sehingga kejadian sambung-menyambung ini tiada henti.
Siapa yang menyangka seorang anak kecil yang lemah, karena lahir tidak genap sembilan bulan di dalam kandungan, bisa menjadi murid Bu Tong-pay? Siapa yang menyangka anak kecil yang seluruh organ dalamnya berfungsi tidak sebagaimana mestinya, mampu bertahan hidup di dalam perut bumi seperti ini? Siapa yang menyangka anak kecil yang dianggap sangat tidak berbakat dalam ilmu silat, malah mampu
menciptakan jurus-jurus sakti yang dahsyat?
Hidup sebenarnya memang selalu seperti itu. Bukankah teramat sering kau saksikan, ada seorang anak ketika kecil berwajah biasa-biasa saja, namun setelah dewasa ia berubah menjadi cantik jelita? Bukankah sudah sering kau lihat, ada anak yang sangat cantik dan lucu ketika kecil, namun saat dewasa malah menjadi jelek dan tidak menarik?
Atau bukankah sudah sering kau lihat, anak yang dianggap bodoh dan malas oleh guru dan teman-temannya, malah berubah menjadi orang yang paling berhasil dan kaya-raya dibanding teman-temannya? Begitu juga sebaliknya, sering kau lihat anak yang dulu pintar dan rajin, kini hanya menjadi pegawai rendahan di
desanya?
Kehidupan selalu bagaikan roda. Tuhan menggilirkan kenikmatan di atas penderitan. Saat Tuhan memberimu banyak penderitaan, sesungguhnya Tuhan sedang melatih dan mempersiapkanmu untuk menerima banyak anugerah dan kenikmatan-Nya.
Itulah juga yang terjadi pada Cio San. Sejak kecil ia sering sakit-sakitan, karena terlahir tidak normal. Seluruh keluarganya dibunuh orang. Saat belajar di perguruan, ia sering menerima perlakuan buruk dari sesama murid, bahkan juga dari beberapa suhunya. Lalu ia difitnah ikut serta dalam pembunuhan gurunya sendiri, dan dikejar-kejar bagai maling. Lantas kehilangan sahabat terbaiknya, dan malah hidup di dalam perut bumi seperti sekarang ini.
Kalau mau dipikir-pikir, tidak ada orang yang akan tersenyum bila mengalami hal ini.
Cio San kini sedang tersenyum. Tapi bukan tersenyum karena alasan tadi. Ia tersenyum karena ia merasa mendapat tantangan baru. Melawan tekanan air terjun yang dahsyat. Air terjun itu tingginya kira-kira 5 tombak. Dengan kepercayaan diri yang penuh, Cio San memasuki air dan berjalan ke bawah air terjun itu. Dengan berani, disambutnya curahan air yang menghunjam. Amat sangat berat dan juga tajam. Cio San mengerahkan segala tenaganya. Ia menggunakan seluruh tenaga yang disalurkan melalui telapak-telapaknya untuk melawan deras air itu. Dadanya seperti terjepit oleh hempasan air dan dorongan tenaga dalamnya sendiri. Ia bertahan cukup lama, tapi keadaan ini sungguh amat dahsyat. Tak terasa darah mulai mengalir dari mulut dan hidungnya. Pertempuran manusia melawan alam sudah pasti akan dimenangkan alam. Kecuali jika manusia menggunakan senjata utamanya, yaitu akalnya.Begitu teringat kata-kata yang pernah diucapkan ayahnya itu, ia seperti mendapat ide baru. Ia tidak lagi melancarkan serangan melalui telapak tangan, namun menerima deras air itu dengan cara berputar-putar. Namun perputaran itu dilakukan saat tubuhnya melayang secara sejajar dengan bumi. Gerak putaran itu sangat dahsyat. Ia bahkan melayang terus di udara. Tenaga hunjaman air dan tenaga dalamnya sendiri, membuatnya tetap melayang sambil berputar-putar ditengah-tengah air terjun itu.
Ia lalu mengumpulkan tenaganya di dalam dada. Tenaga yang terkumpul itu bergerak bagaikan besi-brani yang menghisap segala dorongan derasnya air terjun. Kekuatan air terjun itu seperti terhisap ke dalam tubuhnya. Lalu ketika kekuatan itu semakin membesar dan memenuhi tubuhnya, Cio San merasa tak tahan lagi. Ia menyalurkan energi yang terkumpul itu ke telapak tangannya, lalu memukulkannya ke atas menghadapi air terjun, dan……
Blllaaaaaaaarrrrrrrrrrrrrrrrrr........!!!!!!
Kembali suara dentuman itu terdengar, namun jauh lebih keras dan lebih dahsyat. Dinding-dinding banyak yang hancur berantakan. Bahkan lubang air tempat keluarnya air terjun itu kini menganga semakin besar.
Memang dahsyat sekali kekuatan yang ia hasilkan. Dengan cara mengikuti aliran tenaga dorongan air terjun, Cio San malah berhasil mengumpulkan tenaga itu di dalam dirinya. Lalu dengan kemampuannya mengarahkan tenaga, kekuatan dahsyat itu ia jadikan kekuatannya sendiri. Hasilnya sangat dahsyat. Jika ini dipukulkan pada seratus
orang, maka bisa dipastikan mereka semua akan mati dengan tubuh hancur luluh.
Menyadari hal ini, Cio San ngeri. Ia menjadi sangat takut. Bagaimana mungkin seorang manusia bisa memiliki kekuatan sebesar ini? Jika ada orang punya kekuatan sebesar ini, pastilah nafsunya akan menyuruh untuk mengalahkan siapa saja. Pantas saja ahli-ahli silat gemar sekali bertarung. Adalah untuk memuaskan
nafsu bertarung.
Cio San menjadi sangat takut jika nanti ia akan berakhir seperti Liang-lopeknya. Sang Lopek di masa mudanya telah melatih ilmu hebat, dan sanggup mengalahkan jagoan-jagoan kelas satu. Bahkan menantang tokoh paling terkemuka di dunia Kang Ouw sehingga akhirnya kalah dan terpaksa memenuhi janjinya menjadi pengabdi dan
kacung di Bu Tong-pay.
Ia lalu berlari-lari ke makam Liang-lopeknya. Menangis dan berdoa, agar diberi kekuatan untuk menahan dorongan nafsu bertarung itu. Pada dasarnya, Cio San memang anak yang perasa dan halus. Ia tidak ingin menyakiti siapapun.