Dragon and Phoenix

Dragon and Phoenix
Bab 24: Lima Pedang



Kwee Mey Lan tak urung juga penasaran mencuri-curi dengar cerita ini. Memang kehadiran si Dewa Pedang yang amat sangat tampan, tidak hanya membuat kaum Bu Lim heboh. Bahkan orang awam yang tidak mengerti silat pun ikut tertarik membicarakannya.


“Hebat sih, aku tidak tahu, Meymey. Tapi kalau tampan sekali, memang benar. Seumur hidup, setahuku yang paling tampan adalah pendekar Bu Tong, Beng Liong, yang beberapa hari lalu ke sini itu Meymey. Tapi ketampanan si Dewa Pedang ini agak aneh. Mungkin dia bukan keturunan Han (orang China asli).”


“Jadi menurut San-ko, lebih tampan si Dewa Pedang itu daripada Bu Tong-enghiong Beng Liong?” tanya Mey Lan lagi.


Lai Lai hari itu sangat ramai. Semua tamu membahas kemunculan si Dewa Pedang yang menghebohkan. Beberapa pendekar ternama bahkan ada yang sempat mampir ke Lai Lai hanya untuk mendengarkan cerita tentang si Dewa Pedang ini. Lai Lai memang kini sudah menjadi ‘tempat berkumpul tidak resmi’ bagi kalangan Bu Lim.


Kelima orang ini menunggu lumayan lama, sampai ada pelanggan yang selesai makan dan pergi dari Lai Lai. Pelayan kemudian membersihkan meja dan mempersilahkan mereka duduk. Setelah memesan makanan dan minuman, mereka duduk diam saja dan tidak mengobrolkan apa-apa.


Cio San memutuskan untuk memasak sendiri pesanan mereka. Karena sudah sejak lama Cio San tidak turun tangan langsung memasak, jika tidak benar-benar diperlukan. Sudah ada banyak tukang masak di Lai Lai, dan Cio San memang berencana untuk mendidik mereka sampai mahir.


Pesanan makanan ‘15 Naga Muda’ Bu Tong-pay ini adalah masakan yang sering mereka makan di Bu Tong-san. Mengetahui apa pesanan mereka, membuat Cio San tersenyum. Dalam hati, ia memutuskan untuk membuat masakan ini seenak mungkin. Memang butuh waktu sedikit lebih lama. Tapi hasilnya pasti mencengangkan.


Cio San meminta diri.


Dari obrolan singkat, dia bisa melihat bahwa kelima orang ini sifatnya masih belum begitu berubah. Ia hanya ingin tahu saja. Tidak ada maksud sedikit pun untuk membalas perlakuan mereka. Bahkan jika bisa, ia malah ingin memperkenalkan siapa ia sebenarnya. Memeluk hangat mereka dan bertanya tentang kabar perguruan.


Kadang-kadang kerinduan bisa membuat orang lupa akan sakit hatinya.


Begitu melihat Cio San datang, segera Kwee Lai tersenyum dan berkata, “Hey, A San, pemasukan hari ini sungguh bagus. Ini sampai sekarang belum selesai kuhitung.”


Sambil tersenyum, Cio San berkata, “Syukurlah Tuan. Koki-koki yang sekarang masakannya sudah sangat lezat. Saya saja yang mengajari mereka malah terkagum-kagum.”


“Eh..., duduklah. Kenapa kau masih seperti dulu? Terlalu sopan dan sungkan. Kalau dipikir-pikir, seharusnya aku yang sopan dan sungkan terhadapmu. Ayo duduklah...”


Cio San kemudian duduk dengan sopan. Ia memang orang yang sopan. Kepada siapa saja ia sopan. Melihat Cio San duduk saja dan lama tak berkata apa-apa, akhirnya Kwee Lai bertanya, “Ada apa A San? Ada yang ingin kau sampaikan?”


Meskipun agak ragu, Cio San akhirnya berani berkata, “Tuan Kwee, sebenarnya saya sungkan mengatakan ini, tapi saya masih ada beberapa urusan yang harus saya selesaikan. Sehingga dengan berat hati, saya harus meninggalkan Lai Lai.”


Kwee Lai biarpun tidak kaget, setidaknya ya berubah juga raut wajahnya.


“Sebenarnya aku sudah paham sejak awal, bahwa suatu hari kau akan pergi. Tapi, apakah keputusanmu itu sudah kau bicarakan dengan Mey Lan?” tanya Kwee Lai.


Belum sempat Cio San bilang ‘belum’, Mey Lan sudah menghambur dari belakang,


“Koko, apa maksudmu bilang begitu?”


“Koko mau pergi kemana?” Dahi dan alis matanya merengut. Jika ada perempuan memandangmu seperti itu, lebih baik segera lari atau minta ampun.


Tapi Cio San tidak melakukannya.


“Meymey, duduk dululah. Mari kita bicarakan,” katanya.


“Kalau aku tadi tidak kebetulan mendengar percakapan kau dan ayah, apakah kau akan mengajakku duduk dan bicara baik-baik?” tanya Mey Lan masih dengan raut muka yang sama. Tapi dia sudah duduk.


Selain tersenyum, cara apa lagi yang bisa kau lakukan menghadapi perempuan yang sedang


marah?


“Meymey, aku memang ingin membicarakannya dengan dirimu. Tapi bukankah aku disini bekerja sebagai pegawai Tuan Kwee? Bukankah sudah seharusnya aku membicarakan dulu dengan beliau? Kata orang bijak, seharusnya kita mengutamakan urusan pekerjaan dulu, baru urusan pribadi. Meymey bisa mengerti?”


Meminta  perempuan mengerti sesuatu keadaan, biasanya rasanya seperti minta harimau menjadi domba.


“Tapi bukankah kepergianmu ini karena urusan pribadi, San-ko? Jangan menggunakan alasan pekerjaan. Jika kau memang mau meninggalkan kami, ya pergi saja. Tidak usah pakai alasan macam-macam,” kata Mey Lan ketus sambil membanting kaki.


Melihat Cio San tidak berkata apa-apa, Mey Lan malah tambah merajuk, “Ya sudah kalau mau pergi, ya pergi saja.”


Ia lalu berdiri dari duduknya dan menuju kamarnya. Terdengar suara bantingan pintu.


Cio San dan Kwee Lai hanya bisa saling bertatapan. Lalu Kwee Lai berkata, “Biarkan dulu saja. Ia mungkin sedang marah karena mendengar kau akan pergi. Jika marahnya sudah reda, ajak dia bicara baik-baik. Eh, kapan kau akan pergi, A San?”


“Paling lambat besok siang, Tuan. Saya mungkin akan membantu dulu pekerjaan besok. Jika sudah selesai, baru saya akan berangkat,” jawabnya.


“Ah, tidak perlulah kau mengerjakan *****-bengek dapur. Cukup perhatikan saja segala keperluanmu, A San. Eh, apakah sangumu sudah cukup?” Sambil berkata begitu ia merogoh uang dari laci.


“Tabungan saya cukup banyak, Tuan.”


“Ah, sudahlah… Ambil ini sebagai tambahan. Dan jangan membantah. Haha…, kutahu kau pasti menolak, A San. Terimalah. Sekedar rasa terimakasihku atas segala yang kau lakukan di sini selama ini.”


Jika orang sudah memaksa, maka tak enak rasanya menolak. Cio San menerima uang itu. Jumlahnya sangat banyak. Entah mau dia apakan uang itu.


Dengan sopan, ia lalu meminta diri. Cio San sebenarnya ingin berbicara dengan Mey Lan saat itu, tapi akhirnya memutuskan untuk menemuinya besok pagi saja.