
Lama sekali mereka saling diam. Cio San masih tidak percaya dengan apa yang tadi ia lakukan. Ia tidak tahu kalau selama ini ia memiliki kekuatan dan kesaktian yang menakjubkan.
“Apa yang kau lakukan tadi, setidaknya membuat si ‘otak besar’ ketakutan juga. Mereka pasti tidak menyangka kau adalah musuh yang setangguh itu,” kata Cukat Tong memecah kesunyian.
Cio San mengangguk.
“Setidaknya, kini dia sedang pusing memikirkan berbagai langkah,” katanya.
“Jika ia tahu kau sehebat itu, tentunya dia tidak akan buang-buang waktu dan tenaga untuk mengajakmu bertempur. Ia pasti memikirkan cara yang lebih licik. Racun misalnya. Tapi racun pun tidak bisa melukaimu,” ujar Cukat Tong.
“Dia sudah tahu satu kelemahanku,” tukas Cio San.
“Apa itu?”
“Aku tidak bisa melempar senjata rahasia. Hahahahaah…….,” tawa Cio San yang ditimpali dengan tawa Cukat Tong.
“Kau tahu, aku juga punya satu kelemahan yang fatal,” kata Cio San.
“Apa?”
“Aku tidak bisa menunggang kuda.”
“Hahahahahaahah…” Mereka berdua tertawa.
“Memangnya selama ini kau tidak pernah belajar?”
“Tidak.”
“Kenapa tidak mau belajar?”
“Aku punya kaki, kenapa harus menggunakan kuda?”
Memang, jika kau punya sepasang kaki seperti Cio San, kau sebenarnya tidak perlu kendaraan apapun.
“Aku heran denganmu. Kau mampu melakukan hal-hal yang mengagumkan, yang membuat banyak orang iri, tapi kau tidak mampu melakukan hal-hal mendasar yang bisa dilakukan ahli silat biasa.” Cukat Tong berkata sambil tersenyum.
“Aku bukan dewa. Pastinya aku punya kekurangan. Hahahaha…” Cio San tertawa.
“Eh, ini sepertinya sudah waktunya makan para burung. Kau lihatlah!”
Cio San memandang ke atas. Puluhan burung ini terbang semakin cepat. Lalu menukik tajam. Mereka meluncur ke sungai. Puluhan burung itu menceburkan diri ke sungai. Cipratan air yang ditimbulkan, membuat Cukat Tong dan Cio San basah kuyup.
“Hahaha.., sekalian mandi!”, teriak Cukat Tong.
Suara burung dan ceburan air itu menimbulkan keramaian tersendiri. Indah sekali.
Begitu mereka muncul ke permukaan, masing-masing burung telah mencaplok ikan di paruhnya. Mereka lalu terbang membumbung lagi.
“Indah, bukan?” tanya Cukat Tong.
“Mengagumkan!” balas Cio San.
Lalu ia berkata, “Kau bisa menciptakan jurus baru dari gerakan mereka.”
Ia lalu melenting tinggi. Begitu sampai di puncak lompatan, Cio San menukik tajam ke bawah. Tangannya membentuk cakar ke depan. Tubuhnya beputar seperti gasing. Ia meluncur dengan kecepatan yang tak terbayangkan.
Blaaaaaaaaarrrrrrrrrrr……..!!!!!
Tubuh Cio San sudah menghunjam ke dalam sungai. Hasil putaran tubuhnya membentuk gelombang pusaran air yang sangat dahsyat. Bagai pusaran angin puyuh yang menghunjam sungai. Pusaran itu saking dahsyatnya sampai memperlihatkan dasar sungai!
‘Rakit’ Cukat Tong sampai ikut terlempar melayang ke atas. Ia berteriak, “Hebaaaaatttt!!!!!”
Cio San telah ikut melenting pula ke atas mengikuti ‘rakit’ yang melayang. Begitu menginjakkan kaki di ‘rakit’, Cukat Tong seperti tidak merasa tambahan beban apa-apa pada ‘rakit’nya. ‘Rakit’ justru melayang pelan ke bawah bagai sehelai kertas tertiup angin.
Begitu mendarat, Cukat Tong hanya geleng-geleng kepala.
“Kau bisa menciptakan ilmu silat sedahsyat itu hanya dengan meniru gerakan burung? Orang secerdas kau dalam ilmu silat, mungkin hanya dilahirkan 100 tahun sekali.”
Cio San menggeleng pula. Katanya, “Orang yang lebih hebat dari aku, sesungguhnya lebih banyak lagi. Cuma mereka tidak mau menonjolkan diri.”
“Yah, kau boleh merendahkan diri semaumu. Tapi terus terang, seumur-umur aku mengarungi dunia Kang Ouw, belum pernah aku bertemu orang yang silatnya lebih hebat dari engkau. Aku pernah bertemu Ma Kauw-kauwcu. Tapi aku belum pernah melihatnya bersilat. Sejauh ini, mungkin hanya 4-5 orang saja di dunia ini yang bisa menandingi engkau.”
Cio San malah termenung.
“Kita sudah hampir sampai, bukan?”
“Iya. Darimana kau tahu?” Cukat Tong tiba-tiba tersadar, “Ah, suara pertempuran!”
Cio San sudah mendengarnya terlebih dahulu.
Ketika mereka mendekat, terlihat juga sebuah kapal kecil yang ‘mendarat’ di dekat sana.
Cukat Tong menghentakkan tangannya, lalu benang-benang yang berada di jari-jarinya tahu-tahu terputus dan meluncur masuk kembali ke dalam kantongnya.
“Terima kasih…!” teriaknya kepada burung-burung itu.
Ia melompat ke darat. Cio San pun melakukan hal yang sama.
“Suaranya berada di sana.” Ia menunjuk sebuah arah. “Ayo cepat.”
Mereka berdua melenting. Sekejap saja berlari dan melayang, mereka sudah sampai. Di balik pepohonan yang lebat dan besar-besar itu, dibalik hutan yang gelap dan rapat itu, terlihat sebuah rumah yang sangat besar.
Rumah yang hampir menyerupai istana!
Keadaan di sekitar istana itu terang-benderang, berbanding dengan keadaan sekitarnya yang gelap gulita.
Dengan sekali melenting, mereka berdua telah melompat melewati pagar yang tinggi. Begitu sampai di bawah, pertempuran baru saja selesai. Karena suara dentingan pedang pun sudah tidak terdengar lagi. Yang tersisa adalah pandangan yang mengerikan.
Puluhan mayat hangus mengering. Menyisakan debu hitam dan bau hangus.
Cio San paham, inilah ilmu Menghisap Matahari yang dahsyat itu.
Seorang nenek tua duduk diatas tangga batu yang ukirannya indah sekali. Cio San dan Cukat Tong memandangnya. Ia pun balas memandang mereka. Cio San dan Cukat Tong sedikit terhenyak.
Walaupun sudah tua, nenek ini terlihat masih cantik. Garis-garis keriput di wajahnya tidak mampu menutupi kecantikan masa mudanya. Tubuhnya pun ramping, seperti tubuh seorang gadis. Sayang rambutnya telah memutih seluruhnya. Tapi justru rambut putih itu malah membuat kecantikan nenek ini semakin terasa berbeda.
Ia hanya duduk memandang kedua orang tamunya. Pandangannya sendu dan dalam. Sepertinya seluruh kesedihan di muka bumi telah ditimpakan kepadanya.
“Siapa nenek ini? Selama ini aku belum pernah melihatnya di Istana Ular,” bisik Cukat Tong kepada Cio San.
Cio San hanya diam, dan berkata kepada si nenek, “Nama cayhe Cio San, ini saha…”
Belum selesai kata-katanya, si nenek telah bergerak menyerangnya. Jarak mereka ada beberapa tombak, tapi dalam sekejap mata saja, serangan sang nenek telah berada tepat di ulu hati Cio San.
Serangan itu hanya berupa sodokan satu jari telunjuk. Tapi angin dahsyatnya telah terasa jauh sebelum jari telunjuk itu mendekat!
Cio San mengelak. Hanya memiringkan sedikit badannya ke kiri. Tanpa melangkahkan kaki, bagian atas tubuhnya bisa berputar jauh sampai ke belakang. Cukat Tong terkaget lagi. Cio San memang tak pernah berhenti menimbulkan kekagumannya. Orang yang badannya bisa selentur itu yang pernah dilihatnya, memang baru Cio
San.
Gerakan Cio San tadi dilakukan di saat-saat terakhir ujung serangan jari itu akan menyentuhnya. Orang manapun yang melihat, pasti akan menyangka jari itu sudah masuk menembus ulu hatinya. Gerakannya jauh lebih cepat dari serangan yang datang. Bahkan si nenek sendiri terbelalak, karena menyangka serangannya sudah menemui sasaran.
Tapi si nenek tidak lama kagetnya. Karena ia tahu kini daerah punggungnya sudah terbuka. Dengan gerakan sangat cepat, kakinya sudah menendang. Tendangan belakang yang dilakukan dengan cara membengkokkan kaki dan lutut ke ke belakang.
Serangan ini mengincar kepala Cio San. Dengan menggunakan punggung kirinya, Cio San mendorong tubuh si nenek.
Si nenek tahu, Cio San sedang berbuat ‘baik’ kepadanya. Karena jika Cio San mau menghabisinya, ia tinggal membuat serangan yang mematahkan tulang punggungnya.
Hal ini membuat ia semakin marah. Ia lebih memilih mati daripada dikasihani orang. Karena itulah, kini serangannya makin dahsyat. Cio San pun menerimanya dengan senyum.
Si nenek tidak tahu arti senyuman Cio San. Yang ia tahu, arti senyuman itu adalah meremehkannya. Sepuluh jurus berlalu, tapi ia tidak mampu menyentuh ujung rambut Cio San. Setiap serangannya terasa pasti menemukan sasaran, Cio San melakukan gerakan-gerakan aneh untuk menghindarinya.
“Kau mengampuniku? Justru aku tak akan mengampunimu! Lihat serangan!”
Ketika itu, ia telah membuat sebuah kuda-kuda. Tangannya mengembang ke samping. Kedua telapak tangannya seperti mengeluarkan cahaya kuning.
Cio San tahu ini bukan jurus sembarangan, tapi dengan santai ia bertanya,
“Lolo (nenek), apakah ini yang disebut ilmu Menghisap Matahari?”
Ketika disebut “lolo”, entah kenapa, cahaya kemerahan di matanya sedikit memudar, digantikan cahaya kesedihan. Perubahan sekilas ini, di dalam gelap gulita pun, Cio San bisa melihatnya.
“Awas! Jangan sampai bersentuhan dengan kedua telapaknya!” teriak Cukat Tong memperingatkan.
Ilmu Menghisap Matahari adalah ilmu khas Ma Kauw. Ilmu ini adalah sejenis ilmu sakti yang mampu menghisap semua tenaga dalam lawan. Siapapun yang tersentuh oleh telapak tangan, seluruh tenaga dalamnya akan tersedot habis. Sampai-sampai hanya menyisakan abu mayatnya saja!
Cio San tahu ia harus lebih berhati-hati lagi. Tapi tetap saja tubuh dan posisinya santai. Tanpa kuda-kuda, tanpa persiapan, tanpa apapun!
Ia hanya berdiri. Tangan kanan membelai-belai ujung rambut sendiri. Tangan kiri terlipat ke belakang.
Senyumnya tidak hilang.
Dalam sebuah pertempuran tingkat tinggi, segala hal sangat menentukan. Pemusatan pikiran harus dilakukan seluruhnya. Gaya berdiri Cio San seperti ini, walaupun tanpa kuda-kuda dan tanpa jurus, sebenarnya adalah caranya untuk memecah konsentrasi lawan.
Jika lawan melihatnya dalam posisi seperti itu, setidaknya mereka akan berpikir dua hal. Yang pertama, mereka menganggapnya bodoh. Hal ini akan membuat si lawan meremehkan Cio San. Yang kedua, mereka akan menganggapnya sangat sakti, sehingga tidak memerlukan jurus dan kuda-kuda. Hal ini malah akan menimbulkan
Jika pikiran lawan sudah terpecah, maka Cio San akan unggul sedikit. Yang sedikit ini, seringkali menentukan hidup atau mati dalam sebuah pertempuran.
Ilmu Menghisap Matahari adalah salah satu dari 3 besar ilmu tertinggi di kalangan Kang Ouw yang masih ada sampai sekarang. Yang kedua lainnya adalah Thay Kek Kun milik Bu Tong-pay, dan Cakar Macan milik Siau Lim-pay.
Sampai sekarang, ilmu Cakar Macan lah yang dianggap nomer satu, karena selama ini, selalu Siau Lim-pay lah yang menjadi Bu Lim Bengcu (Pemimpin Dunia Persilatan).
Si nenek tidak menyerang. Ia hanya menunggu. Cio San pun tidak menyerang.
Lama mereka berdiri saling menatap.
Lalu si nenek bergerak!
Kecepatan yang amat sangat sukar diikuti oleh mata. Sepertinya, tadi ia tidak menyerang karena mengumpulkan kekuatan sakti. Kini, ketika kekuatannya telah terkumpul semua, tubuhnya melesat dan kedua telapaknya telah mengincar 7 titik paling berbahaya di tubuh Cio San.
Cukat Tong tercekat. Siapakah yang mampu menerima jurus seperti ini?
Sebuah jurus yang sederhana, namun dilancarkan sedemikian cepatnya. Yang membuat serangan ini lebih ganas lagi adalah, bahwa serangan ini tidak boleh ditangkis. Siapapun yang menyentuh ujung telapak tangan yang bersinar kuning itu, siap-siaplah menjadi arang.
Cio San mundur selangkah, ketujuh serangan itu kini berkembang menjadi 14 serangan!
Tidak ada ruang untuk mundur lagi, karena ada sebuah tembok besar di belakangnya. Akhirnya Cio San memang tidak mundur. Ia menerima dengan pasrah telapak tangan yang bersinar kuning itu.
Cukat Tong kaget setengah mati!!
Ia segera maju hendak menolong, tapi Cio San malah berteriak, “Jangan!”
Dalam adu tenaga seperti ini, mengeluarkan suara saja adalah sebuah perbuatan yang menyia-nyiakan tenaga. Bisa dibayangkan penderitaan Cio San menerima serangan telapak itu, ditambah lagi ia harus mengeluarkan suara mencegah Cukat Tong. Tenaga dalamnya akan tersedot lebih banyak.
Cukat Tong tidak tahu harus berbuat apa.
Telapak tangan si nenek sudah menempel di dada Cio San. Kepulan asap keluar dari tubuh mereka. Cio San menutup matanya. Si nenek justru matanya semakin terbelalak.
Duaaaarrrrrrrrrrrrr……….!!!!!!!
Suara ledakan besar terdengar. Tubuh si nenek terlempar beberapa tombak ke belakang. Meluncur sangat cepat! Si nenek seperti tidak bisa berbuat apa-apa ketika tubuhnya akan menghunjam tangga batu di belakangnya. Ia hanya menunggu kematian saat nanti tulang punggungnya menghunjam tangga batu.
Cukat Tong bergerak, tapi posisinya terlalu jauh, dan gerakannya sedikit terlambat.
Tapi bukankah yang sedikit itu justru menentukan hidup atau mati??
Si nenek menutup mata.
Pluk!
Tubuhnya tidak menghunjam tangga batu, melainkan ujung telapak Cio San.
Entah bagaimana, Cio San telah berada di sana. Menahan hunjaman tubuh si nenek, hanya dengan putaran telapak tangan. Tenaga hunjaman yang sekeras dan secepat itu, langsung buyar hanya oleh putaran telapak tangan yang sederhana!
Cukat Tong terhenyak lagi, “Thay Kek Kun!” ujarnya dalam hati.
Memang Thay Kek Kun lah yang menyelamatkan hidup si nenek. Thay Kek Kun pula yang
menyelamatkan hidup Cio San tadi.
Inti dari ilmu Menghisap Matahari adalah menyerap tenaga lawan. Inti dari Thay Kek Kun adalah menyerap tenaga lawan pula. Jadi ketika kedua ilmu ini saling ‘menghisap’, maka siapa yang tenaganya paling dahsyat, dialah yang menang.
Akan sangat berbeda jika tenaga Cio San di bawah tenaga si nenek. Tentulah Cio San yang akan kalah. Atau jika orang lain yang menggunakan ilmu selain Thay Kek Kun, tentunya akan kalah juga. Karena kebanyakan ilmu orang lain adalah ilmu yang mengeluarkan tenaga untuk menyerang. Maka, walaupun tenaga dalam mereka lebih tinggi dari si nenek, tentunya mereka akan terhisap tenaganya.
Tapi ilmu Thay Kek Kun ini adalah ilmu yang mengandalkan kelembutan. Ilmu yang memanfaatkan tenaga lawan yang menyerangnya.
Maka, ketika ilmu Menghisap Matahari dan Thay Kek Kun bertemu, yang terjadi adalah saling hisap tenaga. Dan siapa yang tenaga hisapnya paling kuat, dialah pemenangnya. Dasar inti dari Thay Kek Kun adalah, semakin besar kekuatan lawan, semakin besar juga kekuatan itu balik menyerang si lawan sendiri. Belum lagi ditambah kekuatan sinkang (tenaga sakti) Cio San yang ia dapatkan dari jamur-jamuran di dalam goa.
Itulah kenapa si nenek terlempar ke belakang dengan dahsyat.
Untunglah Cio San menolongnya dengan jurus dasar Thay Kek Kun. Sebuah gerakan sederhana untuk memunahkan serangan lawan. Jurus ‘Membayar Pedang dengan Senyum’. Jurus yang tak mampu dilakukannya semasa kecil. Kini bahkan tanpa disadarinya, ia mampu melakukannya dengan alami. Mengalir bagaikan aliran sungai.
Si nenek wajahnya pucat dan memuntahkan darah.
Cio San tahu si nenek sedang menghadapi situasi hidup atau mati. Sambil bersila, segera ia letakkan kedua telapaknya di punggung si nenek. Disalurkannya tenaga sakti ke punggung si nenek.
“Atur jalan darah yang berada di jantung. Gunakan tenaga dalam yang masih tersisa untuk melindungi jantung. Tutup semua lubang yang ada dalam tubuh. Usahakan sampai kau tidak mendengar apapun, melihat apapun, menghirup apapun!”
Si nenek melakukan persis seperti ucapan Cio San. Segera ia merasa semua gelap. Tidak ada udara, karena ia menahan nafasnya. Tidak ada suara, karena ia mematikan indera pendengarannya. Tidak ada bau, karena ia mematikan indera penciumannya.
Ini sebuah cara pengobatan yang aneh, karena jarang ada yang seperti itu. Tapi luka yang dialami si nenek bukan luka dalam biasa. Luka akibat pertempuran hebat seperti tadi, hampir tidak mungkin bisa disembuhkan hanya dengan mengatur jalan darah dan saluran tenaga dalam dari orang lain.
Cio San menotok beberapa jalan darah si nenek agar bekerja lebih baik. Si nenek telah menahan nafas sangat lama. Berangsur-angsur, keadaan luka yang ia rasakan, mulai membaik. Tenaga dalamnya tidak lagi menyerang dirinya sendiri. Bantuan dari Cio San tadi sangat membantunya melewati masa yang berbahaya.
Orang yang terluka dalam seharusnya mengatur jalan nafas. Tetapi saran Cio San justru untuk menahan nafas. Ini karena sebenarnya Cio San tahu, bahwa tenaga di dalam tubuh si nenek sedang mengalir kacau dan tidak jelas. Jika mencoba mengatur jalan nafasnya, maka tenaga dalam itu akan lebih kacau, karena konsentrasi terpecah untuk mengatur jalan nafas dan tenaga. Justru dengan menutup semua indera, baru bisa berkonsentrasi memulihkan tenaga.
Pengetahuan seperti ini, jarang ada orang yang mengetahuinya. Makanya, banyak pendekar yang tidak mampu menyembuhkan luka dalamnya. Yang seringkali terjadi, justru semakin parah dan mengakibatkan kematian. Dari pengatahuan tentang organ tubuh yang dibacanya di puncak gunung dulu, serta pemahamannya yang mendalam tentang tenaga, Cio San baru bisa sampai kepada kesimpulan seperti itu.
Kehidupannya dulu di dalam goa, telah menambah pemahaman yang mendalam tentang tenaga dalam. Ia mempelajarinya dari mengamati sungai, banjir, dan berlatih silat bersama Kim Coa (Ular Emas). Kini, mungkin Cio San telah bisa disejajarkan dengan pesilat-pesilat nomer satu karena tenaga dalamnya ini.
Si nenek beruntung sekali bahwa orang yang dihadapinya adalah Cio San. Kalau tidak, nyawanya sudah melayang dari tadi. Ia mengikuti saja petunjuk dari Cio San. Baru ketika merasa sudah mampu mengendalikan tenaga, aliran darah dan organ-organ dalamnya, ia membuka lagi semua panca inderanya. Pandangannya kini sudah terang. Ia tidak jadi mati!
Dirasakannya Cio San masih menyalurkan tenaga melalui punggungnya.
Si nenek lalu berkata, “Aku sudah baikan. Terima kasih atas pertolongan Ciokhee (Tuan).”
Cio San tersenyum.
“Lolo (nenek) jangan memaksakan diri dulu. Istirahatlah sebentar. Pulihkan semua tenaga. Kita bicara setelah engkau benar-benar sudah membaik.”
Si nenek mengikuti saran Cio San. Ia duduk bersila. Kini ia sudah bisa mengatur jalan nafasnya.
Cio San jongkok, ia bekata “Maafkan saya lancang, Lolo.”
Lalu ia menyentuh pergelangan tangan si nenek untuk memeriksa denyut nadinya.
Cio San sedikit kaget, tapi setelah itu ia tersenyum. Memang sudah menjadi kebiasaannya. Apalagi ketika mengetahui sesuatu yang rahasia, sudah pasti ia akan tersenyum.
Ia berbalik. Cukat Tong sudah duduk di atas tanah tak jauh dari si nenek. Cio San pun turut duduk di sebelahnya.
“Surat-surat Kauwcu masih ada padamu ‘kan?” tanya Cio San.
“Masih,” jawab Cukat Tong pendek.
Karena Cio San hanya mengangguk-angguk saja, Cukat Tong jadi penasaran dan lantas bertanya,
“Kau ingin menunjukan surat kepada si nenek itu sebagai bukti, ya?”
Cio San tersenyum saja.
“Orang-orang yang sudah jadi debu dan arang ini, mungkin telah memfitnahmu. Menggunakan namamu sebagai Ketua Ma Kauw yang baru, untuk menipu si nenek. Entah mengapa mereka bertempur, yang jelas, si nenek menghabisi mereka semua. Itulah sebabnya, ketika pertama kali mendengar namamu, ia menyerang bagai orang gila,” jelas Cukat Tong.
Sebenarnya ia tidak sedang menjelaskan. Ia sedang bertanya. Apakah penjelasannya itu benar adanya. Ketika Cio San mengangguk mengiyakan, legalah hatinya.
“Ternyata aku tidak sebodoh yang kusangka,” katanya sambil tertawa.
“Tidak ada orang bodoh yang bisa jadi Raja Maling,” kata Cio San tertawa juga.
“Siapapun orangnya, jika berada di sampingmu, tentulah merasa bodoh.” Ia menepuk punggung Cio San.
Cio San hanya tersenyum lalu berkata, “Siapapun yang berada di sampingmu, jika tidak merasa beruntung, tentulah merasa bahagia.”
Kedua orang ini saling memuji tanpa basa-basi dan penuh ketulusan.
“Mari kita kuburkan mayat-mayat ini.” Sambil berkata begitu Cio San beranjak. Ia melompat ke atas pagar. Nampak sebuah daerah kosong di luar pagar yang cukup untuk dijadikan kuburan. Ia lalu melompat ke sana. Dengan bantuan sebuah kayu seukuran tombak, ia mulai menggali kuburan.
Cukat Tong yang awalnya geleng-geleng kepala, akhirnya ikut juga menggali kuburan. Setelah selesai, mereka lalu memindahkan mayat-mayat itu.
Setelah selesai menguburkan, mereka kembali.
Rupanya si nenek sudah selesai bersemadi. Ia berdiri memandang kedua orang di depannya. Lalu berkata, “Bisa kulihat surat yang kalian bicarakan tadi?”
Cukat Tong mengeluarkan dua buah surat. Yang satu surat perintah kepada seluruh anggota Ma Kauw. Yang satunya lagi, surat pribadi Kauwcu kepada Cio San, yang beberapa waktu lalu dibacakan Cukat Tong saat mereka beristirahat di bawah pohon.
“Surat yang mana yang harus kuberikan?” tanyanya kepada Cio San.
“Kedua-duanya,” sahut Cio San.
Cio San lalu berkata kepada si nenek,
“Salam hormat kepada Nona. Maafkan cayhe tidak mampu melindungi ayahanda Nona.”
Perkataannya tulus. Airmatanya sudah menggenang di pelupuk matanya.
Cukat Tong kaget.
“Nona?”