
Hari itu tiba.
Tepat tengah hari, Cio San sudah berada di gerbang kota. Ia hanya perlu menanti sebentar. Ji Hau Leng pun sudah datang dengan menunggang kuda.
Dengan menunggang kuda, berarti ia menghemat tenaganya. Jika ia menghemat tenaganya, berarti ia telah bersiap-siap untuk bertempur. Jika ia telah bersiap-siap untuk bertempur, berarti secara tidak langsung ia telah mengakui kesalahannya.
Pemahaman ini muncul di benak Cio San hanya dalam sekelebatan.
“Aku datang,” kata Ji Hau Leng sambil tersenyum.
“Terima kasih,” balas Cio San sambil menjura dan tersenyum pula.
“Kauwcu ada petunjuk apa?” kata Ji Hau Leng sambil turun dari kudanya.
“Justru cayhe yang ingin minta petunjuk dari Pangcu,” jawab Cio San. Tangannya memainkan ujung rambutnya.
“Tentang?”
“Tentang empat sahabat cayhe yang menghilang.”
“Mengapa Kauwcu bertanya kepadaku?”
“Cayhe tidak tahu harus bertanya kepada siapa lagi”
“Baiklah. Aku akan membantu Kauwcu mencari sahabat-sahabat Kauwcu yang menghilang itu,” katanya.
“Kau berbohong.”
“Eh?”
“Aku punya kemampuan membaca bahasa tubuh. Saat berkata begitu, ada sedikit tarikan bibirmu ke samping. Hampir seperti senyum, tapi belum menjadi senyum. Itu menandakan kau meremehkan orang yang kau ajak bicara. Seperti senyum kemenangan karena melihatku percaya kepadamu.”
Lanjutnya,
“Bahumu bergerak sedikit. Manusia adalah makhluk yang jujur sepenuhnya. Kata-kata bisa berbohong, tapi gerak tubuh manusia akan memberitahukan, jika ia berbohong. Gerakan bahumu itu seperti gerakan orang mengatakan ‘tidak’. Gerakan bahu itu akan sering muncul, sebagai tanda bahwa tubuhmu sendiri tidak setuju dengan kata-katamu.”
Ji Hau Leng hanya diam lama.
Lalu berkata, “Kauwcu seperti cacing yang ada di dalam perutku, yang mengerti isi pikiranku. Tapi kata-katamu tidak membuktikan apa-apa. Hanya untuk membuat kagum anak-anak.”
“Apakah kau bisa membuktikan bahwa aku ada hubungannya dengan hilangnya sahabat-sahabatmu?” tanya Ji Hau Leng.
“Jika aku mau menyelidiki, tentu saja bisa. Tapi aku tak punya waktu.”
“Kaupikir dirimu pintar bukan? Sesungguhnya kau sama sekali tidak tahu apa-apa,” tukas Ji Hau Leng.
“Aku memang tidak penah merasa pintar atau cerdas. Tapi aku pun bukan orang yang sudah pikun.”
Ji Hau Leng mengepalkan tangannya. Suara gemeretak keluar dari jari-jarinya.
Cio San hanya berdiri dan memandangnya.
“Mengapa kau bersedih?” tanya Cio San. Ia melihat guratan-guratan kesedihan di wajah Ji Hau Leng.
“Tidak perlu banyak tanya. Lihat serangan.”
Gerakannya bagai angin puyuh. Seperti ribuan kati batu karang yang dilemparkan. Bahkan jika ada orang berani menangkisnya, tentu tangannya akan hancur.
Cio San menerima pukulan itu dengan gerakan Thay Kek Kun. Menghadapi keras dengan lembut. Jika gerakan Ji Hau Leng cepat dan berat, gerakan Cio San justru lambat dan lemas.
Tapi walaupun Cio San sanggup menepis lengan itu, ia tak dapat menangkapnya. Ji Hau Leng ternyata sama cepatnya dengan Cio San!
“Serangan hebat!” puji Cio San.
Ji Hau Leng diam saja. Ia memusatkan pikiran pada serangan-serangannya sendiri. Kuda-kudanya rendah. Semakin rendah kuda-kuda, berarti semakin dahsyat juga tenaga yang ia kumpulkan. Cio San belum pernah bertemu dengan lawan seperti ini. Yang menggunakan tenaga keras, namun memiliki kecepatan sangat
mengagumkan. Dulu pernah ia menghadapi seorang Hwesio di atas bukit tempat rumah peristirahatan Bwee Hua. Tapi kecepatannya tak sampai separuh kecepatan Ji Hau Leng.
Saat melawan Hwesio itu, Cio sengaja melambatkan gerakannya, karena ia ingin mempelajari gerakan jurus ‘Cakar Macan’ milik Siau Lim-pay. Tapi kini saat menghadapi Ji Hau Leng, Cio San sudah tidak bisa ‘bermain-main’ lagi.
Jurus kedua Ji Hau Leng datang!
Kali ini pukulan yang dilancarkan dengan bertubi-tubi sehingga terlihat seperti 20 pukulan sekaligus!
Kecepatannya sungguh sukar dibayangkan. Cio San menerima keduapuluh serangan itu dengan duapuluh tangkisan yang sama cepatnya. Masing-masing kepalan Ji Hau Leng seperti hilang ditelan telapak Cio San.
Saat keduapuluh kepalan itu menghilang, entah bagaimana, Ji Hau Leng telah berada di atas kepala Cio San. Dari atas, ia melancarkan dua pukulan sekaligus dengan kedua tangannya. Cio San menangkis pukulan dahsyat itu dengan telapaknya lagi.
Tapi pukulan itu sedemikian dahsyatnya, sampai-sampai kaki Cio San amblas ke dalam tanah hingga lutut!
Cio San memang sengaja menyalurkan kekuatan pukulan Ji Hau Leng itu ke tanah, agar tangannya tidak hancur menerima pukulan itu.
Ji Hau Leng sudah bersalto dan kini telah berada di belakang Cio San. Melihat kaki Cio San yang terperangkap dalam tanah, ia yakin Cio San tak akan mampu menghindar lagi dari serangannya. Jika ingin menghindar, Cio San harus menggunakan kakinya untuk bergerak. Ia mungkin bisa menghancurkan tanah yang memerangkap kakinya, tapi itu akan membuatnya kalah langkah sepersekian detik. Hitungan sepersekian detik saja, akan mengakibatkan kesalahan yang fatal!
Dua buah pukulan dilancarkan Ji Hau Leng mengarah ke bagian belakang kepala dan tulung punggung Cio San. Dua buah serangan yang sangat mematikan, sangat dahsyat, dan sukar dilukiskan kata-kata. Tak seorang pun yang sanggup menghindar dari serangan seperti ini.
Dengan sebuah gerakan aneh, tiba-tiba bagian atas tubuh Cio San telah memutar 90 derajat ke belakang. Kelenturan tubuh seperti ini, dulu ia dapatkan berkat berlatih silat dengan Ular Sakti, saat hidup didalam goa. Ji Hau Leng hampir tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Karena kekagetan itu, gerakan Ji Hau Leng menjadi sedikit melambat. Kesempatan itu tak disia-siakan Cio San. Ia menangkap kedua kepalan Ji Hau Leng lalu melemparkannya ke atas.
Saat tubuh Ji Hau Leng berada di atas, segera tubuh Cio San pun melenting ke atas. Dari tangannya keluar dua puluh pukulan pula yang mengincar semua tempat-tempat berbahaya di tubuh Ji Hau Leng.
Saat Ji Hau Leng terlempar ke atas, dengan sebuah gerakan aneh, ia pun sudah mampu membalikkan tubuh menghadapi serangan Cio San. Keduapuluh telapak Cio San pun disambutnya dengan duapuluh tangkisan pula. Malah sambil menangkis itu, kakinya ikut menyerang juga secara berubi-tubi.
Cio San yang kedua tangannya sibuk menyerang Ji Hau Leng, sudah tidak punya apa-apa lagi untuk menghalau puluhan tendangan itu.
Maka diterima saja puluhan tendangan dengan dadanya.
Tidak ada tanah dimana ia bisa menyalurkan tenaga serangan lawan, seperti yang dilakukannya tadi.
Maka Cio San terlempar beberapa tombak ke belakang!
Untunglah tenaga sakti dari jamur-jamuran aneh yang pernah dimakannya, mampu melindunginya dari luka dalam yang parah. Tapi mau tidak mau, sedikit darah merembes keluar dari mulutnya.
Ilmu, kemampuan, dan kecepatan mereka berdua mungkin hampir sama. Tetapi Ji Hau Leng punya pengalaman bertarung lebih banyak!
Begitu Ji Hau Leng menginjak tanah, tubuhnya segera melenting lagi. Kali ini serangannya lebih dahsyat. Bahkan terlihat angin dari tangannya berubah seperti seekor naga.
Lalu dari mulutnya terdengar suara,
“Naga Menggerung Menyesal!”
Cio San tercekat melihat gerakan ini!
Ini adalah jurus pertama dari ilmu silat yang paling ditakuti di dunia persilatan!
18 TAPAK NAGA!!
Cio San tak sempat berpikir lagi. Dengan satu gerakan sederhana, ia menerima pukulan itu dengan kedua telapaknya. Saking dahsyatnya gerakan itu, sampai-sampai tubuh Cio San terlempar ke belakang belasan tombak. Ia memang sengaja tidak mau menyalurkan tenaga itu ke tanah, dan benar-benar menerima kekuatan pukulan Ji Hau Leng.
Ia terlempar tapi tidak terluka! Ini membuat Ji Hau Leng kaget. Biasanya, orang yang berani menerima pukulan itu, akan langsung hancur organ dalamnya dan mati mengenaskan.
Tapi Cio San bangkit dan malah tersenyum!
“Mengapa kau tersenyum?”
“Pukulanmu hebat. Sayang belum sempurna,” kata Cio San.
“Apa?” Dengan kemarahan yang meluap-luap, Ji Hau Leng menyerang lagi. Kali ini jurusnya datang lebih dahsyat lagi.
Gerakan yang maha hebat ini dibarengi dengan teriakan,
“Naga Terbang di Langit!”
Jurus kedua dari 18 Tapak Naga.
Ji Hau Leng seperti benar-benar terbang. Jaraknya dengan Cio San yang belasan tombak itu seperti tiada artinya, karena tahu-tahu, pukulan Ji Hau Leng telah melayang ke arah Cio San.
Kali ini Cio San menerimanya dengan Thay Kek Kun. Gerakan yang sama sederhananya dengan gerakan Ji Hau Leng. Ilmu-ilmu silat yang maha sakti, biasanya sederhana. Karena tiada lagi hiasan-hiasan keindahan gerakan. Yang tertinggal hanya serangan mematikan.
Gerakan Cio San ini walaupun sederhana, namun tidak ada seorang pun murid Bu Tong-pay atau pesilat lain yang sanggup melakukannya. Karena gerakan itu adalah gerakan yang digunakan menahan serangan 18 Tapak Naga. Pesilat mana di muka bumi ini, yang sanggup menangkis 18 Tapak Naga sambil berdiri tegak?
Tapi Cio San bisa.
Karena ia telah paham rahasia penyaluran kekuatan jurus dahsyat itu. Saat pertama kali ia menerimanya, ia sengaja tidak menyalurkannya ke tanah karena alasan ini. Ia ingin mengerti bagaimana orang bisa mengeluarkan tenaga sebesar dan sedahsyat itu.
Begitu tahu rahasianya, maka dengan ‘mudah’ Cio San kini menghadapinya. Inti jurus 18 Tapak Naga ini menggunakan tenaga keras, yang berpusat pada pengerahan tenaga luar. Cio San sebenarnya memiliki kekurangan dalam hal tenaga keras, dan juga penggunaan tenaga luar. Jenis ini adalah jenis tenaga yang dilatih dengan tempaan fisik sangat berat. Jika orang berlatih sampai kepada puncaknya, maka kedahsyatannya bisa jauh lebih tinggi daripada menggunakan tenaga dalam.
Sejak kecil Cio San tak pernah menghadapi tempaan fisik seperti ini. Tubuhnya lemah. Oleh karena itu, Cio San lebih memusatkan latihannya kepada tenaga dalam yang mengacu kepada tenaga lembut. Kebetulan Bu Tong-pay adalah perguruan silat yang menggunakan tenaga lembut.
Satu-satunya saat dimana ia menempa fisiknya, adalah ketika ia hidup di dalam goa selama 3 tahun. Kehidupan yang berat itu, ditambah lagi dengan khasiat jamur sakti, membuat tenaga luarnya mencapai tahap yang berlipat-lipat. Tapi tentu saja masih di bawah Ji Hau Leng yang sejak kecil memang sudah melatihnya.
Ji Hau Leng kini mengeluarkan lagi kuda-kuda rendahnya. Cio San menghadapinya dengan berdiri tegak sambil melipat tangan kirinya ke belakang. Tangan kanannya memain-mainkan rambutnya. Posisi seperti ini adalah posisi bertarung yang paling disukainya.
Kini kepalan Ji Hau Leng seperti mengeluarkan cahaya. Penyaluran tenaga yang dahsyat, memang bisa membuat tubuh seseorang terlihat lebih bercahaya dan bersinar. Tubuhnya kini melenting lagi menuju Cio San.
“Naga Bertempur di Alam Liar!”
Teriakannya membahana bagaikan naga yang mengamuk.
Pukulan jarak jauh ini berupa angin kencang yang mampu merobohkan karang. Anginnya adalah angin panas pula, yang mampu melepuhkan kulit.
Cio San menyambut serangan jarak jauh ini dengan tenang. Datangnya angin sungguh lebih cepat daripada gerakan Ji Hau Leng sendiri. Cio San mengangkat tangan kirinya, suara ular derik terdengar dari jemarinya. Dengan satu hentakan, ia maju menyambut angin dahsyat itu.
Blarrrrrrrrrrrrr……..……!!!!!!!!
Suara gemuruh terdengar, saat tangannya beradu dengan angin dahsyat itu. Saking hebatnya, sampai bagian lengan kiri baju Cio San koyak-moyak. Tangannya tergetar hebat. Tapi getaran itu tidak melukainya, malahan membuat suara getaran derik terdengar lebih jelas.
Di sinilah kehebatan Cio San. Ia menggabungkan jurus ular deriknya yang menggunakan kekuatan luar, dengan Thay Kek Kun yang berdasarkan tenaga dalam lembut. Di dunia ini, mungkin hanya Cio San lah satu-satunya orang yang berhasil menggabungkan kedua tenaga berbeda itu secara bersamaan.
Jurus Ular Derik adalah untuk menahan dahsyatnya tenaga, sedangkan Thay Kek Kun bertujuan untuk mengolah tenaga itu agar tidak melukai tubuhnya.
Kini dengan tangan kanannya, ia mengeluarkan sebuah jurus. Jurus yang sama dengan yang tadi dikeluarkan Ji Hau Leng!
“Naga Bertempur di Alam Liar,” hanya itu bisikan yang keluar dari mulut Ji Hau Leng.
Angin dahsyat itu bahkan lebih dahsyat dari serangan Ji Hau Leng. Karena Cio San menyalurkan tenaga pukulan yang tadi diterimanya dari Ji Hau Leng, untuk digunakan menghadapi Pangcu Kay Pang itu sendiri. Itu juga ditambah dengan tenaga Cio San sendiri. Tenaga sakti jamur di dalam goa, di tambah tenaga sakti hasil latihan Thay Kek Kun.
Tak dapat dibayangkan, betapa kagetnya Ji Hau Leng saat jurus itu mengenai tubuhnya. Selama ini, ia hanya berlatih jurus-jurus itu secara rahasia. Bagaimana mungkin, ada orang yang bisa menggunakannya dengan kekuatan yang jauh lebih dahsyat?
Ia terlempar bertombak-tombak. Mulutnya memuntahkan darah segar. Tapi Cio Santidak memberi ampun. Tubuhnya melayang tinggi, lalu meluncur dengan cepat sambil berputar seperti gasing. Ini adalah jurus maut yang diciptakannya saat melihat Cukat Tong memberi makan burung-burung peliharaannya. Kali ini ia menggunakan kakinya untuk menyerang.
Ji Hau Leng tak dapat melakukan apa-apa lagi. Semangatnya sudah sirna. Keinginan untuk bertempur sudah tak ada lagi. Ia menghadapi serangan ganas Cio San ini dengan tatapan kosong. Tak ada kuda-kuda. Tangannya terkulai lemas ke samping.
Duaaaarrrrrrrrr………...!!!!!!!
Tanah disebelah Ji Hau Leng hancur berantakan. Lubangnya sangat dalam, seperti habis ditabrak batu meteor. Di saat-saat terakhir, Cio San mengalihkan serangannya. Ia tidak mungkin membunuh lawan yang sudah tidak berdaya.
“Kenapa kau tidak melawan?”
Ji Hau Leng tidak menjawab. Hanya tatapan kosong yang ada di wajahnya.
Jiwanya terguncang.
Cio San heran. Ia tahu pukulannya tadi tidak mungkin membunuh Ji Hau Leng, karena itu disambungnya lagi dengan serangan jurus gasing. Tak tahunya Ji Hau Leng malah tak melawan sama sekali.
Dalam batinnya, Ji Hau Leng benar-benar terguncang. Jurus 18 Tapak Naga adalah jurus rahasia Kay Pang. Bagaimana orang luar sanggup menggunakannya? Apalagi orang itu malah ‘menyempurnakannya’ dengan cara menggabungkannya dengan beberapa ilmu lain sekaligus?
Bagi orang yang belajar silat berdasarkan kitab-kitab, maka ilmu silatnya hanya akan sebatas apa yang dijelaskan oleh kitab-kitab itu. Jarang sekali timbul pemahaman yang luas dan mendalam, selain apa yang tertulis di dalam kitab itu. Oleh karena itu, ilmu Ji Hau Leng menjadi terbatas. Memang kekuatannya dahsyat. Bahkan sungguh sangat dahsyat. Tapi sangat sempit dan terbatas.
Cio San yang pemahamannya sangat luas, cukup sekali saja melihat jurus orang lain atau mempelajari penyaluran kekuatannya, maka sudah mampu menggunakan jurus itu. Itu karena ia mencoba menyelami dasar ilmu. Apalagi ditambah dengan pemahamannya terhadap Thay Kek Kun.
Inti kehebatan Cio San adalah ia mampu mengerti dasar dari Thay Kek Kun. Sehingga dengan mudah ia bisa menggunakan ilmu itu secara bebas. Tanpa aturan dan tanpa dibatasi oleh jurus-jurus. Ia bebas mencampurkan ilmu itu dengan ilmu apa saja. Bebas menggunakan ilmu itu dengan jurus-jurus dari ilmu lain.
Justru disinilah letak kehebatan Thay Kek Kun.
Ilmu ini menitikberatkan kepada penyaluran tenaga yang alami. Semua jurus silat, penyaluran tenaganya, serta gerakan-gerakan jurusnya, pasti tak akan bertentangan dengan alam. Oleh karena itu, seseorang yang paham dengan Thay Kek Kun, seharusnya bisa memahami jurus-jurus yang lain.
Sayangnya, kebanyakan murid Bu Tong-pay memandang Thay Kek Kun sebagai jurus-jurus dan ilmu silat baku yang diciptakan Thio Sam Hong. Mereka tidak memandang ilmu itu sebagai pijakan dasar berpikir dalam ilmu silat. Itu sebabnya, ilmu silat mereka tidak berkembang.
Itu jugalah yang terjadi pada ahli-ahli silat kebanyakan yang ada di kalangan persilatan. Mereka memiliki ilmu-ilmu yang sakti, sebagai hasil dari latihan bertahun-tahun. Tapi dasar pemahaman pijakan berpikir mereka sendiri sama
sekali tidak ada. Mereka terpaku oleh jurus dan jurus. Tak berani mengotak-atik ilmu mereka sendiri.
Kebanyakan, karena menganggap ilmu mereka yang paling hebat.
Kebanyakan juga, karena merasa ilmu mereka sudah sempurna.
Tapi yang paling banyak adalah, karena mereka sendiri juga tak paham, mengapa dan bagaimana ilmu-ilmu itu diciptakan.
Jika mereka mampu menyadari bahwa di dalam kekosongan, sebuah ilmu silat akan mampu berubah menjadi jurus apa saja. Menjadi berbagai macam bentuk, dan berbagai macam perubahan, maka sungguh mereka akan mampu menjadi pesilat yang tak terkalahkan.
Sayangnya, hanya Cio San yang mampu.
Untungnya, hanya Cio San yang mampu.
Ji Hau Leng hanya menatap Cio San.
“Bagaimana kau bisa menggunakan 18 Tapak Naga?”
“Aku melihatmu menggunakannya tadi.”
“Kau sekali lihat langsung bisa?”
“Tidak. Aku harus menerima pukulan-pukulanmu dulu baru, aku paham cara kerjanya.”
“Kau bilang ilmuku belum sempurna,” kata Ji Hau Leng.
“Memang. Itu karena kau menitikberatkan 18 Tapak Naga pada kekuatan luar yang sangat dahsyat. Padahal, jika digabungkan dengan tenaga dalam yang lembut, justru akan menghasilkan kekuatan yang lebih dahsyat,” jelas Cio San.
“Aku…, aku pernah mendengar bahwa leluhur Kwee Ceng telah mampu menggabungkannya dengan ilmu lain yang lebih lembut. Ta… tapi aku tak tahu bagaimana caranya.”
“Itu karena kau terlalu banyak berpikir. Seharusnya, kaubiarkan saja ilmu itu mengalir dengan alami. Pada akhirnya, kau akan menemukan caranya.”
“Tapi aku sudah terlambat, bukan? Kau tak akan memberiku waktu, bukan?”
“Jika kau mengatakan dimana sahabat-sahabatku, aku akan mengampunimu.”
Pada awalnya ia ingin membunuh Ji Hau Leng. Tapi melihat keadaannya yang demikian, luluh juga hati Cio San.
“Aku sungguh tak tahu di mana mereka berada,” jawab Ji Hau Leng.
“Siapa yang memerintahkanmu untuk menjemputku dan mengalihkan perhatianku?” tanya Cio San.
“Bwee Hua Sian.”
“Kenapa kau patuh kepadanya? Bukankah kau adalah pemimpin partai terbesar di kolong langit ini?”
“Ia…..”
Cinta!
Semua ini karena cinta.
Orang melakukan apapun demi cinta.
Apakah benar orang melakukannya demi cinta?
Bukankah orang melakukan apapun adalah demi dirinya sendiri? Ia takut kehilangan, ia takut ditinggalkan. Ia takut kesepian. Ia takut tak ada yang mencintainya lagi. Ia takut hatinya bersedih.
Jadi sesungguhnya, orang melakukan apapun bukan karena cinta. Melainkan untuk dirinya sendiri.
"Tolong kau selamatkan dia, jangan bunuh dia,” kata Ji Hau Leng.
“Kau jangan…,” ucapan Cio San terhenti.
Tubuh Ji Hau Leng telah jatuh dan roboh. Ia telah mengambil nyawanya sendiri.
Di dunia ini, siapakah yang berani menanggung malu sebesar ini? Menjadi pendekar yang dikagumi, membawahi puluhan ribu anggota partai terbesar di Bu Lim, tetapi melakukan hal-hal rendah demi cinta?
Tapi Cio San tak pernah menganggap hal itu rendah.
Orang yang mati demi cinta, adalah orang yang berbahagia. Apapun kata orang. Serendah apapun hinaan orang. Cinta harus diperjuangkan. Dan jika engkau mati di tengah jalan, engkau tetap orang yang beruntung. Karena setidaknya di dalam hatimu, masih ada sedikit kesetiaan dan kasih sayang.
Cio San mengangkat tubuh Ji Hau Leng dengan penuh hormat. Pendekar ini telah mempertanggungjawabkan semua perbuatannya. Maka Cio San bertekad membawa tubuh Ji Hau Leng kembali ke markasnya.
Cintanya kepada Bwee Hua Sian sungguh suci dan dalam. Tapi ia tahu perbuatannya salah.Ia pun tahu Bwee Hua Sian hanya memanfaatkannya. Ia pun tahu Bwee Hua Sian tak akan menjadi miliknya.
Karena itu ia rela pergi. Pergi sejauh-jauhnya sebelum semua ini menjadi lebih parah lagi. Lebih menakutkan lagi.
Ia masih mencintai perempuan itu.
Tapi ia pun masih memiliki harga diri dan kehormatan.
Di akhir hayatnya, ia memilih kehormatan.
Apakah karena ia tahu, ia tak akan mampu memiliki perempuan itu?
Sampai menjelang sore, baru Cio San sampai di markas itu. Kedatangannya membawa kekagetan dan tangisan membahana.
Seluruh pengemis yang ada di sana menangis, dan berebut mencium jasad ketua mereka. Setelah itu, mereka mengurus jasad itu dengan baik.
Cio San heran, mengapa ia tidak ditanyai macam-macam. Kematian orang besar seperti ini, tentunya menimbulkan kehebohan. Apalagi dia adalah Pangcu partai terbesar. Cio San sedikit kecewa, mengapa tidak ada seorang pun anggota Kay Pang yang menanyakan banyak hal kepadanya.
Ketika ia meminta diri untuk pulang, semua orang lalu berlutut di hadapannya.
“Salam hormat kepada Pangcu!”
Cio San tak bisa berkata apa-apa lagi.