Dragon and Phoenix

Dragon and Phoenix
Bab 25: Perpisahan



, Cio San akhirnya menuju ke kamar Mey Lan. Pintu kamarnya tertutup. Cio San mengetuknya.


“Meymey… Meymey…,” panggilnya halus sambil mengetuk.


“Aku berjanji, Kwee Mey Lan. Aku akan kembali untukmu. Entah kapan. Tapi demi Tuhan, aku berjanji untuk kembali. Maukah kau menungguku?”


Tak ada jawaban. Tak perlu ada jawaban. Pandangan mata itu telah menjawab semuanya.


Mereka berpegangan tangan. Seperti merasa mereka tak akan bertemu kembali.


, Cio San memutuskan pergi saja ke kota Wang An. Memang pada awalnya, ia ingin kembali ke desa kakeknya. Berhubung arah daerah itu sama dengan arah kota Wang An, maka Cio San memilih untuk ke kota Wang An saja dulu.


Tapi yang lebih membuat Cio San kagum adalah lawan mereka. Orang yang bertubuh kekar itu dengan gagah menantang hujan pedang. Senjatanya adalah sebuah tombak yang bermatakan golok. Tangkai tombaknya yang berwarna emas menimbulkan suara menderu-deru ketika ia memutar-mutarkannya untuk menghalau serangan pedang.


Melihat lawan mereka terjengkang ke belakang, serta-merta tubuh mereka melenting juga ke depan. Kini mereka berbaris dalam satu barisan. Yang di belakang meletakkan tangan ke punggung yang di depannya. Begitu seterusnya, sampai yang paling depan merasa ada tambahan ribuan energi yang memasuki tubuhnya. Begitu merasa saluran dan dorongan tenaga yang dahsyat ini, Gak Siauw Hong yang merupakan orang paling depan di barisan itu, langsung melesat ke depan bagai anak panah! Tidak ada tubuh yang terlihat. Hanya terlihat bayangan pedangnya saja. Itu pun bagaikan kilat.


.


“Baiklah! Di Bu Tong-san dulu kau cuma anak bawang. Coba kita lihat hasil pencurian dan pengkhiatanmu. Apakah sebanding.”


“Tunggu dulu… Jika aku menang, bagaimana?” tanya Cio San lagi.


“Tidak mungkin. Tapi jika kau menang, kami akan tunduk apa katamu!”


“Baik. Kata-kata murid Bu Tong-pay adalah emas. Aku percaya.”


Hanya sebentar mereka memasang kuda-kuda. Hanya sekian detik.


Detik yang penuh kesunyian.


Yang kemudian dipenuhi oleh suara pertempuran lagi.


“Ketahuilah, aku tidak mencuri kitab sakti apa-apa,” tukas Cio San.


“Lalu darimana kau bisa mempelajari ilmu yang sedemikian hebat seperti itu? Lweekang (tenaga dalam) mu maju sangat pesat. Ginkang (ilmu meringankan tubuh) mu sungguh lihay,” tanya Ko Kam Sing.


“Aku mempelajarinya dari seekor ular saat aku terdampar di sebuah goa,” jawab Cio San jujur.


“Mengapa tidak kau bilang saja, dewa dari langit turun ke bumi dan mengajarkan jurus itu kepadamu!?” sahut Lau Han Po.


Memang jika orang sudah tidak menyukaimu, kata-kata dan perbuatan apa saja yang kau lakukan selalu tidak akan pernah diterimanya.


Menyadari ini, akhirnya Cio San hanya bisa berkata,


“Sudahlah jika kalian tidak mau percaya….. Suatu hari nanti, aku akan naik ke Bu Tong-san dan menjelaskan semua kejadian yang ada. Aku akan menjelaskan sendiri kepada Lau-ciangbunjin. Sekarang permintaanku hanyalah satu, lepaskan saja Bun Tek Thian. Dia sudah tidak berdaya. Dan menyerang orang yang sudah tak berdaya bukanlah perbuatan para Enghiong.”


“Apa hubunganmu dengan dia?” tanya Gak Siauw Hong.


“Tidak ada hubungan apa-apa.” Cio San menjawab sambil mengelus lagi helaian rambutnya.


“Lalu kenapa kau menolongnya?” sahut Lau Han Po.


“Tidak ada alasan. Aku cuma tidak suka melihat nama baik Bu Tong-san rusak, karena nanti di kalangan Bu Lim, orang akan membicarakan bahwa Bu Tong-pay mempunyai anak murid pengecut yang membunuh orang yang sudah tidak bisa melawan.”


Melawan orang bermulut tajam seperti Lau Han Po, memang juga harus menggunakan mulut yang tak kalah tajam.


“Alasan! Manusia hati pengkhianat seperti kau pastinya sudah menjadi anggota Mo Kauw sejak dulu!”


Karena memang kurang berbakat adu mulut, maka Cio San hanya berkata, “Kalian pergilah! Sebelum kupotong urat nadi kalian sampai lumpuh seluruh badan.”


Di dunia ini, yang paling ditakuti oleh orang Kang Ouw lebih dari kematian, memang hanyalah menjadi lumpuh.


“Kau…kau melepaskan kami?”


“Benar,” ia menjawab pendek saja. “Pergilah. Ambil pedang kalian dan pergilah dari sini.”


Tidak perlu menunggu perintah kedua, kelima orang itu sudah melesat jauh dan menghilang.


Sebenarnya Cio San ingin bertanya, apa masalah sampai mereka mengadu nyawa dengan Bun Tek Thian. Tapi ia sudah terlanjur menyuruh pergi. Memanggil mereka kembali dan bertanya tentu tidaklah lucu.


Ia lalu menuju ke Bun Tek Thian yang dari tadi duduk bersila menyembuhkan luka dalamnya. Cio San membantu menyalurkan tenaga dalamnya sendiri melalui punggung orang itu. Tak berapa lama, Bun Tek Thian membuka mata dan merasa tubuhnya sudah lumayan segar.


Begitu segar, ia segera berbalik menghadap Cio San yang sedang bersila di belakangnya. Ia tidak bersoja dan mengucapkan terima kasih. Ia malah menyerang Cio San dengan sebuah totokan ke titik hiat to.


Kini Cio San tertotok!


Seluruh tubuhnya lumpuh!


“Salam kenal, Cio San! Perkenalkan, aku Bun Tek Thian-tianglo (penasehat) dari partai Ma Kauw!”