Dragon and Phoenix

Dragon and Phoenix
Bab 29: Persahabatan



“Memakai topeng ‘kan bukan kewajiban. Membunuh orang ‘kan bisa pakai baju apa saja. Baju tentara pun boleh,” sanggah Bun Tek Thian.


“Kalau bisa membunuh dengan memakai topeng, kenapa sekarang membunuh memakai baju tentara?” Cio San tersenyum. Ia melanjutkan, “Aku yakin para ‘tentara’ ini pasti dari kelompok yang berbeda. Karena, jika mereka memang benar kelompok bertopeng, mereka tidak perlu repot-repot berdandan tentara.”



Kauwcu termenung. Segala perkataan Cio San masuk akal. Dia yang sudah sangat berpengalaman dalam hidup pun, belum tentu mampu mengambil kesimpulan secepat dan secermat itu. Ia hanya bisa duduk dan memandang Cio San yang sambil berbicara, sibuk mengobati anak buahnya yang terluka.


“Kau memang orang yang liang sim (berhati mulia). Kami telah menculikmu, tapi kau tidak membalas, malah menolong kami semua.”


“Jika aku membalas, apa yang kudapatkan, Kauwcu?”


“Lalu jika kau menolong kami, apa yang kau dapatkan?”


“Persahabatan!” sahut Cio San sambil tersenyum.


“Apa gunanya bersahabat dengan partai Ma Kauw? Kami adalah orang-orang terbuang dari dunia persilatan. Anggota kami adalah para siauw jin. Orang hina dina. Di mana-mana kehadiran kami ditolak. Manfaat apa yang kau dapatkan jika bersahabat dengan kami?”


“Saya tidak pernah melihat sesuatu dari azas manfaat. Semua saya lakukan karena saya SUKA.”


Di dunia ini memang tidak ada yang bisa mengalahkan kata “SUKA”. Kenapa kau suka makanan A, dan bukan makanan B? Kenapa kau lebih suka musik daripada memancing? Tiada yang bisa menemukan jawaban yang tepat. Kalau sudah suka, ya suka. Tidak perlu ada alasan karena menyukai sesuatu. Begitu pula dengan cinta. Kau tak


perlu alasan apapun karena mencintai seseorang.


Dan Ma Kauw-kauwcu yang berpandangan luas pun paham hal ini. Ia tersenyum. “Kau memang mirip dengan gurumu Kam Ki Hiang.”


“Terima kasih, Kauwcu.” Cio San tersenyum tulus.


Setelah beberapa lama membantu semua orang yang terkena racun, Cio San berkata,


“Kauwcu saya sendiri belum tahu obat apa yang bisa benar-benar memunahkan racun ini secara sempurna. Tadi saya sudah mengerahkan tenaga dalam kepada semua orang. Ini hanya sekedar upaya untuk menjinakkan racunnya saja. Ia bisa kembali menyerang tubuh kapan saja jika tidak segera dipunahkan dengan sempurna. Saya


“Apa yang kau lakukan kepada kami ini, tidak sanggup kami balas dengan kebaikan apapun, Cio San. Lakukanlah apa yang kau bisa. Kami menurut apa katamu saja. Eh, ngomong-ngomong, dimana kau belajar ilmu pengobatan?”


“Kam-suhu memberi sebuah kitab masak, yang ternyata juga berisi pelajaran tentang bahan-bahan yang berguna bagi tubuh manusia. Dari situlah saya belajar sedikit tentang pengobatan. Kalau boleh saya tahu, apakah jumlah anggota yang ada di markas besar ini hanya ini saja atau ada orang lain?”


“Hanya ini saja. Anggota kami jumlahnya puluhan ribu, tapi menyebar di seluruh Tionggoan. Hanya inilah anggota yang berada di markas utama. Memangnya kenapa, Cio San?”


“Jika perkiraan saya benar, mungkin tak lama lagi akan ada pasukan yang menyerang kesini. Mereka akan tetap kesini, baik Po Che King berhasil atau tidak dalam usahanya meracuni kalian semua.”


“Kalau begitu, kita harus segera menyingkir. Cepat siapkan diri, aku mempunyai sebuah jalan rahasia,” kata Ma Kauw-kauwcu.


Setelah mengumpulkan perbekalan dan obat-obatan, seluruh orang yang berjumlah kurang lebih 50 itu bergegas mengikuti sang Kauwcu. Jalan rahasia itu ternyata berada di bawah tempat tidurnya. Sebuah jalan kecil yang lebarnya hanya cukup dilalui dua orang.


“Sudah umum jika sebuah partai besar memiliki jalan rahasia,” kata Kauwcu. “Kau tak pernah tahu apa yang akan terjadi, oleh karena itu harus bersiap-siap.”


Cio San mengangguk dan tersenyum. “Masuk akal juga,” katanya.


Jalan rahasia itu berkilo-kilo panjangnya. Kadang mereka harus berhenti untuk beristirahat, lalu kembali melanjutkan perjalanan. Hampir 5 jam mereka melewati terowongan yang sempit itu. Untunglah tak lama kemudian terlihat cahaya di ujung sana.


Begitu keluar, ternyata mereka sudah berada di pinggir sungai. Gunung kecil tempat markas Ma Kauw ternyata sebuah bukit yang dekat dengan sungai. Seseorang lalu datang menyambut mereka.


“Salam hormat dan panjang umur kepada Kauwcu!” kata orang itu sambil berlutut.


“Apakah kapal siap?” tanya Kauwcu.


“Selalu siap. Kemana kita akan pergi, Kauwcu?”


“Ke Istana Ular.”