
Pada hari ke-8, mereka beristirahat di sebuah hutan. Mereka membuat perapian dan menikmati makan malam. Rusa panggang dan nasi hangat. Tentunya dengan beberapa cangkir arak untuk menghangatkan badan. Setelah makan, mereka semua tidur. Kecuali Yan Tian Bu. Malam itu, ia memang mendapat giliran berjaga. Perapian
dan arak memberi mereka semua kehangatan. Padahal mereka tidur di alam terbuka.
Memasuki tengah malam, Cio San tiba-tiba terbangun. Cukat Tong juga ikut terbangun beberapa saat kemudian.
“Kau dengar itu?” tanyanya kepada Cio San.
Yang ditanya hanya mengangguk-angguk. Yan Tian Bu tetap berada di tempatnya. Ia heran, suara apa yang sedang didengarkan kedua orang itu. Tak berapa lama, muncul bayangan hitam. Seseorang telah muncul di situ. Ia berjalan dengan santai. Wajahnya tertutup topeng.
“Salam kepada Mo Kauw-kauwcu dan Raja Maling,” kata orang itu sambil bersoja.
“Salam,” jawab Cio San. “Tuan siapakah?”
“Jika kau ingin tahu, silahkan ikut aku,” jawab si orang bertopeng.
“Kau tunggu di sini,” kata Cio San kepada Cukat Tong. Ia lalu beranjak.
“Bagus. Cio San memang adalah Cio San.” Wajahnya tertutup topeng, tapi orang bisa melihat bahwa ia sedang tersenyum di balik topengnya.
“Silahkan.” Cio San mempersilahkan si orang bertopeng duluan. Ia lalu mengikutinya.
Si orang bertopeng bergerak dengan sangat cepat. Melompat ke atas dahan pohon, turun lagi, menyelinap ke balik pohon, dan berlari dengan sangat cepat. Karena tidak mendengar suara kaki Cio San di belakangnya, ia menoleh. Ternyata Cio San memang masih berada di belakangnya sedang tersenyum memandangnya.
Tak berapa lama, setelah si orang bertopeng merasa mereka cukup jauh dari rombongan Cio San, ia kemudian berhenti di sebuah tanah yang agak lapang.
“Aku adalah orang kau cari-cari selama ini,” kata si orang bertopeng.
“Aku tidak pernah mencari-cari orang. Tuan mungkin salah alamat,” jawab Cio San sambil tersenyum. Jemarinya memainkan rambutnya, sedangkan tangan kirinya terlipat ke belakang.
“Aku adalah orang yang merencanakan semua pembunuhan itu. Akulah otak segala kekacauan dalam Bu Lim.”
“Ah….” Hanya itu yang keluar dari mulut Cio San.
“Aku datang untuk memperingatkanmu, untuk tidak mencampuri urusanku!”
“Tuan mungkin lupa. Tapi aku tak pernah mencampuri urusanmu. Orang-orangmu yang selalu datang mencariku dan ingin membunuhku.”
Si orang bertopeng di depan Cio San seperti kehilangan kata-kata.
“Aku tidak menyukaimu. Aku ingin kau mati,” katanya.
“Sudahlah. Rencana bodohmu ini aku sudah tahu. Rencana seperti ini hanya membuat akal pikiranku terhina.”
“Rencana apa?”
Cio San hanya geleng-geleng. Wajahnya menampilkan rasa kecewa.
“Kau sedang menggunakan akal ‘memancing harimau meninggalkan sarang’, bukan? Kau berharap saat aku meninggalkan rombonganku, gerombolanmu bisa menyergap dan menyerang rombonganku, bukan? Kau sendiri bukanlah si ‘otak besar’ itu. Kau cuma orang suruhan,” kata Cio San.
Sinar mata si orang bertopeng berkilat kaget.
“Kalau kau sudah tahu, kenapa kau tinggalkan mereka?” tanya si orang bertopeng.
“Kau bukan hanya meremehkanku, kau pun meremehkan Raja Maling dan Ang Lin Hua,” kata Cio San.
Lalu ia melanjutkan,
“Hal ini sudah pasti kalian akan kalah, tapi tetap kau lakukan juga. Ini sudah pasti bukan perintah dari si ‘otak besar’. Ini pasti kau sendiri yang merencanakannya. Si ‘otak besar’ tidak akan melakukan hal sebodoh itu.”
Lagi-lagi si orang bertopeng menampilkan kekagetannya.
Telinga Cio San telah mendengar suara pertarungan nun jauh di sana. Di tempat rombongannya beristirahat.
Ia lalu mengerutkan kening.
“Kau memang sengaja ingin membunuh teman-temanmu sendiri?”
“Cio San memang Cio San. Kabar tentang kecerdasanmu memang telah membuatku kagum. Kau benar. Aku memang ingin membunuh teman-temanku sendiri dengan meminjam tangan kalian.”
Cio San hanya memandanginya saja.
Si orang bertopeng melanjutkan,
“Tuan kami, orang yang kau sebut si ‘otak besar’, telah berhasil mengumpulkan banyak pendekar Kang Ouw untuk tunduk di bawah kekuasaannya. Kami sendiri tidak saling mengenal antar satu sama lain, karena kami selalu menggunakan topeng. Tapi dari jurus-jurus silatnya, akhirnya kami bisa saling mengenal. Walaupun hanya bisa
meraba-raba, karena masing-masing menyembunyikan ilmu silatnya yang sebenarnya.”
Lanjutnya,
“Si ‘otak besar’ pun memberikan kami kitab-kitab silat sakti. Ia memiliki kitab-kitab silat perguruan-perguruan besar seperti Go Bi-pay, Kun Lun-pay, dan Hoa San-pay. Bahkan kitab-kitab silat sakti milik Bu Tong-pay dan Siau Lim-pay pun, ia miliki. Kau bisa bayangkan, orang sehebat apa dia, yang mampu mencuri kitab-kitab sakti partai-partai besar itu? Kitab-kitab ilmu yang sangat mereka rahasiakan.”
Cio San hanya mengangguk-angguk.
Si orang bertopeng melanjutkan lagi,
“Maka kau bisa bayangkan, betapa hebatnya ilmu kami semua? Orang secerdas dan sesakti kau pun, tak akan mampu melawan kehebatan si ‘otak besar’ dan kami semua.”
Suara pertempuran nun jauh di sana sudah berhenti.
“Ah, sudahlah. Bukan itu yang ingin kuceritakan kepadamu. Sebenarnya, setelah lama berkumpul dengan anggota kelompok yang lain, aku mulai yakin, bahwa beberapa orang musuhku berada di antara kelompok ini. Akhirnya, bisa kau tebak sendiri, aku meminjam tenaga kalian untuk membunuh mereka.”
“Keinginanmu sudah terlaksana,” kata Cio San. “Apa maumu sekarang?”
“Karena kau sudah membantuku menyingkirkan musuh-musuhku, aku ingin memberitahumu rahasia penting.”
“Silahkan,” kata Cio San.
“Aku tahu siapa si ‘otak besar’ itu sebenarnya,” kata si orang bertopeng.
“Kenapa ingin kau beritahukan kepadaku?” tanya Cio San
“Aku benci menjadi budaknya selamanya.”
“Kau tadi bilang, aku tak akan mampu melawannya. Kenapa sekarang kau berubah pikiran?” tanya Cio San lagi.
“Kalau kau tahu siapa dia sebenarnya, tentunya kau mampu menyusun langkah agar mampu mengalahkannya.”
“Dia adalah perempuan paling cantik dan paling kaya di dunia,” jawab si orang bertopeng.
“Maksudmu Khu-hujin?” tanya Cio San.
“Siapa bilang dia paling cantik dan paling kaya?” si orang bertopeng balik bertanya.
“Oh, jadi ada lagi? Siapa namanya?”
“Kau akan tahu saat kau bertemu dengannya,” jawab si orang bertopeng.
Cio San mengangguk-angguk. “Terima kasih,” katanya.
“Jika kau berhasil membunuhnya, aku akan datang membawa persembahan kepadamu,” kata si orang bertopeng.
Sehabis berkata begitu ia sudah melompat hilang dari situ.
Tinggallah Cio San sendirian di sana. Ia lalu berjalan dengan santai kembali ke rombongannya. Benar saja, ada beberapa mayat bergelimpangan di sana. Cukat Tong yang pertama menyambutnya.
“Kau berhasil mengalahkannya?”
Cio San menggeleng. “Tentu saja itu bukan dia.”
“Mereka menggiringmu pergi agar dapat meringkus kami. Tapi dia salah perhitungan. Ang-Siocia (Nona Ang) menghabisi mereka semua. Dalam beberapa hari ini, ilmu silatnya meningkat pesat. Sungguh hebat.”
Cukat Tong memujinya secara terang-terangan.
Ang Lin Hua hanya bisa berkata, “Tidak berani..tidak berani..,” sambil menjura. “Semua berkat petunjuk Kauwcu yang mulia.”
“Baiklah. Mari kita kuburkan mayat-mayat ini secara layak,” kata Cio San.
Mereka semua bekerja dan menguburkan belasan mayat saat itu juga. Setelah selesai, mereka kembali beristirahat.
Kali ini giliran Cukat Tong yang berjaga-jaga.
Lama ia diam saja. Akhirnya, karena tidak kuat menahan rasa penasaran, ia mengajak Cio San bicara. Padahal Cio San terlihat sudah tertidur.
“Kau tidak ingin menjelaskan kepadaku apa yang tadi terjadi?”
Dengan agak malas-malasan Cio San menjawab,
“Mengapa kau anggap remeh akalmu sendiri? Kau adalah Raja Maling.”
“Raja Maling jika berada di sebelahmu, hanya seekor kura-kura. Kalau ada kau disini, urusan berpikir kuserahkan kepadamu seluruhnya,” ujarnya sambil tertawa.
Cio San akhirnya bangkit.
“Dasar pemalas,” tawanya.
Ia lalu melanjutkan, “Kau pasti sudah tahu jika mereka tadi menjalankan akal ‘memancing harimau keluar sarang’?”
“Ya,” jawab Cukat Tong pendek.
“Si orang bertopeng yang mengaku sebagai ‘otak besar’ itu mengira dia dapat membohongiku.”
“Apa katanya?”
“Dia bilang, ia ingin meminjam tangan kita untuk membunuh kawan-kawan gerombolannya sendiri.”
“Alasannya apa?” tanya Cukat Tong.
“Katanya, beberapa anggota gerombolannya ternyata adalah musuh-musuhnya. Jadi ia ingin meminjam tangan kita,” jelas Cio San.
“Lalu kenapa ia harus memancingmu pergi? Bukankah jika ada kau, urusan pinjam-meminjam tangan itu akan lebih cepat selesai?” tanya Cukat Tong lagi.
“Jika ia tidak memancingku pergi, tentu teman-temannya tak akan berani menyerang. Mereka ‘kan sudah benar-benar tahu apa yang bisa kulakukan.”
"Jadi ia menyamar sebagai si ‘otak besar’ dan memancingmu keluar, agar teman-temannya berani menyerang kami? Hmmm… Bagus juga akalnya. Lalu?”
“Lalu setelah teman-temannya mati, sebagai ucapan terima kasih, ia memberitahukan sebuah rahasia kepadaku.”
“Rahasia apa?”
“Rahasia jati diri si ‘otak besar’ yang sebenarnya.”
“HAH? Siapa dia?”
“Kata si orang bertopeng, dia adalah wanita tercantik dan terkaya di seluruh dunia.”
Wajah Cukat Tong langsung berubah, “Di…dia?”
“Kau kenal?”
Cukat Tong hanya mengangguk dan tak bisa berkata apa-apa. Wajahnya menunduk.
Segera Cio San berkata, “Tentu saja aku tidak percaya kebohongannya.”
“Kenapa kau tidak percaya?”
“Karena aku sudah tahu siapa si ‘otak besar’ sebenarnya.”
“Kau tahu? Si..siapa?”
“Rahasia. Aku akan memberitahukannya, jika aku benar-benar bisa membuktikannya. Jika tidak, ia akan lolos dengan mudah.”
“Lalu, apa maksud si orang bertopeng tadi memberitahukan rahasia palsu itu?”
“Untuk menjerumuskanku ke dalam jalan yang salah. Fitnah, agar aku terpengaruh, dan tidak mencurigainya,” jelas Cio San.
“Untuk hal itu, ia mengorbankan belasan anak buahnya. Gila sekali!” kata Cukat Tong.
“Bisa saja, dia memang sudah tidak membutuhkan belasan anak buahnya itu,” kata Cio San.
“Dan ia menganggapmu dungu untuk begitu saja percaya tipu dayanya. Hahaha…,” tawa Cukat Tong.
Ia melanjutkan lagi, “Kadangkala, orang yang paling ***** adalah, orang yang menganggap orang lain lebih ***** daripada dirinya.”