
Dengan pemahaman seperti ini, justru kehebatan ilmunya semakin bertambah. Karena ilmu silatnya tidak dibatasi oleh jurus, atau ingatan terhadap gerak-gerak, namun berdasar pada perubahan-perubahan yang terjadi di dalam pertarungan. Ilmu seperti ini bahkan tidak memiliki batasan apapun.
Bergerak mengikuti alam. Itulah inti sari yang dipahami Cio San berdasarkan kecerdasan pemikirannya. Padahal itu juga dasar pemikiran Thio Sam Hong ketika ia menciptakan Thay Kek Kun. Sehingga jika dilihat dari gerakannya, sesungguhnya gerakan Cio San adalah gerakan dasar Thay Kek Kun. Tetapi kini menjadi jauh lebih cepat, lincah, dan juga ganas. Karena dicampurnya dengan gerakan silat sang ular sakti.
Begitulah, ‘persahabatan’ aneh ini malah membuat Cio San semakin betah berada di dalam goa itu. Perilaku ular emas kini sangat jinak terhadap Cio San. Bahkan jika Cio San berbicara kadang ular itupun mengangguk atau menggeleng.
Pada suatu malam bulan ke-7 persahabatan itu, sesuatu yang aneh terjadi. Ular itu menggeliat-geliat. Cio San yang saat itu telah tidur terbangun. Ia heran melihat perilaku sahabatnya itu. Ketika disentuhnya, badan ular itu panas
sekali.
“Apakah ular juga bisa sakit demam?” begitu pikir Cio San.
Walaupun mengerti tentang pengobatan, dia belum pernah merawat orang sakit demam. Apalagi ular yang sakit demam. Ular itu terus menggelit-geliat. Dari tubuhnya keluar bau wangi yang bercampur dengan bau amis.
“Ada apa, Kim-ko?” tanya Cio San lembut. Ia memang memanggil ular itu dengan sebutan Kim-koko atau Kakak Emas.
Ular itu hanya menggeleng-geleng dan menggeliatkan badannya yang panjang. Suara derik kini mulai muncul. Tetapi jika biasanya suara derik itu muncul hanya dari ekornya saja, kini suara derik itu keluar dari seluruh tubuhnya.
“Ada apa ini?” pikir Cio San. Ia berputar berkeliling memeriksa badan sang ular.
Tak lama, pertanyaannya terjawab. Sedikit demi sedikit, terlihat retakan di kulit si ular. Lalu retakan itu menjadi banyak. Ternyata ular itu sedang berganti kulit.
“Oh.., ternyata kau sedang berganti kulit, Kim-ko? Bikin kaget saja. Hahaha….” Cio San menjadi lega. Memang ular itu sedang mengganti kulit.
Tetapi ada yang aneh. Jika ular berganti kulit, biasanya kulit barunya sudah ada di dalam kulit yang lama. Akan tetapi ular ini…….
Tidak ada sedikitpun kulit baru di tubuhnya!
Ketika seluruh kulitnya tanggal, yang terlihat hanyalah dagingnya yang berwarna putih bersih.
“Tidak sakit?? Berarti memang begitukah cara pergantian kulitmu?” tanya Cio San lagi. Kali ini ular itu mengangguk-angguk.
Hawa tubuh ular itu panas sekali. Bahkan sanggup memanaskan air tempat ia berbaring dan berendam. Malah sampai bisa menguapkan air itu.
“Hebat sekali,” pikir Cio San. Ia kagum dengan keagungan Tuhan yang menciptakan hewan-hewan seperti ini. Belum pernah ia melihat yang seperti ini.
Tubuh ular itu panas sekali. Warna dagingnya yang putih, malah hampir tembus pandang, menampakkan urat-uratnya. Cio San kaget dan kagum sekali. Baru kali ini dia bisa melihat urat-urat dan jalan darah seekor ular. Otaknya yang cerdas dan pikirannya yang sangat terbuka, merangsangnya untuk memperhatikan jalan darah
itu.
Cio San memperhatikan terus. Melihat dan mempelajari jalan darah sang ular. Bahkan ia hampir bisa melihat tulang-tulang ular itu. Dagingnya ternyata tipis sekali. Mungkin karena itulah ular itu memiliki kulit sisik yang sangat tebal yang bahkan tidak bisa ditembus oleh tenaga dalam.
“Tuhan memang Maha Segalanya...,” pikir Cio San. Matanya tak lepas mempelajari susunan tulang dan jalan darah ular itu. “Kim-ko bolehkah aku memperhatikan tubuhmu? Mempelajari tubuhmu?” tanya Cio San.
Sang ular hanya mengangguk-angguk pelan. Sepertinya ia kesakitan dan sangat kepanasan. Uap-uap air akibat terimbas panas tubuhnya, semakin memenuhi terowongan goa itu.
Cio San terus mempelajari, sambil menyiramkan air ke tubuh sahabatnya itu, agar tidak terlalu kepanasan. Si ular nampaknya merasa tertolong juga dengan perbuatan Cio San tersebut.
Setelah lama mempelajari, akhirnya Cio San paham juga seluruh seluk-beluk ular itu. Dan sang ular pun kini sudah mulai membaik. Cio San tak henti-hentinya menyirami sekujur tubuh ular itu. Walaupun sang ular sudah berendam di dalam sungai, namun karena tubuhnya sangatlah besar dan panjang, maka ada juga beberapa bagian yang tidak terkena air.
Melihat keadaan ular yang semakin membaik, Cio San senang sekali. Selain karena sahabatnya itu tidak menderita lagi, ia kini menemukan pengetahuan baru, tentang jalan darah ular beserta susunan tulang-tulangnya. “Pantas ular bisa menggeliat dan melingkar-lingkar dengan sangat lentur. Itu karena ia memiliki jalan darah yang berbeda dengan makhluk lain, serta tulang-tulang yang sangat lemas,” pikir Cio San.
Setelah pergantian kulit selesai, dan tubuhnya mulai mendingin, akhirnya sang ular itu bisa tidur dengan pulas. Melihat ini, Cio San hanya tersenyum.
“Selamat tidur, Kim-ko. Besok kita bermain lagi.” Sambil berkata begitu, ia menepuk-nepuk kepala sang ular. Lalu berbaring dan tidur di sebelahnya.