
Apa yang terjadi di puncak Thay San telah tersiar ke seluruh dunia. Beng Liong, pemuda belia dari Bu Tong-pay keluar sebagai pemenangnya. Semua orang mengakui, walaupun masih sangat muda, ia sangat pantas memikul tanggung jawab sebagai Ketua Dunia Persilatan.
Kaisar!
Beng Liong ingat nama itu. Itu adalah nama yang sudah hampir terlupakan oleh perguruannya sendiri. Padahal nama itu adalah nama besar yang mengharumkan nama Bu Tong-pay ke seluruh dunia. Bahkan nama ini pula lah yang sebenarnya mengusir penjajah Goan.
Kaisar melanjutkan,
Setelah berpikir sejenak, Beng Liong menjawab, “Baiklah.”
Ia berdiri dengan gagahnya.
Udara dipenuhi darah.
Bahkan darah-darah ini pun menciprati baju dan wajahnya.
Tetapi ia tetap berdiri dengan gagah. Seolah-olah apa yang terjadi di hadapannya seperti tidak pernah terjadi.
.
Entah sedih. Entah marah. Entah menyesal.
Penyesalan memang selalu ditakdirkan untuk datang terlambat.
Wajah Suma Sun tenang. Ia telah kembali menjadi Suma Sun yang dulu. Ia telah kembali menjadi Dewa Pedang.
Jika kau ingin mengalahkan perempuan paling cantik di dunia, jalan satu-satunya adalah dengan menjadi ‘dewa’.
Dendam belasan tahun telah terbalas di balairung istana kaisar.
Cio San pun bergerak dengan tenang.
Kecepatannya pun tak kalah mengagumkan.
Dalam satu gebrakan, kedua orang ini telah sama mengelurkan 100 pukulan, 50 tendangan, dan 150 tangkisan. Membayangkan pun tak ada yang sanggup. Apalagi untuk percaya.
Tapi pergerakan kedua orang ini memang sudah tidak masuk akal lagi.
tak ada lagi julukan dan sebutan yang pantas untuknya.
Kini burung hong dan naga sedang bertarung dalam pertarungan hidup-mati. Pertarungan keduanya ini bagaikan pertarungan yang berlangsung di langit, yang mengakibatkan suara guntur dan cahaya petir seperti menghiasi balairung istana itu.
Entah sudah jurus keberapa.
Cio San memiliki pemahamannya. Beng Liong memiliki buku hasil pemahamannya.
Apa yang dituliskan di buku menjadi lebih efektif, karena semua yang tidak diperlukan, tidak perlu dituliskan. Karena itu serangan-serangan Beng Liong terlihat lebih dahsyat dan mengagumkan.
Sebaliknya, di dalam pemahaman yang dimiliki Cio San, segala hal menjadi bisa, dan segala hal bisa saja menjadi tidak bisa. Ada proses memilih bisa atau tidak bisa, yang membuat gerakannya menjadi sedikit berkurang kedahsyatannya jika dibanding dengan gerakan Beng Liong.
Cio San pun menerima pukulan itu dengan mengerahkan segala tenaganya.
Ia terlempar dan terjengkang bertombak-tombak.
Darah segar keluar dari mulutnya.
Lantai pualam itu hancur berkeping-keping kejatuhan tubuh Cio San. Beng Liong tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Segera ia memburu ke depan, dan melontarkan pukulan-pukulan dahsyatnya.
Tak ada kesempatan bagi Cio San untuk menangkis atau berkelit.
Gerakan Beng Liong amat sangat cepat.
mereka ubah menjadi lapangan!
Tembok-tembok hancur berantakan.
Atap ambruk.
Di luar, terlihat peperangan yang amat dahsyat.
Entah siapa melawan siapa.
Mayat-mayat bergelimpangan.
Bukankah inti perang hanya ini?
Mayat yang bergelimpangan.
Seolah-olah nyawa manusia tiada artinya.
Dengan sisa pandangannya yang sudah mengabur, Cio San dapat melihat apa yang terjadi di luar sana. Tapi tubuhnya telah susah bergerak. Kedua kakinya telah patah dihajar tendangan Beng Liong. Rusuknya pun patah, sehingga pergerakan badannya pun menjadi kaku.
Ia tak dapat berdiri lagi. Walaupun ia dapat menggunakan kedua tangannya, tetap saja percuma. Ia sudah tak mampu mengumpulkan tenaga untuk membentuk kuda-kuda. Padahal kuda-kuda adalah yang terpenting dari ilmu silat.
Ia hanya bisa pasrah.
Menutup mata sambil menanti kematian.
Seperti dulu.
Menyambut air bah di goa gelap gulita.
Mengandalkan apa yang tersisa dari semangat hidup.
Manusia boleh kehilangan apapun. Namun selama belum kehilangan nyawa, maka ia masih bisa mendapatkan apa yang dulu pernah hilang.
Cio San mendapatkan kembali semangatnya.
Sisa tenaganya yang tersisa dipakai untuk menggenjot tubuhnya melayang. Genjotan itu berasal dari punggungnya. Dengan sekali genjot, ia telah berada di depan Beng Liong yang kaget setengah mati. Bagaimana mungkin musuhnya itu bisa bergerak sedemikian rupa.
Kekagetannya ini walau sepersekian detik saja, telah menghantarkannya kepada kekalahan.
Entah bagaimana, kedua tangan Cio San telah berhasil melilit tangan Beng Liong. Lilitan itu bahkan menggiring telapak tangan Beng Liong ke arah dadanya sendiri!
Duarrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrr……………….!!!!!!!!!
Bukankah semua di dalam hidup seperti itu. Terasa begitu dekat, namun amat jauh untuk digapai.
Bukankah cinta pun seperti itu?
Seberapa banyak dari kita yang mengalami hal seperti Beng Liong?
Mungkin tak terhitung.
Beng Liong bangkit.
Dengan sisa-sisa tenaganya, ia berdiri. Maju menggapai singgasana itu. Tetapi ia terjatuh lagi.
Beberapa pengawal yang masih hidup, mencoba mencegahnya. Tapi langkah mereka terhenti, oleh Suma Sun dan Cukat Tong.
“Siapa yang menghalangi dia, akan merasakan dinginnya kematian,” kata Suma Sun.
Jika Suma Sun berbicara kepadamu, pilihanmu cuma dua. Patuh, atau mati.
Tentu saja pengawal-pengawal itu memilih patuh.
Biar bagaimanapun, Beng Liong pernah menjadi sahabat Cio San, Suma Sun, dan Cukat Tong. Pernah menjadi orang yang dekat dengan hati mereka.
Kata orang, sekali sahabat tetap akan menjadi sahabat selamanya.
Oleh karena itu, walaupun kini mereka berseberangan, berada di pihak yang saling berlawanan, mereka tetap menghargai persahabatan.
Beng Liong hanya ingin menyentuh singgasana itu. Hanya ingin merasakan sedikit kegagahan dan wibawanya.
Sebagai sahabat yang baik, kau tentu tak sampai hati melihatnya.
Walaupun Beng Liong telah memperlihatkan wajah aslinya, telah membuka rahasia kebusukannya, telah menunjukkan rahasia perbuatannya, ia pernah menjadi sahabat mereka.
Bagi mereka, kata ‘sahabat’ ini lebih berat daripada gunung, lebih dalam daripada lautan.
Jika sahabatmu berbuat salah kepadamu, apakah kau akan membencinya atau memaafkannya?
Ketiga orang ini memilih memaafkan. Karena bukankah itulah arti persahabatan sesungguhnya? Menerima segala kekurangan orang lain. Karena jika yang kau cari hanya kebaikannya saja, tentulah tak ada seorang pun yang akan kau anggap sahabat.
Memaafkan.
Itulah inti dari semua hubungan yang ada di dunia ini.
Persahabatan, percintaan, kekeluargaan.
Semua permasalahan dapat diselesaikan dengan kata maaf.
Yah, mungkin masalah itu tidak selesai. Tapi setidaknya dengan maaf yang tulus, membuka jalan untuk menyelesaikan masalah.
Siapapun di dunia ini, pantas dimaafkan.
Siapapun di dunia ini, tidak ada yang terlalu tinggi untuk tidak memberi maaf.
Dengan tertatih-tatih, Beng Liong merangkak menuju singgasana yang hanya satu atau dua langkah di hadapannya. Tapi rasanya, langkah itu bagai ribuan langkah yang sangat jauh. Seolah-olah singgasana itu berada di seberang lautan.
Ketika Cukat Tong hendak membantunya, Suma Sun melarangnya.
“Biarkan ia menyelesaikan impiannya sendiri.”
Beng Liong pun terharu mendengar ucapan itu.
Cio San pun sudah berdiri dipapah oleh Cukat Tong.
“Teruskan langkahmu, Liong-ko. Tak ada seorang pun yang akan menghalaumu kali ini,” kata Cio San sambil meneteskan air mata.
Beng Liong bergerak. Dengan segala tenaganya yang tersisa, akhirnya tangannya berhasil menggapai singgasana itu. Dengan merangkak perlahan, ia akhirnya bisa duduk di atas singgasana itu.
Seketika ada cahaya terang yang menghiasi wajah pemuda tampan itu. Wajahnya yang tadi sepucat kematian, kini sekilas menampilkan cahaya kehidupan.
Ia nampak tenang sekali.
Senyumnya mengembang. Inilah senyum Beng Liong yang terkenal itu. Yang meluluhkan hati siapa saja. Dilihat dari sudut manapun, ia memang pantas menjadi kaisar.
“Terima kasih.”
Itulah kata-kata terakhirnya.
Ia pergi dengan mata terpejam dan senyum yang mengembang. Siapapun yang meninggal dalam keadaan seperti ini, tentulah meninggal dalam kebahagiaan.
Orang yang meninggal dalam kebahagiaan, bukankah adalah orang yang bahagia?
Cio San, Cukat Tong, dan Suma Sun meneteskan air mata.
Tak ada yang tahu, apakah ini air mata bahagia atau air mata kesedihan.
Tapi, apapun juga itu, air mata adalah air mata.
Ia lahir dari hati.
Di luar, perang masih berlangsung.
Tapi sedahsyat apapun perang, masakah bisa lebih dahsyat dengan gemuruh perang di hati manusia?