Dragon and Phoenix

Dragon and Phoenix
Bab 5: Pelajaran



Cio San terus berlatih dengan giat. Rasa lemas dan letih yang dahulu sering dirasakannya setiap kali berlatih silat, kini telah menghilang seluruhnya. Tubuhnya selalu terasa segar. Apalagi ketika selesai berlatih, ia malah semakin


merasa bugar. Sudah hampir sebulan ia berada di atas gunung ini, tidak terasa ilmu silatnya maju pesat seperti orang yang telah berlatih silat selama 5 tahun.


***


Petikan khim dari puncak gunung terdengar semakin indah dari hari ke hari. Cio San nampaknya memang memiliki bakat yang besar dalam bermain khim. Bosan memainkan lagu yang diajarkan A Liang, ia malah menciptakan lagu sendiri. Sudah ada 2 lagu yang ia ciptakan. Indah sekali. Walaupun nadanya tidak begitu rumit, namun justru karena kesederhanaan itulah lagu-lagu itu terdengar lebih indah.


‘Berkorban’ berarti merelakan sesuatu yang dianggap penting demi hal lain. Namun ‘mencintai’ berarti menganggap tidak ada yang lebih penting dari yang dicintai itu.


Cinta tidak memerlukan pengorbanan, karena sesungguhnya cinta hanya memerlukan ketulusan.


Dalam apapun di dalam hidup ini, sepertinya itulah yang sering dilupakan orang. ‘Ketulusan’.


Itulah keunikan ilmu silat. Kadang-kadang kau harus mempelajari semua gerakan dan teorinya. Namun kadang-kadang justru dengan melanggar teori dan rumusnya, malah kau bisa menemukan ilmu yang lebih hebat. Cio San di umurnya yang baru belasan tahun malah sudah bisa menciptakan variasi dari ilmu Bu Tong-pay. Bahkan bisa


juga dibilang, ia telah menciptakan ilmu silat baru. Kejadian seperti ini memang bukan barang langka di dalam dunia Kang Ouw, tapi juga bukan kejadian yang sering terjadi.


Beberapa hari kemudian, A Liang datang lagi. Sesuai janjinya, ia mengajarkan lagu baru kepada Cio San. Kali ini lagunya bernada riang gembira. Mereka bermain musik sambil bernyanyi dan tertawa. Siang itu memang cerah. Membuat suasana hati senang dan bahagia.


“Eh, Cio San, aku membawa sesuatu untukmu...,” kata A Liang.


“Wah, apa lagi, Lopek? Kalau dihitung-hitung, dengan barang-barang pemberian Lopek ini, sudah cukup untuk modal buka toko. Hihihi…,” canda Cio San.


“Ah, bisa saja kau. Aku membawa ini.” Sambil berkata begitu, ia mengeluarkan sesuatu dari dalam bungkusan. Sebuah guci dari bahan porselen. Ia lalu membuka tutup guci itu dan menghirup udara yang keluar dari dalamnya.


“Hmmm, bukankah itu arak Kim Lin dari daerah Nanking?” kata Cio San.


“Hey, kau tahu juga tentang arak, Cio San?”


“Kalau perkara arak, sejak kecil teecu sudah paham. Ayahanda teecu adalah pecinta arak. Tapi beliau minum bukan untuk mabuk, melainkan untuk dinikmati cita rasanya. Beliau memperkenalkan teecu kepada berbagai macam arak. Hingga dari baunya saja, teecu sudah tahu arak apa itu.”


“Heh? Wah, hebat juga kau,” A Liang berkata sambil geleng-geleng kepala. Dalam hatinya dia kagum juga dengan bakat dan kecerdasan Cio San. Tapi memang tidak mengherankan. Ayah Cio San adalah sastrawan terkemuka. Kecerdasan ini pasti saja menurun kepada anaknya. Apalagi ibu Cio San adalah salah seorang pendekar


terkemuka Go Bi-pay.


“Kalau Ayah, lebih hebat lagi, Lopek. Beliau bisa mengetahui berapa usia arak itu hanya dengan baunya saja. Beliau juga mengajarkan kepada teecu khasiat arak-arak itu. Beliau juga mengingatkan, bahwa terlalu banyak arak justru malah berbahaya jika kita tidak mempunyai chi (tenaga dalam) yang tinggi.”


“Kau hafal khasiat segala arak?” tanya A Liang.


“Hafal, Lopek. Bahkan Ayah juga mengajarkan, bahwa masing-masing arak harus diminum dengan cara berbeda. Masing-masing arak jika diminum sesuai takaran dan caranya, akan membawa khasiat yang sempurna.”


“Bagaimana itu cara minum arak? Bukankah hanya tinggal buka mulut dan telan saja? Hahahaha…”


“Masing-masing arak punya kecocokan dengan bahan penyimpanannya. Ada arak yang rasanya lebih enak jika disimpan di guci porselen. Ada yang lebih enak jika disimpan di guci dari tanah liat. Ada juga yang lebih enak jika disimpan dalam guci batu atau juga tembaga dan emas,” jelas Cio San.


“Hah, lama-lama aku yang memanggilmu Lopek. Cara bicaramu ini membuat rasa-rasanya kau jauh lebih tua dari aku. Hahaha…,” tawa A Liang.


“Kebetulan saja, teecu memang punya Ayah yang memiliki kesenangan seperti itu. Jika tidak, mana mungkin teecu bisa, Lopek.”


“Jadi, kau mau menemani aku minum?” tanya A Liang.


“Teecu sebenarnya kurang suka arak, Lopek. Tapi merupakan suatu kehormatan bisa


menemani Lopek minum arak.”


Sepertinya aneh anak berusia belasan sudah minum arak. Tapi memang di jaman itu, apalagi di dalam dunia Kang Ouw, arak tidak dipandang sebagai sesuatu yang tabu. Apalagi budaya Tionggoan di jaman itu memang tidak ‘melarang’ arak untuk diminum anak kecil. Biasanya sehabis makan, atau di malam hari, arak disajikan dalam porsi yang sangat sedikit untuk anak-anak. Biasanya untuk menghangatkan badan dan juga untuk kesehatan.


Yang aneh justru dari cara kedua orang itu berbicara. Tata krama Tionggoan sangat ketat. Dan dalam dunia Kang Ouw, justru lebih ketat lagi. Jika Cio San membahasakan dirinya sebagai ‘teecu’ (murid), maka ia harus memanggil A Liang sebagai ‘Suhu’ (Guru). Tapi ia justru memanggilnya sebagai ‘Lopek’ (Orang Tua). Hal ini bisa dianggap sebagai kekurangajaran besar. Tapi A Liang sendiri memang tidak mau dipanggil sebagai ‘Suhu’.


Kedua orang itu minum arak dengan khidmat dan tenang. Udara meskipun cerah, tapi tetap terasa dingin lantaran mereka berada di puncak tertinggi gunung Bu Tong-san. Dengan arak yang menghangatkan dan persahabatan yang sejati, apalagi yang dicari seorang laki-laki di dunia ini?


Sebenarnya orang hanya mencari ‘kehangatan’ di dalam hidup ini. Anak mencari kehangatan dari kedua orangtuanya. Kekasih mencari kehangatan dari pasangannya. Maka segala masalah di dunia ini, bukankah disebabkan oleh hilangnya ‘kehangatan’ itu?


Anak yang besar di dalam rumah yang penuh kemarahan, penuh pertengkaran orang tua, kemungkinan besar akan tumbuh menjadi anak yang penuh kemarahan juga. Kemarahan ini akan ia tularkan kepada siapa saja.


Begitu juga hati yang patah karena kehilangan kehangatan cinta. Ia akan menjadi pendiam dan sedih. Bahkan yang dipenuhi kebencian. Di atas bumi ini yang bisa membuat kasih berubah drastis menjadi benci tak lain hanyalah cinta belaka.


Cinta ada untuk menghangatkan. Maka ketika ia pergi, teramat sering hati menjadi rapuh, lunglai, dan bahkan mati. Orang yang tubuhnya masih hidup tapi hatinya mati, apakah masih pantas disebut sebagai manusia?


Cinta itu menghidupkan. Tetapi teramat jarang cinta itu hidup dalam jangka waktu yang lama. Ia bagai hujan. Datang setelah ditandai mendung. Namun seringkali juga, datang tiba-tiba. Berhenti dan pergi juga dengan tiba-tiba.


Cinta, sedemikian juga hujan, adalah perkara yang hanya Tuhan yang bisa mengerti.


Manusia hanya meraba-raba dalam ketidakpastian. Apa itu cinta? Apa itu kasih? Manusia sebenarnya buta. Dan dalam kebutaannya, ia mencari sesuatu yang sama sekali tidak ia pahami. Akhirnya timbullah luka dan duka karena cinta.


Maka bukankah bisa dibilang segala macam perkara di muka bumi ini terjadi karena cinta?


Tapi mereka yang telah menemukan dan memahaminya, akan terus bahagia. Cinta tak harus terhadap kekasih. Cinta bisa terhadap siapa saja, terhadap apa saja.


Cinta A Liang dan Cio San ini bukan saja cinta orang tua kepada anak, dan anak kepada orang tua. Tapi cinta diantara sahabat. Jika sahabatmu bisa menjadi seperti orangtuamu, dan orangtuamu bisa menjadi sahabatmu, maka boleh dibilang kau adalah orang yang paling beruntung di dunia ini.


Dan Cio San yang dirundung kesedihan setelah ditinggal mati seluruh keluarganya dengan cara yang tragis, dimusuhi oleh teman-teman seperguruannya, dan dihukum oleh gurunya, bukankah bisa sedikit berbahagia? Karena memang di muka bumi ini, jika ada sahabat yang menemanimu dalam suka dan duka, maka kau memang


seharusnya berbahagia.


Sahabat.


Terdengar sederhana. Tapi bukankah maknanya jauh lebih berat daripada gunung dan lebih dalam daripada lautan?


Setelah selesai minum arak, mereka bercakap-cakap tentang dunia Kang Ouw. A Liang yang walaupun tidak pernah berkecimpung dalam dunia Kang Ouw dan belajar ilmu silat, rupanya memiliki banyak cerita menarik. Ini wajar, karena ia telah puluhan tahun hidup di Bu Tong-pay. Segala sesuatu yang terjadi di dunia Kang Ouw tentu


menjadi bahan pembicaraan di Bu Tong-pay.


“Lopek, menurut Lopek, siapakah yang paling hebat di dunia Kang Ouw?”


“Sebenarnya tidak ada yang bisa dibilang paling hebat, karena masing-masing orang punya kehebatannya sendiri. Tetua-tetua jaman dulu adalah orang-orang yang hebat. Masing-masing hebat di masanya. Kwee-tayhiap, Yo-tayhiap. Di jamanku dulu, yang paling hebat adalah Thio Sam Hong-thaysuhu. Ilmu silat dan tenaga dalamnya,


serta pengetahuannya yang luas tidak ada bandingannya. Cucu murid beliau, yang bernama ...., ah.., kita tidak boleh menyebut namanya, adalah yang paling berbakat. Di usianya yang semuda itu, dia adalah pesilat yang paling hebat. Namun ia pergi mengasingkan diri beserta istrinya. Sampai sekarang,tidak ada yang tahu lagi dimana ia berada.”


“Kenapa kita dilarang menyebut namanya, Lopek?” tanya Cio San.


“Dulu Thio-thaysuhu melarang kita menyebut namanya, karena beliau selalu sedih jika teringat cucu murid yang paling disayanginya itu. Sekarang, walaupun beliau telah meninggal, kita tetap menghormati beliau dengan tidak menyebut-nyebut hal-hal yang membuat beliau sedih.”


“Keagungan, kehalusan budi, perilaku, dan wibawa beliau memang tiada yang bisa menandingi. Teecu walaupun tidak pernah bertemu, mendengar cerita orang-orang saja, sudah menunduk hormat. Apalagi jika bertemu langsung...,” kata Cio San. Matanya menerawang mencoba membayangkan seperti apa Thio Sam Hong itu.


“Ilmu Thay Kek Kun beliau sudah mencapai tahap sempurna. Bahkan dengan ketinggian ilmu silatnya, bisa memanjangkan umur beliau,” lanjut A Liang.


“Di dunia Kang Ouw, banyak sekali ilmu hebat. Karena setiap ilmu sebenarnya memiliki inti yang sama saja. Itu kata para ahli silat jaman dulu. Yang membuat ilmu itu hebat adalah yang menggunakannya. Tapi di jaman dulu, ada ilmu yang sangat hebat seperti ‘18 Tapak Naga’ milik mendiang Kwee-tayhiap dan ‘Tapak Duka Nestapa’ milik mendiang Yo-tayhiap. Sayangnya, kedua ilmu itu belum pernah diadu sehingga kita tidak tahu mana yang lebih kuat. Tetapi seperti yang kubilang tadi, bukan ilmunya yang kuat, melainkan penggunanya.”


Ia melanjutkan lagi, “Setelah Kwee-tayhiap dan Yo-tayhiap meninggal, kedua ilmu hebat itu juga ikut menghilang dari dunia Kang Ouw. Sekitar seratus tahun kemudian, ada seorang murid murtad Bu Tong-pay yang menguasai ‘18 Tapak Naga’, namun ia mati terbunuh di pertarungan. Lalu setelah itu tidak ada lagi yang menguasai ilmu


tersebut.”


“Nah, beberapa tahun kemudian setelah pengkhianat itu meninggal, Thio-thaysuhu baru berhasil menyempurnakan ilmu Thay Kek Kun nya. Sehingga kedua ilmu itu, ‘18 Tapak Naga’ dan ‘Thay Kek Kun’ tidak sempat ‘bertemu’.”


“Dunia Kang Ouw mulai terasa sepi semenjak saat itu, karena kita berhasil mengusir penjajah Goan dari tanah air. Saat itu, dunia Kang Ouw hampir seluruhnya bersatu.”


“Lalu beberapa tahun kemudian, secara tiba-tiba, muncul seorang tokoh muda baru yang ilmunya sangat tinggi. Ia menantang banyak ahli silat kelas atas dan mengalahkan mereka semua. Malah yang lebih gila lagi, ia naik ke puncak Bu Tong-san, dan menantang Thio-thaysuhu.”


“Apa? Lalu bagaimana kemudian?” Cio San kaget.


“Pada awalnya, Thio-thaysuhu tidak meladeni. Namun si tokoh muda itu sanggup mengalahkan murid-murid golongan satu. Melihat ilmunya yang hebat, serta tindak-tanduknya yang berbahaya, Thio-thaysuhu akhirnya menerima tantangannya itu.”


“Lalu, Thio-thaysuhu pasti menang bukan?”


“Beliau memang menang, tapi pertarungan itu sendiri tidak jelas. Karena pertarungan itu dilaksanakan di ruang latihan pribadi Thio-thaysuhu sendiri. Dan tidak boleh disaksikan orang lain.”


“Mengapa begitu, Lopek?”


“Menurut kabar, ternyata Thio-thaysuhu sedang menciptakan ilmu baru yang lebih hebat dari Thay Kek Kun. Dan karena belum sempurna, beliau tidak ingin memperlihatkannya di depan orang lain.”


“Lalu kenapa Lopek bilang hasil pertarungan itu tidak jelas?”


“Karena walaupun Thio Sam Hong-thaysuhu sendiri memang menang, kabarnya beliau sangat kagum dengan ilmu silat si tokoh muda itu. Konon katanya, jika Thio-thaysuhu tidak memiliki ilmu Thay Kek Kun yang sempurna dan digabungkan dengan ilmu baru ciptaannya itu, belum tentu Thio-thaysuhu bisa mengalahkannya. Dan beliau


sangat menyesal terpaksa harus membunuh anak muda itu. Padahal sudah puluhan tahun beliau tidak pernah membunuh orang.”


Lanjutnya lagi, “Saking kagumnya, beliau membuatkan kuburan khusus untuk anak muda itu di tanah pekuburan Bu Tong-pay. Kuburan anak muda itu bahkan hampir berdekatan dengan lahan kuburan yang disiapkan Thio-thaysuhu untuk dirinya sendiri.”


“Hmmm, sebegitu kagumnya Thio-thaysuhu terhadap pemuda itu, sampai-sampai memberikan penghormatan setinggi itu kepadanya. Lalu siapa sebenarnya nama pemuda berilmu tinggi itu, Lopek?” tanya Cio San.


“Aku masih ingat nama pemuda itu, Kam Ki Hiang.” Ada cahaya kagum di mata A Liang ketika menyebut nama itu.


“Apakah Lopek sudah ada di Bu Tong-pay ketika kejadian itu berlangsung?” tanya Cio San


lagi.


“Tidak. Aku datang beberapa hari ketika mayat Kam Ki Hiang dikuburkan.”


“Sebenarnya asal-usul Kam Ki Hiang itu darimana? Di mana dia belajar ilmu yang hebat itu?”


“Menurut kabar yang beredar, dan itu diakui Thio-thaysuhu sendiri, ternyata Kam Ki Hiang telah menemukan sebuah goa kuno. Dan di goa itu ia menemukan berbagai kitab kuno yang sangat tebal. Kitab-kitab itu berisi ilmu silat yang sangat sakti. Karena kabarnya kitab itu ditulis sendiri oleh pencipta ilmu silat, rahib Tat


Mo,” jawab A Liang.


Lalu ia melanjutkan,


“Kitab itu juga kini tidak diketahui keberadaannya setelah Kam Ki Hiang meninggal. Dunia Kang Ouw sejak beberapa tahun yang lalu diributkan dengan pencarian kitab itu, tapi tidak ada seorang pun yang tahu keberadaan yang sebenarnya.”


“Aaaahhh..., begitu rupanya.” Cio San menjadi teringat ucapan Tan Hoat, gihu sekaligus suhunya, yang ditugaskan mencari kitab tulisan Tat Mo itu. Rupanya kitab itu adalah kitab yang membuat Kam Ki Hiang seperti tidak terkalahkan.


“Kau pernah mendengar kitab itu, Cio San?” tanya A Liang.


“Teecu sempat mendengar sekilas dari Suhu, bahwa memang ada kitab semacam itu. Teecu pikir itu hanya kabar legenda di dunia Kang Ouw, ternyata memang benar-benar ada.”


“Di dunia ini banyak sekali kitab sakti yang menjadi rebutan dunia Kang Ouw. Mulai dari kitab ‘9 Matahari’ dan ‘9 Bulan’ yang katanya pernah tersimpan di dalam perut kera dan di dalam golok, atau juga kitab ‘Pedang Sakti’ yang membuat pemakainya berubah dari laki-laki menjadi perempuan, dan masih banyak lagi. Pesanku padamu, kau tidak usah ikut-ikutan mencari-cari kitab-kitab semacam itu. Hanya akan membuat dunia Kang Ouw kacau balau. Hiduplah biasa-biasa saja. Gunakan ilmu silatmu untuk kebaikan. Menolong sesama,” ujar A Liang.


“Teecu akan mengingat baik-baik pesan Lopek. Memang teecu sendiri juga tidak terlalu berminat dengan ilmu silat. Hanya saja ketika teecu berlatih silat akhir-akhir ini, teecu merasa tubuh teecu semakin sehat. Rasa letih dan lemas yang dulu biasa teecu rasakan, semakin menghilang.”


“Bagaimana bisa begitu?” tanya A Liang heran. Ia memang sudah tahu bahwa Cio San memiliki kekurangan pada fungsi organ tubuh bagian dalamnya.


“Teecu belajar sedikit ilmu organ tubuh di dalam buku yang Lopek pinjamkan. Di situ dijelaskan cara mengalirkan chi. Ternyata setelah teecu coba gabungkan dengan ilmu silat perguruan, rasa letih dan lemas teecu hilang semua. Padahal biasanya baru beberapa jurus saja, teecu sudah lemas,” jelas Cio San.


“Hey, hebat sekali kau bisa menggabungkan seperti itu. Kau harus hati-hati, karena tidak boleh sembarangan menggabungkan ilmu. Bisa berbahaya.”


“Teecu mengerti, Lopek. Terima kasih atas peringatannya. Setelah teecu baca dan pikirkan, ternyata ilmu di dalam buku itu sejalan dengan ilmu Bu Tong-pay sehingga tidak bertabrakan.”


“Kau ternyata sangat berbakat dan cerdas, Cio San. Orang-orang di perguruan salah mengerti terhadapmu,” puji A Liang sambil mengelus-elus kepala Cio San.


“Teecu tidak berani, Lopek...,” Cio San tertunduk.


“Hey, aku ingin melihat engkau bersilat. Walaupun tidak mengerti silat, tapi mata awamku ini juga sudah bisa membedakan silat Bu Tong-pay yang mahir dengan yang tidak.”


“Ah, ilmu silat teecu memalukan, Lopek...”


“Sudahlah, jangan terlalu banyak adat. Ayo tunjukkan...,” perintah A Liang.


“Baik, Liang-lopek...”


Setelah berkata begitu, Cio San mulai bersilat. Gerakannya tidak begitu indah, malah terlalu sederhana untuk ukuran silat Bu Tong-pay. Tapi A Liang melihatnya dengan mata kagum dan keheranan. Mungkin karena keawamannya, ia sudah menganggap jurus-jurus yang diperagakan Cio San itu sebagai ilmu yang hebat.


“Kau.. kau.. Darimana kau mempelajari jurus-jurus itu?” tanyanya dengan rasa heran bercampur kagum.” Apakah dari buku yang kuberikan kepadamu itu?”


“Kalau dari buku, tidak ada jurus-jurus silatnya, Lopek. Hanya ilmu tentang sedikit pengobatan, pengetahuan tentang tubuh manusia, dan juga pengaliran chi. Jurus-jurus silat ini hanyalah jurus Bu Tong-pay yang teecu sederhanakan menurut kebutuhan dan pengetahuan teecu saja,” jawab Cio San.


“Luar biasa..., luar biasa... Kau benar-benar berbakat....,” ia berkata begitu sambil meneteskan air mata.


Melihat A Liang meneteskan airmata, Cio San juga ikut-ikutan meneteskan airmata. Hatinya memang halus. Ia mengerti bahwa dalam ketidakpahaman terhadap ilmu silat, A Liang menganggap bahwa jurus-jurus sederhana Cio San tadi sudah sangat hebat. Padahal bagi Cio San, ilmu itu sangat sederhana sekali, bahkan mungkin tidak ada apa-apanya dibanding dengan jurus-jurus pemula Bu Tong-pay. Cio San merasa terharu juga melihat ketulusan A Liang ini.


“Terima kasih, Lopek. Teecu akan belajar lebih keras supaya bisa membuat Lopek bangga dan senang,” katanya sambil tersenyum.


A Liang menatap Cio San lama sekali.


Lalu kemudian dia tersenyum dan berkata, “Jika ada yang bisa membuat Bu Tong-pay


berjaya kembali, pastilah kau orangnya, Cio San:”


Setelah itu, mereka bercakap-cakap lagi sebentar. A Liang sekalian pamit dan berkata bahwa ia akan turun gunung Bu Tong-pay. Karena beberapa minggu lagi akan ada perayaan beberapa tahun meninggalnya Thio Sam Hong, sehingga perguruan akan menerima kunjungan tamu-tamu dari golongan Kang Ouw. Jadi mungkin dalam


beberapa hari ini, ia tidak akan mengunjungi Cio San.