
“Beberapa tahun belakangan ini, sering terjadi pembunuhan misterius. Pelakunya adalah beberapa orang bertopeng yang memiliki ilmu silat sangat tinggi. Mereka membunuh dengan sangat kejam. Banyak korban mereka yang merupakan tokoh terkemuka seperti ketua partai persilatan, pejabat negara, dan masih banyak lagi.”
“Terimakasih, Hujin. Segala perkataan, dan juga hadiah dari Hujin, amatlah sangat berharga bagi saya. Terima kasih Hujin sudah meluangkan waktu. Terima kasih banyak, Hujin.” Sambil berkata begitu, Cio San memberi salam hormat.
Ia lalu pulang.
Ia pulang dengan hati yang lapang. Beban di hatinya sedikit lebih ringan. Karena perkataan Khu-hujin yang sangat membekas di hatinya.
.
Dan yang masih hidup ini berdiri dengan tenang. Tegak bagai karang. Orang-orang yang menontonnya pun sepertinya ikut tersihir dengan ketenangannya. Tak ada seorang pun yang mengeluarkan suara saat ini.
Dia berdiri gagah.
Bajunya putih. Di malam yang gelap seperti ini, bajunya seperti memantulkan cahaya rembulan. Rambutnya merah menguning. Wajahnya sangat tampan. Saking tampannya, sampai-sampai orang-orang mengira ia bukan manusia.
Matanya. Berwarna biru.
Walaupun terkesan asing, garis-garis wajah orang Han (orang China asli) masih terlihat jelas dalam raut mukanya yang tampan.
Jika ada orang setampan ini, kalau bukan manusia yang sangat baik. Pastilah manusia
yang sangat jahat.
Ia tidak berkata apa-apa. Hanya berdiri di sana. Tidak mengeluarkan suara apapun. Tidak berkata apapun. Bahkan raut wajahnya pun tidak mengatakan apa-apa.
Kosong. Seperti padang pasir di tengah sunyinya malam. Sepi dan dingin.
Cio San seumur hidupnya baru pertama kali melihat pemandangan seperti ini. Ia tertarik sekali. Sekali pandang ia tahu, semua mayat ini mati karena sebuah tusukan pedang di dahi mereka. Tapi tidak ada darah setetes pun yang mengalir dari luka itu.
Sebuah tusukan pedang. Tidak ada darah. Dan nyawa pun melayang. Penulis yang paling pandai pun mungkin tidak bisa menggambarkan betapa hebatnya ilmu pedang ini.
Cio San akhirnya memberanikan diri untuk bersuara.
“Tayhiap (Pendekar Besar) yang terhormat, apakah salah belasan orang ini sampai mereka harus mati?” Sambil bicara ia memberi hormat ala kaum Bu Lim.
Orang tampan berbaju putih itu menoleh ke asal suara.
Ia memandangi Cio San. Tatapan mata biasa. Tidak ada yang bisa membaca arti pandangan itu. Memandangi wajah orang itu, seperti memandang lukisan kosong berupa kertas putih.
Lama baru ia menjawab,
Cio San terhenyak. Bukankah mereka itu yang dulu membunuh Kim Coa (Ular Emas), sahabatnya.
Si baju putih melanjutkan lagi,
“Yang di dekat kakimu adalah Sie Kow Lam. Yang berjulukan Beruang dari Barat. Pantas mati karena membunuh pejabat Kho An Gan.”
Sie Kow Lam, Cio San tidak pernah dengar. Tapi siapa yang tidak kenal Kho An Gan? Pejabat Negara yang dikenal sangat jujur dalam pekerjaannya.
“Enam orang yang mati di sebelah sana, adalah Enam Bersaudara Berbau Darah. Siapapun tahu, mereka pantas mati.”
Memang Cio San tahu Enam Bersaudara Berbau Darah sudah sangat dikenal perbuatan sesatnya.
“Dan 3 sisanya adalah 3 orang mantan anggota perguruan Kun Lun-pay yang kedapatan merencanakan pembunuhan ketua mereka sendiri.”
Si baju putih selesai bicara. Ia tetap menatap Cio San. Tetap tanpa apapun dalam raut wajahnya. Tidak ada kebanggaan bahwa ia baru saja membunuh orang-orang berilmu tinggi yang namanya lumayan ditakuti dalam kalangan Bu Lim.
Membunuh belasan orang-orang hebat ini dengan sebuah tusukan pedang. Bahkan cerita kuda masuk lubang jarum pun rasa-rasanya jauh lebih masuk akal ketimbang mempercayai ada orang sehebat itu ilmu pedangnya.
“Kau tidak terima?” ia bertanya. Masih dengan pandangan yang sama.
Cio San tersenyum, lalu berkata, “Semua orang tahu, mereka memang pantas dihukum. Tayhiap beruntung sekali menemukan mereka semua sekaligus disini. Tapi memang untuk mencari bajingan-bajingan seperti mereka, rumah bordil macam Teng Teng ini adalah tempat yang cocok.”
Ada sedikit perubahan di wajah si baju putih. Matanya bersinar sekilas. Dan bibirnya sedikit tersenyum. Hanya sedikit. Senyum itu pun hilang secepat datangnya. Tapi Cio San bisa melihat itu dengan jelas.
Wajah si baju putih sudah kembali seperti sedia kala, saat ia berkata,
“Memang tidak salah dugaan, tuan. Aku mengejar Sie Kow Lam sampai ke rumah bordil ini. Tak tahunya, secara tidak sengaja bertemu dengan bajingan lain.”
“Perkenalkan, nama cayhe (saya) Cio San. Bolehkah cayhe mengetahui nama Tayhiap yang terhormat?” tanya Cio San sopan sambil memberi hormat.
“Aku tidak suka bersahabat dengan manusia.” Jawaban itu datang dengan dingin dan menusuk. Ia berbalik dan berjalan dengan tenang.
Cio San tetap tersenyum, lalu berkata,
“Cayhe mengerti, memang pedang jauh lebih berharga untuk dijadikan sahabat. Tidak mengenal nama pun tak mengapa. Toh manusia dikenal karena perbuatannya. Terima kasih untuk kehormatan ini. Cayhe sungguh kagum.”
Si baju putih tetap melangkah pergi. Sekali meloncat ia sudah berada diatas rumah Teng Teng. Cio San dan para hadirin yang berada di sana hanya menatap punggungnya saja. Seumur hidupnya, baru pertama kali ini ia bertemu orang sehebat ini. Bahkan sikapnya saja sudah setajam pedang, bagaimana pula dengan permainan pedangnya?
Cio San bergidik. Alangkah sialnya orang-orang yang dimusuhi oleh si baju putih ini!