
Entah sudah berapa lama kejadian itu lewat.
Kejadian penuh darah di kotaraja.
Tapi juga merupakan kejadian dimana keberanian, kesetiakawanan, dan kekuatan ditunjukkan.
Mereka kini sedang duduk dengan tenang di atas menara. Menara tempat di mana Cio San berdiri sepanjang hari menatap pertempuran dahsyat itu. Saat itu, di puncak menara, ia telah mengambil keputusan. Tak ada lagi darah yang tertumpahkan oleh tangannya.
Saat semua ini berakhir, ia ingin menghilang sejenak. Entah kemana. Entah berbuat apa. Sejenak menikmati kedamaian dunia.
Di menara ini, adalah perjamuan sebelum perpisahan itu.
Arak sudah mengalir, berbagai makanan pun sudah terhidang. Ada pula tulusnya persahabatan. Jika kau kebetulan mengalami keadaan seperti ini, kau harus terus bersyukur sepanjang masa.
Cio San, Cukat Tong, Suma Sun, Luk Ping Hoo, dan Kao Ceng Lun.
“Sebaiknya kau harus menceritakan semua ini dari awal,” kata Cukat Tong.
Cio San menatap langit.
“Awalnya sendiri aku tidak tahu. Cuma mungkin bisa kuceritakan, bahwa aku sebenarnya sudah curiga atas keterlibatan Beng Liong sejak awal sekali. Hanya saja aku tidak berani bicara, karena tidak punya bukti.”
“Sejak kapan?” tanya Cukat Tong.
“Sejak kejadian pembakaran kapal Ma Kauw. Itu saat pertama kali kita bertemu bukan?”
Cukat Tong mengangguk.
“Saat itu Beng Liong difitnah sebagai pelakunya, bukan?”
“Iya.”
“Saat itu, aku dan Beng Liong sudah dikepung banyak orang. Mereka menganggap kami benar-benar pelakunya.”
Lanjut Cio San,
“Tapi saat itu, kebetulan Hong Sam-hwesio datang melerai dan menjelaskan duduk perkaranya.”
“Apa kata Hong Sam-hwesio pada saat itu?” tanya Ang Lin Hua.
“Katanya, saat kebakaran terjadi, Beng Liong juga sedang bersama-sama dirinya,” jelas Cio San.
“Dan orang-orang yang mengeroyok kalian berdua percaya?” kali ini Kao Ceng Lun yang bertanya.
“Tentu saja. Semua orang Bu Lim tahu, kata-kata Bhiksu Siau Lim-pay adalah emas. Apalagi kata-kata yang keluar dari mulut Hong Sam-hwesio.”
Lanjut Cio San,
“Setelah itu aku bertemu dengan Cukat Tong. Katanya ia mengenal 3 orang dari pelaku pembakaran kapal Ma Kauw. Herannya, pelaku pembakaran itu adalah termasuk orang yang mengepung dan menuduh kami sebagai pelakunya. Salah satunya bernama Sih Hek Tiauw, yang mempunyai julukan si Rajawali Hitam.”
“Maling teriak maling,” tukas Luk Ping Hoo.
“Benar sekali,” tukas Cio San.
Lanjutnya, “Begitu mengetahui itu, aku langsung melapor kepada Hong Sam-hwesio.”
“Apa tindakan beliau?” Cukat Tong bertanya.
“Ya katanya, kita harus segera ke rumah Sih Hek Tiauw itu. Kebetulan beliau kenal. Yang terjadi kemudian, malah menjadi kunci pembuka seluruh rahasia ini.”
“Apa?” hampir serempak semua bertanya.
“Beliau berkata hendak mengambil tongkat dulu di dalam kamar. Begitu masuk, ternyata beliau diserang seseorang yang bersembunyi di dalam lemari beliau.”
“Lalu?”
”Begitu mendengar suara gaduh, aku melesat secepatnya ke dalam. Setiba di dalam kamar, penyerangnya sudah menghilang. Kata Hong Sam-hwesio, dia kabur lewat jendela. Begitu kutengok, sudah tidak kelihatan siapa-siapa.”
“Lalu yang mengherankan di bagian mana?” tanya Cukat Tong.
“Yang mengherankan adalah, penyerang itu bisa bergerak sangat cepat. Halaman kuil itu sangat luas, dan kuilnya sendiri sangat kecil. Aku saja butuh waktu beberapa detik hingga bisa keluar dari halamannya yang luas itu.”
Cio San meragukan banyak hal. Satu-satunya hal yang ia yakin benar adalah ginkangnya sendiri. Di dunia ini, hanya satu hal itulah yang paling diyakini dan dipercayainya.
“Maksud Pangcu, ada orang yang ginkangnya lebih tinggi dari Pangcu?” tanya Luk Ping Hoo.
“Tentu saja tidak,” tukas Suma Sun. “Maksud Cio San adalah, penyerang ini sebenarnya tidak ada.”
Memangnya ada orang yang bisa menghilang di hadapan Cio San? Jika orang seperti itu tidak ada, tentu saja penyerang itu tidak ada. Jika penyerang itu tidak ada, berarti bukankah Hong Sam-hwesio hanya mengarang cerita belaka?
Perlahan semua yang hadir di sana paham.
“Saat itu dalam pikiranku adalah, hanya orang yang bisa terbang, yang bisa lolos saat itu.”
Lanjut Cio San,
“Dan benar. Saat itu, sebenarnya ada sesuatu yang bisa terbang.”
“Burung?” tanya Ang Lin Hua.
“Benar. Hong Sam-hwesio memelihara burung. Saat’terpukul’, ia begitu marah, karena keributan itu menyebabkan burungnya lepas dari sangkar. Saat itu aku belum berpikiran apa-apa. Lama kemudian, aku baru sadar. Setelah sampai di tempat Sih Hek Tiauw si Rajawali Hitam, ia ternyata sudah mati. Seseorang mendahului kami, dan sudah membunuhnya.”
Lanjutnya,
“Berarti ada orang yang mengetahui, bahwa kami hendak pergi menemui Sih Hek Tiauw. Saat itu satu-satunya orang yang tahu selain kami, adalah Cukat Tong sendiri. Sehingga aku mencatat namanya dalam pikiranku sebagai salah satu tersangka.”
Jelas Cio San lagi,
“Tapi kemudian aku sadar, bahwa burung yang ada di kamar Hong Sam-hwesio memiliki peran yang amat sangat penting. Burung itu bertindak sebagai pengirim surat! Hong Sam-hwesio mengirim kabar ke seseorang, memberitahukan bahwa kedok Sih Hek Tiauw telah ketahuan.”
”Kau mengambil kesimpulan seperti itu, karena yakin bahwa Hong Sam-hwesio hanya mengarang cerita penyerangannya?” tanya Cukat Tong
“Benar. Selama ini aku tidak pernah melihat ada orang yang bisa bergerak secepat itu. Sehingga aku mengambil kesimpulan, orang seperti itu tak pernah ada! Penyerangan itu tak pernah ada! Hong Sam-hwesio hanya mengarang cerita dengan dua tujuan. Pertama, untuk menjebakku berpikir bahwa ia adalah korban. Dan kedua, untuk memperlambat kami sampai di rumah Sih Hek Tiauw. Dalam perjalanan, ia berjalan dengan lemah dan sangat lambat. Sehingga memberi waktu bagi seseorang untuk membunuh Sih Hek Tiauw.”
“Jika tidak ada orang yang menyerang Hong Sam-hwesio, apakah luka-lukanya palsu?” tanya Kao Ceng Lun.
“Luka-lukanya asli. Ia melukai dirinya sendiri. Begitu juga saat Beng Liong terluka di puncak Thay San. Cara-cara yang sama.”
Semua orang diam sejenak dan berpikir.
“Lalu apa hubungannya ini dengan keterlibatan Beng Liong?” tanya Ang Lin Hua.
“Sederhana. Jika Hong Sam-hwesio terlibat semua ini, untuk apa ia membela Beng Liong dan aku saat dikeroyok dan dikepung?”
Semua orang mengangguk.
“Mereka menghabisi seluruh penghuni kapal, dan membakar kapal itu dengan dua tujuan. Yang satu adalah memusnahkan Ketua Ma Kauw dan anak buahnya. Dan kedua adalah, untuk ‘menghapus’ nama Beng Liong dari kecurigaan.”
“Wah, menghapus kecurigaan? Bukankah pembunuh itu menulis nama Beng Liong di tembok kapal sebagai pelakunya? Itu ‘kan malah membuat ia sebagai tertuduh?” tanya Ang Lin Hua.
“Justru di situ pintarnya. Mereka yakin, pasti ada orang yang akan menjadi saksi mata. Dalam hal ini, entah bagaimana, mereka tahu bahwa ada Cukat Tong di sana yang akan menjadi saksi mata. Jika mereka menulis nama Beng Liong di sana, lalu Cukat Tong sebagai saksi mata mengatakan bahwa pelakunya bukan Beng Liong, tentu saja nama Beng Liong akan bersih karena hanya dianggap sebagai korban fitnah! Apalagi ada pula Hong Sam-hwesio yang kata-katanya adalah emas bagi kalangan Bu Lim. Semua orang akan percaya bahwa bukan Beng Liong pelakunya.”
Tak terasa mereka bergidik membayangkan betapa rapinya rencana itu.
“Dengan adanya pembunuhan-pembunuhan beberapa tokoh terkemuka kalangan Kang Ouw, itu pun menambah ‘pembersihan’ nama Beng Liong dari daftar pelaku,” jelas Cio San.
“Bagaimana bisa?” tanya Ang Lin Hua.
“Mereka meracuni banyak tokoh-tokoh terkemuka, lalu setelah tokoh-tokoh itu mati, pelakunya menusuk dahi mereka seolah-olah kematian itu disebabkan oleh jurus pedang Suma Sun. Tujuannya berlapis-lapis. Pertama, untuk menyingkirkan orang-orang yang merintangi jalan mereka. Kedua, untuk memfitnah Suma Sun. Ketiga, jika fitnah terhadap Suma Sun berhasil dipatahkan, berarti fitnah atas Beng Liong yang membakar kapal Ma Kauw, juga harus dipatahkan. Karena semua orang akan yakin, bahwa perbuatan itu hanya fitnah,” jelas Cio San.
“Hamba bingung, sebenarnya yang mana dulu kejadiannya? Pembunuhan tokoh-tokoh Bu Lim dulu? Atau pembakaran kapal Ma Kauw dulu?” tanya Ang Lin Hua.
“Mereka telah merencanakan dengan sangat matang. Sebenarnya semua dimulai dengan peracunan di markas Ma Kauw,” jelas Cio San.
“Saat itu ada pengkhianat yang menyusup ke markas utama, lalu meracuni semua orang dengan racun ajaib yang tak berbau dan berasa itu. Kebetulan aku berada di sana, dan untuk sementara mampu menolong saudara-saudara. Melihat rencana itu gagal, sang ‘otak besar’ sudah mempunyai rencana cadangan. Ia merencanakan penyerangan di dermaga-dermaga yang kira-kira akan disinggahi kapal Ma Kauw.”
Lanjut Cio San,
“Selain membunuh Ketua Ma Kauw dan orang-orang terdekatnya, si ‘otak besar’ juga membunuh tokoh-tokoh terkemuka Kang Ouw. Mayatnya mereka lukai dahinya, agar terlihat seperti korban dari Suma Sun. Setelah itu, mereka buang ke sungai agar orang-orang menemukannya. Kebetulan, kapal Ma Kauw yang menemukan mayat-mayat itu.”
“Di atas kapal, aku mempelajari keadaan mayat-mayat itu, lalu mengambil kesimpulan. Kesimpulanku adalah, ini semua fitnah kepada Suma Sun,” jelas Cio San.
“Wah, karena si ‘otak besar’ mengerti bahwa kau telah membongkar rahasia fitnah itu, maka ia mempersiapkan trik baru lagi, yaitu memfitnah Beng Liong. Jika fitnah itu berhasil dipatahkan, maka nama Beng Liong akan terhapus dari kecurigaan?” tanya Cukat Tong.
Cio San mengangguk membenarkan.
“Gila!”
“Mengapa Beng Liong ingin menghapus dirinya dari kecurigaan? Bukankah tanpa melakukan itu pun, tak ada orang yang akan curiga kepadanya?” tanya Ang Lin Hua.
“Ia orang yang terlalu berhati-hati. Ia ingin semua sesempurna mungkin. Selain itu, dia memang ingin menghancurkan musuh-musuhnya,” jelas Cio San.
“Karena ingin sempurna, malah terbongkar seluruhnya,” tukas Kao Ceng Lun.“Lanjutkan, Cio San.”
“Nah, setelah aku bisa menemukan kunci rahasia itu, awalnya aku mengira Beng Liong hanyalah anak buah biasa. Mungkin ia terlibat karena terpaksa. Aku berpikir keras apa latar belakang semua ini? Pergerakan mereka terlalu rapi, sangat terencana, dan sukar ditebak. Jika hanya sekedar memperebutkan kitab sakti, aku merasa hal ini terlalu berlebihan. Lalu aku mengambil kesimpulan, mungkin semua ini berhubungan dengan perebutan Bu Lim Bengcu di puncak Thay San.”
Ia melanjutkan,
"Tapi kemudian aku ragu. Jika hanya memperebutkan Bu Lim Bengcu, mengapa orang-orang yang tidak berminat dengan posisi Bengcu itu terbunuh juga? Contohnya mendiang Ma Kauw-kauwcu yang lama. Bukankah beliau memang tidak tertarik dengan posisi itu? Lalu kenapa beliau dibunuh juga?”
Cio San diam sejenak, ia tahu saat itu tubuh Ang Lin Hua bergetar menahan marah dan kesedihan. Ia menyentuh ujung tangan gadis itu dan menatapnya lembut.
Tak ada kata yang perlu diucapkan. Karena memang tak ada kata-kata yang bisa diucapkan disaat-saat seperti itu.
Saat kau menyentuh ujung tangan seorang perempuan.
Setelah Ang Lin Hua tenang, barulah Cio San melanjutkan,
“Berarti ada sebuah rencana jahat yang lebih jahat daripada hanya perebutan Bu Lim Bengcu. Aku baru sadar ketika ternyata pemenang pertarungan itu boleh bertemu dengan Kaisar.”
“Ya. Kau bertanya tentang itu, ketika kita sedang dalam perjalanan ke Thay San,” tukas Cukat Tong membenarkan.
“Benar. Saat itu aku mulai membaca sepenuhnya cerita menyeramkan ini. Pemberontakan, perebutan kekaisaran, dan penyerangan Goan (Mongol). Kemungkinan penyerangan Goan ini sudah kucurigai, saat kudengar kabar bahwa Kay Pang menerima anggota sebesar-besarnya dari mana saja. Ternyata tentara Goan sudah menyusup menjadi anggota Kay Pang, dan mulai memenuhi kotaraja. Setelah memahami semua itu, aku lalu menulis surat kepada Khu-hujin dan meminta Cukat Tong mengirimkannya kepada beliau.”
“Apa sebenarnya isi surat itu? Aku sendiri tidak membacanya,” tanya Cukat Tong.
“Aku menjelaskan semua keadaan yang terjadi. Dan memintanya mempersiapkan segala hal dalam menghadapinya,” jawab Cio San.
“Kenapa kepada Khu-hujin?” tanya Ang Lin Hua.
“Karena beliau sebenarnya ‘orang kerajaan’ juga. Anaknya adalah Jenderal Utama. Sejak awal, beliau sudah tertarik dan mengikuti segala kejadian-kejadian ini. Apalagi beliau sebenarnya orang ‘terkuat’ dan paling berpengaruh dalam kalangan Bu Lim.”
“Aku dulu malah curiga kepada beliau,” tukas Ang Lin Hua.
“Orang yang paling mencurigakan malah biasanya bukan pelakunya. Orang yang paling tidak mungkin sebagai pelaku, biasanya malah dia yang melakukannya.”
Luk Ping Hoo lalu bertanya, “Sebenarnya, apa posisi Pangcu lama Kay Pang, Ji Hau Leng, dalam semua rencana busuk ini?”
“Kesalahannya, hanya karena ia jatuh cinta,” jawab Cio San. Tapi cepat ia menambahkan, “Sesungguhnya ia tidak salah karena jatuh cinta, ia hanya jatuh cinta kepada orang yang salah.”
“Bwee Hua Sian?”
“Yang mana? Yang tua atau yang muda?” tanya Kao Ceng Lun.
Cio San seperti tercekat. Ia tahu Cukat Tong pun sama tercekatnya pula. Tapi Cukat Tong malah berkata, “Teruskan ceritamu.”
“Bwee Hua Sian yang muda. Ia memikat Ji Hau Leng, dan memanfaatkan posisi orang gagah itu sebagai Ketua Kay Pang. Sejak saat itu, Kay Pang membuka diri bagi siapa saja, puluhan ribu anggota bertambah dalam setahun. Terang, mereka itu adalah tentara-tentara Goan (Mongol) yang disusupkan untuk menyerang kotaraja.”
Sambung Cio San,
“Di akhir hidupnya, Ji Hau Leng mengerti bahwa Bwee Hua Sian tidak benar-benar mencintainya. Untuk membunuh wanita itu, ia tidak tega. Sedangkan ia sudah terlanjur berbuat hal-hal yang memalukan harga dirinya di dalam dunia Kang Ouw. Akhirnya ia memilih bunuh diri.”
“Menyedihkan sekali,” kata Ang Lin Hua.
Cukat Tong menatap jauh ke depan. Entah apa yang ada dalam pikiran lelaki ini. Mungkinkah ia berpikir jika nasibnya akan sama dengan Ji Hau Leng?
“Lalu siapa Bwee Hua Sian itu sebenarnya? Ada yang muda, ada yang tua? Aku tak mengerti,” tanya Kao Ceng Lun.
Cio San menoleh kepada Suma Sun. Dewa Pedang itu lalu berkata,
“Bwee Hua Sian yang asli adalah yang tua itu. Umurnya memang sudah hampir 80 tahun. Ia adalah musuh keluargaku. Ia membunuh kedua orangtuaku. Selama ini. tujuanku memang hanya mencarinya.”
Cukat Tong lalu menambahkan,
“Yang muda adalah anak buahnya. Yang muda ini memang namanya sengaja disamakan menjadi Bwee Hua Sian pula. Tujuannya, untuk tetap mempertahankan legenda bahwa Bwee Hua Sian adalah perempuan tercantik di dunia yang kecantikannya abadi.”
Semua orang mengangguk paham.
“Siapa sebenarnya Bwee Hua Sian yang tua itu? Bagaimana asal-usulnya?” Pertanyaan ini dilontarkan Ang Lin Hua kepada Suma Sun.
“Tak ada yang tahu. Tahu-tahu, 40 sampai 50 tahun yang lalu, ia muncul begitu saja merajai daerah utara. Sampai kemudian mencapai pusat Tionggoan,” jawab Suma Sun.
“Dan Beng Liong adalah cucunya?” tanya Ang Lin Hua lagi.
“Benar,” tukas Cio San.
Mereka semua duduk termenung. Memikirkan segala kerumitan benang merah itu. Tapi satu persatu dapat terurai. Walaupun ada beberapa rahasia yang belum terjelaskan, setidaknya segala keruwetan sudah terjawabkan.
“Ada lagi yang masih kuherankan, mengapa Kauwcu menculik kami lalu mengirim kami turun gunung Thay San. Bukankah Kauwcu bisa saja memerintahkan kami?” tanya Ang Lin Hua.
“Haha…… Untuk itu aku harus minta maaf karena melakukan ini kepada kalian berdua. Saat itu aku hanya berjaga-jaga. Saat itu aku belum yakin benar, siapa itu Kao Ceng Lun. Musuh ataukah teman. Dengan cara menculik kalian, setidaknya akan membingungkan pergerakan musuh. Dengan begitu aku bisa bergerak lebih leluasa.”
“Ah, ternyata karena San-ko curiga kepadaku? Maafkan. Karena tugas Negara, cayhe tidak bisa berterus terang,” kata Kao Ceng Lun sambil menjura. “Saat itu cayhe diperintahkan oleh Khu-goanswe untuk menyelidiki keadaan di Thay San. Selama ini, pihak kerajaan pun sudah mulai curiga dengan kejadian-kejadian aneh di dunia Kang Ouw.”
“Sejak sebelum bertarung, aku sudah berencana untuk pura-pura mati. Suratku kepada Khu-hujin juga menjelaskan semua rencanaku. Bahwa pergerakan Beng Liong ini, hanya bisa dihentikan saat tertangkap basah. Oleh karena itu, aku meminta Khu-hujin menyiapkan segalanya. Termasuk melaporkan semua hal ini langsung kepada Kaisar. Kaisar pun menurut saja, karena beliau sendiri tertarik untuk menyaksikan bagaimana semua ini berjalan.”
Sambungnya,
"Nah, setelah Cukat Tong berangkat mengirim surat, aku memikirkan cara pura-pura mati yang paling baik. Yaitu jatuh ke jurang. Sebelumnya, aku sudah memeriksa daerah jurang itu. Bagian mana yang lembut, bagian mana yang penuh karang, dan lain-lain. Aku pun sudah berniat mengajak lompat ketiga ketua perguruan besar itu.”
“Karena apa?”
“Karena aku sudah meyakini keterlibatan mereka dalam semua ini. Dengan lompat bersama mereka ke jurang, aku menggunakan ilmu Menghisap Matahari untuk menyerap seluruh tenaga mereka. Tenaga serapan itu aku gunakan untuk melayang dan melenting agar jatuhku tidak berbahaya.”
Mendengar ini, semua orang menggeleng-geleng heran.
“Bagaimana jika rencanamu berantakan?” tanya Cukat Tong.
“Aku pasti mati,” jawab Cio San sambil tertawa.
“Kau tak tahu, betapa kalutnya hatiku mendengar kabar kau terjun ke jurang. Saat aku sampai ke dasarnya, kulihat kau malah duduk santai menungguku. Hahaha…..”
“Saat itu aku yakin, kau pasti akan mencariku. Begitu kau datang, kita langsung berangkat ke kotaraja menjalankan rencana.”
Orang lain punya rencana, diri sendiri pun punya rencana. Bukankah kita adalah apa yang kita rencanakan?
Malam menjelang. Bintang bersinar cerah. Bulan temaram dalam cahayanya yang penuh kelembutan.
Ada saat pertemuan, ada saat perpisahan.
Manusia bijak memahami ini dalam kebijaksanaannya yang paling dalam.
Pertemuan bukan hal yang sepele. Begitu pula perpisahan.
Saat perpisahan, tak bisa ditolak. Seperti juga saat pertemuan.
Semua terjadi dalam uraian benang takdir. Terpintal menjadi lembaran-lembaran kenangan dan sejarah umat manusia.
“Jadi kau harus pergi?” tanya Cukat Tong.
“Aku pasti akan kembali. Kau bukannya harus pergi pula?” kata Cio San.
“Benar,” tegas Cukat Tong.
“Bagaimana dengan Suma-tayhiap?” tanya Cio San.
“Urusanku sudah selesai. Aku mungkin akan mencari arak dan meminumnya sampai ******.” Jawabannya dingin, tapi semua orang tertawa.
Walaupun mereka tertawa, tapi air mata mereka mengalir deras.
Perpisahan.
Adakah di dunia ini yang lebih menyakitkan dari perpisahan?
Tapi di dalam perpisahan, terdapat secercah harapan.
Bukankah jika berpisah, mungkin masih bisa bertemu kembali?
Mungkin.
‘Mungkin’, bukanlah sebuah kata yang sia-sia.
‘Mungkin’, adalah sebuah kata yang penuh pengharapan.
Jika tidak di sini. Jika tidak di dunia ini.
Mungkin kita akan bertemu di sana. Di alam sana.
Selama apapun perjalanan. Sejauh apapun jaraknya. Selama apapun menanti. Sejauh apapun perbedaannya.
Masih ada kata ‘Mungkin’.
Selama masih ada kata itu di dunia ini, selama itu pula manusia masih memiliki pengharapan yang agung dan indah.
‘Mungkin’.
SELESAI
PENUTUP
Cio San telah selesai bersoja 3 kali di hadapan makam kedua orangtuanya. Ia lalu membersihkan makam itu. Sekuat mungkin ia menahan air matanya. Tak terasa, segala kejadian yang berlalu di dalam hidupnya ini terkenang kembali. Segala penderitaan, ketakutan, kesepian, dan kepedihan hatinya seakan tertumpahkan di hadapan makam kedua orangtuanya ini. Sejak sekian lama, baru kali ini ia berkunjung kesini.
Sore telah datang. Warna lembayung langit mulai menghiasi angkasa.
Ketika ia selesai membersihkan makam dan membalikkan tubuhnya, betapa kagetnya ia ketika di hadapannya sudah bediri seorang kakek dan seorang nenek. Sang kakek walaupun terlihat tuai, namun ketampanannya masih terlihat sangat jelas. Tubuhnya pun masih tegap. Rambutnya masih terlihat hitam, meskipun ada uban di sana-sini. Meski ada keriput di wajahnya, sinar atanya mencorong terang seperti anak muda.
Begitu pula dengan sang nenek, terlihat masih sangat cantik. Tatapan wajahnya tajam dan menusuk ke dalam jiwa manusia. Senyumnya bagaikan senyuman gadis pingitan.
Cio San tidak mengenal mereka. Tapi ia tahu mereka berdua tentu suami-istri. Dan ia paham pula, di dunia ini orang yang bisa menyelinap sedekat ini tanpa suara di belakangnya, kemungkinan belum pernah dilahirkan.
Ternyata ia salah.
“Salam, Tayhiap dan Liehiap,” kata Cio San menjura.
“Kau yang bernama Cio San?” tanya sang kakek.
“Benar adanya, Tayhiap.” Sebenarnya Cio San ingin bertanya siapa mereka, tapi ia juga paham. Di hadapan orang seperti ini, kau sebaiknya diam dan membiarkan mereka yang bertanya.
“Serang aku!” perintah si kakek.
Perintah yang aneh.
“Eh, tapi…”
Ia tidak melanjutkan kata-katanya. Sorot mata sang kakek mencorong menusuk jiwanya. Mau tak mau, ia menyerang. Sebuah gerakan Thay Kek Kun yang lamban dan sederhana.
“Tidak perlu bermurah hati. Serang dengan sungguh-sungguh!” perintah kakek itu lagi. Sekali lagi, sorot mata itu menghunjam jiwa Cio San. Seakan-akan tubuhnya tidak lagi menjadi milik pikirannya. Gerakannya berubah menjadi dahsyat. Angin menderu-deru keluar dari telapak tangannya.
Gerakannya cepat. Sangat cepat.
Sang kakek tidak bergerak. Ia menerima ujung telapak Cio San dengan telapak pula. Suara gemuruh menderu-deru terdengar bagai angin ****** beliung yang menghempaskan gunung. Tetapi seketika itu juga, suara itu hilang lenyap tak berbekas!
Seperti tak terjadi apa-apa!
Kemana hilangnya tenaga dahsyat tadi?
Tak ada seorang pun yang tahu.
Bahkan Cio San pun tidak tahu.
Sore menjelang makin gelap. Ia berdiri terpaku mencoba memahami apa yang baru saja terjadi.
“Bagus! Cio San adalah Cio San! Mari kita cari tempat istirahat dan dengarkan aku bercerita,” kata si kakek.
Mereka lalu beranjak menuju sebuah pavilliun kecil yang berada di dekat sana. Duduk di dalamnya saat sore, membawa sebuah kedamaian tersendiri.
“Kau tidak perlu tahu siapa namaku. Tetapi aku dahulu adalah sahabat dari kakekmu, Cio Hong Lim,” kata sang kakek memulai cerita.
“Aku tinggal di sebuah pulau terpencil di pantai timur Tionggoan. Tak ada seorang pun yang tahu di mana pulau itu berada. Beberapa bulan yang lalu, aku menemukan seseorang terdampar di pulau kami. Orang itu sudah lumayan tua juga. Tetapi semangat dan rasa tanggung jawab yang diembannya, membuat ia mampu bertahan hingga sampai di pulau kami.”
“Aku merawatnya sampai beberapa lama, hingga kemudian aku sadar bahwa aku pernah mengenal orang ini. Namanya Tin Seng. Ia adalah orang kepercayaan kakekmu.”
Cio San sedikit terhenyak.
“Ternyata Tin Seng telah diperintahkan oleh ayahmu sejak belasan tahun yang lalu untuk mencariku. Karena menurut kakekmu, hanya akulah yang dapat menyelesaikan semua permasalahan ini. Kau tahu permasalahan apa itu?” tanya si Kakek.
“Sedikit-banyak, boanpwe sudah bisa membacanya, Tayhiap.”
“Bagus. Jelaskan!”
“Permasalahan yang ada hubungannya dengan rencana penyerangan orang-orang Goan ke kotaraja sebulan yang lalu,” jawab Cio San.
“Benar sekali. Ternyata perencanaan itu dilakukan secara matang dan sungguh rapi sekali. Otak perencanaan itu adalah seorang Selir Kaisar Goan (Mongol) yang selamat saat pengusiran dulu. Setelah lari, ia membangun kekuatannya. Ternyata bahkan sebelum mereka berhasil diusir, orang-orang Goan telah memasukkan beberapa orang kepercayaan mereka untuk menjadi mata-mata di perguruan-perguruan besar, seperti Bu Tong-pay, Siau Lim-pay, dan GoBi-pay. Karena ketiga perguruan besar ini sangat merepotkan bagi mereka.”
“Ketika orang-orang Goan berhasil terusir, para mata-mata ini tetap menetap di perguruan-perguruan besar tadi. Bahkan kemudian menduduki posisi penting di sana. Selir Goan yang selamat itu kemudian menghubungi mereka dan mempersiapkan rencana jahat mereka itu,” jelas sang kakek. Lalu ia bertanya, “Kau tentu tahu siapa saja mereka?”
“Hong Sam-hwesio di Siau Lim-pay, Lau-ciangbunjin di Bu Tong-pay, dan Bi Goat-nikow di Go Bi-pay,” jawab Cio San.
“Benar. Mendiang ibumu yang merupakan pendekar terkemuka Go Bi-pay kemudian secara tidak sengaja mengetahui rencana jahat itu. Ia mengirimkan surat kepada kakekmu. Lalu bergegas melarikan diri ke desa ini bersama kau dan ayahmu.”
Sampai di sini, Cio San sudah paham seluruhnya. Ketika menerima surat dari ibu Cio San, kakek Cio San langsung memerintahkan orang kepercayaannya untuk mencari sang kakek di hadapannya ini. Untunglah utusan itu berhasil pergi sebelum keluarga Cio San dibantai.
“Kau sudah paham seluruhnya, bukan?” tanya sang kakek.
“Sudah, Tayhiap.”
“Nah, begitulah. Selama belasan tahun, Tin Seng mencari keberadaan kami berdua. Segala pelosok Tionggoan pernah disusurinya. Tak kenal lelah ia mencari kami. Suatu hari, ia bertemu dengan Tan Hoat. Pendekar Bu Tong-pay. Kudengar kau sudah mengangkat ayah sekaligus guru terhadap Tan Hoat ini?”
Cio San mengangguk.
“Tin Seng percaya penuh kepada Tan Hoat. Ia lalu menceritakan semuanya. Tan Hoat memutuskan pulang ke Bu Tong-pay untuk menyelamatkanmu, dan membunuh Lau-ciangbunjin secara diam-diam. Sayangnya, yang kudengar kemudian, Tan Hoat meninggal secara mengenaskan.”
“Betul, Tayhiap.” Cio San ingat sekali peristiwa ini.
“Selama belasan tahun ini, Tin Seng terus mencari kami, karena itu adalah satu-satunya tanggung jawab yang diembannya selama ini.”
“Di mana beliau sekarang, Tayhiap?” tanya Cio San.
“Sudah meninggal karena penderitaannya. Kami menguburkannya di pulau kami.”
“Aih…” Tak terasa Cio San menangis pula. Betapa besar jasa Tin Seng ini.
“Begitu kami tahu cerita ini, segera kami bergegas berangkat ke Tionggoan. Rupanya kami terlambat, dan kau sudah menyelesaikan semua urusan.”
Lama kakek ini terdiam.
“Untuk itu, kami mengucapkan terima kasih.” Ia lalu bersujud.
Betapa kagetnya Cio San. Ia mencoba menghalau.
“Aih, tidak berani… tidak berani, Siansing.”
Terlambat. Kedua suami-istri itu sudah bersujud di hadapannya.
Mau tidak mau, Cio San pun balas bersujud.
“Terima kasih telah membersihkan Bu Tong-pay. Terima kasih telah menjaga Kekaisaran Beng.” Terlihat air mata menggenang di pelupuk mata sang kakek ini.
“Aih, tidak berani…, Siansing, tidak berani…. Semua itu bukan jasa-jasa boanpwe semata. Jasa begitu banyak orang. Sungguh, boanpwe tidak berani menerima kehormatan ini,” kata Cio San sungguh sungguh.
Si kakek tersenyum, lalu berkata, “Saat ini juga, kami harus pulang ke pulau kami. Jika ada jodoh, hendaknya kau mampir ke sana. Aku belum mencobai seluruh kepandaianmu.”
Lalu ia menoleh ke istrinya, “Ayo kita pulang, Sayang.”
Si nenek tersenyum dan berkata, “Sayang, masa kita pulang tanpa memberikan hadiah apa-apa kepada pendekar muda ini?”
“Ah, betul juga. Cio San, kau lihatlah ini.”
Si kakek bergerak. Amat indah. Amat lambat dan amat pasti.
Seperti matahari, seperti bulan, seperti alam semesta. Bergerak sesuai waktunya, sesuai kadarnya, sesuai porsinya.
Seumur hidupnya, Cio San belum pernah melihat keindahan seperti ini. Seolah-olah keindahan alam semesta terpancar dari gerakan-gerakannya yang sederhana.
Lalu selesai.
Selesai seperti tak ada mula dan tak ada akhir. Begitu saja.
“Kau bisa menangkap maknanya?” tanya si kakek.
“Tidak, Siansing,” jawab Cio San jujur.
“Bagus!” kata si kakek sambil menepuk pundaknya. “Dalam beberapa tahun ke depan, kau akan mengalami banyak hal. Jika tidak segera menyingkir dari keramaian, kau akan mengalami berbagai macam urusan. Siapkan dirimu. Kami mohon diri. Jika jodoh, akan berjumpa kembali.”
Kedua orang itu kemudian pergi. Sambil bergantengan tangan dan menikmati keindahan dunia. Bercanda tawa seperti sepasang kekasih bau kencur. Cio San menjura sedalam-dalamnya.
Usia boleh tua, tetapi jiwa pecinta akan selalu muda.
Jiwa pecinta yang sejati, akan seperti ini. Berbagi mesra, berbagi kasih, berbagi susah, dan berbagi derita. Cio San tahu, kakek dan nenek itu tak akan mencapai cinta semurni itu jika sebelumnya mereka tidak mengalami ujian dan cobaan yang dahsyat.
Itulah cinta.
Ia seketika sadar, bahwa ia belum bertanya siapa nama mereka. Tapi ia tahu. Jauh di dalam lubuk hatinya, ia tahu siapa mereka.
Lalu ia tersenyum.
Teringat kalimat terakhir yang diucapkan kakek itu.
“Jika jodoh, akan berjumpa kembali.”
----------------- TAMAT---------------
Nantikan petualangan Cio San dan kawan-kawannya, dalam episode berikutnya: "Rahasia Jubah Merah" dalam bentuk cetak. Silahkan hubungi author melalui chat.