
“Aissh…, aku lupa. Kita harus ke kotaraja,” kata Cio San.
“Gampang saja. Kotaraja terletak di utara. Dua hari perjalanan dari sini,” sahut Cukat Tong.
“Apakah kita masih sempat ke puncak Thay San?” tanya Cio San.
“Dari kotaraja ke puncak Thay San butuh waktu 3 hari. Saat kita tiba di Thay San, pertemuan dan pertandingan pasti sudah dimulai.”
Cio San berpikir sebentar lalu berkata,
“Begini saja. Bisakah kau antarkan aku ke Thay San, lalu kau pergi ke kotaraja mengantarkan surat buat Cun-tianglo?”
“Tentu saja.”
“Ah, memang Thouw-Ong (Raja Maling) bukan nama kosong,” kata Cio San sambil tertawa.
Rembulan bersinar terang. Langit berwarna hitam kebiruan. Bintang bersinar dengan cerah. Mereka terbang penuh kegembiraan. Ada masalah atau tidak ada masalah, mereka tetap bergembira. Karena masalah toh tak akan hilang jika kau bersedih.
Tiga hari telah lewat. Selama tiga hari itu, Cio San banyak memberi petunjuk-petunjuk tentang ilmu silat kepada Cukat Tong. Cukat Tong pun membagi banyak ilmu tentang penyusupan, cara membuka kunci, cara mengintai, dan lain lain. Dalam 3 hari ini saja, ilmu mereka berdua semakin meningkat. Ini juga sebagian besar disebabkan mereka sempat menemukan ilmu-ilmu dahsyat di dinding goa rahasia di Bu Tong-san.
Walaupun Cukat Tong awalnya sempat berkata bahwa ia tidak tertarik untuk mempelajari ilmu itu, nampaknya kini ia berminat juga. Mungkin lantaran melihat Cio San dengan penuh semangat berlatih gerakan-gerakan di sepanjang waktu istirahat mereka di tengah perjalanan.
Kini mereka telah sampai di kaki gunung Thay San. Cio San sengaja meminta mereka berhenti di kaki gunung, agar ia bisa bergabung dengan ribuan orang yang berjalan kaki menuju puncak Thay San. Tentu saja Cio San kini menyamar sebagai orang lain. Cukat Tong yang juga ahli menyamar, kini telah mendandani Cio San sebagai seorang buruk rupa yang wajahnya bertotol-totol aneh. Sampai-sampai Cio San nyaris tak dapat mengenali lagi dirinya.
“Hey, jika setinggi ini ilmu menyamarmu, aku bisa ragu-ragu untuk mendekati wanita,” tukas Cio San sambil tertawa saat melihat bayangan wajahnya di cermin kecil yang dibawa Cukat Tong.
“Memangnya kenapa?”
“Jangan-jangan, wanita cantik itu adalah samaranmu.”
“Hahaha….” Mereka berdua tertawa terbahak-bahak.
“Eh, apakah kau bisa mendandani aku agar mirip seseorang lain? Misalnya mendandani aku menjadi dirimu atau kaisar?”
“Tentu saja. Asal aku pernah bertemu dengan orang itu, aku bisa mendandanimu sepertinya.”
“Wah, hebat!” puji Cio San.
“Tapi yang terpenting dari ilmu menyamar adalah ilmu peran. Kau harus bisa bersikap dan bertingkah-laku seperti orang yang kau tiru itu. Jika tidak, maka samaran akan ketahuan dan terbongkar.”
Cio San mengangguk-angguk.
Ia lalu menulis sebuah surat kepada Cun-tianglo yang kini bersiaga di kotaraja. Setelah menulisnya, ia lalu berkata kepada Cukat Tong, “Sekali lagi, aku harus merepotkanmu.”
Cukat Tong sudah paham maksud Cio San, ia hanya berkata, “Kau ingin aku berangkat sekarang?”
“Ya.”
“Baiklah. Burung-burungku tadi sudah cukup beristirahat. Aku pergi.”
“Setelah itu, kumohon kau kembali kesini untuk membantuku,” kata Cio San.
Cukat Tong hanya mengangguk. Sempritan sudah dibunyikan dan tak lama kemudian, ia sudah melayang di angkasa.
Cio San pun memulai perjalanannya.
Ia tadi berada di pinggiran hutan yang sepi. Kini ia telah berada di jalan utama menuju puncak. Ribuan orang berjalan dengan ramai. Suasana seperti ini bagaikan sebuah perayaan besar. Ribuan orang dari berbagai macam perguruan, aliran, dan juga keluarga-keluarga terkemuka, datang membanjiri jalan itu.
Cio San jarang mengenal orang. Ini karena pergaulannya di dunia Kang Ouw memang masih sempit. Lagipula, pengalamannya belum terlalu banyak di dunia Kang Ouw.
Jalanan ramai.
Ada pejalan kaki, ada yang menggunakan kuda, kereta, dan ada juga yang ditandu. Acara ini seperti ajang bagi seluruh orang untuk menunjukkan kebesaran dan kemasyhuran nama mereka. Sejak tadi, Cio San berharap bertemu dengan Suma Sun dan rombongannya, tapi ia masih belum bisa menemukan mereka.
Akhirnya dia menggunakan kesempatan ini untuk sekedar mengobrol dengan orang lain. Walaupun semua orang ini datang untuk mengikuti acara pemilihan Bu Lim Bengcu, tidak semua datang untuk bertempur. Kebanyakan dari mereka hanya datang untuk melihat keramaian. Sekedar belajar dan memperhatikan ilmu silat orang lain. Memang ada sedikit ‘penyakit’ di hati orang Bu Lim untuk selalu membandingkan ilmu silat sendiri dengan orang lain.
Cio San kini sudah berkenalan dengan seorang pemuda ramah yang tadi menawarkan minum kepadanya. Namanya Kao Ceng Lun. Selain lumayan tampan, sinar matanya pun jenaka. Membuat orang yang melihatnya langsung suka kepadanya.
Nama keluarga ‘Kao’ memang termasuk terkenal di kalangan Bu Lim. Keluarga ini tinggal di Hokkian. Oleh sebab itu, dialek Kao Ceng Lun agak terdengar lucu. Itu malah membuat orang yang mendengarnya semakin suka kepadanya.
Keluarga Kao terkenal sebagai keluarga yang ilmu tangan kosongnya disejajarkan dengan banyak ilmu perguruan besar. Nama ilmu itu pun cukup menggetarkan, Hui Liong Ciang Hoat. Ilmu Tangan Sakti Naga Terbang.
Cio San dan Kao Ceng Lun kini beristirahat di sebuah kedai. Di sepanjang jalan, memang ada banyak kedai berjualan makanan. Ada kedai yang memang sejak dulu buka di situ, ada juga kedai-kedai dadakan yang buka di sana karena keramaian pemilihan Bu Lim Bengcu ini.
“Lie-ko, ayo tambah lagi sayurnya. Ini, dagingnya pun masih banyak,” kata Kao Ceng Lun sambil mengunyah.
Cio San kini sudah berganti she (marga) menjadi Lie, bernama Sat.
Orang bernama Lie Sat itu hanya tersenyum sambil makan. Kao Ceng Lun memang adalah pemuda yang bersemangat, sehingga semangatnya pun tertular kepada orang lain.
“Aku sudah kenyang, Kao-siauya (Tuan Muda Kao). Terima kasih banyak,” kata Lie Sat sambil mengelus-elus perut.
“Aih.. Sudah kubilang berapa kali? Jangan panggil aku Siauya. Panggil aku Lun-te saja.”
“Ah, mana mungkin saya berani. Siauya mau menjadikan saya teman saja, saya sudah senang sekali,” kata Lie Sat.
“Haha… Sejak dulu aku memang suka berteman, Lie-ko. Apalagi, ini pertama kali aku bepergian jauh. Punya teman seperjalanan ‘kan memang sangat menyenangkan,” mulutnya sibuk berbicara dan sibuk mengunyah.
Ia lalu lanjut bertanya, “Lie-ko, kau datang untuk menonton atau ikut perebutan Bengcu juga?”
“Halah… Saya mana punya kemampuan untuk ikut bertanding? Walaupun bisa silat sedikit-sedikit, saya kesini hanya untuk menonton keramaian. Lumayan, bisa banyak ilmu yang didapat jika kita melihat pertandingan orang,” kata Lie Sat. Lanjutnya, “Siauya sendiri, apakah ikut bertanding?”
“Iya. Sekedar untuk menguji kemampuan,” jawab Kao Ceng Lun sambil tersenyum.
Lie Sat tersenyum juga. Ia suka melihat pemuda yang jujur, terbuka, dan apa adanya. Hampir seperti dirinya sendiri. Umur mereka sendiri mungkin sebaya.
Mereka mengobrol panjang lebar menceritakan pengalaman masing-masing. Tak berapa lama kemudian, masuk sebuah rombongan kecil ke kedai itu.
Suma Sun, Ang Lin Hua, dan Luk Ping Hoo mantan Pangcu Kay Pang. Mereka duduk di sebuah meja kosong, yang tak jauh dari meja tempat Cio San dan sahabat barunya itu berada.
Cio San ingin sekali menyapa mereka, tapi ia tahu ia sedang dalam penyamaran. Karena itu, ia bersikap biasa saja dan melanjutkan mengobrol dengan Kao Ceng Lun.
Rombongan Suma Sun sendiri juga mengobrol hal-hal kecil di sepanjang perjalanan. Mendengar bahwa mereka baik-baik saja, Cio San merasa lega di hatinya.
“Eh, Lie-ko, kau lihat nona itu? Cantik sekali, bukan?”
Lie Sat menoleh ke arah pandangan Kao Ceng Lun.
Ang Lin Hua.
“Cantik sekali, Siauya. Sayang rambutnya sudah memutih semua,” kata Lie Sat sambil berbisik karena khawatir didengar Ang Lin Hua. Suasana di kedai itu sangat ramai, tapi tentu saja pendengaran pendekar tetaplah tajam. Untung saja, sepertinya Ang Lin Hua tidak tahu mereka sedang membicarakan dirinya.
“Ah, menurutku itu malah semakin menambah kecantikannya.”
Lie Sat atau Cio San hanya mengangguk-angguk membenarkan.
“Dari kabar yang kudengar, berdasarkan ciri-ciri dan gerak-geriknya, tentulah nona itu adalah Ang Lin Hua, putri dari Ma Kauw-kauwcu yang lama,” kata Kao Ceng Lun.
Mendengar ini, Cio San kagum juga atas tajamnya penglihatan dan luasnya pengetahuan Kau Ceng Lun.
“Pendekar yang diam saja sejak tadi itu pasti adalah Ang Hoat Kiam Sian, Suma Sun-tayhiap.”
Sekali lagi tebakan Kao Ceng Lun tepat.
“Dan kakek tua yang disebelahnya mungkin saja adalah si Raja Maling yang sedang menyamar.”
Kali ini dia salah. Tapi tetap membuat Cio San kagum, karena ia bisa mengambil kesimpulan yang baik.
“Ah. Orang-orang hebat,” kata Cio San sambil mengangguk-angguk.
“Aku ingin mengundang mereka makan,” kata Kao Ceng Lun sambil beranjak berdiri.
Tapi ia terlambat.
Seseorang telah terlebih dahulu datang ke meja rombongan Suma Sun.
“Kau pasti Suma Sun,” kata orang itu.
Badannya tegap dan usianya masih muda. Mungkin sekitar 20 tahun.
Suma Sun tidak menjawab, hanya mengangguk.
“Namaku Bu Seng Ti. Aku adalah anak dari Bu Seng Lam.”
“Kau ingin membalas dendam?” tanya Suma Sun.
“Benar. Aku memang sengaja datang ke Thay San ini hanya untuk mencarimu.”
“Ilmu pedangmu masih jauh. Pulanglah dan berlatihlah selama 20 tahun. Setelah itu, kau boleh mencariku.”
Suma Sun berkata dengan sungguh-sungguh. Tapi orang yang bernama Bu Seng Ti itu malah tersinggung.
“Manusia sombong! Sekarang juga cabut pedangmu!” katanya setengah berteriak.
Para pendekar di dalam kedai sudah berhenti mengobrol, dan menonton keramaian kecil ini.
Suma Sun tidak peduli dan tetap meneruskan makannya.
Sringggg…!!
Bu Seng Ti mencabut pedangnya. Kuda-kudanya sudah dikeluarkan.
“Kau murid siapa?” tanya Suma Sun.
“Apa pedulimu? Cepat cabut pedangmu dan hadapi aku.”
“Ilmu pedangmu berbeda dengan ayahmu. Kau murid siapa?” terlihat Suma Sun sudah semakin tenang.
Ia pun sudah mampu membedakan ilmu orang. Padahal orang itu belum mengeluarkan jurus satu pun juga.
Bu Seng Ti tidak menjawab. Ia menyerang.
“Awas serangan!” katanya.
Pedangnya menyambar cepat.
Kilatan pedang itu sederhana dan mantap. Tak ada jurus tipuan atau gerakan percuma. Jurus pedang ini diciptakan untuk membunuh.
Suma Sun hanya memundurkan badannya sedikit. Sabetan itu lewat di depan tenggorokannya. Tapi begitu sabetan itu luput, sabetan berikutnya datang dengan lebih cepat dan dari arah tak terduga. Kali ini mengincar jantungnya.
Suma Sun tidak menggerakkan tubuhnya sama sekali. Hanya tangannya menangkis pedang itu dengan sebuah mangkok kosong.
Melihat serangan keduanya kembali gagal, Bu Seng Ti melompat tinggi dan menghunjamkan pedangnya. Gerakannya ini sangat cepat. Bahkan bagi pandangan mata Cio San, gerakan Bu Seng Ti termasuk cepat.
Tapi memangnya ada pedang yang lebih cepat dari pedangnya Suma Sun?
Tentu saja, pedangnya Suma Sun telah menancap di dahi Bu Seng Ti.
Tanpa suara.
Tanpa darah.
Yang ada hanya kematian.
Suma Sun menatap mayat itu dengan penuh penyesalan.
“Kau punya bakat besar, tapi kenapa memilih kematian.” Kalimatnya terdengar seperti pertanyaan. Tapi juga terdengar seperti penyesalan.
Bahkan juga terbayang sebuah perasaan sepi yang aneh.
Karena Suma Sun tahu, di masa depan nanti, tak ada seorang pun yang mampu menandingi pedangnya. Di manakah lagi ia akan menemukan lawan sebanding?
Pemuda penuh bakat selalu menyenangkan hatinya. Karena baginya, ada sedikit harapan di masa depan bagi pedangnya untuk menemukan lawan.
Mungkin karena inilah, ia merasa begitu kesepian.
Jika orang lain kesepian karena tak punya kawan, ia kesepian karena tidak punya lawan.
Rasa sepi yang hanya dimengerti oleh orang-orang seperti Suma Sun.
Orang-orang yang telah menyerahkan hidupnya kepada ketajaman pedangnya.
Suma Sun sendiri telah mengangkat mayat pemuda itu dan menggendongnya keluar. Ke sebuah tanah kosong. Di situ ia menggali kuburan bagi pemuda itu.
Ang Lin Hua dan Luk Ping Hoo tidak membantunya. Mereka paham dan mengerti, bahwa bagi Suma Sun, apa yang dia lakukan adalah sebuah penghormatan bagi pemuda malang itu. Sesuatu yang sakral. Mereka berdua hanya duduk di tanah dan melihat dari dekat.
Mereka yang berharap mengambil banyak pelajaran saat bertanding nanti, tentu saja kemudian berpikir dua kali. Jika orang seperti Suma Sun ikut bertanding dalam perebutan Bu Lim Bengcu nanti, tentu saja pelajaran yang mereka dapatkan adalah pelajaran terbaik. Pelajaran tentang kematian.
Oleh karena itu, banyak dari pengunjung kedai yang telah mengambil keputusan saat itu juga, untuk membatalkan keikutsertaan dalam pertandingan.
Karena pada hakekatnya, bagi mereka, Suma Sun bukan manusia. Ia adalah ‘dewa’ kematian yang turun ke bumi.
Tapi Kao Ceng Lun malah semakin bersinar-sinar wajahnya. Ia malah semakin ingin bertanding.
Tapi bukankah semangat ini, adalah semangat yang dimiliki Bu Seng Ti tadi?
Semangat khas anak muda yang cinta petualangan dan marabahaya.
Itulah kenapa banyak pemuda mati sia-sia.
Tapi tentu saja, hal seperti ini tak akan mengendorkan semangat mereka yang benar-benar pemberani dan mencintai tantangan. Justru karena tantangan itu berbau kematian, maka mereka tertarik melakukannya.
“Kau lihat tadi jurusnya, Lie-ko? Jurus yang mantap dan sungguh mematikan,” kata Kao Ceng Lun. “Jika aku bertarung dengannya, pasti akan sangat mengasyikkan.”
“Kalau saya dibayar 1000 tael emas pun, tak akan mau bertanding dengannya,” tukas Lie Sat sambil tersenyum kecut.
“Jika kau kubayar 1001 tael emas, apa mau bertanding dengannya?” tanya Kao Ceng Lun sambil tertawa.
“Sepertinya mau,” Cio San menjawab sambil tertawa pula.
Tak berapa lama, kuburan itu pun selesai. Suma Sun duduk sebentar dalam keheningan. Selama ini, jika ia membunuh, maka orang yang dibunuhnya adalah orang yang pantas mati. Pemuda ini belum pantas untuk mati. Suma Sun tidak mengenalnya. Walau ayahnya adalah seorang bejat, pemuda itu belum tentu sebejat ayahnya.
Bu Seng Lam, ayah pemuda itu, dibunuh Suma Sun dua tahun yang lalu. Sang ayah ketahuan telah banyak memakan uang rakyat. Ia memang adalah seorang pejabat di sebuah daerah bagian timur. Banyak orang yang menentangnya kemudian mati mengenaskan. Suma Sun yang mendengar hal ini, kemudian mencari dan membunuhnya.
Orang seperti Suma Sun, walaupun seringkali tidak peduli dengan urusan orang lain, tetap akan tergerak hatinya jika mendengar rintihan rakyat jelata. Itulah sebabnya, ia menempuh perjalanan cukup jauh, hanya untuk membunuh Bu Seng Lam.
Tapi Bu Seng Ti? Pemuda itu belum tentu bersalah. Ia hanya membalaskan dendam keluarganya. Bagi Suma Sun, seorang anak yang membalas dendam kematian ayahnya, adalah anak yang berbakti. Tak peduli seberapa bejat perbuatan ayahnya.
“Luk-tayhiap, apakah Tayhiap mengenal ilmu pedang pemuda tadi?” tanya Suma Sun.
“Aku hanya bisa menebak. Gerakannya seperti jurus-jurus awal Pedang Pengacau Lautan milik keluarga Kam,” jawab Luk Ping Hoo.
“Aku pernah mendengar tentang keluarga itu, tapi belum pernah bertemu dengan mereka. Ilmu pedang yang hebat,” puji Suma Sun. Lanjutnya, “Jika pemuda itu melatihnya selama 20 tahun, aku pasti akan sangat kesulitan menghadapinya.”
Keluarga Kam adalah keluarga pejabat istana yang juga terkenal karena ilmu pedang dan goloknya. Hanya anggota keluarga yang boleh mempelajari ilmu itu. Berarti kemungkinan besar pemuda itu adalah menantu keluarga Kam.
Suma Sun sendiri memang sangat tertarik menjajal ilmu pedang keluarga itu. Sayang, karena berbagai urusan, ia belum sempat mencari mereka. Pertarungannya dengan pemuda Bu Seng Ti itu, sedikit-banyak membuatnya bisa mengira-ngira seberapa dahsyat ilmu pedang dan golok mereka.
Kadang-kadang, yang membuat Suma Sun semakin bersedih, adalah ilmu pedangnya! Ilmu pedangnya tercipta hanya untuk membunuh. Ia tidak mengenal cara lain dalam bertanding, selain membunuh orang.
Jurus pedangnya memang hanya untuk membunuh!
Tiba-tiba muncul seorang wanita. Matanya sembab dan wajahnya memerah.
“Apakah aku terlambat?” tanyanya.
“Nona siapa?” tanya Ang Lin Hua.
“Di mana Ti-ko (Kakak Ti)?” si nona malah balas bertanya.
“Maksudmu Bu Seng Ti?” tanya Ang Lin Hua.
“Ya.”
“Dia…” Ang Lin Hua tidak berani menjawab. Matanya hanya menatap ke kuburan yang baru saja dibuat itu.
“Ti-ko….” Nona itu berlari menghambur dan menjatuhkan dirinya di atas kuburan.
“Ti-ko… Kenapa kau tidak mendengarkan aku.. Oh.. Ti-ko.. Bagaimana dengan calon bayi di perutku ini Ti-ko?” Ia menangis lama sekali. Menimbulkan keharuan orang yang menonton.
Orang-orang semakin banyak berkumpul melihat kejadian ini. Sebagian dari mereka berharap akan ada keramaian lagi.
Si nona, yang ternyata adalah seorang nyonya muda itu lalu bangkit berdiri.
“Kau pasti Suma Sun.”
Sudah dua kali Suma Sun mendengar orang berkata seperti ini. Dan yang pertama sudah menuju alam baka.
“Benar.”
“Kenapa kau membunuhnya?”
“Karena ia ingin membunuhku,” jawab Suma Sun datar dan dingin.
“Ciiihh…!! Pendekar besar membunuh seorang pemuda ingusan,” kata nyonya muda itu dingin.
Di pundaknya tersanding pedang. Ia telah mencabutnya.
“Kau anggota keluarga Kam?” tanya Suma Sun.
“Suma-tayhiap, jangan membunuh orang,” kata Luk Ping Hoo mencoba mengingatkan.
Tapi entah kenapa, kata-kata ini terdengar lucu jika diucapkan kepada Suma Sun. Seperti meminta matahari berhenti bersinar, dan bumi berhenti berputar.
Nyonya muda itu pun melayang. Lentingannya cepat. Pedangnya sudah membentuk ratusan rintik-rintik pedang yang menghunjam tubuh Suma Sun.
Sinar pedang ini seperti air bah yang tanpa celah, dan tanpa cela.
“Ilmu pedang hebat.” Suma Sun tersenyum. Entah bagaimana, ia telah lolos dari serangan berbahaya itu.
Tapi si nyonya muda tidak memberikan kesempatan sedikitpun bagi Suma Sun untuk mengeluarkan pedangnya. Dalam sekejap mata, pedangnya telah menyabet tiga tempat sekaligus hampir secara bersamaan. Tenggorokan, dada, dan pinggang.
Kilatannya membuat pedang ini bersinar ditimpa sinar matahari.
Sekali lagi, Suma Sun mampu menghindari serangan itu.
Nyonya muda itu pun semakin memperhebat serangannya. Kini pedangnya telah membentuk sebuah sinar lebar, yang membelah dari sisi kiri ke bagian bawah sisi kanan.
Suma Sun tahu ilmu pedang seperti ini amat sangat susah dilatih dan dikuasai. Karena gerakannya cepat dan tiba-tiba, serta memiliki perubahan yang sekejap mata. Kedahsyatan tenaga yang terkandung di dalamnya pun, bahkan bisa memotong sesuatu tanpa perlu menyentuhnya.
Sejumput rambut Suma Sun terpotong oleh angin pedang itu.
Ia malah tersenyum. Sepanjang hidupnya, baru kali ini ada orang yang bisa menyentuh bagian tubuhnya dengan pedang. Walaupun hanya seujung rambut.
Ia menghindar dan menghindar. Pedang itu bagaikan naga yang meliuk-liuk mengelilingi tubuh Suma Sun.Tak ada celah kosong bagi Suma Sun untuk menyerang. Bahkan untuk mengeluarkan pedang sekalipun, ia tidak sempat.
Tubuhnya banyak tergores lecet karena angin dari pedang itu.
Tapi ia malah tertawa gembira.
Sepanjang hayatnya, baru kali ini Suma Sun tertawa gembira.
Ia bergerak meliuk-liuk mengikuti liukan pedang si nyonya muda. Tubuhnya tergores disana-sini, tapi ia menikmatinya.
Seperti seorang pemusik handal yang menemukan teman bermain.
Seperti seorang sastrawan yang bertemu kawan diskusi.
“Ilmu pedang ini sudah sempurna,” tukas Suma Sun sambil tertawa.
Ia memuji ilmu pedang lawan dengan bahagia. Padahal pedang lawan sedang mengincar nyawanya.
Nyonya muda itu menyabet dan menyabet. Sepertinya, pekerjaan yang paling berarti dalam hidupnya adalah membunuh orang dihadapannya ini.
“Hebat!” Suma Sun memuji.
Setiap serangan yang datang, menggores tubuhnya. Setiap goresan itu, menghasilkan pujian yang keluar dari mulut Suma Sun. Sepertinya ia tak menyangka, lawan tangguh yang sanggup menandinginya adalah seorang perempuan yang bersedih baru ditinggal mati suaminya.
“Sempurna! Sempurna!”
Sudah puluhan jurus mereka lewati. Puluhan kali pula Suma Sun memuji.
Sudah puluhan goresan pula di tubuhnya.
Hingga di suatu ketika, pedangnya keluar. Saat yang ditunggu-tunggu pun tiba.
Entah bagaimana kesempatan itu bisa datang. Padahal, tiada celah sedikit pun dari sejak pertama nyonya muda itu menyerang.
Satu kilatan pedang Suma Sun jauh lebih cepat, lebih ganas, dan lebih menakutkan ketimbang puluhan serangan si nyonya muda tadi.
Kilatan itu bersinar dengan terangnya.
Tidak ada darah dan suara.
Tapi kali ini juga, untuk pertama kalinya, tidak ada kematian.
Pedang nyonya muda itu telah terlepas dari tangannya. Entah bagaimana caranya, Suma Sun telah berhasil menepis jatuh pedang itu.
Baru kali ini sepanjang sejarah hidupnya, pedang Suma Sun tidak mencicipi kematian lawan.
“Kau pergilah, Nyonya. Berlatihlah lebih keras. Dalam 12 tahun, kau mungkin akan bisa mengalahkanku,” kata Suma Sun tenang.
Ia membalikkan tubuhnya. Pergi meninggalkan nyonya muda itu.
Si nyonya muda dengan cepat memungut pedangnya dan menusukkan pedang itu ke punggung Suma Sun.
Sebuah gerakan yang teramat sangat cepat, dan datangnya dari belakang pula.
Tapi sebelum Suma Sun menghindar, pedang itu telah patah menjadi tiga. Disambit sebuah senjata rahasia dari jarak jauh.
Seseorang setengah baya sudah muncul di situ.
“Ayah!” seru si nyonya muda.
“Diam kau! Mulai saat ini, kau kularang menggunakan pedang,” kata pria setengah baya itu. Ia berbicara dengan tenang namun tatapan matanya tajam dan menusuk.
“Kam-tayhiap, salam,” kata Suma Sun menjura.
“Salam,” balas orang tua yang dipanggil Kam-tayhiap itu. Lanjutnya, “Kau maafkanlah perbuatan putriku. Sejak saat ini, kujamin ia tak akan menggunakan pedang lagi.”
Sebagai pendekar pedang yang benar-benar mencintai ilmu pedangnya, Kam-tayhiap sangat menjunjung tinggi ilmu pedang. Pedang bukan untuk dipakai membokong dari belakang.
Oleh karena itu, Suma Sun hanya tersenyum.
“Tapi, Ayah. Keparat itu yang membunuh Ti-ko,” kata si nyonya muda sambil terisak.
“Suamimu itu mati karena kecerobohannya sendiri. Semua orang yang melatih ilmu pedang tahu, bahwa jiwanya sudah dijual saat ia memulai belajar memainkan pedang,” jawab Kam-tayhiap. ”Kau pulanglah bersamaku.”
Setelah berkata begitu, si kakek menjura, lalu berkata, “Kita akan bertemu suatu saat nanti, Suma-tayhiap.”
“Pasti, Kam-tayhiap.”
“Ayah, bagaimana dengan jasad Ti-ko?”
“Suruh orang-orang kita mengurusnya,” lelaki tua itu berkata tanpa menoleh, dan menghilang di balik kerumunan orang.
Dengan cepat, ‘orang-orang’ keluarga Kam telah membongkar kuburan baru itu dan mengurus jasad Bu Seng Ti. Suma Sun memperhatikan dengan khidmat dan penuh hormat.
Nyonya muda itu beserta rombongan kemudian pergi dari situ. Keramaian kemudian memudar, dan semua orang kembali ke urusan masing-masing.
Suma Sun termenung.
Untuk pertama kalinya, pedangnya menyelamatkan nyawa. Bukan untuk mengambil nyawa.
Ada perasaan aneh yang timbul di hatinya. Perasaan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.
Ini bukan hanya tentang pedang. Tetapi juga tentang….
Ah, Suma Sun tidak berani berpikir lebih jauh.