
Pemandangan dari atas gunung Bu Tong-san memang tiada duanya. Saat ini musim semi, matahari
sore bersinar dengan cerah. Angin sepoi-sepoi menghembus, menyejukkan hati siapa saja yang berada di atas gunung ini. Tapi angin sejuk itu tidak mampu menembus ke dada ribuan murid Bu Tong-pay (Partai Silat Bu Tong) saat ini. Guru Besar mereka, sekaligus pendiri perguruan Bu Tong dan juga ketua partai itu, Thio Sam Hong, baru saja meninggal dunia.
Beliau adalah salah satu tokoh terbesar pada jamannya. Bahkan kebesaran nama beliau tidak saja menggetarkan dunia Kang Ouw (dunia persilatan), namun juga mampu menembus hati orang-orang biasa dan rakyat jelata.
Thio Sam Hong memang adalah orang yang sangat dihormati. Para pendekar aliran lurus sangat mengagumi beliau. Tokoh aliran sesat juga kagum dan gentar mendengar namanya. Thio Sam Hong adalah pencipta ilmu-ilmu hebat. Salah satu ilmu ciptaannya adalah Thay Kek Kun (Tai Chi Chuan). Ilmu dahsyat ini menggetarkan dunia persilatan, dan jarang bisa ditemui lawannya.
Ia juga adalah seorang tokoh pendeta Tao, yang kedalaman pengetahuan agama serta filsafatnya jarang ada tandingan. Banyak orang yang ketika mendengar namanya saja, akan tunduk dan merasa takluk. Selain itu, beliau juga memiliki umur yang sangat panjang, mencapai lebih dari 170 tahun. Konon kabarnya, karena ilmu silatnya sangat hebat sehingga mempengaruhi usia dan kesehatannya.
Bagitu menyusuri padang rumput yang luas, Tan Hoat teringat pada masa kecilnya. Ia adalah anak seorang petani. Keluarganya bukan asli orang desa itu, tapi merupakan perantauan dari daerah lain. Karena mendengar nama desa itu yang terkenal, ayahnya memutuskan untuk memboyong keluarganya ke sana dan mulai berusaha di sana.
Di sanalah Tan Hoat yang baru berusia 10 tahun itu bertemu dengan Cio Kim. Mereka yang masih seumur memang langsung akrab. Setelah itu mereka menjadi sahabat dekat. Ayah Cio Kim adalah kepala desa.
Pergolakan perang pengusiran bangsa Goan, membuat ayah Cio Kim, yang bernama Cio Hong Lim bergabung dengan tentara perlawanan. Dengan bakat dan kecerdasannya, Cio Hong Lim malah mempunyai pangkat tinggi dalam ketentaraan itu, padahal ia tidak bisa ilmu silat.
Cio Hong Lim memiliki otak yang sangat cerdas, sehingga ia diangkat menjadi ahli strategi. Ia bahkan menjadi salah satu tokoh penting berhasilnya pengusiran itu. Tidak seperti kebanyakan orang, ia memilih mundur dari jabatannya setelah perjuangan selesai. Ia memilih bertani, membangun perkumpulan petani yang dulu
sempat terbengkalai di jaman perjuangan itu. Usahanya kemudian berhasil. Desanya berkembang lagi. Sejak saat itu, Cio Hong Lim menjadi orang yang termasuk kaya. Kekayaan yang didapatkannya secara jujur, melalui kerja keras.
Saat berusia 15 tahun, Tan Hoat kehilangan kedua orangtuanya. Ibu Tan Hoat meninggal lantaran sakit. Beberapa bulan kemudian, ayah Tan Hoat juga meninggal. Kepergian Tan Leng, ayah Tan Hoat itu, mungkin disebabkan rasa cintayang mendalam dan kesedihankarena ditinggal sang istri. Tan Hoat yang telah menjadi yatim-piatu, kemudian diasuh oleh keluarga Cio selama hampir setahun. Oleh Cio Hong Lim, Tan Hoat dikirimkan ke perguruan Bu
Tong-pay. Posisi Cio Hong Lim dulu saat menjadi ahli strategi, membuatnya dekat dan kagum dengan para pendekar Bu Tong. Cio Hong Lim sendiri, walaupun tidak menyukai ilmu silat, mempunyai pandangan yang luas. Ia melihat Tan Hoat memiliki bakat untuk mempelajari ilmu silat, sehingga mengirimkan anak itu ke Bu Tong.
Cio Hong Lim tidak memaksakan pandangannya yang anti ilmu silat itu terhadap Tan Hoat. Bahkan juga kepada anaknya semata wayang,Cio Kim. Namun Cio Kim memang tidak memiliki bakat ilmu silat. Cio Kim malah memiliki ketertarikan kepada sastra. Cio Hong Lim mengirimkannya belajar ke ibukota, hingga berhasil mendapat gelar Siucai (Sastrawan).
Kini Tan Hoat sudah berusia 32 tahun. Ia belum menikah. Pada jaman itu, usia begitu sudah dianggap sangat terlambat untuk menikah. Tan Hoat sendiripun tidak peduli. Walaupun tidak ada larangan menikah bagi anggota Bu Tong angkatan ke-3, Tan Hoat sendiri memang lebih suka menjadi bujang. Menurutnya, itu malah membuatnya bisa lebih bebas dan tidak terikat.
Walaupun sudah menjadi murid Bu Tong-pay, Tan Hoat masih sempat mengunjungi desa itu beberapa kali. Yang pertama, saat ia menemani salah seorang gurunya mengerjakan sebuah keperluan. Yang kedua, saat ia menjadi murid angkatan ke-3 dan turun gunung untuk pertama kalinya. Itu sudah 7 atau 8 tahun yang lalu.
Desanya pun tidak banyak berubah. Walaupun ini desa yang makmur, penduduknya tidak serta-merta langsung berubah gaya hidupnya bagaikan saudagar kaya. Memang ada beberapa yang seperti itu. Namun sifat sebagian besar penduduknya yang sederhana, membuat desa itu tetap asri, walaupun diakui sebagai salah satu desa
yang paling makmur di Tionggoan.
Setelah melintasi padang rumput, kini Tan Hoat menyusuri jalan setapak menuju desanya. Tadi saat di padang rumput, desanya telah terlihat dari kejauhan. Kini semakin dekat, rasa haru yang ada di hati Tan Hoat semakin menguat.
Begitu sampai di gerbang desa, ia sudah disambut oleh beberapa penduduk yang sedang menggarap sawah. Sebagai ‘bekas’ penduduk desa itu, apalagi murid perguruan Bu Tong, ia memang lumayan dikenal di desa itu.
Setelah mengucap salam dan menanyakan kabar orang-orang yang tadi menyapanya, ia menanyakan
kabar keluarga Cio. Wajah orang-orang itu segera berubah. Kata mereka, “Tan-tayhiap (Pendekar Besar Tan)
belum dengar? Wah, kalau begitu, Tayhiap secepatnya saja kesana.”
“Memangnya ada apa?” tanya Tan Hoat penasaran.
“Lebih baik Tayhiap kesana dulu. Nanti pasti ada yang bercerita disana....,” jawab salah seorang penduduk desa dengan wajah khawatir.
Penasaran,Tan Hoat segera menggunakan ginkang (ilmu meringankan tubuh). Nalurinya sebagai
seorang pendekar mengatakan bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Ia berlari. Bahkan mungkin melayang. Karena kakinya hanya menginjak tanah sesekali. Orang-orang desa hanya melihat kelebatan bayangan. Tapi mereka tidak
tahu bayangan apa itu sebenarnya.
Sebuah belokan lagi, Tan Hoat tiba di depan rumah keluarga Cio. Begitu berbelok, ia kaget setengah mati. Tempat yang dulunya rumah keluarga Cio, sudah kosong melompong. Tidak ada lagi rumah di tempat itu. Berganti onggokan kayu-kayu kering bekas terbakar.
Seorang penduduk yang kebetulan lewat disitu, mengenal Tan Hoat.
“Ah, Tan-tayhiap baru datang rupanya.”
“A...apa yang sudah terjadi? Apakah ada kebakaran?” tanya Tan Hoat terbata-bata.
“Bukan kebakaran, Tayhiap... Bukan kebakaran...,” jawab orang itu.
“Lalu apa?” tanya Tan Hoat lagi penasaran.
“Bencana besar... Rumah Cio-wangwe (Saudagar Cio) dirampok orang!!” orang itu menjawab juga dengan terbata-bata.
“Siapa yang berani?”
Dalam amarahnya, Tan Hoat mengerahkan tenaga dalamnya sambil menghentakkan kakinya. Orang di depannya merasa seperti sebuah gempa bumi dahsyat sedang terjadi.
“Ti.. tidak tahu..., Tayhiap..., kejadiannya cepat sekali,” jawab orang itu kini ketakutan.
“Lalu dimana keluarga Cio sekarang?” tanya Tan Hoat lagi. Kegarangannya belum berkurang.
“Su..su.. sudah....,” ia terbata-bata.
“Sudah apa?” Tan Hoat sudah maju mendekati orang itu. Orang itu ketakutan, tanpa sengaja ia mundur perlahan-lahan.
“Su...sudah...,” ia ketakutan.
Menyadari orang yang dihadapannya itu ketakutan, Tan Hoat mulai menghaluskan bahasanya. “Jawablah,
Lopek (panggilan kepada orang yang sudah tua). Tidak usah takut. Maaf, tadi saya tidak bisa menahan diri...,” kata Tan Hoat.
“Su..sudah meninggal semua, Tayhiap,” jawab orang itu.
“Apa?!”
Kata-kata itu keluar bersamaan dengan jatuhnya tubuh Tan Hoat ke tanah. Ia berlutut, matanya memandang ke tanah. Ia seperti tidak percaya atas apa yang didengarnya.
Berita kematian Guru BesarThio Sam Hong saja, sudah menguras tenaga dan semangatnya. Ia butuh waktu lama untuk bisa menguasai hatinya. Bahkan sepanjang perjalanan dari ibukota ke desa ini, yang membutuhkan waktu 5 hari, ia kadang menangis. Kini ditambah lagi berita ini, Tan Hoat seperti kehilangan separuh nyawanya.
Kekuatan hati yang berusaha dikumpulkannya sepanjang perjalanan akhirnya hilang, buyar begitu saja. Tan Hoat lemas seketika.
Lopek didepannya kemudian mengangkat dan menuntunnya ke dalam rumah. Diletakkannya Tan Hoat diatas dipan.Lantas mengambil air danmemberikannya pada Tan Hoat.
“Minumlah, mungkin bisa membuatmu sedikit tenang,” kata orang tua itu.
“Maaf saya tidak bisa menahan diri, Lopek,” jawab Tan Hoat. Ia masih berbaring diatas dipan. Tapi kesadaran jiwanya sudah mulai ia coba pulihkan. Lanjutnya, “Saya mengalami hal-hal besar akhir-akhir ini, sehingga tidak mampu menguasai diri lagi, Lopek. Maafkan saya, Lopek.”
“Tidak apa-apa, Tayhiap. Sejak Tayhiap masih kecil, aku sudah kenal Tayhiap. Aku dulu bekerja sebagai buruh Cio-wangwe. Tapi setelah punya uang, aku membuka sawahku sendiri,” kata lopek itu. Ia meneruskan, “Tan-tayhiap adalah kebanggaan desa ini. Kau maafkanlah aku yang tidak bisa berbuat apa-apa atas kejadian keluarga
Cio-wangwe.”
“Kejadiannya berlangsung cepat. Ada rombongan perampok yang masuk desa ini. Jumlahnya puluhan orang. Mereka memakai topeng. Ilmu silat mereka tinggi sekali. Kami orang desa yang mencoba melawan tidak bisa melakukan apa-apa. Kami dibekuk dan diikat,” kisah si lopek.
“Kapan kejadiannya? Kenapa aku tidak pernah mendengar?” tanya Tan Hoat.
“Baru beberapa hari, Tayhiap. Mungkin baru 4 atau 5 hari. Kami sudah mengirim laporan ke kotaraja. Mungkin dalam beberapa hari mereka akan mengirimkan petugas-petugas kemari,” jawab lopek itu.
Tan Hoat bertanya-tanya dalam hati. Kenapa ia tidak mendengar kabar perampokan ini? Cio-wangwe adalah tokoh yang lumayan terkenal. Jasa-jasanya dalam perjuangan membuat ia patut mendapat pemakaman layaknya pahlawan negara. Tapi Tan Hoat akhirnya paham, bahwa kabar ini tertutupi oleh kabar kematian mendiang Guru
Besarnya sendiri, Thio Sam Hong.
“Benar tidak ada keluarga tersisa? Cio Kim bagaimana?” tanya Tan Hoat.
“Kami sudah mengirim orang untuk memberitahukan kabar ini kepadanya. Dalam beberapa
hari ini, Cio-siucai (Sastrawan Cio) pasti sudah kesini.”
“Syukurlah. Kupikir ia berada disini juga menjadi korban. Dimana dia tinggal sekarang? Terakhir yang kutahu, ia tinggal disini,” tanya Tan Hoat lagi.
“Beliau pindah mengikuti istrinya.”
“Ke tempat Li Swat Ing? Dimana itu? Apakah di GoBi-pay (Partai Silat Go Bi)?”
“Iya, beliau ikut Li-liehiap (Pendekar Wanita Li) ke puncak GoBi. Dengar-dengar, Ketua Go Bi-pay sedang sakit keras dan memerintahkan seluruh muridnya untuk kembali,” jawab lopek itu.
“Ah iya, benar. Kenapa aku bisa lupa. Aku dengar GoBi-pay-ciangbunjin (KetuaPartai Silat GoBi) memang sedang sakit keras beberapa tahun ini.”
“Iya, benar. Menurut kabar yang saya dengar, mereka sekeluarga tinggal di kaki gunung Go Bi, jadi bila ada apa-apa, Li-liehiap bisa langsung naik ke atas,” kata lopek.
Tan Hoat menghela nafas, pikirannya berkecamuk. Ia memikirkan langkah-langkah yang harus dilakukannya.
“Apakah penguburan Cio-wangwe sudah dilaksanakan?” tanyanya tiba-tiba.
“Sudah, Tayhiap. Kondisi mayat mereka mengenaskan. Mereka diikat dan dibakar hidup-hidup. Kami langsung menguburkan mayat mereka begitu para perampok itu kabur,” jawab kakek tua itu.
“Tolong antarkan aku ke kuburan mereka,” kata Tan Hoat menahan kegeramannya. Hatinya membayangkan penderitaan Cio-wangwe sekeluarga.
“Baiklah. Mari ikut saya.”
Kuburan anggota keluarga Cio-wangwe terletak di halaman belakang rumah mereka sendiri. Mereka dikumpulkan dalam satu liang, karena kondisi mayat mereka tidak lagi dapat dibedakan dan lengket satu sama lain. Kakek itu menceritakan hal ini kepada Tan Hoat, yang mendengarkannya sambil meneteskan air mata.
Hatinya teringat Cio Kim. Bagaimana perasaannya mendengar kabar pembantaian ini. Tan Hoat ikut bersedih pula memikirkan nasib Cio Kim.
Saat pikirannya melayang-layang itulah terdengar suara orang minta tolong.
“Tolong...!!
Tolong…….!!!!”
Gaduh sekali karena ketambahan lagi suara orang lain yang minta tolong.
Secepat kilat Tan Hoat berlari ke arah suara gaduh itu.
Ternyata suara itu berasal dari gerbang selatan desa. Tan Hoat berlari kesana. Nampak penduduk desa sedang mengelilingi seekor kuda dan keretanya.
Alangkah kagetnya hati Tan Hoat, ketika melihat isi kereta itu adalah Cio Kim beserta istrinya. Mereka sudah berlumuran darah. Tapi masih hidup. Walaupun wajah Cio Kim berlumuran darah, Tan Hoat masih mengenal wajah saudara angkatnya ini.
“Cio Kim, apa yang terjadi? Ya Tuhan.. Apa yang terjadi?” Tan Hoat bertanya sambil menyalurkan tenaga murni ke dada Cio Kim.
“Jangan.. Salurkan ke istriku saja...,” kata Cio Kim. Walaupun tidak mengerti ilmu silat, istrinya adalah seorang pendekar, tentunya Cio Kim paham maksud tindakan Tan Hoat.
Segera Tan Hoat menyalurkan tenaga dalamnya melalui punggung Li Swat Ing. Saat itu posisinya memang tidur tertelungkup. Tubuh Li Swat Ing sudah penuh luka bacokan. Darah ada dimana-mana. Keadaannya mungkin lebih parah dari suaminya.
“Selamatkan anakku... Selamatkan anakku,” kata Li Swat Ing terbata-bata.
Ternyata ia menelungkup sambil memeluk anaknya. Beberapa penduduk langsung mengangkat anak ini. Ia menangis meraung-raung saat dipisahkan dari pelukan ibunya.
“Aku mau Ibu… Aku mau Ibu..,” tangisnya.
“Sudahlah. Tan-tayhiap.... jangan memaksa diri... Aku sudah tidak mungkin tertolong,” kata Li Swat Ing. Dengan perlahan, ia mendorong tangan Tan Hoat.
“Siapa yang melakukan ini semua?” tanya Tan Hoat.
“Tidak tahu.... Kami diserbu orang ditengah jalan... enam sampai delapan orang. Koko (Kakak, panggilannya terhadap suami) terus menggeber kuda... Aku menahan penyerang-penyerang itu...,” jawab Li Swat Ing. Nafasnya sudah satu-satu.
“Aku titip anakku kepadamu. Jaga dia baik-baik...,” kata Cio Kim.
“Thia...(Ayah)...,” teriak sang anak yang sedang dalam gendongan salah seorang penduduk.
“San-ji (‘Ji’ adalah panggilan untuk anak)... kau jadilah manusia yang baik... Jangan jadi orang pendendam... Tidak usah kau balas ini. Semua terjadi ada karmanya...Tidak usah kau teruskan dendam mendendam...,” kata Cio Kim kepada anaknya.
“Thia...Thia... Cio San dengar, Thia....”
“Kau harus patuh kepada Tan-gihu.. Mulai sekarang dia adalah Gihu (Ayah Angkat) mu....,” kata Cio Kim.
“Iya, Thia...,” si anak menjawab sambil menangis.
“Ayah pergi dulu… Ingat kata-kata Ayah, ya.... Ing-moay, aku pergi duluan... Kutunggu kamu, adindaku sayang.”
Cio Kim mengecup kening istrinya dengan bersusah payah, saat itu juga, nyawanya melayang pergi.
Li Swat Ing tersenyum, ia seperti berbicara kepada arwah suaminya, “Aku bahagia bisa mati bersamamu, Koko...” Ia lalu menoleh kepada Tan Hoat. “Tan-tayhiap, di GoBi-pay ada..ada..,” Li Swat Ing terbata-bata.
“Ada apa, Li-liehiap?” tanya Tan Hoat.
“Ada..ada...,” nafasnya berhenti.
“Ayah....!!Ibu......!!!”
Tangisan si kecil membahana. Tangisan orang-orang desa pun membahana.
Hari ini adalah hari yang terlalu berat bagi Tan Hoat. Ia tidak bisa berkata apa-apa lagi.