Dragon and Phoenix

Dragon and Phoenix
Bab 15: Pekerjaan



Tengah hari baru Cio San terbangun. Tubuhnya terasa sangat segar. Ia lalu bangun, membuka jendela dan membiarkan matahari masuk. Cerah sekali hari itu. Suara orang ramai di luar menjadi suara hiburan baginya. Menyenangkan sekali mendengarkan keramaian setelah hidup sekian lama di dalam kesunyian.


Begitu membuka pintu kamarnya, ternyata sudah ada sarapan yang disiapkan di meja depan pintunya. Tanpa ragu, Cio San membawanya masuk dan mulai menghabiskannya. Ia tidak peduli apakah makanan itu beracun atau tidak. Karena ia yakin, jika orang yang membuntutinya ingin membunuhnya, pasti bisa ia lakukan sejak dari lama, atau sejak Cio San tertidur. Ia malah menganggap orang yang membuntutinya itu adalah sejenis malaikat penjaga bagi dirinya.


“Hmmm, walaupun wajahku terlihat aneh dan pucat, topeng ini nyaman sekali dipakai. Orang tak akan bisa mengetahui bahwa ini adalah sebuah topeng.”


Begitu semua selesai, Cio San memutuskan untuk jalan-jalan. Walaupun ia belum bisa memecahkan rahasia-rahasia yang terjadi di sekelilingnya, ia tak lagi menganggapnya sebagai beban.


“Apa yang terjadi, terjadilah,” begitu pikirnya. Masalah akan selesai, jika saatnya tiba.


Setelah didekati, ternyata bangunan itu adalah sebuah kedai tempat makan. Tapi sepi sekali. Di dalamnya hanya ada dua orang. Pelayan yang menunggu di dekat pintu, dan seorang lagi yang duduk di balik meja kasir.


Karena tertarik, Cio San memasuki kedai itu.


“Wah, selamat datang, Tuan… Selamat datang... Silahkan duduk. Mau pesan apa?” sambut si pelayan yang berdiri di depan pintu.


“Apa saja masakan khas kedai ini?” tanya Cio San sambil tersenyum.


“Eh, Tuan…. Eh…,” si kasir terbata-bata.


Cio San juga tidak berkata apa-apa. Ia hanya memandang dengan pandangan bertanya.


“Sebenarnya..sebenarnya…,” si kasir masih terbata-bata.


“Sebenarnya ada apa?” tanya Cio San. Ia masih tersenyum, walaupun senyumnya kini juga diwarnai rasa ingin tahu.


“Ah, aku tidak tahu harus bilang apa….,” kata si kasir.


 “Katakan saja apa yang ingin anda katakan, Tuan..,” kata Cio San.


“Bagaimana rasa masakan kami,Tuan?” tanya si kasir.


Cio San tersenyum, “Aku harus jujur, Tuan. Tukang masak anda sepertinya harus banyak belajar lagi.”


Garis wajah sendu di wajah kasir tua itu semakin terlihat.


“Se…sebenarnya... anda adalah pelanggan pertama kami, setelah dua bulan ini,” kata kasir.


“Dua bulan? Memangnya kenapa?” Cio San tidak perlu bertanya, dalam hati dia tahu kalau tidak ada orang yang mau makan makanan yang rasanya seperti tadi.


“Eh….Istriku meninggal 3 bulan yang lalu. Awalnya kedai kami ramai. Tapi setelah dia meninggal, tidak ada lagi yang bisa masak enak,” kata kasir.


“Ah…” Cio San telah paham. “Jadi sekarang siapa yang masak?” tanya Cio San.


“Anakku, Mey Lan…,” jawab si kasir.


“Sudah ada beberapa kali. Tapi masakan mereka tidak seenak istriku. Pelanggan banyak yang pergi. Karena sepi, akhirnya aku harus memecat tukang masak. Aku tidak sanggup membayar gajinya. Bahkan untuk bertahan hidup kami saja susah sekali.”


Tiba-tiba sebuah pikiran muncul di pikiran Cio San.


“Tuan, saya bukanlah seorang juru masak. Tapi sedikit-banyak, saya mengerti cara masak. Bagaimana jika saya bekerja di sini? Tuan tidak perlu membayar saya selama 3 bulan. Jika 3 bulan kedai ini ramai, Tuan baru membayar saya. Bagaimana?” tanya Cio San.


“Hah? Bagaimana bisa begitu? Saya sendiri belum pernah mencoba hasil masakan Tuan... Tapi saya yakin, Tuan bisa masak. Tapi, terus terang, saya tidak mungkin mempekerjakan orang tanpa digaji.”


“Saya adalah pengelana, Tuan. Saya sudah biasa hidup tak karuan. Begini saja, bagaimana jika saya memasak, dan Tuan nilai rasanya. Kalau tidak suka masakan saya, ya sudah, tidak usah pekerjakan saya. Tapi jika enak, silahkan pertimbangkan tawaran saya lagi,” ujar Cio San.


Si kasir tua berpikir agak lama, lalu berkata, “Baiklah, mari kita ke dapur.”


Seperti dugaan Cio San, dapurnya berantakan. Hal pertama yang dilakukan Cio San adalah menata ulang dapur itu. Membereskan peralatan masak, dan melihat bahan-bahan apa saja yang ada. Ia memutuskan untuk membuat masakan yang sama persis dengan yang ia pesan tadi.


Tak butuh waktu yang lama, karena ia bekerja dengan sangat cepat. Si kasir, anak perempuannya, dan si pelayan melihatnya sambil melongo.


Begitu makanan selesai dan mereka semua mencicipinya, mata mereka lebih terbelalak lagi.


“Ini… ini.. enak sekali,” sambil bicara, mulut mereka tak berhenti mengunyah.


“Terus terang, aku belum pernah merasakan masakan seenak ini. Mungkin justru jauh lebih enak daripada masakan istriku,” kata si kasir masih dengan wajah terkagum-kagum.


“Bagaimana? Tuan menerima tawaran saya?”


“Ah… Tapi bagaimana aku bisa menggajimu? Kedai ini sepi sekali, aku juga tidak tahu harus membayarmu berapa,” kata si kasir.


“Seperti yang saya tawarkan tadi. Tiga bulan saya bekerja gratis disini, jika sudah ramai pelanggan baru saya dibayar,” jawab Cio San.


“Benar tidak apa-apa?”


“Tidak apa-apa, Tuan. Saya juga sebenarnya sedang mencari pekerjaan,” jelas Cio San.


“Baiklah… Baiklah….  Mulai kapan kau bisa bekerja disini?” tanya si kasir.


“Mulai sekarang juga bisa, cuma lebih baik besok pagi saja. Sekarang mungkin kita bisa menata ulang kedai, jika Tuan tidak keberatan.”


Begitulah. Akhirnya Cio San bekerja di kedai tua itu. Mereka berempat mulai menata ulang isi dapur, membersihkan banyak tempat, dan lain-lain. Pekerjaan yang seharusnya sudah dilakukan dari dulu, tapi mungkin semangat ini baru timbul saat kedatangan Cio San.


Cio San mulai memeriksa bahan-bahan apa saja yang tersedia. Ia memberi banyak masukan kepada si kasir. Kasir tua itu mendengarkan dengan sungguh-sungguh semua saran Cio San. Termasuk membagi-bagi masakan secara gratis di jalan-jalan, sebagai bentuk “perkenalan” atas masakan mereka. Walaupun berat, si kasir tua itu menyetujuinya juga.


Selain itu, Cio San diberi sebuah kamar di dekat dapur. Kamar itu dulunya untuk pegawai, namun kosong karena tidak ada pegawai lain selain si pelayan tadi. Si kasir tinggal bersama anak perempuannya di lantai atas bagian belakang kedai.


Cio San menerima pekerjaan ini dengan hati mantap. Sudah ada banyak rencana di dalam pikirannya.