Dragon and Phoenix

Dragon and Phoenix
Bab 4 Puncak Gunung



Setelah mendapat sedikit perawatan dari gurunya, Cio San merasa lebih baik. Selama 3 hari, gihunya merawatnya dengan memberi obat-obatan dari ramu-ramuan rebusan daun. Pahit sekali rasanya. Tapi Cio San merasa pahitnya obat itu masih kalah pahit dengan sikap gihunya. Selama merawatnya 3 hari itu, Tan Hoat tidak pernah menyapa atau berbicara dengan Cio San sama sekali. Untuk menanyakan kabarnya saja tidak. Tan Hoat cuma meraba nadi di pergelangan tangan Cio San untuk mengetahui kondisi kesehatannya.


Blarrr…!!!


Usia keempat Penasehat Utama ini sekitar awal 60 tahunan. Tapi seperti Lau-ciangbun, wajah mereka terlihat lebih muda sepuluh atau lima belas tahun.


Ada rasa tergetar juga di hati Cio San. Ia memang jarang bertemu orang-orang ini. Tapi kewibawaan keempat orang ini memang sudah sering terdengar. Kabarnya, ilmu keempat orang ini hanya satu tingkat dibawah Lau-ciangbun.


Dalam hati, Cio San kagum juga. Dari cahaya pancaran wajah saja, bisa diukur kesaktian mereka.


“Cio San..,” kata Lau-ciangbun, suaranya tenang sekali. “Teecu mendengar, Suhu,” jawab Cio San menghormat.


“Kejadian beberapa hari yang lalu, sudah kudengar. Bahkan seluruh Bu Tong-pay ini sudah mendengar,” lanjut Lau-ciangbun.


Cio San menunduk khidmat.


“Mengapa kau menangis saat diserang A Pao?” tanya sang Ciangbun.


Cio San terdiam beberapa detik. Ia telah memikirkan jawaban atas pertanyaan ini sejak beberapa hari. Dan mantap ia menjawab, “Teecu tidak mempunyai alasan apa-apa, Suhu. Teecu siap bertanggung jawab dan menerima hukuman atas perbuatan teecu itu, Suhu.”


Oey Tang Wan berkata, “Menurut saya, kejadian itu memang pelanggaran berat. Tapi kita bisa memberi hukuman yang lebih mendidik kepada Cio San. Saya melihat masih ada kebaikan dalam diri Cio San.”


Mereka lalu berjalan menuju pondok bambu di puncak tertinggi Bu Tong-san.


Sepanjang perjalanan, pemandangan memang indah sekali. Cio San menikmati sekali perjalanan ini. Kadang-kadang ia bertanya kepada gihunya tentang tempat apa saja yang dilihatnya itu. Gihunya dengan sabar menjelaskan.


Tapi tak berapa lama Cio San mulai terlihat ngos-ngosan dan wajahnya mulai pucat. Tan Hoat pun paham, bahwa Cio San memang tidak terbiasa mendaki jalan tebing-tebing curam seperti ini, sehingga kehabisan nafas.


Ia pun lalu memberi sedikit pelajaran pernafasan kepada Cio San sambil jalan. Ternyata ada teknik nafas khusus, sehingga jika melakukan pendakian, seseorang tidak kehabisan nafas.


Pada awalnya, Cio San memang kesulitan untuk melakukan yang diajarkan gurunya itu. Namun setelah hampir satu jam lebih mencoba dan mendapat petunjuk terus dari gurunya, Cio San akhirnya berhasil. Nafasnya mulai teratur dan tidak terengah-engah lagi seperti semula. Kondisi organ-organ tubuhnya yang kurang baik, memang membuat Cio San cepat sekali letih dan kehilangan tenaga.


Baru setelah nafasnya teratur dan tubuhnya mulai terasa kuat, wajah Cio San sudah terlihat memerah lagi. Keringatnya pun mengalir deras. Orang biasa yang jika melakukan pekerjaan fisik lalu tidak berkeringat, maka pasti ada yang salah dalam tubuhnya. Kini setelah keringatnya keluar, Cio San malah merasa segar.


Iasudah bisa mulai bercakap-cakap kembali dengan gihunya.


“Cio San,” kata Tan Hoat, “Sebenarnya dalam hal ini, gihu merasa sangat bersalah kepadamu.”


“Ada apa, Gihu?”


“Gihu sering meninggalkanmu, jadi tidak bisa terus memberi pelajaran kepadamu. Memang diantara ke 15 guru yang menangani ‘15 Naga Muda’, gihulah yang paling sering meninggalkan kau dan membiarkanmu latihan sendiri. Gihu mohon maaf kepadamu, Cio San...”


“Gihu jangan meminta maaf. Semua ini adalah kesalahan ‘anak’ karena memang tidak memiliki bakat dalam silat. Anak juga malas belajar.”


“Sudah menjadi tanggung jawab gihumu ini untuk mendidikmu, tapi aku malah memarahimu saat kau menghadapi masalah seperti ini. Padahal sudah salahku bahwa aku jarang sekali mendampingimu.”


“Bagaimana mungkin anak menyalahkan Gihu? Bukankah kepergian Gihu karena menjalankan tugas perguruan?”


Tan Hoat hanya tersenyum. Memang Cio San ini pintar sekali berbicara.


“Gihu, sebenarnya tugas apakah yang Gihu jalankan? Sejauh yang anak perhatikan, hanya Gihu seorang yang sering sekali turun-naik gunung. Sedangkan murid-murid Bu Tong-pay yang lain, semuanya dipusatkan berada di Bu Tong-san.”


“Hmmm,sebenarnya gihu tidak boleh menceritakan ini kepadamu. Tapi sebagai bentuk penyesalan gihu terhadapmu, gihu akan bercerita sedikit saja.”


Tan Hoat bercerita bahwa ia ditugaskan oleh Lau-ciangbunjin untuk menyelidiki keberadaan kitab silat terhebat yang ditulis oleh Tat Mo. Kitab ini sangat hebat, karena ditulis langsung oleh pencipta ilmu silat, yaitu sang Tat Mo sendiri.


Keberadaan kitab itu sangat misterius, hanya beberapa orang saja yang tahu. Bahkan Thay Suhu Thio Sam Hong saja, tidak tahu keberadaan kitab itu.


Ditakutkan, jika keberadaan kitab itu tersebar luas, akan timbul malapetaka besar karena setiap orang dalam Bu Lim akan memperebutkan kitab itu.


“Lalu, jika Gihu menemukan kitab itu, apa yang akan Gihu lakukan?”


Tan Hoat tersenyum mendengar pertanyaan bagus yang keluar dari muridnya itu.


“Tiga perguruan terbesar yaitu, Siau Lim-pay, Bu Tong-pay, dan Go Bi-pay sepakat untuk bersatu dan melindungi kitab itu. Jika ketiga partai sudah bersatu, maka siapakah lagi yang berani melawan kita?”


“Tapi bukankah jika partai-partai kecil bersatu, jumlah mereka pun akan menyamai jumlah 3 partai besar ini, Guru?”


“Partai-partai kecil pun sudah kita dekati dan kita beri pengertian untuk menjaga keutuhan dunia Kang Ouw. Memang hampir dapat dipastikan, kelak akan terjadi perebutan besar. Oleh karena itulah, ketiga partai besar sekarang bersiap-siap menyatukan kekuatan, jika sewaktu-waktu kitab itu ditemukan dan terjadi perebutan besar.”


“Wah, berarti akan ada perang besar lagi,” Cio San berkata sambil menggeleng-geleng.


“Kenapa kau menggeleng, Cio San?”


“Anak hanya heran, mengapa orang mau begitu berkorban untuk menjadi ahli silat? Padahal kalau dia menjadi ahli silat, hidupnya hanya dihabiskan untuk berkelahi.”


“Kau harus paham bahwa di dunia ini orang punya kesenangan bermacam-macam. Ada yang suka sastra, suka mancing, suka musik, suka makanan yang enak-enak, banyak juga yang suka berkelahi.”


“Haha… Betul juga, Gihu.”


“Oh iya, ada satu hal lagi, Cio San.....”


“Apa itu, Gihu?”


“Aku juga melacak para perampok yang dulu membunuh ayah-ibumu....”


Cio San hanya diam. Tan Hoat pun melanjutkan,


“Kelompok perampok ini sebenarnya bukanlah perampok biasa. Tersiar kabar, ada kelompok rahasia yang berdiri beberapa tahun lalu dalam dunia Kang Ouw. Tujuan mereka sampai saat ini masih belum diketahui dengan jelas. Tapi mereka sering sekali melakukan pembunuhan terhadap orang-orang tertentu. Biasanya, korban mereka adalah pejabat-pejabat kerajaan atau pendekar-pendekar ternama. Mereka ini mempunyai ilmu silat yang sangat hebat. Tapi gerak-gerik mereka sangat rahasia. Sampai sekarang, para pendekar Kang Ouw masih belum mengetahui maksud para perampok ini sebenarnya. Apakah korban-korban mereka ini terbunuh secara acak, ataukah memang ada maksud tertentu.”


“Kalau menurut Gihu?” tanya Cio San.


“Menurutku, pasti ada tujuan tertentu. Aku merasa pergerakan mereka pasti ada hubungan dengan perebutan kitab itu.”


“Gihu, apa nama kitab itu sebenarnya?”


“Namanya, Kitab Inti Semesta.”


“Wah, dari namanya saja sudah terdengar hebat,” tukas Cio San.


“Cio San, apakah sewaktu orangtuamu meninggal, kau tidak mendengar mereka


membicarakan tentang Kitab Inti Semesta?”


“Sejauh yang ‘anak’ ketahui, Ayah dan Ibu tidak pernah membicarakan hal itu, Gihu. Pada akhir-akhir hayat, mereka hanya membahas kekisruhan di Go Bi-pay saja.”


“Hmmm...” Tan Hoat tidak berkata apa-apa lagi.


Hampir 3 jam mereka mendaki, akhirnya sampai juga mereka ke pondok bambu. Setelah beristirahat sebentar, Tan Hoat mengajak Cio San berkeliling daerah sekitar situ. Ternyata hampir semua kebutuhan sehari-hari bisa didapatkan disitu.


Ada sungai mengalir yang airnya jernih sekali. Bisa dipakai untuk minum dan mandi. Ikan-ikannya ternyata banyak juga disitu. Di seberang sungai terdapat hutan kecil. Hutan kecil itu, walau tidak terlalu lebat, mempunyai pohon-pohon yang buahnya bisa dimakan.


Bagian tertinggi Bu Tong-san ternyata sangat indah. Di sebelah kanan, sungai dan hutan. Di sebelah kiri, tebing-tebing bebatuan. Tan Hoat menjelaskan bahwa tebing-tebing itu sangat berbahaya, dan mewanti-wanti Cio San untuk berhati-hati jika berada di sekitar tebing itu.


Pondok bambu itu sendiri juga berdiri tepat dibawah sebuah tebing tinggi. Jika menaiki tebing itu, yang tingginya sekitar 10 meter, maka seseorang akan berada di tempat tertinggi Bu Tong-san.


Di dalam pondok, ternyata suasananya bersih sekali. Ada dipan bambu dan sebuah tikar diatasnya. Di sebelah dipan, ada meja kecil dan sebuah kursi. Ada juga sebuah tungku perapian yang berguna untuk memasak atau membuat api unggun sebagai penghangat tubuh. Ada juga lampu minyak, beserta minyaknya.


Sampai saat ini, Cio San baru sadar bahwa hukumannya ini tidak main-main. Ia akan hidup sendirian di sini selama 3 bulan. Rasanya seram juga. Dalam hati, ia bergidik, namun sebisa mungkin ia menutupinya dari gihunya itu.


Tan Hoat rupanya berencana untuk menemani Cio San selama satu malam. Buntalan kecil yang ia bawa ternyata berisi beberapa bahan makanan seperti beras dan bumbu.


“Bahan-bahan ini cukup untuk satu bulan. Nanti jika habis, kubawakan lagi.”


Cio San lalu mengucapkan terima kasih kepada gihunya itu.


Setelah malam tiba, mereka lalu menyalakan lampu minyak. Suasana di situ walaupun hening, ternyata tidak begitu menyeramkan bagi Cio San. Mungkin karena ia sekarang ditemani oleh Tan Hoat. Seseorang jika mengalami hal berat, tapi mempunyai kawan orang yang ia senangi dan hormati, maka sedikit-banyak, hal berat itu menjadi lumayan ringan.


Mereka mengobrol agak lama. Tan Hoat memberi petunjuk-petunjuk tentang ilmu silat. Cio San mendengarkan dengan seksama. Bertanya saat ia bertemu bagian yang belum dimengerti. Tan Hoat merasa pemahaman Cio San itu sangat dalam, dan anak itu cerdas sekali.


“Kau tidurlah, Cio San. Besok pagi-pagi sekali, kita bangun dan melatih semua yang tadi sudah kuajarkan.”


“Baik, Gihu.”


Pagi-pagi sekali, ketika langit masih kelabu, Cio San dan Tan Hoat sudah berlatih. Cio San mulai melakukan gerak-gerak silat, dan Tan Hoat mulai memberi petunjuk-petunjuk lagi. Lama sekali mereka berlatih, sampai hari sudah terang. Lalu mereka beristirahat.


“Cio San, mengapa kau susah sekali melakukan seperti yang kuperintahkan? Bukankah semalam kau sudah paham?”


“’Anak’ sudah paham, Gihu. Teecu juga sudah coba melakukan seperti yang Gihu perintahkan, tapi entah kenapa hasilnya tidak seperti yang Gihu harapkan.”


“Apakah mungkin karena organ-organ tubuhmu itu yang tidak bekerja sempurna? Sayang sekali, padahal kecerdasanmu luar biasa, dan kau cepat paham......” Tan Hoat hanya termangu-mangu.


“Mungkin...mungkin teecu memang dilahirkan tidak dengan bakat silat, Gihu.....”


“Ahhh....” Hanya itu yang bisa keluar dari mulut Tan Hoat. Matanya seperti menerawang.


Ia mengelus-elus kepala Cio San, sambil berkata, “Kau bersabarlah, jika memang tidak mempunyai bakat silat, kau mempunyai bakat kecerdasan yang besar. Kau bisa belajar ilmu pengobatan Bu Tong-pay dan sastra. Aku memang terlambat memahami dan menerima kenyataan ini. Tapi untuk sekarang, kau hadapilah dulu hukumanmu ini. Kuatkan hatimu, Cio San...”


“Ada Gihu yang menyayangi teecu, rasanya ‘anak’ berani menghadapi apa saja, Gihu....”


Setelah beristirahat, mereka berdua lalu mandi di sungai. Sambil mandi mereka menangkap ikan. Ternyata ikannya besar-besar. Ada 2 ekor yang mereka tangkap. Setelah mandi, mereka menanak nasi dan membakar ikan itu, kemudian menyantapnya.


Di dunia ini, tidak ada yang bisa mengalahkan nikmatnya makan di alam terbuka bersama orang-orang yang kau sayangi.


“Cio San, sekarang aku harus turun. Mungkin dalam satu-dua hari, aku harus turun Bu Tong-san pula. Tugas penyelidikan sudah harus kumulai lagi. Mudah-mudahan tidak lama lagi, kita bisa dapat bikin terang masalah kelompok perampok ini.”


Setelah memberi sedikit pesan dan petunjuk, Tan Hoat lalu bergegas turun. Cio San sangat merasa berat, namun ia menahan diri untuk tidak menangis. Air mata mengambang di pelupuk matanya. Entah kenapa ia memang mudah menangis. Hatinya memang lembut. Tapi dia bukan orang yang cengeng, ia hanya orang yang mudah terharu.


Berkali-kali ia mengalami kejadian yang menyedihkan. Kehilangan orangtua, kehilangan kakek dan seluruh keluarganya. Namun ia selalu berusaha menahan kesedihan hatinya. Tapi mata memang tidak bisa berbohong. Sering sekali matanya itu berair. Jangankan terhadap hal-hal besar, terhadap hal-hal kecil saja ia sering


terharu.


Setelah sendirian seperti ini, Cio San mulai melamun. Ia melamunkan banyak hal. Tentang kehilangan kedua orangtua dan seluruh keluarga besarnya, perlakuan buruk kawan seperguruannya, dan juga hukuman di atas gunung ini. Ia berpikir, penderitaannya malah mungkin tidak hanya dimulai saat ia kehilangan orangtua. Penderitaannya bahkan sudah dimulai sejak ia lahir.


Ia lahir dengan usia kandungan yang kurang dari 9 bulan. Organ-organ tubuhnya bekerja tidak sempurna. Jantungnya lemah, paru-parunya lemah, hampir semua organ tubuhnya lemah. Sejak kecil ia sering sakit-sakitan. Kalau bukan karena ibunya yang menguasai ilmu pengobatan Go Bi-pay, belum tentu ia bisa bertahan hidup sampai sekarang.


Selain memberi pengobatan ramuan dan tusuk jarum, ibunya pun masih sering menyalurkan tenaga dalam kepadanya. Bahkan dulu ia sempat mempelajari ilmu pernafasan Go Bi-pay untuk membantu kerja paru-paru dan jantungnya.


Aliran darahnya mengalir tidak normal. Bahkan seringkali ada semacam rasa sakit yang sangat hebat, yang menyerang kepalanya. Singkat kata, hampir semua rasa sakit yang ada di dunia ini, pernah dialami Cio San. Untungnya, sang Ibunda selalu berada di dekatnya dan senantiasa mengobatinya.


Beberapa tahun ini, setelah kedua orangtuanya meninggal, tidak ada lagi yang mengobati Cio San. Ketika sakit kepala atau sesak nafas menyerangnya, ia menyembunyikannya rapat-rapat. Itulah kenapa ia tidak bisa dengan sempurna menggunakan ilmu silatnya.


Beberapa petinggi Bu Tong-pay bukannya tidak mengerti tentang keadaan tubuh Cio San. Mereka pun berusaha untuk menyembuhkannya. Tapi ilmu pengobatan Bu Tong-pay yang hebat itu, sama sekali tidak menurun kepada murid-murid dan petinggi Bu Tong-pay yang sekarang. Keasyikan mempelajari ilmu silat, membuat mereka sedikit menganaktirikan ilmu pengobatan yang sebenarnya sangat penting itu.


Mungkin kitab-kitab pengobatan peninggalan Thio Sam Hong masih tersimpan, namun tidak ada seorang pun yang tertarik mendalaminya lagi.


Keadaan Bu Tong-pay setelah ditinggal mati oleh banyak murid berbakat, dan juga ditinggal Thio Sam Hong, membuat Bu Tong-pay benar-benar lemah saat ini. Itulah yang menyebabkan mereka sekarang mengutamakan berlatih ilmu silat dengan sungguh-sungguh.


Keadaan ini tentu saja menyulitkan Cio San, yang pada awalnya masuk Bu Tong-pay untuk mempelajari sastra dan juga ilmu pengobatan. Karena guru-guru Bu Tong-pay sekarang memiliki kemampuan sastra yang sangat mengecewakan. Bahkan bisa dibilang, Cio San lebih mengerti sastra daripada guru-gurunya.


Ayahnya yang memang ahli sastra kenamaan, sudah mengajarkan banyak sekali huruf-hurufkuno kepada Cio San. Sejak umur 4 tahun, ia sudah sanggup membaca kitab-kitab kuno. Hal ini memang menjadi kebanggaan tersendiri bagi keluarga Cio. Sejak dari jaman leluhur keluarga Cio, mereka memang terkenal sebagai ahli-ahli


sastra yang hebat.


Kemenangan mengusir penjajah Goan dulu, sebenarnya tidak terlepas dari pengetahuan sastra keluarga Cio ini. Cio Hong Lim, kakek Cio San, bisa menjadi ahli strategi dari tentara pembebas, karena ia paham kitab-kitab kuno. Ia mempelajari sejarah dan strategi-strategi perang jaman dahulu kala, lantas menerapkannya pada perang


masa itu. Ditambah lagi, ia pun berhasil menerjemahkan sebuah kitab perang kuno, yang dulunya tersimpan di dalam sebuah golok sakti.


Kitab perang kuno itulah yang membuat perjuangan pembebasan Tionggoan berhasil, dan membawa Kaisar Beng pertama mendirikan kekaisarannya. Cio Hong Lim sendiri mundur dari jabatannya sebagai ahli strategi begitu kemenangan perjuangan berhasil diraih. Padahal kaisar baru itu sudah menawarkan berbagai jabatan


kepadanya. Namun Cio Hong Lim memilih membangun desanya, hingga akhirnya dia sekeluarga terbunuh oleh kawanan perampok.


Mengingat cerita tentang kitab kuno, Cio San jadi teringat sebuah kitab yang diberikan Liang-lopek kepadanya. Bergegas Cio San mengambil kitab itu. Kitab yang tebal itu memang membahas tentang berbagai resep. Dan ternyata banyak sekali huruf kuno di dalamnya. Untunglah Cio San bisa membaca semuanya.


Buku itu menarik sekali baginya. Ada resep-resep masakan dan ramu-ramuan pengobatan. Ada pula penjelasan tentang berbagai bahan, mulai dari yang sederhana sampai yang baru dikenalnya.


Seseorang yang gemar sekali membaca, jika diberikan bacaan yang menarik hatinya, maka seluruh perhatiannya akan tercurahkan hanya kepada buku itu. Semua tak dihiraukannya lagi. Bahkan mungkin anak-istri sekalipun.


Cio San pun mempunyai sifat semacam ini yang menurun dari ayahnya. Dengan ‘rakus’


ia membaca halaman demi halaman kitab itu. Daya ingatnya pun kuat sekali. Sekali baca saja ia sudah paham. Keasyikan membaca ini mengalihkannya dari rasa sepi karena sendirian saja di pondok bambu itu.


Tak terasa sudah siang. Perut Cio San sudah keroncongan dari tadi. Akhirnya ia ‘mengalah’ dan memilih untuk makan. Nasi dan ikan tadi pagi masih tersisa. Tapi sambil makan pun Cio San masih ‘melahap’ kitab pemberian Liang-lopek itu.


Sampai malam, hampir sepertiga kitab itu sudah selesai ia baca. Sambil membaca, Cio San mencoba menghafal-hafal isi bacaannya. Dan herannya, ia memang sudah hafal seluruh yang ia baca tadi. Melihat sendiri pun, seseorang tidak akan percaya bahwa ada orang yang bisa menghafal dalam sekali baca.


Namun begitulah Tuhan Yang Maha Adil. Cio San mungkin mempunyai kekurangan fisik, namun daya ingat dan daya pikir otaknya jauh diatas rata-rata orang lain.


Setelah malam, Cio San memutuskan untuk melatih ilmu pernafasannya yang sudah tertinggal jauh dari kawan-kawan seperguruan. Memang ia sangat terlambat, namun itu semua bukan karena kekurangpahamannya, melainkan karena organ-organ dalam tubuhnya yang bekerja kurang sempurna sehingga latihan-latihan itu gagal semua.


Cio San pun mengerti dan paham hal ini. Ia sampai pada kesimpulan bahwa mungkin saja cara latihan yang diajarkan di Bu Tong-pay ini ditujukan kepada mereka yang memiliki organ-organ sehat dan normal, sehingga tidak cocok bagi orang yang seperti dia.


lain-lain. Selalu ada ilmu silat yang lebih cocok bagi keadaan orang tersebut.


Hal inilah yang melahirkan berbagai macam ilmu silat di dunia ini. Semua disesuaikan dengan keadaan fisik, bahkan mungkin juga keadaan alam sekitar.


Cio San mencapai pemahaman ini dalam waktu sebentar saja dan pada umur yang sedemikian muda, sebenarnya adalah sesuatu yang sangat luar biasa. Memang daya pikirnya yang tajam, membuatnya sanggup memikirkan hal-hal yang tidak dipikirkan orang.


Keadaan ini memang diciptakan Tuhan untuk ‘menyeimbangkan’ kekurangan fisik yang dimilikinya.


Setelah memahami keadaan dan kenyataan bahwa ilmu Bu Tong-pay yang diajarkan kepadanya itu sebenarnya kurang cocok, Cio San mulai memikirkan hal baru lagi. Yaitu bagaimana cara agar ilmu itu menjadi cocok baginya!!


Anak sekecil ini sudah berani mengotak-atik ilmu silat, adalah sesuatu yang berbahaya. Karena jika salah berlatih, bisa menyebabkan kegilaan, cacat seumur hidup, bahkan juga kematian. Herannya, Cio San pun juga memahami hal ini walaupun tidak ada seorang pun yang menjelaskan kepadanya.


“Jika seseorang menggerakkan aliran darah dan tenaga melalui tempat yang tidak seharusnya, maka hal ini akan menyebabkan seluruh kerja tubuhnya menjadi kacau. Ini pasti sangat berbahaya bagi orang itu,” begitu pikir Cio San dalam hati.


“Maka sebelum menggerakkan aliran darah dan tenaga, seseorang harus mengerti dulu arah gerak normal aliran itu. Kemana seharusnya aliran itu bergerak, bagaimana cara kerjanya, dan lain-lain.”


“Sebelum aku bisa mengubah ilmu silat Bu Tong-pay ini agar sesuai dengan tubuhku, maka aku harus memahami tubuhku terlebih dahulu.”


Pemahaman ini adalah pemahaman terbesar dari para ahli silat. Seorang yang mengenal tubuhnya sendiri, pasti akan mampu mengendalikan tubuh itu seperti yang ia mau.


Memang hebat daya pikir Cio San yang bisa sampai pada pemahaman ini, tanpa seorang pun menunjukkan kepadanya. Selama ini di Bu Tong-pay, ia hanya diajarkan teori gerak. Ia diharuskan meniru apa yang sudah ditunjukkan oleh gurunya. Sebab mengapa harus bergerak seperti ini, atau seperti itu, mengapa begini, mengapa


begitu, tidak ada seorang pun yang menjelaskan kepadanya.


Jika banyak bertanya, maka ia akan dimarahi karena terlalu banyak bertanya. Kenyataan bahwa ia tidak sanggup menguasai apa yang diajarkan kepadanya, adalah lahir dari hal seperti ini. Bahwa ia hanya diajarkan bergerak, tanpa mengetahui makna gerakan-gerakan itu. Padahal fisiknya berkembang berbeda dengan orang


lain pada umumnya.


Memahami hal ini, Cio San bertekad untuk mempelajari dulu keadaan tubuhnya sendiri. Jika ia sudah benar-benar paham cara kerja organ tubuhnya, maka ia bisa saja ‘mengubah’ sedikit ilmu silat Bu Tong-pay yang diajarkan kepadanya, agar sesuai dengan keadaan tubuhnya.


Buku pemberian A Liang itu sebenarnya adalah kumpulan buku-buku unik. Ada mengenai resep masakan dan obat-obatan. Bab yang membahas obat-obatan juga memiliki pembahasan tentang tubuh manusia. Tentang aliran darah dan berbagai macam fungsi organ tubuh.


Hal ini membuat Cio San semakin bersemangat mempelajari isi buku yang diberikan A Liang kepadanya. Karena ternyata, di dalamnya berisi pengetahuan tentang tubuh manusia juga. Cio San membaca kitab itu dengan lahap sampai ia tertidur.


Pagi-pagi Cio San terbangun. Ia lalu berlatih silat sebentar, sesuai dengan yang dipesankan gurunya. Memang waktu terbaik untuk berlatih silat adalah saat pagi-pagi sekali. Sinar matahari sangat membantu untuk menguatkan tulang dan menyehatkan tubuh.


Setelah berlatih, dia mulai menanak nasi yang lantas ditinggalkannya untuk pergi mandi dan menangkap ikan. Setelah nasi matang dan ikan sudah diolah, ia pun makan pagi.


Sambil makan, buku pemberian Liang-lopek itu tidak lepas darinya. Semangat sekali Cio San mempelajari isi buku. Sampai siang ia terus membaca buku itu. Kadang-kadang ia mempraktekkan apa yang ada di dalam buku itu. Berpikir sebentar, memperhatikan titik-titik yang ada pada tubuhnya. Mengingat-ingat fungsi titik-titik itu.


Kegiatan itu berlangsung selama 3 hari berturut-turut. Tak terasa Cio San sudah melalap habis isi buku itu dalam waktu 3 hari!


Hari keempat, setelah berlatih silat, Cio San melihat bayangan orang dari kejauhan. “Rupanya akan ada tamu,” pikir Cio San.


Tak berapa lama bayangan itu semakin jelas, tampaklah Beng Liong.


Cio San senang sekali bahwa kakak seperguruannya ini datang berkunjung. Dari jauh mereka saling tersenyum.


“Ah, Liong-heng! Selamat datang di gubuk derita ini,” teriak Cio San sambil tertawa.


“San-te, bagaimana keadaanmu?”


Mereka berbasa-basi sebentar menanyakan kabar dan bercanda. Rasanya memang nikmat jika ada sahabat yang mengunjungimu di kala kau sedang kesepian.


Cio San yang saat sedang menanak nasi, meminta ijin sebentar untuk mandi. Tidak lama kemudian, dia pulang membawa dua ekor ikan yang lumayan besar.


Sambil menikmati nasi dan ikan bakar, kedua sahabat kecil itu mulai saling bercerita. Beng Liong menceritakan keadaan perguruan sedangkan Cio San menceritakan kegiatannya ‘melahap’ buku yang diberikan A Liang kepadanya.


“Pasti menarik sekali buku itu, San-te. Kuharap banyak manfaat yang bisa kau ambil.”


“Iya, Liong-heng. Di buku ini banyak sekali pengetahuan tentang bahan-bahan alam dan ramuan-ramuan. Awalnya aku mengira hanya berisi resep masakan, ternyata isinya lebih dari itu. Liang-lopek juga mungkin tidak tahu karena kebanyakan isi buku ini dari huruf-huruf kuno,” kata Cio San sambil menunjukkan buku itu.


Beng Liong melihat-lihat isi buku itu kemudian berkata, “Ah, benar. Ternyata banyak huruf-huruf kuno. Kau bisa mengenal seluruh huruf-huruf ini, San-te?”


“Bisa, Liong-heng...”


“Seluruhnya?”


“Seluruhnya.”


“Wah, hebat sekali kau, San-te.”


“Tidak juga, Liong-heng. Kebetulan saja aku memiliki Ayah seorang Siucai (Sastrawan), sehingga sejak kecil, aku memang sudah dikenalkannya pada huruf-huruf itu,” tukas Cio San sambil tersenyum.


Lama mereka membahas isi buku itu, sampai kemudian Beng Liong berkata, “Eh, San-te,


bagaimana kalau kita berlatih silat?”


“Boleh, Liong-heng, tapi beri aku petunjuk ya. Ilmu silatku buruk sekali, hahahaha…”


Kedua orang itu lalu bersilat. Terlihat sekali bahwa memang Beng Liong sangat berbakat dalam ilmu silat. Gerakannya lincah dan mantap. Serangannya bertenaga dan cepat sekali. Tidak percuma dia dianggap sebagai murid Bu Tong-pay yang paling berbakat.


Cio San jelas kelabakan dalam menghadap serangan-serangan Beng Liong. Untunglah Beng Liong sendiri menahan diri sehingga tidak mendesak Cio San.


Sambil bersilat, kadang-kadang Beng Liong memberikan petunjuk-petunjuk tentang serangan dan tipuan-tipuan.


Cukup lama mereka bersilat, sampai kemudian Cio San mulai terlihat terengah-engah. Mengetahui kondisi ini, Beng Liong mulai melemahkan serangan-serangannya, sehingga lama-lama mereka sepakat untuk berhenti silat.


“Kau hebat sekali, Liong-heng. Baru 3-4 hari kita berpisah, kemajuannya sudah pesat sekali.”


“Benarkah?”


“Benar, Liong-ko. Serangan-seranganmu bertambah cepat. Bukankah tadi kau memainkan jurus-jurus yang baru saja kau latih 3 hari yang lalu?”


“Iya. Bagaimana kau bisa tahu? Oh…, aku ingat. Saat aku berlatih jurus-jurus itu,


kamu datang untuk berpamitan, ya?”


“Benar, Liong-heng. Hehe.”


Mereka lalu beristirahat.


“San-te, gerakmu tadi kurang cepat, sehingga gerakan-gerakanmu mudah dibaca. Cobalah


untuk berlatih meningkatkan kecepatan seranganmu.”


“Baik, Liong-heng, terima kasih atas petunjuknya.”


“Jangan lupa jurus-jurus itu harus kau hafal luar kepala. Sehingga ketika bersilat, kau bisa langsung menggunakannya dengan bebas. Jika kau menghafal seluruh jurus-jurusnya, perubahan serangan macam apapun dari lawan kita, bisa dihadapi dengan mudah. Ilmu silat Bu Tong-pay memang hebat sekali. Jurus-jurus dasarnya


saja sudah bisa menghadapi serangan-serangan dahsyat ilmu lawan.”


“Benarkah, Liong-heng?”


“Benar, San-te. Makanya kau jangan malas berlatih. Jika kita semua rajin berlatih, aku yakin nama Bu Tong-pay akan semakin gagah di mata orang-orang Kang Ouw.”


“Baik, Liong-heng,” kata Cio San tersenyum.


Setelah beristirahat beberapa lama, Beng Liong pamit karena waktu istirahat sudah akan habis. Mereka berpisah, dan Beng Liong berjanji untuk sering mengunjungi Cio San. Begitu menuruni gunung, terlihat gerakan Beng Liong sangat lincah dan cepat sekali.


“Wah, Liong-heng ternyata semakin hebat saja. Rupanya ia sudah mulai mempelajari ilmu meringankan tubuh Bu Tong-pay,” kata Cio San dalam hati.


Hari berganti hari, Cio San terus berlatih silat Bu Tong-pay. Namun sambil berlatih silat, otaknya terus-mengingat-ingat tulisan yang ia pelajari dari dalam buku. Pada awalnya, nafasnya terengah-engah dan cepat merasa letih. Tapi ia terus memaksakan diri. Sedikit demi sedikit, rasa terengah-engah itu hilang, bahkan terasa ada kekuatan baru yang muncul perlahan-lahan.


Cio San tidak pernah menyangka bahwa saat ia berlatih silat sambil mengingat-ingat tulisan di dalam buku itu, sebenarnya ia telah berhasil menggabungkan ilmu silat Bu Tong-pay dan pengetahuan tentang tubuh manusia.


Saat ilmu Bu Tong-pay mengajarkannya untuk menyalurkan tenaga ke kaki, ia mulai merasa terengah-engah. Tapi saat ia teringat bahwa jantungnya lemah, maka ia malah mengalirkan tenaga itu ke jantung, bukan ke kaki. Karena di dalam buku, untuk menguatkan jantung, ia harus menyalurkan tenaga “Yin” ke dalamnya.


Ini adalah hal yang sangat berbahaya jika tidak dilakukan dengan hati-hati. Namun entah kenapa, ilmu silat Bu Tong-pay itu sangat cocok dengan teori yang diciptakan sendiri oleh Cio San. Sebagian besar, ini mungkin karena keberuntungan belaka, karena Cio San sama sekali tidak paham tentang ilmu silat.


Tetapi sebagian besar, juga dikarenakan daya pikir serta keberaniannya untuk mencoba hal yang baru. Secara tidak langsung, sebenarnya Cio San sedang menciptakan perubahan-perubahan di dalam ilmu Bu Tong-pay.


Ini terjadi dari hari ke hari, setiap kali ia berlatih ilmu silat. Saat merasa terengah-engah atau letih, cepat-cepat ia mengubah gerakan atau penyaluran tenaga ke tempat-tempat di mana ia pikir sesuai dengan kebutuhan tubuhnya.


Dalam beberapa hari saja, ilmu Cio San sudah maju sangat-sangat pesat.


Suatu hari ketika sedang makan siang, ia melihat ada bayangan lagi. Kali ini ia mengenalnya dari kejauhan. “Itu pasti Liang-lopek. Ah, akhirnya ia datang juga,” ujarnya sambil tersenyum.


“Hoy, Cio San…!” A Liang berteriak dari jauh. “Bagaimana kabarmu? Hahahahahaha…”


“Liang-lopek, apa kabar?” kata Cio San sambil memberi salam.


“Hey, buat apa kau banyak aturan seperti ini? Pakai salam Bu Tong-pay segala. Aku kan bukan murid Bu Tong-pay”


“Haha, Liang-lopek memang bukan murid Bu Tong-pay. Tapi Liang-lopek adalah ‘tetua’ Bu Tong-pay.”


“Huah?! Gila kau. Jika didengar 4 Tianglo Bu Tong-pay, kau pasti dihajar mereka. Hahaha…”


Senang rasanya di saat sepi ada sahabat yang datang menemani. Karena kedua orang ini memang sudah seperti sahabat. Padahal umur mereka berdua sudah seperti kakek dan cucu.


Rupanya A Liang membawa juga makanan dari dapur sehingga mereka berdua duduk menikmatinya sambil bercerita. Lama sekali mereka bercerita. Cio San menceritakan kegiatannya sehari-hari diatas gunung selama hampir sebulan ini. Sedangkan A Liang menceritakan keadaan perguruan.


“Eh, ngomong-ngomong, sudah kau baca belum buku yang kuberikan?” tanya A Liang.


“Sudah, Lopek. Sudah saya tamatkan.”


“Heh? Sudah tamat? Memangnya kau bisa membaca huruf-huruf aneh di buku itu?”


“Bisa, Lopek. Bukankah dulu saya sempat cerita kalo mendiang Ayah pernah mengajarkan huruf-huruf kuno kepada saya?”


“Masa sih? Aku lupa... ahhahahhahaha…,” lanjutnya, “Coba kau ceritakan apa saja isinya. Mungkin saja aku jadi lebih mahir memasak. Hahahahaha..”


“Buku itu selain resep masakan, banyak sekali resep obat-obatan, dan juga pengetahuan tentang obat-obatan.” Sambil berkata begitu, Cio San bangkit dari duduknya dan pergi mengambil buku itu di dalam gubuknya.


“Coba kau ceritakan padaku tentang isinya,” pinta A Liang.


Cio San lalu menceritakan banyak sekali resep-resep masakan yang unik. Buku itu memang selain berisi tulisan aksara Tionggoan juga memuat huruf-huruf asing. Sehingga memang A Liang tidak pernah menguasai isinya.


“Sebenarnya ini huruf apa sih? Apa memang huruf kuno Tionggoan?”


“Sebenarnya ini huruf gabungan Tionggoan dan huruf dari daerah barat. Jaman dulu, dari sebuah negeri barat ada agama baru yang dibawa oleh seorang Nabi. Setelah Nabi itu wafat, pengikutnya lalu menyebarkan agama itu ke seluruh dunia. Kehidupan pemeluk agama itu sangat maju. Mereka menciptakan ilmu-ilmu baru. Seperti ilmu


berhitung, ilmu sastra, ilmu perbintangan, dan lain-lain. Mereka juga menciptakan ilmu silat yang sangat hebat. Mereka selain menyebarkan agama, juga menyebarkan ilmu-ilmu ciptaan mereka itu,” jelas Cio San.


“Ah, kau seperti seorang guru saja. Haha…. Tapi aku pernah mendengar cerita itu. Jadi menurutmu, apakah huruf-huruf di buku ini adalah huruf-huruf dalam aksara mereka?”


“Bukan, Lopek. Ini adalah huruf gabungan aksara Tionggoan dan aksara kaum barat itu. Kaum barat itu adalah kaum yang hidup di gurun pasir, dan sangat menyukai sastra. Mereka juga adalah pengelana. Mereka berkelana menyebarkan agama baru itu sampai ke Tionggoan. Mereka lalu tinggal menetap dan berbaur dengan penduduk asli kita. Bahkan mereka menganggap diri mereka sebagai orang Tionggoan. Sehingga mereka pun menggabungkan aksara Tionggoan dengan aksara asli daerah asal mereka. Maka terciptalah aksara yang ada di buku ini.”


“Darimana kau tahu?”


“Dari mendiang Ayah. Beliau yang bercerita kepada saya,” lanjutnya, “Kata Ayah, ilmu mereka tinggi sekali. Bahkan ketinggian ilmu mereka itu sulit diukur. Musuh-musuh mereka berusaha mempelajari ilmu-ilmu tersebut. Maka, untuk menjaga kerahasiaan, mereka menyimpan ilmu-ilmu tersebut ke dalam puisi-puisi yang sukar dimengerti. Sehingga hanya orang-orang tertentu yang bisa mengerti.”


“Benarkah katamu itu?” tanya A Liang.


“Itu kata Ayah,” jawab Cio San. “Dan sebenarnya Kakek dan Ayah sendiri adalah penganut agama dari barat itu,” lanjutnya.


“Benarkah? Jadi kamu bisa aksara barat itu juga?”


“Sedikit-sedikit, saya paham. Cuma saya belum pernah melihat sedikitpun bacaan dengan aksara asli agama itu. Kalau ada, pasti menarik sekali.”


“Wah, hebat sekali kau ini.” A Liang berkata sambil tersenyum dan geleng-geleng kepala.


Lama mereka bercengkerama. A Liang menceritakan keadaan Bu Tong-pay selama beberapa hari ditinggal Cio San. Cio San menceritakan kegiatannya sehari-hari di puncak gunung ini. Tak terasa waktu berlalu sehingga A Liang berkata, “Sudahlah, aku turun dulu yah. Kalau terlalu sore, nanti bisa kemalaman dan terlambat mengurus


makan malam untuk perguruan kita. Kau jagalah dirimu baik-baik,” kata A Liang.


“Baik, Lopek. Terima kasih sudah mau repot-repot mengunjungi saya di sini.”


“Alah… Aku malah merasa bersalah tidak mengunjungimu sejak dari awal kau dikirim ke sini.”


“Terima kasih banyak, Lopek. Saya baik-baik saja di sini. Kalau nanti Lopek ada waktu


berkunjung lagi, mudah-mudahan kita bisa main khim dan bernyanyi.”


“Hahaha.., aku suka itu. Nah, aku pulang dulu. Kau baik-baik lah. Selamat tinggal.” Ia


menepuk pundak Cio San, lalu bergegas pergi.


“Selamat jalan, sampaikan salam buat para Suhu, serta para Suheng dan Sute.”