Dragon and Phoenix

Dragon and Phoenix
Bab 6: Berlarilah



Cio San rasa-rasanya sangat menikmati keberadaannya di puncak Bu Tong-san ini. Pemandangannya indah sekali. Udara yang sangat segar membuatnya semangat berlatih dan belajar. Malah ia sudah mulai mengembangkan ilmu baru lagi.


Ia lalu berkeliling hutan di sekitar situ. Hutan di situ memang penuh dengan berbagai macam hewan yang bisa diburu. Lama mencari, tak terasa Cio San sudah jauh dari gubuknya. Berburu rusa seperti ini dibutuhkan kesabaran dan ketelatenan tersendiri. Untung setiap murid Bu Tong-pay sudah diajari berburu hewan sejak awal mereka masuk perguruan.


“Lopek, tanda bahaya sudah dibunyikan. Kita seharusnya pergi kesana. Ada murid Bu Tong-pay yang membutuhkan pertolongan,” kata Cio San.


"Percayalah kepadaku, Cio San. Akan kujelaskan semua,” jawab A Liang.


Mereka terus berlari namun tidak berapa lama kemudian, mereka berpapasan dengan puluhan murid Bu Tong-pay yang naik ke puncak gunung.


Rupanya 2 orang dari 4 Tianglo Bu Tong-pay sendiri yang memimpin rombongan itu. Oey Tang Wan yang wajahnya ramah dan sabar, dan Yo Ang yang tubuhnya kecil namun bermata mencorong.


A Liang sendiri agak tertinggal di belakang sehingga Cio San harus memperlambat larinya untuk bisa bersama dengan A Liang.


Sesampai di puncak gunung, terlihatlah pemandangan yang mengerikan. Sebuah tubuh terpisah dari kepalanya. Letaknya persis di depan gubuk. Masih belum ketahuan siapa pemilik tubuh nahas itu.


Ketika didekati, jelaslah sudah. Itu tubuh Tan Hoat!


Semua berteriak penuh kekagetan. Cio San yang baru tersadar atas apa yang terjadi dan mayat siapa itu, langsung jatuh lunglai dan menangis. Gihu sekaligus suhunya itu memang sangat disayanginya. Ia menangis dan meratap. Memanggil-manggil nama gihunya.


“Suhu...


Suhu....” Hanya itu yang bisa keluar dari bibirnya. Bersama air mata yang


mengalir deras di kedua pipinya.


Semua


orang yang menyaksikan kejadian ini semakin bersedih. Memang, siapapun yang


melihat kejadian seperti ini dan tidak menangis, boleh dibilang bukan manusia.


“A Liang apakah kau tahu apa yang terjadi disini?” selidik Yo Ang.


“Tidak, Tianglo...,” jawab A Liang.


“Bukankah hanya kalian berdua yang ada di atas sini? Mengapa bisa tidak tahu? Mengapa juga kalian lari tergesa-gesa menuruni gunung?”


A Liang tidak bisa menjawab apa-apa. Ia hanya terdiam.


“Ayo jawab!” bentak Yo Ang.


Lanjutnya, “Atau jangan-jangan, kau ada hubungannya dengan pembunuhan ini?!”


Tangannya sudah mulai mengembang, akan ada jurus yang ia keluarkan melalui tangan ini.


“Percayalah, saya tidak ada hubungannya dengan ini semua, Tianglo...,” jawab A Liang.


Suasana mulai menegang. Oey Tang Wan, orang yang paling sabar dari keempat Tianglo Bu Tong-pay lalu berkata, “Murid-murid Bu Tong-pay, kalian berpencar. Cari apakah ada orang lain di atas bukit ini. Seujung rumput pun jangan kalian biarkan tidak terperiksa. Ayo laksanakan!”


Begitu perintahnya keluar, seluruh murid yang ada disitu bergerak dengan ringkas.


Sedangkan Yo Ang berkata, “A Liang, kau tetap disini sampai semua murid kembali lagi.”


Para murid mencari. Hampir satu jam mereka menyebar dan memeriksa, tidak ada satu pun petunjuk yang mereka temukan.


Dengan marah Yo Ang berteriak, “Ayo, A Liang! Cepat katakan!! Mengapa kau lari turun dengan terburu-buru?!”


Melihat A Liang diam saja, memuncaklah kemarahan Yo Ang. Ia lalu menyerang tukang masak Bu Tong-pay itu.


Dan yang mengherankan adalah, A Liang bisa menghindari serangan itu hanya dengan


satu gerakan.


Bertambah marahlah Yo Ang, dilancarkannya jurus-jurus Bu Tong-pay. Serangannya semakin menghebat dari jurus ke jurus. Namun kesemuanya bisa dihindari oleh A Liang.


“Katakan siapa kau sebenarnya!!! Mengapa tukang masak seperti engkau bisa menghindari pukulan-pukulanku?”


Kalimat ini diucapkan berbarengan dengan puluhan pukulan hebat. Namun A Liang terus menghindarinya.


Murid-murid Bu Tong-pay yang terheran-heran dengan kejadian ini, tidak berani membantu Yo Ang. Karena mereka tahu, bahwa bantuan mereka dalam pertempuran tingkat seperti itu, hanya akan mengacaukan jurus orang yang mereka bantu.


Melihat kehebatan A Liang dalam menghindari jurus-jurus itu, Yo Ang mulai mengeluarkan jurus andalan Bu Tong-pay. Jurus-jurus hebat itu walaupun lembut namun sebenarnya sangat ganas.  A Liang walau bagaimanapun juga, akhirnya terdesak, karena ia tidak pernah membalas atau menangkis satu pukulan pun. Jurus-jurus gubahan Thio Sam Hong itu sangat hebat, sehingga A Liang akhirnya terdesak terus. Ia hanya menghindar dan menghindar.


Selain itu, semakin banyak juga murid yang berdatangan dari bawah memenuhi gunung dan menutup ruang gerak A Liang. Bahkan salah satu murid dari bawah gunung membawa berita baru yang sangat menggemparkan.


“Tianglo, kuburan Kam Ki Hiang telah terbongkar. Bahkan mayatnya pun kini hilang.”


Mendengar ini kagetlah semua orang. Jika A Liang mengaku tidak membunuh Tan Hoat, apakah arwah Kam Ki Hiang bangkit dari kubur dan kini membalaskan dendamnya dengan membunuh murid-murid Bu Tong-pay?


Pikiran seperti ini timbul dalam benak Yo Ang, sehingga ia agak mengendurkan serangannya.


Tapi setelah berpikir lagi, ia merasa teorinya tentang arwah membalas dendam itu mengada-ada. Ia malah semakin yakin bahwa A Liang ada hubungannya dengan kejadian itu. Serangannya semakin ganas, hingga suatu saat ia mengeluarkan jurus andalan Bu Tong-pay ‘Naga Meminta Rembulan’.


Jurus ini sangatlah hebat sehingga mereka yang menonton pertarungan itu saja bisa merasakan angin pukulannya. A Liang sudah terdesak mundur sehingga tidak ada jalan keluar lagi, karena di belakangnya, murid-murid Bu Tong telah mengepung dengan hunusan pedang.


Ia menanti saja datangnya pukulan itu.


Tepat ketika pukulan itu akan mengenai dadanya, seseorang menangkisnya.


Tapi bukan A Liang atau Oey Tang Wan!


Padahal semestinya, hanya mereka berdua lah yang paling mampu ilmunya untuk menangkis


pukulan itu.


Nyatanya, tangkisan itu justru dilakukan oleh Cio San!


Bahkan tangkisan itu mampu membuat Yo Ang terlempar beberapa tombak dan memuntahkan


Semua orang terbelalak kaget. Tidak menyangka anak sekecil itu bisa menangkis pukulan Naga Meminta Rembulan’ yang sangat dahsyat. Apalagi bisa sampai menghempaskan Yo Ang dan melukainya.


Cio San sendiri terkaget-kaget dengan hasil tindakannya tadi.


Puluhan murid yang ada di situ menjadi ganas. Dalam pikiran mereka, Cio San yang sudah berani melukai Tianglo Bu Tong-pay, pastilah juga berani membunuh Tan Hoat. Mereka dengan berbarengan menyerang dengan bersama-sama.


Cio San yang kebingungan menerima serangan ini, sudah hampir pasrah dengan nasibnya. Tak disangka, A Liang menariknya dan membawanya terbang. Gerakannya ini sangat cepat sehingga membuat semua yang ada di situ terkesima.


Mereka berdua lalu melarikan diri menuruni lereng gunung.


“Ayo kejar!” terdengar perintah Oey Tan Wang. Mereka semua lari mengejar kedua orang itu. Gerak A Liang  ternyata cepat sekali. Tak ada seorang pun yang menyangkanya. Ia bagai terbang menuruni tebing-tebing gunung yang terjal itu.


Pengejaran berlangsung terus. Cio San bahkan kini sudah digendong di pundak A Liang. Ia mendengar A Liang berkata, “Percayalah padaku, Cio San...”


Cio San pun memang ingin sekali percaya kepada A Liang. Saat kejadian tadi di atas tebing, otaknya pun berpikir. Apakah A Liang yang melakukan semua itu? Membunuh suhunya, Tan Hoat, dengan cara yang kejam, lalu mengajaknya lari turun gunung sebelum ‘tertangkap’ rombongan murid Bu Tong-pay yang naik ke atas?


Melihat kenyataan bahwa ternyata A Liang menyembunyikan kemampuan silatnya selama puluhan tahun. Apa maksudnya? Apakah selama ini A Liang adalah mata-mata musuh Bu Tong-pay? Ataukah dia bermaksud menyusup ke Bu Tong-pay untuk mencuri ilmu? Tapi menyadari kenyataan bahwa A Liang telah tinggal di Bu Tong-pay hampir selama setengah abad, Cio San masih tidak bisa memahaminya. Pikiran anak sekecil Cio San yang bisa menjangkau sejauh itu adalah sebuah keanehan yang nyata. Memang banyak sekali anak-anak cerdas yang hidup di antara manusia.


Dan saat ia melihat A Liang diserang terus-menerus oleh Yo-tianglo tanpa membalas, hati Cio San mulai berbisik bahwa A Liang telah berkata sebenarnya. Bisikan hati itu pula yang lantas menyuruhnya bergerak untuk menangkis serangan dahsyat Yo Ang kepada A Liang.


Mimpi pun Cio San sendiri tidak pernah menyangka, bahwa akibat tangkisannya bisa sedahsyat itu. Saat itu, ia bergerak secara spontan dan hanya mengikuti kata hati. Hasil latihan jurus-jurus baru ciptaannya itu terlihat sangat jelas. Dia sendiri terheran-heran. Padahal usahanya menangkis pukulan itu sudah dibarengi dengan niat mengorbankan diri. Ia tahu bahwa ia tidak mungkin menangkis pukulan itu. Bahwa ia pasti akan mati. Tapi kenyataan berkata lain. Yo Ang sendiri terlempar dan muntah darah.


Rasa percayanya terhadap A Liang jugalah yang menyebabkan ia mau saja dibawa lari oleh A Liang. Ia ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. Pasti ada rahasia di balik semua itu. Apalagi saat itu terdengar berita kuburan Kam Ki Hiang baru saja dibobol orang. Kejadian di puncak Bu Tong-san itu pasti ada hubungannya dengan pencurian mayat itu.


Dan


jika A Liang adalah pelakunya, buat apa dia menanti sampai 50 tahun hanya untuk


mencuri mayat itu. Padahal setiap saat dia bisa saja melakukannya.


Cio San juga sadar, bahwa tindakannya menangkis pukulan Yo Ang dan secara tidak sengaja malah melukainya adalah pelanggaran berat. Hal inilah yang menyebabkan ia hampir dikeroyok oleh puluhan murid Bu Tong-pay tadi. Pada keadaan yang terjepit seperti itu, tidak ada jalan lain selain melarikan diri untuk sementara.


Pelarian itu terasa lama sekali, padahal A Liang sudah seperti terbang saja. Para pengejar malah sudah tidak kelihatan. Hanya gema suara mereka saja yang ramai terdengar.


Begitu sampai di perguruan, sudah terlihat banyak murid Bu Tong-pay yang bersiaga. Mereka yang menunggu dibawah ini masih belum tahu apa yang terjadi. Suara dan teriakan dari atas yang memerintahkan para murid untuk menangkap A Liang dan Cio San juga tidak terdengar jelas.


Murid-murid yang kaget, hanya melihat bayangan seseorang yang terbang tanpa bisa melihat jelas wajahnya. Ada yang berusaha menghadang, ada juga yang duduk bengong diam saja. Mereka baru mendengar suara-suara para pengejar yang memerintahkan untuk menangkap, saat bayangan itu telah jauh sekali dari jangkauan.


Semua sudah sangat terlambat. Bayangan itu sangat cepat, bahkan sudah keluar dari gerbang depan Bu Tong-pay. Gerbang Tanpa Senjata. Dinamakan demikian, karena siapapun tamu yang memasuki gerbang depan Bu Tong-pay itu, tidak boleh membawa senjata apapun.


Beberapa ratus tombak dari gerbang itu, ada sebuah hutan yang sangat lebat. A Liang memilih memasukinya, walaupun sering tersiar kabar bahwa hutan itu sangat angker. Bahkan para murid Bu Tong-pay saja, jarang ada yang berani memasuki hutan itu.


Setelah memasuki hutan itu, A Liang lalu menurunkan Cio San, kemudian berkata, “Cio San, terima kasih telah menolongku. Percayalah, aku tidak ada hubungannya dengan kematian suhumu. Justru aku datang bersama suhumu mencarimu.”


“Ada apa Lopek dan Suhu mencariku?” tanya Cio San.


“Aku tidak bisa menjawab sekarang. Ini permasalahan yang rumit yang tidak bisa dibicarakan sambil lalu. Sekarang ini bahkan mungkin pohon-pohon bisa mendengar,” jawab A Liang. Lanjutnya, “Mari kita cari tempat yang aman untuk membicarakannya.”


Cio San mengangguk tanda mengerti. Menghadapi hal-hal rahasia semacam ini, dia jelas mengerti. Ia telah mengalami hal ini saat kecil dulu. Saat orangtuanya dibantai. Kini dia diam dan tak bertanya-tanya lagi.


Mereka berdua memasuki hutan dengan tetap berlari. Tak lama kemudian, hari menjadi gelap dan malam pun menjelang. Sayup-sayup masih terdengar suara-suara para pengejar. Dari jauh terlihat mereka telah menyalakan obor.


Kedua orang pelarian masih tetap berlari walaupun sudah tidak sekencang tadi. “Jangan pernah berhenti, Cio San.”


Tiba-tiba setelah berkata seperti itu, A Liang jatuh tertelungkup. “Ah, racunnya sudah menyebar...” A Liang berkata dengan lirih.


“Lopek keracunan? Sejak kapan? Bagaimana bisa? Apakah karena makanan?” tanya Cio San dengan panik.


“Waktu kita hampir dikeroyok, seseorang melemparkan Am Gi (senjata rahasia) ke punggungku,” jawab A Liang dengan lemah.


“Tidak tahu malu. Masa ada murid Bu Tong-pay yang berbuat memalukan seperti itu...” Cio San marah sekali. Membokong lawan adalah tindakan memalukan di kalangan Kang Ouw, hanya pantas dilakukan kaum hek (hitam). Partai lurus seperti Bu Tong-pay amat sangat mengharamkan cara-cara seperti itu.


“Mari kuperiksa lukanya, Lopek.” Dalam hutan gelap di tengah malam seperti itu, mana bisa memeriksa luka? Bahkan melihat tangan sendiri pun tidak bisa.


“Di kantongku ada batu api, Cio San.” Memang seorang ahli masak tidak jauh dari pisau dan api.


Setelah menyalakan api, Cio San lalu memeriksa punggung A Liang. Ia meminta A Liang membuka baju agar lebih leluasa memeriksa. Tidak usah lama mencari, karena punggung A Liang yang terkena senjata beracun sudah terlihat sangat menghitam. Hitam yang pekat. Lalu tepat di tengah-tengah bagian yang menghitam itu


terdapat satu titik perak yang memantulkan cahaya dari api yang dipegang Cio San.


“Hmmmm...Jarum beracun...,” gumamnya.


“Aku bisa mengeluarkan jarum itu dengan dorongan tenagaku, Cio San. Awas, kau jangan sampai terkena,” kata A Liang. Setelah Cio San mengambil posisi yang aman, baru A Liang mengeluarkan jarum itu dengan dorongan tenaganya sendiri.


Kenapa tidak sejak tadi saja, A Liang mengeluarkan jarum itu dengan cara ini? Hal itu dikarenakan ia harus mengerahkan seluruh tenaganya untuk berlari laksana terbang. Di dunia ini, mungkin hanya A Liang yang bisa berlari seperti tadi. Dan itu membutuhkan pengerahan tenaga yang besar. Ditambah lagi, ia harus menggunakan chi untuk melindungi dirinya supaya racun itu tidak menyebar luas.


Jika A Liang masih berumur 40 atau 50 tahun, mungkin perjuangannya menggunakan chi seperti itu akan sangat gampang. Tetapi dia kini sudah berusia 70 tahunan. Ahli silat manapun pasti akan mengalami penurunan tenaga. Apalagi mungkin selama puluhan tahun ini, A Liang tidak pernah melatih atau menjaga chi-nya.


Cio San yang mengetahui banyak tentang penyembuhan dan obat-obatan, berusaha dengan sekuat tenaga untuk mengingat-ingat tindakan apa yang harus dia lakukan. Di tengah kejadian seperti ini, ditinggal mati salah satu orang yang disayangi, lalu dituduh terlibat dalam kematian itu, lalu dikejar-kejar, lalu harus menyembuhkan racun pula. Semua itu memang terasa terlalu berat untuk anak seumur dia, se’ajaib’ dan secerdas apapun anak itu.


Untung ingatannya masih tajam. Ia ingat dengan jelas, tumbuhan-tumbuhan apa saja yang harus ia dicarinya untuk menawarkan racun. Tapi ini pun masih penuh tanda tanya, karena Cio San sendiri tidak paham jenis racun apa yang menyerang A Liang.


Memang di buku yang diberikan A Liang itu, terdapat banyak jenis obat untuk melawan hampir segala macam racun. Namun di situ tidak dijelaskan, bagaimana mengetahui jenis racun yang menyerang itu. Dan Cio San sama sekali tidak mempunyai pengetahuan tentang ketabiban.


Hanya dengan menerka-nerka saja, ia mengumpulkan beberapa tanaman yang ada dalam hutan lebat itu. Itu pun seadanya saja, karena sungguh amat sukar mencari sesuatu di dalam hutan lebat segelap ini.


Setelah mencampurkan daun-daun obat itu dengan menggerusnya di atas batu, dan sedikit membakarnya untuk memanaskan, Cio San lantas menempelkannya di bagian tubuh A Liang yang menghitam itu. Kemudian, sebagian obat itu ia berikan kepada A Liang untuk ditelan.


“Jangan terlalu mengerahkan tenaga dulu, Lopek. Takutnya malah nanti racun itu menyebar,” katanya.


Sebenarnya ucapan ini sangat terlambat, karena racun sudah menyebar. Penggunaan tenaga besar untuk terbang tadi, malah membuat racun itu bekerja semakin cepat. Untunglah sisa chi yang ada di dalam tubuh A Liang masih mampu menahan racun itu, walaupun akhirnya gagal juga.


Ditambah lagi dengan pengerahan tenaga untuk mendorong keluar jarum itu. Semakin membuat


racun itu menyebar.


Pengetahuan Cio San tentang penggunanaan chi (tenaga dalam) untuk pengobatan juga sudah lumayan berkembang. Tapi ia tidak berniat menggunakannya, karena ada juga sebagian racun yang malah makin menghebat jika ada aliran tenaga dalam dari luar tubuh sang pengidap.