
Anggota Ma Kauw yang berdandan aneh, anggota-anggotanya adalah para siauw jin, yaitu orang-orang hina kelana, dari kalangan rendahan yang kotor dan kumal. Tapi mereka bukan Kay Pang (Partai Pengemis) yang suka minta-minta, namun dianggap terhormat. Anggota partai Ma Kauw ini banyak juga yang bekerja, sebagai kuli,
tukang sayur, tukang roti, tukang daging, atau orang-orang pasar lainnya.
Orang seperti Cio San ini akan mudah bersahabat dengan siapapun. Tapi teman-teman terbaiknya selalu merupakan orang-orang rendah dan hina. Orang-orang yang dianggap hina seperti ini selalu menganggumkan baginya. Karena ia tahu, semakin miskin mereka, semakin sering pula mereka menjamu sahabat-sahabatnya dan
berbuat kebaikan kepada orang lain.
Ibu Cio San adalah pendekar Go Bi-pay. Walaupun wanita, ia paham tentang hidup yang bebas. Wanita seperti ini adalah wanita yang gemar mengarungi alam. Menantang kehidupan. Mereka menikmati alam, bukan untuk sekedar menyegarkan diri atau berpesiar. Mereka menikmati alam karena mereka tahu, betapa kecilnya mereka dengan alam. Betapa tak berdayanya mereka di hadapan alam. Wanita-wanita seperti ini pun akan jarang mampu mengikatkan diri kepada apapun. Tapi jika ada lelaki tepat yang mampu memahami hatinya, maka wanita seperti ini akan mudah jatuh bagai anak kucing ke pelukan tuannya.
Terkadang kau harus menghancurkan sesuatu untuk menciptakan sesuatu.
Terkadang kau sendiri harus mengalami kehancuran, baru kemudian kau mengalami pencerahan.
Dalam seluruh kejadian yang pernah dialaminya, mulai dari kelahiran yang tidak normal, pembunuhan keluarganya, penghinaan, fitnah, pelarian, dan pengusiran di Bu Tong-pay, Cio San percaya bahwa itu semua adalah ‘penghancuran’ untuk mencapai pencerahan.
Mereka duduk saling berdampingan. Bersandar di pagar kapal.
“Lalu, siapa nama kekasih yang kau pikirkan itu?” tanya Cio San balik, sambil menuangkan arak.
“Kau ingin tahu namanya? Kau tidak ingin tahu namaku?” tanya si wanita.
“Aku sudah tahu namamu,” jawab Cio San sambil tersenyum dan menyodorkan secangkir
arak.
“
“Kalau sudah tahu kenapa tadi tidak kau sebutkan namaku?”
“Kau sendiri sudah tahu namamu, mengapa harus kusebutkan lagi?”
Mereka berdua tertawa. Cio San memang sudah tahu namanya. Ia tahu nama-nama orang di kapal itu. Tanpa berkenalan pun ia tahu. Karena telinganya tidak pernah salah. Karena ia memperhatikan dan menyimak. Orang yang suka menyimak dan memperhatikan, memang biasanya tahu lebih banyak.
Ia pun tahu Tio Sim Lin adalah orang suku Mui. Suku Mui adalah suku yang mendiami bagian barat Tionggoan. Gaya hidup mereka bertualang dan dekat dengan alam. Kebanyakan mereka beragama Islam. Perempuannya jauh lebih bebas dan terbuka daripada orang Han umumnya.
“Awalnya, aku hanya ingin berterima kasih kepadamu sudah menyelamatkan kami tadi siang,” kata Tio Sim Lin. “Tapi saat kulihat kau duduk melamun di sini, kupikir lebih baik sekalian kuajak kau minum arak. Supaya tidak kesepian. Kau nampaknya butuh teman.”
“Haha… Sebenarnya aku atau engkau yang kesepian? Tapi itu tak penting. Ada sahabat dan ada arak, bukankah itu adalah hal paling nikmat di dunia ini?” Sambil berkata begitu Cio San menuangkan lagi arak ke dalam mulutnya.
“Kau benar. Ada sahabat dan ada arak. Apalagi yang perlu kaurisaukan?” Tio Sim Lin pun mengangkat cangkir ke mulutnya.
Agak lama mereka terdiam, sebelum kemudian Cio San berkata, “Eh, kau belum memberitahukan siapa namanya.”
“Namanya siapa?” tanya Tio Sim Lin
“Nama kekasih hati yang kau rindukan itu.” Cio San tersenyum. Untuk pertanyaan seperti ini, ia harus hati-hati. Karena perempuan jika ditanyakan pertanyaan seperti ini, biasanya cuma ada dua reaksi. Yang pertama adalah senyum berbunga-bunga. Atau marah tak karuan. Untunglah Tio Sim Lin tersenyum,
“Kau pasti mengenalnya.” Matanya berbinar-binar dan senyumnya semakin manis.
Cio San menatapnya baik-baik. Ia sudah sangat sering melihat wajah seperti ini.
“Jangan bilang kau sedang jatuh cinta dengan Bu Tong-enghiong Beng Liong?” kata Cio San.
Tio Sim Lin kaget, “Bagaimana kau bisa menebak dengan tepat?”
Cio San sudah sering melihat raut muka wanita seperti itu jika mereka membicarakan Beng Liong. Cinta, kagum, namun juga sedih. Kenapa sedih? Karena wanita-wanita itu tahu Beng Liong terlalu tinggi bagi mereka.
Bila mencintai atau menyukai seseorang itu kadang begitu menyakitkan, mengapa masih banyak orang yang melakukannya?
Cio San hanya tersenyum saja, ia kembali bertanya, “Kau kekasihnya?”
“Bukan. Tapi cepat katakan, bagaimana kau bisa tahu?”
“Semua perempuan di muka bumi ini suka Beng Liong. Semua perempuan di kolong langit ini sudah pernah mendengarkan namanya. Bahkan jika itu perempuan tuli pun, pasti sudah pernah mendengar namanya. Bukan hal aneh, jika kau pun suka padanya.”
Sebenarnya Cio San ingin menenangkannya, tidak tahunya malah tambah marah.
“Jadi kau bilang, seluruh wanita menyukainya, dan aku tidak ada kesempatan? Begitu?”
“Siapa yang bilang begitu?” tanya Cio San heran.
“Kau tidak bilang. Tapi dari omonganmu sudah jelas tersirat seperti itu.”
Cio San akhirnya diam. Ia sudah paham. Mengajak wanita berdebat, sama saja dengan mengajak harimau berkelahi.
“Kenapa kau diam saja?” tanyanya dengan pandangan mata yang tajam.
Tapi Cio San tidak tahu, jika wanita sudah mengajakmu bertengkar, maka segala cara yang kau lakukan untuk menghindarinya pun percuma.
Akhirnya ia tersenyum dan berkata, “Kalau kau terus memarahiku, aku tidak akan menceritakan sebuah rahasia Beng Liong kepadamu.”
“Rahasia apa?” tanya Tio Sim Lin tertarik.
Dan akhirnya ia paham, cara membuat tenang wanita yang sedang marah adalah memberikan apa yang disukainya.
“Banyak rahasia, terutama rahasia untuk menarik hatinya. Apakah kau lupa, aku adalah mantan murid Bu Tong-pay? Setiap hari aku bertemu dan mengobrol dengannya. Bahkan ia adalah satu-satunya orang Bu Tong-pay yang baik kepadaku.”
“Aku tahu kau mantan murid Bu Tong-pay. Tapi aku tak tahu kau seakrab itu.”
“Kami betulan akrab,” Cio San mengangguk serius.
“Pasti kau menipuku supaya aku tidak jadi marah bukan?”
“Coba ceritakan semua tentang dia,” tukas Tio Sim Lin. Wajahnya merona.
Di dunia ini, memang tidak ada yang paling menarik bagi perempuan selain membahas laki-laki yang disukainya.
Cio San bercerita. Tentang kebaikan-kebaikan Beng Liong. Tentang bakat silatnya yang luar biasa. Tentang makanan kesukaannya. Tentang tubuhnya yang selalu harum. Tentang kesetiakawanannya. Tentang kegagahannya.
Ia tidak menambah-nambahi ataupun mengurangi. Semuanya persis seperti yang diingat dan dikenangnya. Tio Sim Lin memperhatikan dengan senang.
“Eh ngomong-ngomong, dimana kau bertemu dengannya? “
“Aku... Aku bertemu dengannya pertama kali saat ia menyelamatkan aku. Saat itu aku berkelahi dan terluka. Aku hampir mati terbunuh. Untunglah dia datang dan menolongku. Ia tetap sopan dan hormat padaku. Padahal ia tahu aku orang Ma Kauw.”
Beng Liong memang orang yang seperti itu. Tidak pernah memilih-milih kawan. Sedikit-banyak, ia memang mirip dengan Cio San.
“Lalu setelah itu?”
“Ia bahkan mengobatiku. Luka-lukaku cukup parah. Saat itu kami di hutan dan tak ada siapa-siapa yang mau menolongku. Ia akhirnya menemaniku selama dua hari sampai aku sembuh betul.”
Bertanya nama dan alamat saja, ia tidak melakukannya.”
Tio Sim Lin terdiam.
Cio San pun terdiam. Dalam hati ia menyayangkan. Mengapa arak habis begitu cepat.
Malam gelap dan dingin. Arak mungkin hanya akan menghangatkan tubuh manusia. Tapi hanya cinta yang benar-benar bisa menghangatkan hati. Sayangnya, karena keduanya sama-sama memabukkan, kau jarang melihat kedua hal ini bersanding bersama. Biasanya orang minum arak karena kehilangan cinta. Dan orang yang jatuh cinta melupakan arak.
Cio San, mau tidak mau, merasa kasihan juga dengan Tio Sim Lin.
“Apapun yang terjadi, kau tidak boleh menyerah. Jika dua orang saling mencinta, bukankah selalu ada jalan?” katanya kepada Tio Sim Lin.
“Aku suka dia, tapi dia tidak suka aku. Darimana bisa kau bilang kami saling mencinta?”
“Darimana juga kau tahu ia tidak suka kau?? Sebelum kau benar-benar yakin atas perasaannya, kau tidak boleh berpikiran yang tidak-tidak. Bukankah jauh lebih mudah beranggapan dia juga suka padamu? Dengan begitu, hatimu terasa lebih ringan. Melakukan sesuatu pun tidak diliputi kesedihan.”
“Lalu bagaimana jika akhirnya nanti, aku tahu dia tidak suka aku?” tanya Tio Sim Lin.
“Kalau nanti akhirnya seperti itu, ya.., kau boleh bersedih setelah kau tahu. Tapi jika kau bersedih sekarang, bukankah kau hanya akan menyakiti hatimu setiap hari. Jika kau ingin menangis, bukankah kau masih bisa menangis esok hari? Dan bukankah esok hari pun masih ada esoknya lagi? Dan esoknya lagi? Hari esok
tidak pernah selesai.”
Tio Sim Lin berpikir lama.
“Kau benar. Tidak ada guna aku menangisi hal yang belum jelas benar.”
“Nah. Lebih baik kita masuk ke dalam. Bertemu sahabat-sahabat. Bila kau memiliki sahabat-sahabat terbaik yang mencintaimu apa adanya, dan selalu ada saat kau butuhkan, untuk apa lagi berpikir tentang orang-orang yang mengkhianati cintamu? Orang-orang yang menyakiti hatimu? Dan orang-orang yang tidak peduli denganmu?”
Saat mereka masuk kembali ke dalam geladak, kapal mereka berpapasan dengan sebuah perahu kecil. Awalnya, Cio San tidak mempedulikan. Tapi timbul sesuatu di hatinya yang membuat ia kembali keluar. Perahu kecil itu dinahkodai seorang tukang perahu. Tapi penumpangnya, amat sangat menarik hatinya. Penumpangnya adalah
si Dewa Pedang Berambut Merah!
“Apa yang dia lakukan malam-malam begini? Kemana tujuannya?”
Sang Dewa Pedang hanya duduk termenung memandang air. Tidak ada apa-apa di wajahnya. Tidak ada kemurungan, tidak ada kesepian, tidak ada apa-apa. Kosong.
Ingin Cio San memanggilnya, tapi ia tahu seluruh penghuni kapal ini sedang berlayar dengan sembunyi-sembunyi. Hal itu hanya akan menambah dan memperumit masalah jika ternyata buruan si Dewa Pedang adalah beberapa anggota Ma Kauw.
Akhirnya si Dewa Pedang lewat begitu saja. Cio San hanya bisa memandang punggungnya yang tegap. Rambut belakangnya yang terurai ditiup angin.
Cio San masih berada di pinggiran kapal. Memandangi punggung sang Dewa Pedang sampai ia menghilang jauh, dan hanya menyisakan titik putih bajunya di kaki langit. Cio San masih termenung berpikir, ketika telinganya mendengarkan sesuatu di air.
Telinganya tidak pernah mengkhianatinya.
Dengan seksama ia memandang ke perairan gelap gulita itu.
Mayat!
Banyak mayat!
Segera Cio San menemui beberapa ‘nelayan’ yang bekerja di kapal untuk menjaring mayat-mayat itu. Ada 3 mayat. Tubuh mereka sudah mulai menggelembung, tapi masih bisa dikenali. Cio San memang tidak mengenali mereka. Tapi hampir semua orang yang ada di kapal mengenali mereka.
Luk Hoan Tit, Ketua Perkumpulan Golok Emas.
Soe Sam Hong, Ketua Perkumpulan Naga Lautan.
Ban Lang Ma, murid terbaik Siau Lim-pay.
Ada sebuah luka tusukan di dahi mereka!
Cio San memandang di kejauhan, tempat Dewa Pedang tadi menghilang.
Kali ini dunia Kang Ouw akan benar-benar heboh.
Tiga orang dari kalangan utama Kang Ouw!
“Luka ini, bukankah adalah perbuatan Dewa Pedang Berambut Merah?” tanya Bun Tek Thian.
“Iya. Benar,” kata Cio San. Ia sedang duduk memeriksa mayat-mayat itu. Luka di dahi mereka begitu rapi. Begitu dingin. Tanpa darah. Ia memeriksa bagian tubuh yang lain. Sampai akhirnya ia merasa cukup dan nampak termenung.
Tak lama kemudian Cio San berkata,
"Mereka bukan dibunuh si Dewa Pedang!!”