
“Coba jelaskan...,” kata Tan Hoat.
“Waktu ‘anak’ ditolong oleh orang desa, mereka itu orang-orang biasa, tidak punya ilmu silat. Mereka dengan sukarela menolong. Membersihkan ‘anak’, memberi pakaian, memberi makan. Coba kalo mereka tidak ada, pasti Gihu dan ‘anak’ akan kelaparan, dan mengurusi pemakaman Ayah-Ibu sendirian saja.”
“Hahahaha... Pintar…, pintar... Lanjutkan…, lanjutkan.” Tan Hoat tertawa senang.
“Kalau nanti seumpama ‘anak’ jadi orang besar, maka sebenarnya orang-orang desa itu punya andil paling besar. Karena jika mereka tidak ada, ‘kan ‘anak’ tidak mungkin bisa selamat dari lapar, dan haus, dan lainnya,” lanjut Cio San.
“Bukan main!” Saking senangnya, Tan Hoat menepuk pundak Cio San keras sekali, sampai ia terbatuk-batuk.
“Maaf..., maaf.. Ahhahaha…. Aku terlalu senang mendapatkan anak secerdas kau, Cio San”
Cio San pun tersenyum. Senyumnya yang pertama sejak keluarganya dibantai.
Tan Hoat memilih untuk secepatnya sampai ke Bu Tong, sehingga ia tidak terlalu lama beristirahat. Istirahat hanya dilakukan jika mereka benar-benar lelah, atau kudanya yang butuh istirahat. Suatu saat ketika mereka sedang beristirahat di sebuah penginapan, Tan Hoat terkaget-kaget mendengar cerita dari Cio San.
Ternyata Go Bi-pay-ciangbunjin (Ketua Partai Silat Go Bi) sudah meninggal. Kedudukannya digantikan oleh Ciangbunjin yang baru. Sebelum meninggal ia telah menunjuk pengganti yang baru bernama Bi Goat–nikow (Bhiksu Wanita : Nikow). Tetapi penunjukan itu ditentang oleh banyak pihak dalam perguruan Go Bi-pay. Bahkan
pertentangan itu berubah menjadi perkelahian untuk memperebutkan posisi Ciangbunjin.
Dalam Go Bi-pay sendiri, memang sudah terjadi pergesekan antar murid sejak lama. Ini dimulai sejak jaman pengusiran bangsa Goan dulu, beberapa puluh tahun yang lalu.
Dulu, Ciangbunjin yang sekarang telah meninggal itu, menemukan kitab rangkuman ilmu-ilmu yang tinggi, sakti dan rahasia. Ilmu-ilmu yang sangat tinggi, dan bahkan melegenda dalam dunia persilatan. Ciangbunjin itu kemudian memutuskan untuk mengajarkan ilmu-ilmu itu dalam perguran Go Bi-pay.
Pertentangan timbul karena ternyata ilmu-ilmu itu tidak hanya berasal dari ilmu kaum lurus, tapi juga ada ilmu-ilmu kaum sesat. Pihak yang menentang merasa bahwa, perguruan Go Bi-pay harus terus mempertahankan ilmu asli mereka yang berasal dari leluhur pendiri Go Bi-pay. Sedangkan pihak yang setuju merasa bahwa ilmu adalah ilmu, tergantung siapa yang menggunakannya, dan digunakan untuk apa.
“Lalu, Nikow Bi Goat itu berasal dari golongan mana?” tanya Tan Hoat.
“Dari golongan yang setuju untuk mempelajari seluruh ilmu, termasuk di luar Go Bi-pay. Karena beliau sendiri memang ditunjuk langsung oleh ketua Go Bi-pay sebelumnya,” jawab Cio San.
Sejak saat itu, rasa sayang Tan Hoat terhadap Cio San lebih bertambah lagi. Ia bertekad sepenuh jiwa untuk melindungi anak itu. Melakukan apapun demi kebahagiaan Cio San. Anak dari saudara angkatnya. Anak yang sekarang yatim piatu, anak yang sakit-sakitan, anak yang sungguh patut dikasihani.
Beberapa hari kemudian, mereka sudah sampai di Bu Tong-san. Tan Hoat langsung menuju ke makam Thio Sam Hong. Di sana, ia berlutut dan bersujud lama sekali. Di sana, ia menumpahkan air mata. Saudara-saudara seperguruannya pun membiarkan saja. Sepertinya memang hal itu sudah sering terjadi saat anak murid Bu Tong-pay yang baru mendengar kabar kematian itu tiba di kuburan.
Setelah puas menumpahkan kesedihan dan penghormatannya, Tan Hoat baru membersihkan diri dan beristirahat sejenak. Ingin ia bertemu dengan Ciangbunjinnya yang baru, tapi Lau-ciangbunjin berada di biliknya dan tidak keluar dari pagi sampai sore. Berhubung saat itu masih pagi, Tan Hoat menggunakan waktunya itu untuk menemui
murid-murid yang lain. Bercengkerama dan bertukar cerita. Sekaligus memperkenalkan Cio San sebagai muridnya, dan juga menceritakan asal-usulnya.
lakukan persis sama dengan yang dilakukan Tan Hoat ketika pertama kali sampai ke Bu Tong-san. Yaitu bersujud di makam Thio Sam Hong. Lalu bercengkerama dan bertukar cerita. Setelah agak siang, murid-murid angkatan ke-3 yang baru pulang itu kemudian istirahat. Sambil menanti sore untuk bertemu dengan Lau-ciangbunjin, ketua mereka yang baru.
Sore pun tiba, Lau Tian Liong keluar dari biliknya. Usianya sudah sekitar 70 tahunan, tapi raut mukanya terlihat lebih muda. Benar juga kata orang yang bilang bahwa ilmu-ilmu Bu Tong-pay bisa membuat orang jadi awet muda.
Ciangbunjin partai Bu Tong ini berkeliling melihat keadaan perguruan. Dari murid-muridnya, ia mendengar bahwa tiga orang murid angkatan ke-3 sudah pulang dengan membawa muridnya masing-masing. Ia lalu berkunjung ke kamar-kamar para murid itu. Hal ini menunjukkan kerendahan hati sang Ciangbunjin. Padahal sebagai Ciangbunjin
(Kepala Partai Besar), ia bisa saja memerintahkan para murid menghadapnya di biliknya sendiri.
Pintu kamar Tan Hoat diketuk orang. Padahal ia tidak mendengar langkah seorang pun yang mendekat. Seperti tersadar, ia lalu berlari cepat membuka pintu, setelah itu ia berlutut, dan berkata, “Teecu, Tan Hoat berlaku tidak sopan, tidak mengetahui kedatangan Ciangbunjin. Apakah Ciangbunjin sehat-sehat saja?”
“Ah, jangan terlalu banyak adat. Berdirilah,” sambil berkata begitu ia mengangkat Tan Hoat.
Begitu tangannya menempel ke tangan Tan Hoat, seperti ada getaran tenaga besar yang menghantam Tan Hoat. Ia sadar. Rupanya sang Ciangbunjin sedang mengujinya. Tan Hoat tidak melawan desakan tenaga besar itu, ia malah menerimanya dengan ilmu Thay Kek Kun. Ilmu lembut ciptaan Thio Sam Hong. Desakan tenaga itu malah punah
seperti hilang ditelan samudra yang luas.
Lau Tian Liong tersenyum, ia berkata, “Bagus, ilmumu meningkat. Tidak percuma kau mengaku angkatan ke-3.”
“Atas petuah-petuah Suhu, teecu berhasil sampai ke tingkat 6 Thay Kek Kun.”
“Bagus..,bagus... Teruslah berlatih. Aku ini hanya berhasil mencapai tingkat 11. Aku sudah memutar otak mencari rahasia tingkat ke 12, tapi masih saja otak bebalku ini tidak bisa memecahkannya. Mudah-mudahan nanti kau yang bisa memecahkannya,” kata Lau-ciangbunjin pelan.
Ketika Tan Hoat baru membuka mulut untuk menjawab, Lau-ciangbunjin sudah memotong dengan pertanyaan, “Eh, mana muridmu? Aku belum melihatnya.”
“Dia sedang berkenalan dengan murid-murid yang lain. Teecu menyuruhnya memperkenalkan diri ke bilik-bilik murid angkatan 7 dan 6.”
“Oh..
Baiklah kalau begitu. Nanti malam aku akan kesini lagi untuk melihatnya.”
“Teecu akan menyuruhnya ke bilik Suhu saja,” kata Tan Hoat cepat. Memang sudah menjadi kebiasaan di Bu Tong-pay untuk memanggil ketua mereka sebagai ‘Suhu’ atau Guru, dan membahasakan diri sendiri sebagai ‘teecu’ atau murid.
“Tidak usah, biar aku saja yang kesini lagi. Nah, kau istirahatlah. Nanti malam kita bercerita ya..” Lau Tian Liong pun pergi. Lebih tepatnya menghilang.
“Ilmu Suhu semakin hebat saja.” Tan Hoat hanya menggeleng-geleng. “Ah, aku sampai lupa memberinya selamat atas pengangkatan menjadi Ciangbunjin...”
Malamnya, Lau-ciangbunjin memang benar-benar mengunjungi kamar Tan Hoat untuk berbincang-bincang. Cio San sudah menggunakan pakaian terbaiknya yang didapatkan dari pemberian orang-orang desa. Setelah memberi salam dan penghormatan, ia memperkenalkan dirinya.
“Teecu (murid) bernama Cio San, Ayah teecu bernama Cio Kim, dan Ibu teecu bernama Li Swat Ing,” katanya.
“She (marga) Cio, ada hubungan dengan Jenderal Cio Hong Lim?” tanya Lau-ciangbunjin.
“Beliau adalah Kong-kong (Kakek) teecu,” jawab Cio San.
“Ah, kau keturunan orang besar rupanya. Bagus…, bagus… Eh, nafasmu kenapa berat, dan wajahmu pucat,” sambil bicara begitu, Lau-ciangbunjin meraih tangan Cio San, dan memeriksa nadinya.
“Teecu dalam kandungan Ibu tidak lengkap 9 bulan. Jadi kata Ibu, tubuh teecu lemah dan sering sakit-sakitan,” kata Cio San perlahan.
“Aih.., tak apa-tak apa...” Lau-ciangbunjin seperti membatin.
“Teecu sering terkena serangan sesak nafas dan sering lemah. Harap Ciangbunjin maafkan. Jika nanti dikira teecu merepotkan Bu Tong-pay, lebih baik teecu tidak..,” ucapan Cio San itu dipotong Lau-ciangbunjin.
“Ah bicara apa kau ini. Bu Tong-pay punya ilmu hebat-hebat. Nanti pasti bisa menolong kesehatanmu jika kau rajin berlatih.”
“Terima kasih, Ciangbunjin,” Cio San berkata dengan penuh hormat.
“Hmmm, kau sudah memperoleh ijin dari kedua orang tuamu, bukan? Untuk menjadi anak murid Bu Tong-pay?” tanya Lau-ciangbunjin.
“Eh.. Orang tua boanpwe baru saja meninggal. Boanpwe lalu dititipkan kepada Tan-gihu (Ayah Angkat Tan),” Cio San menjawab perlahan.
“Oh..” Lau-ciangbunjin terdiam, lalu ia melanjutkan, “Kau istirahatlah, Cio San. Nanti mudah-mudahan beberapa hari lagi, kalau murid-murid baru sudah terkumpul semua, kita adakan upacara penerimaan murid. Untuk sementara, kau nikmati dulu suasana Bu Tong-san (gunung Bu Tong) ini, dan berkenalan dengan yang lain.”
“Baik, Ciangbunjin, terima kasih,” kata Cio San.
“Tan Hoat, ikutlah ke bilikku, ada beberapa hal penting yang ingin kubicarakan.”
Setelah sampai di bilik, Lau Tian Liong mulai bertanya,
“Apa yang sebenarnya terjadi dengan Cio San?”
“Keluarganya semua dibantai. Kakeknya, ayah-ibunya, seluruh keluarganya dibantai dalam waktu yang hampir berdekatan,” jawab Tan Hoat.
“Hmm... Kau sudah tahu siapa pelakunya?”
“Belum, Suhu. Akan teecu selidiki nanti. Teecu masih sungkan bertanya kepada Cio San. Khawatir dia jadi sedih,” kata Tan Hoat.
“Ya.. Ya.. Selidikilah setuntas mungkin. Aku khawatir banyak orang yang dendam terhadap keluarganya. Untunglah kau menemukannya dan cepat membawanya kesini. Di Bu Tong-san kita bisa menjaganya,” kata Lau Tian Liong. Ia melanjutkan, “Ada hal penting lain yang ingin kubicarakan denganmu.”
“Sebelum Thay Suhu (Guru Besar) Thio Sam Hong meninggal, beliau sebenarnya berhasil menciptakan sebuah ilmu yang jauh lebih dahsyat dari Thay Kek Kun.”
Tan Hoat hanya berdecak kagum dalam hati.
Lau-ciangbunjin berkata, “Aku sendiri sudah mencoba kedahsyatan ilmu itu. Ah..., kesaktian Thay Suhu memang tak bisa diukur lagi...,” ia berhenti sebentar, “Sayangnya, Guru belum menurunkan ilmu itu kepada siapapun...”
“Ah.....” Tan Hoat tak bisa berkata apa-apa.
“Tapi beliau sempat memberi aku petunjuk yang sampai sekarang tidak bisa kupecahkan. Beliau berkata, ‘Segala itu hampa. Memiliki ilmu sebenarnya tidak memiliki ilmu. Tidak memiliki ilmu sebenarnya yang paling sakti diantara semua.’”
“Bukankah itu ujar-ujaran kuno, Suhu?” tanya Tan Hoat.
“Benar...,tapi apa hubungannya dengan ilmu silat ciptaan Guru itu? Eh, tapi ada lagi sambungannya. Beliau berkata,‘Segala yang bukan ilmu silat, adalah ilmu silat.’”
Tan Hoat diam karena berpikir keras tentang ujar-ujaran Guru Besarnya itu.
“Eh, apakah Suhu sempat melihat bagaimana jurus-jurusnya?”
“Aku.. Aku sebenarnya sempat mencoba ilmu itu. Aku memukul Thay Suhu satu kali, hanya satu kali saja. Beliau tidak memasang kuda-kuda, tidak menangkis, juga tidak memukul...”
“Lalu....,” Tan Hoat bertanya penasaran.
“Sebelum pukulanku sampai, beliau sudah menyentuh pundakku. Saat itu sepertinya seluruh kekuatan hilang. Beliau lalu berbisik, ‘Berlatihlah terus.....’”
“Hah?”
“Iya, ilmu beliau itu seperti tanpa jurus dan kuda-kuda. Sepertinya beliau hanya berjalan saja menuju aku, menyambut pukulan itu seperti... seperti pukulanku hanya berupa uluran tangan....”
Tan Hoat hanya menggeleng-geleng. Memang kesaktian Thay Suhunya itu sudah tidak bisa diukur lagi. Padahal Lau Tian Liong sudah memiliki ilmu kelas tinggi yang menempatkannya di puncak nama-nama dunia Kang Ouw, bahkan setara dengan pemimpin Siau Lim-pay (Partai Silat Shao-Lin) sekarang. Nama Lau Tian Liong
mungkin sekarang termasuk 3 besar orang yang paling tinggi ilmunya di dunia Kang Ouw. Bisa dibayangkan, betapa tingginya ilmu Thio Sam Hong yang mampu mengalahkan Lau-ciangbunjin dalam satu pukulan saja!
“Pikir-pikirkanlah ucapan Thay Suhu yang tadi kuceritakan padamu. Otakmu cerdas, dan pikiranmu
tajam.”
“Teecu sudah hafal dan akan teecu pikirkan terus, Suhu...,” kata Tan Hoat.
“Baiklah, jangan kau ceritakan ini kepada murid lain. Aku menceritakan ini hanya kepadamu saja,” kata Lau-ciangbunjin.
“Eh. Kenapa, Suhu?”
“Ah, sungguh berat mengatakannya. Aku tak tahu harus memulainya darimana...”
Lalu Lau Tian Liong melanjutkan, “Sebelum Thay Suhu meninggal, beliau bercerita bahwa di dunia Kang Ouw ini ada sebuah kitab rahasia ilmu silat yang sampai sekarang belum ditemukan orang. Kitab itu adalah kitab tulisan Tat Mo. Kita tahu bahwa Tat Mo sendiri adalah pencipta ilmu silat. Seluruh jurus dan aliran ilmu silat yang ada sekarang, bersumber dari kitab itu. Kitab itu tersembunyi di suatu tempat rahasia. Thay Suhu Thio Sam Hong memerintahkan aku menugaskan salah satu murid Bu Tong-pay untuk menyelidiki keberadaan kitab itu. Bukan
karena Thay Suhu ingin kita menguasai isi kitab itu, tetapi untuk menjaganya dari tangan-tangan sesat. Bisa kau bayangkan, betapa hebohnya jika kitab itu nanti jadi rebutan semua aliran.”
Lau Tian Liong melanjutkan,
“Semua pelajaran ilmu pernafasan, ilmu silat, dan ilmu-ilmu lainnya bersumber dari kitab itu. Dulu, seratus tahun lebih, sempat ada kitab serupa yang jadi rebutan pendekar-pendekar Kang Ouw. Tapi kitab rebutan itu hanya berupa ringkasan dari kitab tulisan Tat Mo itu. Bisa kau bayangkan, kitab ringkasan saja, sudah bisa menghasilkan ilmu-ilmu dahsyat yang tiada tanding, apalagi kitab aslinya.”
“Thay Suhu berkata, bahwa ilmu Thay Suhu sendiri sebenarnya belumlah menyamai isi kitab Tat Mo itu. Tapi pemahaman beliau sebenarnya sudah bisa menjangkau isi kitab itu. Sayang, sebelum sempat memberi aku petunjuk-petunjuk, beliau sudah keburu meninggal. Hanya ujaran-ujaran yang tadi aku sampaikan padamu itu, yang
sempat disampaikan Guru kepadaku.”
“Jadi sekarang, aku harus merepotkanmu untuk menyelidiki keberadaan kitab ini. Lakukan secara rahasia, jangan sampai menimbulkan kehebohan di dunia Kang Ouw. Menurut Thay Suhu, keberadaan kitab itu mungkin hanya diketahui tidak lebih dari 3 orang.”
“Teecu siap berangkat saat ini juga, jika itu perintah Suhu,” tegas Tan Hoat.
“Jangan, beberapa hari lagi saja. Nanti bisa menimbulkan kecurigaan jika kau langsung berangkat, padahal baru saja sampai di Bu Tong-san. Istirahatlah dulu. Pergunakan waktumu untuk memberi petunjuk-petunjuk dasar ilmu Bu Tong-pay pada muridmu. Walaupun ia belum resmi diangkat menjadi murid Bu Tong-pay, secara tidak langsung ia berhak belajar dasar ilmu Bu Tong-pay karena ia sudah menjadi anak angkatmu.”
“Teecu siap laksanakan perintah.”
“Nah, pergilah.”
Setelah mengucap salam dan menghaturkan hormat, Tan Hoat meninggalkan kamar Lau Tian Liong. Hatinya tidak enak mendengar adanya kabar kitab Tat Mo itu. Dunia Kang Ouw pasti akan heboh tidak lama lagi.
Sekitar 10 hari kemudian, seluruh murid angkatan ke-3 sudah kembali dan membawa muridnya masing-masing. Dua hari setelah itu, diadakan upacara penerimaan murid. Upacara ini merupakan salah satu acara besar di Bu Tong-pay. Oleh karena itu, harus diikuti oleh seluruh murid Bu Tong-pay. Perkecualian bagi yang mendapat
tugas lain seperti berjaga, ronda, atau mengurus pekerjaan ‘rumah tangga’ seperti memasak, mengurusi air, bersih-bersih, atau mengurus ternak.
Balai yang digunakan untuk upacara ini adalah balai utama. Ukurannya besar dan sanggup menampung seluruh murid Bu Tong-pay. Bahkan masih sanggup menampung beberapa ratus orang lagi. Banyak sekali kejadian di ruangan ini sejak dahulu. Seperti kekacauan acara peringatan ulang tahun Thio Sam Hong ke-100. Saat itu
Bu Tong-pay kedatangan banyak ‘tamu’ yang ingin memberi ucapan selamat, namun maksud sebenarnya adalah untuk memperebutkan benda-benda incaran dunia Kang Ouw (persilatan).
Ada juga penyerbuan yang dilakukan seorang Putri Goan beserta anak buahnya. Penyerbuan ini berhasil digagalkan murid kesayangan Thio Sam Hong dulu itu. Malah akhirnya, murid kesayangan itu jatuh hati dan menikah dengan sang Putri Goan, lalu menghilang dan menyepi entah kemana.
Banyak lagi cerita-cerita mengharukan yang terjadi di balai utama ini. Maka memang ada suasana haru yang timbul di hati para murid jika memasuki ruangan ini. Apalagi bayangan Thay Suhu masih membekas di ingatan mereka kala memimpin upacara-upacara. Ada suasana syahdu dan sendu yang mengiringi suasana sakral
jika memasuki ruangan ini.
Murid-murid sudah berbaris rapi. Para Tianglo (Penasehat) dari sang Ciangbunjin sudah hadir dan berada di posisi samping dari mimbar ketua. Tapi sang Ketua sendiri belum datang.
Beberapa murid membaca ujar-ujaran dari kitab kuno, dan juga ujar-ujaran Thio Sam Hong.
“Ciangbunjin memasuki balai utama…!”, terdengar teriakan dari sudut ruangan.
Semua orang lalu berlutut. Ini adalah Ciangbunjin pertama sejak kepergian Thio Sam Hong. Wibawanya tidak seperti Thio Sam Hong. Wibawa siapapun TIDAK AKAN MUNGKIN seperti Thio Sam Hong. Tapi Lau-ciangbunjin memiliki wibawa sebagai seorang Ciangbunjin. Itu saja sudah cukup.
“Murid-murid Bu Tong-pay, kini kita berkumpul untuk melakukan upacara penerimaan murid baru. Murid baru ini adalah murid-murid pilihan, yang cara pencariannya agak sedikit berbeda dari cara-cara dahulu.”
“Seperti kita semua tahu, Bu Tong harus menambah banyak murid berbakat. Kepergian Thay Suhu membuat kita harus rajin berbenah. Tidak ada satupun murid yang bisa lulus ujian naik ke tingkat 4. Sehingga kami, memutuskan untuk mencari banyak murid berbakat, melalui cara yang sedikit berbeda, agar Bu Tong tidak kekurangan
murid-murid hebat nantinya.”
“Bagi kalian yang sudah menjadi murid Bu Tong, berlatihlah lebih giat untuk bisa mengharumkan nama perguruan Bu Tong. Yang terpenting, kalian harus bisa mengharumkan nama bangsa ini ke semua penjuru bumi.”
“Saat ini, Bu Tong kedatangan 15 murid baru. Mereka telah melewati syarat-syarat yang ditetapkan. Mereka berasal dari keluarga dan keturunan yang jelas. Memiliki bakat, tubuh, dan tulang yang cocok untuk belajar ilmu silat. Kecuali Cio San, yang memiliki masalah kesehatan. Walaupun sering sakit dan mempunyai tubuh yang lemah, ia tetap diterima, karena memiliki susunan tulang yang bagus untuk belajar silat. Ia juga memiliki ketertarikan untuk belajar kitab-kitab kuno dan kitab nabi-nabi. Kita sedang kekurangan murid yang mempelajari ilmu surat, karena selama ini kita terlalu memusatkan perhatian untuk mempelajari ilmu silat. Ini mungkin disebabkan pergolakan perang pengusiran penjajah dulu.”
“Sekarang kita harus menata lagi perguruan ini, karena sudah ditinggal oleh Thay Suhu. Aku harap seluruh murid Bu Tong-pay mendukung rencana-rencana ini, dan melakukan yang terbaik dalam pelaksaannya.”
“Murid siap menaati perintah.” Jawaban ratusan murid Bu Tong-pay menggema di dalam
balai utama.
“Aku memanggil kelima belas calon murid Bu Tong-pay...” Lau Tian Long lalu menyebutkan nama-nama itu. kelimabelas nama murid itu, termasuk Cio San lalu maju kedepan. Mereka semua memang sudah diajarkan tata cara upacara penerimaan murid ini sebelumnya.
“Ucapkanlah sumpah setia Bu Tong ini, tirukan kata-kataku....,” perintah sang Ciangbunjin.
Terdengar Lau Tian Liong mengucapkan sumpah yang ditirukan oleh kelimabelas murid baru itu. Isi ucapan sumpah itu tidak begitu panjang. Intinya, semua murid Bu Tong menyatakan tunduk dan patuh kepada semua aturan yang ada di Bu Tong-pay.