Dragon and Phoenix

Dragon and Phoenix
Bab 27: Pertarungan



Tanpa pikir panjang Cio San menjawab, “Setuju!”


Tong Sin Sat kagum juga melihat keberanian Cio San.


“Tidak perlu kagum, Tuan Walikota,” kata Cio San sambil tersenyum.


“Sudah lega, Cio San?” tanya Bun Tek Thian sambil tertawa.


“Bebas merdeka,” kata Cio San sambil mengelus-elus perutnya.


Ia kembali duduk di tempat semula dan membiarkan Bun Tek Thian menotoknya. Setelah itu, Bun Tek Thian memasukkan pil penawar ke dalam mulut Cio San.


Mereka ngobrol di sana sampai hari mulai gelap, lalu melanjutkan perjalanan. Tentunya Bun Tek Thian mendapat tambahan bekal makanan dan uang. Setelah keluar dari kota kecil itu, mereka memasuki desa dan hutan-hutan yang tidak terlalu lebat.


Pada shubuh hari, ketika memasuki hutan bambu, Cio San yang terbaring di kereta dan ditimbun jerami tiba-tiba berkata, “Di depan ada beberapa orang yang menghadang jalan.”


“Darimana kau tahu? Wah, telingamu hebat sekali..” Bun Tek Thian memang sudah melihat ada beberapa orang di depan. Tapi jaraknya masih jauh sekali.


 “Maaf, aku harus menotok syaraf suaramu.” Bun Tek Thian menjulurkan tangan dan menotok sebuah titik di tenggorokan Cio San.


Begitu kereta mendekat, terlihat ada 8 orang yang berdiri di depan. Mereka memakai seragam tentara kerajaan.


“Berhenti!” seru seseorang yang terlihat sebagai pimpinan pasukan kecil itu.


Bun Tek Thian memberhentikan keledainya. Ia bertanya, “Ada apa, Tuan?”


“Biarkan kami memeriksa keretamu,” kata si pimpinan.


“Saya hanya membawa jerami untuk di jual ke kandang-kandang kuda, Tuan. Tidak membawa apa-apa,” kilah Bun Tek Thian.


Ia baru mau turun dari keledainya ketika sabetan pedang sudah diarahkan ke kepalanya. Kaget sekali Bun Tek Thian melihat serangan ini. Tapi ia bukan pesilat sembarangan. Sedikit saja menggerakkan kepala, sabetan pedang itu sudah lewat diatasnya. Sabetan pedang itu bukan sabetan pedang biasa, yang dilancarkan oleh seorang tentara biasa pula. Tentara rendahan tak mungkin memiliki ilmu setinggi itu.


Bun Tek Thian melepaskan pukulan ke arah salah seorang, tapi teman-temannya yang lain sudah sigap menghalangi pukulan itu dengan sabetan pedang yang tak kalah dahsyat dengan sabetan yang tadi.


“Ilmu pedang Kun Lun-pay.” Bun Tek Thian berkata dalam hati.


Satu sabetan lain mengincar kerongkongan.


Belum sempat berpikir, sebuah serangan mengincar ulu hatinya.


“Kalau yang ini, adalah ilmu Tian Shan-pay,” pikirnya.


“Apa kalian partai-partai lurus sudah bersatu-padu ingin menghancurkan kami?” Sambil marah, ia mengelurkan 8 pukulan sekaligus. Hawa panas yang dahsyat keluar dari kedua telapak tangannya. Tapi semua pukulan itu bisa dihindari oleh ke-8 lawannya.


“Itu langkah ‘Menggapai Awan’ milik Bu Tong-pay!” Bun Tek Thian berseru kaget.


Ke-8 orang itu menyerangnya dengan berbagai macam jurus dari berbagai macam aliran. Bun Tek Thian tetap melayaninya dengan tenang. Tapi ia tidak habis pikir, bagaimana mungkin ke-8 penyerangnya ini menguasai hampir segala macam jurus dari berbagai aliran.


Pertempuran baru beberapa menit, tapi pohon-pohon dan tetumbuhan di sekitar situ sudah porak-poranda. Bisa dibayangkan, betapa dahsyat serangan pedang dan pukulan yang mereka semua lancarkan.


“Mengapa murid-murid yang kuminta mendampingiku belum juga tiba?” tanya Bun Tek Thian dalam hati.


Seperti yang telah kita ketahui, Bun Tek Thian memang telah memerintahkan beberapa murid untuk mengawal dirinya secara tersembunyi. Mereka memang selalu mengawalnya sejak ia memerintahkan hal itu kepada Sow-cukong. Entah mengapa sekarang malah tidak terlihat batang hidung seorang pun.


Bun Tek Thian terdesak setelah puluhan jurus. Dibandingkan dengan Bu Tong-pay Ngo Kiam, ke-8 orang ini ilmunya lebih tinggi, serangannya lebih dahsyat, jurus-jurus mereka pun berasal dari berbagai macam aliran!


Ia terdesak. Walaupun tombak goloknya kini sudah berada di tangannya, menghadapi ke-8 penyerang ini tetap bukanlah hal yang gampang. Teramat sulit malah. Hujan pedang mereka jauh lebih rapat daripada hujan pedang yang pernah dia alami sepanjang hidupnya!


Tenaganya terkuras habis, karena serangan yang ia hadapi bukan saja serangan yang cepat dan ganas, melainkan juga berisi tenaga dalam yang tinggi. Setiap kali tombak goloknya beradu dengan pedang, setiap kali itu juga ia merasa getaran yang hebat. Tapi dengan gagah ia berusaha untuk terus melindungi keretanya. Jangan sampai ada seorang pun yang berhasil menembus kibasan angin puyuh tombak goloknya.


Cio San masih berbaring di dalam tumpukan jerami. Dari suara pertarungan yang dia dengar, tahulah ia bahwa Bun Tek Thian sudah terdesak. Langkah-langkahnya sudah mulai berat. Memang sejak memasuki jurus ke-108, gerakannya sudah mulai melambat. Tapi Bun Tek Thian masih dengan gagah mempertahankan posisinya untuk


menjaga kereta.


Delapan buah pedang mengincar kepalanya. Bun Thek Thian mengangkat tongkat goloknya untuk menangkis. Tahu-tahu sebuah tendangan telah menghantam tulang rusuknya. Ia sebenarnya sudah tahu serangan ini akan datang. Tapi gerakannya sudah kalah cepat. Dalam hati ia bergidik, betapa jauh ilmu silatnya tertinggal oleh


orang-orang ini.


Menghadapi dua orang seperti ini, ia masih bisa. Tapi delapan sekaligus? Bun Tek Thian telah siap menghadapi ajalnya. Karena tendangan di tulung rusuk itu menghempaskannya ke belakang. Ia jatuh terjungkal. Kedelapan pedang sudah mengincar seluruh tubuhnya!


Ia membuka mata lebar-lebar menghadapi kematiannya.