
Pagi telah tiba hanya dalam beberapa kedipan mata. Cio San dan Cukat Tong tidur pun hanya beberapa jam saja. Tapi badan mereka telah segar saat mereka bangun. Suara hewan-hewan yang ada di dalam hutan membuat pagi itu terasa indah. Seperti tidak ada kematian yang semalam meliputi istana ini.
Bau wangi teh dan makanan memenuhi balairung istana kecil ini. Cio San bangkit dan menuju ke sumber wangi ini. Sebuah dapur ternyata berada di bagian belakang istana yang indah ini. Ang Lin Hua rupanya sedang menyiapkan sarapan.
Melihat kedatangan Cio San, ia mengangguk dan memberi salam. Cio San membalas salamnya, lalu bertanya, “Siocia (Nona) sedang masak apa?”
“Hanya makanan kecil untuk sarapan, Kauwcu. Hanya ini yang tersisa dari kemarin. Hamba bermaksud berburu dulu baru kemudian memasak untuk makan siang,” jawabnya.
“Tidak perlu repot-repot, Siocia. Biar nanti kami saja yang berburu dan memasak,” kata Cio San. Tangannya sudah menjawil sebuah kue yang ada di situ. “Enak juga.”
“Kalau semua-semuanya Kauwcu yang mengerjakan, lalu apa guna hamba menjadi anggota,” kata Ang Lin Hua sedikit tersenyum.
“Aku sudah terbiasa mengerjakan segala hal sendirian. Mana mungkin menyuruh orang lain mengerjakan keperluanku. Siocia pun sebaiknya jangan terlalu capek dulu. Luka yang kemarin ‘kan belum pulih seluruhnya.”
Mulutnya berbicara, tapi juga sambil mengunyah.
“Hamba bisa paham, mengapa ayah memilih Tuan sebagai pengganti beliau,” ujar Ang Lin Hua.
Cio San tidak menjawab. Ia sibuk memilih-milih kue.
“Dalam sekali pandang, orang bisa tahu kalau Tuan adalah orang yang baik,” kata Ang Lin Hua.
“Justru seharusnya kau waspada, jika ada orang yang terlihat baik,” jawab Cio San santai sambil mulutnya tetap mengunyah. Dia paling suka makan enak. Dan kue ini enaknya bukan main.
“Ini kau yang masak, atau orang lain?” tanyanya kepada Ang Lin Hua.
“Kita punya koki di sini. Tapi dia sudah meninggal saat serangan kemarin. Hamba cuma memanaskan saja,” jawab Ang Lin Hua.
Cio San manggut-manggut.
“Mari kubantu kau membawa semua ini ke depan. Cukat Tong mungkin sudah kelaparan,” kata Cio San. Tangannya sudah menata guci teh dan piringan kue.
Ang Lin Hua ingin mencegahnya, tapi apa daya, Cio San sudah melakukan semuanya.
Akhirnya Ang Lin Hua hanya membawa beberapa piring yang tersisa dengan kedua tangannya. Begitu mereka sampai ke ruang balairung, Cukat Tong juga sudah bangun. Ia sedang bersandar di kursinya. Semalam mereka berdua memang tertidur di kursi.
Melihat Cio San dan Ang Lin Hua datang, Cukat Tong tersenyum dan berkata, “Wah, baru sehari di sini, aku sudah jadi kaisar. Punya dayang yang cantik dan seorang taykham (orang kebiri yang jadi pegawai di istana) yang tampan. Hahahaha….”
Cio San ikut tertawa. Ang Lin Hua yang wajahnya tidak senang.
Cio San mengerti dan berkata kepadanya, “Jangan tersinggung, Nona. Beginilah cara kami bercanda.”
Ang Lin Hua mengangguk tapi tidak berkata apa-apa. Cukat Tong tersenyum saja.
“Eh, teh Lin-Cha? Enak sekali ini,” kata Cukat Tong.
“Silahkan, Paduka Kaisar. Hanya ini yang bisa hamba sajikan kepada Paduka,” jengek Cio San.
Ang Lin Hua akhirnya tidak bisa menahan diri, ia lalu berkata, “Tuan, anda adalah Ma Kauw-kauwcu!”
Cio San segera tersadar. Si nona ini marah bukan karena Cukat Tong menyebutnya ‘dayang’. Tetapi marah karena Cio San melayani Cukat Tong. Seorang Kauwcu dari Ma Kauw haruslah punya wibawa!
Ia tersenyum lalu berkata dengan lembut, “Aku mengerti, Siocia. Maafkan aku.”
Ang Lin Hua hanya mengangguk, lalu berbalik ke dapur.
“Aku suka perempuan yang terus terang,” kata Cukat Tong. Ia sudah menuangkan teh nya. Lalu lanjutnya, “Selama ini, mereka biasanya diam membisu, berharap laki-laki mengerti isi hati mereka. Setan dan dewa saja tidak bisa mengerti isi hati manusia, kenapa mereka berharap laki-laki bisa mengerti?”
“Oh, jadi si Raja Maling ini sudah mulai beneran jatuh cinta rupanya..,” tukas Cio San tersenyum.
“Eh, yang berbau cuka ini teh nya atau kata-katamu ya? Sungguh sukar dibedakan,” kata Cukat Tong sambil tertawa. Ia melanjutkan, “Kau tidak tertarik padanya?”
“Aku sudah punya seorang kekasih,” jawab Cio San.
“Di mana dia sekarang?”
“Di kota Liu Ya”
“Kau pergi bertualang meninggalkannya?”
“Iya.” Cio San menjawab sambil minum tehnya.
“Dan dia bilang, dia akan menunggu sampai engkau pulang?” tanya Cukat Tong.
“Benar.”
“Kau siap-siaplah kecewa,” kata Cukat Tong.
“Kenapa bisa begitu?”
“Di dunia ini, mana ada perempuan yang setia? Ditinggal pergi kekasihnya sebentar saja, tak lama kemudian mereka sudah punya kekasih baru. Perempuan itu tidak tahan kesepian. Mereka akan setia, selama mereka belum menemukan lelaki yang lebih baik. Tapi jika sudah menemukan, maka mereka akan melupakanmu begitu saja.”
Cio San malah terbahak-bahak. “Ini pengalaman pribadimu?”
Cukat Tong agak sedikit tercekat, tapi ia berkata “Ini pengalaman pribadi hampir semua lelaki di dunia. Kau pun sebentar lagi akan mengalaminya.”
Cio San tidak berkata apa-apa. Malah terdengar suara Ang Lin Hua, “Tuan Raja Maling salah. Perempuan justru jauh lebih setia daripada lelaki.”
“Nah, sudah mulai ramai nih,” kata Cio San.
“Sudah berapa wanita yang Tuan temui? Apakah Tuan sudah mengencani mereka satu-satu?” tanya Ang Lin Hua. Kata-katanya lembut saja. Tapi Cukat Tong tidak bisa menjawab.
“Wanita yang mati bunuh diri karena dikhianati lelaki, sudah tak terhitung jumlahnya di dunia. Wanita yang tidak menikah sampai seumur hidup karena menanti kekasihnya pun, juga sudah tak bisa dihitung.”
“Mari duduk, Siocia (nona),” Cio San berdiri dan menarik kursi di sebelahnya.
Ang Lin Hua lalu duduk. Ia menuangkan teh ke cangkirnya. Gerakannya halus dan lembut.
Melihat Cukat Tong yang diam saja sambil senyum-senyum sendiri, Cio San ikut senyum-senyum juga.
Kaum lelaki di mana-mana memang sama saja. Mereka selalu menjelek-jelekkan perempuan. Tapi jika ada perempuan cantik duduk di hadapan mereka, segera umpatan jelek itu menghilang entah kemana.
Cukat Tong malah mengalihkan pembicaraan, katanya kepada Cio San, “Rencanamu yang semalam, kapan kau laksanakan?”
“Segera sesudah Nona ini puas memarahimu,” jawab Cio San enteng.
Mereka berdua malah tertawa.
Ang Lin Hua malah tambah jengkel.
“Jika pernah ada wanita yang menyakiti Tuan, bukankah harusnya Tuan berkaca kepada diri sendiri? Apa penyebab ia mengkhianatimu? Seringkali wanita memutuskan hubungan karena merasa kekasihnya itu memang tidak pantas bagi dirinya.”
“Auw..,” hanya itu yang keluar dari mulut Cio San. Ia sudah tidak bisa menahan tawanya.
Cukat Tong kelabakan. Ia malah memarahi Cio San, “Oh, jadi hanya segitu saja persahabatan kita?” Wajahnya terlihat marah, tapi bibirnya mengulum senyum.
“Aku bisa menolongmu dari ancaman pedang. Tapi tidak bisa berbuat apa-apa menghadapi kemarahan wanita. Urusan ini, kau sendiri yang memulainya, kenapa menyalahkan aku?” tukas Cio San.
Melihat Cio San berada di pihaknya, Ang Lin Hua kini tersenyum, segera ia melanjutkan, “Perempuan itu makhluk yang sederhana, Tuan. Saking sederhananya, para lelaki menganggap kami makhluk yang tidak mudah dimengerti.”
Cukat Tong manggut-manggut.
Memang lebih baik kau hanya manggut-manggut saja, jika ada perempuan yang sedang memarahimu.
Setelah Cukat Tong ‘menyerah’, segera kemarahan Ang Lin Hua pun surut. Ia bertanya kepada Cio San, “Kauwcu berencana hendak melakukan apa?”
“Aku ingin berkeliling melihat keadaan sekitar sini. Bisa Siocia temani? Ada bebarapa hal yang ingin kutanyakan sambil jalan.”
“Bisa, Kauwcu.”
Begitu selesai sarapan, mereka lalu bersiap-siap pergi. Cio San lalu berkata kepada Cukat Tong, “Kau masih ada dua janji kepadaku, bukan?”
“Aku masih ingat.”
“Bisakah kutagih janjimu yang pertama?” tanya Cio San.
“Sekarang?”
“Kalau tidak sekarang, aku takut dunia tambah kacau balau,” tukas Cio San sambil tersenyum.
“Kau memintaku mencuri apa?”
“Tolong bawakan racun hebat itu kepadaku.”
“Maksudmu, racun yang digunakan si ‘otak besar’ itu?”
“Iya.”
“Baiklah. Aku berangkat.”
Cukat Tong berangkat dengan santai dan ringan. Mencuri racun sakti itu adalah sebuah pekerjaan yang sangat sulit dan berbahaya. Di mana ia harus mencurinya? Kemana ia harus mencarinya? Tapi ia pergi dengan ringan, seolah-olah urusan mencuri racun itu adalah semudah pergi ke ******.
Cukat Tong tidak bertanya untuk apa Cio San memintanya mencuri racun itu.
Cio San juga tidak mengucapkan kata-kata untuk memberi Cukat Tong semangat.
Masing-masing dari mereka telah paham atas kemampuan mereka. Mereka berpisah seperti perpisahan biasa. Padahal masing-masing sadar, bahwa itu adalah pekerjaan yang sangat sukar di muka bumi ini.
Cukat Tong senang karena Cio San mempercayainya dalam pekerjaan ini.
Cio San pun senang ia memiliki sahabat yang bisa diandalkan.
Masing-masing saling mengerti.
Maka mereka berpisah dengan ringan. Seolah-olah yakin bahwa pekerjaan ini akan diselesaikan dengan mudah dan Cukat Tong akan pulang dengan selamat.
“Aku akan kembali dalam 3 hari,” kata Cukat Tong. Orangnya sendiri telah menghilang, kata-katanya masih terdengar.
Melihat sikap kedua orang sahabat ini, mau tidak mau, Ang Lin Hua bertanya, “Sudah berapa lama Kauwcu mengenal si Raja Maling?”
“Baru 2 atau 3 hari,” jawab Cio San enteng.
“Baru dua-tiga hari tapi Tuan berdua sudah seakrab itu?”
“Begitulah.”
“Dan Tuan yakin ia akan kembali dalam 3 hari?”
“Jika ia bilang akan kembali siang ini pun, aku tetap percaya,” jawab Cio San enteng.
“Memang para lelaki beda dengan kami kaum perempuan,” kata Ang Lin Hua.
“Dimana perbedaannya?”
“Kami tidak pernah percaya orang lain, bahkan sahabat kami sendiri. Kami hanya percaya kepada diri kami sendiri.”
“Oooo….” Cio San manggut-manggut. Urusan perempuan, memang hanya perempuan yang
mengerti.
Memang bagi kaum lelaki, sahabat itu adalah harta terbaiknya. Sedangkan perempuan, diri mereka sendirilah harta terbaiknya. Mungkin kecantikannya, mungkin kepintarannya, mungkin kepandaiannya, mungkin pula kekayaannya.
Mereka berdua berjalan menyusuri jembatan kecil di bagian belakang istana. Walaupun tidak begitu besar, istana itu indah sekali. Seluruh bangunannya dilindungi oleh tembok batu yang tebal dan tinggi. Pemandangan di dalamnya sangat indah. Di pagi yang cerah saat burung berkicau dan hewan hutan berkeliaran dengan ramainya, suasana di istana itu sungguh indah.
“Aku masih heran, kenapa istana ini disebut Istana Ular?” tanya Cio San.
“Dulu, istana ini dibangun oleh Kaisar Hong Wu. Sebagai tempat pertahanannya untuk daerah sungai. Makanya ada sebuah dermaga besar di depan. Dinamai Istana Ular karena dulu sebelum istana ini dibangun, banyak ular di daerah ini. Tapi Kaisar memanggil seorang ahli racun dari barat untuk mengusir semua ular-ular itu, sebelum membangun istana ini.”
“Ooo, jadi istana ini dulunya milik kerajaan. Lalu kenapa sekarang jadi milik Ma Kauw?”
“Setelah bangsa Goan (Mongol) berhasil di usir, istana ini lantas ditinggalkan, dan tak ada yang mengurusi. Akhirnya banyak ular yang kembali ke sini. Karena itu, jarang ada orang yang mau datang ke sini. Seorang ahli racun dari Ma Kauw berhasil mempelajari rahasia untuk mengusir ular, dia lalu tinggal di sini.”
Cio San manggut-manggut.
Mereka kini telah berada di luar istana. Hutan di luar istana sangat lebat dan rapat. Cahaya matahari hanya bisa menembus sedikit saja. Cio San banyak memetik dedaunan. Rupanya kebiasaan mengumpulkan bahan masak dan obat, tidak pernah hilang dalam dirinya. Di mana saja ia menemukan tumbuhan yang menarik hatinya, pasti dikumpulkannya.
Sambil keliling-keliling mereka bercakap-cakap. Cio San bertanya tentang banyak hal, terutama yang berkaitan dengan Ma Kauw. Cio San merasa kagum juga dengan partai ini. Banyak hal dalam partai ini yang baru diketahuinya. Seperti jumlah cabang rahasia yang tersebar, bahkan juga ia baru tahu kalau di istana kaisar terdapat
banyak anggota Ma Kauw.
Cio San juga bertanya tentang peraturan-peraturan partai. Ia masih sangat buta dalam hal ini. Ang Lin Hua menjelaskan secara ringkas dan jelas. Setelah mereka selesai berkeliling, Cio San sudah paham hampir sebagian besar tentang Ma Kauw.
Kedua orang ini lalu kembali ke Istana Ular. Cio San mengeluarkan dedaunan dan akar-akaran yang tadi ia kumpulkan. Ia lalu bertanya, “Di mana tempat obat-obatan?”
Ang Lin Hua lalu mengantarnya ke sebuah ruangan. Ruangan yang tertata rapi dan bersih. Di dalamnya terdapat banyak rak yang berisi bahan obat. Persis seperti ruangan di markas rahasia Ma Kauw dalam perut gunung dahulu.
Cio San memperhatikan semua dan mencari-cari bahan yang ia butuhkan. Ang Lin Hua tidak tahu apa yang akan dilakukan Cio San. Tapi dia juga tidak bertanya apa-apa.
Begitu selesai, Cio San tersenyum.“Bahan-bahannya kini lengkap.”
“Kauwcu membutuhkan bahan-bahan ini untuk apa?” tanya Ang Lin Hua.
Kening Ang Lin Hua berkerut.
“Jangan khawatir, sedikit-banyak aku sudah paham penyakitmu. Masih bisa disembuhkan.”
Di dunia ini, hanya Thio Sam Hong yang bisa menyembuhkan penyakit Ang Lin Hua. Jika Cio San mengaku-ngaku bisa menyembuhkan pula, bukankah hal itu terasa berlebihan? Itu sama saja Cio San mengaku dirinya setara dengan Thio Sam Hong.
“Siocia mungkin tidak yakin jika aku bisa menyembuhkanmu. Tapi percayalah, aku sudah paham dengan apa yang terjadi padamu.”
“Penyakitmu itu hanya berupa penyakit kulit biasa. Kekuatan tenaga ilmu Menghisap Matahari membuat kulit mengeras dan kehilangan kekenyalannya. Ini karena organ-organ wanita berbeda dengan lelaki. Kekuatan ilmu Menghisap Matahari ini hanya mampu dikuasai oleh lelaki. Jika kau bisa mengatur jalannya tenaga itu di dalam
tubuhmu sendiri, organ-organ dalam tubuh akan berfungsi baik. Penyakitmu akan hilang,” jelas Cio San.
“Tapi bagaimana caranya? Kepandaian mengatur jalan tenaga hanya dimiliki oleh murid-murid Bu Tong-pay. Hanya Thay Kek Kun yang bisa sejajar dengan ilmu Menghisap Matahari. Ilmu hamba ini sudah mencapai tahap 9, dua tingkat di bawah mendiang Ayah,” kata Ang Lin Hua.
“Jangan khawatir, aku bisa Thay Kek Kun sedikit-sedikit,” kata Cio San sambil senyum.
Ang Lin Hua hanya bisa terbelalak. “Sedikit-sedikit?”
Tapi entah kenapa ia malah percaya. Pengalaman bertarung dengan Cio San semalam, setidaknya membuat ia harus percaya.
“Pantas saja hamba kalah dalam pertarungan semalam.”
Cio San tersenyum.
“Penyakit Siocia bisa disembuhkan, jika Siocia mempelajari Thay Kek Kun. Aku akan mengajarimu.”
Sinar di mata Ang Lin Hua memudar. Rupanya ia kecewa.
“Hamba tak ingin mempelajarinya.”
“Kenapa?” tanya Cio San.
“Itu bukan ilmu Ma Kauw.”
Cio San geleng-geleng kepala.
“Jika aku sebagai Kauwcu yang baru, menciptakan ilmu yang baru pula, apa kau mau mempelajarinya?” tanya Cio San.
“Tentu hamba akan mempelajarinya.”
“Baiklah, bersiap-siaplah. Aku akan mengajarimu sebuah ilmu baru.”
Segala ilmu silat pada dasarnya bersumber dari satu. Yaitu hasil ciptaan Bhiksu Tat Mo saat ia menyebarkan agama Buddha di Tionggoan ribuan tahun yang lalu. Saat itu, untuk melindunginya dari gangguan, ia menciptakan ilmu bela diri. Ilmu itu kemudian diajarkan kepada murid-muridnya.
Dalam perkembangannya, ilmu itu kemudian menyebar ke segala golongan. Golongan itu kemudian mengembangkannya sesuai pemahaman dan pengetahuan mereka masing-masing. Perkembangan itulah yang membuat ilmu silat mulai berbeda satu sama lain. Tetapi pada dasarnya, semua ilmu itu bersumber kepada ciptaan Tat Mo.
Cio San dalam pengelanaannya, secara tidak sengaja telah mencapai inti dasar ilmu silat. Itulah kenapa saat ia bersilat di atas gunung, Kam Ki Hiang mengira Cio San sedang bersilat menggunakan jurus-jurus milik Kam Ki Hiang.
Karena pada intinya, seluruh ilmu silat itu sama!
Thay Kek Kun sebenarnya sama saja dengan ilmu Menghisap Matahari. Hanya penggunaan dan pengembangannya yang berbeda. Jika pengembangannya dihapus, maka inti yang tertinggal dari kedua ilmu itu pasti sama persis.
Mereka berdua lalu ke balairung. “Siocia, coba lihat gerakan ini lalu hafalkan.”
Cio San bergerak. Tubuhnya seperti orang menari. Gerakan Thay Kek Kun memang seperti orang menari. Ang Lin Hua memperhatikan, baginya jurus itu bukan jurus baru. Melainkan Thay Kek Kun. Tapi saat di gerakan kedua, gerakan Cio San sudah berubah. Kali ini adalah gerakan beberapa jurus ilmu Menghisap Matahari.
Pada dasarnya, Cio San tidak menggabungkan kedua ilmu itu. Ia hanya bersilat menggerakkan tubuhnya. Matanya tertutup, merasakan desahan angin dari jendela. Menghirup udara segara dari hutan yang lebat. Suara gemericik air di kolam belakang pun dinikmatinya.
Tubuhnya bergerak, hentakan tenaga terasa berat namun lembut. Cio San seperti kembali ke Bu Tong-san, saat ia bersilat secara sembarangan. Hanya mengikuti kemana ‘gerakan’ itu membawanya.
Tapi bagi Ang Lin Hua, gerakan Cio San adalah gerakan silat maha dahsyat, penggabungan dari berbagai macam ilmu silat yang pernah dilihatnya. Ada gerakan Thay Kek Kun, ada pernafasan Go Bi-pay, ada hentakan tenaga Cakar Macan-nya Siau Lim-pay, ada hisapan tenaga Menghisap Matahari.
Semua itu seperti menjadi satu dalam gerakan Cio San. Si nona memperhatikan dengan seksama. Untunglah bakatnya dalam ilmu silat sangat tinggi, sedikit-banyak, ia sudah hafal gerakan-gerakan Cio San tadi.
Setelah selesai, tubuh Cio San seperti lebih bercahaya. Entah memang seperti itu, atau hanya dalam pikiran Ang Lin Hua saja.
Cio San sendiri merasa tubuhnya sangat segar dan dipenuhi kekuatan yang dahsyat.
“Siocia sudah hafal seluruh gerakannya?” tanyanya.
“Hampir seluruhnya,” jawab Ang Lin Hua.
“Bagus. Tolong hafalkan, karena aku sendiri sudah lupa seluruhnya.”
Ang Lin Hua heran. Tapi Cio San memang tidak berbohong. Gerakan silat yang tadi ia lakukan sungguh tidak dipikirkan atau dikarang sebelumnya.
Ia hanya bergerak!
Ia mengosongkan segala pikirannya dari pengetahuan, pemahaman, dan jurus-jurus silat. Hasilnya adalah sebuah ilmu silat yang maha dahsyat.
Sudah sering kita lihat penyair yang menemukan ide puisi yang indah, tapi tidak lama setelah itu ia lupa akan syair-syair puisinya sendiri. Atau pemain musik yang menggubah lagu, tapi setelah itu dia lupa akan lagunya.
Kenapa pesilat tangguh tidak bisa seperti itu?
Cio San bisa.
Ia hanya membiarkan tubuhnya dibuai oleh gerakan-gerakan indah. Seperti penyair yang tenggelam dalam kata-kata indahnya. Seperti pemain musik yang terbenam dalam musiknya yang merdu.
“Siocia, lakukanlah gerakan-gerakan tadi.”
Si nona pun menurut. Gerakannya pun indah, padahal baru sekali melihat. Walaupun tidak selancar dan semengalir Cio San, gerakan-gerakan si nona boleh dibilang gerakan silat kelas tinggi.
“Atur pernafasan. Jangan sampai tenaga yang terkumpul di bawah perut bocor. Salurkan tenaga keras ke kaki, salurkan tenaga lembut ke tangan.”
Cio San memberi petunjuk, si nona melakukannya sambil bersilat.
Mereka berdua melakukan hal ini sampai berjam-jam lamanya. Si nona semakin lama merasa tubuhnya semakin segar. Orang jika bersilat terlalu lama, tenaganya akan habis. Tapi si nona merasa justru sebaliknya.
Setelah sekian lama, Cio San akhirnya berkata, “Cukup!”
“Bagus sekali, Siocia. Kau memang sangat berbakat.”
Si nona tersenyum senang.
“Apa yang kau rasakan sekarang?” tanya Cio San.
“Hamba..hamba merasa tubuh hamba jauh lebih segar. Tenaga liar yang selama ini berputar-putar di daerah perut, sedikit-banyak, sudah bisa hamba kendalikan.”
“Bagus, berarti kau melakukannya dengan benar. Mulai hari ini, setiap pagi kau harus melatihnya.”
“Baik, Kauwcu.”
Mereka beristirahat. Tak lama lagi masuk waktu makan siang, Cio San hendak pergi berburu.
“Kauwcu, hamba mohon, tolong biarkan hamba melayani Kauwcu. Selama ini, hamba belum melakukan apa-apa untuk Kauwcu,” ujar Ang Lin Hua.
“Baiklah, jika kau memaksa. Engkau tidak bisa memasak bukan?”
“Darimana Kauwcu tahu?” tanya Ang Lin Hua.
“Caramu menggunakan alat-alat dapur terlihat kaku. Kiranya kau lebih pantas menggunakan pedang daripada pisau dapur. Baiklah, kau pergi berburu, aku yang memasak.”
Ang Lin Hua mengangguk dan tersenyum. Ia pun berkelebat dari situ.
Cio San hanya geleng-geleng kepala, “Dunia memang sudah terbalik. Jaman sekarang, perempuan pergi bekerja, laki-laki yang memasak di rumah.”
Sambil menunggu Ang Lin Hua kembali, Cio San menyiapkan peralatan dan bumbu-bumbu. Tak lupa ia juga menyiapkan ramuan obat untuk Ang Lin Hua.
Tak lama kemudian, si nona sudah kembali membawa 3 ekor kelinci besar-besar. Saat kembali, ia melihat Cio San sedang menanak nasi.
“Kauwcu rupanya pintar memasak,” katanya.
“Ah, aku pernah bekerja di sebuah kedai,” kata Cio San ringan.
Ang Lin Hua cuma tersenyum. Sepanjang sejarah, baru kali ini seorang Kauwcu dari partai Ma Kauw adalah mantan koki.
Cio San segera mengolah ketiga daging kelinci itu. Beberapa lama kemudian, sudah tercium bau panggangan yang enak. Ang Lin Hua membantu menyiapkan piring-piring dan peralatan makan lain.
“Apakah istana ini punya penyimpanan arak?” tanya Cio San.
Ang Lin Hua tersenyum. “Di dunia ini, mungkin tempat yang paling banyak menyimpan arak adalah tempat ini.” Ia segera pergi. Tak lama kemudian, ia sudah kembali membawa dua buah guci.
Saat menghirup baunya, Cio San langsung terpana, “Arak Cui Ju.”
Arak ini dibuat dari beras yang direndam lama. Warnanya seperti susu. Rasanya manis dan gurih. Ini adalah minuman khas dalam istana kaisar.
“Ada arak apa saja yang ada di sini?” tanyanya tertarik.
“Apa saja yang Tuan cari, semua ada di dalam ruang penyimpanan bawah tanah,” jawab Ang Lin Hua.
“Wuah…!” Hanya kata itu saja yang keluar dari mulut Cio San.
Orang jika terlalu senang, memang susah berkata-kata. Dan apa yang lebih menyenangkan bagi peminum, selain mendengarkan bahwa ada sebuah ruangan yang menyimpan segala macam arak?
Entah sejak kapan dia jadi peminum.
Kedua orang ini lalu menikmati makan siangnya. Kelinci panggang yang bagian perutnya dikeluarkan dan diisi rempah-rempah, butiran jagung rebus, serta potongan daging asap yang sebelumnya tersedia di dapur.
Begitu menyantapnya, mata Ang Lin Hua bercahaya.
“Seumur hidup, hamba belum pernah menyantap makanan senikmat ini. Apa nama masakan ini, Tuan?”
“Tidak ada nama, aku baru saja menciptakannya,” jawab Cio San.
Ang Lin Hua hanya bisa geleng-geleng kepala. Rupanya ia sudah tertular kebiasaan Cukat Tong yang sering geleng-geleng kepala jika berada di dekat Cio San.
Selesai makan, Cio San menuangkan arak ke cangkir si nona. Mereka lalu bersulang.
“Ahhh, arak seenak ini, diminum ratusan cangkir juga tak akan membuat mabuk,” kata Cio San.
Minum arak adalah bagian dari budaya orang Tionggoan. Ada tata krama dan sopan santun. Budaya ini telah dianggap sebagai bagian dari kekayaan budaya Tionggoan yang beragam dan menakjubkan. Perempuan yang minum arak pun, bukan dianggap sebagai sesuatu yang melanggar kesopanan.
Arak, bagi orang Tionggoan menggambarkan kebahagiaan.
Tapi bukankah bagi banyak orang, arak benar-benar melambangkan kebahagiaan? Orang yang bersedih hati, biasanya lari kepada arak. Hal ini dikarenakan, ia ingin merasakan sedikit kebahagiaan di dalam kesedihannya.
Menikmati arak pun harus ada aturannya. Harus dalam sekali tenggak. Karena itu melambangkan keberanian. Tapi, walaupun jika tak berarti apa-apa, bukankah cara terbaik untuk minum arak adalah dengan sekali tenggak.
Cuma orang yang benar-benar menghargai arak, yang paham hal ini.
Dua guci arak telah mereka habiskan. Kedua orang ini duduk terdiam. Masing-masing tenggelam dalam pikirannya.
“Siocia, jika penyakit Siocia telah sembuh, apakah Siocia akan terus menetap disini?” tanya Cio San.
“Entahlah, Kauwcu. Hamba belum memikirkan sejauh itu. Memang selama ini, hamba menyembunyikan diri di sini karena malu dengan keadaan hamba.”
Perempuan cantik yang menjadi tua. Di dunia ini, apakah yang lebih menyedihkan dari hal ini?
Cio San sangat mengerti. Laki-laki banyak yang masih gagah saat ia tua. Bahkan ada yang bertambah kegagahannya. Itulah kenapa di dunia ini, masih banyak perempuan muda yang suka terhadap laki-laki yang sudah tua.
Tapi perempuan tua? Kalau bukan karena banyak uang, mungkin tidak ada seorang laki-laki pun yang mau.
Itulah sebabnya kenapa perempuan begitu mencintai uang. Mereka merasa uang bisa menggantikan kecantikan mereka yang nantinya pudar.
“Siocia, setelah ini, kau minumlah ramuan yang sudah kusiapkan. Ramuan ini untuk membantu menghaluskan kembali kulitmu,” kata Cio San.
“Terima kasih banyak, Kauwcu. Budi Kauwcu memang tak sanggup hamba balas. Memang ayahanda tidak salah memilih Kauwcu sebagai penggantinya,” ujar Ang Lin Hua.
Cio San hanya menggumam, “Urusan sebesar ini, kenapa pula harus aku yang menyelesaikan.”
“Karena memang hanya Kauwcu yang pantas dan sanggup menyelesaikannya.”
Cio San merenung.
Memang ada sedikit orang yang membenci masalah, tapi entah kenapa masalah selalu menghampiri mereka. Kalau tidak diselesaikan, masa cuma ditangisi dan disesali saja?
Sesungguhnya masalah datang adalah untuk mendidik seseorang. Agar ia menjadi lebih tegar, lebih rajin, lebih pintar, dan lebih dewasa. Jika kau hanya hidup enak, bagaimana mungkin kau menghadapi hidup yang tiba-tiba berubah menjadi susah? Bukankah hidup selalu berubah? Hari ini kau bahagia, besok mungkin kau menangis
sedih.
Jika engkau tidak menghadapi sendiri, apakah kau pikir orang lain akan menghadapinya untukmu?
Cio San menghela nafas. Perjalanannya masih sangat panjang. Sedikit-banyak, ia telah menangkap intisari permasalahannya. Ia pun telah tahu siapa ‘otak’ dibalik semua ini. Tapi masih butuh waktu panjang untuk membuktikannya. Masih butuh perjalanan yang jauh untuk mengungkapkannya.
Tapi ia segera tersenyum.
Menghadapi hidup dengan tersenyum, adalah perbuatan laki-laki sejati.