Dragon and Phoenix

Dragon and Phoenix
Bab 26: Perjalanan



Mungkin Bun-tianglo ingin sekedar tanya-tanya di mana gerangan kiranya kitab sakti yang kubawa kabur?”


“Tepat!!” sahut Bun Tek Thian dengan senang. “Cerdas juga kau!”


Memangnya, selain tidur nyenyak, apalagi yang bisa kau lakukan di saat seperti itu?


Cio San terbangun saat hari menjelang shubuh. Sinar matahari mulai terlihat, dan jalanan di depan sudah mulai terang. Bun Tek Thian malah sudah mematikan obor yang menerangi perjalanan mereka semalam.


Chu Yuancheng bergabung dengan salah satu kelompok pemberontak yang ada saat itu. Dengan kecerdasan dan keberaniannya, ia berhasil mencapai pangkat tinggi dalam kelompok itu. Pada saat itu seluruh bangsa Han bersatu. Tak terkecuali kaum persilatan yang tidak kurang andilnya dalam meruntuhkan Dinasti Goan.


“Hahaha… Jangan tertipu penampilan kami. Walaupun seram dan aneh, hati kami baik sekali,” tukas Bun Tek Thian sambil tertawa.


“Iya, sungguh baik. Sampai-sampai orang yang menolong pun tetap ditotok sampai lumpuh.” Cio San berkata begitu sambil tersenyum.



“Karena merasa lucu ada orang menjual burung sejelek dan seburuk itu, si saudagar


iseng-iseng bertanya, ‘Eh, burung ini dijual juga?’


‘Benar,’jawab Siauw Jin kita mantap.


Sambil tertawa geli, si saudagar bertanya, ‘Memangnya mau kau jual berapa?’


‘Seratus tael emas! Tidak kurang tidak lebih!’jawabnya mantap.


“Baiklah, langsung saja.”


Kereta masuk ke dalam gudang. Ada beberapa orang yang sedang bekerja di dalam. Mereka pun menyapa, “Ah, datang juga kau. Sudah lama tidak mengirim jerami. Kemana saja?”


Suaranya sudah tidak berwibawa lagi, bahkan sekarang terkesan menjilat-jilat.


“Sow Tan Li, aku memerintahkan kau untuk segera mengirimkan kabar di seluruh cabang bagian barat dan juga markas pusat. Aku membawa ‘buntalan’ penting. Setiap cabang harus bersiaga penuh. Jangan sampai bocor. Aku juga membutuhkan beberapa murid tingkat 2 atau 3 untuk membayangiku sepanjang perjalanan. Jangan terlalu


dekat dan jangan terlalu jauh. Mereka harus sebisa mungkin tidak terlihat.”


“Tidak ada. ‘Buntalan’ ini adalah masakan kesukaan Ketua. Jika tidak sampai, atau sampai dalam keadaan ‘dingin’, maka Ketua akan marah sekali. Kita semua akan kena celaka.”


“Teecu mengerti. Teecu akan turun tangan langsung menangani perintah Tianglo.”


“Bagus!” kata Bun Tek Thian.


Cio San paham. ‘Buntalan’ itu tentu dirinya. ‘Dingin’berarti sudah mati.


“Turunkan jerami-jerami ini, tapi sisakan sedikit untuk menutupi ‘buntalannya’,” perintah Bun Tek Thian.


“Baik, Tianglo.” Mulutnya bicara, tapi tubuhnya sudah bergerak cepat menurunkan jerami-jerami itu. Tangannya menyampluk, mengeluarkan sejenis pukulan. Anginnya saja sudah menerbangkan jerami-jerami itu. Hanya butuh 3 sampai 5 angin pukulan untuk memindahkan jerami-jerami itu.


Ia menyisakan beberapa tumpuk untuk menutupi tubuh Cio San.


“Siapakah pemuda ini, Tianglo?” tanyanya.


“Kau tidak perlu tahu. Kerjakan saja tugasmu.”


“Maafkan teecu yang tidak sopan, Tianglo.”


Begitu pekerjaannya selesai, Bun Tek Thian sudah bersiap untuk pergi. Sow-cukong memberinya uang untuk perbekalan. Setelah memberi hormat, ia pun segera keluar gudang lewat pintu lain. Sedangkan Bun Tek Thian melewati pintu yang sama saat dia masuk tadi.


Mereka pun keluar dari ‘ceng’ itu.


Setelah agak berapa lama dalam perjalanan, dan suasana sudah agak sepi, Bun Tek Thian berkata kepada Cio San, “Kau jangan kaget. Hanya dengan cara beginilah, Ma Kauw kami bisa bertahan. Harus ada beberapa orang yang menyusup menjadi orang biasa, dan melakukan pekerjaan-pekerjaan biasa. Jika tidak bekerja secara rahasia


begini, mustahil kami bisa bertahan sampai sekarang.”


Cio San paham dan kagum. Betapa rapinya partai ini bekerja. Secara rahasia pula. Jika tidak mengalami sendiri, Cio San tak akan percaya bahwa anggota golongan Ma Kauw banyak yang merupakan saudagar dan orang-orang kaya.


Dan ini ia alami dalam beberapa hari perjalanannya. Bun Tek Thian singgah ke tempat-tempat yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Ke rumah makan, ke rumah bordil, ke rumah saudagar, dan bangsawan-bangsawan. Semua memperlakukannya dengan cara yang sama. Jika sedang ramai, akan menganggap Bun Tek Thian sebagai orang rendahan. Tapi jika berduaan saja, Bun Tek Thian diperlakukan dengan sangat hormat. Bun Tek Thian mampir untuk sekedar meminta bekal atau kadang juga memberi perintah-perintah.


Hebat sekali Ma Kauw ini!