
Semua orang berdiri di ujung tebing jurang itu.
Tak ada seorang pun yang berani mengeluarkan kata-kata.
Pertarungan para naga yang berakhir tak terduga.
Perasaan campur aduk pasti akan muncul di hati manusia yang menyaksikan kejadian di puncak Thay San ini. Kagum, takut, sedih, marah, dan entah apa lagi.
Peristiwa yang berlangsung sedemikian cepat, namun terasa begitu lama. Bagaikan bintang jatuh. Bercahaya menyilaukan, namun kemudian hilang tak membekas.
Berapa ribu orang yang mati saat ini?
Berapa banyak tubuh terkapar tak bernyawa yang ada di tempat ini?
Berapa tinggi banjir darah yang menggenang membasahi alas kaki?
Berapa banyak nyawa terbuang?
Berapa banyak jiwa terhempas?
Berapa banyak air mata tertumpahkan?
Kadang-kadang manusia berperang untuk alasan yang tidak jelas sama sekali. Kadang-kadang mereka bahkan saling membunuh tanpa membutuhkan alasan.
Kebencian, seperti cinta, kadang memang tidak memerlukan alasan.
Demi cinta orang rela membunuh. Karena kebencian pula orang berani membunuh. Lalu apa beda cinta dan kebencian?
Suma Sun hanya duduk bersila. Air matanya menetes tak terbendung. Walaupun berat menerima kenyataan ini, ia telah rela. Dan ia telah mengerti.
Sahabat terbaiknya itu memutuskan untuk mengorbankan dirinya, demi mengakhiri semua ini. Mengakhiri semua kebencian ini. Mengakhiri semua rasa haus dan lapar akan kekuasaan.
Cio San telah mengetahui siapa ‘otak besar’ di balik semua kejadian ini. Pastilah salah satu diantara ketiga orang yang terjatuh dengannya ke dalam jurang. Atau bisa juga ketiga-tiganya adalah ‘otak besar’ yang sebenarnya.
Suma Sun pun paham, bahwa Cio San tidak melihat ada jalan lain selain mengorbankan diri. Toh jika ia menang dan berhasil membunuh si ‘otak besar’, fitnah terhadap dirinya tak akan terhapuskan. Akan masih banyak orang yang percaya bahwa Cio San adalah si ‘otak besar’. Oleh sebab itu, akan banyak terjadi lagi pembalasan dendam. Akan ada banyak orang yang mencari dirinya, yang dendam atas perbuatannya, dan yang ingin membalaskan sakit hatinya. Cio San telah menjadi musuh semua orang.
Dikarenakan fitnah yang keji!!
Dari segala sisi manapun, tak ada jalan keluar terbaik kecuali mengorbankan diri. Walaupun ia memenangkan pertempuran secara jasad, Cio San akan tetap kalah dalam bertempur secara akal.
Si ‘otak besar’ telah mengalahkannya dalam hal ini.
Oleh sebab itu, Cio San memilih untuk mati bersama-sama dengan musuhnya. Tak ada lagi ada si ‘otak besar’. Dan tak akan ada lagi fitnah atas namanya.
Semua berakhir saat itu, detik itu, ketika mereka berempat jatuh ke jurang itu.
Suma Sun yakin, kemungkinan besar, otak dari segala otak kejadian keji yang terjadi di dunia Kang Ouw itu pastilah perbuatan ketiga orang itu: Hong-taysu dari Siau Lim-pay, Lau-ciangbunjin dari Bu Tong-pay, dan Bi Goat-nikow dari Go Bi-pay.
Dua kejadian berdarah dari masa lalu Cio San, berhubungan dengan Go Bi-pay dan Bu Tong-pay. Orangtua Cio San melarikan diri dari Go Bi-pay, lalu meninggal di perjalanan. Mereka pasti menghindari sesuatu atau seseorang di Go Bi-pay. Guru Cio San, Tan Hoat pun meninggal di puncak gunung Bu Tong-san.
Entah takdir apa yang melekat pada diri sahabat baiknya itu. Entah rahasia apa yang tersimpan di dalam hidupnya yang singkat namun mengagumkan itu. Tak ada seorang pun yang tahu. Dalam hati, Suma Sun bertekad untuk mengungkapkan semua rahasia dan teka-teki ini.
Ia berhutang nyawa pada sahabatnya itu.
Tanpa berhutang nyawa pun, ia akan melakukannya.
Karena Cio San adalah sahabatnya.
Kata ‘sahabat’ saja sudah cukup bagi seseorang untuk mengorbankan jiwa raganya.
Malam perlahan pergi.
Meninggalkan kegelapan dunia untuk sementara.
Matahari perlahan muncul untuk menyinari bumi.
Cahaya dan kegelapan datang silih berganti dalam kehidupan manusia.
Tak ada manusia yang bahagia sepenuhnya. Seperti juga tak ada manusia yang bersedih sepenuhnya.
Tangis dan tawa datang silih berganti, bahkan disebabkan oleh alasan yang sama.
Pagi menjelang.
Tubuh-tubuh yang bergelimpangan itu satu persatu bergerak.
Ternyata mereka tidak mati.
Cio San berbaik hati untuk tidak mengambil nyawa mereka seluruhnya. Siapa yang menyerangnya dengan kejam, akan mati mengenaskan. Siapa yang tidak sepenuh hati menyerangnya, akan terselamatkan.
Walaupun banyak yang cedera parah, banyak yang anggota tubuhnya terbabat putus, banyak yang silatnya musnah, setidaknya Cio San masih punya hati.
Cio San memang manusia yang punya hati.
Sekeji atau sekejam apapun perbuatan orang kepadanya, ia tetap berpegang pada perbuatan gagah.
Hari ini semua orang mengakuinya.
Dengan segala kemampuannya, Cio San dapat membunuh mereka semua.
Tapi itu tidak dilakukannya. Hanya orang yang benar-benar menyerangnya secara membabi buta, yang dibunuhnya. Itupun karena keadaan terpaksa.
Hari ini semua orang mengakuinya, bahwa ia pantas mendapat sebutan ‘Kuncu’ (Pendekar Sejati).
Entah tuduhan terhadap dirinya salah atau benar, Cio San telah membuktikan bahwa ia adalah seorang Kuncu.
Beng Liong akhirnya bangkit.
Segala lukanya telah pulih. Kekuatannya telah kembali. Kao Ceng Lun telah menceritakan segala hal yang terjadi kepadanya.
Air matanya pun menetesi pipinya.
Sebenarnya para petarung sejati itu teramat sering menangis. Karena kekuatan tubuh mereka sebenarnya adalah untuk menutupi kelembutan hati.
Beng Liong berjalan ke tepi jurang.
Masih banyak orang yang duduk di sana. Walaupun sinar matahari telah menerangi bumi, gelapnya jurang itu masih saja menakutkan.
Ia kehilangan banyak sekali dalam kejadian semalam.
Sahabatnya.
Gurunya.
Teman-teman seperguruan.
Kenalan.
Saudara.
Ia hanya bisa tertunduk lesu. Berdiri di pinggiran jurang sambil menatap jauh ke dalam lubang bumi yang gelap itu.
Tiba-tiba terdengar seseorang berkata,
“Menurut peraturan, apapun yang terjadi, perebutan Bu Lim Bengcu harus tetap dilaksanakan. Berapapun jumlah orang yang datang, kejadian apapun, acara ini harus tetap berlangsung.”
Beng Liong serasa tercekat. Begitu pentingkah urusan Bu Lim Bengcu ini?
Padahal kejadian yang jauh lebih dahsyat baru saja terjadi, tapi orang sudah segera lupa dan kembali ingin membuat pertarungan.
Apakah hidup manusia adalah pertarungan itu sendiri?
Setiap pemilihan, selalu ada sejenis panitia yang ditugaskan mengurus keperluan acara ini. Mereka telah disumpah untuk berlaku adil, dan tidak turut serta dalam pertarungan. Biasanya berisi Tetua-tetua perguruan yang sudah melakukan Upacara Cuci Tangan dari dunia persilatan.
“Yang ingin ikut, silahkan mendaftar,” kata salah seorang Tetua.
Ada beberapa orang yang maju.
Beng Liong kenal siapa mereka.
Ia melihat ada yang tulus.
Ia melihat ada juga yang mencoba menggunakan kesempatan baik ini untuk menjadi Bengcu.
Di saat hampir semua pendekar besar terluka atau mati dalam pertarungan tadi, inilah kesempatan terbaik untuk merebut posisi Bu Lim Bengcu.
Ketua Dunia Persilatan!
Siapa yang tidak tertarik kepada gelar itu?
Bahkan orang yang tidak bisa silat pun ingin mendapatkan gelar itu.
Gelar yang posisinya hampir sama dengan posisi kaisar sendiri.
Beng Liong maju.
Ia mendaftarkan dirinya. Ia tidak rela posisi yang begitu terhormat itu jatuh ke tangan orang yang tidak pantas menerimanya.
Ada Suma Sun, tapi Dewa Pedang itu telah kehilangan seluruh kemampuannya.
Ada Kam-tayhiap, tapi Dewa Pedang itu sudah mengumumkan pengunduran dirinya.
Ada beberapa pendekar besar yang ia kenal, yang maju mendaftarkan diri mereka pula. Tapi ketulusan dan keluhuran mereka masih disangsikan oleh Beng Liong.
Akhirnya ia maju.
Jika Cio San masih ada, pasti sahabatnya itu akan memintanya untuk maju.
Yang tersisa sekarang adalah para pesilat-pesilat dunia hitam yang memanfaatkan kesempatan baik ini untuk merebut posisi Bengcu. Beng Liong tidak bisa membiarkan hal itu terjadi. Ia tak mampu membayangkan jika dunia persilatan kacau balau dipimpin oleh mereka.
Segera para peserta mulai mendaftarkan diri.
Begitu pendaftaran ditutup tepat tengah hari, sudah ada 138 orang yang mencalonkan dirinya.
“Pertandingan akan diadakan tepat satu jam dari sekarang. Diadakan di puncak tertinggi Thay San. Para hoohan (orang gagah) sekalian pasti tahu tempatnya. Silahkan bergegas ke sana. Siapa yang terlambat, namanya akan dicoret.”
Begitu kata-kata diumumkan, semua orang lalu berkelebat ke tempat itu. Dibutuhkan waktu beberapa lama untuk bisa sampai ke puncak Thay San. Oleh sebab itu, masing-masing peserta harus mengandalkan ginkangnya agar tidak terlambat sampai di sana.
Akhirnya sampailah para peserta di puncak Thay San.
Pemandangan di sana sangat indah. Dunia terasa begitu kecil dilihat dari puncak gunung. Mungkin itulah sebabnya, banyak orang suka menyepi ke pegunungan. Untuk sekedar melepaskan diri dari kungkungan dunia yang membuat hidupnya serasa kerdil. Di puncak gunung, manusia akan lebih merasakan kemanusiaannya.
Di sini pula, orang bisa merasakan hakikat kehidupan jika mau sedikit merenung dan berpikir.
Pantas saja perebutan Bu Lim Bengcu diadakan di sini.
Kini mereka semua berada di halaman sebuah kuil yang sangat luas. Begitu luasnya sampai-sampai pintu bangunan utama tidak dapat terlihat dari pintu gerbang.
Para petarung telah tiba. Para penonton pun telah tiba.
“Pertarungan akan diadakan berbarengan sekaligus. Seluruh peserta bertarung di satu tempat secara bersamaan. Silahkan 138 peserta maju ke depan!”
Mereka semua maju.
Lalu salah satu Tetua yang mengurus pertandingan membacakan hasil undian.
Beng Liong mendapatkan lawan seorang dari kaum LiokLim bernama Su Pang To.
Dia ini adalah raja golok yang menguasai daerah Kanton.
“Silahkan,” kata Beng Liong sambil menjura.
Tanpa basa basi lagi, Su Pang To menggerakkan goloknya.
Tidak percuma ia dijuluki Raja Golok dari Selatan. Gerakannya penuh tenaga, cepat, dan ganas.
Beng Liong menghadapinya dengan pedang.
Tangannya bergerak melepaskan pedang dari sarungnya. Ilmu Pedang Thay Kek. Sebuah ilmu pedang sempurna yang dibawakan oleh pesilat dengan bakat sempurna.
Kata orang tidak ada yang sempurna di dunia ini.
Orang itu pasti belum melihat Beng Liong.
Gerakannya terlihat lambat dan perlahan. Ketika golok Su Pang To datang, semua orang menyangka golok itu akan membabat putus leher Beng Liong. Tapi dengan sebuah gerakan sempurna, golok itu lewat begitu saja dihadapannya, dan pedangnya sudah mengacung ke depan.
Tidak ada waktu bagi Su Pang To untuk menghentikan gerakannya. Karena tidak mungkin baginya untuk berhenti secara tiba-tiba saat bergerak maju secepat itu.
Tahu-tahu pedang Beng Liong telah mengarah ke dadanya.
Untunglah Beng Liong tidak pernah mau membunuh orang. Ia lalu menarik pedangnya. Dalam sekejap mata, pedang itu telah kembali berada di sarungnya secepat ketika pedang itu pertama kali ia cabut.
Melihat Beng Liong telah memasukkan pedangnya ke sarung, bukannya bersyukur bahwa Beng Liong telah mengasihaninya, Su Pang To malah melihat ini sebagai kesempatan besar.
Sebuah sabetan ia lancarkan untuk membabat pinggang Beng Liong.
Melihat ini, Beng Liong tidak kaget dan tidak pula heran. Ia telah sering menghadapi orang-orang seperti ini. Malahan ia telah menduga, Su Pang To akan berlaku curang seperti ini.
Tebasan golok itu ditangkisnya tanpa mengeluarkan pedang dari sarungnya. Lalu dengan sebuah gerakan lembut khas Thay Kek Kun, telapak tangan kirinya telah memutar pergelangan tangan Su Pang To yang memegang golok.
Hasilnya adalah, Su Pang To merasakan ada sebuah gelombang tenaga aneh dalam dirinya sendiri yang membuat gerakan tubuhnya serasa dipelintir. Tubuhnya berjumpalitan tak karuan seperti ada gelombang besar yang menghempaskannya.
Inilah kehebatan Thay Kek Kun, yang mampu menggunakan besarnya tenaga lawan untuk menyerang sang lawan itu sendiri.
Begitu si Raja Golok dari Selatan ini berputar tak karuan di udara, Beng Liong melompat tinggi dan melakukan sebuah tendangan. Gerakan ini juga terlihat sangat lambat dan tak bertenaga.
Tapi akibatnya adalah Su Pang To terlempar bertombak-tombak jauhnya dengan tulang patah-patah. Pergelangan tangannya yang tadi diserang oleh Thay Kek Kun nya Beng Liong, sejak saat ini sampai selamanya tak akan bisa ia gunakan lagi.
Ia hanya bisa merintih kesakitan.
Karena kasihan, Beng Liong menghampirinya.
“Tuan, silahkan makan pil ini. Mudah-mudahan bisa mengurangi sakit, dan bisa segera menyembuhkan luka Tuan.”
Pil Akar Bumi adalah salah satu obat mujarab ciptaan Thio Sam Hong yang khasiatnya tidak diragukan lagi. Resep pembuatan pil ini, adalah salah satu dari berbagai macam rahasia Bu Tong-pay yang dijaga ketat dan tidak pernah diajarkan kepada orang luar Bu Tong-pay.
Dengan wajah cemberut sambil meringis menahan sakit, Su Pang To menerima dan menelan obat itu.
“Terima kasih telah mengalah,” kata Beng Liong sambil menjura. Lalu ia melangkah pergi. Menghadapi manusia angkuh macam Su Pang To, Beng Liong hanya tersenyum.
Mengakui kekalahan bukanlah hal yang mudah bagi orang-orang Kang Ouw.
“Pemenang pertama adalah Bu Tong-pay-enghiong Beng Liong!” Teriak salah seorang Tetua memberi pengumuman.
Beng Liong duduk istirahat. Matanya memandang kepada pertandingan lain yang tidak kalah dahsyat. Matanya tertumbuk kepada sosok Kao Ceng Lun. Pemuda ini yang tadi diminta Cio San untuk menjaganya. Rupanya pemuda itu ikut juga dalam pertarungan Bu Lim Bengcu ini.
Keluarga Kao terkenal dengan ilmu tinju mereka yang dahsyat. Hui Liong Ciang Hoat. Ilmu Tangan Sakti Naga Terbang. Namanya yang sangar tentu saja bukan nama kosong. Ilmu itu telah menggetarkan Tionggoan sejak lebih dari seratus tahun yang lalu. Kakek buyut dari Kao Ceng Lun adalah pendekar besar yang sempat diangkat sebagai salah satu pelindung keluarga kaisar. Bisa dibayangkan betapa hebatnya ilmu keluarga Kao ini.
Dan Kao Ceng Lun sebagai salah satu pewarisnya, memang tidak mengecewakan. Lawan Kao Ceng Lun adalah Gan-siauya. Tuan Muda Gan. Nama aslinya tidak ada orang yang tahu. Orang hanya tahu she (marga) nya saja. Seluruh anggota keluarga Gan memang tidak ada memiliki nama!
Tuan Besar Gan, Nyonya Gan, Nona Gan, Tuan Muda Gan.
Keluarga Gan ini adalah sebuah keluarga ‘aneh’ yang hidupnya berpindah-pindah. Mereka tidak memiliki tempat tinggal yang tetap. Herannya, mereka memiliki harta kekayaan yang sangat banyak, sehingga setiap rumah atau tempat tinggal yang mereka tempati selalu mewah dan mahal.
Hebatnya lagi, setiap mereka pindah, rumah yang lama mereka biarkan saja terbengkalai. Padahal rumah itu mereka beli dengan harga mahal!
Keanehan keluarga ini masih ditambah lagi dengan tidak jelasnya asal-usul mereka. Semua orang tahu keluarga Gan. Tapi tak ada yang tahu asal-usul mereka, pekerjaan mereka, dan lain-lain.
Lebih-lebih, tak ada yang tahu pula asal-usul ilmu silat mereka yang aneh.
Kini, salah satu anggota keluarga itu sedang bertarung dengan Kao Ceng Lun. Anggota keluarga Gan lainnya duduk di pinggiran sambil bersorak memberi semangat.
“Ayo hajar dia, Nak!” kata Tuan Besar Gan.
“Ayo, Koko (Kakak)! Semangat!” kata Gan-siocia.
Tidak ada pula yang tahu nama-nama jurus keluarga Gan. Yang orang-orang tahu, jurus-jurus ini tidak kalah hebat dan tidak kalah tenar dengan ilmu-ilmu silat perguruan besar.
Telapak tangan Gan-siauya berwana merah menyala.
Sama seperti bajunya. Keluarga Gan selalu memakai baju merah.
Telapak itu menyambar-nyambar mengeluarkan suara ‘wuuuuut…. wuuuuut…..’
Kao Ceng Lun menghindari serangan telapak itu dengan lincah.
Mereka sama-sama muda. Sama-sama dari keluarga terkenal. Sama-sama sakti pula.
Pemuda Kao ini mengepalkan tinjunya. Suara yang keluar dari tinju yang ia lancarkan juga terdengar menakutkan, ‘wuuuummmmm…. wummmmm…….’
Ia tidak berani menerima telapak Gan-siauya yang bercahaya merah itu karena khawatir beracun. Ia hanya berusaha menghindarinya sambil mencoba mengirimkan tinjunya yang terkenal itu.
Tinju itu bisa menghancurkan batu tanpa menyentuhnya.
Sayangnya, batu bukan manusia yang memiliki tenaga dalam, kelincahan, dan akal pikiran. Karena itu, Kao Ceng Lun sampai saat ini belum mampu menundukkan Gan-siauya. Malahan sekarang ia berada dalam posisi terdesak.
Gan-siauya ternyata memiliki pergerakan aneh yang keluar dari dasar-dasar teori ilmu silat. Gerakan silatnya seperti tanpa kuda-kuda dan hanya melayang-layang saja. Padahal dari telapak tangannya mengeluarkan tenaga yang sangat besar. Hal ini tidak mungkin terjadi jika Gan-siauya tidak memiliki tenaga dalam yang sangat besar.
Sudah puluhan jurus mereka lalui, kini mendekati jurus ke-seratus, pergerakan Gan-siauya semakin lincah. Telapak tangannya yang berwarna merah, semakin terlihat menyala bagaikan bara api yang mengincar segala titik di tubuh Kao Ceng Lun.
Pemuda she (marga) Kao ini pun tidak kalah hebatnya bergerak. Satu serangan telapak tangan Gan-siauya dihadapinya pula dengan tinju Naga Terbang milik keluarganya.
Suara dentuman terdengar menggelegar, saat bertemunya kedua tenaga dari masing-masing pemuda berbakat ini. Gan-siauya terlempar 5 langkah, sedangkan Kao Ceng Lun terlempar 7 langkah.
Mereka berdua tidak terluka dalam. Malah sebaliknya, semakin bersemangat.
“Ayo, Nak! Hantam lagi!” Begitu Gan-ongya (Tuan Besar) memberi semangat pada anaknya.
Si anak langsung bergerak penuh semangat menyerang Kao Ceng Lun. Kecepatan lesatannya ini boleh dibilang sudah hampir mendekati kecepatan ginkang pendekar-pendekar terkemuka.
Kao Ceng Lun yang semakin terdesak, melihat datangnya sebuah serangan dahsyat yang kini mengurung semua pergerakannya. Telapak Gan-siauya seperti ada di mana-mana. Ke kiri, telapak itu menghunjam. Ke kanan, telapak itu menghantam. Mundur pun, telapak itu masih mengincar.
Karena tak ada jalan lain, terpaksa Kao Ceng Lun sekali lagi harus mengadu tenaga. Padahal tadi ia telah kehilangan banyak tenaga saat beradu pukulan dengan Gan-siauya.
Blaaaaarrrrrrrrrrrrr!!
Kali ini Kao Ceng Lun terhempas sepuluh langkah. Gan-siauya pun terhempas kira-kira 7 atau 8 langkah. Karena Gan-siauya terhempasnya lebih sedikit dari Kao Ceng Lun, maka ia memanfaatkan hal ini dengan melesat cepat memburu Kao Ceng Lun.
Kao Ceng Lun masih menyisakan 2 langkah terlempar ke belakang, saat dilihatnya Gan-siauya sudah melayang ke depan mengincar kakinya!
Ternyata sejak beradu tenaga sampai 2 kali tadi, Gan-siauya bisa memecahkan rahasia kekuatan Kao Ceng Lun. Memang, inti tenaga dari tinju Naga Terbang sebenarnya pada kuatnya kuda-kuda. Oleh karena itu, Gan-siauya langsung menyerang kaki Kao Ceng Lun.
Gaya serangannya pun aneh. Seperti ular yang merayap di atas tanah, tubuhnya terlihat melayang rendah hampir menyentuh tanah pula. Dengan kecepatan yang teramat tinggi, ia menyusur tanah dan langsung mengincar tempurung lutut Kao Ceng Lun.
Karena masih terlempar oleh dahsyatnya benturan tenaga tadi, tidak ada jalan lain bagi Kao Ceng Lun selain mengerahkan seluruh tenaga dalamnya ke tempurung lututnya itu.
Telapak tangan Gan-siauya hampir menghantam lutut Kao Ceng Lun, tapi dalam sepersekian detik gerakannya berubah!
Tangannya menyentuh tanah, dan tubuhnya lalu melenting. Sekali salto, kini serangannya berubah menjadi gerakan menendang!
Braaaak!!!!!
Dada Kao Ceng Lun terhantam tendangan itu!
Darah segar muncrat dari mulutnya!
Ia terlempar ke belakang dan terhempas ke tanah. Semua penonton melongo menyaksikan hebatnya gerakan tipuan Gan-siauya itu. Begitu cepat, begitu pintar, dan begitu bertenaga.
Dengan berat, Kao Ceng Lun berdiri dan menjura. Ia mengaku kalah!
Gan-siauya pun tertawa dengan santainya.
“Harap Kao-enghiong memaafkan, jika cayhe keterlaluan,” katanya.
“Justru cayhe mengucapkan terima kasih karena belas kasihan Gan-tayhiap,” kata Kao Ceng Lun.
“Ah, tidak perlu sungkan. Haha…. Sampai jumpa lagi,” kata Gan-siauya sambil tersenyum dan menjura. Ia lalu menghampiri keluarganya yang menyambutnya dengan gembira.
“Berhasil!”
“Hore!”
Melihat keluarga seperti ini, tidak ada seorang pun di puncak Thay San yang tidak iri. Begitu bahagia, begitu akrab, dan begitu hangat.
Beng Liong yang menyaksikan semua ini merasakan suatu perasaan yang aneh. Ada sesuatu dari keluarga ini yang menggelitik rasa keingintahuannya. Di balik senyum, tawa, dan kegembiraan keluarga aneh itu, pasti tersimpan rahasia besar.
Pemuda Gan-siauya itu mungkin setahun-dua tahun lebih muda darinya. Tapi ilmunya begitu tinggi. Gerakannya aneh dan tenaga dalamnya sungguh dahsyat. Bagaimana pula dengan ayahnya?
Tak ada seorang pun di dunia ini yang tahu asal-usul mereka. Keluarga ini seperti muncul begitu saja dari dasar bumi. Dalam 5 tahun ini, nama mereka menjadi tenar. Aneh, unik, dan mengagumkan.
Walaupun keluarga ini tidak dimasukkan dalam golongan ‘lurus’ dalam kalangan Bu Lim, setidaknya mereka pun tidak termasuk dalam golongan ‘sesat’.
Satu hal yang membuat Beng Liong kagum, adalah perbuatan Gan-siauya tadi. Ia dapat saja menghancurkan lutut Kao Ceng Lun. Tenaga dalamnya mampu membuat Kao Ceng Lun cacat seumur hidup. Tapi pada detik terakhir, ia mengubah gerakannya menjadi sebuah tendangan ke dada.
Walaupun titik di dada lebih berbahaya daripada di lutut, serangan tendangan itu tidak berbahaya, karena Gan-siauya telah terlanjur mengumpulkan tenaga di telapak tangannya. Tendangan itu walaupun dahsyat dan berbahaya, setidaknya tidak mengancam jiwa Kao Ceng Lun.
Salut!
“Kao-enghiong tidak apa-apa?” tanya Beng Liong ketika Kao Ceng Lun menghampirinya dengan tertatih-tatih.
“Cayhe baik-baik saja, Tayhiap.”
“Minumlah pil ini,” kata Beng Liong sambil mengeluarkan pil sakti Bu Tong-pay.
“Ah, terima kasih. Cayhe pun membawa sendiri pil buatan ayahanda,” jawab Kao Ceng Lun sambil mengeluarkan bungkusan kecil dari kantongnya.
“Aha, pil Dewa Bulan. Bagaimana mungkin sampai aku lupa dengan pil terkenal ini? Keluarga Kao memang hebat,” puji Beng Liong.
“Apanya yang hebat? Buktinya cayhe kalah,” kata Kao Ceng Lun sambil tersenyum masam.
“Pertarungan silat itu selain ilmu, tenaga, dan pengalaman, juga adalah nasib baik,” kata Beng Liong. Lanjutnya, “Berlatihlah lebih keras. Dengan bakat Kao-enghiong, aku yakin dalam beberapa tahun saja, Kao-enghiong akan menjadi salah satu pendekar terkemuka di dunia Kang Ouw.”
“Terima kasih wejangannya, Beng-tayhiap,” katanya menjura.
“Panggil aku Liong-ko saja, Enghiong.”
“Ah, Beng-tayhiap masih memanggil cayhe ‘Enghiong’, mana berani cayhe memanggil ‘Koko’.”
“Haha…. Baiklah, Lun-siaute (Adik Lun).”
Sambil mengobrol, mereka menyaksikan pertandingan-pertandingan yang terjadi. Beng Liong mempelajari siapa saja lawan yang akan dihadapinya. Ada sekitar 10 lawan berat yang mungkin akan dihadapinya. Yang lain masih dibawah tingkatannya. Walaupun begitu, ia tidak ingin ceroboh meremehkan mereka.
Lawan kuat yang paling utama adalah Gan-siauya tadi. Ia yakin pemuda unik ini memiliki banyak ‘simpanan’ yang tidak ia pertunjukkan. Beng Liong menduga, kemungkinan besar tingkatan ilmu Gan-siauya ini tidak dibawah dirinya!
Tidak gampang mengalahkan lawan seperti Kao Ceng Lun. Walaupun pertandingan tadi mereka lalui dalam sekitar 100 jurus, Beng Liong dapat menduga bahwa Gan-siauya melakukannya dengan sengaja. Agar orang salah menduga kemampuannya.
Pertandingan putaran kedua!
Beng Liong mendapatkan lawan seorang kurus kerempeng dan sedikit pendek. Namanya Ho Thay Hoa.
Penampilan dapat menipu.
Hal ini dipercaya betul oleh Beng Liong.
Wajah tirus yang memanjang, agak kurang serasi dengan tubuhnya yang kecil. Senyumnya pun bagaikan ular berbisa. Kadang-kadang, memang ada orang yang memiliki senyum yang menawan, ada pula yang menakutkan. Tapi Ho Thay Hoa tidak masuk ke dalam dua golongan ini. Senyumnya masuk ke dalam golongan ‘menjijikkan’.
Senyum seperti ini, walaupun tidak terlalu sering ditemui, tidak pula terlalu sukar untuk dicari padanannya. Senyum menjijikkan seperti ini, akan mudah kau temukan pada wajah kekasih yang mengkhianatimu.
Beng Liong berusaha keras agar tidak memiliki perasaan apapun terhadap orang yang dihadapinya ini. Ada sedikit perasaan mual di perutnya. Tapi dengan sedikit menekan perasaannya, rasa mual itu hilang perlahan.
Dalam sebuah pertarungan, jiwa dan tubuh mestilah bersih dari segala macam ‘gangguan’. Mungkin itu pulalah mengapa Ho Thay Hoa memiliki senyum menjijikkan. Agar mengacaukan pikiran musuh yang akan dilawannya.
“Pertandingan tahap 2 dimulai!”
Beng Liong memasang kuda-kudanya. Gerakan khas Thay Kek Kun. Satu tangan membuka ke depan dada, tangan yang satunya mengembang ke belakang.
Ho Thay Hoa pun memasang kuda-kudanya. Kuda-kuda umum. Tidak ada yang mengagumkan dalam kuda-kuda ini.
Tapi Beng Liong justru lebih waspada.
Kedua orang ini berdiri berhadapan tanpa melakukan apa-apa. Masing-masing menunggu.
Padahal pertarungan para peserta yang lain telah dimulai dan terdengar seru.
Mereka masih saling memandang.
“Silahkan, Beng-tayhiap,” kata Ho Thay Hoa sambil tersenyum ramah.
Jangan-jangan, bila tergigit orang ini, manusia bisa mati keracunan?
Beng Liong tersenyum, lalu menjawab, “Baiklah. Awas serangan.”
Pukulan Tapak Matahari Menyinari Bumi.
Tidak banyak murid Bu Tong-pay yang menguasai jurus ini. Walaupun bukan merupakan bagian dari Thay Kek Kun, Tapak Matahari Menyinari Bumi sebenarnya adalah salah satu jurus andalan Thio Sam Hong.
Dibutuhkan bakat yang sangat besar, tenaga yang sangat kuat, dan latihan yang sangat berat, agar bisa menguasai ilmu ini. Jika Thay Kek Kun berlandaskan Yin yang lembut, ‘Tapak’ ini justru berlandaskan Yang yang bertenaga.
Itulah kenapa banyak murid Bu Tong-pay yang tidak mampu menguasainya. Karena jika dilihat sekilas, Thay Kek Kun dan ‘Tapak’ ini seperti dua kutub yang berbeda. Padahal justru masing-masing saling mengisi.
Beng Liong dengan bakatnya yang besar, mampu menguasai jurus ‘Tapak’ ini.
Telapak tangannya memancarkan cahaya berwarna kuning keemasan. Siapapun tahu, orang yang terkena sinar itu pasti tak akan punya harapan lagi untuk hidup.
Begitu telapak tangan Beng Liong menyambar, Ho Thay Hoa hanya menanti.
Ia menanti dan menanti.
Bahkan saat telapak itu sudah sangat dekat pun, ia sama sekali tidak melakukan apa-apa.
Blunnnnngggggggg….
Telapak itu menghunjam dada!
Tapi yang diserang tidak merasakan apa-apa.
Yang menyerang pun terhenyak kaget.
Tenaga sedahsyat itu mampu menghancurkan batu karang sebesar kerbau. Tapi untuk menggeser manusia kecil dan kerempeng itu satu langkah saja, tidak mampu.
Beng Liong sendiri merasa tenaga yang tadi ia keluarkan seperti musnah dan hilang entah kemana.
“Ilmu Menghisap Matahari?” tanyanya dalam hati.
Dengan menggunakan Thay Kek Kun, ia segera menarik telapak tangannya. Dengan ilmu ini, ia tidak perlu khawatir tangannya akan terus menempel di dada musuhnya itu tanpa bisa ia tarik lagi.
“Ah, anda dari Ma Kauw?” tanya Beng Liong.
“Aku tak punya hubungan dengan penyembah iblis,” jawab Ho Thay Hoa marah, tapi mulutnya masih tersenyum.
“Ah, maafkan.” Bahkan di saat bertanding seperti ini pun, Beng Liong masih sangat sopan.
Ia tetap saja bingung dalam hatinya. Hanya orang Ma Kauw yang memiliki ilmu Menghisap Matahari. Selain mereka, Beng Liong belum pernah mendengar ada orang lain yang mampu melakukannya.
“Silahkan serang lagi,” kata Ho Thay Hoa sambil tersenyum.
Pantas saja ia menyuruh orang lain untuk menyerangnya. Dengan berdiri diam, ia menerima serangan lawan dan menerima ‘sumbangan’ tenaga dari lawannya itu.
Pertarungan seperti ini tentu saja sangat menguntungkannya. Ia tidak perlu keluar tenaga sama sekali. Orang lain malah memberi tenaga kepadanya.
Beng Liong bingung harus melakukan apa. Orang ini tidak menyerang, tidak menghindar, dan bahkan tidak membalas!
Jiwa ksatria dalam dirinya, membuat ia begitu ragu untuk bergerak.
Tapi ia bergerak.
Karena jika Beng Liong ingin bergerak, tak ada satupun makhluk di muka bumi yang mampu menghalaunya.
Serangannya malah lebih dahsyat lagi dari yang pertama.
Semua penonton menahan nafas menanti apa yang terjadi.
Gerakan ini bahkan lebih cepat dari kedipan mata manusia. Karena itu, para penonton tidak berkedip dari tadi. Sayangnya, tanpa berkedip sekalipun, mereka tentu saja tak mampu melihat dahsyatnya serangan ini.
Beng Liong terlalu cepat.
Blaaaaaaaaaaaaaaannnnngggggggggggggg!!!!!!!!!!!!!!!!
Betapa dahsyatnya serangan ini, sampai bebatuan karang yang ada di belakang Ho Thay Hoa ikut terlempar ke belakang bersama kerikil dan debu!
Ia tidak terluka.
Bahkan bergesar satu jengkal pun tidak.
Padahal dua telapak tangan Beng Liong sudah menghantam dadanya secara bersamaan.
Ho Thay Hoa hanya tersenyum.
“Hanya begitu saja, Beng-tayhiap?”
Senyumnya bagaikan ular yang telah menjerat mangsanya.
Dingin, licin, dan menjijikan.
“Bagaimana kalau cayhe mencoba sekali lagi?” tanya Beng Liong.
“Silahkan. Sampai 100 kali pun aku bersedia. Hahahahah….”
Jika tersenyum saja sudah menjijikkan, bagaimana jika ia tertawa?
Kau akan merasa takut badanmu menjadi kotor karena mendengar suara tawanya.
“Awas serangan!”
Kali ini Beng Liong bergerak jauh lebih cepat lagi!
Telapaknya yang berwana kuning keemasan menghunjam dada Ho Thay Hoa sekali lagi.
Tuk!
Hanya suara kecil saja. Bagaikan sentuhan sahabat kepada sahabat.
Tapi suara kecil itu datang berbarengan dengan tamparan dan gamparan tangan Beng Liong ke wajah Ho Thay Hoa.
Tamparan dan gamparan biasa!
Tanpa sinkang dan tenaga dalam.
Ho Thay Hoa tak mampu menyerap tenaga lawan. Karena lawan tidak menggunakan tenaga dalam. Hanya tamparan dan gamparan biasa!
Kata ‘tamparan dan gamparan biasa’ sepertinya terlalu merendahkan.
Karena Beng Liong melakukan tamparan dan gamparan itu dengan ginkangnya yang luar biasa, sehingga kecepatannya tak mampu dihindari oleh Ho Thay Hoa.
Menerima gamparan itu, Ho Thay Hoa kewalahan. Bergerak secepat apapun, ia tak mampu menghindar atau menangkis serangan Beng Liong. Bahkan separuh kecepatan Beng Liong saja tak mampu diimbanginya.
Pipinya bengkak, hidungnya berdarah, bibirnya pecah.
Karena tidak tega, Beng Liong berhenti.
Orang ini ternyata hampir tidak punya tenaga dalam sekali.
Bagaimana mungkin ia bisa bertahan di dunia Kang Ouw? Dengan mengandalkan ilmu ‘menghisap matahari tiruan’ nya tentu saja.
Ia tidak menyerap tenaga orang. Ia hanya menyalurkannya saja entah ke mana. Mungkin ke tanah. Mungkin juga ke udara. Ke mana saja.
Tapi Ho Thay Hoa tidak mampu menyalurkan dan menggunakan tenaga itu untuk dipakai sebagai tenaganya sendiri.
Dalam serangan keduanya tadi, Beng Liong telah memahami hal ini. Ketika ia melihat batu karang, kerikil, dan debu beterbangan di belakang Ho Thay Hoa. Akhirnya ia tahu cara mengalahkan orang ini.
“Kaulihat apakah aku sudah mati? Belum mati, ya belum menyerah.”
Senyum Ho Thay Hoa sudah hilang dari wajahnya. Berganti garis-garis geram yang menggambarkan benci dan duka berbaur menjadi satu.
Beng Liong tersenyum kecewa.
Tapi ada banyak orang di dunia ini, yang memang harus dihajar dulu, baru bisa mengerti.
Ia bergerak melesat dalam kecepatan yang sungguh mengagumkan. Dan tak perlu menunggu terlalu lama untuk menyaksikan Ho Thay Hoa ditempeleng sampai wajahnya biru membengkak.
Puluhan tamparan menerpa wajah Ho Thay Hoa tanpa ia bisa menghindar. Bahkan untuk berkedip pun ia tidak sempat.
Hingga ia akhirnya kewalahan dan berkata, “Aku menyeraaahhh…..”
Semua orang bernafas lega.
Beng Liong lebih lega lagi. Manusia seperti Ho Thay Hoa ini memang sering kali merepotkan.
“Beng Liong lolos!”
Begitu teriak Tetua pengurus pertandingan.
Pendekar muda harapan Bu Tong-pay ini lalu kembali ke tempat duduknya. Kao Ceng Lun menyambutnya memberi selamat.
“Selamat, Liong-ko.”
“Terima kasih, Lun-te.”
Kembali Beng Liong menggunakan kesempatan waktu ini untuk memperhatikan puluhan pertandingan yang sedang terjadi.
Debu beterbangan diiringi suara pertarungan yang menggema. Serasa semua orang yang bertanding telah mengerahkan jiwa raganya untuk memenangkan pertarungan.
Tinggal 3 pertandingan lagi, Beng Liong akan sampai di pertarungan tahap akhir.
Ia bersemadi, mengumpulkan tenaga baru untuk menggantikan tenaga yang tadi sempat hilang saat melawan Ho Thay Hoa.
Pada pertandingan ketiga ini, lawannya adalah seorang setengah baya bernama Lam Han To. Beng Liong pernah mendengar tentang orang ini. Seorang tokeh kosen (sakti) yang namanya cukup terkenal di kalangan Bu Lim. Ia termasuk golongan lurus. Banyak perbuatan gagah yang pernah dilakukannya sehingga ia cukup disegani juga.
Ia tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu pendek. Rambutnya lebat dan memiliki beberapa lembaran putih yang membuatnya terlihat lebih gagah. Kumis tebalnya membuat penampilannya terkesan garang.
“Salam.” Beng Liong menjura memberi hormat.
“Tidak perlu sungkan.” Lam Han To pun menjura.
“Pertandingan dimulai!”
Lam Han To bergerak duluan. Ilmu silatnya meniru gerakan monyet.
“Ah, ilmu Monyet Sakti.” Beng Liong bergumam kagum.
Ilmu Monyet Sakti ini membutuhkan kelincahan dan kecepatan. Cocok untuk digunakan oleh orang yang bentuk tubuhnya seperti Lam Han To.
Pria separuh baya itu bergerak cepat. Serangannya menyusur tanah, mengincar bagian kaki Beng Liong. Melihat ini, Beng Liong mundur dengan cepat pula. Tahu-tahu, tangan Lam Han To telah membabat perut Beng Liong.
Dengan mengeluarkan suara seperti monyet tangannya menyambar!
Walaupun sempat kaget dengan cepatnya serangan itu, Beng Liong tidak panik. Karena seberapapun cepat manusia yang ada di muka bumi ini, tidak mungkin akan lebih cepat dari Beng Liong.
Menerima serangan itu, Beng Liong menggunakan Thay Kek Kun untuk membuyarkan gerak serangan. Tangannya menggenggam kedua tangan Lam Han To, siap melemparkannya ke samping.
Tak dinyana, telapak yang tergenggam itu memiliki kekuatan dahsyat, dan kini berubah menjadi ‘cakar elang’ yang menggores tangan Beng Liong.
Lam Han To ternyata sengaja membuat dirinya terpegang agar dapat melaksanakan serangan ini. Gerakan tipuannya sangat halus, sehingga bahkan Beng Liong sendiri tidak menyadarinya.
Cerdas!
Serta-merta Beng Liong merasa tambah bersemangat. Ia menyukai tantangan baru.
“Awas serangan!” seru Beng Liong sambil bergerak menyerang. Serangannya kali ini berupa gerak tipu Bu Tong-pay yang bernama ‘Tangan Meminta Hati Memberi’. Gerakan ini berupa sebuah tinju yang menghunjam ke arah dada.
Lam Han To menangkis tinju itu dengan menggunakan cakarnya yang mengincar siku Beng Liong. Mau tidak mau, Beng Liong harus menghentikan serangannya. Tapi dengan cerdas Beng Liong hanya melangkah sedikit kesamping. Sikunya selamat, dan kini tinjunya sudah merangsek masuk ke dada Lam Han To.
Terpaksa Lam Han To mundur sedikit untuk menghindari tinju itu. Sebagai ahli silat, ia hanya perlu mundur sedikit saja. Karena setiap gerakan ahli silat pasti harus diperhitungkan matang dan tidak menyia-nyiakan gerakan atau tenaga.
Ia selamat dari tinju itu. Tapi begitu tinju itu terhenti, Beng Liong segera menjentikkan jarinya!
Kekuatan jentikan jari itu begitu kuatnya, sampai-sampai saat menghantam dada Lam Han To, lelaki itu kemudian terjengkang ke belakang.
Ia segera bangkit lalu menyerang ke depan. Kali ini dengan jurus ‘Belalang Cangcorang’. Jurus ini mengandalkan kekuatan sapuan tangan. Gerakannya lincah dan cepat. Menyambar kepala dan dada Beng Liong pada saat yang bersamaan.
Serangan ini memang berbahaya, karena menyerang daerah-daerah mematikan lawan. Tapi serangan ini juga mempunyai kekurangan, karena menyisakan ruang kosong yang terbuka jika ternyata lawan lebih cepat.
Tentu saja Beng Liong lebih cepat. Melihat daerah terbuka itu, dengan cepat kaki Beng Liong menendang. Tapi ia tertipu lagi!
Lam Han To memang sengaja membuat serangan seperti itu agar dapat memancing Beng Liong menendang. Karena begitu Beng Liong menendang, justru daerah bagian bawahnya sendiri terbuka.
Dengan cepat tubuh Lam Han To sudah condong ke belakang menghindari tendangan Beng Liong, lalu kakinya sendiri sudah menyapu kaki Beng Liong yang satunya. Gerak tipu ini sebenarnya sederhana, namun Lam Han To melakukannya dengan sangat-sangat alami, sampai-sampai Beng Liong dan orang lain yang menonton pertandingan ini tidak menyangka sama sekali.
Sapuan kaki Lam Han To ini sangat berbahaya, karena jika betis Beng Liong terkena, maka dipastikan tulangnya akan hancur berantakan, dan mungkin akan cacat seumur hidup.
Untunglah Beng Liong adalah Beng Liong.
Sudah jelas ia lebih cepat daripada orang lain.
Dengan sekali hentak, ia telah melompat. Begitu di udara, kakinya yang tadi menendang kini sudah melancarkan lagi tendangan maha cepat. Beng Liong seperti melontarkan ratusan tendangan dengan satu kakinya dalam waktu sekejap mata.
Lam Han To menangkis seluruh tendangan itu dengan kedua tangannya. Walaupun begitu, ia masih kalah cepat, sehingga beberapa tendangan Beng Liong ada yang masuk ke rusuk dan bahunya. Ia terjengkang ke belakang karena tendangan itu.
Beng Liong tak menyia-nyiakan kesempatan ini. Segera ia menghambur ke depan dan melepaskan sebuah tendangan dahsyat, menghunjam keras ke ulu hati Lam Han To. Lam Han To yang berada dalam posisi terjengkang itu, seperti sudah tidak memiliki cara lagi untuk menangkis atau menghindar.
Tapi ia adalah raja gerak tipu.
Kedua kakinya secara aneh sudah membelit kaki Beng Liong.
Jurus Ular!
Belitan ini begitu cepat, kuat, dan licin. Dengan segenap tenaganya, ia berusaha menghancurkan kaki Beng Liong dengan belitannya.
Beng Liong berusaha melawan tenaga belitan itu dengan Thay Kek Kun. Tapi percuma. Tenaga belitan itu menggunakan sejenis tenaga dalam yang lemas, sama seperti Thay Kek Kun. Karena itu, semakin Beng Liong menggunakan tenaga Thay Kek Kun, belitan dikakinya pun terasa semakin menyakitkan.
Sadar akan keadaan ini, Beng Liong menggunakan ‘Tapak Matahari Menyinari Bumi’. Tapak tangannya berubah berwarna kuning keemasan, dan menghunjam ke perut Lam Han To. Tak disangka, serangan Beng Liong ini pun gagal, karena tiba-tiba kedua tangannya pun sudah terbelit tangan Lam Han To yang menggunakan jurus ularnya. Serasa seluruh geraknya sudah terbaca Lam Han To. Serasa seluruh ilmunya sudah dimengerti Lam Han To.
Nampaknya sejak awal, Lam Han To sudah memikirkan seluruh gerakan dan serangannya. Semua sudah direncanakan dengan rapi dan matang. Gerakan tipuannya sama sekali tidak terlihat sebagai gerakan tipuan!
Ia mungkin boleh kalah cepat, atau kalah kuat. Tapi ia sama sekali tidak kalah pintar.
Ilmu silatnya sederhana, bahkan sangat ‘pasaran’. Tapi ia mampu menggunakannya sebaik mungkin.
Belitannya telah membuat Beng Liong tak berkutik sama sekali. Tak berapa lama lagi, pendekar kebanggaan Bu Tong-pay ini akan hancur lengan dan kakinya!
Walaupun disergap seperti ini, wajah Beng Liong terlihat tetap tenang dan anggun.
Memang ada sebagian orang, yang jika bahaya datang mengancam dirinya, mereka merasa semakin bahagia.
Beng Liong tak dapat bergerak. Belitan Lam Han To telah mengunci seluruh pergerakannya. Ia mengerahkan segala akalnya untuk melepaskan diri.
Lalu terjadilah hal yang mengherankan itu.
Lam Han To melepaskan belitannya dan melompat ke belakang dengan wajah ketakutan.
“Kau… kau… bisa ilmu Menghisap Matahari?”
Ilmu Menghisap Matahari memang adalah salah satu ilmu paling menakutkan yang pernah ada dalam sejarah Kang Ouw.
“Tentu saja tidak,” kata Beng Liong sambil tersenyum.
“Lalu.. lalu…” Lam Han To masih terbata-bata.
“Kebetulan tadi cayhe bertarung dengan lawan yang bisa menyalurkan tenaga orang lain ke tanah atau ke udara. Jadi cayhe pergunakan kesempatan itu untuk mempelajarinya.”
Para penonton yang mendengarkan penuturan Beng Liong sontak terkagum-kagum. Jika Beng Liong dapat mempelajari ilmu orang lain dalam sekali lihat, bisa dibayangkan betapa hebatnya ilmu Beng Liong saat ini!
Kemampuan seperti ini hanya muncul 500 tahun sekali!
Sayangnya, para penonton tidak tahu, bahwa ada orang lain yang mempunyai kemampuan seperti ini. Sayangnya pula, orang itu telah mengorbankan dirinya ke dalam jurang.
“Cayhe.. cayhe menyerah kalah,” kata Lam Han To sambil menjura.
Ia bukan penakut. Ia adalah orang yang bisa melihat kenyataan.
Memangnya apa yang bisa kau lakukan, saat menghadapi musuh yang bisa menyerap tenaga dalammu?
“Terima kasih Enghiong sudah banyak mengalah,” kata Beng Liong menjura sambil tersenyum ramah.
Biarpun Lam Han To menyerah dengan mudah, menghadapinya adalah sebuah kesulitan besar. Lam Han To menguasai cara-cara menipu lawan. Mempengaruhi lawan. Memperdaya dan mendikte lawan.
Ia menipu tetapi tidak curang.
Seluruh gerakannya memang sudah dipersiapkannya terlebih dahulu. Setiap serangan, gerakan bertahan, dan lainnya, semua telah dirancang sedemikian rupa agar dapat menjebak lawan!
Bahkan saat Lam Han To terkena pukulan pun, itu semua karena Lam Han To telah merencanakan bahwa ia harus terpukul. Agar dapat memancing lawan bergerak sesuai keinginan Lam Han To sendiri.
Sungguh cerdas!
Kekuatan dikalahkan oleh kecerdikan!
Bahkan Beng Liong hanya bisa selamat karena ilmu ‘Menyalurkan Tenaga’ nya tadi. Memang bukan ilmu Menghisap Matahari, tapi lumayan berguna juga.
Mau tidak mau, Beng Liong harus mengakui, bahwa Lam Han To adalah petarung yang paling berat yang pernah dihadapinya sampai saat ini.
Ia pun banyak mengambil pelajaran dari pertarungan ini.
Ia kembali ke tempat duduknya. Beristirahat memulihkan tenaganya. Kurang 2 pertarungan lagi!
Cukup lama juga Beng Liong beristirahat sampai semua pertarungan selesai.
Hari sudah menjelang sore ketika pertarungan tahap keempat dilaksanakan.
“Beng Liong melawan Sim Lo Mo!”
Mendengarkan namanya saja, Beng Liong mengerutkan kening. Lo Mo berarti Iblis Tua. Ia sudah mendengar tentang orang ini. Ia pun tidak kaget ketika yang maju ke depan adalah seorang anak-anak!
Melihat gerak-geriknya, Beng Liong sadar bahwa usia orang ini tentulah sudah tua, hanya perawakannya saja yang tampak seperti anak-anak.
Walaupun seperti anak-anak, wajahnya bengis dan menggambarkan kekejaman. Tidak salah namanya adalah Lo Mo.
“Jadi ini pendekar Bu Tong-pay yang terkenal itu?” ia bicara sambil mulutnya mencibir.
“Salam,” Beng Liong menjura.
Sim Lo Mo tidak balas menjura, malah langsung bergerak menyerang!
Pukulan jarak jauh yang bernama Swat Lo Ciang. ‘Pukulan Salju Iblis’.
Hawa dingin yang terpancar keluar dari pukulan itu sangat dahsyat. Beng Liong tidak menangkisnya, karena ia tahu tangannya bisa beku terkena hawa pukulan itu.
Swat Lo Ciang ini kabarnya adalah ilmu baru yang diciptakan dari ilmu kuno jaman dulu, menggunakan hawa dingin sebagai kekuatannya. Ilmu kuno itu dulu bahkan sempat melukai salah seorang murid Bu Tong-pay yang paling terkenal. Beng Liong lupa siapa namanya, tapi Beng Liong tidak lupa tentang betapa dahsyatnya pukulan itu. Oleh sebab itu, ia berhati-hati dan tidak mau ceroboh.
Jaman dahulu, murid Bu Tong-pay yang terluka itu, kemudian berhasil menguasai ilmu maha sakti yang mampu mengalahkan ilmu pukulan salju. Sayangnya, murid Bu Tong-pay itu tidak menurunkan ilmu maha sakti itu kepada orang lain. Ia menghilang begitu saja.
Jadi bagaimana Beng Liong menghadapi ilmu Pukulan Salju Iblis ini?
Ia hanya bisa menghindar!
Pukulan Sim Lo Mo datang bertubi-tubi. Hawa dingin bertebaran dari tangannya. Dengan santainya, ia memukul dan melontarkan hawa dingin itu seperti anak kecil yang bermain lempar batu.
Beng Liong berusaha keras untuk menghindar. Tidak ada satu celah sedikitpun baginya untuk maju mendekat. Tidak ada kesempatan sedikitpun baginya untuk melepaskan serangan.
Ia hanya bisa menggunakan kelincahan tubuhnya untuk menghindar. Menggunakan ginkang nya yang tiada bandingan itu untuk menghindar kesana-kemari.
Entah berapa ratus pukulan yang dihindarinya. Entah berapa ratus salto dan gerakan indah yang dilakukannya untuk menghindari pukulan ganas ini.
Sim Lo Mo hanya tersenyum sambil melontarkan pukulan jarak jauhnya itu. Baginya, ini seperti permainan anak-anak.
“Teruslah menghindar. Saat tenagamu melemah, saat itu pukulanku membuatmu jadi patung es.”
Beng Liong tahu, tak akan ada kesempatan padanya jika ia tidak mengambil resiko. Maka sambil melompat memutar di udara, ia bergerak maju.
Swingggggggg….!!!!!!
Hampir saja kepalanya terkena sambaran hawa dingin itu. Bahkan sebagian rambutnya ada yang membeku!
Ia mengambil resiko lagi!
Kali ini kembali hampir saja dadanya beku! Walaupun selamat, jantungnya terasa dingin sekali, seolah-olah jantung itu berhenti secara tiba-tiba.
Tinggal selangkah lagi Beng Liong akan dapat menjangkau Sim Lo Mo.
Iblis Tua itu pun tidak mundur sedikit pun. Ia sangat yakin kepada pukulannya. Di dunia ini memang tidak ada seorang pun yang pernah selamat dari pukulannya. Justru semakin dekat jarak orang itu dengan dirinya, semakin besar pula kemungkinan pukulannya menemui sasaran.
Sinar putih dingin membeku itu semakin berbahaya menyerang Beng Liong. Seluruh penonton menahan nafas melihat perjuangan pemuda itu menghindar dari pukulan-pukulan Sim Lo Mo yang ganas.
Hingga saat itu kemudian tiba!
Tapak Sim Lo Mo beradu dengan tapak Beng Liong.
Apakah ini akhir dari kisah pendekar Bu Tong-pay yang gagah itu?
Semua orang seperti menangisinya.
Wajahnya pucat memutih seperti es. Tubuhnya bahkan terlihat seperti membeku.
Untuk beberapa lama, telapak kedua orang itu beradu. Menempel lekat seperti tak ada satupun di dunia ini yang mampu memisahkan kedua tapak itu.
Lalu terjadilah hal yang paling aneh.
Bukan tubuh Beng Liong yang membeku. Tetapi tubuh Sim Lo Mo lah yang perlahan-lahan membeku.
Di mulai dari telapak tangannya, lalu menjalar ke lengannya, lalu ke sikunya. Sim Lo Mo hanya mampu membelalakkan matanya dan mengeluarkan suara yang menyedihkan!
“Aaaaaaaaaaaaaaaa……………….”
Praaaaangggggggg!!!!!!!!!
Suara remuknya kedua telapak tangan Sim Lo Mo terdengar seperti suara gelas yang pecah dibanting.
“Aaaaaaaaaaaaaaaa…………………”
Ia hanya bisa menangis kesakitan. Dengan cepat, Beng Liong menotok jalan darahnya, agar ia pingsan dan tidak kehabisan darah.
Bagaimana Beng Liong dapat melakukannya? Apakah dia menguasai juga ilmu Swat Lo Ciang?
Tentu tidak.
Ia hanya menggabungkan ilmu barunya, ‘Menyalurkan Tenaga’, dengan Thay Kek Kun!
Dengan ilmu ‘Menyalurkan Tenaga’, ia mampu menyerang hawa dingin itu. Dengan Thay Kek Kun, ia mampu mengendalikan aliran hawa dingin itu agar tidak melukai tubuhnya. Bahkan malah membalikkan tenaga hawa dingin itu kembali kepada lawannya.
Sederhana!
Tapi, dibutuhkan keberanian, ketelitian, bakat, dan kecerdasan yang sangat tinggi, untuk melakukan hal ‘sederhana’ ini.
Dan di kolong langit ini, ‘mungkin’ hanya Beng Liong yang memilikinya.
“Beng Liong-enghiong dari Bu Tong-pay lolos ke pertandingan akhir!!”
Para pengurus pertandingan telah mengurus Sim Lo Mo. Tokoh sakti ini telah dibuat pingsan oleh Beng Liong. Beberapa orang yang bertugas di bagian pengobatan kemudian berusaha mengobati lukanya.
Beng Liong pun beristirahat.
Pertandingan ini mengurus tenaganya. Setiap tingkat pertandingan kesulitannya semakin bertambah. Hal ini malah membuatnya bersemangat.
Itulah sebab mengapa orang-orang Kang Ouw ini lebih suka mencari lawan ketimbang mencari kawan.
Beng Liong bersemadi. Ia mengosongkan segala pikiran dan mengumpulkan kekuatannya.
Ia tak peduli siapa lawannya di pertarungan akhir nanti. Ia tak mau pikirannya terbebani oleh kehebatan lawan.
Siapapun akan dihadapinya.
Hari telah gelap. Obor sudah dinyalakan.
“Pertarungan terakhir! Beng Liong dari Bu Tong-pay melawan Gan-siauya!” teriak pengurus pertandingan.
Cukat Tong baru saja tiba.
Daerah itu sungguh ramai oleh manusia. Dengan segenap kemampuannya, ia mencari Cio San. Tetap saja tidak bertemu. Mencari Ang Lin Hua dan Luk Ping Hoo pun tidak berhasil. Mencari Suma Sun pun tak ada.
Ia tak ingin ceroboh dengan bertanya kesana-kemari. Ia yakin, ada sesuatu dibalik ‘hilang’nya seluruh sahabatnya ini. Akhirnya ia memutuskan untuk menikmati saja dulu pertandingan Beng Liong melawan Gan-siauya ini.
Ia yakin terhadap sahabat-sahabatnya.
Apapun yang terjadi, ia tetap yakin kepada sahabat-sahabatnya.
Kepercayaan seorang laki-laki kepada sahabatnya, hanya akan muncul jika sahabatnya itu juga memberikan kepercayaan kepadanya.
Oleh karena itu, seseorang tidak boleh berharap akan menemukan sahabat sejati, sebelum dirinya sendiri pantas untuk disebut sahabat sejati.
Ia tidak mungkin mencari sahabat yang dapat dipercaya, sebelum dirinya sendiri pantas dipercaya.
Ia tidak pantas meminta sahabatnya berkorban untuknya, sebelum dirinya sendiri berkorban untuk sahabatnya.
Dan Cukat Tong yakin seyakin-yakinnya terhadap dirinya sendiri. Ia adalah orang yang dapat dipercaya, dan ia telah mengorbankan dirinya demi sahabat-sahabatnya. Oleh karena itu, pantas pulalah baginya untuk tetap tenang, karena ia yakin sahabat-sahabatnya ini tentu tak akan membuatnya kecewa.
Karena sahabat sejati adalah jodoh.
Jika kau tak menemukan mereka. Merekalah yang akan menemukanmu.
Cukat Tong duduk diatas sebuah pohon. Bukan keanehan, karena banyak pula penonton yang menyaksikan pertandingan dari atas pohon.
Pertandingan terakhir ini, seperti kebiasaan, dilakukan diatas sebuah panggung khusus.
Panggung berbentuk bundar yang kokoh. Ukurannya cukup lebar. Menurut peraturan, siapa yang terlempar keluar dari panggung itu berarti dianggap kalah.
Pertandingan menjadi lebih sulit dan seru, karena ruang gerak dibatasi.
“Silahkan maju ke atas panggung bagi kedua peserta.”
Beng Liong dan Gan-siauya maju ke depan. Tapi Cukat Tong sudah tidak peduli. Telinganya yang tajam telah mendengar percakapan orang-orang di sekitarnya. Ia akhirnya tahu apa yang telah terjadi sebelum ia tiba. Dengan wajah merah padam, ia segera menuju jurang tempat Cio San terjatuh.
Suara lengkingan keluar dari mulutnya. Tak lama kemudian ia melompat ke jurang!
Tak ada seorang pun yang tahu, jika ada seorang manusia melompat ke dalam jurang. Semua mata, semua perhatian manusia yang ada di puncak gunung itu, tertuju kepada Beng Liong dan Gan-siauya.
Hari telah menjelang gelap. Obor-obor pun telah dinyalakan. Malam telah menjadi sangat senyap, walaupun ada ribuan orang yang berada di sana.
Jika kau menyaksikan apa yang telah terjadi beberapa waktu lalu, kau tentu tak akan berani buka suara. Siapapun tak akan berani lagi menyombongkan diri. Pertempuran dahsyat dan ilmu yang diperlihatkan Cio San tadi telah membuka mata semua orang.
Sehebat apapun kau, suka atau tidak suka, kau harus menundukkan kepala dan merendahkan dirimu, jika kau mendengar nama Cio San disebut.
Dua orang petarung terakhir telah berdiri di panggung.
Begitu gagahnya!
Kedua orang ini sama-sama tampan.
Sama-sama hebat.
Sama-sama mengagumkan.
Yang satu datang dari perguruan silat utama Bu Lim, yang satu unik dan penuh rahasia.
Mereka saling menjura.
“Beng Liong. Bu Tong-pay,” kata pemuda gagah ini menjura sambil sedikit tersenyum.
“Cayhe she-Gan,” kata si pemuda unik berbaju merah.
“Mulai!” teriak Tetua pertandingan.
Kedua orang itu tidak bergerak.
Semua orang yang menonton menahan nafas.
Seolah-olah bumi berhenti berputar dan waktu berhenti berjalan.
Begitu lama.
Herannya, tak ada seorang pun yang berani buka suara.
Lalu gerakan itu pun tiba.
Gerakan pertama.
Gerakan pembuka dalam gebrakan silat antar pendekar utama, adalah gerakan yang paling berbahaya.
Karena mereka tahu, kekeliruan yang secuil saja akan membawa maut.
Tidak dibutuhkan penjajagan atau coba-coba ukur kemampuan.
Perbedaan seujung kuku akan mengundang kematian.
Telapak Gan-siauya yang berwarna merah seperti darah telah meliputi sekujur tubuh Beng Liong. Seolah-olah Beng Liong telah dikeroyok oleh puluhan orang. Siapapun yang menonton pun tahu, gerakan Gan-siauya tidak kalah cepat dari gerakan Cio San!
Begitu banyak orang yang mengagumkan di dunia ini!
Mereka pun masih muda usia pula!
Beng Liong menghadapi serangan itu dengan tenang dan berani. Setiap tapak itu diterimanya dengan tapak pula. Gerakannya lembut dan menghanyutkan. Thay Kek Kun memang selalu membawa kejutan.
Dan kejutan yang terbesar adalah, Beng Liong pun tidak kalah cepat dari Gan-siauya.
Memang kalau mau jujur, Beng Liong tidak kalah cepat dari siapapun di muka bumi ini.
Karena Beng Liong adalah Beng Liong!
Tapak berwarna merah darah itu terpunahkan seluruhnya, Beng Liong pun melakukan serangan balasan. Sebuah gerakan sederhana.
Kakinya entah datang darimana, seolah menyusup ke dalam kurungan telapak Gan-siauya. Bukan ilmu sakti maha dahsyat yang ia pertunjukkan. Hanya sebuah gerakan menendang sederhana yang ringan. Tapi ketepatan dan kecepatannya mengalahkan apapun yang paling cepat dan paling tepat di kolong langit ini.
Gan-siauya tidak panik menerima serangan itu. Ia berkelit dengan cepat. Bahkan gerakan berkelitnya itupun, sudah melahirkan tendangan yang sama persis kecepatan dan ketepatannya dengan tendangan Beng Liong tadi.
Sejenak Beng Liong terperangah. Gan-siauya mempunyai kemampuan untuk meniru jurus orang lain dalam sekali lihat!
Ini memang bukan hal yang sangat mengagumkan, karena banyak juga orang yang memiliki kemampuan seperti ini. Tapi jika bisa melakukannya sesempurna dan sedahsyat aslinya, maka tidak sembarang orang yang mampu.
Tendangan ini mengarah ke dagu Beng Liong. Tangan Beng Liong segera menutup gerakan kaki itu dengan sebuah gerakan memutar. Tubuh Gan-siauya pun oleng dan ia kehilangan keseimbangan. Melihat lubang kosong itu, Beng Liong tidak terburu-buru menyerang.
Dan ia benar. Lubang kosong itu hanya pancingan agar ia menggunakan kakinya untuk menyepak. Jika ia melakukannya, kakinya pasti akan tertangkap.
Gan-siauya berjumpalitan di udara sambil kedua tangannya mengeluarkan lagi serangan telapak yang lebih dahsyat. Suara menggelegar bagai raungan naga keluar dari telapak tangannya. Beriringan dengan kilatan cahaya merah yang seolah-olah menghunjam tubuh Beng Liong.
Pemuda Bu Tong-pay itu segera mencelat ke belakang menghindari hunjaman sinar dahsyat itu. Sinar itu menghancurkan lantai panggung yang terbuat dari bebatuan karang!
Jurus apa itu?!
Telapak tangan Gan-siauya bersinar merah menyala. Ia berdiri dengan sebuah kuda-kuda yang sudah tidak asing lagi.
Kuda-kuda ini adalah milik sebuah jurus yang sangat ternama dan melegenda dalam dunia persilatan.
18 Tapak Naga!
Semua orang yang menonton tahu kuda-kuda ini. Mereka sudah melihat Cio San menggunakannya dengan sempurna beberapa waktu yang lalu.
Pemuda itu mampu menirunya!!!!!
“Siauya bisa meniru 18 Tapak Naga? Hebat!” Pujian tulus keluar dari mulut Beng Liong.
Si pemuda baju merah hanya tertawa. Keluarganya yang sejak tadi menyemangati kini semakin bersemangat mendukungnya.
“Hayo. Hajar dia! Hajar dia!”
Beng Liong berdiri dengan tenang.
Gan-siauya pun tenang-tenang saja. Malahan bibirnya tak berhenti tersenyum.
“Kita coba lagi, Beng-enghiong?” tanyanya.
“Boleh.”
Tubuh Gan-siauya lalu melayang tinggi di angkasa. Dari telapak tangannya yang semerah darah itu keluar cahaya merah menyilaukan yang meliuk-liuk bagaikan naga mengamuk. Suaranya benar-benar bagaikan teriakan naga yang mengamuk. Tenaga dalam ini bergerak dalam bentuk liukan yang membingungkan, lalu menghunjam ke arah Beng Liong.
Beng Liong tidak melompat. Ia memperkuat kuda-kudanya dengan melangkah lembut. Langkah yang amat terkenal. Dengan kedua tangannya, ia menerima kilauan cahaya merah itu. Ia bergerak seperti orang menerima. Cahaya merah itu seperti berputar-putar di lengannya yang bergerak anggun. Lalu ia memutar tubuhnya dan menghentakkan kakinya.
Cahaya merah itu bergerak dengan amat dahsyat menyerang pemiliknya sendiri!
Gan-siauya yang masih berada di udara tidak panik. Sekali lagi ia menghunjamkan tangannya.
Cahaya merah yang meliuk-liuk itu buyar seluruhnya. Menimbulkan suara gelegar yang menggetarkan jantung!
“Thay Kek Kun memang hebat!” pujinya.
“Tapak Naga milik Siauya pun hebat. Apa nama jurus ini?”
Mereka masih bisa bertanya-jawab seperti dua sahabat yang lama tak berjumpa.
Gan-siauya tersenyum, “Ah, Enghiong sudah menebak kalau cayhe bukan sekedar meniru orang saja, ya?”
Beng Liong mengangguk.
“Dahulu, ratusan tahun yang lalu, nama jurus ini adalah 28 Tapak Naga. Leluhur Siau Hong (Xiao Feng-dalam cerita Demi Gods and Semi Devils karya Jin Yong/Chin Yung) meringkasnya menjadi 18. 10 sisanya terbuang. Yang terbuang inilah, yang kuwarisi sekarang.”
Hebat.
Tak ada seorang pun di sana yang menyangka kalau hal demikian pernah ada.
Sejarah jurus ini begitu melegenda, namun tak seorang pun mengira bahwa sepuluh jurus yang ‘terbuang’ itu masih terpelihara sampai sekarang.
Tentu pertanyaan yang timbul di benak orang-orang Kang Ouw adalah, di mana ia mempelajarinya? Siapa yang mengajarkannya?
Tentu pula rahasia itu tak akan terjawab. Karena satu-satunya yang tahu rahasianya cuma keluarga ini. Dan ditilik dari sifat mereka yang aneh, sampai dunia kiamat pun mereka pasti tak akan buka mulut.
Dalam hati, Beng Liong semakin tertarik mengetahui rahasia keluarga aneh ini. Ada begitu banyak pertanyaan dan keanehan.
Siapa mereka? Mengapa mereka baru muncul sekarang? Apa tujuan mereka mengikuti perebutan Bu Lim Bengcu ini?
“Mari, Enghiong. Kita coba lagi. Lihat ilmu mana yang paling dahsyat.”
“Silahkan, Siauya.”
Gan-siauya lalu mengembangkan tangannya ke samping. Cahaya merah keluar dari ujung telapaknya lalu berputar-putar seperti naga yang menggelayut kepada lengannya.
Sepanjang hidupnya, baru kali ini Beng Liong menyaksikan orang yang benar-benar menguasai tenaganya sendiri dan mengubah tenaga itu menjadi cahaya. Dapat dibayangkan, bagaimana besarnya tenaga itu!
Dan bagaimana pula hebatnya kemampuan orang yang melakukannya!
Jurus ketiga dari 10 Tapak Naga.
‘Naga Meliuk dan Menembus Langit’
Lalu ia menghunjamkan telapaknya kedepan. Sinar itu pun berkelebat amat cepat. Sesuai dengan nama jurus itu sendiri.
Sekali lagi Beng Liong menggunakan Thay Kek Kun untuk menghadapinya. Entah ini Thay Kek Kun tingkat ke berapa. Murid-murid Bu Tong-pay yang masih tersisa di gunung itu pun tak pernah melihat Thay Ken Kun seperti ini.
Beng Liong menerima cahaya naga itu. Masih dengan cara yang sama saat ia menghadapi jurus kedua tadi. Begitu tangannya menerima cahaya itu, ia terperangah kaget. Gan-siauya melesat lebih cepat dari cahaya itu dan malah telah muncul pula di hadapannya. Pemuda berbaju merah itu lalu menghunjamkan puluhan telapak secara beruntun!
Beng Liong terperangah. Gan-siauya bergerak amat cepat dan mematikan. Tangan Beng Liong sedang sibuk ‘mengurusi’ cahaya naga. Sedangkan puluhan telapak Gan-siauya telah mengincar seluruh titik di tubuhnya.
Ia hanya punya kaki yang diandalkannya untuk mundur ke belakang. Dengan cepat, ia telah mundur. Tetapi Gan-siauya tidak memberikan ampun dan terus mencecar dengan telapaknya yang mematikan.
Sedikit lagi Beng Liong akan keluar dari panggung!
Gan-siauya meneruskan serangannya. Mereka berdua telah berada di ujung panggung batu itu. Puluhan telapak itu berhasil dihindari Beng Liong dengan cara mundur.
Mundur berarti jatuh!
Dan Beng Liong pun jatuh keluar dari bibir panggung.
Orang berteriak terhenyak, ada pula yang menahan nafas.
Gan-siauya tersenyum.
Tapi senyumnya berubah, ketika tahu-tahu tanpa diduga-duga, Beng Liong sudah ada di hadapannya. Dengan bahunya, Beng Liong menghempaskan Gan-siauya sampai terjengkang ke belakang. Tak cukup sampai di situ, Beng Liong pun ikut terbang melayang mengikuti arah terjengkangnya Gan-siauya.
Begitu Gan-siauya terpelanting, telapak tangan Beng Liong berhenti tepat di ujung hidung pemuda baju merah itu.
“Beng Liong menang!!!” teriak Tetua pertandingan.
Semua orang bersorak!
Tentu yang tidak ikut bersorak adalah keluarga Gan. Tapi mereka tetap tersenyum-senyum saja.
“Pertandingan bagus! Silat hebat! Selamat untuk Bu Lim Bengcu yang baru!” kata Gan-ongya, kepala keluarga Gan.
Secara jujur ia kagum dengan bagaimana Beng Liong membalikkan situasi terdesak menjadi menguntungkan. Ketika Beng Liong terlempar dari panggung tadi, kedua tangannya masih ‘mengendalikan’ tenaga serangan Gan-siauya. Dengan menghentakkannya ke tanah, tenaga itu menghasilkan daya lenting yang sangat kuat bagi Beng Liong, sehingga ia dapat kembali lagi ke panggung dan menyerang Gan-siauya!
“Selamat kepada Bu Lim Bengcu yang baru!!!!!!”
Semua orang bersorak!
****
Segala kemegahan dan keramaian itu pun berangsur-angsur memudar. Bu Lim Beng Cu telah terpilih, banyak orang menunjukan wajah puas. Sebagian lagi belum bisa melupakan kejadian dahsyat saat Cio San menghadapi ribuan orang di atas gunung itu.
Masing-masing kemudian kembali pulang. Ada yang bersedih karena kehilangan saudara dan teman di gunung ini. Ada yang bahagia karena hasilnya memuaskan. Ada pula yang semakin bersemangat untuk memperdalam ilmu silatnya. Satu hal yang pasti, tidak ada satu pun yang bisa melupakan kejadian dahsyat di gunung itu.
Beng Liong tentu saja tidak lupa. Walaupun hatinya gembira telah menyelesaikan tugas ini, tentu saja ia bersedih pula atas semua kejadian yang telah berlangsung. Segera setelah pertandingan selesai dan ia memulihkan tenaganya, ia bersama rombongan Bu Tong-pay segera mencari jalan menuju ke dasar jurang. Di tengah jalan pun mereka bertemu dengan dengan rombongan Siau Lim-pay dan Go Bi-pay yang rupanya memiliki maksud dan tujuan yang sama: mengetahui nasib ciangbujin mereka.
Perjalanan ini memakan waktu beberapa hari, karena jurang itu sangat sukar dilalui. Mereka harus mencari jalan memutar dan juga harus mengerahkan ginkang agar bisa melalui jalan yang sangat susah seperti itu.
Dasar jurang itu ternyata berupa sungai yang lumayan dalam. Rombongan murid ketiga perguruan besar itu harus menggunakan obor karena dasar jurang itu lumayan gelap disebabkan sinar matahri tidak dapat menerobos ke dalam jurang itu secara sempurna.
Begitu sampai di sana, segera mereka bergerak mencari. Kadang pula mereka meneriakan nama-nama orang yang dicarinya. Setelah beberapa jam dasar jurang itu disusuri, mereka akhirnya menyerah. Tidak mungkin ada yang selamat. Apalagi mereka menemukan potongan-potongan tubuh manusia yang tercerai berai. Juga beberapa sobekan baju.
Begitulah.
Mereka pulang dengan tangan hampa. Mencoba mengikhlaskan apa yang telah terjadi.
Rombongan dari Bu Tong-pay memilih untuk tidak kembali ke perguruan. Karena jaraknya lumayan jauh, sehingga waktunya tidak keburu jika mereka harus berangkat ke kotaraja untuk pelantikan oleh kaisar. Apalagi jarak ke kotaraja memang lebih dekat dari gunung Thay San, dibandingkan dari Bu Tong-san.
Mereka berangkat!
Ke kotaraja.