
Yah, walaupun wajahnya sedikit pucat aneh.
Selama sebulan ini, Cio San telah masak berbagai macam masakan. Kesempatan bekerja jadi koki seperti ini digunakannya juga untuk mempelajari berbagi macam resep yang sempat dibacanya di buku pemberian Liang-lopek. Kadang-kadang Cio San malah menciptakan sendiri resep-resepnya. Dan herannya, semua rasanya enak.
mereka selalu berdua. Seperti di hari ini. Lai Lai sedang memasuki jam sepi, sudah lewat jam makan siang. Memasuki waktu sore. Walaupun sepi, tapi memang masih ada sekitar 10 sampai 15 orang yang makan di situ.
“San-ko (Kakak San), marilah beristirahat dulu. Sejak jam makan siang tadi, kau belum beristirahat sejenakpun,” kata Mey Lan.
“Tunggu sebentar lagi, Meymey. Ini kusiapkan dulu bahan-bahan untuk masakan malam,” jawab Cio San sambil tersenyum.
Di ruang belakang, hanya kuping Cio San yang mendengar ini. Seluruh suara orang mengobrol dari ruang depan, mampu didengarnya. Pujian terhadap masakannya, cemoohan orang terhadap orang lain, masalah di tempat kerja, masalah cinta antar kekasih, dan berbagai perkara yang orang obrolkan saat makan di ruang para tamu, semua mampu didengarnya dari dapur tempat ia bekerja.
Kini telinganya yang tajam dan telah terlatih bertahun-tahun, mendengar sebuah suara. Di saat ramai saja, ia mampu membedakan suara-suara. Kini saat Lai Lai sepi, alangkah mudah ia membedakan suara itu. Suara yang pemiliknya ia kenal bertahun-tahun. Raut mukanya pun berubah. Tapi tidak ada orang yang bisa melihat, karena ia memakai topeng kulit ular.
“Meymey, tunggu sebentar ya…. Ada yang lupa kulakukan,” kata Cio San kepada Mey Lan. Yang dijawab dengan anggukan dan senyuman.
Cio San segera ke dapur.
“Wah, sudah selesai makan siang, A San? Ada tamu lagi. Ia meminta makanan apa saja. Kau ada siapkan masakan apa tadi?” tanya pelayan yang tadi menerima tamu di depan. Sekarang Cio San menggunakan nama A San. Sebuah nama yang umum pada saat itu.
Tiba-tiba timbul sebuah ide di benak Cio San. Ia akan membuatkan masakan yang pasti disukai tamu di depan itu.
“Aku akan memasak sesuatu yang khusus. Kau bawakanlah seguci arak ini, biar dia tidak bosan menunggu.”
“Darimana kau tahu dia memesan seguci arak juga?” tanya si pelayan.
“Ah, bukankah jam segini, memang biasanya orang pesan arak?” jawab Cio San.
“Betul juga, arak apa yang paling cocok untuk sore seperti ini?”
“Arak Ciu Pek. Pasti enak,” katanya sambil tersenyum.
Si pelayan menyuguhkan arak, Cio San memasak. Ia memasak Ang Sio Bak. Karena ia tahu, itulah makanan kesukaan si ‘tamu’ di depan.
Cio San pun kembali ke Mey Lan, yang menyambutnya dengan pertanyaan, “Ada tamu lagi ya?”
“Iya, kumasakkan Ang Sio Bak.”
“Karena kutahu kau pasti pengen, makanya kusisakan sedikit.” Cio San tersenyum sambil menyodorkan piring berisi Ang Sio Bak panas.
“Memangnya kau pikir aku wanita gembul tukang makan?” Matanya marah, tapi bibirnya tersenyum.
"Haha…, tidak mau makan ya sudah. Sini. Aku saja yang makan,” goda Cio San.
“Siapa bilang aku tidak mau. Sini dagingnya..” Sambil bilang begitu, seluruh isi piring sudah Mey Lan tumpahkan ke mangkoknya.
Siapapun yang cukup sering kumpul perempuan, sepertinya memang tahu, bahwa kalau perempuan bilang ‘tidak mau’, itu bisa saja berarti ‘mau’. Cio San walaupun baru kali ini dekat dengan perempuan, sedikit-banyak sudah paham.
“Hey, sisakan sedikit untukku,” kata Cio San dengan pandangan mata memelas.
Mey Lan menjawabnya dengan menjulingkan mata dan mengeluarkan lidah. Entah kenapa ada sebagian perempuan yang jika mereka menjelekkan raut wajahnya, justru membuat mereka terlihat tambah cantik dan menggemaskan. Mey Lan jelas masuk golongan ini.
Cio San hanya bisa tersenyum.
“A San, kemarilah sebentar,” terdengar panggilan dari ruang dapur.
“Tepat seperti yang kuduga,” kata Cio San dalam hati, ia pun bergegas ke dapur, sambil bilang ‘Tunggu sebentar’ ke Mey Lan yang dijawab dengan senyuman.
“Itu, tamu di depan, suka sekali dengan masakanmu. Ia membayar banyak sekali, ketika diberi kembalian ia malah menolak.” Kali ini si kasir sendiri yang datang ke dapur.
“Lalu?” tanya Cio San sambil tersenyum.
"Ia meminta dikenalkan dengan yang memasak, makanya kau kupanggil. Segeralah kau menemuinya.”
“Baiklah.”
Ketika Cio San memasuki ruang para tamu, ia sudah tahu siapa tamu itu. Suaranya, harum tubuhnya yang tercium, kini begitu melihat orang itu, yakinlah dia dengan hasil tebakannya.
Orang itu tersenyum dan berkata,
“Selamat siang… Nama saya Beng Liong, dari Bu Tong-pay.”