
Wajah sang Dewa Pedang itu jauh lebih pucat, ketimbang saat Cio San melihatnya tadi di depan tenda.
Ia baru mau akan bertanya, tapi si nona cantik sudah keduluan berkata,
“Apa yang Tuan lakukan tadi kepada korban-korban di depan, sudah kami lakukan pula kepada ayahanda. Tapi mengapa sakitnya bertambah parah?”
Cio San hanya bisa mengangguk dan mulai memeriksa Kam Sin Kiam.
“Maaf, Tayhiap,” katanya sambil meletakkan jari-jarinya di pergelangan tangan si Dewa Pedang.
Tak berapa lama ia memeriksa, Cio San bertanya,
“Apakah Tayhiap merasa, ketika mengerahkan tenaga dalam, seluruh tenaga itu malah buyar dan menyerang diri sendiri?”
“Benar,” jawab Kam Sin Kiam pendek.
Cio San mengeluarkan sebuah botol kecil dari dalam sakunya.
“Silahkan minum, Tayhiap. Dan jangan kerahkan tenaga dalam sama sekali.”
“Obat apa itu?” kali ini si nona yang bertanya sangsi.
Cio San hanya bisa tersenyum kecut dan mengangkat bahu.
“Ayah, jangan di…”
Terlambat. Si Dewa Pedang sudah meminumnya.
“Rasakan hawa hangat yang timbul di bawah perut. Gunakan hawa itu untuk menekan hawa dingin yang meliputi seluruh organ bagian dalam Tayhiap,” kata Cio San.
Sambil duduk bersila, Kam Sin Kiam melakukan apa yang dikatakan Cio San. Perlahan-lahan wajah pucatnya memerah, dan terlihat raut wajahnya berangsur-angsur segar.
Si nona yang melihat perubahan ini, segera menjura sambil berkata, “Terima kasih, Inhiap (Tuan Penolong).”
Walaupun perempuan ini cerewet, setidaknya ia perempuan yang jujur. Hal ini saja sudah membuat rasa tidak suka di hati Cio San mulai mencair.
“Siocia tidak perlu sungkan,” katanya balas menjura.
“Dalam beberapa hari, Tayhiap mungkin akan pulih. Sebenarnya jika penanganannya cepat, tidak akan ada masalah. Hanya saja tadi kita sedikit terlambat,” jelas Cio San kepada Kam Sin Kiam.
“Apa pengaruhnya jika pengobatannya telat?” tanya si Dewa Pedang.
“Tenaga dalam yang Tayhiap himpun akan hilang. Semakin telat, semakin banyak hilangnya.”
Dewa Pedang itu hanya mengangguk pelan. Wajahnya mengeras. Bibirnya terkatup rapat. Raut muka seperti ini semakin menambah jelas kesan angkuh yang ada pada dirinya.
“Sebaiknya pertarungan ayah dengan Suma-tayhiap ditunda,” saran si nona.
“Aku telah menantangnya duel, lalu meminta penundaan? Lebih baik pedangku kupakai untuk memotong sayur di dapur,” kata-katanya pelan namun tajam.
Semakin memperhatikan orang ini, semakin Cio San merasa, betapa miripnya ia dengan Suma Sun. Begitu dingin, jarang berbicara, pakaiannya pun sama putih-putih.
Apakah syarat untuk menjadi Dewa Pedang harus begini?
Jika tidak ada perubahan, dalam 20 tahun lagi tentunya Suma Sun akan menjadi lebih aneh dari orang ini.
Dalam hati ia berpikir, alangkah hebatnya Suma Sun. Dalam usia belum sampai 30 tahun, ia telah mencapai tahap Dewa Pedang. Sedangkan menurut kabar yang ia dengar, Kam Sin Kiam ini mencapai tahap Dewa Pedang tanpa tanding saat berumur 40.
Secara bakat, Suma Sun lebih unggul. Namun secara pemahaman dan pengalaman, Kam Sin Kiam lebih unggul.
Persaingan antara ‘semangat beserta bakat orang muda’ dan ‘pemahaman beserta pengalaman kaum tua’, selalu terjadi sepanjang jaman. Sejak dahulu kala. Pemenangnya pun bergiliran dari muda ke tua, dan tua ke muda.
Kali ini, apakah si muda yang menang, atau si tua yang berjaya?
Cio San tidak bisa menjawab.
Karena si muda sedang asyik mabuk-mabukan, dan si tua sedang berbaring sakit.
Kejadiaan si muda yang bermabuk-mabukan, dan si tua yang berbaring sakit ini pun, juga bukan kejadian baru. Semenjak dahulu, sudah ada kejadian macam begini.
Sejarah sebenarnya terus berulang, dan kejadian yang sama terus berlangsung. Hanya pelaku, waktu, dan tempat yang berbeda. Manusia yang bijak, adalah yang belajar dari kejadian-kejadian ini. Sayangnya, manusia yang bijak, jumlahnya tidak terlalu banyak. Walaupun begitu, setidaknya dunia masih bisa menaruh sedikit harapan kepada jumlah yang tidak terlalu banyak itu.
Karena menurut ujaran kuno, nasib sebuah bangsa itu berada dalam genggaman semangat para pemuda, dan dalam kebijaksanaan orang tua.
“Boanpwe mohon diri dulu, Tayhiap,” kata Cio San menjura.
“Terima kasih,” jawab Kam-tayhiap pendek. Wajahnya tetap mengeras, dan matanya pun tetap mencorong.
Cio San melangkah keluar bilik dengan ringan. Senang rasanya bisa menolong orang.
“Tuan, harap sudi menerima bingkisan ini. Tidak seberapa, tapi mungkin bisa dipakai untuk bekal.”
Emas.
Cio San tersenyum. Ia tidak pernah tertarik dengan emas. Kalau lapar tidak bisa dimakan, kalau haus tidak bisa diminum.
“Maaf, Nona. Cayhe cuma menolong. Tidak ada niat untuk mencari upah.”
Si nona cuma mengangguk dan tidak memaksa. Ia memang punya pembawaan yang lugas dan tanpa basa-basi. Ia pun tahu sifat-sifat orang Kang Ouw.
“Tuan, saya masih meminta satu bantuan lagi. Apakah tidak keberatan?” tanya si nona.
“Nona meminta agar saya tidak menyiarkan kabar tentang ayah nona yang keracunan?”
“Benar.”
“Jangan khawatir,” kata Cio San sambil tersenyum. Ia lalu meminta diri dan segera bergegas pulang.
Di luar, beberapa orang masih berbaring beristirahat memulihkan tenaga. Begitu melihat Cio San keluar, mereka segera menyapanya, “Ah, Tuan Penolong.”
Cio San hanya tersenyum, lalu berkata, “Para orang gagah, harap beristirahat sampai benar-benar pulih. Acara kita masih panjang sampai pada pemilihan Bu Lim Bengcu nanti.”
“Eh, kemana yang lain?” tanyanya.
“Mereka sudah pergi,” jawab salah seorang.
Cio San kemudian duduk di sana. Sekedar berkenalan dan mengobrol dengan mereka yang terluka. Ternyata mereka ini terdiri dari golongan putih dan golongan hitam. Lucunya, saat sehat kedua golongan ini bertarung terus, tapi saat sakit mereka ini malah terlihat akrab.
Mungkin itulah alasan ‘langit’ menurunkan sakit. Agar manusia berhenti sejenak dalam peperangan, lalu duduk merenungi bahwa sesungguhnya mereka adalah makhluk lemah yang saling membutuhkan.
Cio San memberi beberapa petunjuk kepada mereka tentang cara menghimpun tenaga dalam setelah tadi terserang racun 7 Raja Ular. Saat orang-orang ini mencoba melakukannya, terasa tenaga mereka menjadi bebas dan semakin menguat. Dapat dibayangkan, betapa berterima kasihnya mereka kepada si ‘Lie Sat’ ini.
Sebenarnya, Cio San sudah ingin cepat-cepat pergi. Tapi ia masih menunggu, jangan sampai ada serangan kedua, atau timbul kejadian-kejadian yang tidak mengenakkan. Oleh sebab itu, ia bertahan sampai pagi di sana. Orang-orang lain sudah pergi seluruhnya dari situ. Tentunya tak lupa untuk mengucapkan terima kasih kepada Cio San.
Pagi menjelang. Matahari mulai bersinar walau masih malu-malu. Udara sejuk pegunungan membuat tubuhnya merasa begitu bersemangat. Walaupun belum tidur seharian, ia merasa tetap segar bugar. Bahkan jika tidak tidur 7 hari pun, ia masih akan tetap segar bugar.
Daerah tempat keluarga Kam mendirikan tenda ini lumayan sepi. Tidak banyak orang yang lewat sini, karena memang berada di luar jalur yang biasa dilewati orang. Oleh karena itu, Cio San merasa heran juga, ada kereta kuda yang terlihat menghampirinya.
Siapa lagi kah yang datang?
Urusan macam apa lagi kah yang harus dihadapinya?
Ia sudah tidak peduli lagi. Orang yang mengalami berbagai macam kejadian seperti dirinya, tentu tak akan peduli lagi. Mau terjadi, ya terjadilah. Kalau harus dihadapi, kenapa tidak dihadapi?
Maka ia kini tersenyum kepada kusir kereta. Mungkin saja ini tamu yang ingin mengunjungi keluarga Kam. Si kusir pun tersenyum dan bertanya, “Apakah Ciokhee yang bernama Lie Sat?”
“Benar,” ia menjawab. Sedikit senyum tapi mengangkat alis. “Ternyata mencari diriku. Tak peduli menyamar atau tidak, kenapa urusan selalu saja datang?” Ia benci kesulitan, tapi herannya, kesulitan seperti cinta mati kepadanya.
Si kusir tidak menjawab, ia hanya tersenyum, lalu turun untuk membuka pintu kereta.
“Tuan dan Nyonya, kita sudah ketemu orangnya,” katanya kepada orang yang ada di dalam.
Lalu orang itu turun.
Dari seluruh orang yang ada di dunia, sekali pun tidak disangkanya bahwa orang ini yang datang.
Mey Lan!
Ia masih sangat cantik, seperti dahulu. Masih anggun. Jika berjalan masih terlihat seperti menjinjit. Pinggulnya bergerak seperti orang menari. Dan senyumnya… Ah, senyumnya. Segala hal di dunia ini boleh ia lupakan, tapi mana mungkin bisa melupakan senyumnya?
Pipinya masih kemerahan. Lehernya masih bersih putih. Seperti tidak ada yang berubah.
Yang berubah hanya sinar wajahnya. Seperti ada duka dan kesusahan yang menutupi cerahnya sinar wajah cantiknya.
Namun demikian, segarnya embun dan udara pagi, masih belum sesegar suasana saat wanita itu hadir di depan matanya.
“Maaf, Tuan Lie Sat kah?” tanya Mey Lan kepadanya.
Cio San berdiri dan menjawab “Benar, Nyonya.”
Mey Lan menjura, “Maaf merepotkan Tuan, tapi cayhe mendengar tentang perbuatan Tuan menyelamatkan beberapa orang semalam. Cayhe.. eh.. ingin meminta bantuan Tuan.”
“Bantuan apakah gerangan, Nyonya?”
“Harap Tuan menyembuhkan suami cayhe.”
“Suami Nyonya sakit apa?”
“Ia terluka dalam, saat berkelahi dengan seorang ********.”
********. Rupanya, namanya sudah berganti menjadi ********.
“Baiklah. Mari kita lihat keadaan suami Nyonya.”
Mereka pun masuk ke dalam kereta.
Melihat keadaan Lim Gak Bun, Cio San sungguh kaget. Pria gagah ini terbaring lumpuh tak berdaya. Wajahnya pucat pasi seperti mayat hidup. Tapi ia masih bisa tersenyum dan menyapa, “Salam, Siansing (tabib sakti). Maaf tidak bisa menyambut dengan sepantasnya.”
Cio San pun tersenyum dan memberi salam juga. Segera ia memeriksa nadi pria malang itu. Jalan darahnya kacau berantakan. Belum pernah sekalipun Cio San menemui kejadian jalan darah orang seperti ini.
Saat dulu menyerang Lim Gak Bun, ia hanya bergerak sekenanya saja. Tanpa dipikirkan terlebih dahulu, karena saat itu dirinya sedang dalam bahaya. Secara refleks, ia mengeluarkan jurus 18 Tapak Naga.
Ia tak menyangka, pukulan 18 Tapak Naga yang ia lancarkan akan menghasilkan akibat seperti ini. Dengan sekuat tenaga, ia menahan perasaan dan air matanya. Bagaimanapun, ia tidak memliki dendam kepada kedua orang ini.
Sesakit apapun perasaan yang ia rasakan saat hatinya patah dahulu, tidak mampu melawan rasa perih yang dirasakannya saat melihat keadaan suami Mey Lan ini. Ia tak sanggup berkata apa-apa juga.
Mey Lan yang kemudian membuka suara.
“Bagaimana keadaannya, Tuan? Apa bisa disembuhkan?”
“Akan saya coba.”
Ia mengerahkan tenaga dalamnya dan menyalurkannya lewat punggung Lim Gak Bun. Serta-merta, murid berbakat dari Kun Lun-pay itu merasakan betapa badannya kini terasa hangat. Rasa hangat itu menyebar menembus seluruh tubuhnya, mengisi rongga dada, dan perutnya.
Sinkang (tenaga sakti) yang diperoleh Cio San dari tumbuhan jamur di dalam goa dulu memang sungguh dahsyat dan tiada banding. Memakan satu jamur itu saja, sudah sanggup menambah tenaga berlipat-lipat. Apalagi Cio San memakannya hampir tiap hari selama 3 tahun!
Tenaga itu melindungi pemiliknya dari berbagai serangan racun dan luka dalam. Oleh karena itu, begitu tenaga itu ia salurkan, segera sinkang itu bergerak dengan sendirinya mengisi seluruh tubuh Lim Gak Bun. Menyelimuti organ-organ bagian dalamnya yang terluka.
Segera ia merasa segar. Wajahnya yang tadi seperti mayat hidup, kini mulai memerah dan terlihat lebih ‘hidup’. melihat kenyataan ini, Mey Lan berseru bahagia, “Aih, Tuan memang ‘tabib dewa’!”
Tadi kau memanggilku ********, dan kini memanggilku ‘tabib dewa’?
Tapi tentu saja itu tidak dikatakannya. Ia malah berkata kepada Lim Gak Bun,
“Tuan, coba pergunakan tenaga dalam sendiri untuk mendukung tenaga dalam yang cayhe salurkan. Apakah masih terasa sakit di ulu hati?”
Lim Gak Bun melakukannya. “Masih terasa sakit sedikit, Siansing.”
Cio San mengangguk. Ia lalu bertanya kepada Mey Lan, “Nyonya sudah mencoba ke berapa tabib?”
“Ada beberapa, Siansing. Cuma, kata mereka, luka dalam ini hanya bisa disembuhkan oleh orang yang mempunyai tenaga dalam tinggi, dan memiliki pengetahuan pengobatan yang tinggi pula.”
Pukulan maut 18 Tapak Naga ini memang tidak boleh dibuat main-main. Hasilnya kalau tidak mati, orang bisa cacat seumur hidup. Cio San merasa sangat bersalah sekali. Dia kini bertekad untuk menyembuhkan Lim Gak Bun sepenuhnya.
“Tuan sudah diberi obat apa saja?” tanyanya.
“Ini, ada beberapa,” jawab Mey Lan. Ia lalu mencari-cari di dalam rak yang ada di dalam kereta itu. Setelah ketemu, ia menunjukkan sebuah kotak kayu berwarna hitam kepada Cio San.
Cio San membukanya, dan melihat isi kotak itu. Berbagai macam obat yang berupa akar-akaran, dedaunan, dan biji-bijian. Ada pula yang sudah berupa pil. Ia mengangguk-angguk. Pengobatannya memang sudah benar. Hanya saja para tabib itu memang tidak memiliki sinkang seperti dirinya.
“Obat-obatan ini diteruskan saja, Tuan. Moga-moga dalam sebulan, akan ada perbaikan. Dalam 2 atau 3 bulan, semoga Tuan akan sembuh seluruhnya. Tenaga dalam yang cayhe salurkan tadi harap dijaga. Dengan menggunakan tenaga dalam Tuan sendiri, tenaga dari cayhe itu akan bisa dikendalikan.”
“Baik, Siansing. Terima kasih banyak, Siansing,” jawab sepasang suami-istri itu.
“Nah, cayhe permisi dulu.”
Memangnya, buat apa dia berlama-lama di sana?
“Aih, Siansing mengapa terburu-buru? Ehm… Berapakah biaya yang harus kami bayar?” tanya si nyonya.
“Ah, tidak perlu. Cayhe senang sudah sanggup membantu.”
“Wah, jangan begitu, Siansing. Sebut saja harganya, mudah-mudahan kami sanggup membayarnya, Siansing. Jika kami belum sanggup, pasti akan kami carikan hutang untuk membayar.”
“Sudahlan, Tuan dan Nyonya. Cayhe memang tidak pernah menerima uang. Hanya membantu orang saja.” Ia tersenyum kecut.
“Ah, kalau begitu, kami tidak berani lancang memaksa.”
Lalu Mey Lan membuka rak lagi dan mengeluarkan sebuah guci.
“Sudikah Siansing menerima ini? Ini adalah arak yang paling terkenal dari kota Yan Sah. Namanya arak Hong Tong Ciu.”
Tanpa perlu dijelaskan siapa-siapa, tentu Cio San tahu arak apa itu. Bahkan ketika belum dikeluarkan dari rak pun, Cio San sudah mengendus baunya yang harum lembut bagai pewangi tubuh perempuan. Khasiatnya jangan ditanya. Selain berguna untuk menjaga kesehatan jalan darah, arak ini juga mengharumkan tubuh mereka yang meminumnya secara rutin. Makanya arak ini disebut ‘arak para dewa’. Sebuah arak yang sangat mahal dan langka!
Emas dan uang pasti akan ia tolak. Tapi tidak arak!
“Ah, baiklah. Terima kasih banyak, Tuan dan Nyonya,” terimanya sambil tersenyum.
“Aih, kami yang sesungguhnya berterima kasih, Siansing,” kata mereka berdua.
“Eh, ngomong-ngomong, apa yang membawa Tuan dan Nyonya kesini?” tiba-tiba pertanyaan itu timbul dihati lalu diutarakannya.
“Kami ingin melihat keramaian pemilihan Bu Lim Bengcu. Suami cayhe ini, memang sangat keranjingan ilmu silat. Bahkan dalam keadaan sakit pun, ia tetap mau pergi. Awalnya cayhe menolak, tapi setelah cayhe pikir-pikir, mungkin saja kami akan bertemu tabib-tabib sakti yang sanggup mengobati luka Bun-ko (Kakak Bun).”
“Oh, begitu... Baiklah, cayhe mohon diri dulu. Terima kasih banyak atas araknya.” Ia tersenyum dan menjura.
“Terima kasih banyak, Siansing. Sampai berjumpa kembali. Dan terima kasih atas pertolongannya.”
“Sama-sama. Sampai jumpa.”
Ia akhirnya pergi.
Ternyata pertemuan kembali dengan kekasih lamanya itu, tidak semenyakitkan yang diperkirakannya. Kadang-kadang, kita justru bahagia melihat kebahagiaan kekasih lama. Kadang-kadang, kita memang berharap yang terbaik bagi mereka. Laki-laki yang tahu diri, memang adalah laki-laki yang merelakan kekasihnya pergi bersama orang lain yang lebih baik. Yang sanggup memberinya kebahagiaan lebih dari siapapun, bahkan lebih dari yang sanggup diberikannya sendiri.
Laki-laki memang harus seperti itu. Dan Cio San adalah laki-laki.
Sekarang laki-laki itu berjalan dengan ringan, karena ia merasa segala beban di hatinya telah terangkat. Ia merasa telah memperbaiki seluruh kesalahannya. Ia pun merasa, Mey Lan telah berada dalam cinta laki-laki yang tepat. Pria gagah yang tampan, dan juga punya penghidupan yang jelas. Kereta mewah seperti tadi, hanya sanggup dibeli oleh orang yang benar-benar punya banyak uang.
Kini ia berjalan kembali ke tempat rombongan Suma Sun berada. Matahari sudah meninggi dan udara masih tetap sejuk. Sepanjang jalan, ia bertemu dengan orang-orang Kang Ouw yang mendaki untuk sampai ke puncak Thay San. Tak lama, sampai lah ia di tempat rombongan Suma Sun. Mereka ternyata belum pergi dari situ.
“Aih, Lie-ko. Kau kah yang melakukan perbuatan itu?” tanya Kao Ceng Lun begitu melihat kedatangan Lie Sat.
“Perbuatan apa?”
“Menyembuhkan banyak orang dari serangan racun.”
Ia hanya tertawa dan mengangkat pundak.
“Hebat. Ternyata Lie-ko adalah seorang Siansing. Wah, di tempat ini memang banyak sekali naga sembunyi, harimau mendekam,” kata Kao Ceng Lun.
“Bagaimana keadaaan Suma-tayhiap?” tanya Cio San.
“Kao-enghiong mau ke mana?” tanya Cio San.
“Mandi, biar segar,” katanya sambil tersenyum lebar.
Cio San tersenyum dan berjalan ke tempat Suma Sun tidur. Saat berjalan ke sana, ia bertemu Ang Lin Hua yang baru keluar dari warung. Sedikit mengangguk dan memberi salam.
“Selamat datang kembali, Siansing,” kata Ang Lin Hua menjura.
“Selamat bertemu kembali, Ang-liehiap” balas Cio San tersenyum pula. “Di mana Luk-tayhiap?”
“Beliau di dalam warung, sedang sarapan.”
“Oh...”
Mereka berdua pun bergegas menuju tempat Suma Sun tidur.
Ia tidur dengan pulas.
Sepulas bayi yang baru saja *******.
“Sepertinya sudah tak tertolong lagi, ya?” tanya Ang Lin Hua sambil tersenyum kecut.
“Jika itu jalan pilihannya, ya, sebagai sahabat kita tidak bisa menghalanginya,” jawab Cio San.
Mereka lalu duduk di bawah pohon. Selama beberapa hari ini, pekerjaan mereka memang hanya duduk di bawah pohon.
Kadang-kadang di dalam hidup ini, terdapat banyak hal yang tidak sanggup kita lakukan, namun harus kita hadapi.
Kadang-kadang pula, begitu banyak yang harus kita lakukan, dan begitu banyak yang harus kita hadapi.
Ada orang yang menghadapinya dengan penuh kecemasan dan rasa takut. Ada orang yang menghadapinya dengan penuh keberanian dalam menghadapi tantangan. Ada pula orang yang menghadapinya secara biasa-biasa saja.
Ang Lin Hua menghadapinya dengan penuh kecemasan. Suma Sun menghadapinya dengan penuh gagah berani. Cio San menghadapinya dengan biasa-biasa saja.
Semua orang berhak memilih jalan dan caranya sendiri-sendiri.
Kehidupan.
Begitu banyak yang tidak terjawab. Begitu banyak rahasia. Begitu banyak kenangan.
Ah, kenangan.
Begitu berarti, namun juga begitu tidak berarti.
Begitu berharga, namun begitu tak berguna.
Hal yang sering dilupakan manusia adalah, kebahagiaan itu milik masa kini. Bukan milik masa lalu, atau masa depan. Jika tidak melakukan apa-apa untuk kebahagiaan masa kini, siapa yang menjamin kau akan bahagia di masa depan? Siapa yang menjamin sampai besok kau masih tetap hidup?
Berbahagialah untuk saat ini.
Karena kau tak akan tahu, apakah besok kau masih sanggup bernafas.
Suma Sun sudah bangun. Sejak semalam ia telah puas tidur.
“Ah, kau,” katanya melihat Cio San.
“Dilihat dari tampangmu, sepertinya kau terbangun karena mencium bau arak, ya?” canda Cio San.
“Bukannya bau arak itu berasal dari tubuhmu? Hanya gentong arak yang tubuhnya bau arak,” balas Suma Sun.
“Hanya gentong arak pula, yang bisa terbangun dari tidur pulas karena mencium bau arak.”
“Kalau dua gentong arak sudah bertemu, apa gunanya bercakap-cakap? Bukankah lebih baik segera buka gucinya, dan menuangkan araknya?”
“Lama-lama kau seperti Cukat Tong,” kata Cio San.
“Menjadi Cukat Tong juga tak ada ruginya.”
“Apalagi menjadi Suma Sun.”
“Betapa hebatnya Cukat Tong dan Suma Sun, toh hidup mereka bakalan sepi tanpa Cio San,” balas Suma Sun.
Dan mereka berdua tertawa. Tinggallah Ang Lin Hua yang bingung.
Tapi dia berotak cerdas, dan segera bisa memahami situasi. Cara bicaranya, cara bercandanya, keakrabannya, orang ini tidak lain dan tidak bukan adalah Kauwcunya!
Baru saja ia akan menjura, tapi sudah dipotong Cio San.
“Sudahlah, harap rahasiakan,” katanya sambil berbisik.
Ang Lin Hua pun hanya bisa mengangguk-angguk sambil tersenyum.
Kao Ceng Lun dan Luk Ping Hoo pun sudah bergabung. Guci arak dibuka dan baunya semerbak. Lima orang di bawah pohon, menikmati seguci arak paling enak sedunia.
Mereka minum sampai tengah hari, lalu melanjutkan perjalanan ke puncak Thay San. Kira-kira masih ada 2 hari lagi, baru mereka bisa sampai ke puncak. Perjalanan tidak mereka lakukan dengan buru-buru. Pemandangan indah di Thay San ini terlalu indah untuk dilewatkan. Sepanjang perjalanan pun mereka bertemu dengan berbagai rombongan. Ada rombongan Bu Tong-pay yang dipimpin oleh Beng Liong pula.
Rombongan ini terdiri dari sebuah kereta kuda, dan 10 orang murid berkuda. Beng Liong berada di barisan paling depan memimpin perjalanan ini. Wajahnya bersinar berseri-seri. Ketampanan wajahnya yang sudah sangat terkenal, malah terlihat semakin tampan. Harum tubuhnya semakin mewangi saat ia berkeringat tertimpa cahaya matahari. Perempuan mana saja akan menyerahkan jiwa raga, jika Beng Liong tersenyum sekali saja padanya.
“Bu Tong-pay Beng-enghiong (Pendekar Beng dari Bu Tong-pay) memang tampan seperti berita yang kita dengar,” kata Kao Ceng Lun.
“Orang buta seperti aku pun mengakui jika ia tampan,” kata Suma Sun sambil tertawa.
Semua menimpali sambil tertawa.
“Menurut Suma-tayhiap, bagaimana ilmu silatnya?” tanya Kao Ceng Lun.
“Aku belum pernah melihat ia bertarung,” kata Suma Sun.
“Oooo.”
“Ya, bagaimana aku bisa melihat? ‘Kan aku buta.”
Semua orang tertawa.
“Coba kau tanyakan Lie-siansing.” Cio San kini sudah disebut sebagai Siansing pula oleh Suma Sun. Perbuatannya semalam, rupanya sudah menyebar ke seluruh orang yang berada di Thay San ini.
“Siansing pernah melihatnya bertarung?”
“Pernah,” jawab Cio San.
“Bagaimana menurut Siansing?”
“Harap jangan panggil aku Siansing. Aku merasa seperti orang tua,” katanya sambil tertawa. “Panggil aku koko saja.”
“Baiklah, Lie-ko. Nah, bagaimana ilmu silat Beng-enghiong menurut Lie-ko?”
“Menurutku, Beng Liong adalah salah seorang pendekar muda paling hebat pada jamannya.”
“Jika diadu dengan Cio San, Kauwcu dari Ma Kauw, kira-kira siapa yang lebih unggul?”
Keempat orang itu tertawa.
“Kenapa Tuan-tuan tertawa?” tanya Kao Ceng Lun bingung.
“Kalau perkara silat sih, aku kurang tahu,” kata Suma Sun “Tapi kalau perkara minum arak, aku yakin Cio San yang menang. Bahkan jika air laut menjadi arak, aku yakin keparat satu itu akan sanggup menghabiskannya.” Ia tertawa terbahak-bahak. Lie Sat pun tertawa.
Hanya Ang Lin Hua yang tidak senang.
“Menurutku, tentu saja Kauwcu kami yang lebih unggul. Ilmu beliau bermacam-macam. Pemahaman beliau pun mendalam. Sedangkan Beng-enghiong itu hanya paham ilmu-ilmu Bu Tong-pay.”
“Menurutku malah Ang-siocia keliru,” sanggah Cio San.
“Orang yang ilmunya banyak, belum tentu lebih unggul dari orang yang ilmunya cuma satu saja. Karena orang yang ilmunya banyak, pikirannya akan bercabang. Melatih jurusnya pun tidak akan sepenuhnya, karena pemahamannya pun berkembang ke mana-mana. Orang yang hanya memahami satu ilmu saja, akan sanggup mencapai tahap yang sangat tinggi, karena seluruh pemikiran, kemampuan, dan pemusatan pikirannya hanya mengacu ke satu ilmu saja. Karena itulah, ilmunya akan mencapai tahap yang tinggi sekali,” jelas Cio San.
“Hmmm, masuk akal juga,” kata Ang Lin Hua.
“Ambil contoh, Suma-tayhiap ini. Ilmu pedangnya cuma satu. Tapi Suma-tayhiap telah mencapai kesempurnaan tertinggi. Itu karena ia melatih satu ilmu itu dengan sungguh-sungguh dan sepenuh hati,” jelas Cio San lagi.
“Betul.” Suma Sun mengangguk menimpali.
Kao Ceng Lun juga manggut-manggut. Pemahaman baru ini nampaknya membuatnya semakin bersemangat dalam ilmu silat. Selama ini ia berpikir, semakin banyak ilmu, akan semakin tinggi pula ilmu silat seseorang. Ternyata, memusatkan diri pada suatu ilmu saja, tetap akan membuat seseorang mencapai puncak tertinggi ilmu silat. Dalam hati, ia memutuskan untuk lebih giat berlatih mematangkan ilmunya sendiri.
Perjalanan dari tengah hari itu mereka lakukan hingga menjelang sore dan langit mulai gelap. Mereka memutuskan untuk berhenti dan beristirahat. Tempat yang mereka pilih adalah sebuah tempat yang sepi dan banyak pohon rindang. Di Thay San ini, walaupun dipenuhi puluhan ribu orang Kang Ouw, tetap saja tersedia tempat sepi bagi mereka yang ingin beristirahat. Memang gunung ini sangat luas dan megah.
Sambil beristirahat, mereka menikmati makan malam yang sebelumnya mereka beli di warung sebagai bekal. ‘Arak Dewa’ tadi sudah habis, sehingga mereka ‘terpaksa’ menikmati arak kampung buatan warung. Tapi rasanya enak juga. Di suasana pegunungan yang indah dan sepi seperti ini, makanan dan minuman apapun akan terasa enak.
Sampai tengah malam, mereka masih mengobrol dan bercanda. Luk Ping Hoo menceritakan pengalaman-pengalamannya dan sejarah dunia persilatan. Sebagai orang paling sepuh dalam rombongan itu, beliau memang yang paling banyak diam. Tapi juga yang paling banyak tertawa mendengar gurauan teman serombongannya.
Orang tua di mana-mana memang sama saja. Selalu tersenyum bahagia melihat semangat anak muda. Tapi jauh di lubuk hati, mereka sesungguhnya bersedih. Karena merasa sudah kehilangan semangat itu.
Ang Lin Hua sudah tidur duluan. Pendekar wanita seperti dirinya sudah terbiasa tidur di mana saja. Satu persatu yang lain pun tertidur. Luk Ping Hoo, Cio San, dan Suma Sun perlahan-lahan tertidur. Hanya Kao Ceng Lun yang masih bertahan belum tidur. Tapi karena bosan sendirian, akhirnya ia tertidur juga.
Menjelang shubuh, sesosok bayangan muncul di tempat yang sepi itu. Gerakannya lincah dan sangat ringan. Tapi seringan apapun langkah seorang manusia, tetap tak bisa menghindar dari telinga Suma Sun.
Maka Suma Sun telah terbangun. Ia bisa tertidur dengan sangat pulas, namun bisa juga terbangun seperti tidak pernah tertidur. Cio San juga sudah terbangun. Telinga kedua manusia ini begitu menakutkan.
Si bayangan itu pun tersentak kaget. Tidak menyangka kedua orang yang nampak tertidur itu, kini malah sudah bangun dan berdiri di hadapannya.
“Salam, Nona.” Lie Sat mengenalnya. Nona ini adalah anak dari Kam-tayhiap.
“Eh, Tuan ada di sini? Apakah Tuan sahabat Suma-tayhiap?”
“Benar.”
“Heh? Lalu kenapa Tuan menolong ayahku?” tanyanya. Tajam sekali pertanyaannya.
“Karena jika tidak kutolong, tentu sahabatku Suma Sun yang akan menyalahkanku.”
“Ah..” Rupanya si nona puas akan jawaban itu. Sedikit-banyak, dia memang sudah mengerti sifat para Dewa Pedang.
“Apa yang membawa Nona kesini?” tanya Suma Sun.
“Ehm… Lie-siansing belum cerita kepada Tayhiap?” si nona malah balik bertanya.
Suma Sun dan Cio San sama-sama menggeleng.
“Bisakah kita pindah ke tempat yang lebih sepi?” tanya si nona. Ia melihat ketiga anggota rombongan yang lain sudah terbangun.
Suma Sun mengangguk. Segera ia berkelebat dan menghilang dari situ. Si nona juga sudah berkelebat. Hanya Lie Sat yang tinggal.
“Kau tidak ikut?” terdengar suara Suma Sun. Ia baru bergerak beberapa detik yang lalu, tapi suaranya terdengar sudah jauh sekali.
“Memangnya siapa yang peduli urusanmu?” kata Cio San sambil tertawa.
Dalam hati ia berkata, “Bertemu perempuan segalak itu cukup satu kali.”
Di dunia ini, memang yang paling sial adalah bertemu perempuan galak.
Yang lebih sial, adalah bertemu perempuan buruk rupa yang galak.
Yang lebih sial lagi, adalah bertemu dua perempuan buruk rupa yang galak sekaligus.
Untunglah Cio San belum pernah sesial itu. Dalam hati, ia berdoa agar dijauhkan dari hal yang demikian.
“Siapa nona itu?” tanya Ang Lin Hua.
“Putri dari Kam-tayhiap.”
“Mau apa dia kemari?”
“Eh, kau cemburu ya?” Untunglah kata-kata itu diucapkan Cio San dalam hati. Walaupun cukup berani menantang macan, ia masih harus berpikir dua kali untuk menggoda Ang Lin Hua.
“Kurang tahu,” jawabnya sambil tersenyum. “Mungkin mewakili ayahnya untuk menyampaikan pesan.”
Ang Lin Hua mengangguk-angguk.
“Kembalilah tidur, Nona. Urusan ini bukan urusan kita.” Kali ini Luk Ping Hoo yang berkata.
Mendengar ucapan orang tua yang bijak dan berwibawa itu, Ang Lin Hua mengangguk dan kembali tidur. Kao Ceng Lun pun kembali tidur.
Tak berapa lama, Suma Sun sudah kembali.
“Bagaimana?” tanya Cio San.
“Kenapa kau tidak cerita?” tanyanya.
“Karena nona itu sendiri yang memintaku untuk merahasiakannya. Dan karena aku tahu, walaupun aku mengatakannya, kau tak akan mau menunda pertarungan itu.”
Suma Sun tersenyum puas.
Laki-laki, jika merasa telah dimengerti oleh sahabatnya, akan tersenyum seperti ini.
Senyum itu berarti, bahwa ia sendiri tak salah memilih teman.
Teman yang tidak menceritakan rahasia orang lain kepadamu, adalah teman yang tidak menceritakan rahasiamu kepada orang lain.
“Nona itu menceritakan semuanya kepadamu?”
“Ia hanya menceritakan, bahwa ayahnya terkena serangan salah satu dari ribuan jarum beracun. Dan meminta agar pertandingan ini diundur.”
“Kau menolak diundur, karena kau tahu itu bukan keinginan Kam-tayhiap sendiri, bukan? Dan kau pun tahu, jika kau memundurkannya, justru Kam-tayhiap yang akan kehilangan muka, bukan?”
Suma Sun tersenyum. “Tepat!”
Ia sendiri tidak ada kemungkinan menang. Tapi ia menolak mengundurkan pertarungan, guna menjaga ‘muka’ lawannya. Orang seperti itu adalah manusia langka. Dan memang hanya manusia-manusia seperti ini yang mampu mencapai taraf Dewa Pedang.
“Kau tidak curiga bagaimana Kam-tayhiap terkena racun?” tanya Cio San.
“Tentu saja curiga. Kau saja bisa selamat dari jarum itu, kenapa beliau tidak.”
“Benar. Berhubung kau pun sudah mengerti masalah ini, lebih baik kuceritakan saja kecurigaanku.”
Suma Sun mengangguk.
“Ketika pertama kali memasuki tendanya, aku melihat seorang anak buahnya yang mati terkena racun. Sekali pandang aku tahu, ia bukan mati karena racun jarum itu, melainkan karena sabetan pedang di tenggorokannya,” kata Cio San.
Lanjutnya,
“Awalnya, kupikir ia dibunuh adalah untuk membantunya agar cepat meninggal. Racun itu begitu menyakitkan, sehingga mungkin seseorang menyabet tenggorokannya agar membuatnya cepat mati dan tidak begitu menderita.”
“Tapi, begitu masuk ke dalam bilik kamar Kam-tayhiap dan melihat bahwa beliau keracunan, aku curiga bahwa si anak buah yang mati itu lah pelaku sebenarnya yang meracuni Kam-tayhiap. Kecurigaanku semakin terbukti ketika setelah kuperiksa, ternyata racunnya tidak sama dengan yang melukai puluhan orang di depan.”
“Oh, jadi kejadiannya adalah, seseorang menyamar atau menyusup menjadi anak buah Kam-tayhiap, lalu menyerangnya secara membokong saat ia sibuk dengan ribuan jarum beracun itu?” kali ini Suma Sun yang berkata.
“Tepat! Mungkin begitulah kira-kira kejadiannya.”
“Begitu liciknya ia menyusup di antara keributan itu. Cerdas dan licin. Pintar sekali mencari kesempatan dalam kesempitan,” kata Suma Sun. Lalu ia melanjutkan, “Hanya ada satu orang yang bisa memikirkan hal demikan, bukan?”
“Hanya ada satu orang.”
Tak terasa mereka bergidik.