
Yang menderita, adalah hidup tidak bahagia. Namun yang lebih menderita lagi, adalah hidup tanpa tujuan.
Tubuhnya masih terluka, dan tenaga dalamnya belum dapat digunakan. Apa yang bisa dilakukan di dunia Kang Ouw dengan keadaan seperti ini? Cio San memutuskan untuk kembali ke dunia ramai, tapi dia tidak akan mencampuri urusan Kang Ouw. Ia ingin hidup tenang tanpa keributan. Tanpa perkelahian.
Memang di hati Cio San tidak ada dendam, bahwa ia harus membalas kematian-kematian ini. Tetapi jiwanya selalu menuntut keadilan nanti. Suatu hari kebenaran akan terkuak, dan keadilan akan ditegakkan. Siapa yang bersalah harus dihukum.
Hanya itulah yang ada di hatinya. Oleh sebab itu, dia bisa berjalan dengan ringan dan menikmati hidup. Apa yang terjadi telah ditakdirkan. Apa yang belum terjadi harus diusahakan. Jika ingin kebenaran, berjuanglah. Jika ingin keadilan, berjuanglah. Itulah yang selama ini diajarkan ayah-ibunya.
“Mulai ramai? Apa sebabnya, Lopek?” tanya Cio San.
“Orang-orang Kang Ouw itu ramai-ramai mengejar buronan. Katanya buronan ini adalah murid Bu Tong-pay yang murtad. Menurut cerita yang kudengar, ia bersekongkol dengan seorang tukang masak. Mereka membunuh salah seorang guru di Bu Tong-pay, lalu mencuri kitab sakti milik Bu Tong-pay. Bahkan ia sempat juga meracuni
Ciangbunjin (ketua)-nya partai Bu Tong itu,” kata si kakek.
San pun membantu kakek itu bekerja mengurusi sawahnya. Sambil bekerja, mereka tetap ngobrol-ngobrol dengan riang. Dari obrolan itu setidaknya Cio San bisa mengerti perkembangan yang terjadi di dunia Kang Ouw.
Akan tetapi, pikirannya pun juga tak berhenti berpikir tentang bagaimana ia harus menghadapi dunia ini. Saat ini, posisinya telah menjadi buronan. Bahkan telah menjadi buruan kaum Kang Ouw karena disangka ialah yang telah mencuri kitab sakti itu.
Cio San memutuskan bahwa untuk sementara waktu, ia harus berdiam dulu di suatu tempat. Tempat itu harus ramai oleh banyak orang, sehingga cerita dan kejadian-kejadian yang terjadi di dunia Kang Ouw dapat diketahui dan dipahami olehnya secara keseluruhan.
Ia merasa sangat beruntung bahwa saat ini ia memakai topeng dari kulit ari ular. Entah siapa yang telah menolongnya dan memberikan ide kepadanya. Dalam hatinya, Cio San pun memutuskan untuk mencari tahu siapa orang yang telah membantunya itu.
Dari pemikiran itu, Cio San mengambil keputusan, bahwa ia harus bekerja dulu di sebuah rumah makan. Itulah keahlian yang dimilikinya selain kemampuan silat. Banyak sekali resep-resep masakan yang dikuasainya, yang pasti akan membantunya agar bisa diterima di sebuah rumah makan.
Rumah makan adalah tempat semua orang berkumpul. Dari sanalah ia bisa mendengar cerita-cerita dan kejadian dunia Kang Ouw. Mungkin langkah-langkah selanjutnya akan bisa ia putuskan, setelah mengetahui apa-apa saja kabar dan berita dunia Kang Ouw. Baginya, ia harus mengetahui segala sesuatu terlebih dulu sebelum mengambil langkah apapun.
Tersenyum dia memikirkan semua ini. Akhirnya ada jalan juga baginya untuk mengetahui kebenaran. Walaupun jaraknya masih jauh sekali, tetapi langkah pertama akan dijalaninya. Cio San menatap ke depan dengan gagah.
“Dunia…,aku datang.”