
“
“Judul yang aneh bukan? Tapi manfaatnya banyak. Kau akan bisa membaca pikiran oranghanya dari bahasa wajah dan tubuhnya. Saat orang berbohong, ada bagian-bagian wajah dan tubuhnya yang bergerak. Jika kau pelajari, kau bisa membedakan orang yang jujur dengan yang tidak. Kau bisa membaca perasaan dan isi hati mereka, cukup dengan melihat raut wajah atau bahasa tubuh. Menarik bukan?”
“Menarik sekali, Hujin. Tentu saja Hujin sudah mempelajarinya dan mendapat manfaat yang amat sangat, bukan? Bahkan mungkin, banyak sekali urusan dagang yang Hujin selesaikan dengan buku ini.”
“Tepat sekali!”
Hujin kemudian berkata,
“Dalam perjalananmu, kau akan menemukan banyak rintangan. Banyak kesulitan dan kesusahan. Engkau adalah orang yang cerdas dan berbakat. Jangan hanya mengandalkan ilmu silat, karena ilmu silat akan kalah dengan tipu daya yang licik. Jangan pernah percaya kepada seorang pun walaupun ia teman dekatmu. Tapi jika kau sudah memutuskan untuk percaya, maka percayalah ia dengan segenap hatimu. Hati dan akalmu akan membisikkanmu kepada siapa kau letakkan kepercayaanmu.”
“Selalu gunakan ketenangan dan kematangan berpikir. Karena apa yang kau lihat, belum tentu berarti seperti yang kau lihat. Selalu berusaha mencari makna di balik segala kejadian. Karena tidak ada yang kebetulan. Tidak ada yang tidak diatur. Maka dari itu, apapun yang dilakukan orang lain, harus selalu kau selidiki dengan teliti. Hal sekecil apapun!”
“Karena manusia jauh lebih kejam dari makhluk manapun. Oleh sebab itu, ku ulangi lagi, hal sekecil apapun, tidak boleh lewat dari perhatianmu. Latihlah dirimu untuk memperhatikan hal sekecil-kecilnya. Posisi sendok di meja. Posisi cangkir saat kau tinggalkan. Letak kursi ketika sebelum kau masuk ruangan. Semuanya harus kau perhatikan. Untuk itu, jangan pernah bosan untuk selalu melatih dirimu dengan hal ini. Jika kau berlatih silat seratus kali, maka hal ini harus kau latih seribu kali.”
“Jika kau gagal dalam melakukan tugasmu, malulah kepada diri sendiri. Tapi maafkanlah juga dirimu, karena manusia memiliki keterbatasan. Dalam kegagalanmu, terdapat cermin untuk memperbaiki diri. Dalam keputus-asaanmu, terdapat obat pahit untuk bangkit kembali. Di dalam sakit hatimu, terdapat kekuatan untuk membuktikan
kepada dunia, bahwa kau sanggup melakukannya. Ambil waktu sebanyak mungkin untuk melihat kekurangan sendiri, karena kebanyakan manusia menghabiskan waktu untuk membicarakan kekurangan orang lain.”
“Apabila ada orang yang membicarakan kekuranganmu, terimalah mereka dengan senyum ketulusan, karena merekalah yang menunjukkan kelemahanmu. Jika ada orang yang membicarakan kehebatanmu, terimalah mereka dengan wajah menunduk, karena kau paling tahu terhadap kekuranganmu sendiri.”
“Jagalah kepercayaan orang lain terhadapmu, karena itu lebih berharga dari seluruh isi bumi. Jika kepercayaan itu hilang, maka hilanglah harga dirimu, karena harga dirimu berada pada kepercayaan orang terhadapmu. Engkau akan banyak tersakiti oleh ucapan dan perbuatan orang, dan pembalasan terbaik dari semua itu adalah memaafkan. Memaafkan bukan berarti kelemahan, karena keadilan harus tegakkan.”
“Kuatkanlah dirimu untuk terus melakukan keadilan, karena dunia baru akan damai ketika keadilan dan aturan ditegakkan. Ingatlah bahwa aturan kadang membatasi. Maka biasakanlah dirimu untuk terus mempertanyakan peraturan. Biasakanlah dirimu untuk tersiksa, karena keadilan sungguh jauh dari kebahagiaan. Karena kebahagiaan mengutamakan kesenangan. Sedangkan kesenangan, kebanyakan menipumu. Kebahagian terbaik adalah kemampuan untuk membuat orang lain bahagia.”
“Saat ini, tak akan pernah terulang lagi. Oleh sebab itu, selalu hargai setiap detik dalam hidupmu. Hargai kebersamaan bersama orang-orang yang ada di sekelilingmu. Karena mereka mungkin mengorbankan banyak hal hanya untuk bisa bertemu denganmu. Maka itu, hargailah waktu seperti engkau menghargai nyawa. Yang terjauh adalah masa muda, dan yang terdekat adalah kematian. Yang paling menyesal adalah tidak melakukan sesuatu. Yang paling merugi adalah menyia-nyiakan cinta. Maka jadikanlah dirimu sebagai orang yang menghargai cinta. Karena cinta adalah pengorbanan diri. Waspadalah kepada kepalsuan cinta. Engkau akan mampu membedakan kepalsuan dan keaslian cinta, saat engkau mampu mengorbankan jiwa bagi apa-apa yang engkau cinta, saat engkau mampu mengorbankan kebahagiaan diri sendiri demi kebahagiaan orang lain.”
“Maka, dalam pesanku yang terakhir ini, Cio San, jadilah manusia terbaik. Jangan menjadi pesilat terbaik, pemikir terbaik, atau tukang masak terbaik. Jadilah manusia terbaik….”