Dragon and Phoenix

Dragon and Phoenix
Bab 28: Di Markas



Kedelapan orang ini tetap tidak menjawab


Tubuh mereka semakin menghitam dan mengeluarkan asap!


Hingga mengering, bagai seonggok kayu bakar. Mereka semua mati hangus!


Begitu dahsyatnya ilmu Menghisap Matahari ini, sampai semua orang yang berada di situ terperangah.


Mereka yang ada di situ adalah anggota Ma Kauw juga, mungkin pengiring sang Kauwcu. Karena sudah pasti bukan pengawal. Orang seperti dia, jika membutuhkan pengawal, maka akan merendahkan martabatnya sendiri.


Yang hadir di dalam balairung itu adalah beberapa puluh murid utama, sepuluh pengurus utama, Tianglo (Penasehat) kiri dan kanan, serta sang Ma Kauw-kauwcu sendiri. Total ada sekitar 100 orang lebih. Tentu saja mereka tidak sekedar duduk manis, melainkan sambil menikmati arak dan beberapa hidangan mewah. Setiap ada acara berkumpul begini, memang selalu ada arak dan hidangan mewah di markas Ma Kauw.


Cio San diletakkan di hadapan sang Kauwcu. Duduk berlutut. Totokan di tubuhnya belum dibuka. Tapi kini ia sudah bisa bicara.


”Kauwcu tahu beliau tidak meninggal. Kauwcu pun tahu bahwa beliau telah berganti nama menjadi A Liang. Maka begitu mendengar kabar bahwa aku kabur dengan Liang-lopek, tentunya Kauwcu menjadi sangat penasaran,” tukas Cio San.


Ia melanjutkan, “Di dunia ini, orang yang tahu tentang keadaan Liang-lopek sebenarnya hanya dua, yaitu Kauwcu dan Thay Suhu (Guru Besar) Thio Sam Hong. Maka saya menduga, hubungan Kauwcu dengan Liang-lopek sungguh amatlah dekat. Kalau bukan saudara kandung, pastilah sahabat dekat.”


“Jangan mengerahkan tenaga dalam!” teriak Cio San. “Racunnya mungkin akan semakin menghebat jika kalian mengerahkan tenaga dalam.”


“Apa salahku padamu? Bukankah aku selalu memperlakukanmu dengan baik?” tanya sang Kauwcu.


“Ya, kau memang memperlakukanku dengan baik. Terlalu baik malah. Tapi kau menjadi ketua terlalu lama. Sudah saatnya gantian. Aku sudah menghamba terlalu lama, kini saatnya menjadi ‘raja’. Hahahahahahaha.”


Kauwcu tak bisa bergerak sedikitpun. Tubuhnya bagai lumpuh. Bahkan di bibirnya telah ada tetesan darah.


“Racun itu membuyarkan tenaga dalam dan tenaga sakti. Hasil latihanmu bertahun-tahun akan punah seluruhnya. Tapi kau harus mati dengan pedang. Itu sebuah kehormatan. Seorang raja memang seharusnya mati karena pedang.”


Ia telah berada di hadapan Kauwcu. Pedangnya sudah terangkat. Sabetan sudah dilakukan. Pedang sudah meluncur ke tenggorokan sang Kauwcu.


Tapi berhenti di tengah jalan. Po Che King mengerahkan seluruh tenanganya pun tak akan bisa menggerakkan pedang itu.


Cio San telah berdiri di sana! Dengan gagah memegang pedang itu. Senyum masih tersungging di bibirnya.


“Kau?”


Kata ‘kau’ hanyalah sebuah kata yang pendek. Tapi ketika belum selesai diucapkan, orang yang mengucapkan sudah terpelanting beberapa tembok menghantam dinding batu.


Siapa lagi yang menghajarnya kalau bukan Cio San?


“Aku paling benci dengan pengkhianat.”


Cio San lalu menotok beberapa titik darah Kauwcu.


Ketika ia berbalik untuk melihat keadaan Po Che King, Cio San kaget juga. Po Che King sudah mati dengan mulut berbusa.


Dengan cepat ia ‘terbang’ ke mayat Po Che King dan memeriksanya.


“Racun!” Ia terpana.


Tapi Cio San tidak bisa berpikir lebih lama, karena ia harus menotok seluruh orang yang ada di sana. Beberapa orang memang tidak sanggup ia selamatkan. Tetapi ada sekitar 50 orang yang masih hidup. Cio san menotok mereka semua.


“Harap tenang dan jangan dulu bergerak atau bersuara. Pusatkan konsentrasi. Jaga aliran darah agar bergerak normal. Jangan sekali-kali mengerahkan tenaga dalam. Atur pikiran agar tetap tenang. Agar jantung dan organ tubuh lainnya bergerak sempurna.”


“Kauwcu, dimana letak ruangan obat-obatan?” Cio San bertanya.


“Keluarlah lewat pintu di belakangmu. Jalan terus, sampai kau menemukan pintu berwana hijau.”


Ketika kata ‘hijau’ selesai diucap, Cio San sudah berada di depan pintu itu!


Dengan cermat, ia membuka rak obat-obatan yang berada di dalam ruangan itu. Ada banyak bahan yang ia ambil. Di ruangan obat pun terdapat alat untuk meraciknya, sehingga Cio San meracik obatnya disana.


Setelah selesai, ia segera kembali ke balairung untuk memberikannya kepada semua orang.


Tak berapa lama semua orang sudah merasa baikan.


Kata pertama yang mereka ucapkan adalah, “Terima kasih.”


Lalu yang kedua adalah, “Bukankah kau tertotok?”


“Sejak awal memang tidak tertotok,” jawab Cio San santai.


Bun Tek Thian membelalakkan mata, “Aku yakin sekali telah menotokmu!”


“Dulu waktu di puncak Bu Tong-san, aku sempat mempelajari jalan darah dari sebuah kitab kuno. Lalu ketika berada di dalam goa bersama sebuah ular, aku belajar tentang aliran darah dan fungsi-fungsi tubuhnya. Sejak menggabungkan pengetahuan itu, aku berlatih untuk memindahkan jalan darah.” Cio San tersenyum.


“Jadi kau bisa ilmu memindahkan jalan darah? Hebat! Aku saja tidak bisa,” kata sang Kauwcu.


“Lalu kenapa kau bergaya lumpuh seperti orang ditotok?” tanya Bun Tek Thian penasaran.


“Hanya ingin tahu saja, apa yang ingin kau lakukan kepadaku. Akhir-akhir ini aku tidak tahu harus melakukan apa. Jadi, jika ada orang melakukan apa-apa terhadapku, maka lebih baik menurut saja.”


Terbelalak mata Bun Tek Thian. Matanya lebih terbelalak lagi ketika Cio San melanjutkan, “Apa lagi jika kemana-mana ada orang yang menggendongku dan menyuapiku makan!”