
“Ada yang bisa menjelaskan maksud semua ini?” tanya Cio San.
“Sebelum pergi, mendiang Ji-pangcu telah menuliskan surat. Ini suratnya, Pangcu.”
Cio San membuka dan membacanya,
Aku Ji Hau Leng, Ketua ke-28 Kay Pang, menerbitkan surat perintah sekaligus wasiat kepada seluruh anggota Kay Pang di manapun berada.
Saat ini, aku akan menjalani pertempuran hidup-mati. Sebuah pertarungan karena masalah pribadi dan tidak ada hubungannya dengan Kay Pang. Oleh sebab itu, aku melarang setiap anggota Kay Pang untuk turut campur dalam masalah pribadi ini.
Kesalahan masa lalu harus ditebus, harga diri harus diraih kembali. Jika aku pulang dalam keadaan hidup, maka semua akan tetap berjalan seperti biasa. Jika aku mati, maka jabatan Ketua ke-29, aku serahkan kepada Cio San.
Jabatan ini dipegangnya sementara, sampai seluruh Kay Pang berhasil memilih ketua terbaru berdasarkan syarat-syarat yang telah ditentukan oleh partai kita.
Kepada seluruh anggota Kay Pang, aku mengucapkan hormat sebesar-besarnya atas cinta dan kesetiaan yang telah Saudara-saudara semua berikan kepada partai kita yang tercinta. Kepada leluhur-leluhur, aku memohon maaf karena tidak mampu menjaga kehormatan. Kepada ketua yang baru, aku percaya bahwa engkau akan sanggup menjalani tugas yang berat ini. Aku meyakini kebersihan hatimu, kejujuranmu, serta tingginya ilmumu.
Salam hormat selalu,
Ji Hau Leng.
Cio San menangis saat membaca surat ini. Ia merasakan penderitaan Ji Hau Leng yang harus merusak kehormatan diri sendiri karena cintanya. Betapa dalam, pedih yang harus dirasakan Ji Hau Leng, saat ia diharuskan menjadi pengkhianat dan orang yang curang.
Entah berapa banyak perbuatan dosa yang terpaksa ia lakukan, karena mendapat ancaman dari Bwee Hua Sian.
Entah berapa kali, ia harus melakukan perbuatan yang bertentangan dengan hati nuraninya.
“Saudara semua sudah tahu isi surat ini?” tanya Cio San kepada hadirin yang ada di sana.
“Sudah. Mendiang Pangcu memerintahkan kami untuk membuka surat ini, tepat ketika garis merah di langit hilang,” kata salah seorang yang diikuti oleh anggukan hadirin yang lain.
“Lalu apa tanggapan kalian?”
“Perintah dan pesan terakhir mendiang Ji-pangcu harus dilaksanakan!!” Mereka yang ada di sana semua setuju.
Melihat ini, betapa hati Cio San seperti tersayat-sayat. Kesetiaan semua anggota Kay Pang ini kepada pesan terakhir Pangcu mereka, membuat Cio San paham, betapa baiknya perlakuan Ji Hau Leng terhadap mereka.
Lalu ia berkata, “Bagaimana jika perintah mendiang Pangcu itu kutolak?”
Semua orang yang ada di sana heran.
“Maksud Pangcu?”
“Aku tidak ingin menjadi Pangcu Kay Pang.”
Para hadirin yang berjumlah ratusan itu serentak lalu berdiri dan berkata, “Mengapa?”
Menjadi Pangcu dari Kay Pang adalah dambaan semua orang yang ada di dunia persilatan. Itu seperti menjadi kaisar tanpa mahkota.
“Karena aku tidak mau.”
Semua orang yang ada di sana tidak percaya dengan apa yang mereka dengar.
Seorang pengemis tua maju ke depan dan bertanya, “Apakah karena perkumpulan kami ini begitu hina, sehingga Tuan menolak?”
“Harap Saudara-saudara tidak salah mengerti. Cayhe sendiri adalah Kauwcu dari sebuah partai. Cayhe takut jika tidak mampu mengurus 2 partai sekaligus,” kata Cio San.
“Ah.. Partai apakah?”
“Ma Kauw.”
Semua hadirin yang ada di sana berdecak kagum. Cio San lebih muda daripada Ji Hau Leng. Sudah menjadi salah satu ketua partai besar.
“Aih.. Kalau begini, malah akan semakin merepotkan,” kata pengemis tua tadi.
Di pundaknya tergantung sejenis tas yang berisi banyak kantong. Jumlah kantongnya ada 9. Dalam Kay Pang, pengemis berkantong sembilan adalah golongan pengemis yang paling tinggi derajatnya.
Semua orang menggeleng-geleng.
“Ada apa?” tanya Cio San.
“Menurut peraturan partai kami, seorang ketua tidak boleh menyandang 2 jabatan.”
“Aha..! Cocok kalau begitu,” kata Cio San sambil tersenyum. “Cayhe memang tidak pantas jadi ketua.”
“Tapi pesan terakhir mendiang Ji-pangcu harus tetap dilaksanakan,” kata pengemis tua itu, yang disambut dengan anggukan setuju oleh semua yang hadir di situ.
“Lalu harus bagaimana?” tanya Cio San.
“Biarkan kami berunding dulu. Boleh?” tanya si pengemis tua. Rupanya dia adalah sosok yang paling dihormati di sana.
“Silahkan, Tianglo. Cayhe akan menunggu di luar,” kata Cio San.
Ia lalu ke halaman depan dan duduk-duduk di sebuah pavilliun kecil yang ada di pojok halaman. Hari telah gelap. Langit hitam dan bintik-bintik cahaya di langit. Cio San menatap langit sambil berbaring. Kedua telapak tangannya ia jadikan bantal bagi kepala.
“Ikut aku,” terdengar sebuah suara.
Jika bukan karena tidak percaya takhayul, Cio San pasti mengira itu suara setan. Ia menoleh ke sumber suara, dilihatnya Suma Sun sedang berdiri gagah di atas pagar yang tinggi.
“Kau sudah menemukan mereka?” tanya Cio San.
Suma Sun hanya mengangguk.
“Baiklah, tunggu sebentar. Aku pamitan dulu dengan anggota Kay Pang.”
Cio San segera menuju balairung utama markas Kay Pang, tempat mereka sedang berunding. Telinganya sempat mendengar kedatangan banyak orang di gerbang depan, tapi mengacuhkannya saja. Baginya, urusan menyelamatkan sahabat-sahabatnya jauh lebih penting.
“Mohon maaf mengganggu rapat Saudara-saudara sekalian. Bolehkah cayhe memohon ijin untuk pergi sebentar menyelamatkan sahabat-sahabat cayhe. Karena cayhe takut, jika terlambat, mereka akan celaka.”
Belum sempat orang-orang yang ada di sana menjawab, terdengar suara dari belakang Cio San.
“Jangan biarkan penipu itu pergi!”
Cio San menoleh. Serombongan pengemis berjumlah puluhan orang telah muncul di situ. Berarti, langkah-langkah mereka lah yang tadi didengar Cio San.
“Apa maksud Saudara Han?” tanya salah seorang.
Orang yang dimaksud ‘Saudara Han’ itu menuding Cio San sambil berkata,
“Orang inilah pembunuh Ji-pangcu!”
“Apa??!” semua orang yang ada di sana terbelalak.
“Benarkah? Apa maksudmu, Han-te (Adik Han),” tanya pengemis tua yang tadi dipanggil ‘Tianglo (Penasehat)’ oleh Cio San.
“Aku punya saksi, Cun-ko (Kakak Cun). Biar dia saja yang bercerita. Ayo Pan Lang, ceritakan semua yang terjadi tadi!”
Orang yang bernama Pan Lang itu maju ke depan. Ia menjura kepada semua orang lalu mulai bercerita.
“Saat tengah hari, aku berencana untuk pergi ke markas sini. Tapi begitu sampai di gerbang, aku melihat Pangcu kita sedang bercakap-cakap dengan ******* ini,” katanya sambil menunjuk Cio San.
“Karena tertarik, aku ‘menguping’ sedikit pembicaraan mereka. Dari yang kudengar, mendiang Ji-pangcu mengatakan bahwa si ******* ini telah mencuri kitab sakti 18 Tapak Naga yang sempat ditemukan oleh Ji-pangcu setahun yang lalu itu.”
“Apa??!!!” Semua orang yang ada di sana kaget.
Lalu Pan Lang melanjutkan,
“Si ******* ini menolak mengembalikan, oleh sebab itu Ketua bertarung dengannya. Pertarungan sangat dahsyat sekali. Karena mendiang Ji-pangcu dan si ******* ini sama-sama menggunakan jurus 18 Tapak Naga!”
Semua orang tak henti melongo dan terkaget-kaget.
“Lalu si ******* ini menyerah kalah, karena ilmu mendiang Ji-pangcu lebih murni dan lebih dahsyat. Tapi saat Ji-pangcu lengah, si ******* ini membokong dan membunuh Pangcu kita!”
Suasana ramai dan kacau balau.
Lalu Tetua yang tadi dipanggil sebagai ‘Cun-ko’ berkata, “Tenang..Tenang… Urusan ini rumit dan banyak rahasia. Kita harus membahasnya dengan kepala dingin.”
Mendengar kata-katanya, entah kenapa, semua orang Kay Pang menurut.
Tetapi beberapa angota dari rombongan yang tadi datang, masih berteriak-teriak,
“Bunuh si bangsat…! Bunuh si *******...!”
Si pengemis tua bernama Cun tadi menoleh kepada Cio San.
“Benarkah apa yang diceritakan Pan Lang tadi?”
Bagaimana Cio San bisa menjelaskan semua ini? Jika ia benar-benar jujur berkata bahwa Ji Hau Leng bunuh diri karena menyesal telah menjadi kaki tangan si ‘otak besar’, tentu tak ada yang percaya. Walau ada yang percaya pun, Cio San tidak akan menceritakan rahasia itu. Ia ingin menjaga kehormatan dan nama baik Ji Hau
Leng.
Maka ia hanya menjawab, “Benar. Cayhe memang benar bertarung dengan mendiang Ji-pangcu.”
“Kurang ajar! Bunuh si *******!” Semua yang ada di sana pun serentak memasang kuda-kuda.
“Tahan..! Tahan sebentar!” kata Pengemis Cun.
Lanjutnya, “Lalu apa maksud surat mendiang Ji-pangcu? Kita semua tahu surat itu adalah tulisan tangan beliau.”
“Surat itu palsu!” sahut Han Siauw. Dia ini kepala rombongan yang tadi datang. “Aku punya surat asli.”
Ia melemparkan sebuah kertas ke arah pengemis Cun. Ia lalu membacanya.
Seorang pengacau telah merusak kehormatan Kay Pang dan telah mencuri kitab sakti 18 Tapak Naga kebanggaan kita. Aku pergi untuk meminta pertanggungjawabannya. Jika aku gugur nanti, jabatan Pangcu ku serahkan
kepada Han Siauw.
Tertanda,
Ji Hau Leng.
Semua orang bertambah terbelalak lagi.
“Itu adalah surat yang asli. Seorang penyusup telah masuk ke kamar mendiang Ji-pangcu, lalu menukarkan surat ini dengan surat palsu. Untunglah kami berhasil menangkap penyusup itu dan membunuhnya.”
Pengemis Cun berkata, “Tapi surat yang tadi kami baca pun, surat asli. Ada cap dan tanda tangan Ji-pangcu sendiri. Apalagi kita semua mengenal tulisan tangan mendiang Pangcu.”
“Cun-ko,” kata Han Siauw, “Coba engkau periksa surat yang kubawa itu. Bukankah ada cap dan tanda tangan Ketua? Bukankah tulisan tangannya pun sama persis?”
Semua orang memeriksa surat itu dan mengangguk-angguk. “Benar, surat ini pun asli!”
“Nah, sekarang mana yang kalian percaya? Orang asing ini atau aku? Surat bisa dipalsukan, tanda tangan dan gaya tulisan pun bisa dipalsukan. Tapi kebenaran tak akan bisa dipalsukan!” kata Han Siauw lantang.
“Bantai si *******! Bantai si *******!” Semua orang yang berada di situ berteriak-teriak.
“Buat formasi Barisan Tongkat Pemukul Anjing!” perintah Han Siauw. Semua orang kemudian bergerak dan membentuk lingkaran mengelilingi Cio San. Hanya Cio San dan Han Siauw yang berada dalam lingkaran itu. Barisan ini mengepung mereka berdua sambil mengetuk-ngetukkan tongkat kayu ke lantai. Menimbulkan suara
bising yang menakutkan. Inilah Barisan Tongkat Pemukul Anjing yang sangat tersohor itu!
Semua Tetua dan orang yang tidak bergabung ke dalam Barisan Tongkat Pemukul Anjing, telah menepi ke luar lingkaran.
Cring..!
Han Siauw mengeluarkan pedangnya. Pedang itu tersimpan di dalam tongkatnya.
“Kau menggunakan pedang?” terdengar suara lembut dan tenang.
Tiada satu orang pun yang tahu, bagaimana sosok berbaju putih dan berambut kemerahan itu telah muncul dan berada di dalam lingkaran itu!
“Suma-tayhiap, tolong jangan bunuh orang,” kata Cio San.
“Pedang hanya untuk membunuh,” kata Suma Sun. Masih dengan lembut dan tenang.
Memintanya untuk tidak membunuh orang, adalah seperti meminta serigala menjadi domba.
“Ah, jadi ini si Dewa Pedang Berambut Merah. Kau antek-antek si ******* ini, bukan? Coba kulihat kehebatan ilmu pedangmu yang tersohor.”
Han Siauw bergerak.
Suma Sun tidak bergerak.
Tapi Han Siauw telah terkapar dengan luka tusukan tepat di dahinya.
Tanpa darah.
Tanpa suara.
Yang ada hanya kematian.
Melihat ini, tiada satu pun orang yang mengeluarkan suara. Bahkan suara tongkat beradu dengan lantai pun sudah berhenti.
Tak ada yang tahu bagaimana Han Siauw mati. Tak ada yang tahu bagaimana Suma Sun bergerak.
Akhirnya Cio San berkata,
“Harap Saudara-saudara jangan maju menyerang. Biarkan aku menyelesaikan fitnah dengan baik-baik. Aku bersumpah bukan yang membunuh Ji-pangcu. Rahasia ini harus kita bongkar. Aku hanya berharap Saudara-saudara sekalian percaya kepadaku.”
“Kami tidak takut mati!!!” Mereka semua menyerang. Inilah Barisan Tongkat Pemukul Anjing yang dahsyat dan mematikan.
Hujan tongkat berdatangan bagai badai dan hujan. Mereka yang menyerang Suma Sun tentu saja langsung terkapar dengan luka tusukan di dahi mereka. Mereka yang menyerang Cio San semua terlempar kembali tanpa terluka sedikit pun. Thay Kek Kun telah menunjukkan kehebatannya sekali lagi.
“Tahan! Jangan menyerang!” Tapi sergahan Cio San ini malah seperti membangkitkan semangat bertarung mereka.
Kembali puluhan orang terlempar ke belakang oleh Cio San. Kini tak ada yang berani menyerang Suma Sun.
“Cun-tianglo (Penasehat Cun)! Harap tahan anak buahmu. Kau tahu, pasti ada rahasia di balik ini semua. Percayalah padaku.”
Cio San berkata begitu karena ia tahu, pengemis Cun adalah orang yang cerdas dan paling didengarkan kata-katanya. Dan pandangan Cio San tidak pernah salah.
“Saudara-saudara, tahan serangan!” kata pengemis Cun.
Serangan pun berhenti.
“Terima kasih,” kata Cio San kepada pengemis Cun.
“Saudara-saudara sekalian. Dengarkan perkataanku. Aku bukan pembunuh Ji-pangcu. Aku justru terfitnah. Kami berdua terfitnah. Memang kami bertarung, tapi aku tidak membunuhnya. Kami juga bertarung bukan gara-gara 18 Tapak Naga. Percayalah. Beri aku waktu 3 bulan untuk membersihkan namaku dan meluruskan fitnah ini,” kata Cio San. Baru kali ini terlihat wibawanya.
Memangnya, jika kau tidak memberinya waktu, kau bisa apa? Menyerangnya? Tentu kaulah yang mati. Oleh sebab itu, para anggota Kay Pang mengangguk-angguk saja. Mereka telah melihat kebaikan hati Cio San untuk tidak membunuh mereka.
“Baiklah. Kami beri kau waktu. Tiga bulan. Jika tidak, kami yang akan mengobrak-abrik Mo Kauw,” kata salah seorang Tetua.
“Cun-tianglo,” kata Cio San. “Ikutlah denganku. Aku akan menjelaskan semuanya sambil jalan. Aku butuh bantuanmu.”
Pengemis Cun mengangguk.
“Ayo pergi.”
Mereka bertiga lalu menghilang dari sana.