
Urusan seperti ini, walau bukan urusan yang terlalu menggemparkan Bu Lim (orang-orang yang berkecimpung di Kang Ouw), tetap saja membuat orang-orang gemas. Kejahatan seperti apapun harus diberi keadilan, tidak peduli besar atau kecilnya. Para ksatria Bu Tong-pay yang memang terkenal karena kegagahannya, tentu saja tidak
bisa berpangku tangan melihat kejadian ini.
Untuk itulah memang Beng Liong datang ke kota Liu Ya. Dengan kepintaran dan pengetahuannya yang luas, ia menduga bahwa Jiong Say Ong berada di kota itu. Entah bagaimana, ia bisa tahu kalau Jiong Say Ong akan mampir ke kedai Lai Lai. Itulah kenapa Beng Liong menunggu sekian lama di lantai atas Lai Lai. Mungkin
selain pemandangannya yang indah, hampir seluruh isi kota Lau Ya bisa terlihat dari atap Lai Lai yang tinggi. Memang Lai Lai pun sendiri terletak di sebuah daerah yang cukup tinggi di bagian ujung pusat kota.
ilmu bisa datang dari mana saja. Baginya, ini pelajaran yang bisa diambil hikmahnya. Keadaan Lai Lai yang sudah sangat maju dalam beberapa bulan saja, juga membuatnya senang.
itu jika telah menemukan cinta yang baru lagi.
Tak ada orang yang mengerti cinta.
Dari pendengarannya, Cio San tahu bahwa si pemilik suara ini berdiri dari tempat duduknya. Dan sekali lompat, ia sudah sampai ke lantai bawah. Si pemilik suara ini adalah seorang gadis yang cantik. Rambutnya di kepang dua di belakang. Kepangan itu melewati kuping belakang, dan jatuh dengan anggun di kedua bahunya. Anggun sekali. Tapi pandangan matanya tajam. Ia memakai baju merah jambu. Ringkas dan sederhana, tapi membuatnya malah bertambah cantik. Di punggungnya terdapat buntalan. Mungkin berisi baju-baju dan peralatan perempuan. Ia menjinjing sebuah pedang yang indah.
Cio San paham, pastilah ini gadis yang berkelana di dunia Kang Ouw.
“Cici (kakak perempuan), berdirilah dan jangan menyakiti dirimu sendiri.”
Si ‘merah jambu’ juga tidak merintanginya. Nampaknya memang setuju dengan tindakan si gadis. Tapi begitu si gadis menghampiri si ‘kura-kura’ untuk menamparnya, justru tubuhnya sendiri yang terlempar kena tendang wanita pasangan si ‘kura-kura’.
Tak sedikitpun Cio San, si ‘merah jambu’, dan orang-orang disitu yang menyangka bahwa wanitanya ‘kura-kura’ itu bisa ilmu silat. Ia terlihat lemah gemulai dan sedikit mabuk. Tidak ada yang menyangka bahwa ilmunya tinggi juga.
Untunglah si ‘merah jambu’ sempat menangkap si gadis agar tidak terhempas lebih jauh.
“Ya Tuhan, bukankah dia hamil? Jangan-jangan..” Cio San kaget dan menyesal sekali, mengapa ia baru teringat nasib gadis ini.
Segera ia membawa gadis ini ke ruang belakang, langsung masuk ke kamarnya. Cio San sudah tidak peduli aturan kesopanan lagi. Nyawa seseorang dalam bahaya. Aturan bisa dikesampingkan. Seluruh mata sedang tertuju ke pertempuran. Hanya Mey Lan saja yang menemani Cio San masuk ke dalam kamar.
“Semoga engkau damai di sana, Cici,” katanya dalam hati.
Ia lalu bergegas ke ruang depan lagi. Kini pertempuran sudah semakin dahsyat. Meja kursi sudah berjumpalitan. Ruangan itu sudah bukan seperti ruang makan kedai, karena lebih mirip kapal karam.
Kwee Lay hanya geleng-geleng kepala. Pelayan yang lain tidak bisa berbuat apa-apa. Pengunjung yang tidak bisa silat berlarian ke luar, dan hanya berani menonton dari luar. Pengunjung yang bisa silat malah bertepuk tangan dan memuji-muji tontonan seru ini.
Dengan tangan kiri yang bergetar hebat mengikuti derik ekor ular, Cio San menghantam pedang. Dengan kelincahan dan ketepatan matanya, ia bisa memukul badan pedang yang perak berkilau, tanpa terpotong mata pedangnya. Dengan tangan kanan yang meniru moncong ular, ia berhasil menangkap ujung cambuk. Gerakan ketiga orang yang bagai badai berputar-putar menghancurkan apa saja itu, terhenti dalam sekejap. Tangan dan cambuk telah berada dalam genggaman kedua tangan Cio San.
Semua ini ditulis dengan memerlukan waktu beberapa saat, tapi kejadian aslinya berlangsung hanya sekejap mata.
Kedua wanita yang bertarung itu membelalakkan mata. Tidak menyangka di muka bumi ini ada orang yang mampu menangkap senjata mereka dengan tangan kosong dalam sekali gerakan.
Memang pada hakekatnya di muka bumi ini cuma Cio San yang bisa!
Semua mata terpana pada lelaki tampan yang berdiri gagah memegang ujung pedang dan cambuk. Rambutnya terurai tidak di ikat. Pandangan matanya tajam namun hangat. Mulutnya mengulum senyum. Dadanya tegap. Tubuhnya tinggi.
Saking kagetnya, tidak ada orang mengeluarkan suara apapun. Bahkan kedua wanita yang bertarung seperti hampir lupa bahwa beberapa detik yang lalu mereka sedang mengadu nyawa.
Pikiran semua orang yang ada disitu hanya satu, ‘Apakah orang ini malaikat?’
“Sudahlah, ji-wi Siocia (Nona berdua), jangan berkelahi lagi. Kasihan pemilik kedai, seluruh isinya hancur porak poranda.”
Suaranya dalam.
Semua orang tahu lelaki di depan ini masih muda belia. Tapi entah kenapa, wibawanya justru seperti pendekar unggulan yang banyak memakan asam garam kehidupan.
Si wanita cambuk emas yang pertama kali mengeluarkan suara.
“Siapa kau?”
“Cayhe bukan siapa-siapa. Hanya pengunjung yang sekedar lewat. Mohon ji-wi Siocia (Nona berdua) berhenti bertarung. Kasihan para pengunjung yang lain.”
Kedua wanita yang bertarung ini jelas mengerti kalau ilmu mereka masih dibawah pria tampan yang aneh dihadapan mereka ini.
“Baiklah.” Herannya mereka menjawab bersamaan.
“Jika ada permasalahan harap diselesaikan di luar. Jangan mengacau di tempat usaha
orang.”
Maka Cio San kini terbang ke luar. Tangannya masih menggenggam cambuk dan pedang. Tentu saja kedua wanita itu juga menggenggam senjatanya masing-masing. Herannya, mereka mau saja di tarik Cio San.
Memang ada sebagian perempuan, yang jika kau meminta baik-baik, mereka malah tidak mau mendengar. Tapi jika kau paksa, mereka malah menurut dengan aleman.
Perempuan mana saja, kalau ditarik tangannya oleh Cio San, mungkin yang menolak bisa dihitung dengan jari.
Kini mereka bertiga telah berada di luar Lai Lai. Cio San telah melepas pegangannya.
“Tendanganmu telah membunuh seorang gadis. Kau harus bertanggung jawab atas perbuatanmu,” kata Cio San dengan tajam, kepada wanita cambuk emas.
“Aku memang selalu bertanggung jawab atas perbuatanku. Lalu kau mau apa? Urusan bunuh membunuh bukan hal yang terlalu luar biasa dalam Kang Ouw,” si wanita menjawab tidak kalah tajamnya.
“Tapi yang kau bunuh adalah wanita biasa, bukan golongan Kang Ouw.” Cio San marah sekali. Matanya malah berkaca-kaca.
Biasanya orang Kang Ouw bisa menyimpan perasaan. Tapi Cio San tidak. Belum. Ia belum pernah terlibat langsung dalam Kang Ouw.
“Siapa suruh dia menyerang suamiku. Aku ‘kan hanya membela diri dan kehormatan suamiku.” Sambil berkata begitu si wanita mengerling kepada suaminya yang berada di dalam. Herannya, si suami masih tetap duduk sambil minum arak, masih di tempat yang sama.
“Kau…kau…tidak cemburu suamimu main gila dengan wanita lain?” tanya si ‘merah jambu’.
“Oh, tentu tidak… Semakin dia main gila, aku semakin suka.”
Gemparlah semua ‘penonton’ yang ada di sana. Mereka tidak menyangka akan mendengar jawaban seperti ini.
Kali ini Cio San bertanya,“Kau senang dia main gila, karena dengan demikian kau pun bisa main gila juga, bukan?”
“Tidak ada yang lebih menyenangkan bertemu dengan laki-laki muda yang tampan dan cemerlang otaknya.” Sambil bicara begitu, si wanita cambuk emas matanya menjadi sayu, pipinya memerah, dan ia menjilati bibirnya.
Cio San bergidik. Di dunia ini, ada juga pasangan kekasih seperti ini?
“Ah, aku tahu siapa kau! Sejak tadi aku sudah curiga!” tiba-tiba si ‘merah jambu’ berkata. “Kau dan suamimu, bukankah Sepasang Iblis Pemabuk Cinta?!”
Mendengar nama itu disebut, si wanita itu tersenyum. Dagunya terangkat, dadanya membusung.
“Nama itu selalu menggelitikku kalau diucapkan orang,” katanya.
Cio San belum pernah dengar nama ini. Tapi dari namanya saja, ia tahu kedua pasangan suami-istri ini pasti bukan orang baik-baik.
“Kau tidak takut, tampan?” tanya si wanita cambuk emas kepada Cio San.
“Takut? Tidak. Aku malah tertarik sekali. Sangat tertarik,” ia menjawab sambil tersenyum.
Kenapa Cio San menjawab seperti ini, tidaklah mengherankan. Ayahnya, adalah seorang lelaki yang tampan sekali. Dan juga seorang yang romantis. Sang ayah suka membuatkan syair dan lagu-lagu cinta kepada ibunya. Cara bersikap ayahnya yang mesra dan suka merayu ibunya itu, sangat membekas dalam diri Cio San. Walaupun kadang-kadang ibunya suka mendidiknya dengan sangat keras dalam hal adat istiadat dan kesopanan, tak urung sikap ayahnya yang romantis ini juga menurun kepadanya. Maka, kalimat-kalimat ayahnya yang menggoda ibunya, yang merayu, yang menenangkan hati, pasti membekas dalam diri Cio San. Mengalir dengan alami dan tidak dibuat-buat.
Cio San tidak tahu, bahwa semakin lelaki bisa membuat seorang wanita penasaran, maka semakin menariklah lelaki itu di mata perempuan. Semakin misterius seorang lelaki, maka daya tariknya pun semakin meningkat.
Maka bisa dibayangkan, betapa daya tarik Cio San yang tampan dan misterius ini membuat perempuan cabul semacam wanita cambuk emas tergoda hatinya.
“Benarkah?”
“Kau ini…..” Si wanita cambuk emas tambah bernafsu.
“Kalau aku menemanimu semalaman, kira-kira apa yang akan kita lakukan?” tanya Cio San. Pertanyaan ini jika diucapkan orang lain akan terdengar mesum. Tapi mungkin karena keluguan dan kepolosan Cio San, ucapan ini terdengar hangat dan menggoda sekali.
Si wanita tidak menjawab, hanya matanya yang membesar, dan ia menggigit bibirnya. Kemudian berkata, “Apa yang kau minta semalaman itu, pasti kuberi semua. Kau minta diriku, kau minta jiwaku, semuanya kuberi.”
Cio San tidak menjawab, hanya tersenyum. Di mata orang, pastilah dia pemuda yang sangat berpengalaman dalam wanita. Tapi sesungguhnya, dia hanya meniru tingkah pola ayahnya saja dalam menggoda ibunya.
Senyum ini, adalah senyuman seorang lelaki matang, yang paham seluk beluk perempuan. Yang tahu cara tarik-ulur dengan perempuan. Karena perempuan, semakin gampang kauberi hatimu, semakin cepat juga ia merasa kau membosankan. Tapi semakin susah kau dikuasainya, semakin menarik juga kau bagi hatinya.
Cio San sebenarnya belum paham hal ini semua. Dengan tidak sengaja, ia telah membuat wanita-wanita terpesona. Karena wanita yang menonton kejadian ini bukan cuma si wanita cambuk emas. Masih banyak wanita yang menonton, termasuk si ‘merah jambu’.
“Sudah jangan berlama-lama lagi, peluk dia erat-erat, cari kamar, dan telan ia bulat-bulat..!” Teriakan itu terdengar dari dalam. Sudah pasti, itu suara suami si wanita cambuk emas.
Orang-orang yang mendengar banyak yang jengah dan malu. Tapi banyak juga yang tertawa-tawa. Ucapan seperti itu memang tidak pantas di muka umum. Lebih tidak pantas lagi jika itu ucapan suami kepada istrinya.
“Jika kau dapat mengalahkan aku dalam 10 jurus, sudah pasti aku ikut padamu,” kata Cio San.
“Kalian lelaki maunya curang saja. Sudah jelas ilmu silatku kalah jauh denganmu. Masih kau tantang silat juga. Bertempur silat aku pasti kalah, tapi kalau bertempur lain, belum tentu.” Si wanita tersenyum genit.
Si ‘merah jambu’ tidak tahu lagi harus berkata dan bersikap apa. Ucapan mesum seperti ini jelas membuatnya mati sikap. Dengan malu dan wajah bersemu merah, dia beranjak dari situ, “Kita selesaikan urusan kita lain kali, wanita iblis. Kau silahkan berurusan dengan kekasih barumu.” Ia lalu menyarungkan pedang, dan masuk ke dalam untuk mengambil buntalan tasnya yang tadi ia letakkan saat akan bertempur.
Cio San, tidak tahu harus berkata apa, hanya tersenyum saja. Memang ayahnya jika menghadapi ibunya yang sedang merajuk, pasti hanya tersenyum saja. Di dunia ini, memang hal terbaik yang bisa dilakukan laki-laki terhadap perempuan yang merajuk, hanyalah tersenyum. Jika kau buka mulut, maka semua urusan jadi lebih
berbahaya.
Maka kini Cio San berkata kepada si wanita cambuk emas, “Begini saja, bagaimana jika kau dan suamimu bergabung bersama menempur aku. Jika aku kalah, aku turuti apa mau kalian. Jika kalian kalah, kuserahkan kalian kepada petugas kota untuk mempertanggungjawabkan perbuatan kalian.”
Seumur hidup pasangan iblis ini merajalela, baru kali ini mereka mendengar ada ucapan seberani ini. Semua orang di dunia Kang Ouw tahu, jika ilmu ‘Pengantin Neraka’ mereka mainkan, maka lawan yang mampu menghadapi mereka di dunia ini bisa dihitung dengan jari. Ilmu mereka cukup tinggi. Masing-masing nama mereka saja, sudah masuk dalam 50 besar tokoh Liok Lim (Dunia Hitam) terhebat. Apalagi jika mereka bertarung bersama memainkan ilmu ‘Pengantin Neraka’, maka nama mereka langsung masuk jajaran 10 besar tokoh sesat terhebat.
Karena itulah mereka tertawa mendengar tantangan Cio San.
Karena itu jugalah si ‘merah jambu’ tidak jadi pergi. Ia kagum sekali mendengar keberanian Cio San. Ia lalu berkata, “Kau ini sangat hebat atau sangat bodoh?”
Cio San tersenyum lagi, sambil memegang rambut yang terurai melewati belakang telinganya. Kebiasaan ayahnya yang kini secara tidak sengaja menurun juga kepadanya. Ini pertama kali ia mengelus-elus rambutnya yang terurai itu. Cio San sadar itu. Tapi rasanya menyenangkan! Pantas ayahnya sering melakukannya.
Si suami lalu terbang keluar. Setelah dilihat lebih dekat, memang ia sebenarnya sudah cukup umur. Tapi dandanannya serta gerak-geriknya seperti seorang pemuda bau kencur.
Si suami ini juga penasaran dengan ilmu silat Cio San. Apa yang terjadi semua disaksikannya. Kehebatan Cio San yang mampu menangkap senjata tadi bukan kepandaian sembarangan. Maka itu dia bertanya, “Apakah anda Bu Tong-enghiong (Ksatria Bu Tong) Beng Liong?”
“Bukan. Punya bapak seorang naga pun, cayhe tidak berani mengaku sebagai Bu Tong-enghiong (Ksatria Bu Tong) Beng Liong.”
Liong memang artinya naga.
“Di dunia persilatan ini, orang muda gagah setampan engkau hanya Beng Liong dan Kay Pang-pangcu (Ketua Perkumpulan Pengemis) Ji Hau Leng. Kau sudah jelas bukan Ji Hau Leng,” sahut si suami.
“Cayhe tidak seberuntung itu punya nama besar dan kehebatan seperti mereka,” jawab Cio San.
“Lalu boleh kutahu nama Enghiong yang terhormat?” tanya si suami lagi.
“Nama siauw ceng (panggilan untuk merendahkan diri) tidak penting.”
“Hmmmm.. Seorang ksatria yang menyembunyikan nama. Jangan salahkan aku jika nanti kamu mati tidak ada orang yang menguburkanmu, karena tidak ada yang tahu asal-usulmu.”
Sambil berkata begitu ia langsung menyerang. Ia telah melolos sebuah pedang lemas dari pinggangnya.
Begitu cepat, begitu lihay. Si istri pun ikut menyerang. Mereka ini golongan hitam yang tidak suka tata aturan bertarung. Tentu saja mencari jalan agar cepat menang dan cepat selesai.
Menghadapi ini, Cio San tak gentar. Ia sudah paham gerakan silat si istri, alias wanita cambuk emas. Namun saat keduanya menyerang bersama-sama, baru terasa benar dahsyatnya ilmu mereka.
Tubuh Cio San bergerak sangat lincah. Tubuhnya meliuk-liuk. Ilmu gabungan antara gerak langkah sakti Bu Tong-pay, digabung dengan kelincahan tubuh ular sakti. Menjadi sebuah ilmu baru yang licin, gesit, namun lembut dan bertenaga.
Semua penonton yang paham ilmu silat matanya melongo melihat gerakan Cio San. Belum pernah dari mereka ada yang melihat atau mendengar tentang ilmu ini. Cio San bergerak dengan bebas dan lincah mengikuti aliran serangan cambuk emas dan sebuah pedang lemas milik si suami.
Gerak serangan ‘Pengantin Neraka’ ini sangat ganas. Keduanya bergerak saling mengisi, saling menutupi kekurangan. Yang satu menyerang, yang satu menjaga. Yang satu menendang, yang satu menangkis.
Pada awalnya Cio San kelimpungan juga. Tapi ia segera paham. Teringat dia dengan latihannya di dalam goa. Saat air banjir menyerangnya bertubi-tubi. Seperti inilah pola serangan ilmu ‘Pengantin Neraka’. Mengalir dan saling mengisi tempat kosong. Pedang dan cambuk bergantian menyambar. Cio San seperti dikelilingi banjir bandang!
Tapi tidak percuma ia latihan di dalam goa. Semua di hadapinya dengan gerakan berputar seperti gasing yang amat cepat. Ia tidak mungkin menangkap cambuk dan pedang seperti saat memisahkan si ‘merah jambu’ dan wanita cambuk emas. Karena saat tadi, kedua wanita itu dalam posisi saling serang dan tidak menyangka ada orang lain yang akan masuk memotong gerakan mereka. Oleh karena itulah, Cio San bisa mengambil posisi dan sudut yang pas untuk menangkap senjata.
Sekarang Cio San lah yang berada di posisi bertarung. Sehingga inti gerakan serangan ditujukan kepadanya. Dia tidak punya posisi yang pas untuk menangkap senjata. Karena setiap posisi kosong, pasti sudah berisi serangan juga. Tidak ada lagi posisi kosong yang bisa dipakai untuk menyerang! Semua sudah terasa pedang dan
cambuk!
Puluhan jurus telah lewat.
Cio San betarung dengan ringan dan santai. Tenaganya penuh. Walaupun ia terdesak dengan serangan-serangan hebat, tak sedikit pun ia panik. Ia bergerak sekenanya. Mengikuti aliran serangan lawan. Ia membiarkan tubuhnya dibawa ‘ombak’ serangan ini. Karena semua serangan akan didahului oleh ‘angin’, maka Cio San tahu kemana dan dari mana saja arah serangan.
Ia kini sudah bisa membaca serangan lawan. Tak terasa ia kini bersilat sambil menutup mata. Dengan menutup mata, ‘pandangan’ nya jauh lebih terang. Karena sekarang yang melihat adalah mata batin.
Begitu Cio San paham arah serangan dan jurus-jurusnya, maka seketika itu juga ia paham cara memecahkannya.
Pedang lemas sedang mengarah lurus menusuk kerongkongannya. Ujung cambuk sedang meliuk menuju pinggangnya. Cio San melompat dan menekuk tubuhnya ke belakang.
Kau ingat bagaimana gerakan mencium lutut? Cio San melakukan yang sebaliknya!
Tubuhnya bagai terlipat menekuk!
Pedang lewat diatas wajahnya yang menegadah. Cambuk lewat dibawah kakinya yang membujur lurus ke belakang. Bersamaan dengan itu, kedua tangannya menotok tubuh kedua orang lawannya. Totokan itu tepat pada suatu titik yang membuat mereka tak mampu bergerak sama sekali.
Dan pertempuran pun selesai.
Beruntunglah mereka yang hadir di situ.
Bagi hadirin yang mampu menyaksikannya, pertempuran seperti ini tak akan dilupakan seumur hidup.
Bagi hadirin yang tidak mampu menyaksikannya, pertempuran ini juga tidak akan terlupakan seumur hidup. Karena baru kali ini mereka percaya, ada manusia-manusia yang bisa berubah menjadi bayangan.
“Siocia (Nona), kuserahkan mereka kepadamu. Serahkan saja kepada petugas kota. Atau siapa saja yang kau anggap pantas,” kata Cio San kepada si ‘merah jambu’, ia melanjutkan lagi, “Nama cayhe (saya) adalah Cio San. Boleh cayhe tahu nama siocia yang terhormat?” Cio San bertanya sambil tersenyum dan membentuk salam
hormat di depan dada.
“Eh.. Aku she (marga) Khu, namaku Ling Ling.”
Mata Cio San berbinar, ia teringat obrolan di warung kecil saat pertama kali tiba di kota itu.
“Sampai berjumpa lagi, Nona Khu Ling Ling.”
Kata-katanya baru terdengar seluruhnya, orangnya sudah tidak ada.
Di sepanjang hayatnya, pemuda yang bergerak secepat itu belum pernah ditemuinya. Khu Ling Ling hanya termenung. Ia seperti pernah mendengar nama pemuda itu.